Crimson Eye
Summary : Jaman dahulu,memiliki mata berwarna merah adalah sebuah aib. Konon, pemilik mata berwarna merah tersebut adalah shinigami yang dikirim oleh Dewa karena manusia telah membuat Dewa marah. Untuk meredakan amarah Dewa, pemilik mata berwarna merah harus dikorbankan ke dalam sebuah danau kegelapan. Chapter 1 of 2
Pair : Rin x Len
Rate : T
Genre : Romance, Friendship, Supernatural
Prolog
Di desaku ada sebuah legenda yang cukup terkenal. Legenda itu dinamakan Legenda mata merah. Jangan kalian kira legenda ini hanyalah gurauan. Sebab kenyataannya pada jaman dahulu,pernah dilahirkan seorang anak dengan warna mata merah dan kabarnya dia membawa kematian bagi kedua orang tuanya. Anehnya lagi, orang-orang yang mengejek atau mempermainkan anak tersebut, keesokan paginya akan dinyatakan hilang tanpa jejak. Umur si pemilik mata merah tidaklah lama, setelah berumur 17 tahun, dia akan menghilang dengan sendirinya. Namun, generasi yang baru akan lahir kembali dengan warna mata merah dan kembali membawa kutukan kematian. Untuk itu atas petunjuk tetua, anak dengan warna mata merah harus dikorbankan ke dalam sebuah danau yang ada di tengah hutan. Kabarnya, danau ini terhubung dengan neraka. Belum pernah ada satupun orang yang bisa mencapai dasarnya yang gelap. Oleh karena itu,danau ini dinamai danau kegelapan.
Namaku Rin dan ya, aku memiliki warna mata merah. Kudengar tak lama setelah aku lahir, ibuku meninggal dan ayahku bunuh diri. Aku dikurung di dalam sebuah kuil di tengah hutan 16 tahun lamanya. Sebenarnya seminggu lagi adalah ulang tahunku dan saat itu aku harus dikorbankan ke dalam danau. Bagiku tak masalah aku mati,karena tak ada seorangpun….. yang akan mengingatku.
Ya…
Tak seorangpun….
.
.
.
.
Meskipun aku harus mati, sampai akhirpun aku masih mempercayaimu. Tolong ingat aku. Temanku satu-satunya…
(Rin - Crimson Eye)
Setiap hari kulalui dalam kegelapan dan kesendirian. Orang-orang hanya berkunjung ke kuil untuk meminta kedamaian. Tak ada yang menyadari keberadaanku. Bahkan aku pernah mendengar beberapa anak kecil yang lari setelah bercerita tentang penunggu kuil bermata merah. Bagiku, hidup yang tinggal seminggu ini sudah tak berarti lagi. Aku mati pun tak ada ingatan yang ingin kusimpan.
Hari ini hujan,tidak banyak aktivitas yang dilakukan warga saat sedang hujan. Untuk itu aku mencuri kesempatan untuk menyelinap keluar kuil dan berjalan-jalan di hutan.
Aku sering keluar kuil saat hujan,aku menyukai warna langitnya,aku menyukai bau hujan,aku suka saat tanah basah menyentuh telapak kakiku. Saat hujan,aku bebas berjalan-jalan, karena tidak akan ada orang yang melihatku.
Aku sampai ke dekat danau kegelapan. Danau yang akan menjadi tempat terakhirku.
"Benar-benar gelap, aku tak bisa membayangkan apa yang ada di dalamnya." Gumamku. Setelah,melihat danau ini, ketakutan menjalari tubuhku. Sungguh perasaan yang paling kubenci.
Saat akan kembali ke kuil, di semak-semak dekat danau, aku melihat sesuatu yang bergerak-gerak. Perlahan aku mendekati sesuatu yang ada di balik semak belukar tersebut. Aku terkesiap kaget saat mendapati sosok anak laki-laki berambut pirang dan memakai penutup mata di mata kanannya.
"Apa dia mati?" Tanyaku dalam kesunyian.
Aku mengambil ranting panjang dan menusuk-nusukkannya ke badan laki-laki tersebut.
"O-oi… "
Badan laki-laki itu sedikit bergerak.
"Ah! Dia masih hidup. " Entah kenapa hatiku senang mendapati bahwa orang itu masih hidup dan bergerak. Apa karena selama ini aku selalu melihat kematian? Entahlah….
"Hmm… berhenti menusukku dengan ranting. " Ucap suara dengan nada lemah yang berasal dari tubuh laki-laki itu.
"M-maaf…" Ucapku sambil bersembunyi di balik pohon.
Mata laki-laki itu kini terbuka sempurna dan ia segera berdiri. Kulihat pakaiannya yang berwarna serba hitam dengan pedang sarung hitam di sisi kanannya.
"Kenapa kau bersembunyi?" Laki-laki itu berusaha untuk mendekatiku dengan langkah yang cukup lebar.
"A-aku mohon… j-jangan dekati aku. " Pintaku yang pasti dengan nada ketakutan. Sudah lama aku tak mengobrol dengan orang lain sehingga lidahku belum terbiasa untuk berbicara.
"Kenapa?" Tanya pria itu sambil menghentikan langkahnya.
"K-kalau kamu mendekat,kamu bisa ma-mati… "
Glek… pasti dia akan kabur karena ketakutan. Lihat saja…. Satu…. Dua…. Tiga….
"HAHAHAHAHA!"
Apa?! Pria itu tertawa? Kenapa? Apa dia tidak takut?
"Kenapa anda tertawa?" Rasa ingin tahu berkecamuk di dalam otakku.
"Habisnya kau berkata hal aneh begitu. Siapa yang percaya bahwa gadis yang baru saja ditemuinya tanpa sebab yang jelas bikin orang mati. Konyol! Hahahaha "
"T-Tapi… ini benar! Aku punya mata merah yang membawa kutukan."
Ucapanku membuat pria ini terdiam untuk sesaat.
"Mata merah?"
Langkah pria tersebut semakin dekat dan dekat hingga tak terasa wajahnya hanya berjarak sepuluh senti dari wajahku. Dia mengamatiku dari ujung kaki dan berhenti di depan mataku.
"A-apa yang kau la-lakukan?"
Dia berbisik ditelingaku. "Apa yang aneh dari matamu? "
"Hah?" ucapku sambil menyingkirkan tubuh pria itu.
"Ups… maaf…. " Ucapnya.
"Kau tidak takut? Mataku merah loh? Aku pembawa bencana. " Kataku putus asa. Apa orang ini hanya bermain-main denganku? Tak pernahkah ia mendengar legenda mata merah?
Dia mengamatiku lagi dengan tatapan bingung. Kemudian segaris lengkung yang membentuk senyuman menghiasi wajahnya.
"Mana mungkin gadis semanis dirimu adalah pembawa bencana? Warna matamu indah kok. Aku menyukainya…. "
Deg
Dadaku seolah terhantam batu besar yang membuatku sesak. Baru kali ini ada orang yang menyukai warna mataku. Haruskah aku senang? Tapi, mengapa malah air mata yang mengalir dari pelupuk mataku? Aneh…
"Hei, kenapa kamu malah menangis?" Tanya pria itu dengan wajah khawatir.
"H-Habis kau mengatakan hal yang membuatku sedih tapi… aku senang. " Kurasakan dalam tangis, bibirku membentuk senyuman untuk pertama kalinya.
"Hahahaha dasar anak aneh. Namaku Len. Siapa namamu?"
"Rin …. "
"Rin? Nama kita mirip ya. Hahahaha "
"M-mirip dari mananya?"
"Sama-sama tiga huruf. "
"Mou… itu bukan mirip…. " Protesku.
Aku baru sadar bahwa sedari tadi hujan sudah berhenti. Berarti ini saatnya aku harus kembali ke kuil sebelum orang lain melihatku.
"Rin, kamu mau ke mana?" Tanya Len.
"Pulang. Orang lain tak boleh melihatku. Maaf Len, kita harus berpisah disini. "
Saat itu, tangannya yang kuat menahan langkahku.
"Aku akan ikut ketempatmu. "
"Eh? Kenapa? Di kuil gelap dan sepi. Kau akan bosan. "
"Kau ini, sudah tahu di sana gelap dan sepi, tapi kenapa kau masih mau tinggal di sana? "
Aku hanya bisa terdiam.
"M- maaf… tapi aku bukanlah anak normal sepertimu. Lagipula umurku tidak lama lagi. " Aku menghempaskan tangannya dan segera berlari menuju kuil secepat yang kubisa.
Meski hanya sebentar, akhirnya aku bisa berbicara dengan normal kepada anak seusiaku. Len… akan kuingat namamu.
.
.
.
.
Mentari pagi melewati celah-celah jendela hingga membuatku terpaksa membuka mata. Aku berjalan menuju ke teras dan mendapati bayangan anak laki-laki yang berdiri di depan pintu kuil. Dengan cepat aku menyembunyikan diri. Namun, suara decitan lantai kayu tak bisa menyembunyikan keberadaanku.
Seolah sadar akan bunyi tersebut, sosok pria itu berbalik dan membuka pintu kuil. Kurasakan cahaya matahari hangat dari permukaan kulitku.
"Rin!" Teriak sosok itu. Aku segera menariknya masuk ke dalam kuil dan menutup pintu.
"Kau ini! Kamu tidak bisa masuk kesini sembarangan!" Kataku sambil menjitak kepalanya. Len mengaduh kesakitan.
"Sebenarnya dari kemarin aku ingin bertanya. "
"Tanya apa?"
"Baju yang kamu pakai itu? "
"Ah… aneh ya? Sebenarnya aku kabur dari istana. "
"Istana? Kenapa kamu ada di istana?"
"Tentu saja karena aku pangeran kan. Apa kamu tak pernah mendengar namaku? "
Tentu saja pertanyaan bodohnya kujawab dengan gelengan kepala.
"Hmm… pantas saja… Habisnya kamu dikurung di sini kan?"
"Iya…. "
"Berarti kamu tidak punya teman?"
"Tentu saja tidak punya. "
Len tampak berpikir sejenak. Kemudian matanya yang berbinar-binar mengatakan segalanya.
"Aku akan jadi teman pertamamu ! "
Tentu saja hal itu membuatku senang, tapi…
"Tapi, umurku hanya tinggal enam hari lagi. " Gumamku pelan.
"Jangan bilang hal seperti itu ! Kau tidak akan mati ! Aku akan membuat wajahmu dipenuhi senyum."
"Sebutkan apa keinginanmu. Aku akan mengabulkan tiga keinginanmu." Katanya lagi masih dengan senyum yang menyilaukan.
"Be-benarkah?" Tanyaku ragu.
"Ya! Karena sekarang kita adalah teman ! "
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat cahaya hangat yang hadir di depan mataku.
.
.
.
"Jadi keinginanmu yang pertama ini?" Tanya Len dengan nada kecewa.
"Hahahaha kau kira aku akan meminta uang padamu pangeran?" Tanyaku balik sambil berlari-lari diatas rumput hijau nan hangat di bukit yang dapat memperlihatkan pemandangan ajaib ini.
Beberapa menit lalu, aku meminta Len untuk membawaku secara diam-diam ke atas bukit. Kenapa harus bukit ini? Dulu, aku mendengar sekelompok orang berbicara di dekat kuil tentang surga di atas bukit. Kurasa aku sudah mengerti kenapa bukit ini disebut surga.
"Kau senang karena hal seperti ini?"
"Tentu saja…. " Aku merebahkan tubuhku diatas rumput hangat yang menggelitik punggungku namun terasa sangat nyaman.
Kulihat Len tersenyum tipis dan ikut merebahkan badannya di sampingku.
"Syukurlah… Akhirnya aku bisa melihat senyummu lagi. " Bisiknya.
"Nee Len…. Mata kananmu kenapa?"
"Ah… ini… L-luka… iya luka. Sudahlah aku tak mau mengingatnya. "
Kulihat sekilas Len memalingkan tubuhnya ke arah yang berlawanan.
"Apakah hidup di istana menyenangkan?"
"Ya… menyenangkan. Tapi… tentunya lebih banyak hal yang tidak kau sukai disana. "
"Hee… benar juga ya… kalau istana menyenangkan tidak mungkin kamu kabur dari istana kan? Hahaha maaf pertanyaanku bodoh. "
Len menggigit bibir bawahnya. "Kau kira demi siapa aku keluar istan- "
"Len? Kau mengatakan sesuatu?"
Len menggeleng. "Tidak! Ah! Di sana ada bunga. " Ucap Len sambil menunjuk Ladang bunga yang agak jauh dari kami berada.
"Len ayo kita kesana! " Aku sangat bersemangat dan menarik tangan Len menuju Ladang bunga.
Len membuatkanku mahkota dari rangkaian bunga beragam warna dan meletakkannya di atas kepalaku.
"Cantik! Warnanya sangat cocok dengan matamu Rin. "
Kata-kata Len membuat wajahku memerah dan rasa berdebar-debar yang tidak nyaman di dalam hatiku. Perasaan apa ini?
" Len maukah kau mendengar permohonan keduaku?"
"Apa?"
"Bisakah kau bermain denganku sampai hari terakhirku?" Ucapku dengan suara kecil.
Len terdiam. Raut wajahnya nampak tidak suka.
"Kenapa kau selalu berkata bahwa kau akan mati?! Jangan bilang kau berbahaya atau menakutkan! Apa kau yakin itu yang kamu inginkan?"
Dari mata kirinya mengalir air mata yang murni. Air mata yang diteteskan untukku. Untuk orang sepertiku yang bahkan tak diinginkan untuk lahir. Len memeluk tubuhku. Kehangatannya mengalir hingga ke hatiku. Apakah mati adalah hal yang kuinginkan?
Len mengantarku kembali ke kuil tanpa banyak bicara. Ada perasaan canggung diantara kami.
"Besok aku akan mengajakmu bermain lagi. Tunggu aku ya… Rin… " Katanya saat mengantarku sampai ke pintu kuil. Aku hanya dapat melihat punggungnya yang berjalan semakin jauh diluar jangkauanku.
"L-Len … "
Apa yang kuharapkan? Aku tidak akan pernah bisa menjangkaunya. Hidupku tinggal sebentar lagi. Untuk sisa waktu yang sempit ini, dia membantuku memberikan ingatan yang indah.
Terimakasih….
.
.
.
"Yosh… hari ini kita akan bermain ini! " Len mengeluarkan kotak berisi lembaran-lembaran benda tipis berbentuk persegi panjang.
"Apa ini?"
"Benda ini dinamakan kartu, permainannya dinamakan poker. Ayo, akan kuajarkan caranya."
Aku suka cara Len mengajarkanku bermain poker. Aku rasa jika aku tinggal di kuil ini bersama dia, mungkin setiap hari tidak akan terasa menyedihkan.
" K-Kau…. Lagi-lagi…. " Len menepuk jidatnya.
"Hahahaha ayo kita main lagi! "
"Mou! Masa aku dikalahkan oleh orang yang baru bisa main kartu?! Aku tidak terima! Ayo main lagi!"
Aku baru tahu Len adalah orang yang sangat tidak menyukai kekalahan dan orang yang pantang menyerah. Hatinya juga tulus… Kuharap aku tidak akan melukainya.
Esoknya aku memintanya mengajariku menggunakan pedang.
"Tidak!" Tegasnya.
"Kenapa?"
"Anak perempuan tidak boleh menggunakan pedang."
"Tapi,aku ingin mencobanya! " Pintaku tetap bersikeras sambil memperlihatkan puppy eyes.
"Melindungi adalah tugas laki-laki. Jadi kamu tidak boleh memegang senjata karena aku akan melindungimu. "
"Tapi aku juga mau melindungi Len. "
Kami berdua saling bertatapan tak mau mengalah. Setelah agak lama, Len menyerah dan mengajariku ilmu pedang.
"Baiklah nona keras kepala. " Len menghela napasnya.
"Yey!" Aku melompat kegirangan.
"Tapi, jika sedikit saja kulihat itu berbahaya, kita langsung berhenti. Ok?"
"Hai Sensei!"
Aku berlatih sampai sore di atas bukit bersama dengan Len. Kata Len, kemampuanku mempelajari sesuatu sangat cepat.
"Normalnya, orang bisa menguasai dasar pedang dalam waktu sebulan. Bagaimana bisa kau? Rin! Kamu jenius!" Len memelukku sambil tertawa lebar.
"Dengan begini,aku bisa melindungimu kan?" Tanyaku dengan wajah lega. Len hanya mengangguk senang.
Aku kembali ke kuil saat matahari sudah terbenam. Setelah berpamitan dengan Len, aku memasuki kuil dan yang kutemui di dalam adalah orang tua berjanggut putih dengan tongkat di tangannya.
"Hey mata merah! Siapa yang mengijinkanmu keluar kuil?!" Tanyanya dengan wajah murka.
"A-aku memiliki n-nama… " Ucapku ragu-ragu.
Orang tua itu membanting tongkatnya hingga mengagetkanku.
"Sejak kapan kau membalas omonganku? HAH?! Kau tidak lain hanyalah MONSTER! Dengar ITU! " Umpatnya.
Perkataannya membuatku sadar. Aku ini hanyalah monster. Mahkluk yang tidak diinginkan oleh siapapun. Tidak memiliki teman dan selalu berada dalam kegelapan.
Aku tersenyum kecut. Tiga hari aku sudah mengalami mimpi indah bersama Len. Ingatan yang berharga, Impian yang nyaris tak akan tercapai, keajaiban yang tak pernah kubayangkan. Untuk pertama kalinya aku memiliki teman yang mau menangis untukku, yang mau tertawa bersamaku, yang mau mengajariku dan berbagi cerita denganku.
Hanya dengan semua hal itu… aku sudah merasa cukup.
"Ingat beberapa hari lagi kau akan dikorbankan! Jangan pergi kemana-mana!" Ucap orang tua itu sambil membanting pintu.
Hampa, sepi, gelap… aku merasakannya kembali. Aku merindukan cahaya…. Len.
.
.
.
"Kudengar hari ini ada sekelompok orang meninggal tanpa alasan yang jelas. "
"Ini ulah mata merah lagi. "
"Dewa marah! "
"Langit juga sangat gelap. Kudengar langit gelap sangat disukai oleh si mata merah. Jangan keluar rumah sampai hari pengorbanan. "
Itulah perbincangan yang kudengar pagi ini dari balik kuil. Apa itu salahku?
Tok tok tok
Aku segera berlari dan membuka pintu. Betapa lega hatiku saat melihat sosok Len. Aku segera memeluknya dengan erat.
"Woa! Rin ada apa?" Len mengelus-ngelus rambutku, membuatku tak bisa lagi menahan air mata. Aku membasahi baju Len dengan air mataku.
"Hari ini ditemukan sekelompok orang tewas tanpa sebab yang jelas. Nee… Len… Apa ini salahku? Apakah aku yang membawa kematian kepada mereka? Aku takut Len!" Bentakku sambil mengeratkan pelukanku.
Dengan tenang Len menjawab. "Itu bukan salahmu. "
Len berusaha menenangkanku dengan membacakan berbagai macam buku cerita. Tak ada satupun yang menghiburku. Pikiranku melayang kemana-mana.
"Len, bisakah kita tak bertemu lagi?" Tanyaku tiba-tiba.
Spontan pertanyaanku membuat buku yang dipegang Len jatuh.
"Apa maksudmu?" Tanyanya dengan nada tertahan.
"Aku takut…. Aku tidak mau dibebani perasaan ini lagi Len. Aku tidak mau ka-"
"AH! Jadi kamu mau bilang untuk kebaikanku? Rin! Kamu Cuma memikirkan dirimu sendiri kan? Kamu tak pernah memikirkanku kan?" Nada dalam kata-kata Len semakin meninggi, mata kirinya menatap mataku nanar.
"Cukup! Aku pergi!"
Blam!
Len membanting pintu dan meninggalkan buku-buku ceritanya bersamaku.
Bukan begitu Len…. Aku… tak mau memiliki kenangan buruk tentangmu.
To be continue
Author : Terimakasih untuk reader yang udah membaca chapter satu dari Crimson Eye. Cerita akan berakhir di chapter 2. Tenang, updatenya gak lama kok, sekitar tanggal 7 bulan ini, reader bisa membuka final chapter dari Crimson Eye. Mohon Fav, Reviewnya juga ditunggu hehehe. Mohon dukungannya untuk kelanjutan cerita ini. Author menerima segala kritik dan saran. Arigatou ^^
