Pertama, saya minta maaf pada readers. Saya sudah membuat satu kecerobohan di chapter-chapter lalu. Saya nggak teliti, sampai melupakan satu plot penting yang harusnya bisa kebentuk di chapter 11-an nanti. Dan untuk membangun plot itu, harusnya saya mulai nyicil dari chapter awal. Tapi saya lupa karena terlalu excited buat bangun interaksi antara dua tokoh utama. Iya, saya emang bodoh banget ''orz

Sooo… saya terpaksa ngedit chapter-chapter sebelumnya dan menyisipkan satu chapter tambahan, yang mana di dalam chapter itu ada sedikit perubahan dan penambahan, yakni chapter ini. Terima kasih buat yang mau mundur ke chapter belakang ini dan, sekali lagi, mohon maaf atas ketidaknyamanannya /bow

Warning: possibly typo(s), cliché, tulisan yang lagi nggak enak dibaca, etc. Kesamaan ide harap dimaklumi.


Vocaloid (c) Crypton, Yamaha, Internet, etc.

No commercial profit taken.

Role (c) datlostpanda


Take Six!

/Night/


Leon Russell terheran-heran melihat seorang pria setengah baya berpakaian kelewat rapi—kemeja putih dan jas hitam khas seorang butler— berdiri di depan kediamannya. Saat itu pukul delapan malam dan Leon sedang bersantai bersama istrinya, Lola, di ruang tamu, menikmati acara keluarga di televisi sambil berbincang riang dan saling bertukar candaan hangat. Hingga tiba-tiba bel berbunyi. "Siapa yang bertamu malam-malam begini?" Leon berbisik pada dirinya sendiri seraya membuka pintu sedikit untuk mengintip siapakah gerangan yang berada di luar.

"Selamat malam," pria tua itu menyapa dengan keramahan yang menyenangkan. Suaranya terdengar parau namun ada kesan wibawa yang menguar kuat dari sana. "Apakah Anda Tuan Russell, Leon Russell?"

Mendengar pria tersebut menyebut namanya membuat Leon segera menaikkan kedua alis. Wajahnya membentuk ekspresi antara bingung dan heran. Dia cukup yakin tak pernah bertemu dengan orang tersebut, tapi kenapa dia bisa tahu nama Leon? Tidak mungkin 'kan ia mendadak tenar?

"Ya, benar." Leon melebarkan pintu rumahnya agar bisa leluasa bicara dengan pria asing itu. "Maaf, tapi … apa aku pernah bertemu denganmu sebelumnya?"

Pria itu tertawa pelan. Suaranya ringan dan terdengar menyenangkan. "Tidak, tidak. Tentu saja kita tidak pernah bertemu, Tuan. Tetapi majikan saya pernah bertemu dengan Anda."

Leon mengedip sekali. "Majikanmu?"

"Tepat sekali. Majikan saya. Anda pasti sudah mengenalnya, dia orang yang sangat baik dan menyenangkan—"

"Whoa! Tunggu sebentar, Sir." Leon menaikkan tangan, memotong ucapan orang tersebut. Alisnya sudah menurun sampai ke pangkal hidung. Sekarang dia benar-benar bingung. "Tadi kaubilang aku pernah bertemu dengan majikanmu?"

"Ya, benar," dia mengangguk.

"Kauyakin tidak salah orang, Sir?" Leon bertanya, ragu-ragu. "Mungkin Leon Russell yang kaucari adalah orang lain—kupikir ini bisa saja terjadi karena nama Leon Russell cukup banyak di Australia." Dia terdiam sejenak untuk menarik napas. "Maaf, tapi mengingat pekerjaanku yang hanya staff biasa, tidak mungkin aku pernah bertemu dan mengenal seseorang yang mampu mempekerjakan pelayan pribadi sepertimu, Sir…."

"Tidak, Anda-lah Leon Russell yang saya cari." Pria itu tetap berkeras dan Leon mulai mendapati kepalanya berdenyut-denyut. "Beliau sendiri yang bilang pada saya bahwa kalian pernah bertemu."

"Dan siapa pula orang yang kaupanggil majikan itu, Sir?"

"Kamui Gakupo. Orang-orang di tempat ini biasa memanggilnya Kamui-san."


Kamui Gakupo mengarahkan tatapan ke langit. Beberapa kali ia mengerjap ketika angin malam berhembus pelan. Membawa hawa dingin ikut sera bersama mereka.

Gakupo membuang napasnya. Langit malam di Australia dan di Jepang tak beda jauh, dia berpikir. Sama-sama gelap dan suram. Hanya saja di sini agak sedikit sulit melihat bintang. Entah karena dia berada di kawasan yang banyak gedung-gedung tinggi atau justru akibat polusi, ia tak begitu mengerti.

Saat ini dia tengah berada di depan lobi sebuah hotel yang terletak di tengah kota. Seorang bellboy baru saja meletakkan koper Gakupo yang tadi ia angkut dari lantai 25—lantai tempat kamarnya berada. Jika ada yang tanya apa yang Gakupo lakukan di tempat ini, jawabannya adalah dia sedang bersiap untuk pulang ke Jepang.

Gakupo telah berada di Australia sekitar satu minggu. Tujuannya apalagi kalau bukan rapat dengan relasi bisnis penting sekaligus memantau perkembangan perusahaan yang ada di bawah pimpinannya. Saingan telah semakin melebarkan sayapnya dan nyaris membabat pangsa pasar perusahaan Gakupo, ini jelas tidak bisa didiamkan. Maka dari itu, selama satu minggu ini dia benar-benar memfokuskan perhatiannya pada perusahaannya di sini; melihat bagaimana staff bekerja, memeriksa kemajuan serta angka kepuasan klien, dan sebagainya, dan sebagainya. Saat ia sudah merasa tidak perlu khawatir dengan perusahaannya, ia memutuskan untuk pulang kembali ke Jepang.

Jadi, di sinilah dia sekarang. Di depan lobi hotel. Berdiri di depan koper berisi barang-barangnya. Menunggu mobil yang akan membawanya ke bandara. Mungkin ia juga sedang menunggu seseorang.

Setelah beberapa saat berdiri, sebuah Mercedes hitam dengan plat nomor yang tak lagi asing berhenti tepat di halaman parkir hotel. Tidak lama berselang, seorang pria setengah baya keluar dari kursi kemudi dan menghampirinya. Rambut pria itu nyaris rata dengan putih, wajahnya juga sudah penuh keriput, tanda bahwa yang bersangkutan sudah tak lagi muda. Tetapi matanya masih kuat memancarkan loyalitas. Begitu pula dengan badannya, masih tegap. Tulang-tulang orang itu tentulah masih sangat kokoh. Benar-benar pria yang luar biasa.

"Maaf telah membuat Anda menunggu, Kamui-sama," adalah kalimat pertama yang diucakan oleh orang tersebut. Bahasa Inggris dengan aksen Australia yang khas meluncur dari mulutnya.

Gakupo tersenyum pengertian. "Mah, jangan khawatir. Aku sedang tidak terburu-buru. Yang lebih penting, apa kau sudah membawa dia ke sini?"

"Tuan Russell? Ya, tentu. Dia ada di sana." Pria itu segera mengerling ke arah mobil. Leon Russell baru saja turun dari pintu belakang. Mata hijau pria tersebut tampak meneliti sekitar dengan gerakan cepat. Ia teramat gugup.

Gakupo mengangguk senang kemudian mengibaskan tangan, memberi perintah tanpa suara pada pria tersebut untuk segera memasukkan koper-koper yang tadi diangkut oleh bellboy hotel ke dalam bagasi mobil.

Dengan langkah yang tenang serta berwibawa, ia menghampiri Leon untuk memberi sapaan ringan. "Selamat malam, Russell. Kuharap aku tidak mengganggu dengan mengirim pelayanku ke rumahmu."

Leon Russell menegakkan badannya dan berputar hanya untuk menemukan sesosok pria muda dengan tubuh tegap dan rambut berwarna tak lazim—ungu— masuk dalam akomodasi pandangannya. Dia sempat kehilangan napas selama sepersekian sekon, namun bunyi langkah kaki Gakupo yang terdengar melemparnya balik ke alam realita.

Leon menggeleng cepat, membuat rambut pirangnya yang jatuh sampai bahu bergoyang akibat pergerakkannya. "Sa-sama sekali tidak, Kamui-san. Sungguh." Kali ini Leon gugup luar biasa. Astaga, ini pertama kalinya dia berhadapan langsung dengan bosnya sendiri, Kamui Gakupo! Benar-benar sebuah kehormatan.

Kamui Gakupo adalah pemimpin dari Camui Group, sebuah perusahaan dagang raksasa yang baru-baru ini tengah menancapkan kaki-kakinya dengan kuat di puncak kesuksesan. Camui Group juga merupakan tempat Leon bekerja sebagai seorang staff marketing selama satu setengah tahun terakhir.

Sejujurnya, Leon belum pernah bertatap muka langsung dengan sang pemimpin Camui Group. Banyak pegawai lain yang juga bernasib sama dengan Leon. Alasannya mudah saja. Kamui-san, begitu semua pegawai memanggil pemimpin mereka, lebih sering berada di Jepang, tempat kelahirannya sekaligus perusahaan pusat, ketimbang di sini. Pusat adalah tempat yang selalu dijadikan prioritas, begitu yang sering rekan-rekannya bilang.

Perusahaan di Australia ini sendiri sebenarnya hanya cabang yang baru diresmikan sekitar tiga tahun yang lalu. Belum terlalu lama memang, tapi karena modal besar dan prospek kerja bagus yang dimiliki, sudah banyak perusahaan yang mulai memperhitungkan mereka. Beberapa langsung menganggap Camui Group sebagai saingan. Meski banyak perusahaan yang menganggap Camui Group sebagai saingan kerja, sesungguhnya hanya ada satu saingan yang benar-benar setara dengan perusahaan itu; VY co.

Dibilang setara karena kedua-duanya sama-sama berpusat di Jepang, dipimpin oleh orang Jepang, dan bergerak dibidang yang juga serupa. Sudah bukan rahasia umum jika kedua perusahaan itu sering bersaing ketat. Terkadang persaingan dimenangkan oleh Camui Group, kadang oleh VY co.

Kembali ke masalah Leon dan atasannya.

Meski tadi dibilang ini adalah kali pertama Leon bertemu dengan Gakupo, tapi sebenarnya hal itu tidak sepenuhnya benar. Pasalnya tadi siang, pria itu sudah bertemu dengan Gakupo secara tidak sengaja.

Waktu itu Leon tengah membawa barang-barangnya (yang sebagian besar merupakan map dan dokumen-dokumen yang mungkin akan terpakai) ke ruangan lain. Hatinya melompat-lompat senang. Ia baru saja mendapat promo dan dipindahkan ke divisi lain yang lebih tinggi, padahal dia belum genap dua tahun bekerja di sini. Nasib baik benar-benar sedang berpihak padanya.

Ketika pria itu mempercepat langkah di koridor yang menikung, ia tidak melihat ada beberapa orang yang melintas dengan arah berlawanan. Orang-orang itu berpakaian sangat rapi dan baru keluar dari ruang direksi. Terlalu senang memang kadang membuat seseorang menjadi ceroboh. Singkat kata, Leon menabrak salah satu dari orang-orang tersebut. Barang-barangnya jatuh berhamburan.

Salah seorang dari mereka—seorang pria tua beralis tebal, Leon mengenalinya sebagai manajer dari salah satu divisi— memakinya ceroboh. Satu yang lain—pria umur pertengahan tigapuluh berperawakan tegap, dewan direksi— mendengus kencang sambil memicingkan mata. Pria terakhir—berambut ungu panjang, usia masih sangat muda, 26, kalau boleh Leon menerka— hanya menghela napas dan mengambil beberapa barang yang tercecer di sekitar kakinya. Baik hati sekali, itu yang Leon pkirkan.

Waktu itu Leon merasa sangat asing dengan sosok pria itu. Rasanya, dia tidak pernah melihat orang itu di sini. Pegawai baru? Tapi pakaian terlalu rapi. Leon kemudian menaikkan kedua bahunya tak acuh dan berlalu. Mungkin investor, pikirnya. Ya, investor. Dan saat ini Leon ingin menghajar dirinya sendiri yang telah berani berpikir orang yang tadi siang adalah seorang investor karena—demi semua uang dollar yang ada di dalam dompetnya— rupanya orang itu adalah Kamui Gakupo!

Leon hanya berharap malam ini dia tidak dipecat.

"Ah, maaf, Kamui-san, boleh saya bertanya sesuatu?" Leon bertanya sopan.

"Kau pasti mau bertanya untuk apa aku memanggilmu, bukan?" Gakupo menerka.

Sebenarnya Leon mau bertanya dari mana Gakupo tahu nama dan alamat rumahnya, mengingat mereka berdua belum pernah benar-benar bertemu. Tapi, dia juga penasaran tentang itu: Mengapa Gakupo memanggilnya?

"Aku akan menjelaskan semuanya di dalam mobil. Kalau kau tidak keberatan…," Gakupo mengerling pada pintu mobil, "ada pesawat yang harus kukejar."

"Ah! Tentu saja!" Seolah baru mendapat pencerahan dari langit, Leon segera menyingkir dari depan pintu mobil setelah lebih dulu membukanya, membiarkan Gakupo masuk lebih dahulu baru menyusul setelahnya.

Mercedes itu keluar dari area hotel tak lama kemudian. Roda-rodanya menggilas aspal jalanan, sementara lampunya membelah malam. Keadaan Australia di malam hari tak jauh beda dengan siang; masih ramai dan terang akibat lampu dari kendaraan serta gedung-gedung tinggi yang berjejer rapat. Jika pemandangan ini dilihat dari atas, tentulah lampu-lampu terlihat seperti gerombolan serangga kecil.

"Jadi, uh, Kamui-san," Leon adalah orang pertama yang bicara, "kudengar hari ini Anda kembali ke Jepang."

"Benar."

"Ah…. Kalau begitu, apakah Anda akan berangkat dari Kingsford Smith?" Pria tua yang kini sudah berada di belakang kemudi tertawa mendengar pertanyaan Leon, seolah itu adalah pertanyaan paling bodoh sedunia. Hal ini tentu saja membuat yang bersangkutan mengerjap. Apa yang salah dari pertanyaannya?

"Sebenarnya Russell, aku tidak akan pergi dengan salah satu pesawat dari Kingsford Smith, melainkan lepas landas dengan pesawat pribadiku," jawab Gakupo kalem. Di tempatnya duduk, Leon berusaha untuk sama sekali tak terlihat terkesan. Pesawat pribadi? Tuhan, sebenarnya berapa banyak harta orang ini?!

"Oh, begitu…."

"Mah…. Karena perjalanan menuju pangkal udara tempat pesawatku terparkir lumayan jauh, maka aku memutuskan untuk memanggil salah seorang pekerjaku untuk menemaniku mengobrol selama perjalanan. Ngomong-ngomong, itu menjawab pertanyaan pertamamu," jawab Gakupo santai.

Alis Leon naik satu. Sebenarnya dia masih sedikit canggung dengan atasannya itu. Mereka 'kan baru saja bertemu. Apa yang bisa dibicarakan?

"Oh, ya. Aku hampir lupa," Gakupo berkata tiba-tiba, "kau pasti bingung dari mana aku bisa tahu nama dan alamat rumahmu."

Ding-dong. Tepat sekali.

"Aku tahu dari Marshal," jawab Gakupo, "kautahu pria yang bersamaku tadi siang?"

Ah, dewan direksi yang tadi itu. Leon mengangguk. "Bicara soal tadi siang, Kamui-san, saya minta maaf atas kecerobohan saya."

Gakupo mengibaskan tangan. "Jangan pikirkan itu. Dari pada itu, aku ingin menanyakan satu hal padamu."

"Bertanya mengenai apa?"

Gakupo tak langsung menjawab. Pandangannya terpaut sejenak pada geliat sibuk kota di luar jendela. Leon melihat ekspresi pria ungu di hadapannya sempat berubah dingin dalam sepersekian sekon dan itu membuatnya merinding. "Waktu kau menjatuhkan barang-barangmu siang tadi, aku sempat melihat selembar foto ikut jatuh dari dalam mapmu."

Leon menaikkan alisnya dan mengingat-ingat sesuatu, tapi tidak lama. Karena pada detik selanjutnya, ia nyengir lebar seperti baru mendapat ilham dari langit. "Oh! Apa maksud Anda foto ini?"

Leon merogoh sesuatu dari dalam saku celananya dan memperlihatkan selembar foto tua yang mana, di dalamnya, tercetak gambar dua orang. Yang satu pemuda; berambut pirang dan mata sejernih emerald—Leon, dan yang satunya lagi anak kecil; tubuh kurusnya dibalut t-shirt merah kebesaran. Matanya kuning seperti memenjarakan cahaya mentari, sementara rambutnya mengingatkan pada warna bunga musim semi. Bibirnya terbuka sedikit, seolah ragu membagi senyum pada kamera. Mata Gakupo terkunci pada sosok anak itu.

"Ya,kau benar, Russell. Foto ini," jawab Gakupo. Suaranya rendah, nyaris berbisik. "Dia anakmu?"

Leon tertawa."Tidak, tidak. Saya belum punya anak, Kamui-san."

"Lalu," Gakupo tak bisa menahan alisnya untuk tak membentuk sebuah keryitan, "dia ini siapa?"

Bibir Leon membentuk sebuah senyum simpul yang misterius. "Namanya Roro."


Tak ada yang bicara di dalam mobil. Tidak Yuuma, tidak pula dengan Luka. Mereka berkutat sendiri dengan pikiran masing-masing. Luka mencari alasan yang paling logis tentang mengapa dirinya mau begitu saja disuruh pergi oleh orang asing. Bagi seorang gadis, tentu hal ini membingungkan. Sedangkan Yuuma sibuk memikirkan arah tujuan mereka.

Yuuma berkedip menjernihkan pandang. Alkohol membuatnya pening. Jalanan terlihat berbayang. Sial.

"Kau mabuk." Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Luka. "Mengemudi di bawah pengaruh alkohol itu melanggar hukum, sekedar mengingatkan saja."

Yuuma mengeluarkan suara yang seperti campuran antara tawa dan dengusan. "Lihat ini, aku duduk bersama perempuan yang memberitahuku cara mengemudi. Haruskah aku tahu bagaimana rekor mengemudimu?" ujarnya setengah mengejek. "Dan lagi, aku tidak mabuk."

"Ya, kau mabuk," tanggap Luka. Sepasang mata biru menatap deretan gedung-gedung tinggi dan geliat sibuk pejalan kaki melalui jendela. "Kau bahkan tak sadar sudah menerobos tiga lampu merah."

Pemuda itu mengerjap lagi. Benarkah? Sebenarnya, Yuuma bahkan tak tahu kalau mereka sudah melewati lampu merah karena terlalu sibuk berurusan dengan alkohol yang mulai mengganggu sistem tubuhnya.

"Akui saja kalau kau mabuk, Tuan." Luka kembali berkata, kali ini ada nada bosan terselip. "Menyerahkan kemudi sementara pada orang yang kondisinya lebih prima terdengar cukup aman. Aku juga bisa menyetir, kautahu." Dan Yuuma mau tak mau menyeringai mendengarnya.

"Sekali lagi aku bilang padamu," pemuda itu melirik gadis yang duduk di sampingnya melalui ujung pelupuk mata, "aku tidak mabuk." Kakinya menginjak gas; sengaja menambah kecepatan untuk memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja, kemudian menambahkan komentar setengah sinis, "Lihat? Aku masih sanggup mengemudi dengan baik. Lagi pula, aku tak rela mobilku disentuh orang asing."

"Maaf saja, tapi aku sendiri tak sudi harus berada satu mobil dengan orang asing." Berhenti sejenak. Dia mengerling Yuuma dalam satu lirikan cepat dan melanjutkan dengan nada tak kalah sinis, "Terutama orang asing yang punya fetish mengerikan terhadap minuman beralkohol."

Ah, lihat. Betapa gadis itu senang menanggapi sinisme yang dilempar olehmu, Yuuma. Mereka bahkan sama sekali belum mengenal—Yuuma memang sudah lebih dulu tahu nama Luka dari Gumiya, namun itu tetap tidak bisa dihitung sebagai sebuah perkenalan— tapi mereka sudah saling sindir. Wajah boleh cantik. Tapi mulut rupanya tak kalah tajam dari belati.

Kalau boleh jujur, Yuuma belum pernah bertemu dengan seseorang yang berani adu mulut dengannya. Mikuo saja lebih memilih mengalah atau mengalihkan topik ketika Yuuma mulai menghujaninya dengan bermacam kalimat warna-warni sarat sarkasme. Yah, setidaknya mereka berdua punya kesamaan; sama-sama suka melempar umpan sarkasme—terlepas dari kenyataan bahwa rambut mereka kebetulan juga punya warna yang sama, tapi itu lain cerita.

Tanpa sadar, Yuuma melebarkan seringainya. "Heh. Aku tak tahu seorang artis populer bisa mengucapkan kalimat setajam itu."

Luka refleks menarik kepalanya dan memandang pemuda yang ada di belakang kemudi. Alisnya naik satu. Pemuda itu mengenalinya. Dia bahkan tak tahu harus merasa tersanjung atau bagaimana.

"Oh, kautahu rupanya?"

Kautahu rupanya? Yuuma ingin sekali berkata, jangan terlalu percaya diri, seorang bartender di bar tadi yang memberitahuku. Tapi alih-alih ia malah menjawab, "Ya. Siapa yang tak tahu kau? Apa lagi, saat ini kau sedang tersandung konflik. Aneh kalau ada orang yang tak tahu."

Setelah mengatakan kalimat barusan, entah mengapa atmosfer yang melingkupi mereka tiba-tiba saja menjadi semakin berat. Dan saat itu juga, Yuuma merasa jika yang diucapkannya tadi adalah sesuatu yang salah. Benar-benar salah.

Luka melempar pandangannya kembali pada deretan gedung di luar jendela, seakan tidak ingin menatapnya. Di kursi pengemudi, Yuuma hanya bisa melirik gadis itu melalui sudut matanya sambil merutuk dalam hati. Situasi sekarang sudah cukup membuatnya repot dan kenapa juga mulutnya tak bisa berhenti mengeluarkan kalimat-kalimat tajam yang malah memperkeruh suasana?

Dia mendesah dalam hati. Setelah mengerling cepat pada gadis itu, ia kembali memberi perhatian pada jalan. Dengan gedung-gedung yang penuh lampu, kota jadi tampak begitu hidup. Seperti sebuah parade tengah malam.

Jujur saja, Yuuma bingung apa yang harus ia lakukan dengan situasi seperti ini. Dia bukanlah tipe orang yang mau peduli dengan keadaan orang lain di sekitarnya. Biasanya Yuuma akan membiarkan orang-orang menilai apa pun tentang dirinya ataupun berbuat sesuatu yang mereka suka—sejauh hal itu tidak melibatkannya. Namun, entah mengapa, berada di tengah udara canggung bersama gadis ini justru membuatnya merasa resah. Ini tidak benar. Terutama setelah apa yang terjadi di bar.

"Sebentar lagi kita akan melewati sebuah hotel. Kaubisa turunkan aku di sana."

Yuuma mengerjap—terlalu terkejut untuk memberi respon lain—kemudian mengerling cepat ke arah Luka dengan alis yang naik satu. "Apa?" tanyanya.

Luka menghembuskan napas tak sabar—seolah pembicaraan ini menguras seluruh energi. "Limaratus meter dari lampu merah yang ada di depan ada hotel. Kaubisa menurunkanku di sana."

"Kautinggal di hotel?"

"Bukan."

"Lalu?"

Luka menelengkan kepalanya ke arah Yuuma. "Apakah aku punya kewajiban untuk memberitahu urusanku pada orang asing sepertimu?"

Yuuma mendengus. "Jangan salah sangka," kata pemuda itu, "aku bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain." Luka memberinya tatapan skeptis dan ia segera menambahkan, "Tapi kali ini urusannya lain. Sekedar mengingatkanmu, kita baru saja kabur dari seorang gadis yang menuduh kita sebagai pelaku yang membunuh teman baiknya."

"Lalu? Apa masalahnya? Itu, 'kan, cuma salah paham." Luka menanggapi dengan enteng, membuat Yuuma segera memutar bola matanya dengan dramatis.

"Ya, salah paham. Tapi orang tadi tidak menganggap itu sebuah kesalahpahaman sama sekali," tanggap Yuuma. Ada guratan serius menghias sketsa wajahnya.

"Aku berani bertaruh setelah kita pergi, dia akan segera melaporkan pembunuhan temannya pada polisi." Dia berhenti sejenak untuk mengerling Luka. "Aku masih beruntung karena bukan seorang public figure yang gampang dikenali—pengecualian jika dia senang membaca majalah bisnis maka dia pasti sudah tak asing denganku, tapi kemungkinan itu kecil, tak ada remaja yang suka membaca majalah semacam itu—tapi kau berbeda. Gadis tadi pasti langsung mengenalimu."

Luka telak terdiam. Di dalam tubuhnya seperti ada sebuah turbulen yang kuat dan terus berputar mengaduk pikirannya. Apa yang dikatakan Yuuma benar. Beda dengan pemuda itu, Luka adalah sosok yang dikenal luas oleh masyarakat. Salahkan kariernya yang sedang meroket dan membuat popularitasnya melesat.

"Kalau gadis tadi melaporkan kasus itu ke polisi, maka pasti kau adalah orang pertama yang ditangkap. Setelah kau ditangkap, mereka akan menanyaimu macam-macam tentang aku—orang yang, sialnya, terlihat bersamamu ketika gadis rambut merah itu datang. Dan saat itu terjadi, maka mereka akan mencariku untuk segera memenjarakanku." Yuuma kembali bicara. Kali ini suaranya terdengar berat dan dalam seolah sedang berada dalam keadaan yang membuatnya depresi. Jemarinya tanpa sadar menggenggam kemudi lebih erat; membuat buku-buku jarinya memutih.

"Maaf saja, tapi aku tak mau masuk penjara—apalagi karena sesuatu yang tak pernah kuperbuat. Aku masih punya banyak urusan yang harus kuselesaikan." Mengeluarkan dua keparat itu dari kantor, misalnya, Yuuma menambahkan dalam hati. "Karena itu, aku tak bisa membiarkanmu berkeliaran sembarangan tanpa alasan yang jelas. Jika kau tanya alasannya, maka mudah saja: jika kau tetap bebas, aku juga sama. Aku benci mengatakannya, tapi kebebasanku bergantung padamu." Atau bisa dibilang, kau dan aku kini tengah berbagi nasib yang sama.

Luka tak memberi respon. Sepasang mata biru masih memandang jalanan dengan tatapan kosong. Dia hanya bergeming di tempatnya duduk. Sekilas dia terlihat seperti mengabaikan semua ucapan Yuuma, tapi tidak. Justru karena gadis itu benar-benar mendengarkan, makanya dia tak memberi respon apa pun.

Lima menit berlalu begitu saja, dan mereka baru saja melewati hotel besar yang sempat ditunjuk Luka beberapa saat lalu. Mobil tetap berjalan tanpa ada satu pun tanda si pengemudi akan menghentikannya. Luka tak tahu kemana pemuda itu mengarahkan mobilnya, tapi dia tak berpikir untuk protes.

Luka malah kembali menoleh pada pemuda yang sampai saat ini tak ia ketahui namanya. Kelereng biru menatap sepasang emas yang memfokuskan diri pada jalanan yang membentang. Dia mendesah. Entah mengapa, tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya menjadi sangat lelah.

"Jadi, sekarang aku harus pergi ke mana?" tanya Luka. Ada sekelebat rasa putus asa yang terselip rapi di balik nada suaranya yang seakan tanpa emosi, dan itu sedikit-banyak membuat Yuuma mengeryit dalam hati.

"Jujur saja, aku tidak punya tujuan," gadis itu berucap sekali lagi, "untuk malam ini aku tidak bisa pulang ke rumahku sendiri karena ada banyak wartawan brengsek yang mengepung rumahku. Aku juga tidak bisa berlindung ke tempat manajerku karena sampai saat ini aku bahkan tak menerima kabar apa pun darinya." Sebuah jeda mengambang. Napas ditarik, lalu keluar dalam sekali hembusan. Haah. "Terserah kau mau bawa aku ke mana."

Yuuma ingin sekali tertawa menanggapi ucapan Luka. Ya ampun, kenapa dia mudah sekali pasrah, sih?

Ujung bibir Yuuma sudah bergerak; bermaksud menarik sebuah garis lebar, namun—sekali lagi—efek alkohol membuat kepalanya berdenyut pening dan itu menyebabkan Yuuma mengeluarkan refleks berupa geraman rendah. Brengsek.

"Jadi, biar kuperjelas. Kau sama sekali tak punya tujuan?"

Gelengan kepala menjadi jawaban.

"Kalau begitu kau tidak keberatan jika aku membawamu ke apartemenku?" Luka segera menoleh dan mengeryit, namun segera dibalas dengan kibasan tangan oleh Yuuma. "Kita butuh tempat berhenti. Asal kautahu saja, aku tidak bisa terus mengemudi dalam kondisi begini."

"Ha! Akhirnya kau mengaku jika sedang mabuk."

"Kita akan bermalam di apartemenku. Sementara ini, itu satu-satunya tempat aman yang ada dalam pikiranku." Yuuma membalas cepat, telak mengabaikan sindiran Luka. Dia sedang tak ingin adu argumen. Salahkan alkohol yang membuat kepalanya kian berdenyut-denyut. "Besok pagi kita bicarakan masalah ini—kita susun skenario kalau perlu."

"Skenario?"

Bahu besar mengangkat cepat. Alih-alih menjelaskan, Yuuma malah berkata:

"—Jaga-jaga saja."

.

.

.

Can you start playing this role for us…?


Yak, sebetulnya ini nggak bisa dibilang chapter tambahan juga sih, soalnya cuma nambahin scene di mana Leon sama Gakupo ketemu. Anyway, Leon dan Gakupo di sini, meski terlihat seperti cameo numpang lewat, tapi sebetulnya mereka punya peran yang cukup penting.

Take 8/chapter 10 akan saya publish setelah UAS saya selesai. Mungkin kira-kira setelah tahun baru. Spoiler; Take 8 akan sepenuhnya berisi flashback tentang Ann. Jadi, kemungkinan besar semua rahasia yang Ann sembunyikan tentang diri Yuuma akan kalian ketahui.

Rating sudah saya turunkan menjadi T karena saya sudah menghapus kemungkinan terjadinya adegan lime dan kekerasan eksplisit. Saya juga sudah edit semua chapter supaya lebih enak dibaca hwhwhwh c:

Oh, saya juga mau mengucapkan terima kasih pada siapapun yang menominasikan Home Alone di IFA 2013. Cuma mau bilang bahwa dari beberapa fic saya yang masuk nominasi, ternyata yang masuk ke tahap polling malah fic absurd itu agwdghekhkh. Saya seneng bangeeeeettt, walaupun yakin nggak bakal menang juga sih hehhe…. Terima kasih banyak! *u*)/

Sekian dari saya. Kritik dan saran amat dinanti.

Salam,

datlostpanda