Crimson Eye
Chapter 2
Hari ini langit gelap. Sama gelapnya dengan hatiku. Hari ini Len tidak datang. Apakah dia masih marah?Apakah aku tidak memikirkan dirinya? Bukankah aku menyuruhnya untuk berhenti menemuiku agar dia tidak merasakan sakit yang kurasakan. Jika dia berhenti menemuiku, dia tidak akan mempunyai memory buruk tentangku.
Aku melihat buku-buku yang ditinggalkan Len kemarin. Dulu, aku pernah menemukan buku cara membaca dan menulis. Tentu saja, dengan mudah aku pelajari meski waktu itu aku tak tahu kegunaannya. Sekarang aku tahu, aku bisa menggunakanya untuk membaca dan menulis dan aku menggunakannya untuk membaca buku yang ditinggalkan oleh Len. Beberapa cerita membuatku terhibur. Aku membayangkan bagaimana cara Len membacakan cerita ini kepadaku.
Ada satu buku yang menarik. Buku ini bercerita tentang kelahiran anak kembar di desa kami dengan mata berwarna merah. Kembar? Dengan warna mata yang sama denganku? Aku baru pertama kali mendengarnya.
Konon ibu dari anak kembar ini tidak menginginkan keduanya untuk dikorbankan, sehingga pada suatu malam, ibu ini melarikan diri dari desa. Naas, ibu dan bayinya tertangkap oleh warga dan langsung dikorbankan ke dalam danau kegelapan saat itu juga. Tapi, salah satu bayi-nya ada yang selamat. Karena sesaat sebelum ketahuan, ibu itu bertemu dengan kesatria berbaju hitam di hutan dan meminta tolong untuk membawa kabur sang bayi. Pria berbaju hitam itu ternyata adalah seorang pangeran dari kerajaan negeri tersebut. Dia membesarkan bayi tersebut seperti anaknya sendiri.
Aku terdiam sejenak…. Aneh…. Baru pertama kali aku mendengar cerita seperti ini? Benarkah hal ini pernah terjadi? Tapi, buku ini asli dari kerajaan, jadi mana mungkin ceritanya bohong.
Saat sudah menginjak umur 17 tahun, pangeran bermata merah menyadari bahwa ada yang tidak normal dengan dirinya. Konon dia bisa bertelepati, mempelajari sesuatu dengan sangat cepat, Ahli membuat strategi perang dan perang yang dipimpinnya akan berakhir dengan kemenangan di tangannya hingga dirinya dijuluki Crimson Prince.
Di balik ketenaran dan kesuksesannya, Crimson Prince menyadari bahwa dirinya adalah pembawa kutukan. Dia melihat banyak kematian jika dirinya ada di sekeliling orang yang membencinya. Bahkan… sahabatnya pernah mati secara mendadak di depan matanya hanya karena bertengkar dengannya.
Untuk menghilangkan kutukan, dia mencari sang naga yang ada di dasar danau kegelapan. Konon, sang naga dapat mengabulkan segala permintaanmu asal diberikan harga yang sesuai dengan permintaanmu. Namun, setelah itu… tak terdengar lagi kabar dari pangeran bermata merah tersebut.
"Eh? Apakah dia menghilang? Di dasar danau ada naga? Apakah saat aku dikorbankan, aku akan bertemu dengannya? "
.
.
.
Aku menatap langit gelap dengan tatapan kosong. Masih terbayang dalam benakku wajah Len yang pergi dengan kesal. Besok aku akan pergi meninggalkan dunia ini, tapi… kenapa sekarang terasa berat bagiku untuk menerima fakta bahwa aku akan….
Aku… ingin melihatnya… Walau hanya untuk terakhir kali, aku ingin melihat senyumnya. Aku tak mau berpisah seperti ini. Kenapa Len? Kenapa kamu tidak datang kemari? Aku disini kesepian tanpamu.
Suara pintu yang didobrak membuyarkan lamunanku.
"Mata merah! Ini baju untuk kau pakai besok pagi. Jangan kemana-mana! Warga desa bersembunyi gara-gara kamu ! " Ucap pria separuh baya dengan kasar.
"K-Kenapa mereka bersembunyi dariku?"
Pria itu tersenyum kecut. " Apa aku perlu menjelaskannya?!" Ucapnya sambil membanting pintu.
Aku hanya bisa tersenyum pasrah. Aku sudah tak peduli lagi dengan perkataan warga disini. Apapun yang mereka katakan sudah tak mempan lagi. Karena yang kupedulikan hanyalah Len seorang.
Hari semakin gelap. Aku tidak bisa tidur. Mataku menerawang ke langit-langit. Apa yang dilakukan Len sekarang? Dimana dia? Dengan siapa? Apakah dia bermaksud melupakanku?
"R-Rin…. "
"Eh? Aku mendengar suara… "
"Rin…"
Suara yang kukenal… Siapa?
"Rin… Rin…"
"Len? Len!"
"K—kau bisa mendengarku?"
"Aku bisa… b-bagaimana bisa kita bertelepati begini?" Saking bahagianya, aku sudah tidak bisa membendung air mataku lagi.
"Maaf Rin…. Kemarin lusa aku sudah meninggalkanmu… Aku benar-benar minta maaf sudah tak memikirkan posisimu. " Suara Len terdengar serak.
"Un! Aku memaafkanmu kok! Aku… bahagia…. Terimakasih Len. Tapi, besok pagi aku sudah tak bisa bertemu denganmu lagi. Jadi, ini percakapan terakhir kita."
Ada apa ini? Dadaku sesak… Kenapa? Kenapa air mataku tak bisa berhenti mengalir? Padahal waktu itu aku menantikan saat terakhirku. Tapi, kenapa sekarang aku tak ingin mati? Aku…
"Rin? Aku… tak akan membiarkanmu mati. Aku berjanji…. Tolong percaya padaku."
Len berjanji… tiba-tiba saja aku merasa ada secercah harapan untukku.
"Ya… Len, terimakasih… " Kurasakan air mataku mengalir dan terasa hangat. Hatiku terasa sangat senang.
"Hmmm… tadi kamu bertanya kan kenapa aku bisa telepati denganmu?"
"Eh iyaa… Kenapa Len?"
"Hehehe tentu saja karena aku adalah keturunan dari mata merah. Kau ingat mata kananku yang kututup? Mata itu berwarna merah. Sangat merah. "
"Benarkah? Ap-Apakah cerita yang kau bawa tentang Crimson Prince itu benar?"
Len terdiam sesaat. Kemudian dia menghela nafasnya. " Ya itu benar… Tapi… "
"Tapi?"
"Ah, tidak apa-apa… Selamat malam Rin. "
"Selamat malam Len."
Besok adalah harinya. Apakah aku bisa melewati hari esok dan memulai kehidupan yang baru? Aku tidak tahu… yang pasti… aku tidak akan mau meninggalkan dunia yang kusukai ini begitu saja. Akan kulakukan sesuatu… karena Len juga akan berjuang demi diriku.
.
.
.
Aku mengenakan kimono yang berwarna putih dengan obi berwarna merah. Tidak ada orang yang mendandaniku. Aku hanya bersiap-siap sekenanya. Diluar kuil, semua warga berkumpul dengan memakai topeng, nampaknya mereka akan mengadakan festival malam ini. Sebahagia itukah mereka saat aku tidak ada?
Len…. Benarkah dia akan menolongku?
Ah! Rin… jangan berpikir seperti itu. Len tidak mungkin berbohong. Meski, terkadang dia terlihat misterius dan kesepian…. Tapi, dia masih ingin berteman denganku.
Pintu kuil dibuka, dan tampak beberapa pria menarikku dengan paksa keluar.
"Kya! Sakit! Lepaskan!" Pekikku saat rambutku dijambak.
"Diam! Tetua akan melakukan ritual! "
Aku dipaksa duduk diatas tandu yang amat sangat tidak nyaman dan membawaku ke danau kegelapan.
"Wargaku… sekarang kita akan mengadakan ritual danau kegelapan. Kita akan terbebas dari malapetaka dan kematian yang dibawa oleh monster bermata merah ini !" Ucap Tetua dengan jubah putihnya yang berkibar-kibar.
Aku mendengar suara para warga yang bersorak sorai. Aku dipaksa turun dari tandu dan mereka mengikat kaki dan tanganku dengan tali yang sangat kuat. Aku dibawa ke tepi danau, dan mereka menutup mataku serta mengikatkan batu besar di kakiku. Inikah akhirnya…. Len….
"Ada kata terakhir?" Tanya seorang pria yang menggendongku.
Aku hanya bisa menangis perih. "M-meskipun aku harus mati, sampai akhirpun aku masih mempercayaimu. Tolong ingat aku…. Temanku satu-satunya. " Ucapku pelan mencoba untuk menyampaikan salam perpisahan kepada Len dengan menggunakan telepati.
Sayonara….
BYUR!
Gelap… kakiku berat seolah ditarik menuju dasar. Aku tak bisa bernafas…. L-Len…
"RINNN!"
Aku mendengarnya… aku mendengarnya…. Suara yang sangat kurindukan. Tapi… aku sudah tak kuat lagi.
.
.
.
.
Apa ini? Mengapa tubuhku terasa ringan dan hangat. Pelan-pelan aku membuka kelopak mataku. Alangkah kagetnya saat aku mendapati wajah Len yang s-sangat s-sangat dekat dengan wajahku dan sepertinya bibir kami saling bersentuhan. Dadaku berdebar dengan kencang, kurasakan darah mengalir ke kepalaku.
Nampaknya Len sadar bahwa aku terbangun.
"Rin! " Dia menarikku ke pelukannya.
"L-Len? Aku… masih hidup?" tanyaku bingung. Len mengangguk senang.
"Maaf waktu itu aku kasar padamu tanpa tahu perasaanmu. Aku benar-benar minta maaf. Sebenarnya hari itu aku juga mempunyai masalah di dalam kerajaan. Maafkan aku… " Len menunduk tulus di depanku.
Aku menyentuh wajahnya pelan. Aku hanya bisa menitikkan air mata bahagia, Len juga ikut menangis.
"Kenapa kamu tidak ceritakan padaku tentang masalahmu? Apa masalahmu?"
"Sebenarnya dikerajaan ada orang jahat yang sangat ingin membunuhku. Waktu itu aku tidak mendatangimu karena kami sedang ada intrik dan perang. Tanpa sengaja…. Aku mengaktifkan Crimson Eye yang kumiliki ini dan menyebabkan kekacauan, kekuatan mata merah tidak main-main. "
Len berhenti sejenak mengatur nafasnya.
"Rin… maaf aku berbohong… sebenarnya aku adalah Crimson Prince."
Spontan aku melonjak kaget. Bagaimana orang yang ada dari ratusan tahun yang lalu dapat berada di jaman ini?
"K-Kenapa kau bisa ada di zaman ini? Len?"
Len menghela nafas. "Ayo ikut aku…. " Len menarik tanganku menuju dalam gua.
"Len? Ini dimana?" Tanyaku penasaran.
"Ini dasar dari danau kegelapan. Sebenarnya aku tahu jalan rahasia menuju dasar gua ini karena gua ini terhubung dengan ruang bawah tanah istana. "
"Ooh… "
Tak lama kami sampai di gua besar yang diterangi oleh cahaya api berwarna biru. Aku mengaitkan tanganku ke lengan Len.
"HAHAHAHAHA! AKHIRNYA AKU BERTEMU LAGI DENGANMU PANGERAN!" Terdengar suara yang menggelegar yang menggema sudut-sudut gua.
Aku melihat mahkluk yang ada di depanku ini. Hanya ada satu kata yang bisa kugambarkan. SANGAT BESAR! Mahkluk ini sangat besar dengan cakar yang kuat dan wajahnya bagaikan kadal raksasa dengan kumis. Anehnya lagi tubuhnya berwarna merah, seperti warna mataku dan mata Len.
"HMM… SIAPA GADIS ITU? WARNA MATANYA CRIMSON. AKU SANGAT MENYUKAINYA! "
Aku mempererat genggamanku. "Jangan takut Rin. Naga bukanlah sosok aslinya. " Ucap Len mencoba menenangkanku.
Tak lama, mahkluk buas yang terlihat didepanku perlahan berubah bentuk menjadi sesosok wanita berambut panjang dengan warna merah muda hingga melebihi tinggi badannya dan mengenakan kimono berwarna merah. Sangat cantik, dan setelah kuamati… dia juga memiliki mata berwarna merah di sisi kirinya.
"Ara… apakah aku menakutimu gadis kecil?" Kali ini suaranya yang menyeramkan berubah menjadi lembut dan halus layaknya wanita biasa.
"Luka…. Aku punya permintaan… " Ucap Len berusaha menyembunyikanku.
Luka tampak tidak tertarik dengan Len. Wanita itu justru menarikku dalam sekejap ke depannya.
"Warna mata ini…. Aah… aku ingin memakainya…. " Luka menyentuh wajahku dan mengamati mataku dengan tatapan lapar.
"Kenapa kau ingin memilikinya?" Tanyaku heran.
" Tentu saja karena indah. Juga kekuatannya yang luar biasa. Maukah kau memberikannya padaku gadis kecil? Aku akan mengabulkan semua permintaanmu. "
Len kembali menarikku ke sisinya. "Kau mengacuhkanku Luka?"
"Ara… Len-kun marah?" Goda Luka.
"Apakah belum cukup aku menukar mata kiriku?"
Hah? Apakah… Len mengorbankan mata kirinya? Tapi untuk apa?
"Oohh… maksudmu ini? Tapi aku sudah memberikan yang kau mau kan? Kau bilang kau ingin ke masa depan untuk menolong orang yang memiliki mata merah sepertimu dan memanipulasi pikiran orang-orang disekitarmu agar tidakada orang yang curiga padamu. Aku sudah memberikannya padamu. "
Len hanya terdiam. Nampaknya dia memang memiliki perjanjian dengan penyihir ini.
"Jadi apa lagi yang mau kau minta dariku?"
"Aku minta kau melepaskan kutukan mata merah dari desa itu. Sudah banyak kaumku yang mati karena mata ini!" Pinta Len dengan suara yang ditinggikan.
"Jadi, apa kau akan memberikan mata kananmu?" Tanya Luka.
"Jangan!" Pekikku tanpa sadar membuat keduanya berpaling menatapku.
"Kenapa?" Tanya Luka.
"Aku punya permintaan…. " Ucapku.
"Apa permintaanmu gadis kecil?"
"Aku ingin kau mengambil nyawaku ini."
"RIN!" Teriak Len.
"Len, mungkin ini permintaan yang egois. Tapi permintaanku belum selesai. "
"Jadi, bisa kau lanjutkan permintaanmu?"
"Aku ingin terlahir kembali dengan kehidupan yang normal. "
"Hmm… aku tidak mengerti." Gumam Luka.
"A-Ambil juga mata kananku dan nyawaku Luka!" Pekik Len tiba-tiba.
"Harga nyawaku kutukar dengan permintaan yang sama seperti Rin. " Lanjut Len.
"HAHAHAHAHA!" Luka tertawa terbahak-bahak.
"Kalian berdua lucu sekali! Kalian benar-benar tidak mau berpisah ya?"
Aku dan Len tersipu. Wajah kami sama-sama memerah.
"Baiklah!" Kata Luka.
Wanita itu berubah wujud menjadi naga lagi. Suaranya berubah menjadi menyeramkan. Dia mengucapkan mantra-mantra yang tidak bisa dikenali. Aku menatap Len, kami saling bergandengan tangan.
"Oh ya Len, apa kau ingat bahwa kau berjanji akan mengabulkan tiga keinginanku?"
"Tentu saja aku ingat. Kau belum menyebutkan permintaan ketigamu. "
Aku tersenyum senang, dia belum melupakannya.
"Permintaanku yang ketiga adalah….. "
SRINGGG
Sebuah sinar menyinari tubuh kami berdua. Ada rasa panas dan sakit, namun lama kelamaan semua itu hilang.
Selamat tinggal dunia… sampai bertemu lagi….
.
.
.
.
Epilog
Namaku Rin, usiaku 22 tahun. Aku tinggal di Tokyo, namun untuk penelitian skripsiku, hari ini aku berkunjung ke rumah nenekku di desa yang jauh dari Tokyo. Desa ini terkenal dengan legenda Crimson Eye yang sudah hidup beribu-ribu tahun lamanya. Waktu kecil aku sangat menyukai kisah Crimson eye yang dibacakan oleh nenek.
Konon, pemilik mata berwarna merah terakhir adalah seorang perempuan. Sebelumnya pemilik mata berwarna merah dianggap berbahaya dan harus dikorbankan ke dalam danau kegelapan yang ada di tengah hutan. Anehnya, tak lama setelah gadis itu dikorbankan ke dalam danau, warna danau berubah menjadi merah begitu juga warna langit yang berubah warna menjadi crimson. Setelah kejadian itu, warga desa bagaikan terbuka matanya dan merasa berdosa atas perbuatan yang telah mengorbankan anak dewa. Semenjak itu tak ada lagi keturunan dari desa ini yang memiliki mata berwarna merah.
"Nenek!" Teriakku dari kejauhan.
"Rin-chan, pagi-pagi sudah berisik saja. " Jawab nenekku yang sedang menyirami bunga matahari.
"Nek, aku pergi ke danau dulu ya! Hehehe "
"Pulang sebelum sore ya. "
"Ok!"
Aku mengenakan gaun onepiece berwarna putih dan tidak lupa topi yang dapat menghindarkanku dari paparan cahaya matahri. Aku melewati kuil yang ada di jalan menuju hutan. Entah kenapa aku tidak menyukai tempat itu. Padahal banyak orang yang berdoa di kuil tersebut. Aku berlari menjauhi kuil dan berusaha secepat mungkin menuju danau kegelapan.
Aku sudah sampai di depan danau. Danau kegelapan? Danau ini tidak gelap dan hitam seperti yang kubayangkan? Danau yang ada di depanku sekarang adalah danau yang indah dan dapat memantulkan keindahan alam yang ada di sekitarnya.
"Kirei…. " Ucapku kagum.
Aku melepas sandalku dan berlari mengitari danau sambil merasakan rumput lembut yang menggelitik telapak kakiku.
Bruk!
"Ouch!" Pekikku. Aku menabrak seseorang.
"Ah… maaf… apakah kamu bisa berdiri?" Tanyanya sambil mengulurkan tangannya. Suaranya sangat gentle dan dia juga baik mau menolongku berdiri.
Saat menyambut uluran tangannya, tubuhku bagai dialiri listrik yang sangat kuat hingga ke otakku. Apa ini? Suatu bayangan melintas begitu saja dalam otakku bagaikan membuka sebuah ingatan yang dikunci sangat rapat.
Siapa lelaki itu? Permintaan? Mata merah? Dan aku?
"L-Len?" Gumamku tanpa sadar.
"K-kau mengenalku?" Tanya suara didepanku.
Aku menatap pria yang ada didepanku. Dia memiliki rambut pirang dan mata yang indah, tubuhnya juga nampak kuat. Dia memakai pakaian kasual dan memegang kamera.
"Apa kita pernah bertemu?" Tanyaku dengan perasaan rindu.
Pria di depanku juga nampak berfikir keras.
"Entahlah, tapi… aku merasa sudah mengenalmu lama sekali. " Jawabnya sambil tertawa kecil.
Tawanya sangat ringan dan membuatku ikut tertawa.
"Kau aneh…" Ucapku.
"Hahahaha… sama denganmu. Oh ya, namaku Len dari Tokyo. Aku adalah seorang fotografer. " Ucapnya masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Aku Rin juga dari Tokyo. Mahasiswi yang sedang melakukan penelitian di danau ini. Salam kenal Len-kun. "
Tanpa kusadari, terdengar suara kamera yang sedang mengambil foto.
"Len! Kau memotretku? Aku belum siap! " Protesku.
"Hahahaha ! Tidak apa-apa, kamu kupotret karena cantik. Berbahagialah! " Tingkah Len bukanlah seperti orang yang baru kukenal. Kami, seolah-olah memiliki ikatan. Aku tak bisa marah padanya.
"Mou…. Kalau gitu, potret aku saat aku siap dong. "
"Justru menyenangkan memotretmu saat kau tidak siap Rin. "
"Baiklah, untuk perkenalan kita, bagaimana kalau kita foto berdua dengan latar danau ini?"
"Oh… idemu boleh juga Rin. "
Len terkesiap kaget saat melihat hasil fotonya.
"Ada apa Len?"
"ano.. apakah ada orang lain di belakang kita tadi?" Tanyanya penasaran.
"Tadi aku memastikan tidak ada siapa-siapa."
Len menarikku untuk melihat hasil fotonya. Aku pun terkesiap kaget saat mendapati dua siluet pria dan wanita dengan mata berwarna crimson ada dibelakang kami dan bergandengan tangan sambil tersenyum.
"Siapa mereka?" Tanya Len.
"Sudahlah, mungkin itu hanya kebetulan. Bagaimana kalau kamu menemaniku ke bukit surga. Kata nenek di sana pemandangannya sangat indah. " tawarku sambil menghapus foto yang kita ambil tadi.
"Ah! Boleh juga! Aku juga berniat kesana. Ayo Rin… "
Aku berjalan di samping Len dengan perasaan senang dan rindu yang sangat mendalam. Mungkinkah kami pernah bertemu di masa lalu?
.
.
Len… permintaanku yang ketiga adalah… Berjanjilah kita akan bertemu lagi di masa depan dan hidup bahagia bersama.
Baiklah Rin. Aku berjanji, percayalah padaku.
-Crimson Eye End
Author : Akhirnya jadi juga nih FF. Terharu T-T… Makasih buat dukungannya minna-san. Maaf kalau banyak kekurangan disana sini. Favorite and reviewnya ditunggu loh. Semoga kalau author bikin FF lagi masih pada minat baca.
Len : "What? Mau UN malah bikin FF! Yang lama tuh di selesain dulu! Sampe jamuran tuh FF."
Author : "Oh iya, udah mau UN aja sih. Stress bro! Iya deh kalo sempet aku selesain. "
Rin :" Intinya, terimakasih sudah membaca cerita ini sampai akhir. "
Author :" hehehehe ! Arigatou minnasan! See you in the next story! "
