Warning: un-edited—jadi mungkin ada beberapa typo yang nyebar, akan secepatnya saya betulkan kalau ada waktu. Tulisan yang entah kenapa lagi nggak enak dibaca. Kesamaan ide harap dimaklumi.
Vocaloid (c) Yamaha, Crypton, etc.
I gain no commercial advantages.
Role (c) datlostpanda
Take Seven!
/Name/
Luka berada di ruangan luas, berlantai kayu yang dilapis dengan sangat rapi dan cermat, empat buah kursi berlengan di seputar meja sudut membentuk lingkaran di bagian tengah ruangan, meja pinggir dengan televisi 42 inchi dan telepon di atasnya. Di hadapannya, memanjang koridor gelap yang mengarah ke bagian kamar.
Jika ada yang ingin tahu, ini adalah apartemen milik Yuuma—meski tempat ini sebenarnya cukup luas untuk ukuran apartemen yang berada dalam kondominium, hingga membuat Luka bertanya-tanya dalam hati berapa banyak uang yang pemuda itu keluarkan untuk membeli apartemen ini.
Si pemilik apartemen—yang sampai saat ini belum ia tahu namanya—telah tertidur pulas sesaat setelah dia menghempaskan badan di atas sofa hitam panjang yang ada di ruang tamu. Dia benar-benar mabuk. Tidak diragukan lagi. Dia bahkan bisa tidur sangat lelap padahal ada orang asing di dalam apartemennya—tempat yang semestinya berada dalam radius privasinya, demi semesta!—tanpa ada setitikpun rasa takut apartemennya akan kemalingan atau apa. Dan Luka hampir tertawa saat mengingat pemuda itu mati-matian menyangkal dirinya tengah mabuk.
Gadis itu menatap sekelilingnya beberapa lama, berusaha membiasakan diri dengan lingkungan yang sama sekali asing, dan mengamati dinding sebelah kirinya. Di sana tergantung sebuah pedang, sepertinya benda itu adalah hiasan dinding. Di atas meja yang letaknya sejajar dengan dinding tersebut berjejer buku-buku dan beberapa pigura foto.
Dia mengamati pedang itu, mengaguminya (Luka belum pernah melihat pedang sebelumnya, pedang sesungguhnya) kemudian membungkuk dan menyelidiki benda-benda di atas meja. Ada dua majalah dan buletin bisnis yang tertumpuk di bawah beberapa novel tebal.
Tangan Luka meraih salah satu majalah itu dan membuka beberapa lembar. Tak ada yang istimewa. Hanya majalah yang membahas masalah ekonomi serta perusahaan-perusahaan pemegang saham terbesar.
Jemari Luka berhenti membalik halaman kala manik birunya mendapati hal yang menarik. Di sana (di salah satu halaman), Luka menemukan potret wajah pemuda yang tak asing. Mata itu memicing. Berusaha memastikan. Dan ekspresi gadis itu perlahan-lahan mulai berubah setelah mendapat pencerahan.
Dia mendekatkan benda itu, siapa tahu matanya salah. Tapi percuma. Berkali-kali matanya mengedip cepat, namun gambar di sana tetap tak berubah.
Ekspresi Luka saat ini benar-benar seperti orang yang sedang melihat makhluk asing berkaki banyak terperangkap di dalam majalah itu. Toh, yang sebenarnya terperangkap di sana adalah foto pemuda tukang mabuk yang baru saja ia temui.
Oke, mari kita teliti sedikit fotonya. Foto itu kelihatan sekali diambil dari depan. Di dalam gambar, pemuda itu terlihat sedang berjalan keluar dari dalam sebuah gedung mewah (Luka tak bisa mengenali tempat itu, karena ada begitu banyak gedung dengan bentuk serupa di kota ini) dengan pakaian yang sangat rapi dan gaya seperti orang penting (atau apakah pemuda itu memang orang penting? Pengusaha muda?), jas hitam menggantung di badan lengkap dengan dasi, tangan kanannya masuk ke dalam saku celana (pose yang mampu menggetarkan hati setiap wanita yang melihat), helaian merah jambunya mungkin tak terlalu rapi—namun justru itu yang membuatnya menarik dan tak terkesan terlalu kaku, mata kuning pemuda itu tertangkap tengah sedikit melirik serius pada seorang pemuda berambut teal yang berjalan di sampingnya—mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu ketika gambar ini diambil.
Di bawah foto tersebut ada judul besar bertuliskan, 'Penerus Resmi VY co., Yukio Yuuma, Membuat Gebrakan Mencengangkan'.
Luka mengerjap. Jadi, nama pemuda itu Yukio Yuuma, eh? Dan dia adalah seorang penerus resmi dari perusahaan VY co.? Nah, siapa sangka?
Luka sebenarnya tidak terlalu paham perusahaan macam apa VY co., itu. Apakah itu sebuah perusahaan besar? Di bidang apa perusahaan itu berjalan? Seberapa besar saham yang mereka pegang? Luka sama sekali tidak tahu. Tapi jika sampai masuk dalam majalah seperti ini, itu artinya VY co., adalah sebuah perusahaan yang besar.
Luka mengembalikan benda itu ke tempat semula.
Tapi tetap saja, gadis itu berkata dalam hati. Dia tidak pernah menyangka bahwa pemuda itu—namanya Yuuma, Luka mengingatkan dirinya dalam hati—adalah seorang penerus sebuah perusahaan. Maksudnya, seseorang yang bisa dengan mudah melempar pisau pada orang lain adalah seorang yang kelak menjadi pemimpin perusahaan? Ini sangat tidak wajar, bagaimanapun caramu memikirkannya.
Luka mengerling pada barang-barang lain yang juga berjejer di atas meja bersama majalah tersebut. Di samping benda-benda itu ada beberapa buah foto yang dibingkai rapi oleh pigura. Luka mengambil salah satu pigura dan mengevaluasi siapapun yang berada dalam potret itu.
Di dalam gambar itu, Luka bisa melihat seorang anak kecil duduk di samping seorang wanita dewasa. Itu adalah Yuuma versi anak-anak. Tak perlu susah-susah menebak, sebenarnya. Visualisasi pemuda itu dari dulu sampai sekarang tidak terlalu banyak berubah. Hanya badannya yang tumbuh semakin besar, rambut semakin panjang, dan sorot matanya menjadi semakin tajam. Oh, dan jangan lupakan senyum ramah yang anak itu kembangkan ke arah kamera. Senyum itu sudah tidak terlihat lagi.
Oke, mungkin Luka baru bertemu pemuda itu sekitar satu hingga dua jam lalu, tapi dia sudah bisa menebak jika pemuda itu adalah sosok yang suka melempar umpan sarkasme alih-alih tersenyum seperti di foto. Duh, betapa waktu bisa mengubah perangai seseorang menjadi begitu mengerikan.
Luka mengalihkan fokusnya pada sosok wanita yang ada di samping Yuuma kecil. Tadinya Luka mengira wanita itu adalah ibunya—karena, sungguh, mereka terlihat sangat dekat. Bibir mereka sama-sama merekahkan senyum lebar. Tangan kecil Yuuma memegang kedua tangan wanita itu. Aura kedekatan yang begitu kental di antara mereka terekam sangat jelas sampai orang asing seperti Luka bisa merasakannya. Mereka tampak bahagia.
Namun, Penampilan fisik wanita itu sangat jauh untuk bisa disamakan dengan milik Yuuma. Rambut pirang dan sepasang kelereng biru menjadi bukti betapa berbedanya mereka. Dia bukan ibunya, kali ini Luka cukup yakin untuk mengatakan hal ini.
Tapi, jika bukan ibunya, lantas wanita ini siapa? Ah, tapi apa juga pedulinya? Toh, pemuda itu bukan siapa-siapanya. Jadi, buat apa repot-repot peduli?
Luka meletakkan pigura itu ke posisi semula, kemudian melangkahkan kakinya masuk lebih dalam ke apartemen itu.
Sekarang yang lebih penting adalah mencari tempat yang nyaman untuk tidur. Tubuhnya lelah. Pikirannya juga. Sebuah kamar yang terlihat di pojok sana sepertinya tempat sempurna untuk tidur—dan Tuan Pemilik Apartemen sepertinya tidak akan marah jika Luka memakai kamarnya untuk satu malam. Well, salah sendiri dia membiarkan kamarnya kosong dan memilih tidur di sofa.
Desir angin yang melingkupi seluruh badannya berbeda dengan yang selama ini pernah menyapa dan membelenggu semua inderanya dalam kenyamanan. Meski bau yang ia hirup nyaris sama, geli yang menggelitik—kala rambut di belakang lehernya bergerak—sama, dan ilalang kering juga bergoyang dalam gerakan yang sama, tapi dia merasa semuanya begitu asing. Mengapa? Dia sendiri tak mengetahui alasannya.
Dia berada di sebuah padang ilalang. Tempat itu begitu luas, hingga ia sama sama sekali tak melihat ujung maupun batas akhirnya. Dia menengadah, mempertemukan pandangannya dengan cakrawala. Mendung. Langit seperti sedang mengejeknya saat ini.
Sesaat dia terpaku. Mencoba untuk fokus dan mencari alasan logis mengapa dirinya bisa berada di tempat seperti ini, namun buyar ketika mendengar suara terkesiap yang tertahan dari arah belakangnya. Dia berbalik. Mata emasnya seketika membulat saat bersirobok dengan sosok kecil yang kini memandangnya dengan takjub.
Anak kecil. Laki-laki. Rambutnya merah muda dan matanya emas. Anak yang kerap muncul dalam mimpinya belakangan ini—atau, apakah dia bisa menyebut anak itu sebagai versi kecilnya?
(kemudian sebuah pertanyaan pun muncul)
—Apakah anak itu adalah dirinya di masa yang telah lalu?
Anak itu masih memandanginya dengan takjub. Atas-bawah. Bawah-atas. Terus begitu berulang-ulang sampai akhirnya dia memecah hening dengan suaranya yang terdengar riang, "Aku tidak menyangka akan menemukan orang lain di tempat ini! Kukira hanya ada aku."
"..."
Anak itu mendekat selangkah. Dia mengikik geli seolah baru saja melihat hal yang lucu. "Perasaanku saja, atau kita memang punya wajah yang sangat mirip, ya?"
Tanpa sadar, Yuuma membiarkan satu alisnya terangkat. Apa di sini dia bisa bebas bicara dengan dirinya di masa lalu, atau apa?
Anak itu masih memperhatikan sosok Yuuma. Dia terpaksa mendongak—tentu saja—karena tubuh Yuuma jauh lebih tinggi darinya. Mata kuning anak itu melebar seiring dengan menyebarnya perasaan menyenangkan dalam tubuh kecilnya.
Anak itu berkata lagi, "Wah! Dilihat berapa lama pun memang mirip. Tunggu sampai Annie tahu hal ini!"
Yuuma mengeryit.
... Annie?
"Sebentar,"—anak itu meletakkan telunjuknya di bawah dagu—"Annie, kan, tahu banyak hal. Dia pasti sudah lebih dulu tahu tentang ini." Dia terdiam sejenak. "Lagi pula, masih sangat lama buatku untuk bisa ketemu Annie lagi. Haah. Padahal aku sudah tidak sabar mau ketemu Annie lagi."
Yuuma tak mengerti apa yang anak ini bicarakan, tapi dia tak berusaha memotong. Pemuda itu membiarkan anak kecil di hadapannya terus mengoceh. Dan seiring berjalannya waktu, sebuah abstraksi yang sangat asing menghampirinya. Dia sangat asing dengan apa pun yang diucapkan anak ini—bahkan, sejujurnya, dia juga teramat asing dengan anak itu sendiri. Kembali, sebuah pertanyaan menghampirinya.
—Benarkah anak ini adalah dirinya di masa lalu?
Lamunan pemuda itu buyar saat melihat anak itu menggelengkan kepalanya.
"Ah, sudahlah. Kenapa aku jadi bicara tentang Annie." Anak itu nyengir lebar sebelum mendongakkan kepalanya—mempertemukan pandangannya dengan Yuuma. Emas dan emas melebur.
Jeda merayap beberapa saat sampai anak itu berkata dengan nada yang sulit diterjemahkan,
"Namaku Yukio Yuuma. Nama Kakak siapa?"
Wush. Angin bertiup kencang menggerakkan batang-batang ilalang dalam irama resah. Bunyi gesekan lembut yang ditimbulkan antara satu ilalang dengan yang lainnya menjadi latar belakang musik yang mengisi senyap.
Yuuma berdiri terdiam. Pupil matanya mengecil ketika anak itu mengucapkan kalimat sakral tadi
—Namaku Yukio Yuuma.
Sekarang dia harus menjawab apa? Namaku Yukio Yuuma dan aku adalah kamu di masa depan?
Terdengar aneh sebenarnya. Karena, bagaimana pun juga, dia merasa sosok di hadapannya sama sekali bukan—bukan—dirinya. Meski wajahnya mirip, warna mata dan rambutnya sama, tapi Yuuma merasa ada sebuah jurang pemisah yang begitu lebar dan dalam.
Anak ini bukan dia di masa lalu.
Lantas, mengapa mereka punya nama dan marga yang sama? Kebetulankah atau ada penjelasannya? Jawaban dari pertanyaan itu masih belum bisa ia temukan.
"Kak, kenapa tidak jawab pertanyaanku?" suara anak itu merambat di udara. Pertanyaan yang sama kembali dilayangkan, "Nama Kakak, siapa?"
"... Yukio ... Yuuma."
Ada sebersit perasaan aneh yang mengganggunya ketika pemuda itu menyebut namanya. Rasanya seperti ada sebuah batu besar yang menjanggal dan itu mengganggunya. Dia tidak suka. Mengapa dia harus merasa berat menyebut namanya sendiri? Itu namanya, 'kan?
... Iya, 'kan?
Anak itu terdiam beberapa saat, kemudian menggeleng pelan. Dia tertawa kecil.
"Bukan, bukan," kata anak tersebut. "Yukio Yuuma itu namaku."
Tapi itu juga namaku, Yuuma ingin sekali menjawab. Tapi lidahnya seakan kelu dan ia memutuskan untuk diam.
Ya, dia adalah Yukio Yuuma. Setidaknya, itu yang pernah dikatakan orang itu padanya; bahwa dirinya adalah Yuuma, anak tunggal dari bungsu Yukio sekaligus pewaris tunggal perusahaan keluarganya. Itulah yang pernah bibinya katakan padanya
"—Mulai saat ini, namamu adalah Yuuma."
Atau tidak.
Sebuah keraguan tiba-tiba saja menghampiri. Bagaimana kalau ternyata semuanya tidak seperti yang ia kira? Bagaimana jika anak itu benar? Bagaimana jika dia bukanlah Yuuma? Bagaimana kalau Yuuma hanyalah sebuah peran yang harus dia mainkan? Bagaimana kalau dia—dirinya—sama sekali bukan Yuuma? Lantas, yang jadi pertanyaan terbesar saat ini adalah:
—Dia ini siapa?
Tiupan angin yang terasa dingin tiba-tiba saja berhenti. Ilalang berhenti bergoyang. Atmosfer yang menyelubungi tempat itu tiba-tiba saja berubah.
Sekali kedipan mata, dia sudah berada di tengah-tengah koridor sebuah rumah.
Tak ada padang rumput luas. Tak ada langit mendung. Anak itu juga telah menghilang. Yang bisa dia lihat hanyalah api menjalar dari segala arah. Kanan-kiri. Depan-belakang. Hawa panas menyelimutinya. Tempat itu terbakar.
Dia sama sekali tidak punya ide tentang di mana dirinya berada, dan sejak awal dia memang tidak pernah berusaha mencaritahunya. Karena dia hapal—di luar kepala—bahwa tempat ini abstrak. Sebanyak apa pun dia mencaritahu, dia tak akan menemukan jawaban yang ia inginkan. Sebanyak apa pun dia mengaitkan tempat-tempat yang ia lihat di sini dengan kenyataan, maka ia juga akan semakin tidak mengerti. Realistis dan abstrak adalah dua hal berbeda. Bagaimana pun kau berusaha menyatukannya, maka tak akan bisa. Karena itu dia hanya diam dan membiarkan latar tempat di sekitarnya berubah-ubah dalam waktu singkat—awalnya padang ilalang, sekarang sebuah rumah yang tidak ia ketahui siapa pemiliknya—tapi dia merasa tidak asing.
Dia seperti ... pernah ke sini sebelumnya.
Dan di tengah kebingungan itulah dia melihat mereka. Di sana, di sebuah ruangan penuh api yang tepat berada di hadapannya, dua orang itu berdiri. Wanita dengan kulit kecokelatan berdiri dengan wajah panik sambil berusaha melindungi sekaligus menenangkan seorang bocah laki-laki pirang yang menangis ketakutan. Api telah menutup jalan keluar mereka. Mereka terjebak.
Pemuda itu tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas, padahal setiap detail benda di sini tampak begitu jelas di matanya. Bahkan api yang menyulut dari segala arah terasa nyata sampai ke panasnya.
Hanya wajah dua orang itu yang buram seperti ditutup kabut.
Dia mengeryit. Mereka siapa?
Setiap saat yang berlalu membuat api di sana semakin besar. Hawa menjadi makin panas, sedangkan asupan oksigen makin menipis. Yuuma merasa sesak. Udara mencekiknya.
"Cepat pergi, Roro!"
Jantung Yuuma berhenti berdetak. Tangis si bocah pirang makin menjadi. Api semakin membesar.
Roro?
Dia menengadah. Wanita itu menggerak-gerakkan sebelah tangannya, memberi gestur untuk segera pergi.
"Jangan pedulikan kami!" Wanita itu berteriak lagi. "Pergi, Roro. Pergi!"
Tapi Yuuma membeku di tempat. Kakinya seakan dipaku pada lantai hingga ia tak bisa menggerakkannya barang satu senti. Otaknya tidak bisa menemukan apa maksud di balik semua ini
(mengapa dia bisa ada di sini? siapa dua orang itu? kenapa dia tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas? siapa Roro?)
semua pertanyaan itu menumpuk di kepalanya.
"Roro! Cepat pergi!" Teriakan wanita itu membuat Yuuma tersadar dari kondisi trance-nya. "Cepat pergi!"
Dan saat itulah ada bunyi kayu yang patah di makan api. Pemuda itu mendongak. Atap rumah itu sudah tidak kuat menahan jilatan api. Beberapa batang kayu besar jatuh. Ke bawah. Tepat menimpa dirinya.
Dan saat itu, yang bisa dia lihat cuma hitam.
"Roro!"
"Hei, bangunlah!"
Yuuma refleks membuka kedua matanya saat suara lembut bernada memerintah itu masuk ke telinganya dan langsung menemukan sosok Luka berdiri membungkuk tepat di depannya. Garis wajah perempuan itu tampak cemas, namun ketika mata birunya bertemu dengan kelereng kuning milik Yuuma dia segera menetralkan ekspresinya.
Tadinya Yuuma mau bertanya mengapa gadis itu bisa berada di dalam apartemennya, tapi tidak jadi karena tiba-tiba saja ia ingat akan kejadian semalam. Memang tidak begitu detail karena sebagian ingatannya seperti terganggu oleh alkohol, tapi dia bisa ingat bahwa dirinyalah yang membawa Luka ke apartemennya.
Tindakan bodoh, Yuuma mengakui hal itu.
Dia melirik jejulur cahaya kuning yang merembes masuk menembus kaca jendela. Sudah pagi rupanya. Kembali menatap Luka, pemuda itu pun bertanya dengan ekspresi yang sengaja dibuat datar layaknya tidak pernah terjadi apa pun,
"Ada apa?"
Gadis itu tak langsung menjawab melainkan menatapnya lama dengan alis berkerut seolah menemukan sesuatu yang aneh pada diri pemuda itu.
Oke, Yuuma kehabisan ide. Ada apa sebenarnya?
"Kau mengigau."
Satu kalimat yang keluar dari bibir Luka sukses membuat alis pemuda itu mengeryit.
"Apa?" Dia mengigau? Yang benar saja.
"Aku bilang, kau mengigau," ulang Luka. "Keras sekali. Aku sudah beberapa kali membangunkanmu, tapi kau tidak merespon. Kupikir kau demam karena terlalu banyak minum alkohol atau apa."
Yuuma mengerjap dan baru sadar tubuhnya penuh dengan keringat. Nah, pantas saja Luka mengira dia demam.
Pemuda itu kemudian ingat akan mimpi buruk yang baru saja ia alami (padang rumput, anak kecil, api, dua orang yang sama sekali tidak bisa ia lihat wajahnya) dan menghela napas panjang. Untung itu cuma mimpi. Mimpi buruk. Dan untungnya lagi, sudah berakhir. Dia membiarkan punggungnya bersandar di sandaran sofa hitamnya yang nyaman.
Matanya yang berwarna kuning menyala menatap langit-langit.
Luka memperhatikan pemuda itu dalam diam. Yuuma terlihat begitu kuyu. Keringat yang membasahi hampir sekujur tubuhnya membuatnya bertanya-tanya, mimpi apa yang Yuuma alami hingga kondisinya menyedihkan seperti itu?
Luka pernah mengalami mimpi buruk dan tak pernah menyukainya karena setiap kali terbangun, tubuhnya akan penuh peluh dan perasaannya jadi tidak enak. Itu membuatnya tak merasa nyaman.
"Hei."
Yuuma mengerling singkat kala gadis itu memanggilnya. "Apa?"
Jeda sejenak. "Dengar, ini mungkin bukan urusanku. Tapi, sebenarnya kau tadi bermimpi apa?"
Yuuma memandang gadis itu dengan tatapan skeptis. Seolah mengejek rasa ingin tahu Luka.
Gadis itu akhirnya mengatakan, "Karena kau tadi sampai mengigau cukup keras dan terlihat ketakutan. Jadi, yah, anggap saja aku penasaran. Sebenarnya, kau ini memimpikan apa?"
Yuuma membiarkan pertanyaan gadis itu tetap mengambang di udara. Dia bangkit dengan gerakan yang sedikit terhuyung—masih ada sedikit alkohol yang tersisa di tubuhnya ternyata—dan melenggang pergi meninggalkan Luka begitu saja.
"... Bukan urusanmu."
Yap. Jelas sekali pemuda itu enggan berbagi isi kotak Pandoranya dengan Luka.
.
.
.
can you start playing this role for us?
wohooo! lunlun kembaliii~ tolong jangan rajam saya yang ternyata nggak bisa ngasih fast update karena-uh, well, forget it. late is late. there's no excuse, rite? _(;;;v;;;_)
oh, ya, cuma mau bilang kalo chapter ini berkaitan erat dengan chapter kemarin yang bagian akhir, dan juga sama chapter 2 (Take One!)
ini belum sepenuhnya saya beberkan, tapi mungkin udah ada yang dapet clue dan mulai nebak-nebak? sisa potongan misteri (halah!) lainnya akan saya sisipkan di chapter-chapter depan, mohon bersabar dengan plot yang sedang saya bangun, oke? ;D
oh, btw, ada yang mau nebak siapa 2 orang yang terjebak api yang dilihat Yuuma di dalam mimpinya? ;p
balasan review (boleh di skip bila tidak mau baca ;))
#kierraa: wah, terima kasih. saya kira misterinya nggak berasa samsek, abisnya saya noob banget di genre begini. maaf soal typo(s), segera saya betulkan dan akan diminimalisir untuk ke depannya~ ;D yeay, hidup KaiMei! X9 *joget bawa pom-pom*
#SoraNoFuyu iya, nih, sedikit. soalnya saya takut kalo banyak-banyak, kalian bisa pusing dan blenek baca tulisan saya :"D saya nggak bisa fast update, nih. huhuhuhu maafkan sayaa _(;;;v;;;_) *sujud*
#dwidobechan: ini udah diupdate, nih. udah dapet clue tentang hubungan Ann-Yuuma belum, btw? ;p
#Nekuro Yamikawa: saya udah coba kasih hints tentang peran sesungguhnya Ann di chapter ini. sudah berhasil nemu? OuO
#Leavian: waaahh… welcome back~ ^q^/ siapa ya, yang divonis mati? Ikutin aja ceritanya, yah #ngiklan #ditamvar
Oke, sekian. Review?
