Important notes!

Buat yang ngikutin cerita ini dari awal (kalau ada), saya belum meng-update chapter baru, melainkan menyisipkan satu chapter tambahan di belakang (itulah mengapa jumlah chapternya nambah), tepatnya di chapter 7. Untuk yang berminat baca, silahkan mundur ke belakang. Chapter 10 akan saya update paling lambat pada Januari nanti. Thanks for your great attention!

Warning: possibly typo(s), klise (Ryota *eh) etc. Kesamaan ide harap dimaklumi. Don't like, don't read and those all blah, blah, blah!


Vocaloid (c) Yamaha, Crypton, etc.

I gain no commercial advantages.

Role (c) datlostpanda


Take Eight!
Tik Tok Tik


Sedari tadi, hanya ada suara televisi yang terdengar. Dua cangkir kopi di atas meja telak diabaikan, nasibnya sama dengan siaran berita yang diputar berulang-ulang (laporan hasil pertandingan baseball semalam, perkiraan cuaca hari ini, satu lagi koruptor yang akan jalani pemeriksaan—oh, juga tentang mayat di sebuah club malam) beritanya begitu banyak tapi tak ada satu pun yang memperhatikan. Telak dilupakan.

Di antara mereka berdua ada kabut dingin yang terlihat. Atmosfer yang menyelubung begitu tegang dan menyesakkan sampai ke celah-celah. Sinar mentari yang berhasil curi-curi kesempatan dan berhasil menyusup masuk ke ruangan itu seakan tak memberi efek.

Suasana di sana tetap sunyi dan beku.

Mereka duduk berhadapan satu sama lain di atas sofa hitam empuk dengan meja pendek sebagai pemberi jarak, Luka melipat tangan dan Yuuma menatapnya balik dengan ekspresi bosan.

Yukio Yuuma menatap lekat-lekat gadis hadapannya, reaksi alkohol mulai pergi dari tubuh begitu pula dengan efek mimpi buruk semalam; anak kecil, bertanya nama, api, dua orang yang wajahnya tidak kelihatan—napas ditarik dalam-dalam.

Dia tidak ingin mengingat.

Begitu fokusnya kembali pada Luka, ia membiarkan benaknya menyusun rangkaian kata—atau apa pun itu yang bisa membantunya keluar dari kondisi ini.

"Jadi," pada akhirnya Luka menjadi orang pertama yang memecah keheningan, "setelah semua yang terjadi, apa yang akan kita lakukan?"

Yuuma tidak langsung menjawab. Pandangannya mengarah pada gadis yang jadi lawan bicara. Menimbang dan menilai.

Dari iris mata yang mencuri warna langit itu ada sebuah kilatan angkuh. Luka bukan orang yang mau menganggap penting pendapat orang lain tentang dirinya, Yuuma bisa dengan jelas menebak meski mereka belum genap 24 jam saling mengenal (mereka bahkan melewatkan bagian perkenalan) karena dirinya juga punya sifat dan sinar mata yang sama.

Tapi sekarang dia melihat Luka, dengan kedua telapak yang saling ia katupkan di atas paha dan raut putus asa yang tipis (sangat tipis) di wajah, menanyakan apa langkah yang harus ia ambil selanjutnya. Baiklah, coret kata 'ia' lalu ganti dengan 'mereka'.

Yuuma dan Luka sama-sama menanggung konsekuensi dalam hal ini.

Setelah sekian lama terdiam, Yuuma akhirnya membuka mulut.

"Apa yang harus kita lakukan? Kau juga pasti tahu apa yang harus kita lakukan." Mata emas itu menyipit ketika mengerling layar televisi. "Kita harus pergi dari sini. Secepatnya."

Luka bergeming ketika suara bariton yang membawa sebuah keputusan mantap itu masuk ke dalam telinganya, menggetarkan koklea, menghempas sunyi yang meradang. Untuk sesaat, dia bisa merasakan seluruh dunia yang tiba-tiba menjadi sunyi.

Pergi?

Secepatnya?

Tapi kenapa?

"Sederhana. Untuk melarikan diri dari kejaran polisi," jawab Yuuma enteng. Dan Luka segera mengerjap saat dia tanpa sadar telah menyuarakan pemikirannya.

"Pengecualian jika kau, Megurine Luka—apa itu benar namamu?" anggukan kepala dan Yuuma kembali melanjutkan, "pengecualian jika kau, Megurine Luka, memang sudah putus asa dan lebih senang masuk penjara, maka silahkan tinggal di sini. Aku tidak akan memaksamu, sungguh." Dia berhenti sejenak. "Tapi aku masih mau bebas dan—seperti yang pernah kubilang—masih banyak urusan yang harus kutangani."

"Jadi kau lebih senang jadi buronan?"

"Itu lebih baik daripada jadi tahanan."

"Tapi kita bahkan tidak punya alasan yang cukup kuat untuk melarikan diri," jawab Luka sengit.

"Label pembunuh dan sebentar lagi akan bertambah menjadi buruan polisi masih belum cukup untukmu?" Yuuma membalas tak kalah sengit.

"Kita tidak melakukan apa pun!" Luka menghela napas tak sabar. Hampir menangis sebenarnya. "Kita sama-sama tahu yang terjadi malam itu. Dia sudah tewas sejak pertama kali kutemukan. Aku bahkan tak menyentuhnya sama sekali!"

"Tapi kau membuka pintunya—"

"Oke! Aku membuka pintunya. Kau puas sekarang?"

Bibir Yuuma langsung membentuk sebuah seringai, yang telak diabaikan oleh Luka.

"Tapi hanya itu. Kita tidak perlu lari."

Yuuma memandang Luka dengan ekspresi menantang. "Lalu menurutmu kaupunya ide yang lebih bagus?"

"Ya," gadis itu membalas cepat, "datang ke kantor polisi. Jelaskan segalanya pada mereka."

"Dan kau pikir mereka akan percaya begitu saja? Naif sekali kau, Tuan Putri," jawab Yuuma setengah mengejek.

Jika semua orang bisa dengan mudah mendengarkan penjelasan orang lain, maka dunia ini akan jadi damai. Tidak perlu lagi ada polisi atau instansi hukum.

"Sekarang, cepatlah ambil keputusanmu; kau akan ikut denganku dan pergi dari sini, atau tetap tinggal dan menunggu sampai polisi menangkapmu?"

Luka mengeluarkan suara dengusan sebelum membiarkan fokusnya teralih pada sebuah objek berbentuk segi empat di sudut lain ruangan.

Berdebat mengenai mana yang lebih baik antara menjadi buronan atau tahanan dengan orang seperti Yuuma tidak akan pernah selesai apalagi mencapai mufakat. Lagipula semua orang waras juga tahu, bahwa antara buronan dan tahanan sama-sama tidak punya sisi bagus.

Dan sebagai orang yang masih waras, Luka tidak ingin statusnya berubah menjadi salah satu dari kedua pilihan tersebut.

Masih bergeming dari tempatnya, televisi mengulang kembali berita yang menghebohkan sejak semalam. Sesosok mayat ditemukan di kamar mandi sebuah club malam.

Dari hasil pemeriksaan dan keterangan saksi yang diterima polisi, diperkirakan jumlah pembunuh ada dua dan kedua pembunuh berdarah dingin itu masih buron. Polisi sedang membentuk tim untuk mengejar para pelaku.

Berita buruk bagi polisi-polisi itu, kedua pembunuh yang mereka cari kini sedang duduk di atas sofa nyaman, ditemani kopi, dan acara televisi. Saling mengobrol untuk menentukan jalan mana yang akan dipilih; bermain petak umpet dengan polisikah, atau berlutut di hadapan takdir dan menyerah?

Demi Tuhan, Luka bisa benar-benar kehilangan logika jika keadaannya tetap begini!

Luka menyandarkan tubuh pada sandaran sofa dan menatap Yuuma dengan pandangan tak senang—dari awal dia memang tidak suka dengan pemuda itu, sekarang dia malah makin muak. Salahkan mulutnya yang setajam belati dan sikap yang kelewat semaunya, meski semua yang dikatakan Yuuma sebenarnya ada benarnya juga.

Mereka tak punya pilihan lain.

Tunggu, apa dia baru saja membenarkan pendapat pemuda itu? Bagus, Luka punya satu lagi alasan untuk membenci Yuuma.

"Walaupun aku bilang tidak ingin pergi, tapi kau pasti akan memaksaku, kan?"

Ding, dong. "Jawaban yang tepat."

Polisi mencurigai ada dua orang yang terlibat. Kemungkinan orang yang pertama akan mereka kenali adalah Luka.

Jika Luka tertangkap, maka otomatis nasibnya tinggal menghitung waktu. Kecuali jika Luka bersedia tutup mulut akan keberadaannya, tapi kemungkinannya akan kecil sekali.

Menutup-nutupi fakta tentangnya takkan membuat Luka mendapat keuntungan. Lagipula polisi tidak akan percaya begitu saja karena selain mereka punya kesaksian dari gadis berambut merah yang sempat ia lempar pisau kemarin, mereka juga pasti sudah tahu ada sidik jari yang menempel di kenop pintu dan gagang pisau.

Di tahap ini, Yuuma hanya berharap sidik jarinya tidak menghapus semua sisa sidik jari si pelaku asli.

Dia jadi menyesal sudah termakan rasa penasaran dan mencabut pisau dari tubuh mayat itu. Harusnya dia ingat bahwa rasa penasaran itu bisa membunuh seekor kucing, dan sekarang itu juga akan membunuhnya. Benar-benar brengsek.

"Jadi, sudah buat keputusan?"

"..."

"Ayolah," desah napas tak sabar, "waktu berjalan, kautahu. Tik tok tik."

Tak ada banyak waktu untuk berpikir. Informasi menyebar dengan cepat, begitu pula dengan penyelidikan para polisi itu. Salahkan globalisasi yang membuat semuanya bergerak sangat cepat.

Di saat begini, satu menit yang terbuang untuk sekedar berpikir bisa sangat berharga. Hei, satu menit itu juga waktu. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi di menit selanjutnya?

Haah.

"Aku tidak percaya ini." Bibir merah Luka kembali membuka. Nadanya dingin, sempurna menyelimut ketakutan dan rasa bimbang yang menggelayut; menjadi beban.

Luka menatap pemuda yang memandangnya balik. Safir menyatu dalam terangnya topaz. "Apa kita benar- benar harus pergi?"

Kalau boleh jujur, Luka berat sekali untuk pergi.

Ia punya masalah yang sampai saat ini belum ditangani. Dia juga masih harus menyelamatkan karier dan mengembalikan nama baiknya seperti dulu. Asal kalian tahu saja, Luka sudah berusaha sedemikan keras sampai bisa seperti ini. Dan sekarang dia harus pergi lalu membiarkan apa yang sudah ia dapat kandas? Nuh-uh. Sampai kapanpun dia tidak akan rela.

Bahu besar digedikkan. Mata sewarna emas berkilat putus asa seolah tak menemukan jalan lain yang bisa ditapaki.

"Kita buronan sekarang."

Benar, benar. Mereka buronan dan hanya bisa main kucing-kucingan. Apa yang bisa diharapkan?

Sekali lagi, mereka tak punya pilihan.

Tangan seputih porselen meraih remote tv, membuat benda segi empat itu mati dalam sekali sentuh. Mereka terdiam beberapa saat.

"Tak dapat kupercaya," bibir merah kembali menggumamkan kata, "sedetik yang lalu hidupku masih baik-baik saja tapi sedetik kemudian aku sudah jadi buronan."

"Apa yang kauharapkan? Takdir itu kejam, Nona."

Luka mendongakkan wajah. Mata sewarna samudera mengerling skeptis. "Ya, tak ada yang lebih kejam di dunia ini selain takdir."

Sang pemuda mendengus geli. Hampir tertawa dengan bagaimana lawan bicaranya menyalahkan takdir atas semua yang terjadi.

Sejak awal takdir memang kejam, bisa dengan mudah mengubah haluan dan membuat manusia pontang-panting. Terlalu naif jika berpikir ia akan selamanya berada di pihak mereka, kemudian menyalahkan saat putaran roda nasib berbalik.

"Jadi," Yuuma berkata untuk kesekian kali, "kau ikut?"

...

"Aku tak punya pilihan. Kenapa masih bertanya?"

"Hanya memastikan." Gedikkan bahu tak acuh.

Yuuma kemudian melempar pandangan ke lantai. Entah mengapa setelah gadis ini memastikan untuk ikut, jantungnya seperti terpancing bekerja lebih cepat.

Yuuma sudah berpengalaman memacu kendaraan melewati ambang batas normal dan berkali-kali main kejar-kejaran dengan polisi lalu lintas. Tak pernah ada rasa kapok, justru dia makin berani. Alasannya sederhana; Menyenangkan.

Setiap kali dia memacu kendaraannya lebih cepat, maka bayang geliat sibuk orang-orang di jalanan jadi semakin menipis. Gedung-gedung berkelebat di balik kaca dan dia seakan mendekati dan menjauhi kendaraan lain secara sekaligus. Yuuma paham satu kesalahan kecil bisa membuatnya kehilangan kendali dan menabrak. Tapi, hei, resiko yang besar seperti itu justru makin membuat adrenalinnya terpacu dan segalanya akan terasa makin menyenangkan.

Tapi saat ini berbeda. Dia sama sekali tidak sedang mengemudi, namun tubuhnya sudah memproduksi banyak sekali adrenalin dan membuat rasa tegang memeluk dirinya perlahan-lahan.

Dia menyeringai. Ini seperti di dalam sebuah game, pikirnya.

Yuuma Si Penjahat, sebagai tokoh utama, melarikan diri dari kejaran polisi. Menyamar, menciptakan alibi, mengubah identitas, dan, oh, jangan lupakan kemungkinan terlibat kejar-kejaran dan baku tembak. Sempurna.

Bedanya ini dunia nyata. Sekali tertangkap atau kena tembak, tak akan ada nyawa tambahan. Satu perbuatan ceroboh bisa saja mengantarnya ke meja hijau atau gerbang akhirat. Dan partner-nya dalam hal ini bukan seorang agen atau selingkuhan musuhnya yang kelewat seksi, melainkan gadis amatiran yang—sialnya—artis terkenal dan mudah dikenali.

Yuuma tak bisa menahan bibirnya untuk tidak menyunggingkan seringai panjang. Dia tidak menyangka akan mengatakan ini tapi, sepertinya ide untuk lari dan menjadi buronan ini akan sangat menegangkan—juga menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan dari main kebut-kebutan di jalan.

Tiba-tiba saja dia merasa tidak sabar.

"Cepatlah. Polisi mungkin akan datang sebentar lagi." Pemuda itu memberi instruksi sambil beranjak dari kursi. Semua pembicaraan ini sudah cukup buatnya. Adrenalin dalam tubuh Yuuma sudah berturbulen sedemikian rupa.

Sang gadis mengikuti. Ujung rambutnya yang panjang bergoyang ke kanan dan kiri.

Mereka tak punya banyak waktu lagi.

Yuuma masuk ke dalam kamarnya sebentar hanya untuk kembali sambil menenteng satu ransel hitam berisi pakaian. Kaus oblong putih yang ia kenakan tadi telah berganti jadi marun. Jaket putih menggantung di tubuh bidang. Beanie hitam menghias kepalanya. Campuran merah, hitam, putih, peach, dan emas memenuhi visi Luka. Warna-warna yang mencolok, tapi entah kenapa begitu pas untuk Yuuma.

Sadar diperhatikan, Yuuma pun segera mengangkat wajahnya. "Berkemaslah."

Napas dihela dalam-dalam. "Aku bahkan tidak punya barang untuk dikemas."

"Oh..."

Dia lupa jika gadis itu tak membawa apa pun ke tempat ini, kecuali tas. Itu pun ukurannya tak terlalu besar. Pemuda itu berpikir sejenak.

"Sepertinya aku masih menyimpan baju wanita di kamar."

Luka refleks menoleh. Matanya memandang Yuuma skeptikal. Pemuda itu mendengus.

"Jangan berpikir macam-macam. Itu milik sepupu," dia menghilang sebentar ke dalam kamar lalu kembali lagi sambil membawa satu potong sweater warna krem dan baju tanpa kerah berwarna lavender kemudian memberikannya pada Luka, "dia sering meninggalkan barang-barangnya di mobilku dan aku terlalu malas untuk mengembalikannya—tak peduli dia sudah minta dibawakan berapa kali pun."

Luka dengan senang hati meraih pakaian yang disodorkan Yuuma.

"Biar kutebak, pada akhirnya sepupumu pasti terpaksa mengambil sendiri barang-barangnya yang tertinggal di sini."

"Benar."

Luka mengangguk menanggapi.

"Sepertinya kau dekat dengan keluargamu ya, Yuuma."

Mendengar nama kecilnya disebut, pemuda itu refleks menatap Luka dengan ekspresi heran. Dari mana dia tahu namanya?

Seakan diberkati kemampuan membaca pikiran, Luka segera memberi klarifikasi.

"Aku lihat fotomu di salah satu halaman majalah yang ada di atas meja," gadis itu menghentakkan dagu ke arah meja yang ada di dekat Yuuma, "mereka menulis namamu di sana. Yukio Yuuma, pewaris VY co., itu kau, kan?"

"Ya, dan tidak," pemuda itu diam sejenak untuk memberi jeda, "ya, itu namaku—Yuuma ... dan tidak. Keluargaku dan aku tidak sedekat yang kaupikirkan."

"Benarkah?" Luka memberinya tatapan tak percaya. "Lalu bagaimana kau menjelaskan foto itu?"

"Foto apa?"

Luka berjalan ke arah meja, mengambil pigura berisi foto yang ia lihat semalam untuk ditunjukkan pada Yuuma.

"Foto ini," dia berujar, "aku tidak tahu siapa wanita ini, tapi anak yang ada di foto ini kau, kan?"

Yuuma tak menjawab pertanyaan Luka dan hanya mengeluarkan dengusan kencang.

"Kau ini suka mengobrak-abrik barang-barang orang ternyata. Kembalikan," ia meraih pigura tersebut kasar untuk kembali diletakkan di tempat semula.

Ada keganjilan yang ada pada Yuuma dari caranya mengabaikan pertanyaan Luka. Luka mungkin bisa merasakannya karena selanjutnya dia segera berkata, "Aku, kan, hanya bertanya."

"Sebaiknya kau mulai berhenti bertanya sekarang," kata Yuuma, "aku tidak suka berbagi sesuatu dengan orang lain—terutama menyangkut keluargaku."

Mereka terdiam sebentar. Sang pemuda mengalihkan mata ke sekitar dinding, dan segera menemukan sebilah wakizashi yang digantung sebagai pajangan.

Sejak remaja, Yuuma punya ketertarikan dengan sesuatu yang berhubungan dengan samurai—terutama senjata yang mereka gunakan. Dia punya beberapa buah katana dan wakizashi sebagai hiasan dinding rumah. Wakizashi yang ada di sini juga bagian dari salah satu koleksinya di rumah.

Tiba-tiba Yuuma berpikir untuk membawa (setidaknya) satu senjata bersamanya.

"Hei, apa menurutmu lebih baik kita bawa saja wakizashi ini?" tanya Yuuma.

Jika Luka sedang minum, mungkin dia sudah tersedak.

"Kau mau membawa benda itu? Kau ini gila atau bagaimana?!"

"Ah, kau benar. Meski ukurannya tidak terlalu panjang—tapi membawa wakizashi di jaman sekarang akan sangat mencolok."

Luka mendengus. Tangan melipat defensif di depan dada. "Terserah."

"Oke."

Pemuda ini bahkan tidak menangkap inti omongannya!

Luka kembali mengalihkan perhatiannya, kali ini pada jendela yang tak ditutup tirai. Sinar mentari tembus ke dalam, menuang kuning di atas lantai kayu.

"Setelah ini kita akan hidup sebagai buronan. Bagus sekali."

Yuuma, yang sudah mengabaikan niat untuk membawa wakizashi, kini telah menyandarkan punggung pada dinding. Sama seperti Luka, dia juga melipat tangan. Wajah maskulin itu menarik sebuah senyum.

"Terdengar seperti adegan film buatku."

Si gadis tak merespon. Dingin, seperti biasa. Atau mungkinkah, dia sedang putus asa?

"Setelah ini semuanya akan berbeda, kan?" gumam gadis itu.

Kristal biru memandang dunia di hadapannya dingin. Yuuma bisa melihat ada ratusan misteri terselubung di baliknya. Ribuan benci mengapung. Jutaan dendam terpapar.

Yuuma, dalam hati, merasa penasaran akan selubung kabut di mata Luka. Apa yang membuat matanya terlihat bagai lubang penghisap yang kejam? Murni kekesalan pribadi karena harus menanggung hal yang tidak seharusnya, atau ada sesuatu lain yang lebih besar—apa dia merencanakan sesuatu? Mungkin memanfaatkan pelarian ini sebagai batu loncatan untuk meraih sesuatu? Mungkinkah?

Yuuma merasakan tubuhnya berdesir waspada. Brengsek. Kenapa tiba-tiba saja dia melihat gadis itu seperti sebuah kotak Pandora, dan kenapa pula dia merasa tergelitik untuk mencaritahu lebih dalam?

Kendalikan dirimu, Yuuma. Kendalikan.

Sepasang kelereng emas bergeming kala bertemu mata biru itu. Rahang maskulin itu mengeras. Darah berdesir kencang bersama adrenalin yang tiba-tiba terpacu.

"Apa yang ada dalam pikiranmu?" suara bariton memotong udara dengan kejamnya.

Entah apa alasannya, tiba-tiba saja adrenalin menghampiri keduanya. Membuat udara seakan menyusut. Napas mereka tercekat.

Mata safir Luka bergeming di tempatnya. Ekspresinya datar dan mulutnya tertutup rapat, namun ada sebuah tantangan dari cara gadis itu mengembangkan ekspresi; tanda bahwa dia telah mengunci jawabannya di balik binar mata yang terlihat misterius. Bukalah kotak Pandora milikku, mungkin begitu makna yang tersirat.

"Hal yang sama berlaku untukmu," gadis itu berujar dingin, "apa yang ada dalam pikirkanmu...?"

Luka benar-benar menantangnya.

Hening merapat.

Mata amber memicing. Tajam dan mengancam. Dia juga telah mengunci jawabannya, tak berpikir untuk berbagi pada siapapun. Bah, apa gunanya?

Yuuma tak menemukan satu pun indikasi ia akan memperoleh keuntungan dari membeberkan segalanya; tentang semua hal yang terjadi di balik rentetan kekacauan ini (Kiyoteru, Big-Al, perselisihan dengan ayahnya), juga tentang niat untuk merangkai satu persatu fakta yang akan ia tunjukkan untuk membuka mata ayahnya.

Karena itulah dia akhirnya memilih menyebar determinasi. Menyudutkan safir itu. Tapi kristal safir menolak untuk disudutkan. Dia menantang. Tak takut dengan mata emas yang mengancam. Dua warna melebur.

Dan saat itulah, kesepakatan mereka buat...

"Kita akan dapatkan kembali milik kita yang telah mereka rebut."

Satu kalimat, dan mereka telah membuat sebuah kesepakatan tanpa kata.

(—Mulai dari sini, segalanya akan berbeda...)


Itu adalah pagi yang indah di rumah itu. Burung-burung kecil yang sibuk berkicau di ranting pohon, langit membentang biru seakan tanpa ujung, juga mentari yang melelehkan sinar hangatnya pada dunia. Pagi yang sempurna bagi semua orang untuk memulai hari.

Di tengah kesibukan aktifitas pagi, telepon di kediaman mereka berdering begitu nyaring.

Yukio Mizki membiarkan sebuah kerut hadir di keningnya ketika suara bariton khas lelaki menyapa balik dirinya dari ujung sambungan.

"Selamat pagi, Mizki. Maaf mengganggu," orang itu menyapa dengan ramah, "ini aku, Mikuo. Apa Yuuma ada?"

.

.

.

can you start playing this role for us...?


pernah denger yang namanya karma fanfiksi? I mean, beberapa kejadian yang kamu tulis ternyata benar-benar terjadi di kehidupan kamu; si penulis. buat yang nggak percaya, saya kasih tau, itu beneran ada. seenggaknya, itu yang sering terjadi sama saya.

belum lama ini saya nulis deskrip tentang Kaito yang nggak bisa six-pack meski udah latihan sampe keseleo dan dibawa ke tukang urut (Home Alone chap 2), dan ini terjadi sama saya. Iya, ada sesuatu sama kaki saya (entah keseleo, entah salah urat idk) yang bikin saya susah jalan beberapa minggu terakhir dan berakhir di tangan tukang urut "orz

saya berharap Role nggak ngasih karma buat saya. rada serem juga bayangin saya bakal dilempar pisau sama orang asing lol 8"""")

oh, iya, maaf baru bisa update sekarang. kuliah semester ini begitu beda dengan semester kemarin yang sangat santai sampai bisa kongkow-kongkow sambil ngeteh bareng di kelas "orz

Makasih buat yang udah baca dan review di chap kemarin. Percaya deh, meski saya nggak balesin review kalian, tapi saya selalu baca semua review kalian. I owe ya guys! ;D

Oh, sekedar ngasih tau. Kalau ada yang nunggu fic saya, Home Alone, update (kalau ada) saya harus minta maaf karena itu bakal hiatus untuk waktu yang tidak terbatas. saya nggak jago bikin humor dan karena saya juga lagi nggak mood ngehumor, makanya saya mau hiatus dulu sampe mood saya kembali. It will take a long time, I guess :"D

satu lagi; apa menurut kalian Luka dan Yuuma di sini nampak mary sue & gary stu? just curious. kalau iya, akan saya coba akalin biar mereka nggak perfect banget. mumpung belum masuk klimaks 8"""")

Oke, enough with those all rants. Mind to review?