Vocaloid © Crypton Future Media, Internet, Yamaha, et cetera. No copyright infringement is intended.
Warning cliché, possibly typo(s), rushed, full narasi, Ann-centric, panjang pake banget. Kesamaan ide harap dimaklumi.
Role
by
datlostpanda
Take Nine!
Annie & Yuuma
Orang menjadi kaya dengan cara mereka masing-masing. Beberapa dengan mewarisi harta keluarga yang nilainya tak terkira. Segelintir orang merampok bank untuk membawa pulang sebuah tas besar berisi gepokan uang dengan jumlah nol yang memusingkan kepala. Yang lainnya menjadi jutawan mendadak berkat blackjack.
Ann menjadi kaya dengan bertemu dan menikah dengan putra sulung pemilik perusahaan dagang raksasa. Ini tentu saja sangat mengejutkan. Di saat orang-orang bertaruh sangat banyak untuk memenangi tiket lotre, seorang pangeran kaya raya justru bertekuk lutut di hadapan Ann. Ini benar-benar seperti dongeng Cinderella, bagaimanapun caramu melihatnya.
Ann ingat bagaimana Suster Avanna, pengurus panti asuhan tempat Ann tinggal hingga beranjak dewasa, melengkungkan senyum sumringah di bibirnya.
"Ini sebuah hadiah dari Tuhan. Aku selalu tahu Dia sangat sayang padamu, Ann." Demikian Suster Avanna berkata padanya. Ann balas tersenyum. Mungkin saja apa yang Suster Avanna katakan benar. Setelah semua yang terjadi dalam hidup Ann, kini Tuhan memberi sebuah hadiah. Hadiah yang sangat besar untuknya.
Ann sesungguhnya hanya satu dari sekian banyak anak perempuan yang hidup di tanah Australia. Dia tumbuh dan besar bersama anak-anak lain di panti asuhan nyaris bobrok di samping gereja tua.
Sama halnya dengan nasib anak-anak panti di tempat lain, Ann bukanlah siapa-siapa melainkan sebutir debu yang bakal terbang disapu angin.
Sejak kecil, Ann tidak pernah tahu siapa orangtuanya. Tapi dia tidak pernah bertanya karena dia tidak pernah benar-benar peduli tentang cerita historis mengenai hidupnya. Dia tahu, sejak awal, anak-anak panti sepertinya pastilah tak memiliki sejarah menyenangkan.
Paling-paling Ann bisa berada di tempat ini karena Suster Avanna tak sengaja menemukan dia menangis dalam sebuah kardus, bersama secarik surat berisi permintaan maaf dan pengakuan akan ketidaksanggupan dalam membesarkannya, yang persis diletakkan di depan pintu kayu gereja. Atau mungkin Ann kecil justru di antar langsung oleh ibu kandungnya ke panti ini karena dia anak hasil hubungan gelap. Buah terlarang yang tak pernah diinginkan. Tidak hanya Ann, tapi mungkin anak-anak lain di panti itu juga bernasib sama; dikirim ke tempat itu karena tak lagi diinginkan.
Sebenarnya, ada banyak lagi skenario yang kerap muncul di pikiran Ann. Akan tetapi, yang paling Ann yakini hanya dua. Dan dua-duanya selalu membuat dada Ann disesapi rasa sakit ketika mereka melintas di kepala. Meski hanya sekelebat. Karena itu saat teman-temannya terkadang merenung menatap langit malam, bertanya pada dewa-dewa yang bersemayam di atas sana akan keberadaan orangtua mereka, Ann kecil hanya akan mendengus dan berlalu.
Ann selalu meyakini bahwa ia tak butuh orangtua, karena dia punya Suster Avanna yang selalu merentangkan tangan lebar-lebar hanya untuk memeluknya (dan anak-anak panti yang lain) dengan sayang dan kasih. Dan hal itulah yang selalu membuat Ann berpikir bahwa tidak penting memikirkan orangtua yang telah meninggalkannya. Sama sekali tidak ada gunanya. Jika mereka sudah membuang Ann ke tempat ini, sangat jelas artinya mereka tidak menginginkan Ann berada bersama mereka.
Karena pemikiran tersebut, beberapa anak pernah mengatainya tidak punya hati. Ann balas menghardik dengan bilang bahwa mereka semua bodoh. Tidak ada orang yang mau membuang sesuatu yang berharga. Dan jika orangtua mereka menganggap mereka berharga, mereka tak mungkin berakhir hidup di panti asuhan bobrok yang dana hidupnya bergantung pada sumbangan orang-orang di rekening Misionaris Amal.
Meski pikiran Ann cukup radikal untuk anak seusianya, jauh di dalam hati, dia sebenarnya sudah merasa sangat puas dengan kehidupan di panti. Tidak seperti anak-anak lain yang banyak memprotes, Ann justru melalui hari-harinya tanpa banyak mengeluh. Dalam sehari, dia hanya terlihat sekali-dua kali bicara.
Suster Avanna awalnya khawatir Ann akan menjadi seorang yang skeptis dan apatis, tapi pemikiran itu terhapus begitu saja ketika dia melihat sinar mata milik Ann yang berbeda dari anak-anak lainnya. Dalam sekejap, Suster Avanna pun menyadari satu hal: Ann bukannya apatis, dia hanya mencoba tegar menghadapi kuku-kuku tajam realita.
Di usia yang masih sangat muda, Ann sudah mengerti dia harus berusaha agar menjadi sekokoh karang jika ingin berhadapan langsung dengan dunia. Mungkin itulah yang pada akhirnya membentuk pribadi Ann menjadi kuat (sekaligus dingin) seperti sekarang.
Ketika umur Ann sudah menggapai angka duapuluh satu, ia memutuskan untuk hidup mandiri. Dia sadar sudah terlalu tua untuk tetap hidup di sana. Jadi, diiringi tatapan sedih Suster Avanna, dia pun hengkang dari panti.
Keluar dari panti, Ann pun memulai kehidupan dari nol. Dia tinggal di sebuah rumah sederhana dengan harga sewa perbulan yang cukup bersahabat dengan isi dompetnya. Setelah urusan tempat tinggal selesai, Ann pun mulai mencari kerja.
Selama satu setengah bulan pertama, Ann masih berganti-ganti profesi. Barulah ketika menginjak bulan kedua, dia memutuskan untuk tetap menjadi seorang pegawai di sebuah toko buku yang bisa dengan mudah ditemukan di Brunswick Street, Fitzroy.
Meski Ann tidak mengecap pendidikan formal, tapi dia punya kelebihan lain. Ann terampil dan cepat belajar. Hanya dengan memperhatikan cara kerja para pegawai lama, dia sudah mengerti apa-apa saja yang semestinya ia lakukan. Ann tidak butuh waktu lama hanya untuk tahu bagaimana cara melayani tamu ataupun turis-turis asing yang datang, di deret sebelah mana komik-komik harus disimpan, dan apa yang harus ia katakan ketika seorang tamu bertanya tentang buku-buku Harper Lee ataupun Vicki Baum. Karena itulah Ann hanya butuh kira-kira empat bulan sampai akhirnya pemilik toko memutuskan memberi tambahan gaji untuk Ann.
Dua setengah tahun Ann bekerja di tempat itu membuat gadis itu berhadapan dengan bermacam-macam orang. Dan karena Fitzroy termasuk sering dikunjungi para turis, ia pun menjadi terbiasa berinteraksi dengan mereka: Mulai dari orang Asia yang berbahasa Inggris sengau sampai orang Rusia dengan logat mereka yang khas. Tak jarang, ia juga harus berhadapan dengan pria botak berkulit hitam. Postur orang itu tinggi dan besar, mengingatkan Ann pada seorang petinju. Namun, anehnya, orang itu justru sangatlah ramah. Penampilan memang kadang menipu.
Satu yang tidak pernah Ann lakukan adalah menghadapi seorang pria berdarah Jepang yang kerap datang untuk mencuri bincang dengannya. Pria inilah yang kemudian Ann ketahui sebagai anak sulung dari pemimpin VY co., sekaligus orang yang akan meminangnya di kemudian hari.
Perkenalan mereka dimulai di sebuah musim gugur yang menggigit di bulan April.
Ann tidak pernah bisa melupakan bagaimana rona merah menjalar di kedua pipi pria itu ketika mata mereka saling bersirobok untuk pertama kali, dan Ann nyaris mengira udara musim gugur di sini sangatlah ekstrim untuk orang Asia—bagaimana bisa wajah itu berubah merah di dalam ruangan berpenghangat begini?
Setelah urusan di kasir selesai dan pria itu langsung pergi dengan langkah kikuk, Carla dan Bruno, sepasang mahasiswa perantau berkebangsaan Spanyol yang bekerja paruh waktu di sana, langsung kompak meledek Ann.
"Sepertinya kau akan punya seorang penggemar berat, Señorita." Begitulah yang waktu itu Bruno katakan.
Ann mungkin seorang gadis, tapi terbiasa hidup di lingkungan panti yang jauh dari rona-rona gadis remaja pada umumnya, membuat pengalaman Ann dalam hal asmara setingkat dengan bayi. Nol besar. Dia bahkan tak punya cukup banyak rasa peka untuk menyadari bahwa pria Jepang tersebut punya ketertarikan padanya.
Ann mengira, perbedaan kulturlah yang jadi penyebab. Berbanding terbalik dengan pria Barat yang agresif, bukankah semua pria dari Timur memang cenderung pemalu apabila berhadapan dengan perempuan?
Maka, waktu itu Ann hanya menanggapi kata-kata Bruno dengan sebuah gelengan tak acuh kemudian kembali bekerja. Tapi tak disangka, pria Jepang itu justru kembali lagi pada keesokan harinya sambil membawa serta rona merah dan wajah kikuk yang kemarin. Hal ini kemudian terjadi lagi untuk hari berikutnya. Dan besoknya. Dan besoknya lagi.
Seperti yang terjadi di film-film, ketika frekuensi pertemuan antara dua orang meningkat, kedekatan pun serta-merta tercipta. Itu pula yang terjadi pada mereka berdua.
Ann dan pria itu mulai saling bicara. Pertama hanya obrolan singkat dengan topik-topik general selayaknya pegawai dan pengunjung; mengomentari cuaca, buku yang datang hari ini, dan headline di koran pagi. Hari-hari berlalu dan topik perlahan-lahan meningkat. Lalu, entah bagaimana caranya, mereka berakhir dengan saling tahu nama masing-masing. Peningkatan ini membuat Bruno dan Clara semakin sering meledek Ann, terutama ketika pria Jepang itu kedapatan mengajak Ann pergi menonton film di suatu malam dan diterima dengan senang hati oleh yang bersangkutan.
"Semoga kencan pertamamu menyenangkan, Señorita!" Clara mengembangkan cengiran lebar, bermaksud memberi semangat pada Ann. Dengan irama cepat nan menyenangkan, tangan Spaniard muda itu bergerak ke kanan dan kiri—melambai— pada Ann yang ketika itu siap meninggalkan toko dengan mantel dan boots pendek; atribut yang biasa orang-orang kenakan saat cuaca dingin menyerang.
Ann menyunggingkan senyum pada gadis itu lalu mengibaskan sebelah tangan. Dia kemudian pergi tanpa mengatakan apa pun—dan memang selalu begitu.
Apanya yang kencan, pikir Ann. Tangan gadis pirang itu menelusup ke saku mantel, mengais kehangatan. Mereka sama sekali tidak kencan, hanya pergi nonton film berdua lalu makan malam dengan meatloaf di sebuah restoran. Benar-benar tidak terdengar seperti kencan.
Dan kenyataannya, yang terjadi memang seperti itu. Bahkan sepanjang waktu mereka hanya membicarakan hal-hal biasa saja; pria itu bercerita bahwa ia adalah mahasiswa yang tengah mengambil program pendidikan Magister, saat ini sedang berjuang menyelesaikan tesis, sementara Ann bercerita tentang dirinya yang merupakan (mantan) anak panti dan bukan siapa-siapa. Tak ada yang istimewa, menurut Ann. Tapi pria itu menilai sebaliknya.
Ann adalah gadis paling jujur yang pernah ia temui, kalau boleh jujur. Di saat kebanyakan gadis sibuk menghabiskan waktu untuk berdandan, menghabiskan tabungan orangtua untuk pergi ke club malam hanya untuk sekedar menegak segelas wiski atau berbelanja di mall, Ann justru menata pondasi hidupnya dengan bekerja keras. Tak ada keinginan untuk tenggelam dalam arus hedonistis. Ann hanya menjadi dirinya sendiri.
Mungkin hal inilah yang menarik perhatian pria itu hingga tiga bulan kemudian, tepat dua hari setelah tesisnya selesai, dia memberi tahu Ann lebih jauh tentang dirinya: Bahwa keluarganya adalah pemilik sebuah perusahaan dagang besar di Jepang. Bersamaan dengan itu pula, ia meminta Ann untuk pergi ke Jepang; menikah dengannya.
Tuhan, ini seperti mimpi. Bahkan jauh lebih baik daripada mimpi! Ann tidak bisa berhenti mencubit pipinya. Sama sekali tidak percaya dengan takdirnya sendiri.
Sambil menunggu calon suaminya menyelesaikan sisa-sisa urusan di kampus, Ann menghabiskan hari-hari dengan belajar bahasa dan beragam budaya Jepang. Dia tidak tahu apakah keluarga calon suaminya bisa berbahasa Inggris atau tidak, jadi Ann merasa harus mempersiapkan diri. Bagaimana pun, dia tidak ingin punya kendala komunikasi. Terutama dengan calon keluarga barunya. Ann bersyukur Mo Qingxiang, tetangganya, mau berbaik hati mengenalkannya pada seorang teman lamanya yang bernama Lily O'brian.
Lily, biasa gadis pirang itu akrab dipanggil, lahir di California. Ibunya adalah wanita berdarah Jepang, sementara ayahnya adalah keturunan Amerika-Australia. Dia pernah tinggal sepuluh tahun di Negeri Matahari Terbit tersebut hingga cukup percaya diri saat diminta membantu Ann belajar.
Butuh dua minggu bagi Ann untuk menghafal huruf hiragana dan katakana, hingga pada akhirnya ia bisa menulis dan membaca kanji-kanji yang mudah seperti; 中—naka (tengah/di dalam). Total waktu yang Ann habiskan untuk bisa fasih berbahasa Jepang kira-kira 2 tahun. Tentu saja Lily hanya membantunya belajar selama (kurang-lebih) 2 bulan karena Ann sudah harus pergi ke Jepang. Calon suami Ann-lah yang mengajari sisanya.
Keluarga Yukio adalah keluarga yang mengerikan. Hal inilah yang terbesit di pikiran Ann pertama kali ketika duduk di meja yang sama dengan mereka.
Sejak awal Ann sudah mengira, berada di antara sebuah keluarga besar—terutama yang berada di strata atas— akan membuatnya merasa asing untuk sesaat. Tapi dia tidak menyangka akan benar-benar merasa seperti berubah bentuk menjadi alien.
Semua anggota keluarga Yukio nyaris memiliki visualisasi sama. Rambut mereka berwarna tidak wajar—merah jambu, sementara bola mata mereka mengimitasi warna matahari. Saat Ann bertatapan mata dengan mereka, ia merasa seperti diamati oleh kumpulan kucing yang matanya bersinar saat malam. Mengerikan dan eksotis di waktu yang bersamaan.
Untungnya, sikap mereka tak terlalu kaku pada Ann. Calon mertuanya, contohnya. Dia adalah pria yang umurnya sudah lewat setengah abad. Wajahnya tegas sementara sorot matanya tajam. Kerut-kerut di wajah pria itu seolah bercerita tentang bagaimana ia telah menjalani hari-hari dengan luar biasa.
Calon adik ipar Ann, seorang pria berumur pertengahan duapuluh, punya visualisasi yang nyaris sama dengan calon suaminya. Yang membedakan hanya bagaimana cara dia menatap dunia. Ann bisa melihat banyak ambisi di mata adik laki-laki calon suaminya tersebut.
Perkenalan hari itu terjadi begitu singkat dan sederhana. Tidak ada jamuan berlebihan, tapi Ann merasa itu semua sudah cukup. Selanjutnya, mereka pun menikah dan Ann melahirkan seorang anak perempuan. Mizki.
Harusnya hidup Ann sempurna. Harusnya keluarga mereka bahagia dengan kehadiran Mizki. Harusnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Ayah mertuanya justru menatap Ann dengan pandangan kecewa. Dia ingat betul bagaimana garis-garis wajah pria tua itu membentuk sebuah ekspresi yang membuat rasa bersalah menjalari tubuh Ann, dan ketika itu Ann mendapat sebuah pencerahan.
Bukan anak perempuan yang dibutuhkan keluarga ini. Bukan. Mereka butuh anak laki-laki—agar kelak bisa meneruskan perusahaan besar yang telah lama keluarga ini bangun.
Seketika itu juga, Ann merasa tidak berguna.
Suaminya berusaha menghibur. Mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Nanti Tuhan pasti akan memberi kita anak laki-laki, dia berkata. Tetapi Dewa rupanya tidak mendengar doa mereka.
Dokter bilang Ann tidak akan pernah bisa hamil lagi. Rahimnya lemah. Bisa melahirkan satu anak saja sudah merupakan keajaiban, begitu katanya.
Dunia terlihat buram. Ann hancur berkeping-keping, tak dapat dipulihkan. Di saat itu, satu kenyataan menyakitkan kembali menghampiri Ann. Ayah mertuanya telah memutuskan memilih si bungsu untuk menjadi pemimpin perusahaan karena istrinya baru saja melahirkan seorang anak laki-laki.
Ann telah membuat suaminya gagal mendapatkan sesuatu yang harusnya ia dapat. Demi semesta, Ann tidak pernah merasa bersalah dan putus asa di waktu bersamaan. Suaminya boleh saja tidak mempermasalahkan, tapi Ann tetap menyalahkan dirinya sendiri. Dia benar-benar merasa tidak berguna. Dan perlahan-lahan, perasaan tidak berguna itu pun berkembang menjadi sebuah ketakutan. Pertamanya hanya setitik kecil, tapi kemudian rasa takutnya membuncah hingga Ann tak dapat mengontrolnya.
Beragam pikiran pun muncul; bagaimana jika suaminya sebetulnya menyimpan kekecewaan yang besar terhadapnya; bagaimana jika suatu hari nanti pria itu berpaling pada orang lain, dan yang paling penting; bagaimana jika nanti Ann didepak dari tempat ini?
Tentu saja Ann tidak mau hal-hal seperti itu terjadi pada hidupnya. Tidak setelah semua yang telah ia dapatkan.
Setelah pemikiran itu muncul, entah berapa banyak malam yang Ann habiskan dengan merenung menatap rembulan di tengah hamparan gulita. Pikirannya melayang, mencari-cari cara agar ketakutannya bisa musnah. Cinderella berakhir hidup di bawah payung istana bersama Pangeran, tidak pernah lagi kembali ke kehidupannya yang lama. Ann juga harus mencapai akhir yang sama dengan Cinderella. Dia tidak ingin kembali ke masa lalunya yang suram.
Kemudian, seakan-akan semesta mendengar permohonan lirih Ann dan memberi wanita itu kesempatan, sesuatu yang besar pun terjadi.
Hari itu gerimis tidak berhenti turun. Keadaan masih seperti itu sejak semalam. Gumpalan awan hitam pekat memenuhi langit dari sisi ke sisi. Hawa dingin serta bau tanah membuat atmosfer terasa berat hingga membuat orang-orang sesak walau sekedar mengambil napas.
Ann duduk di ranjang yang luar biasa luas dan empuk. Wajahnya terlihat muram, sementara pakaiannya serba hitam. Dia baru saja kembali dari permakaman. Istri adik iparnya semalam baru saja meninggal. Sakit, itu yang dikatakan dokter.
Entah sakit apa yang ia derita, Ann tidak terlalu ingin tahu. Yang membuat Ann mengerutkan kening hanya satu: Tuhan memanggilnya terlalu cepat. Umurnya masih sangat muda. Dia bahkan belum sempat melihat anaknya tumbuh besar.
Ngomong-ngomong soal anak….
Ann sedikit menolehkan kepala, mengerling pada dua anak kecil yang tertidur pulas. Yang satu perempuan, dua bulan lagi genap menggapai angka satu. Mizki, anaknya. Yang satunya lagi masih bayi, laki-laki. Yuuma, begitulah orang-orang di keluarga Yukio memanggil bayi itu.
Dia adalah anak adik iparnya, cucu laki-laki pertama keluarga Yukio, si kecil yang kelak mewarisi harta keluarga, bocah yang katanya lahir dengan membawa serta keberuntungan bersamanya—tapi tidak juga.
Jika anak itu memang lahir dengan keberuntungan, lantas mengapa ibu kandungnya justru pergi tak lama setelah ia lahir? Konsep tentang keberuntungan itu sendiri terlalu naïf dan kabur bagi Ann yang sejak kecil sudah berhadapan dengan realita.
Seumur hidupnya, Ann merasa belum pernah menemukan keberuntungan. Ia justru ragu sesuatu yang abstrak seperti keberuntungan pernah eksis di tempat ini. Yang ia tahu, dunia ini punya yang namanya kesempatan; peluang yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Mengapa Ann bisa berpikir seperti itu? Karena Ann saat ini tengah dihadapkan pada sebuah kesempatan besar yang selamanya akan mengubah alur hidupnya.
Kematian sang istri membuat anak bungsu keluarga Yukio luar biasa terpukul. Dia bahkan lupa telah memiliki Yuuma, anak laki-lakinya yang jelas masih butuh curahan perhatian.
Tidak adanya perempuan lain di keluarga it membuat Ann, mau tak mau, turun tangan untuk mengurus Yuuma. Dua minggu setelah prosesi pemakaman, keadaan tak juga berubah. Yang ada justru makin buruk. Yukio bungsu jelas-jelas menenggelamkan diri dalam pekerjaan untuk menutupi kesedihan. Tanpa sadar menelantarkan Yuuma.
Yukio senior, yang melihat anak bungsunya tak dapat diharapkan, akhirnya meminta Ann (yang waktu itu tengah mempersiapkan keberangkatan ke Australia, kampung halamannya, untuk menenangkan diri selama beberapa waktu) membawa Yuuma ikut bersamanya untuk dirawat sampai kondisi anak bungsunya stabil.
"Aku tidak bisa mempercayakan cucuku pada seorang perawat." Itulah yang dikatakan pria tua itu pada Ann.
Ann (tentu saja) menerima permintaan ayah mertuanya dengan senang hati. Bagaimanapun, ini adalah sebuah kesempatan besar bagi Ann untuk kembali mendapat kepercayaan dari sang mertua. Jalannya sudah terbuka lebar.
Maka, di suatu Rabu yang cerah, dia bertolak ke Australia bersama Yuuma. Untuk berapa lama? Ann sendiri tidak yakin.
Mizki menangis di gendongan ayahnya waktu taksi pesanan Ann hilang ditelan keauhan. Tangannya, yang masih sangat kecil, menggapai udara kosong. Jeritan anak itu terdengar memilukan di telinga setiap orang yang mendengar. Tapi Ann bergeming, selaras dengan supir taksi yang tak sedikit pun memberi indikasi akan menghentikan laju roda-rodanya ke arah Narita.
Jika ada orang yang melihat, mungkin mereka akan melabel Ann sebagai sosok ibu yang kelewat tega. Tapi Ann tidak peduli—karena fakta yang ada memang menunjukkan seperti itu. Begitulah Ann: Kejam dan tega. Dan dia tidak takut untuk menjadi tega.
Jika Ann ingin harga dirinya kembali, ia harus mengambil kesempatan ini. Jika Ann memutuskan untuk mengambil kesempatan itu, maka dia tidak boleh takut—apalagi ragu-ragu. Dia harus membatukan hati dan menulikan diri.
Dan bagi Ann, hal itu tidaklah terlalu sulit….
Mereka tinggal lama di sebuah rumah di pinggir kota.
Begitu sampai di Australia, tak ada secuil pun niat dalam diri Ann untuk datang ke panti asuhan lamanya dan menemui Suster Avanna. Ia lebih memilih mengasingkan diri dari dunia. Hidup dengan damai, berdua dengan Yuuma.
Hari-hari berlalu begitu saja dan tahu-tahu hari sudah berganti dengan minggu, minggu berganti bulan, dan bulan-bulan hilang diganti tahun. Musim-musim berlalu begitu cepat, seperti kedipan. Saat Ann tersadar, Yuuma sudah tumbuh menjadi anak-anak. Usianya sebentar lagi genap enam tahun. Tinggal menunggu waktu untuk masuk sekolah.
Selayaknya anak umur enam tahun, Yuuma teramat lucu dan aktif. Terlalu aktif malah, karena dia tak pernah bisa diam. Yuuma senang lari-lari di halaman depan rumahnya yang tak begitu luas serta diberi pagar kayu setinggi pinggang orang dewasa. Kadang, dia juga berlarian di koridor rumah.
Sudah hampir satu lusin gelas pecah tersenggol siku anak itu. Ketika Ann menatap Yuuma galak, bermaksud memarahi, anak itu akan langsung memamerkan deretan gigi-gigi putihnya dan berkata dengan nada menyesal, maafkan aku Annie. Dan saat mendengar sebutan tanda kesayangan itu—Annie— meluncur mulus dari mulut Yuuma, entah mengapa ekspresi galak yang tadi menghias akan sepenuhnya lepas dari wajah Ann kemudian berganti dengan secercah senyum tipis.
Ann selanjutnya akan mengacak rambut Yuuma hingga berantakan, berkata agar Yuuma tak mengulangi di waktu-waktu ke depan dengan nada yang biasa digunakan seorang ibu ketika menasihati anaknya, melepasnya dengan mudah.
Tanpa Ann sadari, perasaan sayang perlahan-lahan tumbuh juga pada dirinya yang sudah sekeras batu. Ann awalnya tidak pernah mengira akan jadi seperti ini. Padahal waktu dia meninggalkan Mizki, darah dagingnya yang sebenarnya, dia tak merasakan apa pun. Hanya ambisi. Tapi sekarang semua itu perlahan luruh. Entah ini bisa disebut keajaiban atau tidak.
Jika hati Ann diibaratkan sebagai karang besar di pinggiran pantai, maka sosok Yuuma adalah ombak yang menggerus karang itu sampai menjadi lunak dan akhirnya habis.
Keluarga Yukio, meski jauh, sebenarnya mengamati perkembangan Yuuma. Tiga hari sekali, melalui fasilitas internet, mereka bertatap muka di layar monitor. Mertuanya akan bertanya bagaimana keadaan cucu laki-lakinya tanpa menanyakan tentang Ann terlebih dahulu, seolah Yuuma adalah harta karun keluarga yang tak ternilai harganya. Tapi tidak apa-apa. Ann sudah terbiasa. Dan karena itu, Ann biasanya akan menjawab, Yuuma baik-baik saja.
Tak jarang, Yuuma kecil menyusup masuk ke kamar Ann dan ikut bergabung dalam pembicaraan mereka. Jemari anak itu menunjuk-nunjuk ke layar sementara teriakannya melengking riang, Kakek, Kakek!
Meski tumbuh di tanah Australia, Yuuma tak lantas gagap saat berbahasa Jepang. Yang ada justru sebaliknya: Dia bisa berbahasa Jepang. Ini semua berkat Ann yang membiasakan Yuuma melakukan konversasi dengan bahasa tersebut saat berada di dalam rumah. Dan berkat itu pula, Yuuma kecil bisa berkomunikasi lancar dengan kakeknya.
Melihat cucunya berteriak memanggilnya, pria tua di seberang lautan akan tertawa senang. Sumringah. Lupa pada umur yang kurang dua dekade lagi mencapai seabad. Hanya dengan melihat wajah cucunya, dia merasa kembali muda. Terlebih kalau mengingat anak itu juga yang akan mewarisi harta keluarga. Ah, rasanya dia bisa hidup seribu tahun lagi!
Singkat kata, Yuuma adalah anak yang disayangi oleh semua orang—keluarganya, bahkan juga oleh Ann. Tidak pernah terbayang dalam diri Ann mimpi buruk seperti apa yang akan muncul jika anak laki-laki menyenangkan seperti Yuuma tak datang ke tengah-tengah keluarga Yukio.
Sayangnya, mimpi buruk itu justru datang tepat menghampiri Ann.
Sirine, derap langkah, berisik roda tempat tidur dan kereta berisi alat-alat yang didorong cepat. Koridor rumah sakit tak pernah terasa semencekam ini. Bahkan cat putih yang menempel di tembok seperti ikut menebar terror mengerikan.
Ann tidak melepas pegangannya pada ujung tempat tidur Yuuma. Kakinya bergerak ke mana paramedis mendorong tempat tidur beserta tubuh yang terbaring lemah di atasnya. Jemari Ann menggenggam besi pembatas. Erat, seolah dia tak ingin melepas sosok itu. Erat, sampai buku-buku jarinya memutih. Erat, hingga semua orang mengira tangannya telah berakar di sana.
Langkah demi langkah yang dia injak semakin membuat pikiran Ann kalut. Pucat di wajah Yuuma makin jelas setiap detiknya, sedangkan merah terus mengucur dari kepala. Kaus yang anak itu kenakan. Bukan air. Bukan, bukan, bukan. Itu darah. Darah Yuuma. Benda yang sama juga memercik di pipinya yang kini sudah sewarna susu. Kontras. Kelopak mata Yuuma sudah menutup sejak tadi. Menyembunyikan dua kelereng emas pada dunia.
Tubuh tak berdaya. Darah mengalir. Mata tertutup. Yuuma seperti sedang menyiratkan pesan jika sakit yang ia rasa teramat sangat parah. Sakit, sakit, sakit, sakit—
Dan Ann hampir menangis memikirkan berapa banyak sakit yang harus ditanggung tubuh kecil itu saat ini.
"Silakan tunggu di luar." Suara seorang perawat membuat Ann mendongak.
Tunggu di luar. Otak Ann masih berfungsi dengan sangat baik jika hanya digunakan untuk memproses kalimat itu.
Ann harus membiarkan Yuuma masuk ke dalam dan menunggu sampai tubuh lemah itu di bawa ke luar. Menunggu. Kata itu terasa menyeramkan bagi Ann untuk saat seperti ini. Bagaimana dia bisa membiarkan Yuuma pergi bersama dokter serta perawat-perawat itu—tanpa dirinya?
Tidak. Ann tidak bisa membiarkannya. Tapi dia tidak bisa melakukan banyak.
Perawat tadi memberi Ann tatapan yang teduh. Percayak semuanya pada kami, wanita itu seakan berkata. Dan Ann tidak bisa berbuat apa pun selain membiarkan mereka membawa Yuuma masuk ke dalam ruang perawatan yang terlihat dingin. Yuuma pergi ke dalam. Meninggalkannya sendirian di koridor terang yang entah kenapa terasa mencekam. Dan pintu ruangan pun ditutup. Rapat.
Jangan mati….
Lima jam berlalu. Hitam sudah sempurna menutup semesta. Tangan pendek jam dinding menyeret dirinya ke angka sembilan. Dan Yuuma belum juga ke luar dari dalam. Hanya seorang perawat yang sempat ke luar, berkata bahwa Yuuma kehilangan terlalu banyak darah dan Ann langsung memaksanya untuk melakukan semua yang mereka bisa untuk mempertahankannya.
Perawat itu terhenyak beberapa saat kemudian mengangguk dan pergi untuk mengambil beberapa kantung darah. Untuk Yuuma.
Dan sekarang, di sanalah Ann berada. Duduk di salah satu bangku panjang yang berjejer di beberapa sudut koridor. Kepalanya menunduk hingga matanya yang mengimitasi warna kristal aquamarine hanya bisa menatap putih ubin. Bajju yang dia kenakan ternoda merah. Tangan dan beberapa sudut pipi wanita itu juga ada cipratan warna yang sama. Dia tidak terluka. Itu bukan darahnya, tapi keponakannya. Itu milik Yuuma.
Sebuah abstraksi muncul begitu saja. Cepat dan hanya berupa potongan gambar. Ingatannya akan peristiwa tadi. Mereka ke luar bersama sore tadi, Yuuma membawa bola kesukaannya, Ann menyapa seorang pemilik restoran di pinggir jalan, bola bundar itu terjatuh dari peganggan, menggelinding ke jalan, membuat Yuuma harus mengejar, lalu terdengar teriakan orang-orang dan bunyi rem yang diinjak mendadak. Setelah itu yang Ann ingat hanya ambulans datang dengan suara sirine memecah hening membosankan.
Ann makin menundukkan kepala. Helaian poni menutup sebagian wajahnya, membuat dunia tak bisa melihat ekspresi gadis itu.
Seperti kata instruksi perawat, Ann menunggu. Hanya itu yang bisa dia lakukan—duduk, diam, dan menunggu sampai rombongan parade dengan seragam medis dan kereta obat itu ke luar.
Ann bukanlah tipe orang yang bisa menunggu terlalu lama. Terlebih dengan atmosfer yang mencekik seperti ini. Suara tik tok tik jarum jam menyayat kewarasannya sedikit demi sedikit. Tap tap tap langkah kaki perawat yang bersliweran tak lantas membuat perasaan Ann lebih baik. Sebaliknya, itu malah makin membuatnya frustasi.
Dia mengucapkan mantra dalam hati. Semuanya akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja, semua baik-baik saja, baik-baik saja—
Mulutnya berhenti mengucapkan mantra saat seorang dokter, masih dengan pakaian operasi, ke luar dari dalam ruang perawatan. Dan Ann berdiri hanya untuk bertanya, "Bagaimana keadaannya?" tanpa pernah memberi waktu bagi dokter untuk sekedar mengambil napas.
Dokter itu—pria, usia pertengahan tiga puluh, dengan kerutan wajah pertanda lelah dan sorot mata bijak, Ann lupa siapa namanya— bicara, "Segalanya berjalan di luar perkiraan." Ann tidak mengerti namun dia tidak berkedip. Napasnya tertahan di tengah-tengah. "Hidupnya tak akan lama lagi…."
Dokter kemudian menjelaskan apa yang terjadi. Tentang satu golongan darah yang membuat respons sistem kekebalan tubuh otomatis menolak senyawa sel-sel darah merah yang ditransfusikan ke dalam tubuh dan berujung pada gagal ginjal serta kematian yang begitu cepat dan mudah. Golongan darah yang berbahaya namun juga teramat langka—mungkin yang paling langka di seluruh dunia[1].
"Di Eropa, dari sekian milyar penduduk bumi, ada sekitar 200.000 orang Eropa yang memilikinya, 100.000 di Amerika dan di tempat ini, kita punya satu pasien." Dokter itu menjelaskan, membuat Ann menarik kesimpulannya. Di dalam tubuh Yuuma mengalir golongan darah mematikan itu. Ini membuat tulang yang menyangga kaki-kaki Ann kehilangan kekuatan. Sekujur tubuhnya lemas seketika. Tidak. Ini tidak benar. Seharusnya Yuuma baik-baik saja.
Seruan seorang perawat yang muncul dari balik pintu perawatan menarik paksa Ann kembali ke dalam realita. Ketika dokter akan kembali ke dalam, Ann sempat menahannya. Tolong—tolong, dia berkata dengan nada yang begitu kalut, jangan menyerah. Terus pertahankan anak itu. Dan Dokter memutar langkah ke ruang perawatan dengan wajah penuh simpati, seolah tak berani menjanjikan apa pun.
Dan dokter itu memang tak bisa menjanjikan apa pun.
Ketika tangan pendek jam menyentuh angka sebelas, paramedis tidak bisa menahan Yuuma lebih lama lagi. Jantung itu sudah sejak lama ingin berhenti. Di sanalah semuanya berakhir. Hidup Yuuma. Juga hidup Ann.
Tempat tidur itu di dorong keluar bersama sosok yang kini tertutup selimut putih. Ann bisa melihat rambut Yuuma, yang berwarna seperti kelopak bunga musim semi, menyembul sedikit dari balik selimut. Matanya menatap hampa.
Bagaimana ini? Ann sudah menghilangkan satu-satunya pewaris VY co., sekarang apa yang akan dia katakan di hadapan keluarga Yukio? Apa? Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Mereka semua akan membunuh Ann karena ini.
Ann menjambaki rambutnya sendiri. Sekarang bagaimana? Bagaimana? Bagaimana?
Wanita itu melangkah gontai. Paramedis yang membawa Yuuma sudah berada jauh di depan. Pikirannya kosong. Sudah tidak ada harapan lagi. Keluarga Yukio pasti marah besar padanya. Ah, mungkin lebih baik dia bunuh diri saja. Ya, bunuh diri. Itu terdengar seperti pilihan yang bagus. Dia tidak perlu berhadapan dengan amarah mertua dan adik iparnya. Dia juga tidak perlu mengecewakan suaminya. Itu terdengar sangat bagus. Atau—
Langkah Ann berhenti tiba-tiba. Matanya menangkap sesuatu. Anak laki-laki kecil―umur sekitar enam tahun— duduk di sofa tunggu. Matanya memenjarakan warna mentari. Rambutnya merah jambu seperti kelopak sakura. Tubuhnya kurus berbalut kaus hitam kebesaran. Dan untuk sesaat, Ann seperti lupa bagaimana caranya bernapas.
Anak benar-benar terlihat seperti Yuuma. Seperti―seperti kembaran yang terpisahkan oleh rahim. Hanya saja sinar mata yang dipancarkan sedikit berbeda. Anak memandang lurus ke lantai dengan tatapan kosong, seolah sedang berusaha mencari-cari sesuatu yang penting. Di kepalanya ada lilitan perban.
Seorang perawat menghampirinya, mengatakan sesuatu yang tidak bisa Ann dengar. Dia mengusap pelan punggung anak itu, seperti berusaha membuatnya tetap nyaman, sebelum membawanya pergi dari sana.
Seketika itu pula, Ann sadar bahwa tidak—dia tidak perlu bunuh diri. Yang perlu dia lakukan hanyalah mencari seseorang yang bisa menggantikan peran Yuuma. Dan Ann tahu persis siapa yang cocok untuk peran itu….
.
.
.
can you start playing this role for us…?
glosarium:
[1] yang dimaksud di sini adalah golongan darah Vel, dan ini beneran ada bukan karang-karangan saya. pada dasarnya golongan darah manusia itu ada A, B, O, dan AB. tapi sebenarnya ada juga golongan darah yang langka seperti Junior, Langeris, dan Vel. golongan darah Vel dibagi dua; positif dan negatif. lalu, yang ada dalam tubuh Yuuma adalah Vel Negatif atau yang paling langka dan berpotensi membahayakan ketika menjalani transfusi darah karena dia akan refleks menolak darah yang ditansfusikan. vel negatif ini punya kompleksitas yang membuat peneliti harus menghabiskan 60 tahun untuk tahu lebih jauh. tapi sekarang peneliti sudah menemukan cara untuk menemukan darah bagi orang-orang vel negatif yang butuh transfusi darah :)
Jengjeng! Saya nepatin janji buat update, kan? Malah lebih cepet, sebelum Januari haha….
Chapter ini semuanya udah ketauan, ya. Hayo, siapa yang udah ngira kalau Yuuma ternyata bukan Yuuma? Sini, sini, saya kasih piring cantik yang dibeli di toko piring terdekat, pake uang sendiri yaa bayarnya hehehe :3
Lun, kalo udah ketauan gini, terus kedepannya kita mau baca apaan? Kan misterinya udah ketauan!
Kan Yuuma yang lagi sama Luka itu masih galau sama jati dirinya, jadi plot masih bisa lanjut hehehehe lagian ada sebabnya saya ngedit chapter 7 kemaren dan munculin Leon sama Gakupo. FYI, Leon ini semacam pemegang kunci untuk cerita ke depannya. Dan Gakupo juga. Sop iler dikit, Gakupo ini semacam punya koneksi/hubungan/whatever dengan salah satu dari Yuuma dan Luka. Silakan tebak sendiri dengan siapa dan koneksi apakah yang saya maksud kufufufufu~ :3
Udah segitu aja. Kritik dan saran yang membangun amat dinanti~
ps: happy birthday, mantan biasku, Auel Neider dan Kagamine twins. ultah kalian beda sehari ternyata haahha...
