Vocaloid © Crypton Future Media, Internet, Yamaha, et cetera. No copyright infringement is intended.

Warning cliché, possibly typo(s), (maybe) plot rushed, diksi pergi ke laut, et cetera. Kesamaan ide harap dimaklumi.

a/n written while listening to VY2 ft Luka – Under the Mirrorball, In Front of Monitor~ dudududu~ /OTP feels/


Role

Take Ten!

/The Plan/


Ting—!

Sendok dan piring berdenting.

Sudah berapa kali Mizki terjebak di situasi begini—menyantap hidangan dalam sunyi?

Sekali? Dua kali?

Oh, iya, Mizki lupa. Tak terhitung. Dia 'kan memang selalu seperti ini seumur hidupnya; duduk manis menikmati hidangan (sarapan, makan siang, makan malam) hanya ditemani denting sendok dan jam dinding—tik tok tik tik tik.

Mizki bukannya cuma seorang diri di rumah ini, masih ada ibunya. Hanya saja mereka jarang bicara. Sekalinya mereka terlibat dalam konversasi, topiknya selalu jatuh kaku. Seolah-olah ibunya hanya menanggapi atas dasar kesopanan. Setengah hati.

Dan Mizki benci.

Hanya ketika Yuuma duduk di tengah-tengah mereka, dinding tak terlihat itu lumer. Percakapan terjalin meski dalam bentuk yang paling sederhana, tapi setidaknya mereka bisa bicara. Tiada Yuuma, maka ibunya juga tak akan buka suara. Atau, dia akan bicara hanya saja topik utamanya adalah Yuuma. Yuuma. Yuuma. Dan Yuuma.

(... sebenarnya anaknya itu siapa?)

"Yuuma tidak pulang semalam?"

Suapan roti Mizki terhenti di tengah-tengah. Di seberangnya, terpisah oleh meja yang membentang, Ann duduk tenang. Tangannya lentik, mengaduk teh yang telah jadi konsumsi rutin selama bertahun-tahun.

Yukio Mizki meletakkan kembali garpu di atas piring. Itu percakapan pertama mereka hari ini, dan ibunya membukanya dengan menanyakan Yuuma. Tenang, Mizki sudah terbiasa.

"Tidak. Yuuma-kun tidak pulang."

TING!

—Ann meletakkan sendok teh di atas piring kecil.

"Jadi dia pulang ke rumahnya? Tumben sekali."

Yuuma memang lebih sering pulang ke tempat Mizki ketimbang kediamannya sendiri. Kadang-kadang juga ke apartemennya, tapi frekuensinya jauh lebih jarang. Entah apa yang membuat Yuuma lebih memilih jauh dari rumahnya. Mizki pernah bertanya mengenai hal itu, tapi Yuuma sepertinya tidak ingin mengungkapkan alasannya. Lebih sering mengalihkan topik pembicaraan.

"Sepertinya, Yuuma-kun tidak pulang ke rumahnya."

"Tahu dari mana?"

"Mikuo-kun." Roti yang tinggal setengah kini telak diabaikan. "Tadi dia menelpon ke sini, menanyakan keberadaan Yuuma-kun. Dia sudah semalaman mencoba menghubungi Yuuma-kun, tapi tak dijawab. Dia sudah menelpon ke rumahnya juga, tapi tidak ada orang."

Ann menajamkan pandangan, merasakan sebuah kejanggalan pada cerita sang anak. Tidak biasanya Yuuma gencar dihubungi rekan kerja. "Apa ada sesuatu?"

Pertanyaan itu meluncur terlalu cepat. Mizki nyaris tersedak susu yang tengah ia tenggak. "Eng, yah ... bisa dibilang seperti itu."

Susu vanila di dalam gelas berkurang seperempat.

"Sesuatu yang buruk terjadi di tempat kerja Yuuma-kun."

"Seburuk apa?"

"Cukup buruk. Kurasa."

"Apa yang dia lakukan?"

Oh, banyak, Mizki ingin sekali menjawab begitu. Benaknya mengingat penjelasan Mikuo (yang seluruhnya diungkapkan dengan nada frustasi—bahkan sampai ke celah terkecil. Sedikit-banyak, Mizki merasa simpati pada pria itu). Yuuma sudah bertindak kurang ajar dengan menerabas masuk ke ruang rapat dan mencela salah satu dewan direksi. Namun, alih-alih mengatakan semua itu, Mizki lebih memilih merangkum semuanya ke dalam satu laporan singkat;

"Paman memberi skorsing pada Yuuma-kun."


Ketika memutuskan sepakat untuk melarikan diri berdua, Yuuma sudah tahu ini tak akan berjalan mudah.

Bagaimana tidak?

Yang menjadi rekannya adalah seorang artis yang kini sedang naik daun. Wajahnya sering terpampang di layar televisi, di berbagai media cetak, dikenali lebih dari setengah penduduk negara. Meski menyamar, resiko ketahuan tetap saja tinggi. Karenanya, mereka harus ekstra hati-hati. Salah langkah sedikit, urusan bisa runyam.

Waktu untuk menyusun rencana sangat sempit sehingga mereka memutuskan membuat kerangka besarnya terlebih dahulu, baru kemudian menyusun detil-detil kecilnya nanti.

Rencana pertama mereka adalah keluar dari kota ini. Lari ke tempat yang lebih sepi. Sebuah kota kecil di pinggiran terdengar bagus. Yuuma mengusulkan sebuah pemukiman di tepi pelabuhan terpencil. Selain penduduknya jarang, aparat keamanan di sana juga payah.

"Dari mana kautahu tentang itu semua?" tanya Luka. Mereka tengah berada di dalam lift yang perlahan turun. Layar kecil di dekat deretan tombol menunjukkan angka tujuh.

"Aku pernah datang ke sana. Katakanlah, untuk survei lapangan." Yuuma melipat tangan, alis naik satu. "Kau tidak berpikir kerjaku hanya duduk-duduk di kantor seharian, 'kan?"

Luka mengangguk, tanda mengerti. "Bagaimana dengan transportasi? Kita akan pakai mobilmu?"

"Memangnya apa lagi?"

"Bukankah itu agak beresiko?"

Yuuma menaikkan bahu. Mengenai resiko, bisa dikatakan Yuuma-lah yang paling tahu mengenai itu. Dia sudah memperhitungkan mengenai segala sesuatunya. Tapi mereka tak punya pilihan. "Kita akan naik mobilku sampai stasiun, setelah itu menyewa mobil dari sana."

"Cerdas. Tapi kau harus tahu satu hal, tempat penyewaan biasanya meminta calon penyewa menunjukkan kartu identitas. Itu sudah jadi semacam prosedur, kautahu." Luka menanggapi. Suaranya datar, tapi Yuuma bisa merasakan bahwa gadis itu, secara tak langsung, menolak rencana bunuh diri yang baru ia ajukan.

"Kau benar. Kalau begitu coret itu dari rencana. Aku punya yang lebih bagus. Curi satu mobil yang ada di jalanan, lalu kabur dengan itu."

Luka menelengkan kepala. Matanya menatap Yuuma setengah gusar, setengahnya lagi heran. "Kau ini sebetulnya CEO atau residivis?"

"Bukan keduanya." Ting. Lift terbuka. Mereka sampai di lantai bawah. "Aku ini buronan—sudah lupa, ya?"


Ruang kerja itu tampak mengerikan. Berantakan tak tertolong, seperti baru dihantam badai. Map dan buku-buku diletakkan sembarang. Sebagian di atas meja, kebanyakan di lantai, membaur bersama kertas-kertas hasil print.

Meiko tidur beralaskan sofa dan berbantal tangan sofa. Jas kerja Kaito jadi selimut darurat. Tak nyaman memang, tapi ia tidak peduli karena sudah kepalang lelah. Kaito sendiri tidur dengan posisi duduk di lantai. Kepalanya bersandar di tangan sofa tempat Meiko terlelap.

Mereka sangat, sangat, sangat lelah. Semalaman menggeledah ruangan hanya untuk mencari sebuah disc box. Berulang-ulang mereka mencari, bahkan sampai ke sudut-sudut terkecil. Di mana pun tak ada.

Lapar dan ngantuk bercampur dengan stress. Semua bertambah buruk dengan lelah yang menggelayut di badan. Meiko sampai sempat terbawa emosi dan melempar satu map penuh berisi dokumen ke lantai saking kesalnya. Beruntung, itu tak bertahan lama. Kantuk mengalahkan gadis itu lebih dulu. Dan Kaito ikut menyerah tak lama kemudian.

Dua jam tertidur dalam kondisi tak layak, Meiko akhirnya terbangun oleh lelehan sinar mentari yang menyusup melalui celah-celah ruangan. Dia mengerjap beberapa kali kemudian mengubah posisinya menjadi duduk. Rambut cokelatnya agak acak-acakan.

Meiko bangkit dari sofa menuju jendela, mengabaikan Kaito yang tengah tertidur. Pemuda itu telah mencari lebih keras dari siapa pun semalam, tak ada salahnya membiarkannya tidur sebentar.

Meiko membuka sedikit tirai berwarna gading yang menutupi jendela ruangan itu, mengintip keadaan di luar. Pagi telah datang, seharusnya kerumunan para pencari berita sudah sedikit berkurang. Tapi yang Meiko dapati justru sebaliknya: jumlah mereka bertambah dua kali lipat—dan, oh, siapa itu yang berdiri di dekat van putih?

Meiko menyipitkan mata dan memiringkan kepala setelah berhasil mengenali sosok itu. Merli Lapiz, seorang reporter merangkap pembawa berita yang wajahnya kerap menghias televisi. Meiko tak heran melihat jurnalis mau pun beberapa news anchor yang mencoba meliput langsung dari lapangan. Tapi ia tak pernah melihat Merli membawakan berita yang berhubungan dengan dunia hiburan. Ini aneh. Apa kasus Luka sudah separah itu?

Merasa ada yang tak beres, Meiko bergegas menghampiri Kaito untuk mengguncang bahu atasan merangkap teman lamanya tersebut. "Hei, Kai."

Tak ada jawaban. Meiko mengguncang bahu pemuda itu lebih kencang.

"Kai, bangun."

"Hmm... Yah..."

"Demi Tuhan, Kaito! Cepatlah bangun!"

Hanya butuh satu bentakan bagi Meiko untuk membuat Kaito bangun.

Pria berambut biru itu menggaruk belakang kepala sambil menegakkan badannya pelan-pelan. Dari raut wajahnya, bisa ditebak ia sama sekali tak merasa senang dibangunkan.

"Baiklah, baiklah aku bangun." Dia menggerutu. Karena jam tidurnya kurang, kepala pemuda itu agak sedikit pusing. Ia menahan diri untuk tetap membuka mata—ya, ampun, semoga saja ini hal penting. "Ada apa, Mei?"

"Kapan terakhir kali kau melihat Merli Lapiz meliput berita berkaitan dengan seorang artis?" Meiko bertanya tanpa tedeng aling-aling.

"Maksudmu Lapiz si pembawa berita dari stasiun televisi X?" Kaito tidak berhenti cukup lama untuk mengijinkan Meiko menjawab pertanyaannya, "Terakhir kuingat enam atau delapan tahun lalu. Waktu kasus penipuan seorang pengusaha yang dilakukan oleh Rei Kagene—masih ingat, 'kan? Dia artis yang dulu ditangani Star Agency, sebelum akhirnya terpuruk dipenjara karena terbukti bersalah. Merli membawakan beritanya dalam sebuah Breaking News. Itu pun cuma sekali."

"Jadi, dengan kata lain, Merli tak pernah membawakan berita yang berhubungan langsung dengan artis."

"Tidak. Kecuali jika artis itu terlibat dengan kasus pidana yang cukup serius." Kaito terdiam sejenak. Entah kenapa mtiba-tiba erasa janggal dengan seluruh pertanyaan Meiko. "Ada apa?"

Meiko tak langsung menjawab dan hanya menatap Kaito selama beberapa detik dengan pandangan kosong. "Dengar Kai, aku tidak tahu ini berita bagus atau buruk karena aku sendiri juga tidak tahu bagaimana keadaan sekarang ini sekarang, tapi..."

"Tapi?"

"Ada Merli di luar sana."

Kali ini, kantuk Kaito langsung hilang entah ke mana.


Dewi Fortuna benar-benar sayang pada mereka hari ini.

"Jadi, Yukio-kun," gadis manis berambut ungu itu tersenyum lebar, nadanya riang. Rona merah menjalar di pipi. Tangannya memegang lengan kurus seorang pemuda berambut putih-mutiara sepundak. "Perkenalkan. Utanane Piko, temanku."

Yuuma dan Luka menatap sosok Utatane Piko. Pemuda itu masih sangat muda. Umurnya kira-kira sembilan belas. Tingginya sepuluh hingga belasan senti lebih pendek dari Yuuma.

Sekilas, Piko tampak seperti kebanyakan anak laki-laki seusianya. Satu hal yang membuatnya sedikit berbeda dari pemuda itu adalah matanya.

Kelopak mata Piko diisi dua kristal yang berbeda warna. Hijau dan biru. Heterokromia. Satu-satunya hal yang paling mencolok dari Piko. Mungkin karena itulah pemuda itu tampak sangat canggung dan lebih banyak mengalihkan pandangan. Karena warna matanya yang jauh dari kata normal justru membunuh rasa percaya diri alih-alih membuatnya merasa istimewa.

Untuk memahami bagaimana keadaan yang mereka hadapi sebenarnya, mari mundur setengah jam sebelum ini. Tepatnya waktu Yuuma dan Luka baru keluar dari lift.

Waktu itu mereka sedang berjalan di koridor yang lengang. Keduanya saling berjalan berjauhan. Tak ada yang buka suara, dan tak ada yang berniat memecah keheningan. Sunyi di antara mereka runtuh ketika seorang gadis muda memanggil Yuuma dengan nada yang kelewat ceria.

Gadis yang dimaksud adalah Yuzuki Yukari. Dari keterangan yang Luka tangkap, Yukari adalah tetangga merangkap kenalan Yuuma—meski sejujurnya Yuuma sendiri masih bingung dengan status hubungan mereka.

Dikatakan kenalan, mereka baru saling tahu nama masing-masing sebulan yang lalu. Itu pun karena Yuuma kebetulan sedang satu lift dengan Yukari. Dan mereka cuma bertemu satu kali.

Dibilang tetangga, sebenarnya tidak tepat juga. Karena Yukari tinggal di lantai 12—2 lantai di atas apartemen Yuuma. Tapi karena Yukari sudah sangat percaya diri mengklaim dirinya sebagai kenalan sekaligus tetangga, Yuuma mau tak mau merasa tak enak dan akhirnya mengangguk saja.

Yukari adalah gadis yang manis, menurut Luka. Rambutnya, yang berwarna ungu, dipotong pendek beberapa senti dari leher, namun bagian depannya dibiarkan panjang hingga menyentuh dada. Ia mengenakan dress musim panas sepaha warna ungu motif garis dengan gradasi lebih muda dari rambutnya dan hoodie berwarna hitam dengan motif garis magenta.

Gadis itu bicara dengan nada dan intonasi penuh percaya diri, pertanda ia seorang yang supel dan (mungkin) terbiasa menjadi pusat perhatian.

Satu hal yang Luka tidak terlalu suka dari Yukari adalah bagaimana ia bersikap di hadapan Yuuma.

Ia menyapa pemuda itu dengan keramahan yang jauh dari kata normal. Agak berlebihan, kalau ia boleh bicara frontal. Dan itu membuat Luka berkali-kali menahan diri untuk tidak memutar bola mata.

(Walau sebetulnya, jauh di dalam hati, Luka bisa menganggap sikap yang Yukari tunjukkan adalah hal wajar. Ia bisa jelas melihat gadis berambut ungu tersebut memiliki ketertarikan pada sosok Yuuma dan tengah berusaha menunjukkan afeksinya, omong-omong. Tapi Luka, yang telah lama memeluk segala pandangan pesimisnya mengenai cinta, telah terlanjur menjatuhi simpati pada Yukari. Lagi pula, tatapan dan sikap genit tak akan pernah menarik atensi seorang pria. Kecuali jika pria itu sedang ingin main-main. Luka tak akan pernah melakukannya.)

(Dan melihat Yukari yang sepertinya benar-benar tertarik pada Yuuma membuat Luka mengernyit. Setengah tak percaya pemuda serampangan seperti Yuuma mampu menarik perhatian gadis seperti Yukari. Setengahnya lagi merasa terganggu dengan Yukari yang berusaha keras terlihat imut—duh, Luka membatin, bikin jengah saja.)

Yukari bertanya, Yukio-kun mau ke mana. Yuuma menjawab, ia akan pergi ke suatu tempat bersama kekasihnya.

Luka tidak berkata apa pun sampai Yuuma menarik lengannya agar mendekat, kemudian memegang pundaknya. Di saat itu, Luka baru mengerti jika 'kekasih' yang dimaksud pria itu adalah dirinya. Atau lebih tepatnya, Luka dipaksa berperan sebagai kekasih Yuuma di hadapan Yukari.

Mengerti akan peran, Luka pun tersenyum kemudian menyodorkan tangan. Secara natural melakukan improvisasi. "Halo, Yuzuki-san. Inoue Shizune."

Yukari memperhatikan Luka. Mulai dari rambutnya yang tertutup topi baseball (milik Mizki yang tertinggal di apartemen, Yuuma meminjamkan untuknya), sepasang mata hitam (kontak lensa, Luka membawanya ke mana-mana untuk jaga-jaga) yang tertutup kacamata bingkai hitam (milik Kaito. Sudah bersama Luka selama dua minggu. Lupa dikembalikan), tunik putih lengan panjang, celana jeans biru pudar, hingga sepatu kets. Puas mengamati, ia menyambut uluran tangan gadis itu.

"Senang bertemu denganmu, Inoue-san." Gadis itu tersenyum, tapi Luka bisa mendengar suara hati yang pecah. Ia agak merasa bersalah untuk yang satu itu.

Mereka berbasa-basi sebentar setelahnya. Didorong tuntutan sopan santun, Luka bertanya apa Yukari mau pergi. Yukari menjawab, ia hendak ke pantai bersama teman-temannya dan sedang menunggu salah satu temannya menjemput.

"Dia baru saja berangkat dari tempat penyewaan mobil."

"Kalian menyewa mobil?" Yuuma bertanya.

"Ya, karena tidak ada di antara kami yang diijinkan membawa mobil orangtua kami. Jadi kami tak punya pilihan selain menyewa," jawab Yukari. "Awalnya aku khawatir biaya liburannya jadi bertambah dua kali lipat karena ongkos sewa mobil. Untungnya, salah satu temanku punya kenalan."

"Kenalan?"

Yukari mengangguk. "Dia berteman dengan seorang pemilik tempat penyewaan mobil. Ini menjadi lebih praktis, kalian tahu. Karena, selain tak perlu repot dengan peraturan surat-surat, kami juga bisa mendapat harga sewa yang lebih murah."

Alis Yuuma dan Luka naik dalam satu tepukan. Ini yang namanya kesempatan. Bahkan mereka pun tak perlu saling memberi sinyal berupa lirikan.

Keduanya sama-sama menyadari satu hal: gadis ini tak boleh dilepas begitu saja.

Jadi, akhirnya Yuuma pun meminta Yukari agar mau mengenalkan temannya tersebut pada mereka. Pria itu berbohong dengan mengatakan mobilnya sedang masuk bengkel untuk perawatan rutin. Alasan klise. Beruntung, Yukari adalah orang yang (terlalu) mudah percaya. Gadis itu setuju mengenalkan mereka dengan Piko.

"Nah, Piko," kata Yukari, "Yukio-kun dan Inoue-san ingin menyewa mobil di tempat temanmu. Kau tidak keberatan mengantar mereka 'kan?"

Piko mengerutkan kening. Ketidakyakinan tergambar di raut wajah pemuda itu, membuat Yuuma dan Luka menahan napas. Khawatir Piko akan menolak.

"Aku mau-mau saja," jawab Piko, "tapi bukankah kita harus menjemput Iroha dan Ryuuto di stasiun?"

Yukari mengibaskan sebelah tangannya ringan, berlalu menuju pintu depan Nissan putih yang baru disewa Piko. "Mereka tidak akan keberatan menunggu."

"Kau yakin?"

"Tentu," Yukari berkata setelah berada di depan pintu. Dia memandangi kuku-kuku jarinya seakan tengah membutuhkan manikur detik itu juga. "Aku yang tanggung jika mereka sampai marah. Janji."

Piko terdiam sejenak. Mempertimbangkan. Setiap detik yang digunakan Piko untuk berpikir membuat Yuuma dan Luka semakin gelisah.

"Yah, kalau begitu katamu ... baiklah." Piko mengalihkan pandangan pada Yuuma dan Luka. Dia tersenyum, rasa canggungnya telah sedikit menghilang. Sepertinya status 'kenalan Yukari' yang melekat pada diri Yuuma dan Luka membuat Piko merasa tak harus bersikap waspada. Ia bahkan tak keberatan memberi pertolongan pada mereka—orang yang bahkan baru dikenalnya kurang dari sepluh menit.

Sebuah tindakan ceroboh, namun menjadi keuntungan untuk Yuuma dan Luka.

"Aku akan mengantar kalian ke tempat temanku, Karu." Piko membuka pintu belakang. Membiarkan Yuuma dan Luka duduk di kursi penumpang. "Kucoba agar dia mau menyewakan mobil dengan harga murah. Karu agak ketat dalam hal bisnis—tapi aku bisa yakinkan kalian dia orang baik. Hanya saja butuh sedikit dibujuk."

"Dan untuk itulah, kau ada di sini," sambung Yukari.

Piko mengangguk. "Ya. Untuk itulah aku ada di sini. Untuk bernegosiasi dengannya."

Yuuma menyeringai, sementara Luka menghela napas dalam hati. Mereka terlihat lega setelah Piko memutuskan membantu mereka. Bantuan kecil, tapi sangat berarti.

Yah, Dewi Fortuna memang benar-benar baik pada mereka hari ini.


to be continued


a/n

Saya tau, untuk ukuran chapter yang digarap lebih dari 6 bulan, chapter ini sampah sekali. Nggak ada kemajuan signifikan selain YuumaLuka dapat bantuan buat ke tempat penyewaan mobil dengan bantuan Piko dan Yukari. Maafkan saya "orz

Tapi, percayalah. Saya nggak bisa ujug-ujug munculin CUL tanpa munculin Piko dan Yukari. Kalo perannya cuma figuran sekali lewat, gak masalah. Tapi CUL ini punya peran tersendiri dan hubungan dengan 1-2 tokoh yang belum muncul. Jadi, kayaknya aneh aja kalo dia tiba-tiba terlibat sama YuumaLuka- 8"""D /alasannya ampas/ /dibuang/

Btw, saya punya alasan mengapa menulis 'Karu' sebagai panggilan Piko terhadap CUL alih-alih tetap menulisnya CUL. Ini masuk ke dalam plot juga, jadi harap bersabar dengan plot yang sedang saya bangun ;D

Beberapa waktu lalu saya sempet males ngelanjutin Role gara-gara, setelah re-read, saya nemuin kalo cerita ini ancur banget. Logika bodong di mana-mana. Dan gaya ceritaku yang berat di penggambaran alias terlalu show membuat plot begitu lambat. MUAHAHAHAHA!

(Serius, buat kalian yang masih memegang prinsip Show don't tell itu baik, dan mendewakannya, kalian harus pikir ulang, gaes! Konsep show don't tell itu bullshit!)

Kepikir untuk mendiscon cerita ini, tapi karena ada yang rajin mention & chat nanyain kapan Role update dan masih ada 1-2 notif dari orang-orang baik hati yang menekan tombol follow/fave, jadi... Yah... Akhirnya saya coba teruskan. Dan akhirnya bisa update juga. Ternyata kalau ada kemauan, pasti bisa ya. Hahahaha 8"""D

Review is love.

sign,
devsky

PS: sebentar lagi UAS. Berarti sebentar lagi libur panjang. Doakan selama liburan itu saya nggak terserang males dan bisa update teratur /o/

Ciao!