Vocaloid © Crypton Future Media, Internet, Yamaha, et cetera. No copyright infringement is intended.

Warning cliché, possibly typo(s), (maybe) plot rushed, informasi yang tidak akurat mengenai kepolisian karena kurang riset, et cetera. Kesamaan ide harap dimaklumi.


Role

Take Eleven!

/Investigation/


Pada pukul sepuluh malam, tepat ketika ia baru sampai di flat-nya yang kecil, Nakata Akaito, seorang detektif polisi, menerima panggilan dari rekan seprofesinya. Pria berusia 29 tahun itu memijit pelipis sembari membuang napas dalam jumlah banyak. Sumpah, dia baru saja pulang setelah dua hari kemarin berkutat di TKP, menyelidiki kasus penemuan mayat di sebuah halaman belakang rumah terbengkalai. Ia baru saja menyelesaikan penyelidikan dan sekarang benar-benar butuh tidur. Tapi ponselnya yang berdering jelas tak dapat diabaikan begitu saja.

Dalam satu gerakan, Akaito meraih ponselnya, menekan tombol hijau, dan meletakkan benda itu di telinga kiri.

"Yo~! Akai!" Adalah hal pertama yang ia dengar dari ujung sambungan.

Akaito merengut. Berusaha keras tidak melempar ponselnya jauh-jauh. Nada kelewat ceria yang digunakan si penelpon membuat mood-nya makin buruk alih-alih lebih baik. "Sekarang apa, Rinto?"

Akaito bisa mendengar tawa tertahan. Sial, orang ini.

"Ketus sekali! Mood-mu sedang benar-benar rusak, ya? Apa kasus terakhirmu benar-benar membuat stres?"

Akaito menepuk jidat. Duh, bisa tidak sih orang ini fokus pada inti masalah dan bukannya bicara berputar-putar?

"Rinto, dengarkan aku baik-baik." Akaito berujar pelan, sengaja menekankan tiap kata-katanya. Berharap Rinto, si penelpon, akan memberi atensi. "Yang pertama, namaku bukan Akai tapi Akaito. Panggil namaku dengan utuh. Kedua, aku jauh—jauh— lebih tua darimu. Jadi, perhatikan cara bicaramu. Dan yang ketiga, cepat katakan urusanmu atau aku bersumpah akan menendang kepalamu besok di markas!"

Di seberang sana, Rinto mendecakkan lidah. "Ck, sekarang aku mengerti kenapa sampai sekarang tidak ada gadis yang mau jadi teman kencanmu. Kau hobi sekali marah-marah. Tidak takut tambah tua lebih cepat?"

"Rinto!"

"Oke, oke. Santai saja," meski tidak melihat, Akaito bisa membayangkan sosok Rinto tengah mengibaskan tangan ringan ke udara. Dan dengan membayangkannya saja sudah membuat Akaito makin kesal.

"Tidak perlu teriak-teriak begitu. Kau membuat telingaku sakit."

Memangnya siapa yang mulai duluan, ingin sekali Akaito memaki. Tapi ia menelan kembali komplainnya karena Rinto lebih cepat bicara.

"Dengar Akai, aku tahu kau baru saja selesai dengan kasus penemuan mayat itu, tapi sekarang ada kasus baru. Dan dia—maksudku, kasus itu— menunggu kita untuk memecahkannya. Perintah langsung dari pak kepala," kata Rinto. Suaranya masih terdengar ceria namun Akaito bisa merasakan keseriusan menyusup di celah-celah kalimatnya.

"Kasus baru hanya untuk kau dan aku. Ah, tidakkah kau berpikir ini seperti sebuah kencan? Bedanya kita akan menghabiskan waktu di TKP—bersama mayat dan tim penyidik."

Akaito telak mengabaikan semua kata-kata terakhir Rinto, tapi ia bertanya, "Kasus apa?"

"Pembunuhan. Di ARiA Bar & Lounge."

Akaito mengenali tempat itu sebagai sebuah bar berukuran lumayan besar di tengah kota. Bukannya dia pernah datang, Akaito hanya sering lewat sana.

"Oh? Pembunuhan?" kata pemuda bermanik rubi tersebut. "Biar kutebak, tersangkanya pengunjung mabuk yang hilang kendali?"

Rinto meletupkan tawa ringan. "Kau bisa sok tahu juga ternyata."

"Heh, jadi aku salah?"

"Datanglah kemari dan silakan lihat sendiri—aku janji kau akan bersemangat sekali menangani kasus ini."

Kalimat terakhir yang diucapkan Rinto sukses membuat penasaran Akaito langsung naik sampai ubun-ubun. Dia ingin sekali bertanya, meminta Rinto menjelaskan lebih detil—kenapa juga Akaito harus merasa bersemangat mengenai kasus ini?— tapi pemuda itu buru-buru memutus sambungan setelah mengatakan beberapa patah kata lagi.

"Datang sajalah, jangan banyak tanya. Aku sudah di TKP bersama tim penyidik—oh, masuk lewat pintu belakang saja, oke? Pintu depan terlalu banyak orang. Aku tunggu. Jaa!"

Piip!

Selanjutnya yang bisa Akaito dengar hanya bunyi statis sambungan telepon.


"Aku bersumpah Rinto-Si-Pirang-Idiot-Sialan itu akan membayar ini."

Akaito mengumpat kesal ketika bagian belakang mobilnya menabrak tong sampah. Bunyi lempeng besi jatuh ke aspal disusul gemerusuk benda-benda rongsok seketika terdengar.

Sesuai saran Rinto, Akaito datang lewat halaman belakang ARiA Bar & Lounge. Hal yang merepotkan sebenarnya, karena Akaito jadi harus sedikit mengambil jalan berputar. Sialnya lagi, halaman belakang bar itu jauh, jauh, jauh lebih sempit dan gelap dibandingkan di depan. Akaito harus susah payah memarkir mobilnya agar tak tergores sesuatu, tapi tetap saja berakhir kacau.

Urusan parkir di tempat sempit, Akaito memang yang paling payah. Dan, oh, semoga benturan kecil dengan tong sampah bodoh tadi tidak meninggalkan penyok. Mobil ini belum lunas cicilannya!

Sambil mendecih kesal, Akaito keluar untuk memeriksa keadaan mobilnya. Dia meringis pahit mendapati sedikit gurat lecet di dekat lampu sen.

"Yap. Sekarang aku harus mengambil beberapa ribu yen dari tabungan untuk biaya perbaikan. Bagus." Dia berkata pada dirinya sendiri sembari membuang batang rokok yang kini tak lebih tinggi dari kelingking ke aspal, menginjaknya untuk memadamkan biang api. Itu rokok ketiga yang ia hisap selama perjalanan.

Pria itu mengedarkan pandangan sebentar, menemukan tak satu orang pun berada di sana. Dia langsung bisa menerka semua polisi memarkir mobilnya di halaman depan bar. Setelahnya, pria itu melangkah menuju pintu—terbuat dari kayu berlapis lempeng alumunium tipis yang telah berkarat di sana-sini. Pintu menyedihkan, begitu yang masuk dalam benak Akaito.

Melewati pintu, Akaito langsung disambut koridor panjang. Dindingnya dicat putih bersih, sementara lantainya keramik hitam. Akaito melihat pot besar yang menampung tanaman palem berukuran sedang di beberapa sisi koridor. Hiasan.

Melihat perbedaan luar biasa antara keadaan di dalam dengan di luar, entah mengapa, membuat Akaito merasa baru saja melintasi dimensi. Dan pintu menyedihkan tadi adalah alat teleportasinya.

Tak lama berjalan menyusuri koridor, Akaito melihat beberapa pria berseragam polisi tengah memasang garis kuning. Dia pun mempercepat langkah.

"Nakata Akaito, detektif." Akaito mengeluarkan dompet kulit dari saku mantel, memperlihatkan lencana polisi miliknya saat telah sampai di hadapan petugas-petugas itu. Segera setelahnya, salah seorang petugas langsung dengan sigap mempersilakannya lewat.

"Detektif Kagamine sudah ada di dalam. Dia menunggu Anda." Telunjuk itu menuding sebuah ruangan yang pintunya terbuka lebar. Beberapa petugas berseragam sibuk keluar-masuk dari sana.

Akaito memicingkan mata melihat tanda yang terpasang di pintu. TKP kali ini adalah toilet wanita. Baiklah. Setidaknya masih lebih bagus daripada rumah pemotongan daging seperti kasus beberapa bulan lalu.

Tanpa banyak bertanya, pria berambut merah itu segera masuk.


Akaito tidak terlalu terkejut mendapati tangan-tangan cekatan dan tampang serius petugas penyidik di TKP. Mereka mencari sidik jari, memotret TKP dari tiga sisi, mengais barang bukti, dan melakukan prosedur-prosedur standar lain dalam pengolahan TKP.

Cepat. Teliti. Profesional. Dan memang harus seperti itu. Sedikit saja kesalahan, fakta yang seharusnya ada di depan mata bisa langsung kabur bahkan hilang sama sekali.

"Oh, kau sudah datang, Akai."

Akaito menoleh. Kagamine Rinto menghampirinya. Seperti biasa, wajah dan sikap pemuda pirang itu terlihat santai. Akaito bahkan masih bisa melihat kilat-kilat jenaka di kedua manik cerulean-nya. Berbanding terbalik dengan ekspresi yang terlihat dari petugas-petugas penyidik di tempat ini. Meski begitu, Akaito merasakan ada keseriusan pada diri Rinto. Karena dia memang selalu terlihat begitu: santai, bertingkah seolah tak dibebani apa pun, dan tak serius. Tapi kalau mau menyelam lebih jauh, Rinto sebenarnya orang yang sangat serius mengenai pekerjaannya. Dan Akaito mengetahuinya—oh, tentu saja. Empat tahun menjadi rekan Rinto tak hanya membuat Akaito kebal menghadapi kelakuan pemuda pirang itu, tapi juga selangkah lebih memahami perangainya.

Ibarat sebuah buku, bisa dibilang Akaito adalah Ensiklopedi Rinto berjalan. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya.

Mereka berdua amat sering bertengkar, tapi di saat-saat tertentu bisa jadi lebih kompak melebihi tim manapun. Bahkan beberapa rekan di markas pernah bergurau kalau kedua orang itu adalah pasangan serasi.

"Mungkin saja mereka akan menikah suatu hari nanti!" Begitu yang pernah dikatakan oleh seseorang di markas.

Tentu saja, kepala mereka langsung jadi sasaran tendangan Akaito—dan pada akhirnya semua orang di markas belajar dari pengalaman untuk tidak menyebut Akaito dan Rinto dengan istilah-istilah aneh lagi.

"Agak sedikit lebih lama dari perkiraanku." Rinto mengerling arlojinya, menyeringai tipis. "Jangan bilang kalau kau tersesat."

"Aku ambil jalan memutar kemari. Dan aku kesulitan memarkir mobilku di belakang."

Rinto menatap Akaito seolah kepalanya baru saja tumbuh sebuah lagi. "Kau memarkir mobilmu di belakang?"

"Kau menyuruhku masuk lewat pintu belakang."

"Eng, yah. Tapi bukan berarti menyuruhmu memarkir mobilmu di sana." Rinto menggaruk belakang kepalanya. "Kau bisa memarkir di depan dan masuk lewat pintu belakang, tahu."

"Mana kutahu," desis Akaito. "Salahmu sendiri memberi informasi setengah-setengah. Lagipula kalau memang bisa lewat depan, kenapa harus menyuruhku masuk lewat pintu belakang?"

Rinto mendesah. "Kami sedang mendata pengunjung di sini. Untuk mencegah ada yang keluar-masuk, aku menyuruh petugas mengunci pintu hingga pendataan selesai."

"Kau meminta alibi dari semua pengunjung?"

"Tentu tidak. Hanya seluruh pegawai dan teman-teman yang datang bersama korban. Dari keterangan saksi, aku tidak yakin pelakunya masih ada di sini. Jadi pengunjung yang lain hanya kumintai identitas, alamat, serta nomor yang dapat dihubungi—jaga-jaga jika ternyata kita butuh keterangan dari mereka."

Akaito tak merespon. Rinto telah mengambil tindakan dengan sangat baik. Tapi, ada sesuatu yang membuatnya tertarik. "Kau bilang, 'dari keterangan saksi', eh?"

Rinto terdiam sejenak, mengerjapkan mata beberapa kali sebelum tertawa pelan dan menepuk kepalanya sendiri. "Oh, ya. Tentu saja! Kau baru saja datang. Bodohnya aku!"

Pemuda berponi panjang itu lantas memegang bahu Akaito, menggiringnya ke satu-satunya bilik yang terbuka. Seorang tim penyidik yang tengah mengambil gambar segera menyingkir ketika kedua detektif itu datang.

Di dalam sana Akaito langsung mendapati mayat korban terkulai. Gadis muda. Rambutnya pirang-kecokelatan. Ikhtisar mayat telah dibuat oleh tim penyidik, hanya saja mereka belum memindahkan mayatnya. Kemungkinan mereka menunggu Akaito.

"Namanya Akita Neru. Umurnya sembilanbelas tahun, mahasiswi semester empat di Universitas Utau, jurusan Sosiologi." Rinto menjelaskan sambil memberi Akaito sepasang sarung tangan agar pria itu dapat leluasa mengamati. Setelahnya, ia mengeluarkan buku catatan kecil dari saku kemeja, memeriksa data-data yang telah ia temukan.

"Universitas Utau? Bukankah itu ada di prefektur sebelah?"

Rinto mengangguk. "Dia datang ke sini bersama dua orang temannya. Kasane Teto dan Murasaki Defoko. Pergi ke kelab untuk mengisi waktu luang."

"Pergi jauh dari rumah dan main ke kelab. Tak kusangka anak perempuan jaman sekarang berani juga."

"Ayolah, Akai. Jamanmu dulu dan sekarang sudah beda," Rinto tertawa kecil. Dia memang orang yang senang tertawa dan menjalani hidupnya dengan santai. "Lagipula sekarang masih waktunya libur untuk mahasiswa. Tidak ada salahnya bermain-main dan pulang larut, 'kan?"

Mengenakan sarung tangan, Akaito mendekati mayat Neru, namun tidak sampai melewati corpse outline. Ia berjongkok, mengamati luka tusukan di tubuh Neru. Mencari-cari kejanggalan. Darah yang merembes di pakaian Neru telah mengering dan berubah warna menjadi lebih gelap.

Akaito mengamati mayat di hadapannya dengan serius. Luka dan bau anyir darah seolah tidak cukup untuk membuat perutnya bergejolak.

"Seperti yang kaulihat," kata Rinto, "ia mengalami luka parah setelah ditusuk di bagian perut dan dada. Waktu kematian diperkirakan pukul setengah sembilan hingga setengah sepuluh malam."

"Sudah dapat barang buktinya?" Akaito bertanya tanpa menoleh. Ia masih mencari-cari barang bukti yang mungkin saja terlewat oleh tim penyidik.

"Yap," jawab Rinto. Lugas. "Belati sepanjang depalanbelas senti. Ada darah di ujungnya, kemungkinan besar darah korban."

"Tempat ditemukannya barang bukti?"

"Di lantai dekat pintu masuk. Tergeletak begitu saja."

"Siapa yang menemukan mayat pertama kali?"

Rinto kembali mengecek catatan kecilnya. "Kasane Teto. Usia sembilanbelas tahun. Mahasiswi jurusan Hubungan Internasional di Universitas Utau. Semester empat."

"Oh? Si temannya. Bagaimana dengan yang satunya lagi? Siapa namanya—Defoko, eh?"

Anggukan kepala. "Murasaki Defoko. Mahasiswi Universitas Utau juga. Satu jurusan dan semester dengan korban."

"Sepertinya mereka memang dekat."

"Sahabat sejak SMA, begitu yang kudapat dari keterangan Teto."

Alis Akaito naik satu. "Oh, ya?"

"Tentu." Rinto maju selangkah dan menunduk. Tangannya menunjuk ke leher Neru. Sebuah kalung dengan liontin warna kuning-keemasan menggantung di sana. "Anak perempuan suka membeli barang-barang yang mirip atau bahkan kembar untuk seseorang yang mereka anggap istimewa. Kaus dengan motif sama, gantungan kunci dengan bentuk serupa, jam tangan setipe. Di sini, merek punya kalung untuk membuktikan kedekatan mereka. Tentu saja warna liontinnya berbeda. Defoko warna ungu, Teto warna merah, dan untuk Neru adalah kuning-keemasan. Tapi, secara garis besar, bentuk liontinnya sama."

Akaito mengangguk mendengar penjelasan rekannya tersebut, tapi fokusnya tidak beralih dari mayat Neru. Sepertinya menemukan sesuatu yang menarik. "Lanjutkan laporanmu."

Rinto menegakkan tubuhnya kembali dan melanjutkan, "Defoko dan Teto datang bersama Neru ke sini pada pukul setengah delapan. Berangkat dari rumah masing-masing dan bertemu di stasiun. Sepertinya mereka sudah sering datang ke tempat-tempat semacam ini. Cara mereka berpakaian tidak seperti orang yang baru mengenal kelab. Dan, oh, kau takkan percaya berapa banyak botol bir yang ada di meja mereka!"

Akaito terkekeh, sambil mengeluarkan sapu tangan dari balik jas yang ia kenakan. "Percayalah padaku, aku tidak akan terkejut. Cuma kau orang payah yang langsung mabuk hanya dengan minum seteguk sake murahan."

Wajah Rinto membentuk sebuah kerutan, tanda tidak setuju. "Ayolah. Mengonsumsi minuman bukan keahlianku!"

"Ya, ya. Tentu saja." Akaito tidak sepenuhnya berminat meladeni Rinto. "Bisa ceritakan lagi tentang barang bukti—maksudku, bagaimana kau bisa menemukanya?"

"Yah, seperti yang kubilang tadi. Belati itu tergelak begitu saja di lantai."

"Dibuang begitu saja?"

"Mungkin lebih cocok kalau dibilang dilempar daripada dibuang."

Kali ini, Akaito menoleh pada Rinto. "Maksudmu?"

"Apa yang kumaksud adalah benar-benar seperti apa yang baru kaudengar, Akai. Pelakunya melempar belati itu pada Teto saat ia memergokinya."

Akaito menggeleng, merasa konyol dengan jawaban Rinto. Tapi sepertinya Rinto dapat menduga bila rekannya itu setengah ragu. Maka dari itu, ia segera berkata lagi, "Aku juga merasa lucu. Tapi, begitulah yang saksi katakan.

"Teto, Neru dan Defoko menghabiskan sekitar tigapuluh sampai empatpuluh lima menit dengan duduk di meja mereka. Lalu, Neru tiba-tiba saja memisahkan diri dengan alasan ingin ke toilet. Tak ada yang aneh, jadi Teto dan Defoko membiarkannya pergi sendiri. Tapi, karena tak kunjung kembali, akhirnya Teto memutuskan untuk menyusul. Kebetulan juga, ia sudah mendapat telepon dari kekasihnya, Ted. Jadi, secara tidak langsung, Teto juga ingin mengajak Neru meninggalkan kelab. Tapi, begitu sampai di sini, Teto menemukan dua orang berdiri di depan bilik tempat Neru berada. Salah satunya memegang belati berdarah. Neru sendiri sudah dalam kondisi tewas waktu itu. Karena panik, Teto langsung berteriak dan hendak menelpon polisi. Tapi tiba-tiba saja salah seorang dari mereka melempar senjata itu ke arahnya."

"Lalu?" Akaito bertanya. "Apa yang Teto lakukan setelahnya?"

"Pertanyaan konyol. Apa yang kau harap bisa seorang gadis lakukan setelah melihat temanmu mati kemudian dilempar belati sepanjang delapan belas senti oleh pelakunya? Buka ponsel dan update status via twitter? Share foto di Instagram? Serius, Akai."

Akaito mendengus. Secara tak langsung menemukan jawaban di balik kalimat sarkastik Rinto: bahwa Teto tak melakukan apa pun. Mungkin ia jatuh terduduk akibat terlalu syok. Mungkin juga ia menangis sampai gemetar. Mungkin juga campuran antara semuanya.

"Baiklah. Kalau begitu, aku ganti pertanyaannya." Akaito kini berdiri dan memutar badan untuk melihat Rinto. "Apakah Teto ingat bagaimana wajah dua orang yang berada di sini waktu itu."

"Tentu saja dia ingat. Aku sudah menanyainya dan, aku berani bertaruh, kau pasti tertarik untuk mengetahuinya."

Akaito membiarkan Rinto membalik beberapa halaman catatan kecilnya. Mata pria itu penuh dengan binar antusias, mirip seperti seorang polisi baru yang menerima tugas untuk pertama kali.

"Kita akan membicarakan dua individu di sini," ujar Rinto sembari memerhatikan halaman catatan sakunya. "Sepasang pria dan wanita. Keduanya masih muda. Kira-kira pertengahan duapuluhan. Tak ada yang kidal. Yang wanita tingginya sekitar seratus tujuhpuluh sentimeter, mengenakai pakaian sederhana berupa celana jeans abu, ankle boots warna krem, dan mengenakan sweater wol cokelat. Parasnya, kata publik, cantik. Tapi menurutku dia hanya berkharisma. Nama belakangnya adalah Megurine, sementara nama kecilnya adalah Luka."

"Megurine Luka? Maksudmu Megurine—?"

"Ya, ya. Yang artis itu." Rinto mengibaskan sebelah tangannya dengan ringan, merasa tidak perlu mendengar penegasan dari Akaito. "Teto melihat dia dengan sangat jelas. Megurine Luka. Oh, bukankah ini menarik Akai?"

"Karena ada orang terkenal yang diduga terlibat dalam kasus ini?"

"Karena Megurine adalah artis yang ada di bawah tangan Shion Kaito—adikmu."

Akaito mengumpat dan Rinto terkekeh. Pemuda pirang itu tahu betul jika Akaito selalu enggan berhubungan maupun menghubungi adiknya semata wayang, Kaito. Entah karena alasan apa, Rinto tidak tahu pasti. Salahkan Akaito yang selalu menutup rapat-rapat hal yang berkenaan dengan privasinya. Dan Rinto, sebarapapun diposisikan oleh semua orang sebagai pihak yang paling dekat Akaito, mau tidak mau harus merasa enggan untuk menggali dan turut campur terlalu dalam. Meski begitu, Rinto tetap punya spekulasi bahwa hubungan Akaito dan Kaito merenggang akibat perceraian kedua orangtua mereka, dulu sekali. Tapi, tidak menutup kemungkinan juga jika keduanya memang tidak akrab sejak awal.

"Hei, hei, Akai. Mungkin jika kita melakukan penyelidikan ke kantor Shion Management, aku harus membiarkanmu melakukan seorang diri." Rinto berkata. Nadanya mengayun, pertanda main-main. "Aku tidak akan mau jika dianggap sebagai pengganggu reuni keluarga."

"Tutup mulutmu."

Rinto tertawa kecil.

"Bagaimana dengan orang yang satunya?" Akaito bertanya kemudian.

"Oh, ya. Yang satunya lagi pria. Tinggi sekitar seratus tujuhpuluh lima sampai seratus delapanpuluh sentimeter. Mengenakan setelan warna hitam. Rambutnya merah muda pendek. Teto tidak punya petunjuk tentang dia. Jadi, begitu selesai mendata pengunjung, kami akan menanyai para pegawai."

"Periksa juga rekaman CCTV," Akaito mengusulkan. "Aku tidak berharap hanya mendapat informasi tentang dua orang berambut merah muda. Tapi, tidak ada salahnya memeriksa CCTV untuk mendapat gambaran wajah mereka. Tempat ini punya CCTV, 'kan?"

"Tentu. Ijin untuk melihat rekaman CCTV akan segera kuurus."

"Oh, dan, tanyakan pada Teto atau Defoko; apakah Neru mengenal seseorang dengan rambut abu-abu?"

Kening Rinto bergerak, membentuk sebuah kerutan. Bingung. Sedaritadi mereka membicarakan tentang dua orang berambut merah muda dan tak sekalipun menyebut tentang warna abu-abu. Namun Akaito langsung menyeringai, seolah-olah telah menduga Rinto akan mengeluarkan reaksi seperti itu.

Mungkin karena itulah, Akaito maju selangkah. Seringainya belum hilang, bahkan ketika tangannya bergerak pada Rinto, menyodorkan sapu tangan yang sedaritadi ia pegang. Menyuruh pemuda pirang itu menengok apa yang tergeletak di atas sana.

"Kutemukan di baju korban." Ia nyaris berbisik. "Rambut abu-abu."

.

.

.

tbc