Rate : T-M (Rate akan semakin naik di chapter-chapter selanjutnya)

Genre : Romance, Drama, Family, and a lil bit Humor (Alternative Universe)

Desclaimer © Masashi Kishimoto

Story by Yumae-chan desu

Warning : OOC, Umpatan and lime?


Pagi kembali menyambut, semilir hawa sejuk serasa membawa kedamaian. Dua pasang manik berwarna amber sedikit demi sedikit mulai terbuka dari tidurnya yang err… tidak bisa dibilang nyenyak karena pemilik kedua manik tersebut hanya tidur beralaskan bed cover.

"Engh… ," lenguh gadis bermahkota coklat tersebut, ia meregangkan badannya yang terasa seperti digilas truck berkali-kali dan bangkit dengan mata wajah yang masih mengantuk.

"Bed cover sialan," umpatnya, ia mendongakkan kepalanya sambil menghela napas. "Ehh… aku malas berangkat kuliah."

Tenten segera bangkit dari bed cover-nya, ia mengambil handuk dan masuk kekamar mandi. Beberapa saat kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan celana jeans hitam dan sweeter abu-abu yang tidak terlalu tebal namun hangat. Tenten memutuskan untuk menggerai rambut coklatnya ketimbang mencepolnya menjadi dua seperti biasa.

Ia memandang meja nakas yang ada didepannya, surat perjanjian itu masih belum ia tanda tangani, hatinya masih bimbang untuk menyetujuinya atau tidak. "Menyebalkan," gerutunya.


"TEN-CHAAANNN!" teriak seorang pemuda berambut mangkok, matanya berbinar melihat keberangkatan sahabatnya itu.

"Lee, hentikan," ujar Tenten sambil membuka bukunya, beberapa hari tidak berangkat kuliah membuatnya ketinggalan beberapa materi.

"Panda, akhirnya kau berangkat juga," sapa seorang gadis berambut merah, kulitnya gelap eksotis namun, ia masih terlihat cantik."Karui, berhenti memanggilku Panda," gerutu Tenten tidak menyukai nama panggilan yang diberikan oleh sahabatnya.

"Oh, iya aku lupa hari ini kan kau tidak menyepol rambutmu," ujar Karui enteng sambil terkikik. Sudut siku berwarna merah mulai muncul di dahi Tenten tapi, ia memutuskan untuk tidak mengurusi celotehan sahabatnya itu.

"Karui, kemarin Profesor Matsumoto memberikan materi apa?" tanya Tenten perihal kuliah kemarin."Tck. Percuma kau bertanya padanya, sepanjang mata kuliah kemarin Karui hanya tidur," jawab Lee dengan nada mengejek.

"Kau mengejekku? Lagi pula kemarin aku kan capek harus lembur," bela Karui. "Lembur menggoda laki-laki maksudnya?" sudut siku merah pun muncul di dahi Karui dan tanpa aba-aba ia langsung menjotos wajah pemuda tersebut, "TEMEEE!"

"Astaga, aku pusing," Tenten hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku kedua sahabatnya yang kekanakan dan sama sekali tidak bermaksud untuk memisahkan mereka.

"Tenten, hari ini aku dan Darui akan ke distrik Roppongi, apa kau mau ikut?" tanya Karui setelah puas menyiksa pemuda berambut mangkok tersebut. Belum sempat Tenten menjawab pertanyaan itu, seseorang berpakaian jas laboratorium putih masuk.

"Baiklah semuanya masuk. Ōhayou gozaimasu," sapa lelaki tua tersebut membuka kelas."Ōhayou gozaimasu," jawab seluruh mahasiswa serentak.

"Di mata kuliah pagi ini, aku akan menjelaskan mengenai momentum dan juga frekuensi, apakah semuanya kenal dengan pendulum?" gurau professor tersebut mengurangi ketegangan di kelasnya, para mahasiswa pun sedikit tertawa mendengar gurauan tersebut.

"Ah, dan untuk Nona Tenten," Tenten tersentak menatap lelaki tua itu, seluruh mata di kelas itu pun ikut menengok kearahnya. "Aku?" tunjuk Tenten pada dirinya sendiri.

"Ya, ada seseorang yang sedang menunggumu di ruang kantor, aku harap kau segera menemuinya," Tenten hanya mengangguk sembari membereskan bukunya. Ia memandang kearah Karui yang menarik sweeternya.

"Siapa?" tanya Karui. "Entahlah," jawab Tenten setelah itu ia segera berdiri dan keluar menuju kantor Waseda University.

Beberapa saat kemudian ia sampai di ruangan kantor Waseda University dan disana terlihat seorang wanita dengan pakaian kerja, rambut hitamnya dibentuk menjadi cepol satu sedang berbicara dengan pihak kampus.

"Ka-kau," ujar Tenten setelah menyadari siapa wanita itu. "Oh, Tenten," sapa wanita tersebut.

"Kau kan wanita yang ikut ke apartemenku dua hari yang lalu dengan laki-laki si—," Tenten menghentikan perkataannya, hampir saja ia mengumpat didepan petinggi kampus. "Ada apa?" tanya Tenten.

"Kemari ikut aku," setelah mengucapkan permisi pada pihak kampus wanita tersebut berjalan keluar dari kantor. Tidak ada pilihan Tenten pun mengikuti wanita tersebut. "Kita mau kemana?" tanya Tenten, lagi.

"Ikuti saja aku, ngomong-ngomong namaku Saeko, Saeko Suzuki. Saat kemarin aku ke apartemenmu kita belum sempat berkenalan,"

""I-iya, namaku Tenten," ujar Tenten sambil bersusah payah menyamakan langkah dengan Saeko.

"Aku sudah tahu. Oh, iya, apa kau membawa surat perjanjiannya?" tanya Saeko sambil tiba-tiba berhenti. "Aku membawanya, ada apa?"

"Apa kau sudah menandatanganinya?" tanya Saeko. "Belum," jawab Tenten kebingungan.

"Tanda tangani itu sekarang," perintah Saeko.

"A-apa? Tapi aku belum memutuskan— ,"

"Kubilang tanda tangani sekarang, apa kau mendengarku, Nona Tenten? Atau kau ingin diusir dari apartemen itu" ucap Saeko mengulangi kata-katanya tadi dengan tegas, mendengar itu Tenten hanya mengangguk pasrah. Tenten pun segera mengeluarkan pulpen dan menandatanganinya asal.

"Bagus," Saeko kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat parkiran di Waseda University.

"Ta-tapi kalau aku boleh bertanya, memangnya kenapa?" tanya Tenten. "Masuklah, aku akan menjelaskannya didalam," tanpa sadar ternyata mereka sudah sampai di tempat parkir, di samping sebuah mobil Red Picanto, Tenten pun dengan agak ragu masuk kedalam mobil tersebut diikuti oleh Saeko di sisi kemudi.

Saeko segera menyalakan mesinnya dan mobil beremblem KIA tersebut melesat menelusuri jalan Shinjuku.

"Jadi?" tagih Tenten pada Saeko. Saeko menghela napas, tak menyangka wanita pilihan bosnya itu sangat cerewet, "hari ini Hyūga-sama menemui Presiden dan Presiden memutuskan untuk memajukan waktu pelaksanaan pesta perusahaan,"

"Nani? Pesta?"

"Yah, rencananya Hyūga-sama akan membawamu ke pesta itu dan memperkenalkanmu sebagai tunangannya," ujar Saeko tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan. Mulut Tenten hanya membentuk huruf O sambil mengangguk paham, detik berikutnya Tenten tidak berani bertanya lagi karena melihat ekspresi Saeko yang sangat serius.


Malam sebelumnya

Bunyi dering telepon terus menggema disebuah ruangan kerja, sudah berkali-kali telepon tersebut berdering sampai mati namun, si empunya terlihat mengabaikan panggilan itu. Pria bermata amethyst tersebut terlihat sangat fokus dengan dokumen-dokumen yang ada dihadapannya, kemeja yang dipakainya terlihat sedikit berantakan dengan dua kancing atas yang terbuka dan dasi yang mengendur tapi, hal tersebut tidak sedikit pun mengurangi pesonanya.

Telepon yang ada disebelahnya kembali berdering, sepertinya penelpon tersebut sama sekali tidak pernah menyerah. Sambil menghela napas Neji memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut.

"Moshi-moshi,"

"Lancang!" Neji segera menjauhkan gagang telepon tersebut dari telinganya, ia tahu siapa yang menelponnya.

"Tōu-san,"

"Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku dari kemarin?"

"Aku sibuk, Tōu-san tahu kan angka investasi dan saham di perusahaan kita semakin menurun," Neji mengusap wajahnya dengan tangan kirinya, ia terlihat lelah karena lembur.

"Hn. Kau ada di Chiba kan? Temui Tōu-san di Hotel Koshitsu, Yatsukaido," perintah Hizashi melalui telepon.

"Tapi— ,"

"Tidak ada bantahan, aku dan Hiashi ingin berbicara denganmu,"

Ia memandang jam dinding yang ada dikantornya, waktu menunjukkan pukul 10 malam, "baiklah," ucap Neji dengan nada terpaksa, sebenarnya ia sedang tidak ingin menemui ayahnya ataupun kembaran ayahnya. Namun sialnya, mereka berdua yang menemuinya


Koshitsu Hotel—Yatsukaido—Prefektur Chiba—Tokyo

Setelah beberapa menit perjalanan dari pusat kota Chiba menuju ke Yatsukaido, sampailah Neji di Koshitsu Hotel dimana ayah dan kembaran ayahnya menunggu. Neji masuk mengikuti pegawai hotel yang menunjukkan dimana ayahnya berada, Koshitsu Hotel memiliki gaya bangunan kuno Jepang, terinspirasi dari beberapa bangunan kuil yang ada di Jepang membuat hotel ini terlihat berbeda dari bangunan hotel pada umumnya. Selain itu hotel ini juga menawarkan beberapa fasilitas lain seperti tempat pertemuan bisnis, restoran, gedung pertemuan dan lain sebagainya.

Beberapa saat kemudian pegawai hotel tersebut mempersilahkan Neji masuk kesebuah ruangan VIP restoran Koshitsu Hotel, terlihat Hiashi dan Hizashi sedang menikmati minuman anggur bersama.

"Ah, Neji," sapa Hiashi.

"Hiashi-sama, Hizashi-sama" ucap Neji sambil membungkuk.

"Duduklah, nak," ujar Hizashi mempersilahkan Neji untuk duduk. Neji duduk didepan Hiashi dan Hizashi.

"Kau mau anggur?" tanya Hiashi.

"Terimakasih, Hiashi-sama," sebenarnya Neji sudah tidak tahan dengan basa-basi ini namun, ia mencoba untuk menghormati ayah dan pamannya.

"Sebenarnya kami menemuimu karena ada sesuatu yang ingin kami bicarakan," ucap Hizashi menyudahi basa-basi mereka.

"Aku dan Hiashi memutuskan untuk memajukan pelaksanaan pesta perusahaan menjadi besok malam," lanjut Hizashi. "A-apa? Tapi kenapa?" tanya Neji.

"Aku akan pergi ke Singapore untuk melakukan pemeriksaan," kata Hiashi menjelaskan.

"Tapi kenapa mendadak begini,"

"Sudahlah Neji, ah ngomong-ngomong aku sudah menghubungi Jiro soal perjodohanmu dengan putrinya, dan ia menyetujuinya,"

"Oh, Neji akan dijodohkan? Kenapa kau tidak bilang kepadaku, Hizashi. Aku kira Neji sudah memiliki calon sendiri," ucap Hiashi sambil terkekeh sedikit terkejut mendengar Neji akan dijodohkan.

"Orang gila kerja seperti dia mana mungkin memiliki kekasih," Hiashi dan Hizashi pun tertawa bersama. Neji sedikit panas mendengar pembicaraan dua orang tua didepannya, ia pun berdeham untuk menarik perhatian mereka.

"Sebenarnya, Hiashi-sama benar," ucap Neji sambil memberikan pandangan dingin dan menantang pada ayahnya, seketika itu juga ruangan berubah menjadi hening.

"Apa maksudmu?" ucap Hizashi.

"Sebenarnya aku sudah memiliki kekasih," ucap Neji dengan mantap. "Apa? Apa kau mencoba bercanda?" balas Hizashi dengan sedikit emosi.

"Hizashi, tenanglah. Neji silahkan teruskan," ujar Hiashi mencoba untuk mengurangi ketegangan diantara ayah dan anak itu.

"Sebenarnya aku sudah memiliki kekasih dan kami sudah bertunangan,"

"Benarkah?" tanya Hizashi tidak percaya. "Kalau begitu buktikan," lanjut Hizashi menantang.

"Aku akan membawanya besok malam di pesta perusahaan," ujar Neji sambil menyeringai, setelah itu ia meminta ijin untuk kembali ke tempat kerjanya.

"Anak itu, benar-benar," ucap Hizashi begitu Neji keluar. "Tenanglah Hizashi, dia itu anak muda," ujar Hiashi menangkan saudara kembarnya.

.

.

"Kusho!" umpat Neji bergitu keluar dari restoran tersebut, ia langsung mengambil telepon genggam di kantong celananya dan menelpon sekretarisnya.

"Saeko, jemput gadis itu pagi ini juga dan persiapkan dia," setelah mengucapkan hal tersebut Neji langsung memutus sambungan telepon.


Distrik Ginza—Prefektur Chūo—Tokyo.

Tenten terkesima, saat ini ia berada di Ginza diprefektur Chūo, Tokyo. Ginza merupakan kawasan mewah dan glamor, banyak pengusaha kaya dan artis terkenal tinggal disini. Selain itu disini juga terdapat banyak berbagai Konbini, butik, restoran, kafe serta toko-toko utama dari merek busana elite seperti Chanel, Dior, Gucci, Louis Vuitton, Abercrombie & Fitch, dan lain sebagainya.

"Pertama kalinya ke Ginza?" tanya Saeko sambil mengemudi dan tak melepaskan pandangannya dari jalanan.

"I-iya," jawab Tenten dengan malu-malu karena jujur ia memang belum pernah ke Ginza walau distrik tersebut jaraknya tidak terlalu jauh dari prefektur tempatnya tinggal.

"Kalau begitu selamat datang di Ginza," ujar Saeko sambil menyunggingkan senyumnya pada Tenten, Tenten pun membalas senyuman tersebut.

"Baiklah kalau begitu mari kita awali dengan gaun," Saeko menghentikan mobilnya didepan toko busana elite Chanel, Saeko turun diikuti oleh Tenten dan mereka pun masuk. Sekali lagi Tenten ternganga melihat banyak sekali busana-busana mewah dengan harga selangit, jika dibandingkan dengan gaji 2 tahun Tenten bekerja di supermarket mungkin lebih mahal satu busana ditoko ini.

"Saeko-san, selamat datang," sapa seorang SPG sambil menunduk hormat.

"Ah, ya terima kasih," SPG tersebut memandang kearah Tenten. "Apakah dia gadisnya?" tanya SPG ber-tag name Sawako Yamaguchi tersebut.

"Iya, tolong bantu dia memilih gaun, Sawako"

"Baiklah, mari ikut saya nona," Sawako mempersilahkan Tenten untuk mengikutinya, ia—Tenten— memandang kearah Saeko sedikit ragu.

"Pergilah, aku akan menjemputmu beberapa jam lagi," Saeko pun keluar dari toko tersebut.

"Pilihlah sesuka hati anda nona,"

"Eh? Sesuka hatiku? Ta-tapi bagaimana aku membayarnya?" ucap Tenten sambil menunduk malu.

"Tenang saja, disini semua gratis,"

"Nani? Gratis?"' mata Tenten terbelalak, tidak mungkin toko se-elit ini menggratiskan seluruh busana mahal mereka. Sawako terkekeh melihat tingkah laku gadis milik tuannya itu, yah setidaknya itu yang ia tahu.

"Nona, toko ini berada dibawah naungan Tako Groups milik keluarga Hyūga, Neji-sama memintaku untuk melayani anda, jadi tenang saja," ujar Sawako menjelaskan.

"Ba-baiklah," Tenten tersenyum canggung.


Saeko memasuki sebuah Penthouse, didalam sana terdapat seorang pria berambut coklat tengah memandangi keadaan distrik Ginza.

"Hyūga-sama," ucap Saeko sambil membungkuk.

"Apa kau sudah melakukannya?" tanya Neji sambil mematikan rokoknya, ia sebenarnya bukan perokok aktif namun, sesekali ia merokok untuk menghilangkan sedikit ketegangan dan stress yang melanda.

"Hai, Hyūga-sama. Sekarang ia sedang kuserahkan pada Sawako, anda tinggal menunggu saja,"

"Hn. Baiklah, mari kita buat para Hyūga tua itu menelan kata-katanya sendiri," ujar Neji sambil menyeringai, membayangkan bagaimana reaksi keluarganya nanti, terutama sang ayah, Hyūga Hiashi.

"Hai,"

.

.

Neji berangkat ke pesta itu sendirian, Saeko sedang menjemput Tenten yang ia serahkan pada Sawako di toko busana Chanel.

"Neji," panggil seorang wanita paruh baya bermahkota helaian hitam panjang, manik matanya berwarna coklat terang, wanita itu mengenakan sebuah gaun berwarna krem panjang dengan model single sleeve, ia terlihat cantik walaupun umurnya hampir menginjak setengah abad.

"Okā-san," wanita itu langsung memeluk Neji.

"Kenapa kau jarang sekali menemui Kā-san, Kā-san sangat merindukanmu,"

"Okā-san terlalu berlebihan, bukankah aku baru saja dari Tokyo minggu kemarin," wanita itu melepaskan pelukannya.

"Tapi kemarin Kā-san sedang tidak dirumah," rengek wanita itu.

"Baiklah, baiklah. Aku yang salah,," walau sudah tua kadang, ibunya masih saja bersikap manja.

"Mitsuko Hyūga," panggil seorang pria dari belakang, sorot matanya memandang tajam kearah Neji.

"Oh, anata,"

"Jadi kau sudah disini" ucap Hizashi dengan nada dingin pada Neji. "Jadi, dimana perempuan itu?" lanjutnya lagi, Mitsuko yang mendengar perkataan suaminya kebingungan.

"Perempuan? Perempuan apa?" tanyanya menuntut sebuah jawaban. "Oh, kemarin putramu mengatakan bahwa ia akan membawa kekasih sekaligus tunangannya dan akan mengenalkannya kepada kita,"jelas Hizashi dengan datar.

"A-apa? Benarkah Neji? Kenapa kau tidak pernah mengatakannya kepada ku?"

Tiba-tiba saja ruangan tersebut menjadi hening, semua mata memandang kearah tangga dimana seorang gadis bermanik amber berdiri, ia mengenakan sebuah gaun panjang berwarna coklat pastel tanpa lengan sehingga menampakkan pundak dan lehernya yang halus, helaian coklat panjangnya tergerai rapi, wajahnya terpoles dengan make-up natural. Sungguh kecantikannya dapat memikat pria manapun.

Tenten merasa agak grogi ketika semua mata memandang pada dirinya, ia merasa seperti orang aneh. Dengan hati-hati ia melangkah turun, setelah sampai dibawah Neji pun menghampirinya, ia—Neji— mengambil tangan Tenten dan mengecupnya dengan lembut lalu tersenyum memandang manik amber Tenten. Ia—Tenten— tidak tahu kalau pria es ini bisa tersenyum dan membuatnya merona.

"Kemari," ajak Neji sambil menelusupkan tangan kanannya dipinggang ramping Tenten. Mereka menghampiri kedua orang tua Neji.

"Otōu-san, Okā-san. Perkenalkan Tenten, calon menantu kalian," ucap Neji sambil menyungingkan senyum penuh kemenangan, apalagi setelah melihat ekspresi sang ayah, seluruh ruangan pun berdecak.

"Oh, astaga Neji, dia sangat cantik," ucap Mitsuko sedikit terharu. "Hyū-Hyūga-sama," ucap Tenten grogi, ia bingung harus memanggil ibu Neji dengan sebutan apa.

"Apa yang kau bilang? Panggil aku Okā-san," kata Mitsuko dengan sumringah. "Okā-san," ucap Tenten dengan nada canggung.

"Neji, kenapa kau tidak pernah mengenalkan gadis secantik ini kepada Okā-san,"

"Maaf Okā-san,"

"Jadi, Tōu-san," ucap Neji menagih janji sang ayah untuk membatalkan perjodohannya dengan Furoshaki Shion. "Hn. Baiklah," gumam kepala keluarga tersebut sedikit tidak ikhlas, Neji tersenyum penuh kemenangan.

Musik Jazz mulai dimainkan dan suasana pesta kembali seperti semula, Mitsuko pun mulai berceloteh menanyakan banyak hal pada Tenten, sepertinya ia memang penasaran pada kekasih 'palsu' putranya ini. Tenten menanggapi semua pertanyaan itu sambil tersenyum canggung, dan dua pria es disana hanya diam mendengarkan entah itu music Jazz atau celotehan Mitsuko. Tenten terlarut dalam pembicaraannya dengan Mitsuko, ia tidak menyangka ibu dari pria yang ia anggap angkuh itu ternyata sangat baik dan ramah, berbeda 180 derajat dengan putranya.

Saking larutnya Tenten tidak sadar tangan besar milik pria disampingnya mulai bergerak turun dari pinggang menuju bokongnya. Tenten terkesiap ketika Neji mulai mengeluskan tangannya, "Neji!" pekik Tenten sambil menyikut pria itu.

Mitsuko yang melihat tingkah dua sejoli didepannya hanya terkikik, "lihatlah mereka, masa muda memang patut dikenang, iyakan anata?"

"Hn," gumam Hizashi, ia masih tidak percaya dengan gadis itu.

"Dasar mesum," ujar Tenten dengan emosi tapi, pria bermanik lavender itu malah mengeratkan cengkramannya pada pinggang ramping gadis itu.

"Diamlah," perintah Neji pada Tenten, ia—Tenten— menghembuskan napasnya dengan kasar, ia tidak menyangka selain angkuh ternyata pria ini juga mesum.

Kedua orang tua Neji pergi menemui tamu yang lain dan meninggalkan mereka berdua.

"Kau!" tujuk Tenten pada Neji. "Aku tidak menyangka ternyata kau itu selain angkuh tetapi juga mesum,"

"Berisik," jawab Neji dengan enteng. Tenten terkesiap dengan jawaban enteng pria didepannya, "dasar menyebalkan,"

"Memang," jawab Neji dengan menyungingkan sebuah seringaian, rasanya ingin sekali Tenten merobek seringaian itu.

"Hemm… Mr. Hyūga," deham seorang pria asing berambut pirang, wajahnya terlihat sangat eropa dengan setelan tuxedo hitam.

"Oh, Mr. Bexter, how are you?" sapa Neji dengan bahasa inggris yang cukup lancar.

"I'm fine, so, this is your fiancé? She's so beautiful, congratulation,"

"Thank you Mr. Bexter,"

"Ah, halo lady, my name is John Bexter, I'm your husband's work buddy," ujar Mr. Bexter sambil mengambil tangan kanan Tenten dan menciumnya dengan sopan.

"Aa Ha-hai," jawab Tenten dengan canggung, ia tidak tahu harus menjawab apa karena is sama sekali tidak tahu apa yang sedang dua orang itu bicarakan.

"Oh, no, no Mr. Bexter she's is not my wife yet,"

"Oh come on, it's okay, you'll marry her right?" mereka berdua pun terkekeh kecil kecuali Tenten.

"I will see you later, Mr. Hyūga," pria eropa itupun pergi meninggalkan mereka berdua, Tenten menghela napas lega akhirnya orang asing itu pergi juga.

"Ada apa denganmu?" tanya Neji. "A-apa?" tanya Tenten kebingungan.

"Kenapa kau diam saja?"

"A-aku tidak bisa berbahasa inggris," jawab Tenten jujur, ia memang tidak bisa berbahasa inggris.

"Apa? Astaga, kau bisa berbahasa Korea tapi tidak berbahasa inggris?" ujar Neji dengan nada mengejek, mendengar nada mengejek itu sudut merah muncul didahi Tenten.

"Ya, aku memang tidak bisa berbahasa inggris, lagi pula orang Jepang kan memang tidak bisa berbahasa inggris!" ucap Tenten dengan ketus.

"Tapi aku orang Jepang," ujar Neji sambil menyeringai. "Arrrgghhh… kau itu! Dasar menyebalkan!" Tenten berbalik meninggalkan Neji dengan emosi.

"He-hey kau mau kemana?"

"Kamar mandi," Neji hanya tersenyum melihat tingkah Tenten, entah kenapa ia sangat suka menggodanya sampai emosi.

"Kawaii."


Tenten membuka pintu kamar mandi dengan kasar, emosinya masih diubun-ubun karena perlakuan Neji tadi.

"Dasar Hyūga sialan," umpat Tenten tanpa segan-segan, lagi pula ia sendirian di kamar mandi ini.

"Memang dia pikir dia siapa? Selain itu juga mesum, ugghhhh, sebal sekaliiii," setelah puas memaki pria itu Tenten memandang kearah cermin, wajahnya terlihat berbeda dari biasanya, bibir tipis yang biasanya berwarna pucat kini terlihat lebih cerah dengan warna lipstick baby pink dan wajah yang biasanya agak kusam sekarang terlihat lebih segar, penampilannya juga berubah 180 derajat.

"Benar-benar bebek jelek yang berubah menjadi angsa," Tenten menyalakan keran wastafel untuk mencuci tangannya, suasana kamar mandi itu sepi kecuali suara gemercik air keran dan tangisan… tunggu, tangisan? Siapa yang menangis? Tenten segera menutup keran tersebut dan berbalik menatap pintu-pintu closet yang ada dibelakangnya.

Jantung Tenten semakin berdebar ketika tangisan tersebut semakin menjadi-jadi, napasnya pun memburu membayangkan siapa yang menangis. Bagaimana kalau yang menangis itu adalah hantu seperti difilm-film horror yang ia tonton?

"Ah, tidak, tidak, tidak mungkin ada hantu Ginza," Tenten mencoba berpikir positip, ia menenangkan pikiran dan hatinya dan mulai melangkah kesalah satu pintu yang berada diujung kamar mandi dimana suaran tangisan tersebut terdengar paling kencang.

Tangannya terulur hendak membuka pintu tersebut namun, secara tiba-tiba pintu itu terbuka membuat Tenten tersentak kaget. Diambang pintu tersebut terlihat seorang wanita berambut pirang sebahu dengan gaun yang terlihat seksi, wajahnya kusut karena menangis, Tenten memerhatikan wanita itu ternyata memang bukan hantu. Begitu wanita itu melihat Tenten ia langsung menghambur kepelukan Tenten sambil berkata, "Positip, hiks… Semuanya positip,"

"A-apanya yang positip?" tanya Tenten kebingungan, ia tidak mengerti maksud dari wanita yang memeluknya secara tiba-tiba. Wanita itu melepaskan pelukannya dan menunjukkan sebuah stick digital, stick digital tersebut menunjukkan dua garis merah.

"I-itukan… ," Tenten menyadari benda apa itu, sebuah testpack. Wainta itu kembali menangis sambil meringkuk.

"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya Tenten.

"Tiga kali, tiga kali aku mengetesnya dan semuanya positip," rancau wanita itu sambil tersedu.

"Apa yang harus aku lakukan? Ini semua gara-gara si brengsek itu," rancau wanita itu kembali sambil menatap Tenten. "Ah, aku tahu," ucap wanita tersebut beridir sambil menghapus air matanya.

"Aku akan menggugurkannya, yah menggugurkannya," setelah mengucapkan hal tersebut wanita itu langsung berlari keluar dari kamar mandi.

"Apa? Nona tunggu, kau tidak boleh menggugurkannya," Tenten mengambil dompet wanita itu yang tergeletak dilantai kamar mandi dan memasukan semua testpack kedalamnya.

"Nona, tunggu," Tenten beruasaha mengejarnya namun, wanita itu menghilang dikerumunan tamu pesta, ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan dan pandangannya terhenti di dekat pintu masuk. Tenten segera mengejarnya tak peduli ia menabrak banyak tamu-tamu penting.

"Nona," panggil Tenten, wanita itu langsung berlari keluar. Saat hendak menyusul wanita itu lagi Tenten tersandung karpet dan jatuh menabrak seorang pelayan yang sedang membawa nampan berisi gelas-gelas Sampanye. Suara pecahan gelas menggema diseluruh ruangan dan hal ini menarik perhatian seluruh tamu termasuk Neji dan keluarganya. Dompet yang Tenten bawa terjatuh dan seluruh isinya tercecer didepan seorang wartawan.

"Ugh… ," erang Tenten, kakinya terasa sakit karena terjatuh. Wartawan yang ada didepan Tenten memungut sebuah testpack yang ada depan kakinya, matanya terbelalak ketika melihat tanda ditestpack tersebut.

"Po-positip, positip, tunangan Neji Hyūga positip hamil!" pekik wartawan tersebut, ia langsung memotret Tenten yang sedang terbaring dilantai, hal ini langsung menarik perhatian wartawan lainnya.

"Nona, bisa kau jelaskan kepada kami tentang kehamilan ini," tanya seorang wartawan lainnya, serta rentetan pertanyaan lainnya, kepala Tenten terasa pusing karena dahinya terantuk nampan ditambah serbuan dari wartawan yang terus memotret dan menanyainya.

"Be-berhentilah," ucap Tenten, matanya berkunang-kunang kemudian ia merasa seseorang menutupinya dengan jas lalu menggendongnya bridal style menjauh dari kerumunan wartawan itu, beberapa bodyguard berbadan besar langsung mencegah wartawan-wartawan itu masuk lebih jauh.


Neji membawa Tenten masuk kesebuah kamar yang ada digedung tersebut dan membaringkannya diranjang.

"Neji," panggil Tenten.

"Bodoh, kenapa kau begitu ceroboh," cecar Neji sambil melepaskan sepatu Tenten, wajah Tenten pun berubah menjadi cemberut.

"Dasar menyebalkan," ucap Tenten. "Bagaimana kalau wartawan itu menginterogasimu lebih jauh? Sandiwara kita bisa terbongkar," ujar Neji.

"A-apa? Tenang saja aku tidak akan mebocorkan rahasia kita," balas Tenten dengan nada ketus, Neji hanya memandangnya dengan datar.

"Kau bisa menjelaskannya padaku?" Neji mengacungkan sebuah testpack yang Tenten bawa tadi, ia—Neji— sempat memunguti testpack-testpack itu sebelum menggendong Tenten

"Itu bukan milikku," ucap Tenten jujur. "Benarkah? Tapi ada tiga disini," Neji menunjukkan dua testpack lainnya.

"Sungguh itu bukan milikku, aku saja masih perawan bagaimana aku bisa hamil?"

"Kau masih perawan, eh?" Neji mengangkat sebelah alisnya, ternyata gadis didepannya masih perawan. Tenten merona menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.

"Po-pokoknya itu bukan milikku," Tenten pun membalikkan badannya memunggungi Neji dan menenggelamkan wajahnya dibantal. Neji menghela napas, tiba-tiba ketukan pintu terdengar, ia segera menghampiri pintu. Neji meletakkan tiga testpack tersebut di meja tamu dan membuka pintu, orang tua Neji ternyata menyusul mereka.

"Apa dia tidak apa-apa, Neji?" tanya Mitsuko dengan khawatir, sang ayah Hizashi tampak memandang Neji dengan sorot mata tajam.

"Dimana dia, Kā-san ingin menemuinya," Mitsuko langsung memaksa masuk. "Kā-san dia sedang istirahat,"Neji menyusul sang ibu yang menghampiri Tenten didalam kamar.

"Tenten, kau tidak apa-apa, sayang?" Mitsuko langsung memeluk Tenten. "Ah, Kā-san aku tidak apa-apa"

Hizashi tidak mengikuti sang istri kedalam kamar melainkan ia berada diruang tamu dan memerhatikan tiga testpack di meja itu. Ia mengambilnya dan berjalan menuju kamar.

"Neji, bisa kita berbicara?" ucap Hizashi dengan tenang.

"Aa, hai,"

"Disini saja," ujar sang ayah, Neji pun mengambilkan sebuah kursi untuk ayahnya, dan Hizashi pun duduk disitu.

"Apakah kalian bisa menjelaskan hal ini?" Hizashi menunjukkan tiga testpack yang ada ditangannya. Mata Tenten membesar, ia tidak tahu harus menjawab apa.

"I-itu— ,"

"Neji," panggil Hizashi memotong kata-kata putranya. "Tōu-san tahu kalian sudah bertunangan tapi Tōu-san tidak menyangka kalau hubungan kalian sudah sejauh itu dan Tenten hamil sebelum kalian menikah,"

Tenten dan Neji hanya bisa terdiam, keduanya tidak ada yang berani membuka suara.

"Hizashi, sudahlah, lagi pula pada akhirnya mereka juga akan menikah," bela Mitsuko, ia tidak tahan karena Hizashi terus-terusan menyalahkan putranya.

"Iya tapi—"

"Bukankah kau bilang ingin cepat mempunyai cucu? Do'amu sudah terkabul sekarang, harusnya kau berterima kasih kepada Kami-sama," cecar Mitsuko menceramahi suaminya, Hizashi menutup matanya sambil menghembuskan napas, yah ia memang ingin cepat menggendong seorang cucu tapi ia ingin cucunya bukanlah hasil dari hubungan seks sebelum menikah.

"Berhentilah berpikiran kolot," cecar Mitsuko lagi seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki tua itu.

"Hn. Baiklah," Hizashi mengalah karena percuama saja berdebat dengan wanita itu, sudah pasti ia akan kalah telak.

"Ah, kalau Kā-san boleh tahu, sudah berapa lama Tenten mengandung?" Tenten menelan ludahnya susah payah, apa yang harus ia katakan sekarang? Ia tidak menyangka kedua orang tua Neji percaya kalau ia sedang hamil.

"Ah, itu, ano… Ehh,"

"Tiga minggu," jawab Neji asal memotong perkataan Tenten yang kebingungan. Tenten memandang Neji, tidak menyangka pria itu berani berbohong.

"Baiklah, oh, Kā-san dan Tōu-san harus kembali ke pesta sekarang, Neji jaga Tenten dan janinnya baik-baik, Kā-san tidak mau terjadi apa-apa pada cucu Kā-san, dan Tenten jaga kesehatanmu, ne?" Mitsuko dan Hizashi pun segera baranjak, Neji mengantar mereka sampai kedepan pintu. Ia segera menutup pintu setelah mereka pergi.

Ini bisa menjadi rencana yang sempurna untuk semakin meyakinkan ayahnya, ia—Neji— tidak menyangka bisa mendapat jackpot.

BRUK

Lamunan Neji terhenti ketika ia merasa ada yang melempar bantal ke kepalanya, ia berbalik dan mendapati Tenten sudah berada diambang pintu kamar.

"Apa masalahmu?" tanya Neji sambil mengusap kepalanya, walau sebenanrnya tidak merasa sakit.

"Masalahku? Kau tanya masalahku? Aku punya banyak masalah," teriak Tenten emosi sambil melipat kedua tangannya didepan dada.

"Kenapa kau malah bilang kalau aku benar-benar hamil?"

"Aku tidak melakukan apa-apa? Itu salahmu karena sembarangan membawa testpack dengan tanda positip," jawab Neji enteng sambil melenggang santai masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuh atletisnya.

"Bagaimana bisa menjadi salahku? Kalau kau menjelaskan yang sebenarnya pasti tidak akan seperti ini," cecar Tenten sambil berdiri didepan Neji. Neji hanya mendengus dan membuang wajahnya.

"Bagus, mereka benar-benar percaya kalau aku hamil," Tenten memutar bola matanya jengah, apalagi meliahat pria yang sedang berbaring didepannya.

"Neji!," panggil Tenten sambil menendang kaki Neji."Hn," gumam Neji sambil menutup matanya.

"Lakukanlah sesuatu, Neji," Tenten kembali menendang kaki pria berambut panjang itu. "Istirahatlah," perintah Neji.

"Bagaimana kalau mereka tahu bahwa sebenarnya kau berbohong?"

"Emmhh… Cerewet," ujar Neji sembari menarik pinggang ramping Tenten sehingga gadis itu jatuh menimpa dirinya.

"KYAAA… apa yang kau lakukan?' pekik Tenten sambil mencoba untuk melepas dirinya, Neji bergerak merubah posisi mereka menjadi ia yang ada diatas sekarang. Manik lavender Neji memandang Tenten dengan intens.

"A-apa yang mau kau lakukan?," semburat merah muncul di kedua pipi Tenten mnyadari posisi mereka sekarang, apalagi wajah Neji yang sangat dekat dengannya. Dada Tenten yang tergolong besar terhimpit oleh dada bidang milik Neji sehingga membuatnya seolah-olah ingin terlepas dari gaun yang Tenten pakai. Neji menyeringai melihat reaksi gadis dibawahnya, ia menunduk menyesapi bau harum mawar di leher mulus milik Tenten.

"Hen-hentikan, lepaskan aku," ujar Tenten memohon Neji untuk melepaskannya. Tapi aksi Neji semakin berani ia mulai mengecup lembut leher dan pundak Tenten, tak jarang Neji juga menyesap kulit putih itu sehingga memunculkan ruam merah.

"Enghh… ," lenguh Tenten sambil menutup manik ambernya.

"Bukankah kau memintaku untuk melakukan sesuatu? Sekarang kita akan melakukan sesuatu itu" ucap Neji dengan suara baritone-nya yang seksi tepat ditelingan Tenten.

"I-iya, ta-tapi bukan seperti ini, ahh~," Tenten kembali mendesah saat Neji kembali mencium lehernya dan ciuman itu semakin turun kearah dadanya, wajah Tenten semakin memerah. Tangan Tenten mendorong-dorong dada Neji.

"Hentikan! Neji no baka!," pekik TEnten sambil mendorong tubuh Neji untuk menjauhinya sekuat tenaga. Setelah berhasil lolos Tenten segera menjauh dari Neji.

"Baka, baka, baka, baka! Dasar manusia es mesum!" teriak Tenten sambil keluar dari kamar tersebut, wajahnya masih memerah dan penampilannya pun terlihat berantakan. Neji terduduk dikasur, ia hanya terkekeh kecil melihat ekspresi gadis itu, apalagi wajahnya yang memerah seperti tomat.

"Hn. 36B, eh?,"


Heu, akhirnya bisa post chapter 2 juga, entah ini bisa dikatakan update kilat apa enggak, hehe. Sebenernya mau Mae publish dari kemaren2 tapi berhubung hujan gede dan juga mati lampu baru kesampean sekarang. Gak nyangka ternyata banyak yang suka padahal idenya pasaran pake banget, tapi walau pasaran Mae berusaha biar alurnya anti-mainstream.

Bagaimana chapter 2? Apakah sudah greget? Maaf kalo ceritanya agak terlalu memaksa dan kata-katanya aneh karena jujur Mae itu adalah author yang miskin kosakata dan paling males sama yang namanya majas. Yo, btw chapter 1 kemaren masih banyak kesalahan dan untuk adegan surat perjanjian kemaren sebenernya itu time skip jadi, pas Neji ngasih surat perjanjian itu ga Mae tulis, tapi karena kepe'ak' an Mae, Mae lupa ngasih tanda time skip #plakk

Untuk chapter berikutnya mungkin Mae gak bisa update kilat karena sekarang sudah back to school dan Mae juga udah kelas XII, sabar aja ya

Oke, jangan lupa RnR serta kritik sarannya, Minna. Dan terima kasih yang sudah review maupun favorite dan follow

Jaa ne dichapter selanjutnya