Tittle : The Last Masquerade
Main Cast : Do Kyungsoo & Byun Baekhyun
Note : Ini semacem sekuel dari Black Heart dikarenakan ketidaksanggupan author melihat Baekhyun sekarat
Pairing : Baeksoo, sedikit Chansoo (dikit doank)
Happy reading ^^
.
.
.
Author POV
Ratusan buket bunga yang terlempar secara bersamaan menambah riuh suasana hall dimana sekelompok anak muda tengah bersukacita merayakan hari kelulusan mereka. Sorak sorai masih terdengar dan sebagian dari anak muda tersebut yang memutuskan untuk mengambil beberapa gambar sebagai kenang kenangan. Yeah, setidaknya mereka membutuhkan sesuatu yang dapat mengingatkan mereka di hari menyenangkan seperti hari ini. Ini kemenangan yang patut dirayakan.
"Kyungsoo, ayo berfoto bersama!" pria bertubuh mungil itu masih terdiam di sudut hall sekalipun teman temannya meneriakinya untuk berfoto bersama. Keningnya berkerut dan sorot matanya menajam menatap layar ponsel yang tak menampilkan apapun.
"Isshhh, kemana dia?" gumam pria mungil itu, telinganya seolah tuli dan ia tak menghiraukan seseorang yang masih berusaha memanggilnya.
"Do Kyungsoo!" sebuah tepukan di bahu ia rasakan dan Kyungsoo menoleh untuk melihat orang yang sudah menganggunya.
"Apa?" pria mungil itu menjawab dengan malas dan semakin bersandar pada kursi, sikap acuhnya itu membuat pria yang menghampirinya berdecak kesal.
"Aku memanggilmu untuk berfoto bersama? Kenapa mengabaikanku?"
"Aku tak berminat. Kau saja yang berfoto. Aku sedang malas, Taemin ah" kalimat Kyungsoo itu membuat Taemin semakin mencibir namun ia justru mendekati Kyungsoo dan duduk tepat di sebelahnya.
"Semakin apatis saja. Kau tak ingin membuat foto kenangan kelulusan kita?"
"Untuk apa membuat kenangan? Itu hanya memori sementara yang akan hilang dengan cepat saat seseorang mati. Aku tak ingin membuang waktuku untuk sesuatu yang tak berguna" ucap Kyungsoo santai dengan pandangan yang mengamati layar ponselnya.
"Cih, apa kau berencana mati dengan otak yang kosong? Tuhan akan mempertanyakan apa saja yang kau lakukan di dunia hingga mati membawa koper tanpa isi!"
"Pergilah, Taem. Kau merusak moodku" Seolah tak peduli dengan cara Kyungsoo yang mengusirnya secara halus, Taemin justru semakin mendekat dan berusaha mengintip apa yang membuat perhatian Kyungsoo tertarik sepenuhnya pada ponsel yang ia pegang.
"Sebenarnya apa yang kau tunggu?"
"Tak ada"
"Jangan berbohong Pendek!"
"Ck, aku menunggu Chanyeol meneleponku! Kau puas?"
Taemin mengangguk kecil dengan senyuman mengejek yang menghiasi wajah tampannya, sebuah lengkungan muncul di sudut bibir pria itu dan dengan tiba tiba ia mencium pipi Kyungsoo.
"Yak! Lee Taemin!" Kyungsoo mendelik dan menatap sebal pada pria yang justru tengah terkekeh setelah mencuri satu ciuman darinya.
"Hahaha, aku hanya ingin memperbaiki suasana hatimu! Sampai kapan kau akan bertahan dengan sikap menyebalkan pria arogan itu?"
"Bukan urusanmu sama sekali" Kyungsoo merenggut dan mengelap pipinya yang menjadi korban ciuman Taemin.
"Itu menjadi urusanku semenjak kau jadi ikut menyebalkan seperti dia!"
"Sudahlah, jangan meracau lagi dan lanjutkan acara foto foto kalian" Kyungsoo berusaha beranjak dari duduknya saat tangan Taemin menahan lengannya membuat pemuda mungil itu kembali ke posisinya semula.
"Kau mau kemana?"
"Pulang!" kalimat sarkastik terlanjur terucap dan Taemin hanya menarik nafas panjang melihat sikap menyebalkan pria mungil itu.
"Kuantar.." meskipun sempat kesal dengan sikap Taemin sebelumnya, namun langkah kaki Kyungsoo tetap mengikuti pria itu menuju mobilnya. Ia juga memang membutuhkan tumpangan untuk pulang karena kekasihnya sendiri belum memperlihatkan batang hidungnya untuk menjemput Kyungsoo. Ia bahkan belum menerima ucapan selamat kelulusan dari pria jangkung itu. Mungkin benar apa yang dikatakan Taemin, kekasihnya terlalu menyebalkan.
"Oh ya, kau sudah mendapatkan kostum untuk pesta perpisahan nanti?"
"Belum, jadi apa konsepnya?"
"Hanya pesta menggunakan topeng dan kuharap mereka akan mengadakan permainan mencari pasangan, aku ingin sekali menciummu di tengah kegelapan, hahaha"
"Konyol!"
"Jadi, kau akan datang dengan Chanyeol?"
"Entahlah, aku tak yakin…"
. . .
Satu hal yang dapat mengurangi ketegangan dalam pikiran Kyungsoo setelah penat menghadapi harinya adalah berendam dalam air hangat di bathtub dan alunan musik klasik yang ia putar membuat pikirannya rileks dengan cepat. Aroma lavender tercium kuat dari gumpalan busa yang memenuhi permukaan air. Kyungsoo menghela nafas panjang dan menurunkan tubuhnya hingga membuat tubuh pria bertubuh mungil itu tenggelam mencapai batas dagu. Ketika Kyungsoo masih berusaha menikmati waktunya berendam, sebuah pelukan di leher ia rasakan namun tak bisa membuat Kyungsoo merubah posisinya.
"Hei Honey" suara berat dan sexy menyapa indera pendengaran Kyungsoo saat ia masih berusaha menikmati acara berendamnya.
"Hmm.." Kyungsoo hanya menjawab dengan gumaman tanpa menoleh sedikitpun pada suara sexy tersebut, ia sedang tak ingin melakukan interaksi apapun saat seperti ini. Dan seolah mengerti dengan keadaan Kyungsoo yang sedang dalam mood level terendah, pria dengan suara sexy itu justru ikut masuk ke dalam bathtub dengan pakaian lengkap yang masih membalut tubuh jangkungnya. Ia menarik tubuh Kyungsoo kemudian mendudukkan di atas pahanya. Kyungsoo sama sekali tak memiliki tenaga ataupun keinginan untuk memberontak dan ia hanya membiarkan pria yang telah ikut bergabung bersamanya dalam bathtub memeluk tubuh telanjangnya dengan erat.
"Bad day Honey?" tanya si pria jangkung sembari menciumi tengkuk Kyungsoo. Kyungsoo menggeliat dan mencari posisi yang membuatnya lebih nyaman berada dalam pelukan pria itu.
"Kau menyebalkan, Park Chanyeol.." umpat Kyungsoo pelan.
"Maaf, aku tak bisa hadir di acara kelulusanmu. Ada kasus mendesak yang harus kutangani" jemari besar Chanyeol mulai bermain di sekitar perut Kyungsoo memberi sentuhan yang membuat Kyungsoo sedikit mendesah. Sensasi ketegangan menambah hangat air dalam bathtub yang sedikit beriak ketika Chanyeol menghisap kuat leher Kyungsoo dari belakang..
"Sshhh" satu desahan lolos dari bibir mungil Kyungsoo dan alunan indah itu semakin membangkitkan gairah Chanyeol dalam sekejap.
"Kau mau memaafkanku?" Chanyeol mengambil jeda dalam usahanya menyentuh setiap inchi tubuh Kyungsoo dan lidahnya bermain main dengan menjilat daun telinga pria bertubuh mungil yang berada dalam rengkuhan kuatnya.
"Tidak!" Kyungsoo menjawab dengan cepat, namun tubuhnya masih merespon setiap sentuhan Chanyeol padanya.
"Benarkah?" Chanyeol sama sekali tak memperdulikan penolakan Kyungsoo karena bibirnya masih sibuk menciumi area belakang tubuh Kyungsoo.
"Kesalahanmu kali ini terlalu besar Park"
"Beritahu aku bagaimana cara menebusnya?" Chanyeol menghentikan kegiatannya menciumi tengkuk Kyungsoo dan beralih membalik tubuh mungil yang ia pangku. Kedua tangan Kyungoo secara reflex mengalung di leher pria jangkung yang masih memeluknya dengan posesif melebihi batas. Hanya jeda sepersekian detik dan Kyungsoo langsung mencium dalam bibir Chanyeol, ia menghisap bibir pria itu dengan serakah dan kedua tangan mungilnya menarik tengkuk Chanyeol agar ciuman mereka semakin dalam dan liar.
"Hmmpp, mppp" Kyungsoo meracau ketika Chanyeol mengambil alih permainan mereka, tubuh mereka melekat sempurna dan hanya dibatasi pakaian basah yang masih membalut tubuh Chanyeol.
"Sshhh, mmpphhh,"
Desahan Kyungsoo yang semakin berat terdengar lebih indah melebihi music klasik yang masih terdengar dari mp3 player yang Kyungsoo putar, Chanyeol kehilangan akal sehatnya. Ia membuat Kyungsoo kewalahan dengan sentuhan dan ciumannya yang semakin menuntut.
"Kau belum menjawab pertanyaanku?" bisik Chanyeol dengan mesra.
"Apa?" menjawab pertanyaan pria bertubuh besar yang mendekapnya erat, Kyungsoo menggigit bibir bawahnya dengan kuat dan kedua kelopak matanya terpejam.
"Jangan pura pura bodoh Sayang, aku bertanya bagaimana menebus kesalahanku? Apa kita akan melakukannya dengan caraku saja?" Kyungsoo dapat merasakan tangan besar Chanyeol mulai meraba bokongnya dan ia mendesah dengan kuat saat Chanyeol meremas bokongnya.
"Nngggghh"
Chanyeol menyeringai "Baiklah, kita akan melakukannya dengan caraku"
Pria bertubuh besar itu mengangkat tubuh Kyungsoo dan membalik posisi mereka, tangannya membelai lembut selangkangan pemuda mungil yang tersembunyi dalam air berbusa. Kyungsoo hanya bisa pasrah saat Chanyeol semakin mengerjainya.
"Shit.." Chanyeol mengumpat ketika melihat Kyungsoo tiba tiba menjilat bibirnya sendiri dengan gerakan sensual seolah mengajak pria bertubuh besar itu ikut merasakan kenikmatan tubuhnya. Sedikit berhasil karena Chanyeol mulai merasa sempit pada celananya dan ia memutuskan untuk menanggalkan semua pakaian yang masih melekat di tubuhnya.
"Kau yang memulai Honey. Jangan salahkan aku" ucap Chanyeol saat ia melihat Kyungsoo terkikik kecil setelah usahanya menggoda Chanyeol berhasil dengan jackpot karena pria itu tanpa berpikir panjang langsung memperlihatkan tubuh sempurnanya tanpa sehelai benangpun yang menutupinya.
Chanyeol mengangkat kedua kaki Kyungsoo dan menyandarkannya pada pinggiran bathtub, ia menggunakan pakaiannya yang digulung untuk menahan tubuh bagian bawah Kyungsoo agar pria mungil itu lebih merasa nyaman dengan posisinya di dalam bathtub. Sebelum melakukan inti dari semuanya, sorot mata Chanyeol menatap dalam iris mata Kyungsoo kemudian mendekatkan wajahnya agar ia dapat berbisik pelan tepat di telinganya.
"Kali ini kau yakin bisa, tanpa menyebut namanya?"
Kyungsoo menghembuskan nafas dengan berat dan sedikit berpikir. Tangan mungilnya mengusap dengan lembut wajah Chanyeol yang masih menunggu jawaban darinya.
"Beri aku kesempatan lagi.."
. . .
Sinar matahari pagi tepat di pukul 9 merambat masuk menembus kaca jendela dengan tebal 3 inchi yang terpasang pada sebuah kamar. Siluet ranting pohon maple yang meliuk liuk karena terpaan angin membuat si penghuni kamar mendapatkan kesadaran pertamanya. Pria mungil itu menguap lebar dan mengusak wajahnya berkali kali agar rasa kantuk yang ia rasakan dapat hilang.
Kyungsoo menghela nafas panjang dan bangun dari tidurnya, ia melakukan sedikit peregangan dan keningnya sedikit berkerut saat rasa tak nyaman menjalari selangkangannya. Ia meringis ketika menemukan bekas aliran berwarna putih memenuhi tubuh bagian bawahnya menjalar hingga ke paha. Setelah berusaha keras membuat pikirannya bekerja, suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat pria mungil itu terkejut dan menoleh pada seseorang yang keluar dari kamar mandi tersebut hanya dengan tubuh berbalut handuk.
"Morning Honey" Chanyeol tersenyum lembut dan berjalan mendekati Kyungsoo yang masih terduduk di atas ranjang sembari mengusak rambut basahnya menggunakan handuk kecil.
"Morning!" Kyungsoo menjawab sapaan Chanyeol namun kemudian ia memutuskan untuk berbaring kembali. Sebelum Kyungsoo menarik selimut, Chanyeol menghadiahinya sebuah ciuman lembut di kening.
"Apa aku melakukan kesalahan lagi?"
Raut wajah Chanyeol berubah dengan cepat sangat mengingat kesalahan yang kembali Kyungsoo buat, dan itu sedikit membuat moodnya berantakan di pagi ini. Chanyeol menghela nafas berat kemudian mengusap lembut rambut Kyungsoo.
"Ya, harus kuakui kau masih menyebut namanya saat kita melakukan sex dan itu membuatku sedikit terusik" hati Kyungsoo mencelos dan sedikit linangan cairan bening melintas di sudut matanya.
"Maaf" ucap Kyungsoo lirih.
"Apa aku tak memiliki kesempatan lagi Kyung? Aku memang pria brengsek hingga bisa membuat Baekhyun mengambil seluruh bagian hatimu yang seharusnya hanya milikku!"
"Tidak, kau sama sekali tak bersalah Chanyeol ah. Aku yang bodoh karena kalah telak olehnya"
Chanyeol meringis saat melihat airmata yang lolos dari bola mata Kyungsoo. Sangat menyesakkan saat mendapati orang yang kau cintai justru terikat dengan orang lain.
"Kau masih mencintainya?" pertanyaan tiba tiba dari Chanyeol membuat jantung Kyungsoo hampir berhenti berdetak. Butuh waktu lama untuk ia menemukan jawaban dari pertanyaan Chanyeol dan itu cukup bagi Chanyeol untuk yakin jika hati Kyungsoo masih dipenuhi bayangan pria yang hanya hadir selama beberapa hari di hidupnya.
"Aku mengerti.." Chanyeol bangkit dari ranjang dan menyibukkan diri untuk berpakaian sebelum pergi bekerja, tanpa ia sadari Kyungsoo yang berulang kali bergumam maaf di sela isakan kecilnya karena obrolan absurdnya bersama Chanyeol di pagi ini.
. . .
"Kyung, kudengar Daily Seoul sedang membutuhkan editor. Aku memiliki teman disana yang mungkin bisa membantumu jika kau tertarik?"
Kyungsoo mendongak pada Taemin setelah ia menyelesaikan urusannya menambah brown sugar pada Americano yang ia pesan. Seorang pelayan café datang dengan membawakan latte pesanan Taemin juga dua potong cheese cake sebagai pendamping minuman mereka.
"Terima kasih" Kyungsoo tersenyum pada sang pelayan café, namun hal itu membuat Taemin mencibir ketika ia melihat si pelayan justru tersipu malu setelah mendapatkan senyuman dari Kyungsoo.
"Hei Pendek, kau mendengarku tidak?"
Ucapan ketus Taemin membuat Kungsoo menoleh dengan malas.
"Apa?"
"Soal menjadi editor di Daily Seoul?"
Kyungsoo mengangguk kemudian sedikit menyesap Americanonya "Aku ingin menulis buku"
Menjadi penulis buku adalah salah satu dari sekian banyak impian yang Kyungsoo miliki dan pekerjaan editor hanyalah selingan yang ia lakukan ketika bosan dengan kegiatan di kampus. Itu bukanlah tujuan utama hidupnya dan tak perlu mendapat perhatian lebih dari Kyungsoo.
"Hah, masih terobsesi dengan cita citamu itu? Berpikirlah realistis Kyung, menjadi penulis buku tak akan membuatmu kaya dengan cepat. Masyarakat lebih tertarik dengan gossip dan berita politik dibandingkan khayalan subjektif seorang penulis" dia mencoba menbuat Kyungsoo merubah kembali pemikirannya, namun sia sia karena Kyungsoo terlihat sama sekali tak tertarik dengan ocehan Taemin.
"Aku tak meminta pendapatmu Lee Taemin" Kyungsoo justru merespon dengan santai sambil menikmati Americano yang mulai menghangat.
"Sial!"
Kyungsoo tersenyum simpul dan kembali menikmati minumannya. Bola mata bulat pemuda itu mengedarkan pandangan menjelajahi café tempat ia dan Taemin bersantai. Hanya ada beberapa pengunjung di café itu karena mereka datang saat jam bekerja pekerja kantoran. Kyungsoo melihat sepasang kekasih yang saling berbincang di meja dekat pintu masuk, dilihat dari penampilannya mereka seperti berusia sekitar belasan tahun. Mungkin mereka bolos sekolah untuk dapat berkencan, pakaian couple yang mereka kenakan membuat Kyungsoo berdecak pelan.
Tak jauh dari sepasang kekasih yang tengah bergurau, Kyungsoo melihat seorang wanita dengan kacamata tebal focus menatap layar laptop di depannya. Tumpukan kertas saling berjejalan di atas mejanya, membuat minuman wanita tersebut tersingkirkan hingga ujung meja. Terlihat jelas ia memanfaatkan suasana café untuk menyelesaikan pekerjaan. Seperti mendapat telepati jika Kyungsoo tengah memperhatikannya, si wanita berkacamata tiba tiba mengalihkan tatapannya dan saat pandangan keduanya bertemu, wanita tersebut menyunggingkan sebuah senyuman manis kepada Kyungsoo.
Kyungsoo menjadi canggung dan ia membalas dengan tersenyum kikuk. Setidaknya ia tak sampai tersedak minuman karena senyuman tiba tiba dari wanita yang diperhatikannya.
"Kupikir Daily Seoul akan cocok dengan kepribadianmu? Karena mereka membutuhkan editor yang tahan banting" Taemin masih saja meracau ketika Kyungsoo mulai memperhatikan seorang pengunjung yang tengah duduk di meja dekat jendela. Seorang pria dengan jas panjang berwarna hitam, Kyungsoo tak dapat melihat wajah pria itu dengan jelas karena pria itu memakai kacamata hitam dan wajahnya tertunduk karena terfokus pada ponsel yang ia genggam.
Kyungsoo merasa tak yakin namun, ia merasa jika pria itu memperhatikannya sejak ia dan Taemin memasuki cafe.
"B-Baekhyun.." tenggorokan Kyungsoo tercekat dan matanya melebar horor ketika ia mengenali siluet yang tak asing dalam ingatannya bahkan terlalu membekas dalam memori terdalam otaknya. Saat menyadari perubahan raut wajah Kyungsoo, pria dengan pakaian serba hitam tersebut mengambil langkah terburu buru keluar dari cafe setelah memberikan lembar uang won di atas meja untuk tip pelayan.
"Baekhyun ah!" Kyungsoo setengah berteriak dan ia ikut mengambil langkah cepat mengejar pria yang telah berlari keluar dari cafe.
"Kyung! Kyungsoo ya, kau mau kemana?" melihat Kyungsoo yang terburu buru berlari, membuat Taemin dengan refleks ikut mengejarnya.
Langkah kaki Kyungsoo tak mampu untuk menyeimbangkannya dengan pria yang ia kejar. Setelah beberapa menit larut dalam pengejaran yang cukup melelahkan, Kyungsoo mengambil jeda untuk menarik nafasnya yang semakin pendek. Ia mengedarkan pandangan pada jalanan yang mulai dipenuhi orang orang yang berkeliaran untuk mencari makan siang. Namun sosok itu telah menghilang di antara keramaian jalanan.
"Kemana dia pergi?" gumam Kyungsoo dengan menyipitkan kedua matanya berusaha mencari kembali pria tersebut.
"Yak! Sebenarnya kau mengejar apa?" tak lama Taemin muncul dengan nafas tersengal. Ia berdiri di sebelah Kyungsoo dengan berusaha mengatur nafasnya yang semakin pendek.
"Bukan apa apa" Kyungsoo bergumam namun perasaan aneh ia rasakan karena ia sangat yakin jika sosok pria yang baru saja ia lihat adalah Baekhyun.
. . .
Sore hari, Kyungsoo mendapat pesan dari salah satu anak buah Chanyeol jika pria itu sedang berada di kantornya. Oh sebenarnya, Kyungsoo yang bertanya padanya karena ia ingin menemui Chanyeol. Dan adanya Chanyeol di kantor merupakan suatu hal yang langka, karena Chanyeol adalah polisi yang lebih aktif mengejar kasus di lapangan. Terdengar konyol seperti film film action Hollywood tapi minimnya pertemuan antara Kyungsoo dan Chanyeol adalah bukti nyata. Karena itulah, Kyungsoo memutuskan untuk menemui Chanyeol di kantornya, lagipula ada suatu hal yang ia ingin pastikan setelah kejadian ia melihat pria yang mirip Baekhyun siang tadi di café.
Pria mungil itu berdiri cukup lama di depan pintu ruangan Chanyeol dan setelah hanya terdiam selama beberapa menit, Kyungsoo memberanikan diri mengetuk pintu ruangan Chanyeol.
"Masuk" terdengar suara berat Chanyeol yang merespon ketukan tangan Kyungsoo.
"Hai Honey!" Chanyeol tersenyum lebar ketika melihat Kyungsoo masuk dengan langkah kecilnya. Ia langsung menghampiri Kyungsoo bahkan sebelum pria dengan garis wajah cantik itu tiba di meja kerjanya. Chanyeol menarik tubuh mungil Kyungsoo dalam pelukannya dan menghadiahi pemuda itu sebuah lumatan di bibir.
"Tumben sekali kau menemuiku di kantor?" setelah memberi Kyungsoo ciuman selama beberapa menit, Chanyeol mengajak pria mungil itu untuk duduk di sofa yang ada tepat di depan meja kerja Chanyeol.
"Kau sedang sibuk?"
"Tidak juga"
"Umm, Chanyeol ah. Kau bisa menemaniku di pesta kelulusanku sabtu malam nanti? Mereka membuat semacam pesta topeng dan kurasa akan ada permainan mencari pasangan. Aku tak mau berakhir dicium Taemin dalam pesta nanti?" tawa Chanyeol meledak membuat Kyungsoo yang sedang bersandar di dadanya merenggut tanda tak suka.
"Kenapa tertawa bodoh?"
"Tak apa, hanya saja jika dia benar benar melakukannya kupikir menggantung tubuhnya di jembatan sungai Han tak terlalu buruk"
Kyungsoo mencibir,
"Jadi, kau bisa menemaniku?"
"Hm, kasus yang kutangani baru saja selesai, kurasa tak masalah jika aku menemanimu. Kita bisa menghabiskan waktu lebih lama akhir pekan ini"
"Kau serius?" dan senyuman pun terbentuk di bibir Kyungsoo saat Chanyeol mengangguk menanggapi permintaannya.
Keduanya terdiam dengan pikiran dan kegiatan masing masing, Chanyeol masih sibuk membelai rambut hitam Kyungsoo sedangkan pria mungil dalam pelukannya memainkan tangan Chanyeol yang lainnya.
"Chanyeol ah, kau tau dimana Baekhyun dimakamkan?" gerakan jemari Chanyeol yang tengah mengusak lembut surai hitam Kyungsoo terhenti ketika ia mendengar pertanyaan tiba tiba dari Kyungsoo. Hal yang selalu dihindarinya selama ini dan sekarang Kyungsoo mengungkitnya.
"Aku tak tau, keluarganya membawa jasadnya setelah kejadian di atas gedung kosong saat itu tanpa melakukan otopsi sama sekali. Dan setelah itu tak ada kabar lebih lanjut dari mereka. Kenapa tiba tiba bertanya?"
Kyungsoo bernafas dengan berat dan semakin mengeratkan pelukannya pada Chanyeol.
"Tak apa, hanya saja sepertinya akhir akhir ini aku sering melihat seseorang yang mirip dengannya di sekitarku"
"Kau serius.."
Kyungsoo terdiam cukup lama "Entahlah, aku juga tak begitu yakin"
. . .
Kyungsoo belum cukup mabuk setelah meneguk setengah dari botol wine yang ia pesan. Suasana ramai dari pesta perpisahan setelah kelulusan yang diselenggarakan angkatannya sama sekali tak menarik minat pemuda itu bahkan hanya untuk sekedar bergabung bersama mereka di lantai dansa. Setelah menghabiskan sisa cairan berwarna merah pekat di gelasnya, ia membuka ponsel berharap menemukan pesan atau paling tidak panggilan dari seseorang yang ia harapkan dapat menemaninya di pesta malam ini.
"Kau brengsek Park!" umpatan kecil lolos dari mulutnya, dan ia melempar topeng berwarna perak yang sebelumnya ia kenakan. Setelah menuangkan kembali minuman pada gelasnya yang telah kosong, Kyungsoo mengedarkan pandangannya berusaha menemukan pemandangan yang dapat membuatnya sedikit tertarik dengan pesta yang masih berlangsung meriah karena music keras yang mereka mainkan.
Ia melihat Taemin tengah berdansa dengan seorang pria berperawakan tinggi, tentu saja Kyungsoo dapat mengenali Taemin dengan mudah mengingat pemuda itu menggunakan topeng dengan warna yang mencolok. "Cih" Kyungsoo berdecak tak percaya ketika acara menari yang dilakukan Taemin bersama pria itu berubah menjadi acara saling melumat bibir di tengah area hall.
Setelah menegak winenya sekali lagi, Kyungsoo merasakan sakit pada kepalanya. Ia sudah mulai mabuk dan saat kesadarannya semakin menghilang, ia memutuskan untuk mengirim pesan kepada Chanyeol sebelum ia benar benar mabuk.
"Apa kasus yang kau tangani lebih menarik dariku? Baiklah, kau nikahi saja kasusmu dan jangan temui aku lagi!"
"Park sial!" Kyungsoo kembali mengumpat dan menghabiskan sisa wine di gelasnya, rasa sakit di kepalanya semakin menjadi dan ia mulai beranjak dari mini bar tempatnya duduk.
Dengan langkah tak stabil, tubuh pria mungil itu berulangkali menabrak beberapa orang yang masih larut dengan urusannya di lantai dansa.
"Oh, maaf!" Kyungsoo membungkukkan tubuhnya pada seseorang yang ia tabrak, matanya menyipit untuk melihat dengan jelas wajah orang yang masih berdiri tepat di depannya. Seorang pria dengan topeng berwarna hitam yang bertengger di wajahnya. Pria itu menatap lekat pada wajah Kyungsoo, dan sebelum Kyungsoo menyadari semuanya, hanya kegelapan yang ia dapatkan.
. . .
Desahan dan hawa panas memenuhi kamar dengan dua penghuni yang masih sibuk memuaskan nafsunya masing masing. Kyungsoo menggeliat dan tubuhnya menegang dengan cepat ketika seseorang yang berada di atasnya menyatukan tubuh mereka untuk kesekian kalinya. Keringat memenuhi tubuh Kyungsoo dan si pria yang berada di atasnya masih bergerak dengan gerakan konstan saat mereka belum merasakan klimaks.
"Mmpppp" pria itu melumat bibir Kyungsoo dengan hasrat yang semakin menambah hawa panas di antara keduanya. Tubuh Kyungsoo melengkung dan ia mencengkram dengan kuat sprei yang menjadi alasnya bercinta dengan pria yang bahkan tak ia kenali karena kesadaran yang belum sepenuhnya kembali.
"Errghhh" Kyungsoo menggeram, ketika pria yang masih mengerjai tubuhnya itu mengangkat kedua kaki Kyungsoo dan semakin mempercepat gerakannya. Ia menggigit dengan kuat bantal yang ada di sebelahnya dan saat mencapai klimaks Kyungsoo berteriak dengan cukup keras "Errggh, Baekhhh" dan setelahnya ia kembali merasa ringan.
. . .
Bunyi dari dering ponsel menjadi alarm bagi Kyungsoo yang terbangun dengan rasa sakit yang menjalari tubuh bagian bawahnya. Kyungsoo mengerang, berusaha menghilangkan ngilu yang ia rasakan. Setelah membuka kedua kelopak matanya yang terasa berat, ia berusaha bangkit dari tidurnya. Suara dering ponsel menghilang, dan pemuda itu merasakan lengket pada pada kedua pahanya. Ia melihat aliran berwarna putih tercetak jelas di paha pria itu, cukup banyak hingga membuat warna tersendiri pada seprei warna gading di ranjang yang ia tiduri.
"Haah, jinjja? Apa aku melakukan sex semalam?" Kyungsoo mengeluh pelan dan dengan perlahan kaki mungilnya turun dari ranjang. Ia merasa sangat tak nyaman, apalagi bau kuat dari sperma memenuhi sprei yang terasa sangat lengket saat ia menyentuhnya. Kyungsoo mengusak wajahnya dengan kasardan saat itu dering ponsel kembali terdengar.
Dengan wajah setengah tersadar, Kyungsoo meraih ponsel yang menempel di sisi lain tempat tidur. Ia menyipitkan mata, dan jantungnya berdetak tak karuan saat nama Chanyeol muncul pada layar ponsel. Kyungsoo menelan ludah dengan berat dan ketika ia merasa lebih baik, Kyungsoo memberanikan diri menjawab panggilan Chanyeol.
"KAU DIMANA?" secara refleks Kyungsoo menjauhkan ponselnya karena Chanyeol tiba tiba berteriak di seberang sambungan.
"Aku tak tau.." ia menjawab dengan suara yang pelan berharap Chanyeol tak memarahinya karena ia membutuhkan seseorang untuk menjemputnya saat ini.
"Apa maksudmu tak tau? Kau tak menjawab panggilanku semalaman penuh dan Taemin bilang kau meninggalkan pesta dalam keadaan mabuk bersama seorang pria! Sebenarnya apa yang kau pikirkan?" kalimat yang dilontarkan Chanyeol dengan mudahnya itu membuat darah memenuhi ubun ubun Kyungsoo dengan cepat.
"Hah, jadi kau sekarang peduli denganku?"
"Do Kyungsoo!"
"Kau membiarkanku sendirian di pesta semalam, pesan yang kukirimkan sama sekali tak dapat membuatku lebih berarti dari kasus sial yang kau tangani. Dan sekarang kau bersikap seolah peduli denganku? Hah, aku tak percaya ini. Jadi sebenarnya apa yang kau inginkan Park?" jawaban sinis dari Kyungsoo membuat Chanyeol terdiam untuk beberapa saat.
"Kau masih mabuk, lebih baik kita tak berdebat lagi. Katakan dimana kau sekarang?"
"Sudah kubilang aku tak tau!" sambungan terputus dengan cepat karena baterai ponsel Kyungsoo yang telah habis, pemuda itu mengumpat dan membuang ponselnya dengan kasar. Sesuatu menarik perhatian Kyungsoo setelah ia melempar ponsel, karena sebuah bercak merah tercetak pada telapak tangan Kyungsoo dan ia mengernyit ketika menyadari bahwa itu adalah sebuah stempel nama seseorang. Tulisannya sedikit kabur namun Kyungsoo masih bisa membacanya. Dan keterkejutannya kembali muncul saat ia melihat dengan jelas nama yang tertera pada stempel merah tersebut.
"Baekhyun..."
. . .
"Baekhyun? Tidak mungkin, ini pasti kebetulan? Ada banyak nama Baekhyun di Korea" Kyungsoo menggelengkan kepala berkali kali berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa adalah hal mustahil jika ia melakukan sex semalam dengan pria yang telah mati di depan matanya dua tahun yang lalu.
Kedua alis Kyungsoo menaut dan keringat dingin kembali memenuhi wajah manisnya. Detakan jantung yang tak beraturan membuat tubuh Kyungsoo bergetar dengan hebat. Setelah hanya berdiam diri di pinggir ranjang, akhirnya pria mungil itu bergegas memakai pakaiannya yang berserakan di sekitar ranjang. Ia meringis ketika merasakan sakit yang sangat luar biasa pada area bokong dan tanpa memperdulikan tubuh lengketnya, ia segera berlari keluar kamar.
Pria mungil itu melirik ke sekitar luar kamar dan ia menyadari bahwa ia berada di hotel tempat pesta perpisahan kampusnya diselenggarakan "Oh, Shit!" umpatan kembali lolos dari bibir Kyungsoo saat kepalanya terasa sakit. Kyungsoo mengerang dan setelah beberapa saat ia berusaha beradaptasi dengan rasa sakit di kepalanya, langkah pria mungil itu justru bertindak lebih cepat dengan berlari menyusuri lorong kamar hotel.
"B-Baekhyun!" Kyungsoo tak paham dengan pasti apa yang ia lakukan saat ini. Kepalanya terasa sangat berat dan ngilu masih menjalari tubuh bagian bawahnya namun langkahnya masih terbilang cukup cepat hingga dalam hitungan menit pria mungil itu sudah mencapai lobi hotel.
"Byun Baekhyun!" tanpa memperdulikan orang orang yang menatapnya dengan tatapan keheranan karena penampilannya yang tak beraturan, Kyungsoo berlari sambil menjambak kepalanya yang masih terasa sakit.
Setibanya di luar hotel, pandangannya menyapu seluruh jalanan luar. Kyungsoo meringis, dan linangan berwarna bening itu menghancurkan pertahanannya. "Hiks, Baekhyun ah!" pria mungil itu berusaha menghentikan isakannya dengan membekap mulutnya menggunakan punggung tangan. Tapi semakin ia menahannya, semakin banyak airmata yang ia keluarkan.
"Hiks hiks, kumohon jangan pergi lagi" isakan Kyungsoo berubah menjadi raungan yang menyesakkan hati. Beberapa pengunjung hotel yang melihatnya merasa iba, namun mereka hanya menyaksikan pria mungil dengan pakaian berantakan yang melekat di tubuhnya itu duduk dengan sesekali menangis histeris.
"Hiks Baekhyuna ah" Kyungsoo menghapus kasar airmatanya dan memutuskan untuk menyusuri jalan raya berharap imajinasinya tentang Baekhyun menjadi kenyataan.
Saat ia akan menyebrang jalan raya, pria bertubuh mungil itu tak menyadari lampu pejalan kaki yang berwarna merah dan suara decitan antara ban mobil dan aspal jalan membuat beberapa orang di sepanjang trotoar jalan mengalihkan perhatiannya untuk beberapa saat pada asal suara dentuman.
. . .
Semuanya hanya terdengar seperti dengungan di telinga Kyungsoo saat orang orang di sekitarnya saling berbicara keras satu sama lain, beberapa bahkan terdengar seperti teriakan. Mungkin Tuhan pun masih belum menginginkannya, saat malaikat pencabut nyawa hampir menyentuhnya, Kyungsoo masih dinyatakan selamat setelah mobil yang hampir menabraknya hanya berdiam diri di pinggir jalan dengan kepulan asap yang memenuhi mesin mobil setelah menabrak tiang lampu lalu lintas.
Kyungsoo meringis dan perlahan lahan suara yang awalnya samar mulai terdengar jelas di pendengarannya, ia mendengar salah satu dari mereka menelpon polisi dan yang lainnya sibuk mengeluarkan pengemudi yang pingsan dari dalam mobilnya. Setelah pikirannya kembali bekerja untuk mencerna apa yang baru saja terjadi, Kyungsoo akhirnya sadar jika ia kini tengah berada di sisi lain jalan raya dengan seseorang yang tengah memeluknya dengan erat. Pria itu menyelamatkannya dari malaikat kematian, namun tenggorokan Kyungsoo tercekat saat melihat wajah yang tak asing dalam ingatannya. Ia baru saja akan bersuara saat pria itu terlebih dulu mengangkat tubuhnya, meninggalkan kerumunan pejalan kaki yang hanya menatap kepergian mereka dengan pandangan kosong.
"Baekhyun…" dalam rengkuhan pria yang sedikit lebih tinggi darinya itu, Kyungsoo terpaku dengan mata menatap dalam pria tersebut. Jemari kecilnya menyentuh dengan lembut wajah sempurna Baekhyun kemudian ia memberanikan diri melepaskan kacamata yang melekat diwajah tampannya.
"Baekhh" linangan airmata kembali mengalir dari sudut mata Kyungsoo mewakili perasaan aneh yang ia rasakan saat melihat wajah yang ia rindukan setengah mati namun kini berada sangat dekat dengan wajahnya. Tanpa keraguan seperti saat ia melihat stempel yang menghiasi telapak tangannya, kedua tangan Kyungsoo secara tiba tiba mengalung pada leher Baekhyun dan memeluknya lebih erat.
"Apa ini benar benar kau?" pertanyaan Kyungsoo hampir tak terdengar dan lebih menyerupai desisan.
"Aku merindukanmu Kyung.."
. . .
Baekhyun membawa Kyungsoo menuju rumah kakeknya dimana dulu ia pernah menyekap pria cantik itu agar dapat menjauhkannya dari Chanyeol. Kyungsoo tak mendapat luka parah dari kecelakaan di depan hotel beberapa saat sebelumnya, hanya lecet di tangan kiri dan tak memerlukan penanganan medis Rumah Sakit. Baekhyun akan merawat luka Kyungsoo dengan tangannya sendiri. Ketika mobil yang ia kemudikan telah parkir di halaman depan rumah, Baekhyun turun terlebih dahulu kemudian membukakan pintu untuk Kyungsoo.
"Ayoo" suara Baekhyun terdengar sangat lembut, atau mungkin Kyungsoo yang lupa bagaimana suara Baekhyun karena ia selama ini ia sudah menganggap Baekhyun mati.
Kyungsoo terlihat bingung, namun sejurus kemudian ia turun dari mobil dengan memegangi tangannya yang lecet.
"Aku akan mengobati lukamu" Baekhyun menarik lembut lengan Kyungsoo dan membawanya masuk ke dalam rumah mendiang kakeknya. Kyungsoo hanya menurut dengan pria itu, sorot matanya menjelajahi setiap sudut rumah. Tak banyak yang berubah, bahkan perabotannya pun masih terletak di posisi yang sama dengan terakhir kali Kyungsoo melihatnya. Hanya saja rumah ini lebih bersih tanpa debu tebal dan gumpalan sarang laba laba yang menghiasi lantai juga dindingnya.
Baekhyun memaksa Kyungsoo untuk duduk di ranjang kamarnya, kemudian ia menghilang di balik pintu dan tak lama ia kembali dengan membawa sebuah kotak obat. Pria tampan itu berjongkok tepat di depan Kyungsoo dan menggulung kemeja yang Kyungsoo kenakan. Lecet yang menghiasi tangan Kyungsoo cukup besar dan Kyungsoo meringis saat Baekhyun mengoleskan alcohol untuk membersihkan lukanya.
"Tahan sebentar" Kyungsoo mengangguk cepat dan ia menggigit bibir bawahnya dengan kuat selama Baekhyun mengobati lukanya, itu sangat sakit. Setelah beberapa menit mereka saling terdiam karena Baekhyun sibuk bergumul dengan luka lecet di tangan Kyungsoo, akhirnya pria itu menyelesaikan pekerjaannya saat luka Kyungsoo terbalut rapi oleh perban.
Baekhyun membereskan peralatan medisnya dengan cepat, namun saat ia akan beranjak dari posisinya Kyungsoo terlebih dahulu memeluk erat tubuhnya bahkan lebih posesif dari sebelumnya.
"Aku merindukanmu Baek.." ucap Kyungsoo pelan.
Baekhyun tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan pria mungil yang masih memeluknya erat itu"Aku juga merindukanmu, Kyung.."
. . .
"Sebenarnya apa yang terjadi? Maksudku, bagaimana kau bisa selamat setelah kejadian itu?"
Kyungsoo kini berada di atas sofa ruang tamu bersama Baekhyun yang memeluknya erat, pria itu meletakkan kepala Kyungsoo di dadanya dan sesekali jemarinya mengelus lembut rambut hitam Kyungsoo. Sebuah ciuman Baekhyun lakukan pada puncak kepala Kyungsoo, dan ia menarik tubuh Kyungsoo agar semakin merapat dengan tubuhnya.
"Dokter yang mengangkat peluru di tubuhku saat itu adalah teman baikku. Xi Luhan.."
Baekhyun mengambil jeda dalam kalimatnya saat ia berusaha menemukan posisi yang lebih nyaman memeluk Kyungsoo.
"Aku hampir mati, tapi masih bernafas. Luhan sangat mengerti dengan apa yang kulakukan dan ia membantuku dengan menghilangkan detak jantungku untuk sementara waktu agar ia dapat meyakinkan kepolisian bahwa aku benar benar sudah mati. Setelah itu, ia dan keluargaku membawaku ke Jepang untuk mendapatkan perawatan intensif untuk luka yang aku dapat."
Kyungsoo mengernyit dan ia menahan nafasnya.
"Itu sebabnya keluargamu menolak melakukan otopsi?"
"Benar sekali, obat yang Luhan suntikkan hanya menghilangkan detak jantungku untuk beberapa menit saja. Sangat beresiko membiarkan mereka melakukan otopsi terhadap tubuhku"
"Lalu?"
"Aku kembali pulih setelah berbulan bulan mendapat perawatan di Jepang. Keluargaku mengganti identitasku secara total agar aku dapat hidup dengan tenang di sana, kurasa sangat ampuh karena aku tinggal di sana dengan identitas baru sementara di Korea, Byun Baekhyun sudah dinyatakan mati. Dan setelah memastikan kondisi sudah aman, mereka kembali ke Korea sedangkan aku tetap menetap di Jepang"
"Lalu, apa yang membuatmu kembali?"
"Kau tak suka aku kembali?"
"B-bukan, hanya saja ini terlalu mengejutkan. Kau tiba tiba muncul setelah dua tahun pemerintah menyatakan kau telah mati. Jantungku hampir saja melompat dari tempatnya saat melihat stempel yang kau cap di telapak tanganku?" Kyungsoo merasakan kedua pipinya memanas dan ia memeluk tubuh Baekhyun untuk menyembunyikan rona merah yang sudah dipastikan memenuhi wajahnya saat ini.
Baekhyun tersenyum simpul melihat tingkah malu malu Kyungsoo dan sekali lagi ia menghadiahi sebuah kecupan pada puncak kepala pria mungil itu.
"Maaf mengejutkanmu dengan stempel itu. Aku tak ada ide bagaimana muncul di hadapanmu tanpa membuatmu kabur atau lebih parahnya melemparku dengan sepatumu. Tapi rasa rinduku terlalu besar Kyung, dan tanpa sadar aku memberanikan diri kembali kesini" Senyuman melengkung di kedua sudut bibir Kyungsoo dan ia semakin mengeratkan pelukannya. Kali ini lebih erat karena Kyungsoo tak ingin melepaskan Baekhyun kembali.
"Aku tak percaya melakukan sex denganmu saat aku mabuk, seperti de ja vu di masa lalu.."
Baekhyun membalik tubuh Kyungsoo membuatnya berhadapan langsung dengan pria itu. Iris matanya menatap dalam mata pria mungil itu berusaha memahami rasa rindu yang terlalu dalam mereka rasakan. Dengan perlahan Baekhyun mendekatkan wajahnya dan mengeliminasi jarak udara antara wajah mereka. Bibirnya menyesap dengan lembut bibir tebal Kyungsoo dan melumatnya dengan hasrat yang tak mungkin mereka bendung lagi.
. . .
Kyungsoo melangkah dengan pelan menuju apartementnya. Hatinya terasa sedikit lebih ringan setelah seharian penuh menghabiskan waktu mengobrol bersama Baekhyun. Terlalu banyak yang ingin ia katakan pada pria tersebut, dan tak mungkin merangkumnya dalam satu hari.
Ini terlalu baik, Kyungsoo bahkan bersenandung dalam langkahnya. Hal yang tak pernah ia lakukan selama dua tahun belakangan karena memori buruk yang Baekhyun tinggalkan. Namun senandung dari bibir Kyungsoo tiba tiba berhenti saat ia melihat sesosok tubuh besar duduk di depan pintu apartemennya dengan menekuk kepala di antara kedua lututnya. Chanyeol tertidur di depan pintu apartement Kyungsoo dengan wajah berantakan, juga kemeja lusuh yang membalut tubuhnya.
Kening Kyungsoo mengkerut dan ia mendekati Chanyeol yang masih belum terbangun. Kyungsoo bahkan lupa jika ia bertengkar hebat dengan Chanyeol sebelumnya, menghabiskan waktu bersama Baekhyun membuat mood Kyungsoo naik dengan drastis.
"Chanyeol ahh" Kyungsoo membangunkan Chanyeol dengan suara lembut dan tangan mungilnya mengguncang bahu Chanyeol agar pria itu segera membuka kedua matanya.
"Channn" kali ini Kyungsoo mengguncang bahu Chanyeol lebih kencang dan berhasil karena perlahan lahan kedua kelopak mata Chanyeol bergerak terbuka.
"Kyunggggg.." Melihat wajah manis Kyungsoo membuat Chanyeol merespon dengan segera bangkit dan langsung menarik tubuh mungil itu dalam dekapannya.
"K-Kau kenapa?" justru Kyungsoo yang terlihat kerheranan dengan sikap Chanyeol namun ia membiarkan pria itu memeluk tubuhnya dengan kencang.
"Kau membuatku khawatir Honey. Kau kemana saja? ponselmu tak aktif setelah kita bertengkar" ucap Chanyeol lirih.
"Maaf baterai ponselku habis..."
"Tidaakk, aku yang harusnya minta maaf. Maaf telah mengabaikanmu, aku berjanji itu yang terakhir kalinya aku lebih memilih pekerjaan dibandingkan dirimu, kau terlalu berharga Honey" hati Kyungsoo mencelos mendengar pernyataan Chanyeol, namun perasaan bersalah muncul dalam hati Kyungsoo karena ia justru mengingat wajah Baekhyun saat Chanyeol menyatakan perasaan terdalamnya saat ini.
'Maafkan aku Chanyeol ah...'
. . .
Kyungsoo berulang kali memainkan ponsel yang ia genggam dengan memutarnya secara random. Tak lama ia memutuskan untuk menghubungi seseorang melalui ponsel tersebut namunkemudian urung dilakukannya karena ia masih merasa ragu.
"Jinjja, apa yang harus aku lakukan" Kyungsoo mengusak rambutnya dengan kasar dan langkah kaki pria itu bergegas menuju kamarnya untuk membawa sebuah koper besar yang telah ia siapkan sejak semalam.
#flasback
"O-Oslo? Norwegia?" kedua mata Kyungsoo membulat dan Baekhyun hanya mengangguk menanggapi keterkejutan pria mungil tersebut.
"Ya, aku memutuskan untuk meninggalkan Jepang dan menetap di sana"
Kyungsoo masih menatap Baekhyun dengan keterkejutan yang masih belum menghilang dari wajah cantiknya.
"Kenapa harus Norwegia? Maksudku apa kau tak bisa menetap di Korea saja?" Kyungsoo hampir menangis namun ia masih bisa menahannya karena tak ingin kalah berdebat dengan Baekhyun. Melihat wajah Kyungsoo membuat bibir Baekhyun menarik sebuah senyuman.
"Seperti yang kubilang sebelumnya, aku tak bisa menetap di Korea karena di negara ini aku sudah dinyatakan mati.."
"T-tapi.. kita baru saja bertemu Baek" linangan airmata pada wajah Kyungsoo tak ubahnya cairan tawar yang tak berarti sedikit pun karena ia sama sekali tak mampu membuat Baekhyun merubah keputusannya.
Baekhyun kembali tersenyum, dan ia menggenggam tangan mungil Kyungsoo.
"Maaf untuk semua luka yang pernah kuberikan. Aku tak pantas untuk mendapat pengampunanmu Kyung. Namun aku tetap berharap jika ini akan berakhir bahagia" Baekhyun merogoh sesuatu dari kantung mantel yang ia kenakan dan menyodorkannya kepada Kyungsoo.
"Aku sudah membeli dua tiket pesawat, jika kau sudi memaafkanku kau bisa mengambilnya. Penerbangan pertama untuk besok, aku akan menunggumu sampai batas terakhir"
#flashback end
. . .
Berulang kali Baekhyun menatap jarum detik yang bergerak di arloji yang melekat di pergelangan tangannya. Hembusan nafas berat itu terdengar dengan jelas karena pesawat yang akan ia naiki lepas landas dalam waktu sepuluh menit lagi. Terlalu besar harapan yang ia yakini karena nyatanya ia tak mampu membuat Kyungsoo untuk datang. Lima menit berlalu dan suara peringatan bahwa pesawat menuju Norwegia akan lepas landas mulai terdengar. Baekhyun kembali melirik arlojinya, ia memang berjanji akan menunggu hingga batas terakhir namun petugas bandara terlihat akan segera menutup pintu menuju pesawat dan dengan tergesa gesa pria itu berjalan dengan menarik kopernya.
"Tiket anda Tuan?" Baekhyun menyerahkan selembar tiket yang ia pegang dan untuk terakhir kalinya ia menyempatkan diri untuk menoleh ke arah belakang.
"Silahkan masuk" suara dari petugas bandara membuyarkan lamunan Baekhyun dan ia mengangguk untuk membalasnya. Pria itu menarik kembali koper yang ia bawa menuju ke dalam pesawat, namun sebelum ia mencapai pintu masuk sebuah teriakan membuat langkahnya terhenti.
"TUNGGUUUUU!" Baekhyun menoleh dan melihat seorang pria bertubuh mungil berlari dengan menyeret koper berwarna biru langit.
Sudut bibir Baekhyun melengkung dan ia menunggu pria itu sampai di tempatnya. Saat tiba ditempat Baekhyun, Kyungsoo tanpa ragu menghamburkan diri pada pria itu dan memeluk dengan mengangkat kedua kakinya seperti koala. Baekhyun menyambut Kyungsoo dan melumat bibir pemuda itu di depan para petugas yang hanya memandang mereka dengan tersipu malu.
"Kau datang?" setelah ia rasa cukup melumat bibirKyungsoo, Baekhyun menurunkan tubuh pria mungil itu dan mengusap lembut wajah Kyungsoo.
"Aku tak percaya kau benar benar datang!"
"Aku selalu ingat kalimat yang kau katakan sebelum mati saat itu. Kau bilang aku hanya perlu mengikutimu dan kau akan membiarkanku memilih saat kau sudah tak menemukan jalan. Well, aku sudah menentukan pilihanku. Aku tak mau kehilanganmu lagi Baek"
"Kau serius? Aku tak ingin kau menyesal saat kita sudah sampai di Norwegia nanti. Aku tak akan membelikanmu tiket pulang ke Korea jika kau merengek di sana"Kyungsoo mencibir saat mendengar ledekan Baekhyun dan ia meraih gagang kopernya kembali.
"Aku tak akan pulang, paling tidak sampai aku melihat aurora di langit Norwegia. Kau bertanggung jawab atas hidupku sekarang Baek! Asal kau tau, aku makan dengan sangat baik!" ledakan tawa terdengar dari Baekhyun dan tanpa menunda kembali ia menarik tangan Kyungsoo agar mereka bisa segera duduk di pesawat.
"Kau tenang saja, aku akan memberimu makan dengan sangat baik juga. Dan kupastikan kita akan melihat aurora disana. Ayoo, aku tak ingin bermain drama lagi di depan petugas bandara"
Rona merah memenuhi kedua pipi Kyungsoo saat ia menyadari tatapan nakal dari petugas bandara setelah mereka melihat aksi saling melumat bibir yang Baekhyun dan Kyungsoo lakukan. Dengan senyuman terburuk yang ia paksakan, kaki mungilnya melangkah mengikuti Baekhyun menuju kehidupan barunya bersama pria itu.
Saat ini Kyungsoo tak ingin berpikir lagi tentang Chanyeol ataupun yang lainnya. Terlalu banyak yang ia sesalkan saat melihat Baekhyun pergi dua tahun yang lalu dan kali ini ia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Kyungsoo tergila gila karena Baekhyun dan ia bersumpah akan mendapatkan Baekhyun bagaimanapun caranya.
Trully Fin
Hahaha, apa ini? Mencoba membuat sekuel Black Heart setelah dengerin lagu terbaru Linkin Park – TFinal Masquerade. Judulnya nyerempet dikit deh, hehehe. Maaf kalo ini ff gak jelas dan merusak cerita sebelumnya, tapi kalo reader ada yang mau bash atau komplain boleh di kolom review, hohoho modus. Dan jangan tanyakan kenapa saya munculin Taemin disini, lagi pengen aja.
Oh ya, ada yang nunggu lanjutan Skull dan Broadcast? Cuma nanya sih ._. kalo gak ada juga gak apa apa *tear
Review juseyoo readernim yang baik hati *throwing heart
