Home
.
.
.
Disclaimer : semua hanya punya tuhan, termasuk storylinenya.
.
.
.
.
.
.
Inspired by and a tribute to 레이디스 코드 (LADIES' CODE) - I'm Fine Thank You.
.
.
Chapter 3, Home : Jimin x Jungkook (1.416 words)
Rating : K
Genre : Friendship, Angst
.
.
.
Happy reading, readers!
.
.
.
.
.
"Jungkook."
Jungkook hanya menemukan pemandangan pantai di sekitarnya. Familiar. Terlihat seperti suasana pantai di Busan, tempat asalnya. Ia tidak bisa mendengar dengan jelas darimana suara itu berasal. Tapi ia yakin, suara itu adalah milik Jimin. Maka ia terus berjalan mengikuti asal suara itu saat suara itu semakin jelas berulang.
"Jungkook, kemarilah."
Kakinya terus melangkah menuju asal suara.
Terus, dan terus, Jungkook terus melangkah.
Sampai ia menemukan Jimin sedang terduduk di pasir pantai berjarak 33 langkah darinya. Jungkook langsung saja menghampiri Jimin, kemudian duduk di sebelahnya.
"Hyung! Kamu kemana?! Aku mencarimu tahu!" Jungkook meninju lengan Jimin pelan.
"Aku sedari tadi disini, 'kok." Ucap Jimin dengan nada bercanda dan kekehan kecil.
"Ah iya, hyung. Selamat ulang tahun!" Jungkook menjabat tangan Jimin erat.
"Semoga tahun itu kamu makin tinggi ya, hahahaha." Lanjutnya disambut dengan jitakan kecil di kepalanya oleh Jimin.
"Ya, terima kasih." Jawab Jimin dengan aksen ketus yg dibuat-buat.
Jungkook tertawa dan Jimin hanya melihatnya dengan tatapan kesal. Kemudian menyadari dirinya ditatap seperti itu, Jungkook meredakan tawanya.
"Oh iya hyung, tahun ini kamu mau hadiah apa?"
"Aku hanya ingin satu hal."
"Apa itu hyung?" Jungkook menengok ke wajah Jimin.
"Jika aku mengajakmu pulang, maukah kamu ikut? Aku akan kesepian jika pulang sendiri." Jimin berkata dengan senyum terpatri di wajahnya, namun matanya menyiratkan kesedihan.
Jungkook tertawa kecil, "pulang? Tentu saja, aku rindu Busan."
Namun Jimin langsung menggeleng cepat, membuat Jungkook sedikit bingung.
"Pulang, kookie. Ke rumah yg sebenarnya."
Jungkook mengambil jeda sejenak sebelum menjawab dengan pasti, meskipun ia masih tak mengerti apa yg Jimin maksudkan, "Ya, tentu saja aku mau. Aku tak tega melepasmu sendiri."
Lalu keduanya terkekeh kecil. Jimin mengacungkan jari kelingkingnya pada Jungkook.
"Teman untuk selamanya?"Jimin tersenyum, disambut senyum Jungkook.
Jungkook menautkan kelingkingnya pada kelingking Jimin, "Selamanya."
.
.
.
Orang-orang berlalu-lalang di depan bis yg ringsek itu. Beberapa bahkan mencoba memecahkan kaca jendela dan membuka paksa pintunya. Suara mobil polisi dan sirene ambulance meramaikan keadaan hujan di kota yg penuh tiba-tiba.
Para petugas ambulance menurunkan tandu untuk mengangkut para korban yg masih sadarkan diri dengan segera. Beberapa dari mereka terluka parah, ada juga yg hanya mengalami luka ringan.
"Hoseok! Cepat! Korban ini mengeluarkan terlalu banyak darah dari kepalanya!" Namjoon, seorang petugas kepolisian memanggil seorang perawat yg membawa tandu bersama seorang lainnya.
"Cepat-cepat!" si petugas kepolisian mengangkat tubuh korban itu kemudian memindahkannya ke atas tandu, yg mana oleh Hoseok dan seorang perawat lainnya langsung dibawa ke trotoar jalan, di salah satu teras kedai kopi yg sudah tak terpakai, dimana disana Seokjin, salah satu petugas medis sedang memasang perban di kaki korban lainnya.
Namjoon kemudian melanjutkan evakuasi dengan memasuki areal bis bagian belakang, dimana kerusakan terjadi paling parah, ringsek total.
Namjoon tidak fokus mencari karena suara bising sirene dan hujan membuyarkan konsentrasinya. Ia kemudian menutup sebelah telinganya baru kemudian lanjut memasuki bagian belakang bis.
Namjoon sudah akan turun dari bis karena berpikir tak ada korban yg masih terjebak, saat sebuah suara, lebih terdengar seperti bisikan, menyapa telinganya.
"Jimin-h-hyu-n-ng..."
Namjoon cepat-cepat menuju ke asal suara, dan ia membulatkan matanya,
2 orang korban terhimpit kursi, yg satu masih terlihat bernafas tapi kehilangan setengah kesadarannya dan darah mengalir deras dari kepala dan hidung. Sementara yg lainnya, dengan kondisi sudah tak bernyawa, dengan mulut yg mengeluarkan darah dan rusuknya tertusuk salah satu besi dari kursi yg menghimpit mereka.
"Hoseok! Seokjin! Yoongi! Dan yg lain! Cepat kesini! Masih ada korban!" Namjoon berteriak melalui jendela bis yg sudah tak berkaca dan mengulangi perkataannya lewat walkie-talkie yg selalu siap sedia di saku bajunya.
Beberapa petugas medis datang kemudian dibantu oleh Namjoon berusaha mendorong kursi yg menghimpit 2 korban tersisa itu. Berhasil, para petugas medis langsung bergegas mengangkat korban pertama yg masih bernafas dengan hati-hati menuju ke teras kedai. Sementara Hoseok, Seokjin, dan Namjoon tersisa untuk mengeluarkan korban tewas yg tertusuk itu.
"Hati-hati, jangan sampai tertusuk lebih dalam." Ucap Seokjin serius, memerintahkan Namjoon yg sedang berusaha memotong besi dengan gergaji kecil yg disiapkan petugas kepolisian.
Berhasil, Namjoon mengelap peluhnya dan Hoseok dengan sigap langsung menggendong korban tewas itu ke teras kedai.
Sementara di teras kedai, Yoongi sedang memeriksa korban yg tadi masih bernafas.
"Detak jantungnya tak stabil! Bantuan darurat!" Yoongi langsung menekan dada korban secara hati-hati, membantu merangsang jantung si korban untuk berdetak lebih stabil.
"Dimana Jungkook dan Jimin!?" seorang pemuda bersurai hitam legam menerobos kerumunan orang dan langsung bertanya dengan panik pada Hoseok yg sedang meresleting kantung berisi mayat dengan rusuk patah.
"Siapa?!"
"Sepupuku, Jimin dan sahabat kami, Jungkook, mereka naik bis ini tadi!"
Hoseok kemudian mengambil tas berwarna biru donker yg tadi dibawa si korban tewas yg terhimpit bersama seorang korban lainnya.
"Apakah ini milik salah satu dari mereka?" Hoseok mencoba tenang, karena nafasnya mulai tak teratur, mengangkat banyak korban dengan tandu memang melelahkan, tapi Hoseok tak peduli karena memang sudah tugasnya.
Si pemuda bersurai hitam itu membuka tas itu dan ia langsung menangis. Itu adalah benar tas sepupunya.
"Maaf, dik. Lukanya sangat parah, ia terhimpit bersama seorang korban lainnya, ia tertusuk besi, rusuknya patah dan menusuk paru-parunya. Ia juga sudah tak bernyawa saat kami menemukannya." Hoseok menepuk bahu si pemuda, mencoba memberi kekuatan padanya.
"Lalu, dimana seorang lainnya?" pemuda itu melengokkan kepalanya mencari.
"Ia disana, sedang ditangani oleh petugas yg kulitnya sangat putih itu, bisa kau lihat jelas?" Hoseok menunjukkan tangannya ke dalam ambulance dimana seorang korban terbaring dengan banyak darah dan tak sadarkan diri sedang dikejutkan dengan alat kejut jantung.
Si pemuda langsung menghampirinya dan Yoongi, menggelengkan kepalanya saat dirasakan detak jantung korban itu tak terasa oleh tangannya yg ia tempelkan di dada sang korban.
"Maaf, aku minta maaf. Jantungnya berhenti memompa darah. Maaf."
Yoongi mengelap air matanya, sedih karena tak bisa menyelamatkan nyawa korban itu, ia menengok ke pemuda di sebelahnya yg menatap dengan tatapan kosong, "Siapa namamu?"
"Taehyung."
"Apa kau kerabat darinya?" tanya Yoongi.
"Sebenarnya salah satu korban yg tewas tertusuk besi itu sepupuku, yg ini sahabat kami." Taehyung ikut mengelap air matanya dengan sapu tangan yg selalu ia bawa di kantung celananya.
"Aku minta maaf, Taehyung." Yoongi menepuk bahu Taehyung, sama seperti Hoseok, mencoba memberikan kekuatan pada si pemuda.
Sementara Taehyung hanya mengangguk dan tersenyum pahit, air matanya keluar semakin banyak.
Setidaknya ia tahu mereka bersama, disana.
.
.
.
Siang itu, keesokan harinya setelah kecelakaan itu, hujan deras kembali mengguyur kota.
Suasana pemakaman para korban tabrakan bis yg mengangkut penumpang umum menuju salah satu wahana amusement park itu berlangsung haru. Mereka dimakamkan di areal pemakaman yg sama.
Sedangkan Jimin dan Jungkook dimakamkan bersebelahan.
Taehyung memegang payung hitamnya erat, air matanya sudah berhenti mengalir.
Ia masih ingat dengan jelas bagaimana terakhir kali ia bercanda dengan sang sepupu dan sahabatnya itu.
Ia masih ingat dengan jelas perkataan terakhir Jimin sebelum pergi,
"Hari ini aku dan Jungkook akan pergi ke taman bermain. Dia bilang sebagai wujud perayaan ulang tahunku."
Taehyung tersenyum pahit. Jika saja Jimin dan Jungkook memilih untuk pergi di kemudian hari, pastilah kejadiannya tak akan seperti ini.
Namun siapa yg bisa Taehyung salahkan? Taehyung pun tahu tak ada yg boleh menyalahkan tuhan dan garis kehidupan buatannya.
Taehyung melihat ke sekeliling, sejumlah kerabat dan teman-teman sekolah mereka berdatangan, beberapa dengan isak tangis dan beberapa juga hanya mengeluarkan airmata tanpa suara, menghadiri perpisahan dengan kawan, dibawah lindungan payung hitam.
Sementara Taehyung melihat di dekat batu nisan, orangtua dari Jimin maupun Jungkook hanya menampakkan ekspresi sedih. Air mata mereka masih keluar, namun isakan tangis tak lagi terdengar.
Semua yg menghadiri acara pemakaman itu satu-persatu mulai pulang setelah pelayat menaruh masing-masing setangkai bunga daffodil di samping nisan Jimin dan Jungkook.
Taehyung mengeluarkan sesuatu dari kantungnya, yaitu 2 lembar kertas putih kecil berisikan beberapa kalimat, kemudian menaruh satu diantaranya diantara tumpukan bunga daffodil.
Taehyung mengusap lalu menepuk lemah kedua nisan itu sebelum pergi, sembari sedikit berbisik, "Selamat jalan. Kami akan sangat merindukan kalian." Taehyung kemudian menaruh kertas yg lainnya di atas batu nisan yg bertuliskan Park Jimin.
Oct, 13th 2014. Happy Birthday, cousin. Glad to know you're not alone there.
Taehyung memegang payungnya erat, kemudian kakinya melangkah menjauh dari areal pemakaman. Langkahnya berat, tapi ia terus melangkah, meninggalkan 2 jasad terkubur itu.
Tetapi Taehyung tidak akan pernah melupakan mereka.
Disana, ditinggalkan diantara tumpukan daffodil yg basah, terdapat secarik kertas yg hampir hancur karena terkena tetesan air hujan, bertuliskan kalimat yg masih bisa dibaca meskipun luntur,
Friend; one thing you should never forget.
But bestfriend; one thing you should never leave.
Rest in peace, bestfriends. You both are finally coming home, together.
Hujan tak kunjung henti. Langit semakin kelabu. Sementara di suatu tempat yg jauh, yg sangat indah, yg mereka sebut sebagai rumah yg sebenarnya, 2 orang sahabat sedang tertawa riang, saling berbagi harapan, bersama.
.
.
.
End.
Halo! Duh saya ngerasa bersalah bgt bikin ff kayak gini. Beneran sih, ada rasa nyesel. Semoga aja ide yg saya tulis ini selamanya bakal jadi fiksi, jangan sampe jadi kenyataan YaAllah jangan sampe T_T Tapi semoga readers suka ya, saya dedikasikan ff ini buat Ladies' Code, sebenernya. Tapi karena bingung dan idenya lebih ngalir dengan chara jikook, jadinya begini. Iya gak apa kalau kalian marah karena di hari ultah jimin saya malah bikin ff begini, gapapa aku ikhlas ;u;
Dan gak bosan-bosan mau bilang terima kasih untuk yg sudah baca dan review, makasih banyak ya~ semoga gak bosan sama karya saya yg gak pernah bagus ini ;o;
