30 Days Challenge

.

.

.

Disclaimer : semua hanya punya tuhan, termasuk storylinenya.

.

.

.

Pair : Various pairings. A 30 Day Challenge.

Genre, pairing, dan rating bisa berubah di setiap update.

.

.

.

Inspired by 30 days fanfiction challenge on aff.

.

.

Chapter 4, Children : Kidoh x Hojoon (879 words)

Rating : K

Genre : Family

Male!Kidoh and Fem!Hojoon and a pair of twin named Hyojoon(fem) and Kijoon(male).

.

.

.

Happy reading, readers!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hyosang tak pernah menyukai anak kecil.

Karena menurutnya anak kecil itu berisik, merepotkan, mengganggu, dan yg lainnya.

Berbanding terbalik dengan Hojoon, si wanita yg sangat menyayangi semua anak kecil yg ia temui dimana saja seperti anaknya sendiri.

Entah karena takdir atau apa, mereka yg sangat bertolak belakang disatukan oleh sebuah hubungan yg berakhir pada jenjang yg menurut sebagian orang sangat membahagiakan yaitu;

Pernikahan, yg dikaruniai sepasang anak kembar, lelaki dan perempuan.

.

"MAMAAAAAA!" seorang bocah lelaki berlari ke arah mamanya dengan tergesa-gesa, sepatu kecilnya yg berderit lucu mewakili beberapa langkah yg ia butuhkan untuk sampai ke mamanya yg kini menengok dan langsung merentangkan tangannya menyambut sang anak untuk datang ke peluknya.

"Kenapa, Ki?" sang mama mengusap rambut bocah lelaki itu penuh kasih sayang.

"Papa menyebalkan!" si bocah berumur 5 tahun itu merengutkan wajahnya, kesal.

"Memangnya papa kenapa, hm?"

"Masa, tadi aku ingin menemaninya bermain komputer tapi aku diusir, ma." Nada bicara si bocah bernama Jin Kijoon itu terdengar sedih dan juga kesal.

Hojoon, sang mama, hanya tersenyum lembut kemudian memeluk anaknya itu dengan sayang.

"Yasudah, mungkin pekerjaan papa saat ini sedang banyak dan tidak bisa diganggu. Lebih baik sekarang ki bantu mama saja ya, merapikan mainanmu yg berantakan?" Hojoon menatap lembut pada anaknya yg kini sudah memasuki jenjang pendidikan pertama yaitu taman kanak-kanak.

"Oh iya! Akan aku bereskan ma, maaf ya aku membuat berantakan dan menyusahkan mama." Anaknya kini mencium pipinya, sebagai sebuah tanda permohonan maaf.

Hojoon hanya tersenyum kemudian, memaklumi ulah anaknya itu. Tapi dalam hatinya, ia sedih. Karena ia tahu, sebenarnya Hyosang mengusir Kijoon karena suaminya itu tak pernah suka dengan anak kecil.

.

Malamnya, saat makan malam berlangsung, kedua anak kembar itu kini saling mengobrol, dengan sabar di meja makan, duduk menunggu masakan sang mama yg kini masih belum matang.

"Hyo, kamu sudah kerjakan PR pertambahan dari Kim-seonsaengnim, belum?" tanya Kijoon si kakak (sebenarnya diantara keduanya hanya berbeda selang waktu 3 menit).

"Sudah. Kakak mau pinjam?" jawab Jin Hyojoon sang adik yg berpipi tembam.

"Jangan. Aku tidak mau mencontek. Kamu ajari aku saja, ya?"

Hojoon yg mencuri dengar dari dapur hanya bisa tersenyum bangga. Hyojoon memang lebih pintar dan pendiam dibanding kakaknya, namun si kakak juga tidak pernah putus asa untuk terus belajar dari si adik.

"Mereka lucu, ya." Seseorang memeluk Hojoon dari belakang.

"Ya tentu saja, mereka 'kan, anak-anakku." Hojoon tak menengok, namun ia tersenyum saat Hyosang –si pemeluk, mengecup pundaknya lembut.

"Mereka anakku juga, nyonya."

Hojoon membalikkan badannya, membuatnya kini berhadapan dengan sang suami.

"Oh ya? Kalau begitu kenapa tadi siang kau mengusir Ki saat ia ingin menemanimu bermain komputer, hm?" tanya Hojoon dengan nada sedikit marah.

"Kita bicarakan nanti, ya, honey." Ucap Hyosang sambil berjalan menuju ke meja makan setelah mengecup sekilas pipi Hojoon.

.

"Halo." Hyosang kini duduk di bangku paling ujung –bangku untuk kepala keluarga.

Kedua anaknya hanya tersenyum padanya lalu kembali fokus membicarakan hal-hal menarik yg keduanya alami di sekolah tadi.

Dan seketika Hyosang merasa terkucilkan. Oleh 2 anak kecil. Ralat, oleh anaknya sendiri.

Suasana seketika menjadi dingin, dengan Hyosang yg menatap marah pada kedua anaknya dan si kembar hanya terus mengobrol.

Beruntungnya Hojoon datang menghangatkan suasana menjadi sehangat sup daging buatannya yg baru masak.

"Anak-anak, ayo, mana piring kalian?"

Si kembar dengan serempak mengangkat piring mereka dan memberikannya kepada sang mama, "ini ma!"

Hojoon kemudian menyendokkan nasi ke masing-masing piring anaknya itu kemudian menuangkan supnya. Lalu memberikannya kembali kepada si kembar.

"Nah makan yg banyak ya, cepatlah tumbuh besar!" ucap Hojoon sembari mengusap rambut keduanya.

"Iya, ma!" ucap keduanya, serempak.

Hyosang mengangkat piringnya kemudian berkata, "ambilkan aku juga."

Namun Hojoon menggeleng disertai sebuah senyum simpul terbentuk di bibirnya.

"Kau punya tangan sendiri 'kan, tuan."

Dan Hyosang akhirnya mengambil sendiri makanannya, dengan wajah kesal.

.

Hojoon menutup pintu kamar si kembar dengan senyum halus masih terpatri di bibirnya. Si kembar kini sudah terlelap pulas. Hojoon tersenyum karena tak terasa, cepat sekali, sudah 5 tahun sejak mereka lahir.

Hojoon berjalan menuju kamarnya dengan Hyosang, lalu masuk dan tak lupa menutup pintu.

Sayangnya disambut dengan wajah kesal Hyosang yg sedang duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.

"Kau kenapa?" ucap Hojoon, setelah memposisikan dirinya berbaring di sebelah suaminya itu.

"Kau tau, Ki dan Hyo akhir-akhir ini menjadi sangat menyebalkan."

Hojoon refleks untuk tersenyum dan menunggu suaminya meneruskan.

"Tadi saat di meja makan aku menyapa mereka, mereka hanya tersenyum lalu mencampakkan aku, seperti hanya mereka berdua yg ada." Hyosang masih memasang raut wajah kesalnya.

"Sudah bicaranya?"

Hyosang menengok ke istrinya yg kini sedang merapikan rambut panjang sebahunya.

"Lalu apa yg mereka rasakan saat kau mengusir mereka disaat mereka ingin bermain denganmu atau menemanimu? Hm?"

Hyosang terdiam.

"Hyosang, aku tak akan mempermasalahkannya jika mereka hanya anak kecil lainnya, Tapi mereka adalah anakku, anakmu, anak kita." Ucap Hojoon lembut, dengan penekanan pada kata kita.

"Maaf." Hyosang menunduk.

"Harusnya aku menghilangkan rasa tak suka anak kecil itu pada anakku sendiri." Lanjutnya.

Hojoon langsung duduk, kemudian memeluk suaminya.

"Tak apa. Kau hanya perlu pembiasaan." Hojoon tersenyum.

"Hojoon."

"Ya?"

"Terima kasih. Kau selalu mengerti kekuranganku." Ucap Hyosang, kini mulai berbaring dengan Hojoon dalam dekapannya.

"Tak apa. Manusia 'kan tak ada yg sempurna." Balas Hojoon.

"Hojoon."

"Ya?"

"Perlukah kita membuatkan adik untuk mereka?" tanya Hyosang.

Jeda lama terjadi.

1 menit.

2 menit.

3 menit.

Ternyata Hojoon sudah melesat ke alam mimpi tanpa menjawab pertanyaan itu.

Meninggalkan Hyosang yg kini menampakkan raut kesal, lagi.

.

End.

Halo hehe saya update lagi lol. CHAPTER INI KHUSUS UNTUK SOO-ICEU DAN Q-ARA JUNG DAN SEMUA KIJOON SHIPPER LAINNYA HEHE! Tapi maaf ya saya bikin Hojoonnya jadi wanita disini heu. Semoga suka deh :3 saya nggak mau banyak bacot disini pokoknya R&R ya, love! :3