30 Days Challenge
.
.
.
Disclaimer : semua hanya punya tuhan, termasuk storylinenya.
.
.
.
Pair : Various pairings. A 30 Day Challenge.
Genre, pairing, dan rating bisa berubah di setiap update.
.
.
.
Inspired by 30 days fanfiction challenge on aff.
.
.
Chapter 6, You pt.1 (Rain and Bookstore) : Mino x Jinwoo (1.480 words)
Rating : T
Genre : Friendship, Romance
.
.
Happy reading, readers!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Remember that day, when the rain is pouring and we met for the first time infront of a bookstore?
You're drenched.
Jinwoo membereskan tasnya, memasukkan buku-buku pelajarannya ke dalam ransel putih favoritnya. Mendung, batinnya saat melihat sekilas ke luar jendela. Maka ia cepat menggendong tasnya kemudian berjalan ke luar kelasnya. Aku harus cepat sampai dirumah, aku tak bawa payung.
Saat ia sampai di halaman sekolah, ia hanya menemukan beberapa anak masih disana —entah menunggu apa atau siapa. Ia terus berjalan, sedikit berlari lebih tepatnya. Bibir tipisnya membentuk lengkung ke atas —sebal. Gerimis mulai turun dan beberapa tetes mengenai wajahnya.
Ia pun memutuskan untuk berteduh sebentar di sebuah toko buku dengan bangunan yg sudah terlihat tua —sekalian mencari komik keluaran terbaru bulan ini. Saat masuk, ia disambut oleh seorang kakek tua yg tersenyum hangat.
"Selamat datang di toko buku kami."
Jinwoo terkesiap, senyum langsung terkembang di wajahnya.
"Apakah komik Naruto Shippuden jilid terbaru sudah terbit, kek?" Mata Jinwoo memindai seisi toko buku yg cukup luas tersebut.
"2 hari yg lalu baru datang, silahkan melihat-lihat." Senyum di wajah kakek tua yg ramah itu seakan tidak akan hilang, tangannya menunjuk ke sebuah rak yg dipenuhi komik kesukaannya —Naruto.
Jinwoo menyengir lebar lalu kakinya melangkah menuju rak buku tersebut. Disana ia langsung mengambil salah satu dari puluhan komik jilid baru (ia berniat untuk membacanya di rumah saja), lalu segera menuju ke tempat stationery.
Ia mengambil 4 buah pulpen, 2 buah pulpen, dan sebuah penghapus sekaligus, stock kalau-kalau nanti hilang atau diambil lagi.
Ia lalu menuju ke kasir untuk membayar. Dan hujan terlihat bertambah deras.
"Kau bawa payung, anak muda?" kakek tua itu bertanya selagi meng-scan barcode pada belanjaan Jinwoo, senyumnya masih terkembang.
"Tidak, kek. Makanya aku putuskan untuk berteduh sebentar disini sekalian membeli beberapa kebutuhan." Jinwoo balas tersenyum. Si kakek mengangguk mengerti.
"Apa kakek mengurus toko buku ini sendirian?" tanya Jinwoo sambil matanya memindai kembali sekeliling toko buku itu.
"Tidak, anak dan cucuku ikut mengurus, namun terkadang kami masih sangat kerepotan." Kekehan tawa kecil meluncur dari mulut si kakek, sementara Jinwoo hanya membentuk O sempurna di mulutnya.
"Kalau begitu, apa boleh aku membantu kakek, ya, anggap saja terima aku bekerja disini?" tanya Jinwoo —atau lebih terdengar seperti memohon.
Si kakek menimbang-nimbang sesaat, "Baiklah."
"Tapi kek, tidak perlu membayarku." Lanjut Jinwoo.
"Tapi nak-" "Kek, bukannya aku sombong, tetapi aku benar ingin membantu. Ya lumayan daripada aku dirumah hanya bermalas-malasan setelah pulang sekolah."
Jinwoo adalah anak pintar di kelasnya, kalau boleh jujur. Ia ramah, disukai semua anak di kelasnya, dan juga ia sangat aktif di organisasi siswa sekolah. Sayangnya, semua itu berbanding terbalik saat ia dirumah, ia akan menjadi sangat sangat malas.
"Wah, kau baik sekali nak. Kalau begitu datanglah kapan saja kau bisa." Senyum si kakek bertambah lebar.
"Oh iya kek, boleh aku pinjam payung?" tanya Jinwoo, setelah membayar semua belanjaannya.
"Tentu. Di dekat pintu, ada tempat payung, nah ambillah salah satu."
Jinwoo langsung menuju ke tempat payung, setelah mengucapkan terima kasih singkat kepada si kakek. Jinwoo memilih sebuah payung putih. Ya, maklumkan Jinwoo yg sangat mencintai warna putih.
"Kakek, aku pulang dulu ya, besok aku kembalikan payungnya, selamat siang." Jinwoo melambaikan tangannya.
Jinwoo kemudian langsung membuka payung putih itu setelah keluar dari toko buku. Tapi betapa terkejutnya ia saat menyadari seseorang berdiri beberapa meter di sebelah kirinya.
Basah kuyup, itulah kata yg terlintas pertama saat Jinwoo melihat seseorang itu. Ia memakai seragam sepertiku. Apakah ia siswa di sekolahku juga?
"Uhm, halo?" Jinwoo menyapa seseorang itu setelah menutup kembali payungnya.
"Hai." Orang itu menjawab singkat, sembari tangannya menyeka rambut basahnya.
"Apa kau siswa di Daeguk High School juga?" Jinwoo mendekat.
"Ya. Dan kau si kakak kelas pintar dari kelas 3-A itu, aku tahu." Suara baritonnya sangat matang untuk seumuran siswa sekolah tingkat akhir.
"Ya, banyak yg memanggilku begitu tapi lupakan, aku Kim Jinwoo." Jinwoo mengulurkan tangannya, ingin berkenalan.
"Song Mino, kelas 2-C." Adik kelas itu menjabat tangan mungil si kakak kelas.
"Kau nekat menerobos hujan sampai basah kuyup begini?" tanya Jinwoo.
"Eh, ya, sebenarnya aku juga terpeleset di jalan tadi, karena aku berlari."
Jinwoo tak bisa menyembunyikan senyumnya.
"Kenapa tersenyum?" Mino terlihat tidak senang. "Kau ceroboh."
Keheningan langsung terjadi. Sekitar 6 menit berlalu, akhirnya Jinwoo bersuara.
"Rumahku sekitar 2 blok dari sini, mau mampir? Aku akan meminjamkanmu pakaian." Mino menatap Jinwoo sejenak. Membuat yg ditatap seperti salah tingkah.
"E-eh, aku hanya ingin menolongmu, kok. Jangan mengasumsikan apapun ya."
Mino menggeleng, senyumnya terbentuk meskipun hanya senyum kecil. "Kau baik sekali ternyata."
"Maksudmu?"
"Ya, banyak yg bilang kau sedikit sombong." Mino mengamati wajah Jinwoo. "Kau sangat cantik kalau dilihat dari dekat."
Rasa hangat langsung menjalari pipi Jinwoo. "Ish, jangan menggodaku." Bibir tipis Jinwoo membentuk pout kecil.
"Dan juga pemalu, ternyata. Hahaha." Mino tertawa. Jinwoo merasa hangat di dadanya melihat Mino tertawa.
"Sudahlah. Aku terima tawaranmu." Potong Mino, menyadarkan Jinwoo.
"Ah baiklah, ayo." Jinwoo pun membuka kembali payung putih itu, Mino bergabung di sampingnya, lalu mereka berjalan berdua dibawah lindungan payung putih itu, dengan Mino yg memegang payungnya.
Ya tuhan, kenapa terasa nyaman? Jinwoo memegang dadanya, merasakan detak jantungnya yg mulai tak beraturan.
.
"Kau tunggu disini, aku akan mengambil pakaian dan handuk." Ucap Jinwoo sesampainya di rumahnya.
Mino menurut, lalu tetap berdiri di ruang tamu rumah Jinwoo yg bisa dibilang cukup besar dan juga sangat rapi.
"Halo anak muda, kau temannya Jinwoo?" seorang perempuan paruh baya menepuk pundak Mino.
"Ah, aku adik kelasnya, sebenarnya. Selamat siang." Mino memberi salam dengan senyum canggung.
"Duduklah, Jinwoo bodoh sekali tak menyuruhmu duduk. Aku ibunya Jinwoo. Selamat datang di rumah kami." Perempuan itu memberikan senyum hangatnya pada Mino.
Ibunya saja secantik ini, pantas saja Jinwoo juga cantik.
Perempuan itu menarik tangan Mino lalu menuntunnya ke sofa. Lalu ia duduk di sebelah Mino.
"Sepertinya Jinwoo sedang mengambilkanmu pakaian. Tunggu disini sebentar ya, aku akan menyusulnya."
Wow, apakah keluarganya memang memiliki mindset untuk berbaik hati kepada siapapun, bahkan kepada orang yg baru dikenal?
.
"Jinwoo." Perempuan itu memasuki kamar anaknya tanpa mengetuk pintu.
"Ya, bu?" Jinwoo menengok, tangannya membawa sebuah sweater, sebuah kaus lengan pendek dan juga celana panjang.
"Yg dibawah itu adik kelasmu? Terlihat seperti seumuranmu ya, atau memang wajahmu yg terlalu imut seperti anak kecil, ya?" perempuan itu terkikik kecil.
"Ah ibu. Berhenti menggoda. Oh iya, ibu masak apa?" ucap Jinwoo sembari menutup pintu lemari pakaiannya.
"Sup daging. Ajaklah adikm kelasmu itu makan, kasihan, ia terlihat menggigil."
"Baiklah bu."
.
"Mino." Yg dipanggil langsung menengok, mendapati tangan Jinwoo mengulurkan beberapa potong pakaian dan sebuah handuk bersih.
"Kamar mandi ada di sebelah dapur." Tangan Jinwoo menunjukkan arah.
"Terima kasih." Mino langsung berjalan menuju ke kamar mandi.
Sementara Jinwoo menuju ke dapur. Disana ia menyiapkan 2 piring lalu meletakkannya di meja makan. Lalu ia mengangkat panci sup yg masih berada di atas kompor ke meja makan dengan sangat hati-hati menggunakan kain —supnya baru saja masak.
Tak lama, Mino keluar dari kamar mandi. Jinwoo tidak berbohong saat di pikirannya terlintas betapa sexynya Mino, dengan bulir-bulir air menetes di rambutnya yg masih basah, beberapa tetes mengalir melalui wajah tampannya menuju lehernya yg panjang, lalu menuju ke dadanya yg bidang lalu-
Aish, hentikan. Jinwoo menggelengkan kepalanya cepat.
"Kau terpesona karenaku, ya?" suara bariton Mino membuat rasa hangat menjalari pipi Jinwoo —lagi.
"Kenapa semua orang senang menggodaku, sih! Sudahlah, lebih baik sekarang kau makan, aku tahu kau lapar, Song Mino." Jinwoo langsung duduk di kursi meja makannya.
"Duduk dan cepatlah makan Mino. Jangan mengulur waktu, memangnya kau tak kasihan mamamu menunggu dirumah?" Jinwoo menatap Mino dengan pandangan kesal.
"Baiklah, tuan rumah. Terima kasih kau sudah mau repot-repot meminjamkan baju dan memberi makan pada adik kelas yg bahkan baru kau kenal satu jam yg lalu." Mino duduk di sebelahnya.
Jinwoo hanya memutar bola matanya malas, tetapi tangan mungilnya mulai menyendokkan nasi dan juga sup ke piring miliknya dan juga piring Mino.
Bahkan ia menyendokkan nasi dan sup ke piringku. Sungguh, kau terlalu baik, kakak kelas.
"Mino!" Mino pun tersadar dari monolognya. Ia lalu mulai menyendok makanan di piringnya. Dan Mino sangat suka dengan rasa sup itu, enak sekali.
"Yg membuat sup ini ibumu?" tanya Mino, lalu menyuap lagi.
"Ibuku."
"Enak sekali. Seperti masakan ibuku." Ucap Mino.
"Masakan semua ibu memang enak." Keduanya lalu melanjutkan makan sampai habis.
Dan aku penasaran apakah masakanmu nanti akan terasa seenak ini saat kau menjadi istriku nanti? Mino tersenyum sekilas.
.
"Terima kasih atas kebaikan hatimu mengajakku ke rumahmu." Ucap Mino sembari memakai sepatunya yg sudah mulai kering.
"Ya, hati-hati nanti dijalan. Kau bisa kembalikan pakaian itu kapan saja." Ucap Jinwoo dengan senyum manis di bibirnya.
Manis sekali.
"Ah baiklah. Terima kasih banyak." Mino balas tersenyum, kali ini lebih lebar dan lebih...hangat.
"Sama-sama, sampaikan salamku pada ibumu." Ucap Jinwoo, beberapa detik sebelum Mino menjauh.
Oh tuhan. Tidak, aku tidak suka padanya. Tapi dia baik walaupun suka menggoda. Astaga aku tidak suka padanya.
Dan malamnya Jinwoo tidak bisa tidur karena wajah si adik kelas terus terbayang di pikirannya.
Sementara di lain tempat, Mino tersenyum, aku suka pada Jinwoo. Ya, aku akan mendapatkanmu, kakak kelas.
.
.
.
TBC?
.
.
Hai readers! Tolong kasih komen dan kritik dan saran dan apapun itu, haruskah saya lanjut cerita ini karena saya punya idenya tapi saya takut tidak sebagus harapan readers eue.
p.s : let's be friend on twitter! -at-monoxhrome hehehe^^
