30 Days Challenge
.
.
.
Disclaimer : semua hanya punya tuhan, termasuk storylinenya.
.
.
.
Pair : Various pairings. A 30 Day Challenge.
Genre, pairing, dan rating bisa berubah di setiap update.
.
.
.
Inspired by 30 days fanfiction challenge on aff.
.
.
Chapter 8, Pain : Rap Monster —centric— (782 words)
Rating : M (untuk tema suicide, overdose of pills)
Genre : Angst
.
.
Happy reading, readers!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
No more me.
—
Namjoon tersenyum mengejek pada tengah malam yg sepi itu. Ia ingin sekali berteriak, tapi ia tak mungkin mengambil resiko akan membangunkan orang tuanya. Ia ingin sekali menangis, tapi yg keluar hanyalah umpatan kekesalan. Ia ingin sekali merobek kulit dan pembuluh darahnya menggunakan silet yg kini ada di tangannya —tetapi sayangnya Namjoon tidak suka bau darah. Maka akhirnya Namjoon hanya menatap kosong pada dinding kamar di depannya. Menatap kosong sampai matanya menutup, kantuk menguasai.
Aku lelah.
.
No more people.
—
Namjoon langsung menuju ke kamarnya setelah pulang sekolah, tanpa mempedulikan panggilan ibunya yg menyuruhnya untuk mandi dan makan, tanpa mempedulikan sms, mention, bahkan panggilan teman-temannya yg menanyakan keanehannya tadi di sekolah. Bahkan Namjoon tidak mempedulikan kedatangan ayahnya yg baru saja pulang bertugas dari luar kota. Namjoon hanya berbaring di kamarnya, dengan seragam yg masih melekat di tubuhnya, dengan kepala yg terasa sangat pusing, dengan mata yg berair.
Semua orang sama.
.
No more suffering.
—
Namjoon menelan sebutir kapsul kecil itu, sebelum meminum air putih. Namjoon memang selalu kesulitan untuk tidur. Salahkan banyaknya tugas sekolah yg memaksa untuk dikerjakan. Tapi 2 tahun belakangan, ia menjadi terbiasa akan hal itu. Bahkan, kini ia hanya tidur 3-5 jam saja sehari. Namjoon tidak memikirkan itu, sebenarnya. Ia hanya lelah, karena setiap ia tidak memejamkan mata, semua penderitaannya seakan menekan pikirannya.
Terutama penderitaan yg disebabkan sang ayah yg tidak pernah melirik kerja kerasnya.
Namjoon mengagumi dan menjunjung tinggi kebahagiaan ayahnya, selalu. Baginya, ayahnya adalah pahlawannya, alasannya belajar giat, alasannya ia punya mimpi. Bahkan, Namjoon sangat menghormati ayahnya sampai-sampai terkadang ia tak begitu hormat pada sang ibu.
Semua berawal dari tahun pertama kelas menengah awal, ayahnya mulai memfokuskan perhatiannya kepada adik Namjoon.
Seiring berjalannya waktu, Namjoon dan sang adik semakin tumbuh besar, ibu mereka semakin cerewet, sedangkan ayah mereka terkena penyakit jantung hanya karena terlalu giat bekerja.
Namjoon tentu semakin menjunjung tinggi kebahagiaan ayahnya setelah 2 minggu ayahnya dirawat di sebuah rumah sakit jantung. Sebuah cardio-ring kini terpasang di jantung sang ayah. Maka Namjoon menambah porsi belajarnya, mengurangi waktu bermainnya, mengurangi kegiatan apapun hanya untuk belajar.
Ia ingin membuat ayahnya bangga.
Namun seakan Namjoon adalah sosok yg invisible, seakan kerja keras Namjoon yg semakin sering kekurangan waktu tidur hanya untuk belajar demi mendapat ilmu dan juga nilai bagus itu hanya main-main, sang ayah semakin hari semakin memberikan perhatian penuh kepada adik Namjoon.
Awalnya Namjoon maklum saja. Memang sudah hukum alam setiap adik akan selalu mendapat perhatian lebih.
Namun semakin lama Namjoon merasa seakan ayahnya tak lagi menganggapnya sebagai anak.
Namjoon sangat pandai menyembunyikan amarah dan perasaannya, untungnya.
Seperti saat itu, ayahnya yg masih melanjutkan bekerja menelepon dari kantor, dan kebetulan sekali hanya Namjoon yg saat itu berada di rumah.
"Halo?" Namjoon mengangkat telepon itu.
"Halo. Mana adikmu?" suara di seberang bertanya.
"Eum, dia sedang bermain ke rumah temannya. Kenapa, ayah?"
"Ah tidak apa-apa. Tolong bilang padanya sepatu baru untuknya sudah ayah belikan. Sudah ya, Namjoon." pihak seberang menyudahi panggilan.
Namjoon hanya berdiri disana, dengan gagang telepon masih ia genggam. Ia lalu menaruh kembali gagang telepon itu ke tempat asalnya dengan sedikit kasar, kemudian berbalik menuju rak sepatu yg berada tak jauh dari ruang tamu. Ia menatap deretan sepatu adiknya.
Sepatunya 7 pasang, masih bagus dan baru semua, sekarang dibelikan baru lagi.
Namjoon kemudian beralih menatap deretan sepatu miliknya. 4 pasang sepatu ada disana. Tapi hanya 2 yg masih bisa Namjoon pakai. 2 lainnya sudah tidak bisa dipakai karena ukuran kaki Namjoon yg bertambah panjang karena masa pertumbuhan. 2 yg masih bisa dipakai, yg salah satunya Namjoon beli atas uang tabungannya itupun keadaannya sudah mulai rusak.
Bahkan terakhir aku dibelikan sepatu oleh ayah itu 3 tahun yg lalu.
/
Namjoon kemarin mendapat peringkat pertama di kelas. Ibunya tersenyum sangat manis dan hangat padanya, memeluknya seakan sangat berterima kasih atas kerja keras Namjoon selama ini. Semua teman-temannya pun begitu, mereka memberikan selamat kepada Namjoon satu-persatu, memuji si jenius.
Namun disana ia melihat sang ayah hanya berdiri, seperti tak ingin melakukan hal yg sama seperti apa yg ibu Namjoon dan teman-temannya lakukan.
Namjoon hanya bisa tersenyum pahit.
Penderitaan itu...menyenangkan, bukan?
.
No more pain.
—
Namjoon menatap botol kapsul di depannya. Obat tidur, begitu tertera keterangan di kemasan botol itu. Ya, malam ini ia benar-benar tak bisa tidur. Rasa sakit itu muncul lagi. Tapi rasanya sedikit berbeda kali ini. Dadanya sesak, tetapi pikirannya seperti kegirangan karena menemukan ide.
Mungkin ayah akan menghargai kerja kerasku setelah ini. Namjoon tersenyum, sinis.
Ia lalu membuka botol kapsul itu, mengeluarkan semua isinya, lalu memaksa kerongkongannya menelan sebanyak-banyaknya jumlah kapsul-kapsul itu.
Matanya kini sedikit berair, rasa pahit kapsul itu memenuhi mulutnya, sedikit mual juga mulai terasa. Tapi Namjoon terus melakukannya.
Sampai busa mulai keluar dari mulutnya, kesadarannya mulai hilang, makin hilang, dan lenyap.
Selamat tinggal.
.
.
.
End.
454 : haiii salam kenal, maaf reviewnya baru dibalas sekarang ya huhu soalnya aku rada males kemaren2 balesin review heu. HALO BANGDAE SHIPPER HUHUHU MAAF YA KEMAREN AKU JANJIIN BANGDAE TP GAK JADI TERUS T_T iluvya makasih ya sudah mau r&r :3
Rin : markbamnya nyusul ya sayang kkk~ iluvya makasih ya sudah mau r&r :3
She3nn0 : halo salam kenal~ jadi 30 days drabbles itu sebenernya 30 drabbles (cerita pendek) yg dipost selama sebulan berturut~ Cuma karena sayanya malas dan ide jarang muncul, jadi ngepostnya bolong2 deh maaf ya ;_; iya ceritanya emang banyak yg ngegantung, maafin lagi ya soalnya aku jg masih author baru masih harus banyak belajar hehe. Nanti taekooknya nyusul ya sayang~kkk~ iluvya makasih ya sudah mau r&r :3
BTSFANBOY : maaf ya saya bikin jikook meninggal di chapter kemaren huhuhuhu T-T iluvya makasih ya sudah mau r&r :3
Soo-iceu : SAYANGKU KAPAN APDET SARANGHAE ADUH MASA STUCK DI XERONISSI MULU NAKTOM GIMANA NAKTOM!
Q-ara Jung : hehe baguslah kalo kamu suka, iluvya makasih ya sudah mau r&r :3
Mrs Min : hyosang & hojoon itu member toppdogg hehehe iluvya makasih ya sudah mau r&r :3
454 : iya kamu harus stalk toppdogg biar lebih ngerti ceritanya hahah~~
She3nn0 : jiah baru nyadar, padahal di atas udah ada notice hahah~
q-ara jung : banghimnya bakal ada sequel kok hihihi :3
.
Halo, saya kembali lagi! Maaf loh sekarang saya bawain ff angst nih heheh. Untuk cerita yg ini sedikit diambil dari masalah saya sekarang, ya masalah sama ayah ya gitu deh Cuma diperbagus alurnya untuk kebutuhan cerita/? Jadi semoga suka ya, readers.
Kindly read and review? I luv ya :3
p.s : let's be friend on twitter -at-monoxhrome
xoxo, dhana.
