30 Days Challenge

.

.

.

Disclaimer : semua hanya punya tuhan, termasuk storylinenya.

.

.

.

Pair : Various pairings. A 30 Day Challenge.

Genre, pairing, dan rating bisa berubah di setiap update.

.

.

.

Inspired by 30 days fanfiction challenge on aff.

.

.

Chapter 9, Your Pride : Kidoh —centric— (610 words)

Rating : K

Genre : Hurt/Comfort, Family

.

.

Happy reading, readers!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hyosang yg dulu memang sudah terganti oleh yg sekarang.

Itulah asumsi orang-orang terdekat Hyosang, melihat kondisi Hyosang yg kini sangat berubah, drastis. Bila dulu mereka menemukan banyak kebahagiaan di sirat matanya, kini mereka hanya menemukan tatapan yg dingin dan tajam.

Aku tidak berubah. Aku hanya belum bisa menerima kenyataan kakekku tak lagi disini.

.

Semua berawal di hari itu, hari dimana kakeknya meninggal dunia.

Hyosang tak tahu harus apa. Ia ingin sekali menangis dan meraung meminta agar kakeknya membuka matanya kembali, tetapi ia teringat kakeknya pernah mengajarinya untuk menjadi anak yg kuat dan tegar.

"Kalau suatu saat nanti kakek berpulang, jangan menangis, relakan kakek pulang dengan senyuman."

Hyosang yg berumur 7 tahun saat itu tak mengerti apa arti dari kalimat yg sang kakek ucapkan. Namun Hyosang di tahunnya yg ke-14 kini paham betul apa maksud dari kalimat tersebut.

Hyosang hanya menitikkan beberapa tetes air mata saat kakeknya disemayamkan sejenak di rumah duka, saat orang-orang yg mengasihi kakeknya satu-persatu datang dan mendoakan, beristirahatlah dalam damai. Hyosang hanya berdiri di sudut ruangan, melihat bagaimana kakeknya dikerubungi dan ditangisi oleh banyak orang yg mengasihinya, sama seperti saat beliau masih bernafas. Hyosang tidak berniat untuk ikut melebur ke orang-orang itu.

Karena Hyosang berusaha tersenyum, agar air matanya tidak keluar mencapai puluhan tetes.

.

Hubungan Hyosang dengan sang kakek memang lebih terlihat seperti ayah dan anak. Ia dengan neneknya pun terlihat seperti ibu dengan anak lelakinya. Ya, salahkan kedua orangtuanya yg sibuk bekerja sehingga selalu meninggalkan Hyosang dirumah dan menitipkannya kepada kakek dan neneknya.

Hyosang bersyukur mempunyai kakek seperti beliau. Ya, banyak yg kakeknya ajarkan padanya. Seperti bagaimana menjadi anak yg pintar dan patuh kepada orang tua, dan lain-lain. Bahkan, hal yg seharusnya sang ayah ajarkan pada Hyosang malah diajarkan oleh kakeknya.

Hyosang sekali mengunjungi makam kakeknya saat ia berumur 15 tahun, membawa sebuah topi —topi milik sang kakek, yg menjadi salah satu favoritnya. Ia meletakkan topi itu diatas pusara makam sang kakek, bersamaan dengan sebuah kertas berisikan surat yg ia tulis sendiri. Hyosang kemudian tersenyum, senyum yg cukup lebar dan penuh ketulusan, setelah setahun hanya ekspresi datar yg tertera pada wajahnya, seolah mengucapkan semua rasa terima kasihnya kepada kakeknya, untuk semua dukungan dan pelajaran yg diberikan sang kakek padanya, kemudian bangkit berdiri dan pulang, melanjutkan keinginan sang kakek.

Jadilah orang yg sukses, Hyosang. Kakek sangat bangga padamu.

.

Usia Hyosang sudah 23 tahun, sekarang. Tubuhnya bertambah tinggi, rambutnya kini terpangkas rapi, badannya tambah berisi —tak sekurus dulu.

Neneknya masih bersamanya. Ayah dan ibunya kini sudah semakin tua. Mereka tak lagi sibuk bekerja. Ketiganya kini tinggal di rumah dengan semua kebutuhan mereka tercukupi. Tetapi tetap saja Hyosang dan orangtuanya jarang menghabiskan waktu bersama.

Hyosang tak mengikuti kemauan ayahnya agar ia menjadi seorang businessman, malah ia memaksakan kehendaknya dan disinilah ia sekarang. Dengan banyak penggemar yg meneriakinya saat grupnya mulai menyanyi, menari, dan rapping, Hyosang memilih jalannya sendiri, melupakan kemauan ayahnya.

Ia kini sudah menjadi seorang yg sukses, menciptakan banyak lagu dan menampilkan kemampuan rapnya dari satu panggung ke panggung lain, ke kota-kota lain, bahkan tak jarang ia terbang ke negara lain. Dan tentu dengan banyak tanggung jawab yg harus ia pikul sebagai orang dewasa dan juga seorang idol rapper.

Terkadang saat Hyosang punya waktu senggang, ia akan pergi ke makam sang kakek saat siang, mengucapkan aku rindu kakek, bertanya apa kabarmu disana, kakek?,bercerita tentang kehidupannya sendiri disana, berkeluh kesah disana, menangis disana.

Mungkin beberapa orang dan menganggapnya gila. Tapi Hyosang tidak peduli.

Karena setelah ia selesai berbicara pada makam itu, ia selalu mendengar kakeknya menjawab;

Kau akan selalu menjadi kebanggaanku, Hyosang.

.

Because as I grew up staring at my father's back, there's my grandpa supporting me to chase my father and my dreams.

.

.

.

End.

Note : Untuk kakekku yg sekarang sudah tenang di sisi Allah SWT, i miss you.