Drabbles
.
.
.
Disclaimer : semua hanya punya tuhan, termasuk storylinenya.
.
.
.
Pair : Various pairings. Genre, pairing, dan rating bisa berubah di setiap update.
.
.
.
.
.
.
Chapter 10, Belonging to you, my home : Rap Monster x Jin (1.929 words)
Rating : T (agak nyerempet ke M miane readersdeul!)
Genre : Romance, Hurt/Comfort (Marriage life)
Warning : shounen-ai, alternate universe.
.
Happy reading, readers!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Namjoon tidak terbiasa dengan kebisingan.
Itulah sebabnya kenapa Namjoon selalu menyelinap keluar dari bar — saat teman-teman kerjanya seperti Hoseok dan Yoongi dan yang lainnya berpesta merayakan hari kesuksesan kantornya karena penjualan saham mereka meningkat.
Itulah sebabnya kenapa Namjoon selalu memasang lagu hip-hop melalui headsetnya saat orang-orang di jalan ramai bersorak-sorai merayakan hari kemerdekaan negara tercinta.
Itulah sebabnya sekarang Namjoon hanya duduk di atas kasurnya dengan headset terpasang di kedua telinganya dan sebuah komik di tangannya.
Hari ini tanggal 31 Desember, padahal.
Disaat semua orang sibuk mempersiapkan diri menyambut pergantian tahun,
Namjoon mengunci diri di kamarnya, hanyut dalam dunianya sendiri.
Ia tidak disini. Jadi untuk apa aku merayakan tahun baru. Tidak penting, lagipula.
.
Seokjin tersenyum puas saat ia melihat refleksinya di cermin. Sweatshirtnya dengan merek Supreme membalut tubuhnya dan juga kemeja putih lengan panjangnya. Celana jeans berwarna hitam legam membalut kakinya. Rambut light brownnya ia biarkan tanpa gel. Wajahnya pun bersih dari riasan make up — ia hanya mengaplikasikan BB cream mahalnya dengan layer tipis di wajahnya. Ia hanya akan pulang, jadi pakai yang simple saja.
Seokjin kemudian mengambil ransel kecilnya yang berada di atas meja nakas kamar itu. Dia memasukkan handphone, dompet, sisir kecil, pasport dan visa, dan juga kamera miliknya.
Seokjin tersenyum. Ia kemudian menyeret koper biru besarnya keluar dari kamar itu, tak lupa mematikan semua peralatan listrik yang tidak digunakan, lalu mencabut card yang terpasang pada mesin khusus di dinding, melangkahkan kaki jenjangnya menuju bagian front office untuk segera check out dan pulang.
.
Namjoon menggeram marah saat Hoseok dan Yoongi masuk tanpa izin begitu saja ke dalam kamar apartemennya. Komik yang tadi ia baca sudah terjatuh ke dalam pangkuan kakinya.
"Mau apa kalian kesini. Mengganggu saja." Namjoon menatap dua sahabatnya itu kesal.
"Oh ayolah Namjoonie, ini sudah jam 10 pagi dan kau tidak mau menyiapkan pesta untuk nanti malam?" Yoongi duduk di tepi tempat tidur Namjoon lalu menepuk kaki Namjoon dengan -sedikit- kasar.
"Tidak penting. Dan jangan panggil aku Namjoonie." Karena panggilan itu hanya khusus untuk ibuku dan juga dia.
"Lihat kamarmu bos, berantakan sekali. Dan astaga Namjoon, kau tidak membuang sisa makanan itu?" Hoseok memindai seisi kamar Namjoon, dan matanya menatap jijik pada objek piring stereofoam yg berada di pojok ruangan itu, — demi tuhan Hoseok yakin itu adalah bekas pasta instan.
"Sudah berapa lama kau ditinggal princess kim, huh? Hidupmu jadi tak terurus."
Namjoon mengernyitkan dahinya, kemudian menatap tidak suka pada Hoseok.
"Jangan panggil dia princess." Hanya aku yang boleh memanggilnya begitu.
"Terserah. Jadi intinya kau mau ikut ke pesta kami dan yang lainnya atau tidak, bos?" tanya Hoseok.
"Tidak."
Dan dengan jawaban yang singkat-padat-sangat jelas itupun akhirnya Hoseok dan Yoongi menyerah, lalu keluar dari kamar Namjoon setelah berkata,
"Kami membelikanmu makanan, anyway."
.
Kim Namjoon, 29 tahun, seorang pewaris yang juga menjabat sebagai president director di sebuah family company ternama, sudah resmi menjadi suami dari Kim Seokjin, 31 tahun, seorang supermodel dan designer yang bakatnya tak diragukan lagi.
Semua berawal saat 5 tahun yang lalu perusahaan Namjoon meminta Seokjin menjadi salah satu casual suit designer untuk para atasan yang saat itu akan menjamu tamu khusus.
Mereka bertemu di kantor Namjoon, tepat 12 hari sebelum acara jamuan tersebut dilaksanakan. Seokjin beberapa kali meminta Namjoon untuk datang ke butiknya, untuk tujuan fitting baju, tentu saja.
Tapi disanalah Namjoon, terpaku melihat semua hasil kerja Seokjin, terpaku pada sang flower boy.
Begitupun Seokjin, merasa kagum dengan cerita Namjoon dan seluruh kerja keras Namjoon yang terus meningkatkan kinerjanya untuk kesuksesan perusahaan.
Mereka menjalin hubungan selama 2 tahun. Tak ada yang menerima awalnya, karena mereka gay. Tetapi seiring berjalannya waktu, seluruh keluarga mereka dan juga teman-teman mulai bisa menerimanya.
Hingga akhirnya di tahun ke-3 mereka memutuskan untuk menikah di Los Angeles dengan hanya dihadiri sebagian kecil keluarga dan sahabat. Mereka menikah disana bertepatan dengan pergantian tahun baru.
.
Seokjin bersyukur karena antrian pemeriksaan pasport tidak terlalu panjang. Setelah melewati bagian itu, Seokjin menunggu di ruang tunggu yang disediakan bandar udara tersebut.
Tak sampai 15 menit, pesawat yang akan membawanya pulang ke Seoul sudah sampai di bandar udara Narita. Seokjin pun segera bersiap, dengan headset yang terpasang di kedua telinganya yang terhubung ke handphone di saku celananya, ransel kecil di gendongan punggungnya, dan juga tiket dan pasport di genggaman tangannya, Seokjin berjalan menuju pintu masuk pesawat.
.
Namjoon menatap bento box ala restoran jepang di depannya dengan pandangan kosong. Kenapa mereka membelikanku bento. Sengaja sekali. Batin Namjoon. Ia akhirnya memutuskan untuk tidak memakannya. Malah ia memilih untuk memesan meat pizza berukuran large melalui telepon.
Sambil menunggu, Namjoon duduk di sofa apartemennya sembari menonton televisi. Ibu jarinya berulang kali menekan tombol next channel di remotenya.
Menyerah, Namjoon akhirnya membiarkan channel Cartoon Network terpasang di layar televisinya. Adventure time tidak pernah gagal menghilangkan rasa bosanku.
.
Menghabiskan sekitar 60 menit untuk penerbangan hingga Seokjin akhirnya bisa menghirup kembali udara negaranya.
Seokjin pun melewati rangkaian pemeriksaan identitas-pasport-visa lalu kemudian menuju ke bagian pengambilan luggage. Setelah tangannya menemukan kopernya, Seokjin segera menyeret koper itu ke luar area arrival setelah sebelumnya memasukkan pasport dan visanya ke dalam ransel kecilnya.
Seokjin menaiki taksi dari bandar udara Gimpo, menuju ke apartemen sang suami di kawasan Hongdae.
Rumahnya.
.
Pizza berukuran besar dengan topping daging yang sangat banyak itu kini sudah berada di pangkuan Namjoon. Ia mengambil satu slice kemudian mulai memakannya.
Biarpun terkenal pizza ini masih kalah rasanya dibanding masakan buatannya.
Namjoon tersenyum pahit.
Berbanding terbalik dengan rasa pizza yang sedang ia kunyah.
.
Seokjin menekan bel apartemen yang bisa dibilang besar itu. Menunggu sang pemilik membuka pintunya. Ia hanya menunggu, dengan senyum manis terpasang di wajah indahnya.
.
Namjoon berjalan malas ke arah pintu apartemennya. Merasa terganggu dengan suara bel yg berbunyi 2 kali itu.
.
Pintu itu terbuka, menampakkan seseorang yang sudah lama ia rindukan, terlihat kacau dengan messy blonde hair, mata yang tampak lelah, dan juga t-shirt putih dan khaki short yg tampak kusut. Berbanding terbalik dengan imej seorang president director pada umumnya.
.
Pintu itu terbuka, menampakkan seseorang yang sudah lama ia rindukan, terlihat sangat indah dan modis meski hanya dalam balutan pakaian simple dan koper di belakangnya. Berbanding terbalik dengan imej berpakaian seorang supermodel pada umumnya.
.
"Hai." Hanya itu yang muncul dari mulut Namjoon saat melihat sosok di depannya.
"..." Seokjin tidak merespon, malah mempoutkan bibirnya kesal.
Namjoon tidak berkomentar. Ia hanya menarik pergelangan tangan Seokjin masuk lalu tak lupa juga dengan kopernya.
"Hanya itu yang aku dapat saat pulang? Tahu begitu aku harusnya memilih untuk pulang tahun dep-" ucapan Seokjin terpotong saat Namjoon memeluknya erat — terlalu erat malah.
Namjoon memeluk pinggang Seokjin erat, seakan takut kalau-kalau Seokjin akan pergi meninggalkannya sendiri — lagi. Namjoon menaruh dagunya di bahu tegap Seokjin.
"Aku rindu padamu. Sangat." Ucap Namjoon.
Seokjin tersenyum, tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk memeluk leher Namjoon.
"Aku juga, President Kim."
.
Jari Seokjin bermain di antara rambut blonde Namjoon. Dengan posisi duduk bersandar pada sofa, sementara Namjoon berbaring di sofa dan kepala Namjoon di pangkuannya, Seokjin tersenyum. Ia rindu momen seperti ini.
"Jadi, bagaimana perusahaanmu?" jemari Seokjin kini menyusuri lekuk wajah suaminya, menusuk-nusukkan telunjuknya ke pipi suaminya yang kini bertambah tirus.
"Meningkat. Segalanya terkontrol karena semua orang bekerja sama dengan sangat baik."
Seokjin tak bisa menahan senyumnya. Ia tahu Namjoon. Suaminya adalah tipe leader yang tidak hanya memikirkan kebutuhannya sendiri. Ia melihat seluruh aspek perusahaan. Seokjin tahu betul bahwa hampir seluruh karyawan di perusahaan itu bergantung kepada perintah Namjoon. Karena perintah Namjoon tidak pernah menyangkutkan ke-individuan. Namjoon malah menerapkan sistem kerja sama yang malah membuat seluruh karyawan semakin bersemangat bekerja.
Dan Seokjin tahu itu berdasarkan cerita dari para sahabat Namjoon — Yoongi dan Hoseok — dan juga bawahan Namjoon yang bernama Jimin, Taehyung, dan Jungkook. Ya, mereka awalnya adalah adik asuh Seokjin yang ia angkat 3 tahun lalu dari sebuah panti asuhan tempatnya mendominasikan sebagian besar penghasilan fashion shownya yang sangat sukses.
Mereka sudah berumur diatas 18 tahun saat Seokjin menemukan mereka. Kepala panti asuhan itu bilang bahwa mereka harus bekerja karena umur yang sudah cukup. Seokjin yang sangat menghargai humanity pun akhirnya mengangkat mereka sebagai adik — ya, umur Seokjin masih 27 tahun saat itu. Dan Seokjin mengenalkan mereka kepada Namjoon. Seokjin dan Namjoon menyekolahkan mereka hingga mereka lulus sarjana dan akhirnya Namjoon merekrut mereka ke perusahaannya.
"Aku lapar." Namjoon menggerutu, menyadarkan lamunan Seokjin dan membuat istrinya itu geli karena Namjoon menempelkan wajahnya ke perut Seokjin.
"Baiklah hentikan itu. Geli, Namjoon." seokjin mencoba menyingkirkan kepala Namjoon dari pangkuannya.
Ia pun segera berlari kecil menuju dapur mereka. Tapi matanya menatap bingung ke sebuah bento box dan sekotak pizza berukuran besar di meja dapur.
"Aku tidak mau makan keduanya." Namjoon memeluk pinggangnya dari belakang, membuat Seokjin melompat terkejut. Dan berusaha mati-matian untuk tidak memukul ataupun mencubit tangan Namjoon saat ini, menyebalkan.
"Tapi, itu artinya kau menyia-nyiakan makanan." Nada bicara Seokjin marah, masih kesal dengan sudden backhugnya dan juga tingkah manja Namjoon.
"Masakkan aku sesuatu. Aku lapar." Ucap Namjoon tepat di telinganya. Seokjin kini harus berjuang untuk tidak terlihat canggung.
"Tidak."
"Kenapa? Atau kau ingin aku memakanmu saja?" bisikan Namjoon di telinganya kini terdengar sangat seduktif — demi tuhan Seokjin sedikit ngeri karena suara berat itu selalu mengakhiri nasibnya terbaring diatas ranjang dengan peluh membasahi tubuhnya dan juga desahan keluar dari mulutnya dengan bebas dan juga Namjoon yang bergerak memasukinya-
"TIDAK." Seokjin menutup matanya rapat.
"Hei, aku cuma bercanda." Namjoon tertawa keras di belakangnya.
Seokjin berbalik badan dan mempoutkan bibirnya.
"Oke-oke aku akan habiskan itu semua. Asal kau janji akan menjadi makananku malam nanti." Ucap Namjoon dengan smirk dan satu alisnya terangkat.
Seokjin masih mempoutkan bibirnya. Oke, dia memang rindu dengan semua hal tentang Namjoon — senyumnya, wajahnya, bahkan sentuhannya — tapi menurut Seokjin ini sedikit berlebihan. Tapi akhirnya ia menghela nafas, menyerah, karena ia tahu Namjoon sangat keras kepala dan selalu ingin kemauannya terpenuhi.
"Baiklah baiklah, my prince." Seokjin menjulurkan lidahnya, meledek.
Dan 5 detik kemudian Seokjin luluh dalam ciuman Namjoon, santai, ringan, penuh cinta, tidak diliputi nafsu, hanya menyalurkan kerinduan diantara keduanya.
"Aku sangat rindu padamu, kau tahu? 7 bulan aku mati-matian bertahan dengan produk makanan instan dan juga junk food. Dan bahkan aku terkadang membiarkan Jungkook dan Taehyung membereskan apartemen kita. Hidupku chaos tanpamu, sungguh." Namjoon menatap dalam pada marbel cokelat milik Seokjin, seperti mengeluarkan semua emosinya dan juga kerinduannya.
Yang ditatap seperti itu sangat mengerti. Seperti ada rasa bersalah yang terkumpul di dadanya saat Namjoon berkata seperti itu.
"Maafkan aku." Seokjin memeluk Namjoon, menyembunyikan kepalanya di dada bidang milik Namjoon.
Namjoon tak merespon tapi ia mulai panik saat ia merasakan basah di kaus bagian dadanya, disertai dengan terdengarnya isakan tangis yang halus.
"Maaf, maaf aku harus meninggalkanmu sendirian disini. Aku terlalu tergoda oleh tawaran modelling yang kakakku berikan. Modelling di Harajuku, aku tidak bisa menolaknya. Maaf, Namjoon, maaf."
Namjoon memeluk pinggang Seokjin dengan satu tangan, kemudian satu tangan lainnya mengusap-usap rambut Seokjin penuh perhatian.
"Maaf, -hiks- Namjoon. -hiks- m-maaf."
Namjoon mengecup pelipis Seokjin — satu cara yang paling ampuh untuk meredakan tangisan Seokjin adalah dengan mengusap rambutnya dan mengecup dahi atau pelipisnya — berulang-ulang.
Saat dirasa tangisan Seokjin sudah mulai mereda, Namjoon mulai bersuara.
"Sepertinya aku keterlaluan ya. Kau kan pergi untuk menyalurkan bakatmu." Ucap Namjoon, membuat Seokjin mendongak, mengunci pandangannya pada tatapan Namjoon.
"Lupakan perkataanku tadi. Sebenarnya ibuku sering mampir kesini untuk sekedar mengantarkan makanan. Bahkan pernah beberapa kali ibumu datang ke apartemenku untuk membuatkanku makan malam setelah pulang kerja." Namjoon tersenyum.
"Hanya saja, aku seperti seorang tunawisma saat tiap kali pulang kerja."
"Kenapa?" tanya Seokjin.
"Karena rumahku tidak menyambutku dengan senyuman manis ataupun pelukan hangat setiap kali aku pulang."
Pipi Seokjin bersemu samar, dan Namjoon tersenyum semakin lebar.
"Karena hanya kaulah tempatku pulang sesungguhnya."
Seokjin membentuk crescent di matanya, "Namjoon."
"Ya, princess?"
"Happy 2nd anniversary."
Kini Namjoon mengecup bibir Seokjin lembut, dengan senyuman yang lebar menyelingi.
.
.
.
End?
(( idk because saya sebenernya lagi merencanakan bikin sequel rated m nya .LOH ))
