Saranghae!

Topp Dogg fanfiction

Warning! Semi-OOC, typo(s), fluffy gagal!

Chapter 2: Realised [KiJoon]START!

ㅡo00oㅡ

Hojoon menyeruput vanillalatte-nya sambil memandang layar ponselnya. Sehyuk berkali-kali mengiriminya pesan dan meneleponnya. Hojoon membalas pesannya, hanya saja Hojoon tidak mengangkat teleponnya. Ia malas berbicara saat ini.

To: Sehyuk hyung

Hyung aku didepan pintu dorm.

Jeon Hojoon, Tuesday June 17th

Setelah mengirim pesan, ia menatap wallpaper ponselnya sambil terus menyeruput minumannya yang ia beli tadi. Wallpaper ponsel Hojoon saat ini adalah selca dirinya yang diam-diam diambil tepat didepanㅡehemㅡHyosang. Dibelakang selcanya, ada Hyosang yang tengah mendengarkan music.

"Hojoon?"

DEG!

Hojoon melihat kedepannya. Hyosang dengan kantung matanya yang cukup menghitam. Kenapa harus Hyosang yang membuka pintunya? Dasar leader pemalas. Batin Hojoon kesal. Rasanya ia ingin menggebuk abs-abs diperut Sehyuk agar perutnya rata seperti perut wanita.

Hojoon ingin masuk tapi kenapa Hyosang malah berngantuk ria didepan pintu. Kenapa-_-

"Hyosang-ah, aku mau masuk ke dalam. Kalau mengantuk, tidur saja sana."

"Ah, mianhae."

Hyosang memberi jalan agar Hojoon masuk. Hojoon segera masuk dan mendudukkan dirinya di sofa depan. Bukannya kembali tidur, Hyosang malah duduk disebelah Hojoon.

"Darimana saja?" Tanya Hyosang. Hojoon melirik Hyosang sebentar. Pria itu duduk sambil memejamkan matanya. Kenapa pria itu semakin tampan saja. Makan apa sih dia?

"Dari café depan kantor. Kalau mengantuk tidurlah dikamar."

Hyosang cepat-cepat membuka matanya. "Maaf. Kenapa kau tak bilang padakㅡkami?"

"Aku bilang pada Sehyuk hyung kok." Kata Hojoon. Ia membuka topinya yang sedari tadi ia gunakan.

"Kau sudah makan?" Tanya Hyosang basa basi.

"Sudah. Kau tidak tidur lagi?" Ujar Hojoon.

Sebetulnya Hojoon bahagia kalau Hyosang ada disini hingga malam nanti. Belum lagi ia akhir-akhir ini insomnia terus. Ia selalu kesepian malam-malam. Tapi semakin malam, keadaan akan semakin canggung. Hojoon benci itu. Dan ia lebih benci lagi keadaannya yang-WHY I LOVING HIM?!

"Tidak. Nanti saja."

"Bisa kau ceritakan kenapa kau yang membukakan pintu untukku?" Tanya Hojoon.

"Oh. Tadi Sehyuk meneleponku suruh aku membuka pintu. Yasudah mau tidak mau aku bangun. Lagipula kenapa kau balik malam sekali?"

"Tidak apa-apa."

Hojoon benar-benar akan melempar Sehyuk besok pagi. Leader pemalas, tukang tidur, unfriendly, iyuh.

BRUK!

"AH YAKK!"

Hojoon meringis. Siapa yang terjatuh malam-malam begini coba. Tapi, karena suara itu, rasa kantuk Hyosang langsung menghilang. Pria itu langsung berlari kearah kamar dan mendapati Jiho tengah memukuli Yooncheol menggunakan boneka doldol milik Yooncheol sendiri.

"Hyung ngeselin. Payah! Dibilangin tidur dibawah aja! Bandel banget sih! Mengganggu!" Ujar Jiho terus menerus sambil memukuli Yooncheol.

"Yooncheol?"

Hojoon yang tadi menyusul mengernyit kebingungan. Kenapa ada Yooncheol disini?

"Ah! Hojoon hyung sudah pulang?" Kata Jiho. Ia berhenti memukuli Yooncheol melihat salah satu hyung kesayangannya didepannya.

"Nde. Kenapa ada Yooncheol disini?" Tanya Hojoon bingung.

"Byungjoo meminta tidur di dorm B malam ini. Awalnya yang mau tidur disini adalah Sangwon. Tapi Yooncheol meminta tidur disini agar doldolnya tidak direbut Sangdo hyung lagi." Jelas Hyosang. Hojoon mengangguk-angguk mengerti.

Yooncheol menyengir kuda lalu bangkit dari jatuhnya dia dari kasur Byungjoo. Hojoon meringis lagi. Bagaimana bisa bocah setinggi dia jatuh dari kasur Byungjoo? Apa tidak sakit ya? Pff.

"Hojoon sudah mau tidur?" Tanya Hyosang. Hojoon menggeleng dan kembali ke ruang depan. Pria manis itu merebahkan dirinya disofa yang panjang. Ia kira Hyosang akan tidur. Tak tahunya, Hyosang juga menghampirinya ke ruang depan. Pria itu duduk dikarpet, didekat sofa yang Hojoon tiduri.

Sejujurnya, Hyosang merasa mengantuk sekarang. Tapi ia tidak ingin tidur duluan sebelum Hojoon mengantuk dan tertidur.

Hojoon memainkan ponselnya begitu serius. Diam-diam ia menyimpan foto Hyosang dari tumblr. Tentu saja tidak diketahui oleh Hyosang.

Ia tidak tahu sejak kapan ia menyukai Hyosang. Padahal, hubungan mereka tidak bisa dibilang sedekat Hansol dengan Byungjoo ataupun dirinya dengan Byungjoo. Mereka mengobrol jika ada waktu-waktu tertentu saja. Bahkan jumlah percakapan basa-basi mereka bisa dihitung dengan jari.

Bermenit-menit berlalu, suasana tetap canggung. Jam dinding sudah menunjukkan jam 1 malam. Mata Hojoon masih menatap layar ponselnya dengan serius. Entah apa yang ia pandang hingga serius begitu.

"Hojoon?"

"Ne?"

"Sedang apa?"

"Mencari foto."

"Foto siapa? Foto Harry Potter eoh?"

Hojoon terkekeh. Hyosang sering sekali menyamakannya dengan Harry Potter. "Anniya. Aku mencari foto para member kita."

"Ohh~ fotoku disimpan tidak?"

"Memory-ku terlalu mahal untuk menyimpan foto dirimu, Hyosang."

"Jahat sekali kau."

"Kkk aku bercanda." Kata Hojoon. Pria itu bangun dari tidurnya(?). Hojoon berjalan kearah dapur, ia merasa tenggorokannya kering.

"Hojoon-ah."

"Ya?"

"Kau pernah merasa jatuh cinta?"

Hojoon hampir tersedak dengan topik yang dibuka oleh Hyosang. Dengan ragu tapi pasti, ia menjawab. "Tentu saja."

"Apa rasanya?" Tanya Hyosang.

"Entahlah. Yang jelas rasanya begitu rumit. Jika aku didekat orang itu, hatiku berdebar. Darahku berdesir panas. Tapi ya begitu deh. Kalo cintanya bertepuk sebelah tangan, itu akan sakit sekali rasanya."

Hyosang mengangguk-angguk mengerti.

"Kenapa nanya kayak gitu?" Tanya Hojoon. Hyosang tersenyum tipis.

"Tidak apa-apa. Aku ingin tahu saja."

"Oh begitu. Kukira kau sedang jatuh cinta."

Hyosang menggeleng. "Belum saatnya aku jatuh cinta."

Hojoon tersenyum tipis. "Aku ingin tidur. Kau tidak tidur?"

Hyosang menggeleng lagi. "Nanti saja. Tidurlah."

"Kau akan menemaniku?!" Hojoon terkejut. Hyosang tersenyum. "Terkejut sekali. Bukannya setiap hari aku memang menemanimu?"

Hojoon menunduk. Ia yakin sekali wajahnya memerah saat ini. "Ne."

"Tidurlah. Aku ambilkan selimut okay?"

"Ah tidak usah. Lagipula aku pakai hoodie."

Hyosang mengangguk mengerti. Ia duduk disofa kecil yang bersebelahan dengan sofa panjang yang ditiduri oleh Hojoon. Jari-jari Hyosang memainkan helaian rambut cokelat Hojoon, tentu saja Hojoon tidak menyadarinya. "Sekali-sekali tidurlah dikamar. Akhir-akhir ini kau tidur diruang depan. Aku takut kau sakit."

"Ne Hyosang."

Jantung Hojoon berdebar kuat. Wajahnya memerah malu sudah pasti.

"Ne, jaljayo. Have a nice dream."

"Gomawo. Jalja."

Hojoon menyamankan posisinya dan memejamkan matanya. 'Gomawo. Saranghae, Hyosang.' Batin Hojoon dalam hati sebelum benar-benar masuk ke alam mimpi.

Hyosang mengambil tangan dingin Hojoon dan menggenggamnya. Menautkan jari-jarinya disela-sela jari-jari lentik Hojoon. Ia tidak tahu kenapa ia melakukan itu. Ia hanya melakukan itu sesuai dengan instingnya.

"Jaljayo."

Dan pada akhirnya, Hyosang tidur diruang tamu pada malam(atau pagi?) itu.

ㅡo00oㅡ

05:00 AM KST

Hojoon membuka matanya dan beryawning ria. Saat ia ingin menutup mulutnya, ia merasa bahwa tangannya tertahan oleh sesuatu, dan terletak diatasnya.

Menerjap beberapa kali, ia baru menoleh keatasnya, dan mendapati Hyosang yang tidur sambil duduk. Hojoon bisa merasakan bahwa posisi tidur Hyosang benar-benar tidak enak. Dan lagipula, kenapa Hyosang tidur disini? Anak itu benar-benar menemani Hojoon, eoh? Bahkan tidur disini? Dan menggenggam tangannya?

Begitu banyak pikiran yang absurd masuk kedalam kepalanya. Namun segera ia tepis semua pertanyaan itu dan sepelan mungkin melepas genggaman tangan Hyosang.

"Hyosang-ah, ireona. Pindahlah ke kamarmu."

Hyosang langsung terbangun begitu saja. Sudah jelas lah. Hyosang tidak menikmati tidurnya. Otomatis ia mudah terbangun.

"Hojoon? Jam berapa sekarang?"

"Jam lima lewat lima belas. Cepat tidur lagi sana. Sehyuk hyung akan membangunkan kalian jam enam tepat."

Hyosang mengusap matanya. "Kau tidak tidur?"

"Aku akan tidur jika kau sudah tidur. Sana kembali ke kamar."

"Kau tidak tidur dikamar?"

"Tidak. Sana cepat."

Hyosang mengulet sana-sini. "Ugh tubuhku sakit sekali."

Hojoon mendengus. "Makanya itu, cepat tidur lagi dikasur."

"Arraseo. Kau tidur lagi ya?"

"Iyaaa."

"Okay. Jaljayo." Ujar Hyosang. Lalu pria tinggi itu berjalan pelan menuju kamar. Hojoon tersenyum tipis memandang punggung Hyosang yang sudah menghilang ditelan pintu kamar(?). Lalu pandangannya berpindah ke tangan kanannya yang tadi ada digenggaman Hyosang.

Senyum tipis Hojoon memudar. Pria itu terduduk dan menunduk. "Kapan kau akan menyadari perasaanku, Hyosang-ah?"

Hojoon mengambil ponselnya dan menyalakannya. Ia membuka foto-foto yang semalamㅡempat jam yang laluㅡia simpan. Bohong. Ia tidak menyimpan foto para member. Ia hanya menyimpan foto Hyosang. Dan beberapa dari foto-foto itu akan ia edit sedemikian rupa dan dikirim ke instagram rahasianya. Bahkan fans tidak tahu. Lagipula, ia membuat privasi pada akunnya. Dan lagi, aplikasi instagramnya bahkan sengaja ia hide, agar tidak ada yang tahu,

Semua member tidak ada yang tahu kalau Hojoon menyukai Hyosang. Yah, mungkin ada yang tahu karena ia suka menulis tentang perasaannya terhadap Hyosang pada selembar kertas. Tapi karena pada dasarnya ia adalah orang yang ceroboh, jadi ia menghilangkannya disembarang tempat. Untungnya ia tidak pernah menghilangkannya di dorm. Dia bisa mati. Karena Hyosang akan memanfaatkan kertas apapun itu untuk menulis lirik-lirik lagu yang tiba-tiba melintas dikepalanya.

"Hojoon hyung?"

Sanggyun! Ya Tuhan. Sebuah keajaiban Sanggyun bisa bangun sepagi ini. Dan lagi, tidak dibangunin. Hebat.

"Whoa! Kau sudah bangun? Tumben sekali. Apa ada yang membangunkanmu? Atau ada yang mengorok hingga kau terbangun?" Kata Hojoon. Ia mematikan ponselnya dan menyimpannya disaku hoodienya.

"Tidak ada yang membangunkanku. Aku bangun karena aku kebelet pipis. Terus juga aku lapar. Aku pipis dulu ya hyung."

Hojoon terkekeh mendengar penuturan polos Sanggyun. "Ne. Hyung buatkan makanan ya?"

"Ne hyung."

Hojoon langsung menuju dapur. Memasak apa yang bisa ia masak, sekalian masak banyak untuk sarapan para member nanti.

Dan pilihan yang Hojoon pilih pagi ini adalah toast dan omelet. Kalo masalah minum, yang bertanggung jawab itu Byungjoo. Tapi karena Byungjoo ada di dorm B, mungkin saja itu diganti jadi Jiho.

"Hojoon hyung?"

Kali ini suara Jiho. Aneh sekali. Tumben para penghuni dorm A semuanya rajin dan bangun pagi sendiri.

"Tumben bangun?"

"Nyium bau makanan. Enak hyung. Laper aku."

"Yaudah tungguin. Kau bangunin yang lainnya saja. Lagipula ini sudah jam enam kurang sepuluh."

"Arraseo hyung."

Jiho beranjak dari kursi meja makan dan mulai masuk ke kamar. Hojoon bisa memastikan orang yang pertama Jiho bangunkan adalah Yooncheol.

"YAK JIHO STOP MEMUKULKU DENGAN DOLDOL!"

Benar kan apa dugaannya?

Dan karena teriakan nyaring seorang Yooncheol, semua penghuni dorm akhirnya bangun dan berbondong-bondong duduk dikursi meja makan. Perasaan menyesal menyelubungi hati Hojoon, melihat Hyosang yang masih menutup matanya dan berjalan sempoyongan. Hyosang baru tidur empat jam. Dan lagi, ia baru tidur lagi setengah jam yang lalu.

Omeletnya sudah jadi. Ia juga meminta Hyunho untuk memanggang roti tawar yang ia siapkan tadi. Jadi sarapan pagi ini sudah selesai.

"Selamat makaan!" Kata Sanggyun paling semangat.

"Jiho-ya." Panggil Hojoon.

"Ne hyung?" Jawab Jiho. Matanya masih sibuk merobek-robek toast-nya dan memakannya satu-satu bersama omelet bagiannya.

"Karena Byungjoo ada di dorm sebelah, jadi kau yang bertugas membuat minum pagi ini."

"Yah? Kenapa bukan Hyunho hyung aja?"

"Sudah tugasmu, Jiho. Sana buat minum." Kata Hyunho mengelak. Jiho mendengus.

"Huh, ne." Jiho berdiri, terpaksa ia meninggalkan makanan sedapnya pagi ini. Dan ia yakin kalau saat ia balik, omeletnya hanya tersisa sedikit.

Kenapa hanya tugas Byungjoo dan Jiho untuk membuat minum untuk semua member? Karena hanya mereka yang tahu minuman kesukaan para member pagi-pagi begini.

Tapi kan, Jiho seorang top. Masa suruh buatin minuman? Bukannya itu tugas seorang bottom? Kayak Byungjoo gitu.

Yaudahlah ya, Sehyuk juga sering bantuin Hojoon masak.

Omong-omong tentang Byungjoo, Jiho juga sempat naruh hati loh, pada pria cantik plus manis nan polos itu. Tapi tiga hari sesudahnya, ada seseorang yang lebih menarik hatinya.

Hush. Lupakan.

"Minumannya udah jadi. Nanti ambil sendiri-sendiri aja ya. Aku pake gelas yang ada namanya kok."

"Ne. Gomawo Jiho-ya." Ujar semuanya. Sebenarnya kalimatnya gak gitu semua. Tapi yaudahlahya, intinya kan begitu.

"Sehyuk hyung, hari ini ada jadwal nggak?" Tanya Yooncheol.

"Gak ada. Tapi nanti kita harus ke kantor. Sama kayak kemarin. Practice doang." Jawab Sehyuk sambil berjalan untuk mengambil minumannya yang dibuatkan Jiho tadi.

"Yayy! Itusih freetime untukku!" Kata Sanggyun yang langsung kena jitakkan Sehyuk.

"Ya freetime. Kau hanya tiduran terus kerjaannya. Aku lebih salut pada Sangwon daripada kau." Ujar Sehyuk. Nusuk banget. Asli gabohong. Ucapan Sehyuk membuat Sanggyun mendengus kesal dan tidak berbicara lagi.

"Yasudah sekarang semuanya mandi. Yooncheol, kau balik sana. Mandi saja di dorm B." Ujar Hyunho.

"Kau mengusirku eoh?" Ujar Yooncheon yang membuat Hyunho kesal.

"Aku hyungmu idiot."

"Ugh, yasudah aku pergi. Hojoon hyung, makasih makanannya. Sampai jumpa!"

Hojoon tersenyum dan melambaikan tangan kearah Yooncheol yang berjalan beriringan dengan doldolnya.

ㅡo00oㅡ

Hojoon merapatkan jaket yang ia pakai hari ini. Entah kenapa ia merasa sangat kedinginan. Memang sih ini musim semi. Tapi kan biasanya gak sedingin ini.

Dan lagipula ini salahnya juga sih, kenapa harus menyuruh para member berangkat duluan dan membiarkannya naik taksi. Ugh. Ia jadi menyesal.

Untuk berjalan saja ia tidak kuat. Kakinya beku. Dasar kaus kaki tidak berguna. Jadi ia harus apa? Menelepon Sehyuk untuk menjemputnya? Yang ada Sehyuk meledeknya habis-habisan.

Ia harus apa.

Taksi gak lewat-lewat pula. Apa hari ini taksi libur? Haruskah ia menelepon taksi?

"Hojoon!"

Suara yang asing namun familiar ditelinganya. Siapa yang memanggilnya?

"Himchan hyung! Pelan-pelan aja dong lari-nya!"

"Itu ada Hojoon. Memang kau tidak rindu padanya?"

Oh! Ternyata, diam-diam Hojoon berteman baik dengan member BAP! Dan yang paling dekat dengan Hojoon adalah Himchan. Jadi, pada intinya, member Topp Dogg berteman baik dengan group lain.

Hojoon tersenyum manis saat melihat Himchan berlari menghampirinya. Dibelakang Himchan, ada JunhongㅡZeloㅡyang mengejar Himchan. Lucu sekali mereka.

Himchan dan Junhong sudah berada didekat Hojoon sekarang. Nafas mereka terengah-engah. Hojoon memeluk mereka berdua yang masih mengatur nafas.

"Himchan hyung, Junhong-ah, sedang apa kalian disini? Kebetulan sekali."

"Junhong minta diantar ke toko kue hari ini. Dia pengen beli tiramisu buat Youngjae. Terus pas aku pengen beli americano di cafe sebelahnya, aku lihat dirimu. Yasudah kukejar saja." Ujar Himchan. Matanya melirik Junhong yang masih kelelahan.

"Junhong-ah, kau tidak apa-apa? Maafkan aku ne?" Kata Himchan lagi. Junhong mengangguk. "Aku haus hyung. Belikan aku susu."

"Bagaimana kalau kita bertiga ke cafe sebelah toko kue didepan? Kutraktir deh." Kata Hojoon.

"Jeongmal hyung? Ah kajjayoo!"

"Junhong-ah! Yaampun Hojoon, tidak apa-apa?" Ujar Himchan. Junhong mempoutkan bibirnya karena Himchan melarang Hojoon mentraktirnya.

"Ne tidak apa-apa, Himchan hyung. Ayo kesana."

"Kau tidak ada jadwal memangnya?" Tanya Himchan. Junhong benar-benar kesal dengan hyungnya satu ini. Bisa aja coba jaimnya ugh.

"Gak ada. Hanya saja aku harus ke kantor. Tapi nanti bisa kok. Sekalian cari taksi disana."

"Ah! Aku akan menelepon Bbang agar menjemputku dan Junhong sekalian mengantarmu. Arraseo? Aku tidak menerima penolakan."

"Ah nde baiklah hyung. Sekarang ayo ke cafe. Junhong, kau nanti mau beli apa eoh?" Hojoon mulai merangkul Junhong dan membawanya ke cafe. Sedangkan Himchan berjalan dibelakang Hojoon dan Junhong sambil tersenyum dan menghubungi Yongguk untuk segera menjemputnya.

Hojoon tidak pernah berubah. Tetap manis seperti biasanya. Hyosang adalah orang beruntung yang dicintai pria semanis Hojoon.

Eh? Himchan tahu?

Tentu saja. Hojoon pernah meninggalkan sebuah kertas di ruang tunggu mereka-BAP dan Topp Dogg-. Dan kertas itu milik Hojoon.

Bukankah sudah dibilang, kalau Hojoon adalah orang ceroboh?

Untungnya kertas kecil itu yang tertinggal. Coba saja dompetnya apalagi paspornya. Bisa mati si manis itu.

ㅡo00oㅡ

Cklek.

Hojoon masuk ke dalam practice room Topp Dogg yang ramai sekali. Ternyata, member sedang practice dance lagu-lagu mereka yang lama dan ada pula yang bermain-main dengan tariannya. Ya seperti Sanggyun lah.

Sehyuk yang menyadari Hojoon baru tiba disana langsung berhenti menari dan mematikan lagunya. "Darimana saja? Kemarin Hansol yang terlambat. Sekarang kau. Kau juga sedang jatuh cinta ya?" Ujar Sehyuk.

Hojoon melotot pada Sehyuk yang asal celetuk. Padahal ia belum memarahi Sehyuk tentang siapa-yang-buka-pintu-semalam. Dan sekarang nyari perkara lagi.

Memang, dari semua member, yang berani melawan perkataan Sehyuk hanya Hojoon. Maklum sih. Mereka teman dekat. Gak dekat juga sih. Tapi ya, gitu deh.

"Sembarangan aja kalo ngomong. Aku ketemu Himchan hyung dan Junhong pas tadi dijalan. Yaudah aku traktir saja mereka di cafe. Dan aku kesini juga dianterin Bang Yongguk hyung."

"Kenapa gak jadi naik taksi eoh? Jangan alasan taksi tidak lewat apalagi karena kau tidak punya uang. Kau kan bisa naik bus." Ujar Sehyuk. Nyari perkara rupanya.

"Tadinya juga mau naik taksi tapi Himchan hyung maksa biar ikut sama mereka. Terserah mau percaya apa enggak." Kata Hojoon. Sehyuk mengangguk-angguk saja.

Hojoon berjalan menuju sofa diujung practice room, yang dekat dengan penghangat ruangan. Ia langsung duduk didepan sana. Menghangatkan dirinya.

"Heh! Udah telat, sekarang malah duduk-duduk aja. Sini latihan!" Kata Sehyuk. Hojoon menggosok-gosokan telapak tangannya dengan kasar.

"Aku kedinginan bodoh. Salah sendiri tidak meninggalkan hot-pocket untukku. Aku tahu kau membawa banyak untukㅡhmpft!"

"Jangan comel bisa gak sih!"

"Iya-iya. Sakit bodoh! Kau berlari dan langsung membekap mulutku! Bagus aku tidak kejedot. Kalau aku sampai kejedot akan aku bakar kepalamu."

Para member lainnya menahan tawa melihat pertengkaran konyol antara si unfriendly dan menyeramkan Park leader dengan si datar dan manis Hojoon. Lucu sekali melihat pertengkaran mereka.

"Yasudah-yasudah. Istirahat dulu semuanya." Putus Sehyuk. Member lainnya langsung menghela nafas berat. Hyunho langsung berbaring sambil mengipas-ngipas wajahnya yang penuh peluh. Member lainnya juga tidak jauh beda dari itu.

Hojoon melihat Hansol yang mengambil air minum juga tisu dan berjalan menghampiri Byungjoo yang sedang mengibas-ngibaskan kausnya. Gerah.

"Minumlah yang banyak Byungjoo-ah." Kata Hansol sambil mengusap rambut Byungjoo. Tangan Hansol yang memegang tisu mulai mengelap peluh-peluh Byungjoo. Bahkan dirinya sendiri belum minum dan mengelap peluhnya.

Byungjoo tersenyum manis. Ia mengambil sapu tangan yang ada disaku celananya dan ikut mengelap peluh Hansol. Hansol tersenyum. Ia mengecup dahi Byungjoo.

"Hansol hyung minum dulu ya. Byungjoo ambilin kipas buat ngipasin Hansol hyung."

Hansol mengangguk dan memerhatikan pergerakan kekasihnya itu. Sementara tenggorokannya sibuk menelan air minum miliknya dan Byungjoo. Indirect-kiss.

Hojoon tersenyum sendiri melihat sepasang kekasih yang begitu manis dan polos itu. Lalu pandangannya berpindah pada Hyosang yang sibuk menelepon seseorang. Senyum Hojoon pudar. Hyosang selalu menjadi moodmakernya tapi juga moodbreakernya.

"Ne ne. Iya iya aku akan segera kesana."

"..."

"Iya iya. Yaampun kau cerewet sekali."

"..."

"Iya, maafkan aku membuatmu menunggu lama."

"..."

"Aku akan segera kesana."

"..."

"Kau sendiri idiot. Iyaudah iya cepat tutup teleponnya. Kau tak kasian dengan pulsamu?"

"..."

"Arraseo."

Hyosang memasukan ponselnya ke sakunya. Tangannya sibuk mengambil hoodie yang terletak dimeja didepan sofa yang Hojoon duduki.

"Sehyuk hyung aku keluar ya."

"Iya!"

Hojoon benar-benar ingin menangis rasanya. Hyosang tidak melihatnya sama sekali padahal tadi mereka berdua depan-depanan. Dan, apa tadi Hyosang bertelepon dengan kekasihnya?

Sepertinya kali ini Hojoon tidak bisa menahan tangisnya. Buktinya setitik air mata keluar dari sudut matanya, dan sialnya, titik air mata itu disadari oleh Taeyang.

Taeyang tidak langsung berteriak 'hojoon-gun-kau-kenapa'. Ia menghampiri Hojoon terlebih dahulu. Lagipula, semua member tidak ada yang sadar kalau Hojoon sedang menangis.

"Hojoon-ah, kenapa?" Bisik Taeyang. Berusaha tidak memancing member yang lain untuk kesini.

Hojoon mengusap airmatanya lembut. Tidak tergesa dan tidak terkesan menyembunyikan sesuatu. "Anniya. Aku hanya mengantuk." ㅡwalaupun nyatanya, Hojoon masih berusaha bohong.

"Aku tahu kau bohong. Jujurlah padaku. Aku janji tidak akan bilang siapapun."

"Hm. Ne. Mianhae hyung aku berbohong padamu. Aku hanya sedang sedih. Itu saja."

Taeyang tahu bahwa Hojoon masih berbohong. Namun ia mengangguk saja. Mungkin itu rahasia. Taeyang tidak akan memaksa Hojoon bercerita.

"Begitukah? Yasudah. Pikirkan saja senyuman eommamu. Kuyakin sedihmu akan hilang." Saran Taeyang sambil mengusap helaian rambut Hojoon. Hojoon mengangguk sambil tersenyum. "Terimakasih hyung."

ㅡo00oㅡ

"Seokjin-ah. Mianhae, aku baru selesai latihan." Kata Hyosang saat melihat Seokjin tengah menyeruput strawberry-bliss-nya dengan wajah serius menatap layar ponselnya.

Seokjin melihat kedepan, menatap kesal sahabatnya itu. Bikin janji tapi dia yang telat. Ngeselin ah.

"Mau ngapain sih maksa aku kesini? Gak boleh ngajak TaeTae lagi." Ujar Seokjin bete.

Ugh, kalian pasti tahu kan kalau seorang Hyosang berteman baik dengan member dari BTS? Yaitu Seokjin? Tahu kan?

"Kau tahu? TaeTae bakalan ngambek sama aku. Apalagi dia tahu kalo aku bakal menemuimu. Dia, kan, kesal banget padamu, Hyosang-ssi!" Seokjin kesal. Hyosang menghela nafas.

"Ne ne maafkan aku. Aku mau berbicara penting."

"Apanya penting! Kau pasti akan curhat tentang lagumu yang selalu putus ditengah jalan." Ujar Seokjin. Hyosang menggeleng. "Anniya. Aku tidak menulis lagu akhir-akhir ini."

"Lalu? Tentang Sangwon yang selalu gangguin kau? Basi ah. To the point aja." Kata Seokjin. Hyosang mengangguk dan menghela nafas lagi.

"Menurutmu, jika aku menyukai seorang lelaki, bagaimana?"

"Ya tentu saja wajㅡ"

"ㅡlupakan tentang kau yang sedang menyukai Taehyung sekarang. Kau belum menyukai seorang lelaki."

Seokjin terdiam dan tampak berfikir. "Jadi kau ingin aku menceritakan perasaanku waktu aku sadar kalau aku ternyata menyayangi TaeTae lebih dari sekedar kakak-adik?"

"Ya seperti itulah."

Seokjin menyeruput minumannya lagi sebelum mengambil nafas. "Sebenernya, suka sama cinta itu kan gak bisa dipaksain ya. Itu bakal datang dengan sendirinya kalo udah nyaman sama seseorang. Jadi kalo dibilang wajar sih enggak. Tapi gak wajar juga enggak. Cinta kan gak mandang fisik."

Hyosang menopang wajahnya. "Aku sedang menyukai seseorang."

"Kutebak, kalau bukan Hojoon, pasti aku." Ujar Seokjin sambil menunjuk dirinya. Hyosang langsung menepuk dahi sahabatnya itu.

"Aku akan bunuh diri kalau aku menyukaimu."

"Yasudah. Hojoon kan?"

Hyosang menelan salivanya. "Aku... Tidak yakin."

Seokjin tertawa kecil. "Nih, kalau kau merasa ada yang tidak beres di jantungmu saat kau dekat dengan Hojoon, itu artinya kau menyukainya. Simple bukan?"

Hyosang menghela nafasnya. Ia menatap telapak tangannya yang semalam ia buat genggam tangan Hojoon. Jadi, getaran-getaran halus saat ia menggenggam tangan Hojoon itu artinya ia menyukai Hojoon?

Tapi bagaimana jika Hojoon tidak menyukainya? Dan malah menjauhinya?

"Katakan saja kalau sudah waktunya. Yasudahlah aku mau balik. Namjoon bilang ada interview hari ini. Semangat Hyosang-ah. Aku balik dulu. Bye."

Seokjin menepuk bahu Hyosang dan keluar dari cafe dekat gedung Stardom. Hyosang masih berpikir tentang ucapan Seokjin tadi.

'Jadi aku harus menyatakannya pada Hojoon?' Tanyanya dalam hati. Hyosang menghela nafas. Lupakan saja. Lebih baik ia kembali sebelum diamuk Sehyuk.

ㅡo00oㅡ

Saat Hyosang sampai di practice room, kotak ayam goreng bumbu bertebaran dimana-mana. Dimeja, dilantai, di manapun. Ada yang sudah dibuka dan ada yang belum. Berhubung Hyosang sedang lapar, jadi ia mengambil satu yang ada diatas meja. Matanya berkeliling practice room. Ia mendapati Hojoon yang makan dengan tenang didepan Sehyuk, Hyunho dan Sangdo. Hyosang tersenyum tipis dan menghampiri mereka berempat.

"Whoa! Sejak kapan kau datang?" Kata Sangdo.

"Sejak tadi. Makanya jangan makan aja dong." Ujar Hyosang lalu mulai duduk diantara Hyunho dan Sangdo. Hyosang sengaja tidak mengambil tempat disebelah Hojoon. Ia takut tidak bisa makan dengan tenang. Cukup melihat wajahnya saja dari sudut matanya itu sudah cukup.

Sehyuk, Sangdo dan Hyunho bercakap banyak sekali. Tapi Hojoon hanya konsentrasi makan dan sesekali tertawa jika ada yang lucu, tapi tidak ikut berbicara. Hojoon memang begitu. Tidak banyak omong kalau itu tidak penting.

Hojoon beranjak dan mengambil kotak tisu diatas speaker dan membawanya ke tempat tadi ia duduk. Ia mengambil selembar tisu dan mengelap jari-jarinya satu persatu. Setelah bersih, ia mengoleskan hand-sanitizer ditangannya dan membersihkan tangannya.

"Kha. Kalau sudah selesai makan jangan lupa pakai hand-sanitizer. Terutama kau Sehyuk hyung. Jangan menyeruput saus-saus itu dari jarimu. Jorok. Aku ke kamar mandi dulu." Kata Hojoon lalu pergi ke kamar mandi.

Didalam kamar mandi, Hojoon membasuh wajahnya dengan air. Berusaha menjernihkan pikirannya. Sejujurnya ia benar-benar gugup saat Hyosang tiba-tiba datang dan berjalan kearahnya.

Ia rasa, ia harus menjauhi Hyosang dari sekarang. Mengingat Hyosang sudah punya kekasihㅡmenurut hipotesanyaㅡ. Ia tidak mau semakin terjebak dalam perasaannya sendiri.

ㅡo00oㅡ

"Hyosang? Kemana yang lain?"

Hojoon terkejut sekali saat ia kembali ke practice room, yang ada disana hanya Hyosang dan Jiho juga Sanggyun yang sedang membereskan semua kotak ayam goreng bumbu tadi dan mengepel lantai kayu itu.

"Hansol dan Byungjoo pergi kencan. Yang lainnya entah kemana." Jawab Hyosang.

"Sehyuk hyung dan Taeyang hyung dipanggil manager." Tambah Sanggyun yang masih sibuk mengepel lantai.

"Lalu Hyosang kenapa masih disini?"

"Tau tuh hyung! Diusir dari tadi gak mau mulu. Mending bantuin." Jiho mulai protes dengan wajah betenya. Hojoon terkekeh kecil, dengan terpaksa.

"Aku kan sudah bilang aku menunggu Hojoon."

"Kan bisa menunggu diluar!" Ujar Sanggyun tak mau kalah.

Hojoon terdiam mendengar kalimat Hyosang yang barusan. Menunggunya? Untuk apa? Hojoon menerjapkan matanya, berusaha menghilangkan pikiran-pikirannya itu.

"Jiho-ah, Sanggyun-ah, kalian pulang saja. Aku yang akan menyelesaikannya. Hyosang juga pulang aja gih. Aku pasti akan lama."

"Jinjja hyung? Omo~ jeongmal gomawoyo hyung! Hyung yang terbaik. Mmwah! Saranghae hyung aku pulang dulu dadah Sanggyun ayo!" Kata Jiho tanpa jeda. Itu membuat Hojoon terkekeh. Sanggyun juga memberikan kissbye untuk Hojoon yang masih tersenyum.

Kedua maknae tertunda itu sudah pergi, tapi Hyosang masih ada disana. Itu membuat jantung Hojoon berdetak tidak normal.

"Kau tidak pulang?"

"Aku menunggumu."

"Aku akan lama."

"Tidak apa-apa. Atau perlu kubantu?"

"T-tidak usah. Kau duduk aja disitu ok?"

"Ne." Ujar Hyosang singkat. Tumben sekali.

Hyosang mulai memunguti sampah-sampah yang tersisa di lantai practice room dan memasukannya ke dalam plastik sampah yang besar yang ada diujung practice room. Barulah ia mengepel dengan tongkat pel yang hanya dibasahi oleh air. Sanggyun anak pemalas.

"Ah selesai." Pekik Hojoon senang. Ia mengambil jaketnya dan memakainya lagi. Lalu pandangannya berpindah pada Hyosang yangㅡugh. Dia tertidur. Bangunin gak ya? Atau tinggal aja? Ya masa mau ditinggal. Hyosang udah rela nungguin Hojoon. Tapi, disisi lain, bukankah ia ingin menjauhi Hyosang?

Ia tidak sanggup.

"Hyosang-ah, ireona."

Hyosang masih tetap tidur. Nafasnya sangat teratur. Hojoon tidak mengerti kenapa wajah Hyosang tetap tampan walau tidur sekalipun. Hojoon merapihkan rambut Hyosang yang menutupi telinganya.

"Hyosang-ah. Ireona."

Tidak ada respon.

"Hyosang, bangun. Sudah sore, kau mau pulang jam berapa? Suhu semakin dingin. Aku kedinginan."

Tidak ada respon. Sebegitu nyenyakkah tidur Hyosang?

"Ugh Hyosang. Aku tinggal nih."

Hojoon tidak berani menepuk pipi Hyosang untuk membangunkannya. Menurutnya, itu termasuk membangunkan dengan cara sadis. Hojoon juga tidak berani meneriakinya, apalagi menyiramnya dengan air.

"Hyosang-ah ireonaaaa."

Hojoon kali ini benar-benar menepuk pipi Hyosang.

"Hyosang, aku tidak mau menyirammu dengan air jadi cepatlah bangun."

Hyosang bergerak. Ia mulai membuka matanya. Hojoon tersenyum lega.

"Ini sudah sore. Suhu diluar semakin rendah. Aku kedinginan. Kalau kau masih mau tidur, tidurlah. Aku pulang duluan." Ujar Hojoon pada Hyosang yang setengah sadar.

Hyosang mengusek-usek matanya dan membenarkan jaketnya. "Ayo pulang."

Hojoon mengangguk. Ia berjalan lebih dulu didepan Hyosang. Hojoon menghela nafasnya pelan. Ia tidak bisa menjauhi Hyosang kalau begini caranya.

Hojoon berjalan keluar gedung kantor, berencana naik bus untuk pulang ke dorm. Tapi Hyosang menahan tangannya.

"Apa?" Tanya Hojoon, bingung.

Hyosang tidak menjawab, ia menarik Hojoon menuju parkiran mobil. Hojoon mengangguk-angguk mengerti. Hyosang pasti bawa mobil.

Selama perjalanan menuju dorm, Hojoon maupun Hyosang tidak ada yang berbicara sama sekali. Hojoon fokus dengan layar ponselnya sedangkan Hyosang fokus menyetir.

"Hojoon-ah."

"Iya?" Akhirnya Hyosang yang membuka percakapan terlebih dulu. Ia tidak suka suasana hening seperti ini. Terkesan canggung. Atau memang canggung beneran?

"Aku...sedang menyukai seseorang."

Hojoon memutus pandangannya pada ponselnya dan beralih menatap Hyosang. Hatinya terguncang hebat. Apakah, cintanya bertepuk sebelah tangan? Jadi, jalan ceritanya tidak sama dengan Hansol dan Byungjoo, ya?

Beda orang. Beda takdir.

"Sungguh? Wah, chukkae." Ujar Hojoon, senangㅡdibuat-buat.

"Hm, ne. Menurutmu, kapan aku bisa menyatakan perasaanku padanya?"

"Kapanpun. Jika menurutmu, orang yang kau suka itu juga menyukaimu, nanti malam juga boleh. Ajaklah dia ketempat-tempat romantis seperti sungai han." Kata Hojoon.

Hyosang melirik jam tangannya. Jam enam kurang lima belas. Haruskah ia ke sungai han sekarang juga?

"Apa saja tempat romantis menurutmu?" Tanya Hyosang. Ia membelokkan mobilnya menuju jalan besar. Ia ingin mengulur waktu.

"Mm. Menurutku? Sungai Han, taman bermain tengah kota, atap sekolah, dan cafe? Kupikir cafe juga tempat yang romantis." Kata Hojoon.

Hojoon benar-benar berusaha keras agar suaranya tidak berubah menjadi lirih apalagi sampai ia terisak. Air matanya sekarang ini sudah mengumpul dipelupuk matanya. Ia harus menghela nafas agar air mata itu tidak keluar.

"Yang paling kau suka, tempat yang mana?"

"Aku paling suka atap sekolah. Apalagi saat malam-malam. Angin yang berhembus itu akan memberikan kesan tersendiri menurutku."

"Selain atap sekolah?"

"Sungai Han."

Hyosang mengangguk-angguk. "Kau mau menemaniku membeli bunga?"

Hojoon terkejut bukan main. Hyosang akan benar-benar menyatakan perasaannya pada orang itu malam ini juga? Ugh. Haruskah ia menelepon Sehyuk agar membeli banyak tisu malam ini?

"Uhm, ya." Jawab Hojoon singkat.

Hyosang memutar setirannya menuju toko bunga didekat gedung JYP /ngaco/. Toko bunga itu adalah toko bunga kesukaan Hojoon. Wangi yang keluar dari bunga-bunga disana benar-benar segar. Hojoon sangat suka wangi yang segar.

"Kenapa tidak ke toko bunga didekat dorm saja?"

"Bukankah kau suka toko bunga ini?"

"Ehm, iya. Tapi, kan, biar aku sekalian pulang."

Hyosang tidak menjawab. Ia memarkirkan mobilnya didepan toko bunga itu. Lalu ia mengajak Hojoon masuk kedalam toko bunga itu.

Didalam toko bunga, banyak orang yang terkejut akan kedatangan dua member Topp Dogg yang akhir-akhir ini suka di pairing oleh fangirl yang fujoshi akut.

"Selamat datang Hyosang-ah, Hojoon-ah. Tumben sekali kesini? Ada apa?"

Sapa si pemilik toko bunga. Sebelum debut-pun, Hyosang dan Hojoon sudah dekat dengan pemilik toko bunga. Hyosang dan Hojoon tersenyum pada Hyora, si pemilik toko bunga.

"Aku ingin membeli bunga." Jawab Hyosang.

"Untuk siapa?"

"Nanti malam Hyosang mau nembak seseorang, nuna." Kata Hojoon, sok menggoda. Hyosang terkekeh. Sedangkan Hyora terkejut.

"Hyosang sudah bisa jatuh cinta? Hohoho, hebat. Pilihlah bunga dibilik kiri. Bunga-bunga disitu sangat cocok untuk acara menyatakan perasaan. Selamat memilih!" Kata Hyora. Hyosang mengangguk. Ia menggenggam tangan Hojoon dan menariknya ke bilik kiri.

Hojoon menghirup wangi-wangi segar bunga disana. Setidaknya, itu bisa membuat perasaannya lebih baik.

"Kau suka bunga apa?"

"Aku?"

"Iya. Pilihlah."

Hojoon mendengus. Ia mulai melihat-lihat bunga-bunga yang ada disana. Ia sangat menyukai bunga lily. Tapi entah kenapa pilihannya jatuh pada sebuah bunga tulip yang sangat indah. Warna biru tua yang dipadu dengan warna putih dan pink pastel. Bukankah itu sangat cantik?

"Aku suka yang ini."

Jari Hojoon menunjuk pada bunga tulip pilihannya tadi. Hyosang tersenyum dan mengambil bunga yang tadi dipilih Hojoon. Lalu, Hyosang menggandeng tangan Hojoon dan membawanya ke meja depanㅡkasir.

Hojoon mengernyit. "Kau hanya beli setangkai."

"Iyalah. Memang mau berapa?"

"Anni. Kukira kau akan membeli rangkaian bunga."

"Kau suka rangkaian bunga?"

Deg. Seketika jantung Hojoon berdetak lebih cepat. Ia...sedikit curiga. Jadi, apakah ia...boleh berharap lebih?

"Anniya."

"Yasudah ayo bayar."

Hojoon menunduk. Ia ikut saja dengan Hyosang yang terus menarik tangannya yang digenggam. Ugh, iya yakin sekali banyak fans yang akan memotret dirinya dan Hyosang.

"Whoa! Bunga yang bagus. Harganya lima ribu won."

"Hehe."

Hyosang mengambil sepuluh ribu won dari saku jaketnya dan memberikannya pada Hyora. "Ambil saja kembaliannya. Doakan aku diterima, ya, Hyora-ah!"

Gadis berambut pendek itu mengangguk dan tersenyum manis sekali. "Pasti! Datang lagi ne, Hyosang-ah! Hojoon-ah! Terimakasih!"

"Ne~" ujar Hyosang dan Hojoon berbarenganㅡdengan nada yang berbeda. Hyosang dengan nada bahagia sedangkan Hojoon datar, sedatar-datarnya hidung suyanq /duh plis abaikan aja beneran lg gila/?

Hojoon masuk kedalam mobil Hyosang saat si pemilik mobil memutar kuncinya, menyalakan mesin. "Setelah ini kau mau kemana lagi? Aku ingin pulang. Aku kedinginan."

Hojoon merutuki hoodie dan jaket miliknya. Dimusim semi begini kenapa dia harus kedinginan sih? Dan lagi, kenapa tidak ada rasa hangat sama sekali.

"Kau ingin pakai jaketku?" Tawar Hyosang.

Hojoon menggeleng. "Anni. Aku hanya ingin pulang."

Hyosang tidak menjawab. Ia membawa mobilnya menuju tempat tujuannya tadi. Sungai Han.

Hojoon yang kenal dengan jalan yang saat ini mereka lewati. Ini, kan, jalan menuju sungai Han?

Jantungnya berdetak tidak karuan (lagi).

Sungai Han. Pilihan bunga. Waktu malam.

Bukankah itu semua sudah jelas?

Dan lagipula... Kalau Hyosang ingin bertemu dengan seseorang, kenapa Hyosang sedari tadi tidak mencoba menghubungi orang sekalipun?

Jadi... Apakah... Orang yang dimaksud Hyosang adalah benar-benar dirinya?

Tidak mungkin.

Hojoon menghela nafasnya. Menetralkan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia lebih suka detakan jantungnya yang menyiratkan kepedihan hatinya daripada detakan jantungnya yang berdebar karena kebahagiaan.

Hojoon melirik lagi ke luar jendela. Dan benar saja. Hyosang membawanya ke sungai Han. Ia harus apa?

"Kajja turun."

Hojoon menurut saja. Ia turun dari mobil Hyosang. Tangan besar Hyosang mengamit tangannya, namun, Hojoon melepas pegangan tangan itu. Jantungnya berdetak sangat cepat. Gugup bukan main. Ia tidak ingin jantungnya terluka karena berdetak terlalu cepat.

"Kau duluan saja. Aku akan berjalan dibelakangmu."

"Arraseo."

Hojoon berjalan lebih pelan dibelakang Hyosang. Sudut matanya melirik punggung Hyosang, lalu beralih pada bunga tulip yang Hyosang pegang.

"Hojoon-ah. Cepatlah!"

"Ah, ne!"

Mau tidak mau, Hojoon mempercepat langkahnya. Lagipula jika ia bergerak lama-lama, rasa dingin semakin menusuk kulitnya. Ugh, dasar jaket menyebalkan.

ㅡo00oㅡ

Sekarang, Hojoon dan Hyosang berada di jembatan tepat diatas sungai Han. Suasana hening mereka diramaikan oleh suara gemercik yang berasal dari air sungai yang berbenturan dengan batu-batu yang ada. Hyosang masih menggenggam bunganya. Ia memejamkan matanya dan berkali-kali menghembuskan nafas. Terlihat sangat menikmati udara malam begini.

Arloji di tangan Hojoon menunjukan pukul delapan malam. Berbeda dari Hyosang yang menikmati udara malam, Hojoon justru sibuk dengan tangannya yang membeku. Hyosang menyebalkan.

"Hyosang, aku ingin pulang. Aku kedinginan. Kau menyebalkan sekali sih." Hojoon mulai kesal. Pasalnya, dari satu jam yang lalu, Hyosang hanya diam saja. Tidak berbicara sama sekali. Dan sialnya, dia tidak peka terhadap kedinginan yang dialami Hojoon.

"Mianhae. Aku bingung harus memulai darimana."

"Apanya?!"

Rasa degdeg-an Hojoon benar-benar tergantikan oleh kesal dan kedinginan yang luar biasa. Telapak tangannya mati rasa. Sudah dipastikan bibirnya membiru sekarang ini.

Hyosang menghela nafasnya lagi. Itu membuat Hojoon kesal. Baru saja ia ingin memarahi Hyosang, pria itu sudah menatapnya dalam. Hojoon membeku dalam posisinya.

"Uhm, Hojoon-ah."

"N-nde?"

Hyosang menyelipkan bunga tulip itu ditelinga Hojoon. Tangan Hyosang ikut andil membetulkan tatanan rambut Hojoon dan kembali mengenakan kupluk jaketnya. Hyosang tersenyum manis pada Hojoon yang masih mematung.

"Aku tahu aku tidak romantis. Tapi, saranghae."

Hojoon mengambil bunga tulip yang bertengger manis ditelinganya dengan kasar. Lalu ia menubruk tubuh Hyosang. Menangis dipelukan Hyosang.

"Bodoh. Hyosang bodoh. Jin Hyosang idiot. Menyebalkan!"

Hyosang terkekeh. "Mianhae."

"Kau adalah orang yang paling tidak romantis yang aku ketahui!" Ujar Hojoon dalam tangisnya.

"Mianhae. Saranghae Jeon Hojoon. Maafkan aku, aku baru menyadarinya sekarang."

"Kenapa kau menyatakannya sekarang? Percaya diri sekali! Memang kau kira aku juga menyukaimu hah?" Hojoon masih menangis. Hyosang mengusap-usap punggung sempit Hojoon, agar sang empu merasa lebih tenang.

"Jadi kau menolakku?"

"Kau bodoh! Kalau aku menolakmu, aku tidak akan menerima bunga ini, idiot. Hiks. Saranghae Jin Hyosang bodoh." Hojoon menghentikan tangisannya. Ia mulai mengangkat wajahnya dan menatap mata Hyosang.

Hyosang tersenyum. Dengan cepat, ia mengecup kilat bibir tipis Hojoon. "Saranghaeyo Jeon Hojoon."

"Nado. Dasar menyebalkan! Mengecup orang sembarangan."

"Daripada aku lumat? Kau mau rating Topp Dogg menurut hanya karena aku dan kau ciuman? Kita bisa dibunuh Cho PD."

"Ugh! Dasar mesum! Pergi kau!"

"Okay. Aku pergi. Dadah~ selamat kedinginan princess."

"Yakk!"

ㅡENDㅡ

[Omake + Teaser Chapter 3]

Jiho terbangun malam-malam sekali gara-gara ia kebelet pipis. Ia cepat-cepat menuju kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya itu(?).

Setelah selesai berurusan dengan kamar mandi, ia berjalan menuju dapur untuk minum karena tenggorokannya kering sekali.

Perhatian Jiho tertuju pada selembar kertas didekat rak gelas. Apa mungkin resep baru Hojoon hyung? Batin Jiho. Ia membukanya begitu saja. Anggap saja Jiho tidak sopan.

Jiho membulatkan mata kecilnya. Shock.

'Hyosang hyung sudah menyatakan perasaannya pada Hojoon hyung?! Dengan cara seperti ini?' Gumam Jiho pelan.

Ternyata kertas yang ditemukan oleh Jiho adalah diary-berceceran Hojoon.

Jiho menyimpan kertas itu disaku piyamanya. Selama otw kembali kedunia mimpi, pikirannya terus bertanya-tanya seperti ini.

'Hansol dengan cara ngambek, Hyosang hyung pakai cara ala kadarnya. Lalu aku pakai cara apa untuk menembak Taeyang hyung?'

Uhuk.

Chapter 3: My Way [XeroNissi]COMING SOON!

Dafuq. Suyanq ga nyangka ini lebih dr 5k words. Pdhl cuma bikin satu minggu. Biasanya cuma 2k word kaya chapter 1. Yaudahlahya, itung-itung bayaran utang buat ff Sweet Boy yang udah suyanq hapus T_T sebenernya suyanq masih hapal storyline-nya tapi suyanq stuck, gimana caranya bikin biar abisnya ugh ngeselin. Yaudahlahya.

OHIYAA SUYANQ LAGI BAHAGIA NIH TADI TERIMA RAPOT TERUS RANKING SUYANQ NAIK DRASTIS UGH ALHAMDULILAH HIRABIL ALAMIN YA ALLAH DAN YANG PALING PENTING SUYANQ NAIK KELAS! Semoga pada readers-deul yang ikut serta doain suyanq dan mensupport suyanq bisa dapat balasan yang setimpal ya Allah Aamiin..

Yaudah segitu aja cuap-cuapnya. Ohiya, XeroNissi aka XeroJenissi lucu kan? :3

Chapter 4 kayaknya bakalan Naktatom atau SeoYano hehe. Yaudah bye.

June 26th

Suyanq