Petra mungkin memang salah satu lulusan terbaik yang berhasil bergabung dengan squad Levi—divisi dua investigasi, yang merupakan impiannya sejak dulu. Tetapi bagaimana jika Ia tak sengaja melakukan kesalahan biasa pada misi di hari pertamanya, sehingga Levi harus terus berada di sisinya untuk melindunginya, bahkan untuk hari-hari ke depannya? Di suatu sisi, itu membuatnya bersyukur. Namun di sisi lain, penyesalan tak bisa terelakkan.


Shingeki No Kyoujin © Hajime Isayama

.

This fanfiction is belong to me.

.

Warning : Alternate Universe, IC/OOC, (miss)typo, Rivaille x Petra, (Bad)Eren & Mikasa, Chara death, Third's PoV for the second chapter. Recon Corps (Levi's Squad) as Second Division on Investigate.

.

(I just write what inside my brain. I don't get any profit by this fanfiction. If you don't like, don't force yourself to read it.)

Enjoy Reading, Minna!


Third's POV

.

.

.

Pria bersurai cokelat gelap dengan wajah nan stoic-nya itu berjalan rapi, sedikit mengendap, siaga dengan pistol laras pendek di genggamannya. Walaupun Ia sudah sangat sering menangani kasus perampokan bank—seperti saat ini, tetap saja konsentrasinya diperlukan. "Fokus, pirang." Ujarnya santai, namun sigap. Gadis pirang di sampingnya—Petra, mengangguk patuh.

Ia lalu berjalan dengan tempo yang lebih cepat, menuju tempat dimana kedua pelaku telah berhasil dipojokkan dengan todongan moncong pistol dan jari-jari yang telah siap di tempatnya untuk menarik pelatuk. Levi bisa melihat, di ujung sana ada sepasang pelaku dengan pakaian sederhana mereka, tengah mengangkat kedua tangannya. Satu dengan wajah pasrah, kedua alisnya bertautan—tanda bahwa Ia menyesali perbuatannya itu. Namun satu lagi dengan wajah datar, hampir tak menunjukkan ekspresi sama sekali.

Levi memicingkan matanya, menatap salah satu dari mereka –yang ternyata adalah seorang perempuan- dengan tatapan serius. sepertinya tak terlihat sedikitpun bahwa gadis yang tengah ditatapnya itu sedang goyah. Malahan, Ia tak bisa menemukan ekspresi tersirat apapun dari pandangan kosong—namun fokus, milik gadis itu.

"T-tolong lepaskan aku, kumohon."

Terdengar suara merintih dari sebelah kiri, tempat pelaku ketiga yang belum dapat dilumpuhkan, sedang menjalankan aksinya. Menyandra salah seorang pelanggan bank yang terlalu lamban dalam mengevakuasi dirinya sendiri.

"Eren!" pemuda berambut kuning cerah—salah satu dari keduanya yang telah berhasil dilumpuhkan berseru, memanggil nama pemuda bersurai cokelat berantakan—temannya itu, yang sedang menodongkan pistol laras pendek ke pelipis sang sandra.

"Jangan bergerak! Atau kutarik pelatuknya!" Ia berteriak sambil memejamkan matanya, memantapkan hati untuk apa yang barusan diteriakinya itu. Levi kembali memandang salah seorang dari mereka—yang tadi, sambil bertanya-tanya di dalam hati. 'Gadis sepertinya itu, kenapa cepat sekali dilumpuhkan?' Namun, Ia dapat melihat perubahan garis sudut matanya, yang terlihat sangat khawatir akan keselamatan rekan lainnya yang belum dilumpuhkan.

Levi mengangkat sedikit telapak tangannya—memberi aba-aba untuk menahan tindakan anak buahnya. Membuat Petra sedikit menoleh ke arahnya, namun dalam sepersekian detik kembali fokus ke depan.

Dan sekarang, Levi dapat melihat mimik serius dari perempuan-tanpa-ekspresi tadi, sedang memejamkan matanya. Dan lalu, Ia menerjang habis-habisan segerombol polisi di depan yang sedang membekuknya bersama rekannya dengan sedikit teknik bertarung. Dugaan Levi benar.

Gadis itu tidaklah lemah.

Dan sekejap saja, Ia berhasil membebaskan dirinya dan rekannya dari bekukan polisi-polisi yang berada di sana. Dan sekarang, Ia terlihat dalam posisi memunggungi rekan bersurai cokelatnya, mungkin melindungi.

"Jangan bertindak sembrono, Eren." Ujarnya pelan, membuat rekan dibelakangnya mengatupkan matanya erat-erat sembari menunduk, enggan dimarahi. Bahkan oleh saudara angkatnya sekalipun.

Levi diam. Walau pelan, Ia masih dapat mendengarnya. Namun suara Petra di sampingnya membuatnya menoleh. "Komandan, kami menunggu perintah anda." Dan lagi, membuatnya sadar bahwa jumlah pasukan yang diterjun lapangkan memang sedikit, karena kasus ini tergolong kasus yang sangat mudah. Sepertinya mereka telah melakukan sedikit kesalahan—Tidak. Levi masih bisa menanganinya.

Levi membuka mulutnya, "Evakuasi para pelanggan bank lainnya yang terlalu lamban menyelamatkan diri. Amankan rekan rambut kuning mereka itu bersama sandra yang tengah berada di genggamannya. Namun hindari gadis stoic itu, dia kuat. Aku dan Petra yang akan mengatasinya." Ia berujar mantap. Dan dalam waktu singkat, para anak buah segera menganggukkan kepalanya, lantas menjawab dengan lantang, "Siap, laksanakan!"

Levi dan Petra berjalan siaga menuju kedua pelaku utama yang tersisa, karena pelaku lainnya sudah terlanjur pasrah dan diborgol begitu saja oleh para anak buah yang bertindak cepat. Dengan sigap, gadis-tanpa-ekspresi itu memasang kuda-kuda siap bertarung, sedangkan rekannya di belakang mengeratkan cekikannya di leher sang sandra, tak berniat untuk melepaskannya sama sekali—masih dengan moncong pistol yang tertodong di pelipisnya.

"Aku akan menyelamatkan sandra, kau atasi perempuan di depan ini. Mengerti?" Levi berujar tanpa menoleh ke arah Petra, pandangannya tetap fokus ke depan, mencoba mencari titik rumpang saat pelaku yang memiliki seorang sandra di tangannya itu lengah barang beberapa detik. Sama halnya, Petra mengangguk sigap, juga tidak menoleh. Kedua maniknya sibuk berkutat dengan tatapan serius gadis dengan teknik bertarung di depannya.

"Hey," Levi berseru. Posisi mereka sekarang tepat berada di depan target. Petra dapat mendengar seruan pelan namun terkesan menusuk itu. Namun, Ia tak menoleh, tetap fokus. Cari kesempatan saat dia lengah, atau kau sendirilah yang akan dilumpuhkan jika lengah. Kedua gadis yang saling berhadapan itu berbatin sama. Levi menatap lurus kedua pasang mata yang berbeda itu. Satu menampakkan keberanian yang membara, satunya lagi tajam dan penuh siaga.

Dengan sigap, Petra maju dan mengincar tulang kering, berniat melumpuhkannya untuk sementara. Namun gadis itu dapat menghindari serangan itu dengan mudahnya. Petra sudah menduga bahwa hal itu akan terjadi. Ia sempat menangkap raut serius di wajah Levi sebelum gadis ini bisa membebaskan dirinya dari bekukan para polisi tadi. Dan tentunya Ia tahu, itu perintah untuk berhati-hati.

Ia masih terus melancarkan serangan ringan, dan gadis itu terus menghindar dengan tepat. Ia sama sekali belum terlihat melancarkan serangan balik, sampai akhirnya sebuah tinju yang terkepal dengan sempurna—bukan milik Petra, dilayangkan, berniat menghantam wajahnya. Ia menghindar, tapi itu nyaris saja. Kepalan tangan itu hanya mengenai helaian rambut oranye lembut miliknya. Dan dengan fokus, Petra mengincar titik baliknya, hendak mengunci gerakan gadis yang memiliki keterampilan bertarung di depannya ini.

Dan ya, gadis itu telah terpancing untuk melayangkan tinjunya tadi, inilah kesempatan Petra!

Ia langsung saja meraih lengan milik gadis itu, lantas memutarnya ke belakang. Ia membuat gadis itu seolah memunggunginya, lantas menyelipkan kakinya di antara lutut milik lawan tarungnya itu. Dalam sekejap, gadis itu tersungkur di lantai, dengan kungkungan Petra yang menahannya. Ia menyunggingkan senyum puasnya barang sedetik, lalu menatap Levi, memperlihatkan kekuatannya barusan. Dan seperti harapannya, terlihat bahwa komandan mudanya itu meliriknya dengan sudut bibir yang sedikit dinaikkan—Ia tersenyum kecil.

"Mikasa!" terdengar seruan dari satu-satunya pelaku yang masih tersisa. Levi bisa menemukan raut keterkejutan yang amat sangat dari wajahnya yang tengah menatap rekannya yang sudah terkulai lemas di lantai. Kesempatan!—batin Levi sejenak. Langsung saja Ia menyerang titik lumpuh melalui hempasan kakinya, dan dengan sigap, Ia menyelamatkan sang sandra.

Pemuda itu mencoba bangkit kembali, walaupun Ia tahu bahwa Ia sangat memaksakan dirinya. Dan dengan siaga, Petra menahannya. Melakukan hal yang sama dilakukannya kepada gadis-tanpa-ekspresi tadi. Bedanya, kali ini Ia tidak menyelipkan kakinya. Ia hanya mengukung pergelangan tangan pemuda itu agar Ia tak bisa bergerak lagi. Namun di situlah kesalahannya.

"Tengkuk! Serang tengkuknya, Mikasa!" seruannya itu membuat Petra sekaligus Levi terbelalak. Kenapa Ia tak langsung membuat gadis yang tadinya tersungkur itu kehilangan kesadarannya barang untuk sebentar saja? Kenapa Ia bisa melupakan fakta bahwa gadis itu…

Kuat.

BUKK!

Petra terbelalak. Ia kenal sekali dengan rasa sakit yang satu ini. Perih yang selalu menghunjamnya, beberapa detik sebelum kesadarannya hilang untuk sementara. Tubuhnya terhuyung, menabrak tubuh pemuda bersurai cokelat berantakan yang tadi sempat dikukungnya. Sekarang, Petra-lah yang masuk perangkap. Samar-samar, Ia bisa merasakan bahwa tubuhnya diangkat perlahan, dan lehernya dicekik pelan. Walau lemah, Ia masih dapat merasakannya. Sarafnya masih berfungsi.

"Tch! Kau telah mengganggu investigasiku! Cepat pergi dan larilah sejauh mungkin." Bentak Levi kepada sandra yang masih berada di pelukannya itu. Dan sekarang, Ia telah menyalahkan seorang sandra karena kelalaiannya sendiri. Namun Levi masih berkutat dengan pikirannya bahwa Petra memang bisa diandalkan. Hanya saja, Ia belum mengetahui titik lemahnya. Rahasia yang berusaha disembunyikan oleh seorang Petra Raal.

"Menyerahlah, bocah."

DORR!

Hanya dua patah kata itulah yang diucapkannya sebelum jarinya menarik pelatuk dari pistol laras pendek yang berada di genggamannya saat ini. Terlihat darah segar bercucuran dari balik kaos putih yang dikenakan sang pemuda bersurai cokelat yang saat ini sedang membatu, juga sedikit noda darah di seragam Petra. Rupanya sasaran telak yang diniatkan adalah bagian dada kiri, namun diusahakan untuk tidak mencapai jantung.

Bagaimanapun juga, barusan pemuda itu telah menggunakan Petra sebagai tameng jantungnya. Namun dengan perbedaan tinggi yang terlampau di antara mereka, hal itu menyebabkan goresan dalam—yang tidak terlalu fatal, namun sukses membuat Petra mengalami cedera.

Lain halnya dengan pelaku sasaran Levi tadi. Bibirnya seketika memucat pasi. Apa—yang telah Ia perbuat? Ibunya bahkan tak pernah mengharapkan hal ini terjadi, cukuplah Ia selamat. Namun tidak dengan perbuatannya barusan. Keduanya saling berpandangan dengan mata yang sama-sama membulat. "Eren! K-kau berdarah, b-banyak sekali…" suaranya bergetar saat gadis itu buka mulut.

Rekannya hanya menggeleng pelan, seraya terlepasnya cengkraman yang menahan Petra. Ia tersungkur ke lantai, begitupun dengan Petra dengan kesadarannya yang belum pulih seutuhnya. Sebenarnya, Ia sudah sadar. Namun rasanya begitu berat, bahkan hanya untuk membuka kelopak matanya. Badannya juga melemah.

Rekan gadisnya berlutut, mengguncang-guncangkan pundaknya, namun pemuda bersurai cokelat dengan bibir yang makin memucat itu terus saja menggelengkan kepalanya pelan, sambil berseru, "Maafkan aku, Ibu. Maafkan aku," tak tahan, gadis itu membentaknya, "JANGAN MAIN-MAIN, EREN!" Ia merasa bahwa sudut matanya terasa berair. Ia bahkan tak percaya bahwa Ia akan menangis.

"Mungkin aku akan segera bertemu Ayah," ujarnya pelan. Mendengar hal itu membuat rekannya makin menjadi-jadi. "Jangan! K-kalau memang kau akan… T-tidak, aku akan ikut 2bersamamu!" teriaknya. Terdengar suara langkah pelan dari belakangnya, namun itu tidak membuat rekannya menoleh. Ia tetap berkutat dengan pemuda yang sekarang telah bersimbah darah di lantai itu. "Kau benar, dunia memang kejam, Mikasa. Tetaplah hidup, untuk Ibu, dan—untukku." Lanjutnya seraya tersenyum kecut untuk yang terakhir kalinya.

CKREK!

Sebuah borgol telah terpasang di kedua pergelangan tangannya, bahkan tanpa Ia sadari. Dan Ia juga tidak peduli. Toh, apa artinya lagi hidup ini? Rasanya Ia ingin menangis, sekali lagi. Hanya untuk sekali lagi. Rasanya lebih sekedar dari air mata yang menetes keluar. Lagi, dan lagi, Ia kehilangan keluarga yang di'cintai' untuk selamanya.

"Kau bisa membunuhku. Nanti." Sebuah suara pelan membuatnya menoleh ke arah sumber suara tersebut. Wajahnya kembali datar, pandangannya kosong seperti saat Levi melihatnya untuk pertama kali. Dengan wajah yang tak kalah datarnya, Levi melanjutkan, "Tapi biarkanlah aku hidup barang hanya untuk sementara. Mungkin sampai aku bisa memiliki perasaan kepada seseorang, seperti kau yang mencintainya." Levi memandang pemuda bersurai cokelat yang sekarang telah berpindah tangan ke para medis yang menggotongnya menuju mobil Ambulans.

Ia lalu melangkah menuju tempat tersungkurnya Petra sembari berlutut, lalu meraih lengan kanannya yang tidak cedera, lantas membopongnya. Ia tahu bahwa Petra sudah sadar, meski ada beberapa pertanyaan yang muncul di benaknya. Namun ditelan mentah-mentah rasa penasaran itu, tergantikan oleh seruan kasarnya. "Jangan membuatku menjadi seperti ini, bodoh." Petra diam. Namun, Levi tahu bahwa Ia mendengarkannya. Petra sendiri bingung harus merespon apa. Senang, ataukah sedih?

"Lain kali, jangan bertindak sendirian seperti itu. Bahkan jika aku terlalu lamban memberi perintah." Ujar Levi, masih memandang lurus ke depan. Petra sedikit tersentak, namun kembali membisu. Rasanya, otaknya sudah lelah berpikir. Polisi penyergap tambahan yang baru saja tiba langsung memegangi gadis-tanpa-ekspresi yang telah berbalut borgol di pergelangan tangannya itu dengan sigap, sambil menggiringnya menuju mobil.

Levi sedikit mengerti bahwa Ia harus menunggu sampai keadaan Petra benar-benar pulih, untuk membuatnya dapat kembali berbicara. Ia menghela napas beratnya sejenak, sambil membantu Petra masuk ke mobil. Mungkin Ia akan belajar untuk bersabar pada hari-hari yang akan datang. Namun sebuah suara lembut menyadarkannya untuk sejenak.

"Komandan," Ia menoleh ke arah Petra yang mulutnya masih terbuka sedikit, lalu bertanya, "Apa?" berusaha untuk tidak terdengar ketus, tetap saja itu sudah menjadi bawaannya. "Rasanya perih sekali," ujar Petra pelan, sangat pelan—nyaris berbisik. Dan entah dengan dorongan apa, Levi mendekatinya. Lalu merangkulnya erat. Sangat erat.

"Kalau bisa, aku juga ingin merasakannya, bodoh." Detik itu, Petra kembali membisu.

.

.

.

To be Continue


(Author's Note) : di Fanfic ini, saya membuat karakter Petra yang kuat dan tegar, namun dengan satu kelemahan sebagai titik pusatnya. Hanya segelintir orang yang dapat menyadari kelemahan yang umumnya tidak berakibat fatal itu. Namun bagi Petra yang pernah mengalami hal tragis dikarenakan alasannya itu, ini bisa berdampak besar untuk susunan sarafnya yang akan melemah jika mengenai titik itu.

(Author's bacot) :

Gila ini chapter nista banget, ya? Entahlah. Mungkin saya lagi tergila-gila dengan materi biologi tentang 'Sistem Koordinasi Pada Manusia', juga materi mengenai 'Genetika', khususnya kromosom. Ini penjelasannya gak akurat banget, haha. Yeah, saya ngebut buat ngetik chapter yang satu ini. Idenya masih melimpah, sih. Jadi mumpung punya waktu luang, ya diketik aja. Ini juga plotnya hasil diskusi sama Titan cantik super baik hati yang jadi tempat curhat saya sehari-hari, sebagai pengganti si Bertholdt Hipopotamus yang gak muncul seharian di sekolah hari ini dan si Titan Abnormal yang nyuekin saya seharian penuh. Entahlah, mungkin batin mereka sudah lelah menghadapi saya.

Jadi gimana, Minna? Lanjut apa dibiarin? /salah/ Review anda menentukan, Arigatou.

Sign,

Bakagami d'Lefi 003