~ Song Jiseok Storyline ~
~ ChanBaek Storyline ~
Tittle : Stop the Rain
Rate : T (mau naik? :p )
Genre : Romance (ada saran?)
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Byun Chanyeol, Park Baekhyun (other cast nanti muncul sendiri)
Pairing : Chanbaek-Baekyeol
Disc : cast hanya milih Tuhan dan orang tuanya masing-masing. Tapi Chanyeol milik Baekhyun dan Baekhyun milik Chanyeol. Takdir tidak bisa diubah!/maksa/. Jalan cerita of course milik saya. Milik imajinasi saya dan milik jari-jari saya yang menyusunnya.
AU, OOC, Typo(s)
.
.
.
Baekhyun tidak tahu bagaimaa cara menjalin hubungan yang baik, dan Chanyeol adalah orang pertama yang mau menjalin hubungan dengannya. Jadi, Baekhyun bertanya-tanya apakah ini salahnya karna tidak mengerti bagaimana harus menjalankannya, atau memang Chanyeolnya yang terlalu kaku.
Drama-drama yang dilihatnya juga membuatnya berpikir, apakah sepasang kekasih memang seharusnya bersikap terlalu 'cheesy' seperti itu? Jika ya, mengapa dirinya dan Chanyeol tidak?
Jika di setiap drama sepasang kekasih akan mengambil gambar bersama dan menggunakannya sebagai homescreen, lalu mengapa dirinya dan Chanyeol tidak?
Dan jika di setiap drama sepasang kekasih tidak akan melewatkan scene termanis—oh ya Tuhan, bahkan dirinya dan Chanyeol belum pernah berciuman semenjak hari pertama mereka resmi menjadi sepasang kekasih.
Baekhyun menghela nafas, tidak dalam situasi ingin beranjak dari tempatnya. Apakah seharusnya Ia memikirkan bagaimana cara berpacaran seperti tadi atau biarkan semuanya berjalan saja seperti yang telah mereka lalui satu tahun kebelakang.
Perasaannya belum cukup jelas. Baekhyun merindukan Chanyeol, namun terkadang berharap tidak ingin bertemu dengan pemuda itu. Baekhyun selalu khawatir jika Chanyeol jatuh sakit, namun hatinya terasa tidak terlalu peduli. Baekhyun mencintai Chanyeol, namun…
Hal ini terlalu membimbangkan perasaannya. Baekhyun merasa tidak tahan lagi untuk melanjutkan semua sandiwara yang dibangun oleh dirinya sendiri. Membodohi dan dibodohi, memanipulasi dan dimanipulasi.
Dirinya harus berbicara dengan Chanyeol.
.
.
Suara pintu terbuka lalu tertutup kembali sudah sangat cukup menjelaskan bahwa Chanyeol sudah pulang. Disusul dengan suara tubuh yang dihempaskan ke atas sofa juga sudah menjelaskan Chanyeol sangat kelelahan.
Baekhyun menggigit bibirnya. Membayangkan untuk berbicara dengan Chanyeol secara serius memang sudah tersusun dan terencana, namun menyadari kekasihnya itu sudah berada didekatnya membuat Baekhyun kehilangan potongan-potongan rencana yang sudah Ia susun sedaritadi.
Terlebih Baekhyun tidak melupakan kejadian tadi siang yang melibatkan pertemuannya dengan Chanyeol. Apa Chanyeol akan memaafkannya atau tidak menjadi list pertama dalam benaknya sekarang.
"Chan—"
"Diam, Baek. Aku lelah."
Selalu begitu.
Baekhyun sudah terbiasa dan teramat sangat mengerti akan kekasihnya itu. Ini bukan saatnya membangunkan si singa jantan yang baru saja akan terlelap. Dan ini bukan saatnya menjulurkan umpan pada si jantan.
Baekhyun selalu ingat apa yang dikatakan Chanyeol tiap kali Ia bertanya mengenai tugasnya yang tidak diselesaikan dirumah. Baekhyun selalu ingat bagaimana kekasihnya itu merangkul dan mencium lembut keningnya, mengatakan bahwa dirinya dan Baekhyun harus memiliki waktu berdua yang lebih eklusif.
Tidak.
Chanyeol bermain-main dengan ucapannya.
Dan Baekhyun bermain-main dengan perasaannya sendiri.
Apa cukup impas?
"Aku memperingatkanmu membawa payung, dan tolong dengarkan aku sekali saja. Selamat beristirahat."
Baekhyun membawa dirinya terbaring di ranjangnya sendiri setelah meletakkan coklat panas di atas meja. Chanyeol kedinginan, namun Ia memilih merapatkan selimut pada dirinya sendiri. Tak peduli bagaimana kekasihnya yang tersiksa akibat tubuh yang basah terkena hujan, pemuda itu tidak pernah mendengarkan nasehat Baekhyun yang selalu terdengar posesif.
"Siapa bilang aku peduli. Aku bahkan tidak merindukannya."
.
.
Chanyeol demam. Tubuhnya berkeringat banyak dan bergetar karena menggigil. Baekhyun panik mengetahuinya, namun langkahnya terasa biasa saat mengambil kompresan untuk kekasihnya itu.
Baekhyun terduduk di atas lantai menghadap sofa dimana Chanyeol tengah memeluk dirinya sendiri. Memeras kain basah lalu meletakkanya di dahi yang lebih tinggi, Chanyeol menarik Baekhyun dalam pelukannya.
Ini bukan kali pertamanya Chanyeol memeluk Baekhyun, mereka selalu berpelukan saat menjelang alam bawah sadar. Baekhyun jelas merasa pelukan Chanyeol kali ini berbeda, Chanyeol memeluknya sangat erat.
"Aku menyayangimu, Baek."
Aku juga.
"Aku lebih mencintaimu."
Kau tidak bosan mengatakannya? Kurasa sudahi saja semua sandiwara yang kau gali sendiri, Chanyeol.
"Kau tidak akan meninggalkanku, 'kan?"
Baekhyun ingin berhenti.
Demi Tuhan Baekhyun ingin menghentikan semua ini.
Ini memang pengalaman pertamanya terikat dalam sebuah hubungan, Tetapi Baekhyun tidak tahu bahwa menjalin hubungan harus serumit ini. Menyangkutkan hati, perasaan dan juga perkataan, dan Baekhyun cukup sadar ketiganya mengatakan hal yang berbeda.
Baekhyun ingin semuanya berakhir. Sungguh, Ia ingin dengan cepat mengatakannya pada Chanyeol. Namun si tinggi itu terlihat selalu mengulur waktunya. Seperti mencoba membuat Baekhyun merasa takut sekaligus mengkhawatirkan dirinya dalam waktu yang sama.
"Makanya, berteduh dulu kalau hujan turun."
"Aku ingin cepat bertemu denganmu." Chanyeol tersenyum tipis, semakin mengeratka pelukannya pada tubuh kekasih mungilnya yang kini sedang tertawa dalam hati. Bertemu apanya, bodoh?
"Kau langsung tidur tadi." Suaranya dingin, tidak disengaja karna Baekhyun memang tahu Chanyeolnya sedang berbohong lagi.
Baekhyun segera menulikan telinganya ketika mulut Chanyeol terbuka lagi. Ia tidak ingin mendengar alasan apapun lagi dari si bodoh Park Chanyeol. Pemuda itu seakan mengetahui rencana Baekhyun dan membuat situasi tak memungkinkan untuk berbicara seserius itu.
Atau mungkin Baekhyun yang terlalu berfantasi karena dirinya tidak bisa sabar lagi untuk segera mengakhirinya.
"Kita putus saja."
Baekhyun mengerjapkan matanya. Menyadari sosok tampan dihadapannya mengibaskan tangannya berulang kali didepan wajahnya.
"Kau tidak apa-apa?"
Baekhyun mengerjap sekali lagi.
Hubungannya dengan Chanyeol belum berakhir, bahkan Baekhyun belum memulai semua rencananya. Salahkan pemikiran fantasinya yang membuat hatinya kini meluluh lagi pada sosok didepannya.
Yang tadi terlalu jahat. Baekhyun harus mengulur waktu lagi untuk berbicara serius dengan Chanyeol. Tapi berbicara sekarang, apa salahnya?
Bibir tipisnya kini tersenyum, tangannya kembali memeras kain dan mengompres dahi kekasihnya itu. "Aku lebih menyayangimu."
Keduanya memilih terdiam, memberi kesempatan pada detik jam untuk mengedarkan suaranya di indra pendengaran keduanya. Tidak ada percakapan yang berlangsung setelah terakhir Baekhyun mengeluarkan suaranya. Yang lebih muda merasa canggung sendiri. Mereka kehabisan topik untuk dibicarakan.
"Chan…" Baekhyun ragu untuk melanjutkan memanggil nama kekasihnya itu apa tidak, memulai pada pembicaraan serius mereka apa tidak, mengakhiri hubungan mereka sekarang apa tidak, dan gumaman sang kekasih yang menjawab ketika merasa namanya dipanggil mengharuskan Baekhyun untuk tetap berada di jalurnya.
"Tentang yang tadi siang, maafkan aku."
Baekhyun memilih jeda sebentar, memastikan reaksi kekasihnya pada kata 'tadi siang' yang artinya harus memutarkan pemikiran mereka pada kejadian yang terjadi tadi siang. Melihat Chanyeol yang hanya diam saja, mungkin Baekhyun harus melanjutkan.
"Aku terjebak hujan, sungguh. Aku juga tidak sengaja—"
"Diamlah, Baek. Kepalaku sakit."
Dan selalu begitu.
Baekhyun seharusnya sudah tahu bagaimana kekasihnya membenci pertemuan mereka tadi siang. Semua memang tidak terduga, tapi mungkinkah salah Baekhyun juga yang iseng mencari kesempatan melihat Chanyeol di kampus dan membolos pada kelasnya sendiri.
Ini mungkin salahnya. Jadi Baekhyun menghentikan pembicaraannya. Bukan waktu yang tepat, dan Ia memang harus mengulur waktunya lagi.
.
.
Hari ini Baekhyun menghentikan acara berkunjung-ke-kampus-kekasihnya itu. Makan siang di kantin yang penuh, buang air di toilet yang bahkan tidak pernah mampet dan berjalan-jalan di koridor sekolahnya sendiri.
Semua terasa biasa dan memang mungkin Baekhyun tidak seharusnya terlalu sering 'kebetulan lewat' ke gedung fakultas dimana Chanyeol yang—katanya—sibuk menghabiskan waktunya disana.
Kepalanya kembali terisi dengan berbagai opini mengenai sepasang kekasih yang menjalin hubungan dengan semestinya. Dirinya bahkan hampir lupa apa saja yang sudah mereka lalui selama hampir setahun ini—bulan depan mereka akan bertemu dengan hari jadi yang ke satu tahun. Apa selama itu keduanya akan terus bersandiwara? Baekhyun bahkan lupa bagaimana saat Chanyeol menyatakan cintanya dulu. Apa Chanyeol benar-benar mencintainya?
"Hey, Baekhyun!"
Baekhyun memutar tubuhnya tepat sebelum dirinya memasuki kelas. Matanya menyipit melihat siapa yang memanggilnya dan berlari menghampirinya.
"Luhan?"
Yang disebut namanya masih mengatur nafasnya yang terpotong-potong. Ketika sudah dirasa nafasnya kembali normal, barulah lelaki bermata rusa itu menyampaikan tujuannya.
"Nanti malam aku dan Sehun akan merayakan hari jadi kita. Kau datang ya?" pinta Luhan. Undangan ini memang tidak mendadak, Baekhyun sudah tahu Luhan dan Sehun menjalin hubungan special, namun Ia hampir lupa hari ini adalah hari jadi mereka yang ke tiga bulan.
"Lu, aku—"
"Datanglah bersama Chanyeol. Aku dan Sehun sudah cukup menghabiskan uang untuk pesta kecil-kecilan ini."
Mengapa tidak dirayakan berdua saja kalau menghabiskan uang, sindir Baekhyun dalam hati sebelum akhirnya menyetujui undangan untuk perayaan hari jadi Sehun dan Luhan itu.
Baekhyun kembali ke kelasnya, mendaratkan bokongnya pada kursinya. Ia mengeluarkan earphone putih dan menyumbatkannya pada telinga. Tidak ada lagu yang menyapa pendengarannya, Baekhyun hanya ingin terlihat sibuk agar tidak ada yang mengajaknya bicara.
Untuk kali ini saja, ketika dirinya kembali teringat jika tanggal sebelas datang dan Baekhyun sudah menunggu Chanyeol yang mungkin saja akan menyiapkan segala kejutan untuknya di hari jadi mereka.
Namun yang Baekhyun dapat hanyalah sebuah kecupan hangat di dahinya sebelum si kekasih jangkungnya menghempaskan tubuh pada sofa dan kembali tertidur.
Baekhyun memang ingin diperlakukan berbeda. Tapi ternyata hubungannya dengan Chanyeol memang sudah berbeda. Dia tidak melupakan fakta bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk mencintai orang yang dicintainya, hanya itu yang membuat Baekhyun yakin dan bertahan sedikit lebih lama sebelum keduanya berbicara serius untuk hal ini.
.
.
"Chanyeol, kau akan datang?"
Yang ditanya hanya mengendikkan bahu dan kembali memfokuskan perhatiannya pada mie instan menu makanannya sore ini. "Aku harus bekerja, kau tahu?"
"Chanyeol, ayolah. Mereka berdua sudah menghabiskan uang untuk kedatangan kita." Baekhyun memelas. Ia ingin datang, terlebih Luhan menyuruhnya datang bersama Sehun. Baekhyun juga yakin Sehun sudah lebih dulu mengajak kekasihnya itu untuk datang.
"Mereka menghabiskan uang dan aku butuh uang, sayang." suaranya memang melembut, tapi tak bisa mengubah raut datar pada wajahnya. Itu artinya Chanyeol tidak suka, dan Baekhyun tidak bisa memaksa.
Baekhyun tidak ingin menolak ajakan Luhan walau Ia punya berbagai alasan untuk itu. Dia ingin datang. Ingin datang bersama Chanyeol. Niat terdalam dihatinya sebenarnya ingin menunjukkan pada Chanyeol bagaimana pasangan lain saling mencintai, Ia juga ingin dilihat bahwa dirinya dan Chanyeol sudah menjalani hubungan dengan cukup baik.
Mata sipitnya memperhatikan sang kekasih yang tengah menyantap ramen buatannya sendiri. Terlihat terburu-buru dari cara makannya, Chanyeol sedang kelaparan.
"Kita bisa makan banyak di acara Luhan dan Sehun, lalu setelahnya kau bisa pergi bekerja." usul Baekhyun setelah memastikan kekasihnya itu mungkin saja akan menyetujuinya. Bibir tipisnya tersenyum diam-diam.
"Dan aku tidak akan memiliki waktu untuk tidur, Baekhyun. Dan nanti kau akan pulang sendirian."
Baekhyun hendak membuka mulutnya, namun terkatup kembali. Rasanya ingin sekali menjerit didepan wajah si jangkung itu, meneriakan 'apa bedanya jika aku pergi sendirian, idiot!'. Namun Baekhyun masih waras untuk hal itu. Ia masih dalam perjalanan mencari saat yang tepat untuk berbicara serius dengan Chanyeolnya.
.
.
Apartemen Sehun tidak terlalu luas, namun masih cukup untuk menampung beberapa orang terdekat mereka. Baekhyun mengedarkan pandangannya dan menemukan Luhan di pojok ruangan. Hampir tidak ada yang Ia kenal disini, beberapa teman Luhan yang sesekali menyapanya di koridor sekolah dan sisanya Ia yakini adalah teman Sehun –yang berarti teman Chanyeol juga, 'kan?
"Mana Sehun?"
Luhan sedikit terlonjak mendengar suara temannya kemudian tersenyum melihat Baekhyun di hadapannya.
"Bersama temannya," Luhan ikut mengedarkan pandangannya lalu kembali melabuhkan tatapannya pada sosok temannya itu, "mana Chanyeol?" akhirnya Ia bertanya.
Baekhyun tersenyum tipis, senyumannya terasa pahit tapi Ia tidak mau mengindahkan fakta bahwa Chanyeol tidak mau datang. Jadi, ketika Luhan menaikkan sebelah alisnya dan hendak mengulang pertanyaannya, Baekhyun segera mungkin menjawab "akan menyusul nanti."
Telinganya terasa akan tuli malam ini. Entah siapa yang bodoh, namun kedua pasangan yang sedang merayakan hari jadinya yang ke tiga bulan itu memilih musik keras dan tidak ada kesan romantis-romantisnya sama sekali untuk menyertai pesta kecil-kecilan ini.
Bahkan disaat keduanya menautkan bibir masing-masing, dentuman dari musik keras itu ditambah dengan sorakan tamu-tamu yang lain. Baekhyun menutup telinganya dan mengalihkan pandangannya. Ingatannya selalu kembali pada Chanyeol yang entah sedang apa sekarang. Lelaki tinggi itu—
"Baekhyun, ya?"
Baekhyun baru sadar bahwa ada yang memanggilnya sedari tadi. Salahkan music keras yang mengganggu telinganya dan haruskah Ia menyalahkan Sehun dan Luhan yang malah berciuman didepan tadi?
"Kau sendirian?" tanyanya lagi karena Baekhyun tidak juga menjawab. Baekhyun harus mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang mengajaknya bicara. Tingginya tidak jauh beda dengan Chanyeol.
"Tidak. Aku bersama kalian semua."
"Dimana Chanyeol?" tebakannya benar. Siapapun yang mengenalnya disisi pasti akan bertanya tentang keberadaan makhluk idiot itu. Baekhyun memang sudah menyiapkan alasan jika 'Chanyeol akan menyusul' di awal pesta dan 'Chanyeol pergi bekerja' di akhir acara. Tapi rasanya berbohong pada teman Chanyeol malah akan menjatuhkan harga dirinya.
Siapa yang tahu, lelaki tinggi dengan mata tajam yang menjadi lawan bicaranya ini akan langsung tertawa dan menyerukan ejekan seperti 'Chanyeol kan memang tidak mau datang' 'kasian sekali Chanyeol tidak mau menemanimu' 'kau kesepian sekali, adik manis' atau sebagainya dan semua orang yang berada dalam apartemen Sehun ini akan menertawainya.
Membayangkannya saja sudah cukup membuat Baekhyun menangis dalam hati dan memilih untuk jujur saja dengan mengatakan "sibuk mencari uang."
"Wah, Chanyeol sudah seperti suami-mu sekarang ya?"
Suami apanya, bodoh! Desis Baekhyun dalam hati. Dirinya baru sadar bahwa menjadikan Chanyeol sebagai topik pembicaraan bukanlah hal yang Ia suka. Jadi, membiarkan lawan bicaranya itu menyadari bahwa Baekhyun tidak menyukai kalimatnya adalah pilihan yang terbaik.
Terasa cukup lama Baekhyun terdiam dan lelaki yang kini ada disampingnya juga tidak mengajaknya bicara lagi. Dilihatnya Sehun yang mengucapkan terimakasih didepan sana menunjukkan bahwa acara ini sudah mau selesai.
Baekhyun melirik arlojinya, pukul dua dini hari. Semalam itukah mereka merayakannya?
"Aku Yifan, panggil saja Kris."
Baekhyun menaikkan alisnya mendengar makhluk disampingnya mengeluarkan suara lagi. Tak mengindahkan uluran tangan Kris yang mengajaknya bersalaman untuk berkenalan.
"Baekhyun."
"Aku tahu." Kris terkekeh, suara Baekhyun terdengar dingin. Jadi ia menarik sendiri tangan Baekhyun untuk menjabat tangannya, "tidak baik mengabaikan orang seperti itu, apalagi aku ini senior-mu, Baekhyun."
"Tentang waktu itu, apa kau menikmatinya?"
Baekhyun sadar bahwa ini bukan kali pertamanya Ia bertemu dengan Kris. Ia ingat Chanyeol pernah menceritakan teman bodohnya ini. Ia juga ingat tentang pertemuannya dengan Kris beberapa waktu lalu.
Tatapannya jatuh tepat di mata tajam lelaki tinggi itu. Bibir tipisnya kini menyeringai, lalu tersenyum, dan kepalanya mengangguk.
TBC?
Atau berhenti saja? /naik-naikkin alis/
Huahahaha kenapa bisa saya menulis ff tidak layak baca ini -_- (semua ff-ku memang tidak layak baca mungkin :'v)
Tapi walaupun seperti itu terimakasih untuk kalian yang sudah meluangkan waktunya membaca fanfic nista yang entah mengapa terketik begitu saja. Salahkan jari indahku ini yang terasa gatal untuk terus menciptakan fanfic dan akhirnya ter-post-dengan-mengerikannya disini :'D
Ya ya ya saya tau fanfic ini memang pendek (pendek gak sih?) dan ini memang di sengaja karna untuk chapter-chapter selanjutnya akan di buat lebih panjang dan memang plotnya sudah begitu u,u
Terimakasih yang sudah me-review/foll/fav :'D saya merasa tersanjung sekali /terjungkal/
Buat kalian yang merasa fanfic ini tidak lulus untuk dilanjutkan ketahap selanjutnya.. katakana sajalah karena saya juga merasa begitu -_-" tapi untuk kalian yang merasa penasaran dengan kelanjutannya, silahkan hujani saya dengan berbagai ulasan untuk menambah power pada imajinasi saya ini hoho /modus/?
Fanfic ini sebenarnya sudah selesai beberapa hari yang lalu, tapi kalian tau sendiri ffn tidak mengizinkan sembarang provider untuk mengaksesnya -..-
Saya beri satu kesempatan lagi untuk menjawab, lanjut atau tidak?
Dan.. sudikah kalian semua memberi sedikit sentuhan untuk rasa apresiasi pada usaha saya ini dengan sedikit…
Review? x'D
