- Chanbaek Storyline by Song Jiseok -
Tittle : Stop the Rain
Rate : T+
Genre : Romance (ada saran?)
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Byun Chanyeol, Park Baekhyun (other cast nanti muncul sendiri)
Pairing : Chanbaek-Baekyeol
Disc : cast hanya milih Tuhan dan orang tuanya masing-masing. Tapi Chanyeol milik Baekhyun dan Baekhyun milik Chanyeol. Takdir tidak bisa diubah!/maksa/. Jalan cerita of course milik saya. Milik imajinasi saya dan milik jari-jari saya yang menyusunnya.
AU, OOC, Typo(s)
.
.
.
.
.
Hujan turun tanpa disangka pada dini hari seperti ini. Baekhyun yang memang tidak memiliki persiapan apa apa—seperti pakaian hangat dan berlapis—tidak bisa menolak ajakan Kris untuk mengantarnya pulang.
Teringat Chanyeol yang memang sengaja mengambil sift malam di tempat bekerjanya karena tidak mau mengganggu kuliahnya. Baekhyun meminta diantarkan ke supermarket itu saja untuk menemui Chanyeol.
Chanyeol tidak bekerja untuk memenuhi biaya kuliahnya sendiri, jika iya hal itu terdengar seperti kisah-kisah klasik manusia miskin yang mencoba tidak menerima bantuan dari orang lain. Entah alasan apa, baik Baekhyun maupun Kris pun tidak tahu.
Namun mungkin saja, dengan keadaan ekonomi yang semakin menyulitkan masyarakat, Chanyeol tidak mau membebani kedua orangtuanya untuk mengirimnya uang rutin setiap bulan.
Sepasang mata sipit itu memperhatikan sosok kekasihnya dibalik pintu kaca supermarket yang memang sepi dimalam hari. Siapa yang akan berkunjung membeli makanan selarut ini? Chanyeol terlihat menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangannya di atas meja kasir. Kau pasti lelah, Chanyeol. Baekhyun tiba-tiba saja merasa iba.
Baekhyun melemparkan senyum pasa pemuda yang baru saja mengantarnya, "kau boleh pulang."
Dengan patuh pun pemuda berdarah Cina-Kanada tersebut membawa mobilnya melaju pergi setelah berpamitan dan menyampirkan mantel coklatnya pada tubuh yang lebih mungil.
Hujan masih turun dengan derasnya setelah kepergian Kris. Baekhyun masih ragu haruskan Ia masuk saja atau tidak. Kebaikan Kris yang memberinya mantel—karena tau Baekhyun kedinginan—malah membuatnya khawatir pada sosok kekasihnya yang terlihat tertidur diantara lipatan tangannya didalam sana.
Baekhyun memang sempat berpikir, Chanyeol-nya tidak pernah berbaik hati memberinya pakaian hangat ketika Baekhyun kedinginan. Bahkan saat Baekhyun pulang dalam keadaan basah air hujan, Chanyeol malah mengamuk dan memberi Baekhyun berjuta ceramah yang tidak akan berganti topiknya.
Sebagai gantinya pun, Chanyeol akan memberikan pelukan hangatnya untuk Baekhyun. Bukannya tidak mau, Baekhyun senang ketika Chanyeol memeluknya. Kembali lagi pada perasaannya, Baekhyun masih ragu apakah dirinya ingin seterusnya berada dalam pelukan Chanyeol apa tidak.
Pelukan itu tidak membuatnya nyaman.
Dilihatnya lagi sosok kekasih tingginya yang masih belum terusik dari posisinya, si bodoh Chanyeol memang butuh waktu tidur lebih banyak.
.
.
"Dua cup ramen, satu kimchi kering dan dua susu soda, apa kau mendengarku?"
Chanyeol langsung terbangun dalam tidur singkatnya. Ia berpikir supermarket tidak akan kedatangan pengunjung, jadi dirinya memutuskan untuk tidur sebentar saja. Jika atasannya tahu, maka dipastikan Chanyeol tidak akan menerima gajinya dalam keadaan utuh bulan ini.
Setelah meminta maaf atas kelalai-annya, Chanyeol memberikan harga yang harus dibayar si pembeli itu, menerima uang lalu menyerahkan kembaliannya.
" Terimakasih, semoga malam mu menye—"
"Menyenangkan, huh?" potong si pembeli, senyum manisnnya berubah seiring nada ketus yang Ia keluarkan. Chanyeol sendiri masih membulatkan matanya, mengerjap beberapa kali dan membiarkan matanya masih membulat.
" Kau terlihat menyedihkan sekali, Yeol. Ayo keluar dan makan bersama!"
Chanyeol masih terus mengerjapkan matanya melihat punggung sempit kekasihnya berlari semangat keluar. Meletakkan barang yang baru saja Ia beli lalu tubuh mungilnya berlari masuk kembali. Menyeret yang lebih tinggi untuk keluar dan makan bersamanya.
.
Baekhyun mengaduk ramennya dengan uap panas yang masih mengepul, meniupnya lalu melahapnya dengan hati-hati karena masih panas. Setelah tiga kali memakannya dengan hati-hati, Baekhyun tidak peduli lagi dengan rasa panas dan lanjut memakannya dengan cepat. Lidahnya terasa terbakar setelahnya, dan satu teguk soda susu sudah cukup meredakannya.
Yang lebih tinggi masih memperhatikan sosok mungil dihadapannya tanpa mengindahkan ramen yang diperuntukkan olehnya. Ada yang aneh tertangkap oleh matanya pada sosok kekasihnya itu.
" Itu bukan mantelmu kurasa."
" Hm!" Baekhyun bergumam dengan semangat untuk menjawabnya.
Ternyata memang benar, keganjalannya terletak pada mantel coklat kebesaran yang dikenakan kekasihnya itu. Keningnya mengkerut.
" Baunya seperti parfum Kris."
" Tepat sekali!" Baekhyun berseru dengan senyum mengembangnya. Niatan kecilnya ingin sedikit bermain-main dengan Chanyeol ketika kekasihnya itu bersuara tentang kehadiran mantel coklat kebesaran ditubuhnya. Membuat Chanyeol sedikit cemburu tidak ada salahnya, pikirnya setelah melihat kerutan di dahi Chanyeol.
Apa Chanyeol akan marah padanya? Menyuruhnya menjauh dari Kris dan tak memperbolehkannya bertemu dengan lelaki lain selain dirinya. Memeluk tubuhnya posesif dan mengatakan kata-kata cheesy seperti 'kau hanya milikku, Byun Baekhyun. Kumohon jangan terpengaruh dengan pria lain. Aku hanya untukmu, hanya aku yang bisa melengkapimu'.
Baekhyun terkekeh sendiri membayangkannya, rasanya ingin muntah jika benar Chanyeol mengucapkannya. Namun tidak ada yang melarang 'kan jika dirinya sedikit berharap?
"Tidak apa-apa."
Suara berat itu menghentikan Baekhyun berfantasi lagi, kini giliran Baekhyun yang mengerutkan keningnya, "..apanya?"
"Kau dan Kris," Baekhyun membebaskan kerutan pada keningnya, matanya kini menatap Chanyeol tak percaya.
"M- maksudmu—"
"…dia baik, 'kan? Dia bisa tahu baby Baek-ku sedang kedinginan lalu meminjamkan mantel yang Ia pakai." Chanyeol meneguk susu soda dalam kaleng yang dibelikan Baekhyun tadi, dan Baekhyun masih tidak percaya dengan kekasihnya yang terlihat tenang di hadapannya ini.
"A- aku…maksudku, k- kau tidak marah?" Baekhyun bertanya dengan hati-hati namun yang didapat hanyalah suara berat Chanyeol yang tergelak.
Si bodoh itu tertawa?
"Kris itu temanku, sayang. Pada siapa seharusnya aku marah dan untuk apa aku marah?"
Mulut yang lebih muda ternganga begitu saja, namun tak berlangsung lama kembali tertutup. Baekhyun teringat akan dirinya yang ingin membicarakan tentang hubungannya dengan Chanyeol. Masalah ini terletak pada perasaannya sendiri yang kembali ragu dan kini Chanyeol harus ikut masuk dalam kerumitan perasaan Baekhyun sendiri.
Baekhyun memang ragu apakah dirinya mencintai Chanyeol apa tidak, namun dirinya juga tak suka pada apa yang baru saja kekasihnya itu ucapkan. Mungkin Chanyeol juga meragukan perasaannya, atau bahkan tak mencintai Baekhyun sama sekali. Lalu untuk apa lelaki itu membuang kata-katanya dengan kata 'sayang' yang terselip disetiap katanya.
Dan jika memang sudah tidak ada yang yakin pada perasaannya masing-masing, untuk apa mereka masih bertahan? Mengapa tidak berakhir saja, secepatnya…
.
.
.
.
Seperti tidak ada kata bosan untuk menyerang, ribuan –bahkan jutaan- rintik hujan bagai pasukan yang siap untuk tempur dari atas sana. Disertai dengan kilat yang berlomba untuk menyambar, dan angin yang ikut menari-nari. Sungguh sempurna tiga hari ini.
Baekhyun enggan menatap keluar jendela karena suara petir selalu saja merusak acara memandang titik-titik air yang bertengger pada jendela kaca. Juga terkadang membuatnya tersentak tanpa izin. Dan ya, ini sudah tiga hari.
Siang ini guru sastra-nya tidak hadir dalam kelas. Murid-murid dalam kelasnya pun sepertinya enggan untuk berbuat rusuh, karena suara hujan dan petir sebagai backsoundnya malah membuat sebagian besar dari mereka mengantuk.
Jika guru berhalangan hadir seperti ini, Baekhyun biasanya mengambil kesempatan untuk berkunjung ke kampus Chanyeol dan seperti biasa, berpura-pura dengan asalan yang sudah biasa. Tiba-tiba saja Ia kembali teringat dengan sosok bertubuh tinggi itu.
Berbagai kalimat 'jika saja' juga ikut berputar dalam kepalanya.
Jika saja tiga hari yang lalu Ia tidak pergi ke acara Sehun dan Luhan..
Jika saja tiga hari ini tidak turun hujan mengerikan..
Jika saja Ia tahu apa yang sedang Chanyeol lakukan..
Jika saja Chanyeol tidak menghilang..
Baekhyun mendesah frustasi. Chanyeol tidak ikut pulang saat terakhir mereka memakan ramen bersama. Chanyeol tidak juga pulang dua hari setelahnya. Chanyeol tidak mengikuti kelas—kata Kris. Dan Chanyeol tidak juga mengabarinya.
"Menunggu pesan dari Chanyeol, ya?" Kyungsoo menyikut lengan Baekhyun ketika melihat temannya itu berkali-kali melirik ponselnya, dan dihadiahi tatapan tak suka dari Baekhyun sendiri. Baekhyun memang tidak suka saat seseorang mengait-ngaitkan Chanyeol pada dirinya, 'kan?
"Oke oke, aku tidak akan bertanya lagi. Tapi mungkin ada baiknya kau mau bercerita, Baek." tangan si mata bulat itu menepuk bahu Baekhyun, meyakinkan temannya untuk berpikir.
Baekhyun menggulum senyumnya, meyakinkan temannya dengan kalimat " Tidak ada yang terjadi, semua baik-baik saja dan tidak ada yang perlu ku ceritakan." lalu kembali diam. Setidaknya, repurtasi julukan 'pasangan manis' untuk Baekhyun dan Chanyeol yang menjalin hubungan cukup lama dan 'terlihat' baik-baik saja tidak akan tereleminasi oleh pasangan lainnya jika Baekhyun membeberkan keraguan dalam perasaannya, tidak ada pengecualian untuk temannya sendiri.
Suara guntur kembali meledak setelah kilatan cahaya mendahuluinya bertapak di bumi, langit seakan marah. Beberapa siswi menjerit kaget dan menutup telinganya, beberapa orang yang sedang tertidur kembali terbangun, dan beberapa orang lagi terlihat biasa saja.
Baekhyun bergidik ngeri. Ingin pulang saat bel pulang akhirnya terdengar, ingin segera bersembunyi di balik selimut hangatnya dan guling dipelukannya. Namun hujan menghalangi jalannya. Baekhyun baru ingat Ia tidak membawa payung dalam tas nya. Payungnya dibiarkan tergeletak begitu saja di dalam apartemen jaga-jaga jika Chanyeol membutuhkannya.
"Ah, sial."
.
.
Setelah melewati berbagai rintangan menembus hujan dengan sedikit perjuangan, akhirnya Baekhyun terantar pada gulungan selimut yang menaungi dirinya dari dingin hujan yang masih berkejar-kejaran untuk turun dari langit.
Jika saja Ia tidak membenci dingin, mungkin membiarkan serbuan rintik hujan membasahinya itu terdengar lebih menyenangkan. Awalnya Baekhyun mau nekad saja hujan-hujanan di luar, tapi sekali lagi, Ia benci resiko akan kedinginan.
Baekhyun menghela nafas. Suara hujan diluar sana bagai penghantar tidur setelah bergumul dengan selimut dan gulingnya ini. Matanya yang sedari tadi fokus pada layar ponsel yang menyala kini mulai terasa berat. Perlahan tubuhnya ikut lelah seiring matanya yang akan terpejam. Dan..
"Sialan!"
..hampir benar-benar akan terlelap jika saja makhluk tinggi itu tidak datang tiba-tiba. Tanpa ketukan pintu—Baekhyun lupa kalau Chanyeol punya kunci cadangan—berlari begitu saja dan ikut meringkuk di bawah selimut di atas ranjang yang sama dengan dirinya.
"Dingin sekali, 'kan?"
Baekhyun mengangkat alisnya, tidak ada keinginan untuk menjawab ketika Chanyeol kembali bersuara, "begini caramu menyambutku yang sudah menghilang tiga hari? Padahal aku merindukanmu, sangat!"
Baekhyun kembali dihantu perasaan bimbang yang sialnya kenapa kedatangan makhluk idiot itu dalam waktu yang tidak bisa Ia terka. Sebelum Baekhyun merasakan kantuk, Ia sempat berargumentasi dengan batinnya sendiri. Sudah bulat tekadnya untuk mendiamkan Chanyeol saja ketika lelaki itu datang nantinya. Tapi bukan berarti hari ini adalah waktunya, dirinya sudah memulai siasat jika hal itu terjadi kalau Chanyeol kembali satu minggu setelahnya. Dan demi Tuhan, Baekhyun malah mengharapkan Chanyeol menghilang dan kembali satu minggu kemudian saja.
"Benarkah?" akhirnya Ia bersuara juga dan dihadiahi dengan anggukan bersemangat dari yang lebih tinggi.
"Bagaimana kau bisa merindukanku? Dan seberapa banyak kau merasakannya?" tanyanya sarkastik dan lawan bicaranya itu terlihat seperti berpikir.
"Entahlah, mungkin karna aku tidak melihatmu tiga hari ini dan aku tidak bisa mengukurnya." Jawabnya dan tersenyum di akhir katanya.
Baekhyun menatap onyx itu agar memudahkannya mendapat kebohongan lagi yang bisa saja Ia temukan ketika Chanyeol menjawabnya. Namun Ia tidak mendapat apa-apa disana. Baekhyun memang tidak pandai membaca kebenaran dalam mata seseorang, jadi seharusnya dia tidak melakukannya.
"Kalau kau merindukanku, kenapa kau tidak memelukku?" Baekhyun mengerucutkan bibirnya, sedikit memberi kesan lucu di mata Chanyeol –Baekhyun sedang menarik perhatian lelaki tinggi itu.
"Oh baby, come here ~" Chanyeol senantiasa merentangkan tangannya untuk menyambut Baekhyun yang akan jatuh ke pelukannya. Tapi dilihatnya Baekhyun yang mendelik dan mengumpat 'kau yang harusnya memelukku, bukan aku yang berguling kepelukanmu!' jika telinganya tidak salah mendengar. Jadi tangan panjangnya Ia bawa untuk menarik tubuh yang lebih pendek pada dekapan hangat.
Baekhyun menenggelamkan kepalanya pada dada bidang kekasihnya itu. Kantuknya hilang dan niatnya tidak ingin berbicara dengan Chanyeol pudar –itu akan dilakukannya jika Chanyeol benar-benar menghilang seminggu kemudiannya. Baekhyun tidak ingin bertanya pada kekasihnya itu kemana dirinya pergi selama tiga hari ini, tapi Baekhyun tidak ingin mengambil resiko mendengar jawaban seperti 'ada urusan' dan 'bukan urusanmu', jadi dirinya lebih memilih bungkam saja.
Nafas Chanyeol begitu hangat. Dadanya naik-turun dengan teratur membuat Baekhyun gemas sendiri. Baekhyun menggigit dada kekasihnya itu lalu dengan cepat menggesek-gesekkan hidungnya di tempat yang sudah Ia gigit tadi –ini termasuk dalam metode Baekhyun menarik perhatian Chanyeol-nya.
Chanyeol sempat protes dan ingin menjerit merasa dadanya digigit tiba-tiba oleh kekasih mungilnya itu, namun tidak jadi ketika Baekhyun berubah menjadi sangat menggemaskan seperti anak anjing yang sedang mencoba mengenali majikannya ini –dan dengan senang hati Chanyeol tertarik.
"Baek, ini geli ~ " Chanyeol berusaha sebisa mungkin menahan tawanya ketika Baekhyun melakukan hal yang sama berulang-ulang. Chanyeol baru menyadari jika kekasihnya ini bisa sebegitu menggemaskannya. Lucu, batin Chanyeol, dan dia tidak boleh melewatkan hal 'lucu' ini.
Chanyeol tidak bisa menahan diri lagi saat Baekhyun masuk kedalam kaosnya dan melakukan hal sama langsung pada kulit dadanya, terlebih pada saat Baekhyun tiba-tiba menghisap nipplenya disana membuatnya memekik entah dalam artian apa. Dengan gerakan refleks Chanyeol mengeluarkan kepala lelaki yang lebih pendek itu dari dalam kaosnya dan sontak menggigit telinganya.
"Kau ternyata nakal, ya." Chanyeol berbicara di sela kegiatannya menggigit telinga Baekhyun, membuat yang lebih pendek sedikit merinding dengan sensasi aneh saat nafas Chanyeol begitu hangat menyapa telinganya itu.
"A –ahh ~" Baekhyun menggigit bibirnya, tak membiarkan suara lain lolos setelah bibirnya dengan lancang mengeluarkan desahan. Salahkan Chanyeol yang kini sendang menjilati telinganya itu, jangan lupakan nafas hangat yang membuat tubuhnya sedikit menggeliat.
Ada satu hal lagi yang sebenarnya masih Baekhyun sembunyikan di balik beberapa keinginan terselubungnya. Selain mendapatkan perlakuan manis, berfoto bersama, dan berciuman, Baekhyun sangat menginginkan satu hal lainnya di masa-masa pubertas remajanya ini dengan Chanyeol. Seperti, hubungan seks.
Pernah suatu malam Baekhyun memimpikan Chanyeol yang tengah memegang andil kekuasaan tubuhnya. Menggerakkan pinggulnya di bawah sana, menumbuk satu titik yang dapat membuat Baekhyun mendesah frustasi di malam hari dan mendapati spermanya berceceran di pagi hari. Itu mimpi basah. Dan Baekhyun harus berakhir mengerikan dengan beronani di malam-malam dia menginginkan Chanyeol menyentuhnya.
Baekhyun mengenal Chanyeol adalah orang yang cukup mesum sebelum mereka menjalin hubungan. Bahkan pertemuan mereka karena Chanyeol yang tertangkap basah sedang nonton video porno, Baekhyun memperingatinya untuk menyimpan video tersebut dan melanjutkannya kembali dirumah. Beruntung Baekhyun yang menemukannya, bukan pengajar dan orang dewasa lainnya. Saat itu Baekhyun berada di tahun pertama dan Chanyeol di tahun ketiga.
Namun setelah menjalin hubungan hampir satu tahun dengan Chanyeol, Baekhyun belum pernah sekalipun merasa Chanyeol akan menyentuhnya. Baekhyun sedikit licik, menyuruh Chanyeol untuk tinggal di apartemennya saja dan tidur berdua dengannya. Namun selama itu pun juga Chanyeol tidak menyentuhnya lebih dari memeluk dan mencium kening. Itupun di tengah malam Chanyeol kabur untuk pergi bekerja.
Baekhyun memang cukup tersiksa di masa-masa pubertasnya ini. Mengharapkan Chanyeol menyetubuhinya malah membuatnya hampir gila. Jangankan bercinta, bermesraan saja sangat jarang.
Jadi disaat ada kesempatan seperti ini, Baekhyun malah merasa takut sendiri. Chanyeol yang malah menggodanya dengan lidah yang menyapu bagian sensitif telinganya itu. Baekhyun belum siap untuk hari ini, tapi kesempatan sulit datang untuk kedua kalinya. Jadi, Baekhyun mempersipkan diri. Tapi—
"Maaf."
—selalu berakhir dengan hal yang sama.
Chanyeol tak lagi menggigit dan menjilat, malah membersihkan jejak saliva di telinga Baekhyun dengan tangannya sendiri.
"Berhenti untuk menjadi menggemaskan, oke? Aku tidak tahan."
Baekhyun menahan nafasnya sesaat, lalu menghembuskannya dengan berat. Untuk apa Chanyeol meminta maaf jika hal tadi malah sesuatu yang Ia inginkan selama ini, lebih bagus jika berlanjut.
"Setidaknya untuk saat ini." Chanyeol bergumam pelan, tapi tak menutupi kemungkinan terdengar oleh Baekhyun yang masih berada di pelukannya.
Baekhyun sempat memikirkan apa maksud perkataan Chanyeol yang terlihat ditujukan pada dirinya sendiri, bukan untuk Baekhyun. Namun berargumen dengan dirinya sendiri malah membuatnya lelah. Kantuknya datang lagi seiring pelukan Chanyeol yang kian menghangat. Melupakan rasa kecewanya tadi dan membiarkan matanya terpejam di pelukan si tinggi.
Dan Baekhyun melupakan hal terpenting.
Perasaannya pada Chanyeol belum berubah meskipun pelukan kekasihnya itu semakin menghangat dan membuat nyaman untuk terlelap.
Mungkin ini hanya obsesi aneh di masa remajanya untuk memiliki kekasih. Tapi jauh di lubuk hatinya, Baekhyun tidak ingin terburu-buru mengakhiri semuanya, walau batinnya berteriak tidak bisa bertahan lebih lama lagi, tapi Baekhyun menyukai perasaan meragukannya.
Setidaknya, Ia beruntung memiliki Chanyeol.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
a/n : Halo sayang semua ~ hoho
sebenernya chapter ini udah beres dari jauh jauh hari, tapi saya terlalu menyayangkan waktu liburan ini ampe lupa buat update. Sebenernya sih susah update soalnya semua provider yang saya pake itu terblokir buat ffn -_,-
sebenernya juga saya tidak mau update ff ini entah kenapa saya merasa sangat teramat gak yakin sama setiap fanfic yang saya buat -_- tapi gapapalah, sekali kali berbagi, walau tidak banyak yang meminati :'v
oh ya, Happy New Year untuk kita semua ^O^ be better than before! semoga ChanBaek lebih sering mengumbar kemesraannya di publik amiinn ~
terimakasih untuk kalian yang dengan baik hati meninggalkan review, foll dan fav nya ^^ walau kalian tau sendiri karya saya ini gak bagus bagus amat (tapi tetep ditulis-_-)
Boleh minta reviewnya lagi? :D janji deh fast update kalo bacanya gak ngumpet ngumpet lagi :B
.
mau bales review dulu bentar yaa ~
baekbaekaje : Hayooo Chanyeol sama siapaa? hoho sebenernya gak mau ngasih tau jadi di chapter ini pun gak di bahas soal itu xD
haru : hehe makasih :B iya semoga aja, kalo chanyeol duain baek nanti saya yang turun tangan langsung /cielah. ini udah dilanjut hoho
Ohmypcy : Chanyeol selingkuh sama jiseok hoho /digeplak baek/ penasaran ya? :( sama aku juga :( ini udah update :)
srhksr : ini udah update jadi jangan penasaran lagi ya /eluselus/? duh maaf tentang hubungan krisbaek gak aku bahas di chap ini, niatnya mau di chap terakhir aja xD hehe
buat yang punya akun udah di bales di akunnya masing masing hehe. sekali lagi makasih yg udah mau buang-buang waktu buat baca, butuh banget saran dan kritiknya buat memperbaiki tulisan :3 jadi..
Wanna review? x'V
