Damn! I Love That Alien

Disclaimer: HUNHAN is not Mine, but the story is mine

Cast: Sehun x Luhan, and other cast

Rate: T – M

Length: Chaptered

Warning: YAOI aka Shounen Ai aka BL, NC (nyusul~)

Jadi, buat yang gak suka YAOI. Tombol close ada dipojok kanan atas [X]

Story By: NaegaFanfan

Happy Reading ^o^

.

.

Chapter 1

.

Xi 25 tahun ini hanyalah pemuda biasa yang hidupnya juga biasa. Hidup sebagai lulusan fakultas pendidikan dan sekarang bekerja sebagai tenaga pengajar di SM Boys High School. Luhan—biasa dipanggil seperti itu. Adalah guru mata pelajaran sikap. Tidak sulit bagi Luhan mengajar mata pelajaran tersebut. Luhan hanya perlu mengajari semua murid laki-lakinya berbagai tatakrama dan sikap-sikap yang tepat dalam menghadapi masyarakat sosial. Bukan apa-apa, SM Boys High School memang didirikan untuk mendidik putra para kaum elit seperti putra pengusaha sampai bangsawan agar menjadi penerus keluarga mereka yang berkualitas.

Pagi ini Luhan berangkat mengajar ke sekolah seperti biasa. Karena jarak apartemennya lumayan dekat dengan sekolah tempatnya mengajar, Luhan hanya perlu mengendarai sepeda kumbangnya. Begitu luhan sampai di area sekolah, murid-murid yang tengah berjalan banyak yang menyapanya. Tak jarang beberapa dari mereka malah menggoda. Yaa… bisa dimaklumi memang. Untuk ukuran lelaki, Luhan memang terlampau cantik. Jadi tak heran jika murid lelaki di sekolah ini banyak yang 'memuja' kecantikan Luhan. Salahkan mengapa sekolah ini tak ada perempuan kecuali Ahjumma kantin.

Luhan memarkirkan sepeda kumbangnya di tempat parkir sekolah yang ada di dekat area olahraga. Luhan lalu memasangkan gembok pada roda sepedanya agar tidak hilang. Setelah Luhan memasangkan gemboknya, terdengar suara berat nan serak menyapanya dari arah lapangan olahraga.

"Selamat Pagi Luhan-ssi!" sapa orang itu sambil melambaikan tangannya dan berjalan menghampiri Luhan.

"Oh, selamat pagi juga Wu sonsaengnim." Balas Luhan sambil tersenyum kaku ke arah Wu sonsaengnim.

"Pagi yang cerah bukan, Luhan-ssi?" Wu sonsaengnim kini tengah berada tepat di hadapan Luhan yang hanya setinggi lehernya.

Luhan mendekap tas kerjanya di dada, entahlah hanya saja Luhan merasa sedikit canggung berada didekat Kris saat ia tahu dari guru-guru lain kalau Kris adalah seorang Gay.

"Hmm… ini sangat cerah Wu sonsaengnim." Balas Luhan seadanya sambil berusaha menutupi kecanggungannya.

"eh? Bukankah sudah kubilang untuk memanggilku Kris saja? Kau kan lebih tua beberapa bulan dariku." Kris kali ini tersenyum sambil menatap Luhan yang tengah salah tingkah akibat efek canggung.

"Eh..ohh baiklah Wu sons- eh, maksudku Kris. Kalau begitu saya ke kelas dulu. Sampai jumpa." Luhan mati-matian berusaha menjauh dari Kris karena sebagai laki-laki ia juga sedikit merinding kalau berada di dekat seorang gay,kan? Kini, Luhan tengah berjalan cepat diiringi dengan tatapan Kris yang kebingungan melihat tingkah Luhan.

.

"Baiklah murid-murid, sekarang kita akan belajar cara menyiapkan sajian makanan untuk dihidangkan pada tamu terhormat ketika tidak ada asistendapur." Luhan kini tengah berdiri diantara 20 murid lelaki yang kini tengah mengenakan celemek. Di kelas khusus memasak ini, Luhan akan memberikan pelajaran memasak dengan waktu seefektif mungkin untuk membuat hidangan jika para muridnya nanti mendapat tamu penting yang harus diberi jamuan, ketika tidak ada asisten dapur.

"Sekarang, kita mulai dengan menyiapkan bahan-ba-… Semuanya tolong perhatikan saya!" Baru saja luhan akan menerangkan, siswa berkulit Tan yang pesek malah sedang bermain saling todong pisau dapur dengan siswa tinggi bertampang bodoh dan bertelinga lebar.

"Jongin, Chanyeol! Bisa kalian perhatikan aku?"

"Hah? Sonsaengnim minta diperhatikan? Oke, Jongin siap memperhatikan apa yang sonsaengnim butuh… termasuk kebutuhan ituu- Huahahaha" Jongin dengan pikiran yadongnya berusaha menggoda Luhan dan diiringi tawa murid lainnya yang langsung 'connect' masalah begituan.

Dengan susah payah Luhan berusaha menahan amarahnya. Walaupun sekarang telinganya sudah merah akibat menahan ledakan emosinya.

"Maksud saya, perhatikan penjelasan materi saya. Saya rasa ini akan sangat bermanfaat bagi kalian suatu saat nanti."

Lalu Jongin ditarik duduk oleh pemuda bermata bulat di sebelahnya, sedang Chanyeol juga dengan sadarnya langsung ikut duduk di bangkunya kembali. Setelah merasa situasi kembali kondusif, Luhan melanjutkan pengajarannya.

.

'Kriiiingg'

Akhirnya mata pelajaran memasak telah selasai. Siswa-siwa Luhan pun berhamburan keluar kelas meninggalkan Luhan sendirian di kelas memasak yang masih harus membereskan barang-barangnya. Setelah semuanya selesai, Luhan menjinjing tas dan bawaan lainnya, lalu berjalan ke kantor guru.

Ketika Luhan sampai di kantor guru, tampak Yixing sonsaengnim dan Minseok sonsaengnim tengah mengobrol. Ketika mereka berdua menyadari kedatangan Luhan, mereka langsung menyapanya.

"Eh, itu Luhan-ssi. Luhan-ssi, kemarilah!"Sahut Yixing sambil mengibaskan tangannya.

Luhan tersenyum sambil mengangguk, ia menyimpan semua barangnya di meja guru, lalu menghampiri Yixing dan Minseok.

"AnnyeongYixing-ssi, Minseok-ssi!"

"Annyeong, duduklah Luhan-ssi!" Sahut Minseok sonsaengnim sambil menepuk bangku kosong di sebelahnya.

"Jadi, apa kau punya berita baru?" tanya Yixing sonsaengnim pada Luhan sambil menyerahkan secangkir kopi untuk Luhan.

"Kamsahamnida Yixing-ssi. Hmm… berita baru? Sepertinya tidak ada."

"Eh. Aku punya berita baru." timpal Minseok cepat.

Luhan danYixing menoleh bersamaan kearah Minseok untuk menyimak berita baru darinya.

"Aku dengar Wu sonsaengnim menaruh hati pada salah satu guru di sini loh"

Luhan dan Yixing membelalakan mata tak percaya. Jadi benar jika Wu sonsaengnim adalah seorang gay ?

"Kau bercanda? Dia jatuh hati pada siapa?" tanya Yixing serius.

"Entahlah…aku belum dengar jelasnya. Hmm, apakah itu aku? Haha" jawab Minseok sonsaengnim yang kini tengah larut dalam khayalannya.

"YA! Kalau memang benar dia jatuh hati pada guru di sini, itu pasti aku. Zhang Yixing!" timpal Yixing tak mau kalah.

Sedang Luhan hanya tertawa melihat tingkah keduanya. Yah~ jika boleh jujur, di sekolah ini Gay memang bukan hal yang tabu. Tapi bagi Luhan, ini sangat tabu! Luhan baru 2 tahun mengajar di SM Boys High School. Tentu butuh penyesuaian untuk mengubah pandangan seseorang bukan? Belum lagi Luhan memang bukan Gay, walaupun dia sendiri tidak ingat kapan terakhir kali ia menyukaiwanita. ( dan takdir dari author berkata lain kok,Lu~)

Tak lama berselang, Kim sonsaengnim memasuki ruang guru dan mengantarkan surat dari kepala sekolah untuk Minseok sonsaengnim.

"surat apa itu Minseok-ssi?" Tanya Luhan.

"surat apa lagi? Ini pasti surat perpindahan murid baru. Aku kan bertugas mengurusi kepindahan murid baru."Jawab Minseok sonsaengnim seraya membuka isi amplop coklat itu.

Sesaat, Minseok tampak membaca kelengkapan isi surat tersebut, namun selang beberapa detik kemudian Minseok mengerutkan dahinya. Luhan danYixing juga ikut bingung dibuatnya.

"Apa-apaan ini?" Tanya Minseok bermonolog.

"Ada apa Minseok-ssi?" Tanya Yixing.

"Formulirnya kosong, tidak ada yang diisi." Jawab Minseok sambil menunjukan formulir kosong itu pada Luhan danYixing.

Keduanya juga ikut mengerutkan kening mereka. Namun Luhan melihat ada satu kolom yang terisi di sana.

"Tunggu dulu Minseok-ssi, sepertinya kolom nama lengkap ada isinya".

Minseok lantas membalikan kertas formulir tersebut dan melihat kekolom nama lengkap. Di sana tertera nama lengkap murid baru itu 'Oh Sehun'.

"Oh Sehun…" Ucap Minseok sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

"Oh Sehun? Itu namanya?" Tanya Yixing penasaran. Dan Minseok mengangguk.

"Apa ada fotonya?" Tanya Luhan yang kini juga penasaran akan wajah murid baru tersebut.

Minseok membuka-buka lembar berikutnya untuk mencari fotonya. Dan ada!

"Omoo… anak ini tampan sekali!" Sahut Minseok dengan riang. Tentu saja Yixing langsung merebut kertas itu dari tangan Minseok.

"OH MY GAY! Anak ini tampan sekali! Tapi kenapa formulirnya kosong yaa?" Yixing bingung, namun sesaat setelahnya malah berfanboy ria menatap foto Oh Sehun itu.

"Aku juga ingin melihatnya dong—" pinta Luhan, namun ternyata takdir berkehendak bel pelajaran selanjutnya berbunyi dan Luhan harus kembali mengajar. Dan dengan terpaksa Luhan beranjak dari kursinya meninggalkan Yixing dan Minseok yang sedang berfanboy ria.

.

Luhan berjalan menuju parkiran sepeda. Hari ini ia pulang sore sekali, matahari sudah hampir sepenuhnya tenggelam di ufuk barat sana. Harusnya ia sudah di apartemennya sejak 2 jam lalu, tapi beberapa murid minta pelajaran tambahan. Sebagai guru, tidak mungkin menolak kan? Akhirnya Luhan membuka gembok di sepedanya. Hey tunggu! Kunci gemboknya mana? Luhan sibuk merogoh saku baju dan celananya. Di tasnya pun tak ada. Luhan mulai panik, apa mungkin ia tinggalkan kunci itu di mejanya? Luhan berusaha tenang sambil terus mengingat-ngingat. AH! benar, kuncinya tadi ia simpan di dekat komputernya. Luhan pun segera berlari kembali menuju ruang guru. Sebelum hari benar-benar gelap, dan ia ketakutan untuk kembali ke ruang guru.

Ketika ia sudah semakin dekat dengan ruang guru, ia mulai berjalan sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Dari jendela ia melihat ke dalam rungan guru. Ruangannya mulai gelap, tapi setidaknya masih ada sinar oranye matahari tenggelam dari jendela. Luhan pun berjalan menuju pintu, ketika ia akan membukanya, Luhan malah mendengar suara yang… umm janggal?

"Ohh ahhh… Lu~ AHhh Luhh… Ohh ini enak Lu~~" racau suara serak dan berat itu.

Luhan yang bingung menempelkan telinganya untuk mendengar suara itu lebih jelas. Luhan berfikir, apa ini suara hantu? Atau suara orang? Kalau ini memang orang, apa dia sedang kesakitan?

"Ahhh Lu… sempit sekali, Ohhh.. aku akan keluar Lu~"

Luhan tiba-tiba sadar kalau ini adalah suara Wu sonsaengnim. Luhan semakin panik ketika ia pikir Wu sonsaengnim tengah kesakitan di dalam sana. Akhirnya ia memutuskan untuk mengetuk pintu itu. (Luhan ceritanya polos~)

"Wu sonsaengnim! Apa anda ada di dalam sana?"

Kris yang mendengar suara seseorang di luar sana langsung menghentikan kegiatan solo-nya yang hampir sampai di surga. 'Sial!' umpat Kris dalam hati.

Kris berusaha menormalkan suaranya dan menjawab,

"Ya, ini aku. Siapa di luar sana?"

Luhan menghela nafas lega, ternyata di dalam memang Wu sonsaengnim –setidaknya bukan hantu. (Yaa bukan hantu, tapi iblis yang siap menerkammu Lu~)

"Ini Luhan, bisa tolong anda buka pintunya? Kunci saya tertinggal di dalam"

Mendengar itu Kris sangat kaget, namun detik kemudian ia malah menyeringai seperti iblis lapar. Kris lalu menutup celananya yang sangat sempit karena juniornya yang masih menegang. Ia lalu berjalan dan membuka pintu. Begitu ia membuka pintu, Kris berusaha memasang ekspresi se normal mungkin walau dalam hati ia tidak bisa lagi menahan gairahnya akibat melihat objek yang beberapa saat lalu ia khayalkan menjadi nyata.

Luhan yang polos hanya melihat Kris dengan ekspresi khawatir.

"Wu sonsaengnim, tadi saya dengar suara anda seperti sedang kesakitan. Apa anda baik-baik saja?"

"Hmm Yeah begitulah Lu." Jawab Kris sambil menyeringai. Namun Luhan tak menyadarinya.

Luhan mengangguk lega, ia pun masuk ke ruangan dan berjalan menuju mejanya. Baru saja ia mengambil kuncinya, ia merasakan tangan yang hangat sedang melingkari pinggang rampingnya. Luhan juga merasakan sesuatu yang keras mengganjal di belakang pantatnya. Luhan menoleh ke belakang dan mendapati Kris sedang menyesapi aroma rambutnya. Luhan yang panik langsung menyikut perut Kris dengan keras.

"Wu sonsaengnim! Apa yang anda lakukan?!"

"Wow… sikutmu kuat juga sayang~" Kris malah menggoda sambil mengusap-usap perutnya yang sakit.

"saya tanya, apa yang anda lakukan?!" Tanya Luhan yang semakin panik ketika Kris kembali berjalan mendekatinya.

"Aku sedang berusaha mengenali setiap inchi tubuhmu sayang…" Jawab Kris yang sekarang tengah menelusuri wajah cantik Luhan dengan jari-jarinya.

Luhan yakin, apapun yang Kris sedang lakukan padanya saat ini adalah hal yang akan membahayakan dirinya. Walaupun Luhan tak mengerti apa-apa tentang 'itu'. Tapi Luhan yakin Kris sedang berusaha merayunya untuk melakukan 'itu'.

Tanpa pikir panjang, Luhan melemparkan kunci yang ada di tangannya di wajah Kris. Kunci itu kecil memang, tapi jika kunci itu tepat mengenai mata, cukup membuat sakit kan? Kris mengerang kesakitan sambil memegangi mata kirinya. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Luhan. Sebagai mantan atlit sepak bola, Luhan berlari dengan sangat cepat. Sempat beberapa kali terjatuh, namun Luhan tetap melanjutkan pelariannya. Bagaimanapun, tubuh dan keperjakaannya adalah hal nomor satu yang harus diselamatkan. Ia berlari meninggalkan sepedanya, yang ia tuju saat ini adalah apartemennya. Atau dimanapun itu asal tidak ada Wu, si sonsaengnim mesum itu.

Luhan akhirnya mencapai batas lelahnya. Ia bersembunyi di gang kecil sambil sesekali mengintip, takut-takut Wu sonsaengnim mengejarnya. Ia pun menghela nafas lega ketika ia tak menemukan sosok yang ia takuti itu.

"Haahh untung dia tak mengejarku. Aku harus cepat ke Apartemen, hari sudah gelap"

Baru saja Luhan berjalan keluar dari gang, Ia mendengar suara benda yang terjatuh sangat keras tepat di belakangnya. Luhan seketika menolehkan kepalanya untuk melihat objek yang jatuh di belakangnya. Betapa kagetnya Luhan ketika mendapati seorang laki-laki tengah terbaring tak berdaya dengan pakaian yang sobek hampir di semua bagian. Sobekan-sobekan itu dengan jelas mengkespos tubuhnya yang berotot sekaligus mengekspos luka-luka segar di tubuhnya. Luhan yang panik langsung menghampiri lelaki itu.

"Ya Ampun! Kau baik-baik saja?" tanya Luhan dengan panik sambil mengguncang-guncang tubuh lelaki yang tak bergerak itu.

Tak ada jawaban yang terlontar dari lelaki itu. Dengan panik Luhan berteriak meminta pertolongan pada siapaun yang lewat. Tapi sialnya tak ada seorang pun yang lewat. Luhan yang khawatir akhirnya berinisiatif membawa lelaki itu ke apartemennya.

Baru saja Luhan akan merangkul bahu lelaki itu, lelaki itu mengeluarkan suara berat yang sangat lemah, namun masih terdengar oleh Luhan.

"Aku… H-harus kkembali."

Luhan melihat kearah wajah lelaki itu. Luhan yang tak mengerti ucapannya hanya berbicara,

"Bertahanlah… aku akan membawamu ke apartemenku."

"Planetku…Exo..planet" lelaki itu berbicara lagi, dan akhirnya ia kembali pingsan. Atau ia mati? Entahlah, yang pasti sekarang ini Luhan semakin panik.

.

.

TBC or End?

.

.

A/N:

Annyeong Yeorobun! Naega Fanfan imnidaa ^^

Hallo… berhubung saya author baru yang langsung debut dengan rate Mesyum, kritik dan saran sangat saya butuhkan (terutama saran buat adegan *tuuuttt*). Jadi, pada review dong pliiiss *wink*

Oh ya,kalo respon kalian bagus buat FF ini, nanti saya lanjut. Kalo responnya kurang bagus, yaudah… *nangis meluk Luhan* /digampar sehun/

Thanks for reading anyway… Review pliis? ^^