Damn! I Love That Alien
Disclaimer: HUNHAN is not Mine, but the story is mine
Cast: Sehun x Luhan, and other cast
Rate: T – M
Length: Chaptered
Warning: Typos, YAOI aka Shounen Ai aka BL, NC (nyusul~)
Jadi, buat yang gak suka YAOI. Tombol close ada dipojok kanan atas [X]
Story By: NaegaFanfan
The Biggest Thanks For:
Happy Reading ^o^
.
.
"Aku… H-harus kkembali."
Luhan melihat kearah wajah lelaki itu. Luhan yang tak mengerti ucapannya hanya berbicara,
"Bertahanlah… aku akan membawamu ke apartemenku."
"Planetku…Exo..planet" lelaki itu berbicara lagi, dan akhirnya ia kembali pingsan. Atau ia mati? Entahlah, yang pasti sekarang ini Luhan semakin panik.
Chapter 2
.
Dengan perlahan Luhan membaringkan lelaki yang sedari tadi ia bopong itu di sofa apartemennya. Setelahnya Luhan memegang pinggangnya yang kesakitan. Kalian tahu, membopong makhluk tinggi dan membawanya berjalan sejauh kurang lebih 300 meter ditambah 4 meter sampai tepat di sofa adalah hal yang sangat melelahkan. Luhan memutar tubuhnya ke kananlalu ke kiri untuk membuat pinggangnya terasa nyaman. Luhan kini berkacak pinggang sambil memandangi makhluk yang tak jelas apakah sedang pingsan atau sudah mati.
"Apa orang ini baik-baik saja ya?" Luhan bertanya pada diri sendiri.
Lalu sedetik setelahnya Luhan berjongkok di sebelah sofa tersebut dan menempelkan jari telunjuknya dileher lelaki itu untuk sekedar mengecek denyut nadinya.
Baru saja ujung jarinya menyentuh kulit leher lelaki itu, Luhan segera menariknya.
"Ya ampun! Kenapa dingin sekali?"
Luhan panik. Amat panik. Luhan fikir, apakah lelaki ini sudah jadi mayat? Rasanya ketika ia membopongnya tadi tidak sedingin ini. Tapi hey! Luhan kan belum mengecek denyut nadinya. Luhan harap denyut nadi lelaki ini mengatakan hal yang baik. Dengan segera Luhan menempelkan jarinya pada leher dingin lelaki itu. Luhan berkonsentrasi merasakan denyut nadi yang sangat ingin ia rasakan denyutnya.
1 detik… 2 detik… 3 detik…
Sial! Luhan tak merasakan denyut nadi dari leher lelaki itu. Oh! Demi apapun ini sangat sangat buruk! Ini tidak bagus. Luhan sangat berharap lelaki ini tidak mati. Bukan apa-apa, Luhan hanya tidak mau mendapat tuduhan sebagai seorang pembunuh. Ingatlah, Luhan disini pihak yang dirugikan. Sudah ia menemukan makhluk tidak jelas, harus membopongnya sampai apartement, dan jika orang ini mati, haruskan Luhan juga yang bertanggung jawab? Big NO!
"Hahh… bagaimana ini? Apa orang ini benar-benar sudah mati?" ratap Luhan yang sekarang sudah tertunduklemas sambil memegang dadanya.
Dada…Dada- detak jantung- hidup
YA! Luhan belum mencoba mendengar detak jantungnya. Dengan cepat Luhan memposisikan wajahnya miring. Dengan perlahan Luhan menempelkan telinga kanannya di dada bidang lelaki itu. Luhan menutup matanya dan mencoba mencari detak kehidupan dari dalam sana.
Deg…deg…deg…
Itu dia. Luhan dapat merasakannya. Walaupun detak jantungnya terdengar lemah –sangat lemah. Tapi Luhan sangat yakin bahwa lelaki ini sepenuhnya masih hidup. Tanpa sadar Luhan tersenyum dan menghela nafas lega. Luhan pun berniat mengangkat kepalanya dari dada bidang lelaki itu, namun… 'grep!'
Dalam hitungan sepersekian detik kepalanya kembali menempel di dada bidang lelaki itu. Dan Luhan dapat merasakan ada dua belah tangan dingin yang tengah menahan kepalanya menempel di dada itu. Ya, lelaki itu terlihat seperti memeluk bola di dalam dekapannya.
"Uhh… kepalaku~" Luhan kini berusaha menolak tubuhnya dari lelaki itu berharap kepalanya bisa lolos.
Tanpa diduga Lelaki itu bangun dan duduk di sofa sambil masih terus memegangi kepala Luhan. Lelaki itu seperti tak mengindahkan pemberontakan Luhan.
"Uhhh maaf~ bisakah kau lepaskan kepalaku? Kau ini kenapa?" pinta Luhan sambil berusaha melepaskan tangan lelaki itu dari kepalanya.
Lelaki itu tak menjawab, ia menengadahkan wajah Luhan kearahnya dan ia menatap wajah Luhan dengan tatapan menyelidik. Tentu saja Luhan merasa kebingungan dan risih disaat yang sama. Setelah beberapa saat menatap wajah Luhan, lelaki itu memiringkan wajahnya seakan bingung. Luhan pun dibuat bingung dengan ekspresi bingung lelaki itu.
"apa yang kau lihat?" tanya Luhan yang kini berhenti memberontak.
"kau aneh." Jawab lelaki itu tanpa melepaskan pandangan dan tangannya dari wajah Luhan .
Hey! Akhirnya lelaki itu menjawab pertanyaan Luhan, yah meskipun tidak nyambung dengan pertanyaan yang Luhan lontarkan.
"Aneh? Apa yang aneh?" Luhan sekarang mengernyitkan dahinya. Sungguh, demi apapun. Lelaki inilah yang aneh pikir Luhan.
Lelaki itu akhirnya melepaskan tangannya dari wajah Luhan. Tapi matanya tetap memandangi Luhan. Bukan hanya wajahnya, sekarang matanya tampak menyelidiki Luhan dari ujung rambut sampai bawahnya. Tentu saja Luhan hanya bisa menunduk risih.
Lelaki itu lalu beranjak dari sofa dan berjalan menuju jendela. Luhan pun ikut berdiri.
"Hey! Kau mau apa?" tanya Luhan yang sedikit khawatir mengingat lelaki itu kini tengah berdiri di ambang jendelanya yang terbuka.
"Kembali ke rumahku." Jawab lelaki itu sambil membentangkan tangannya seolah akan menjatuhkan diri.
"Hmm, kau tidak sedang ingin bunuh diri kan?" Tanya Luhan takut-takut lelaki itu tiba-tiba melompat.
Lelaki itu menggeleng. Luhan mengehela nafas lega. Lelaki itu pun menurunkan kedua tangannya dan berbalik berjalan kearah Luhan. Luhan menatap lelaki yang tengah berjalan kearahnya dengan risih. Luhan akui, cara lelaki itu berjalan kearahnya dengan pakaian yang sobek-sobek sungguh… Ah! Apa yang Luhan pikirkan? Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menghapus pikiran aneh yang baru kali ini ia rasakan, dan ia tak mengerti apa-apa.
"Kediamanmu nyaman juga." Sahut lelaki itu yang entah sejak kapan berada tepat di hadapan Luhan.
"Eh? Apa maksudmu?"
"Ngomong-ngomong, terimakasih sudah menolongku. Ternyata orang di sini baik-baik." Ujar lelaki itu yang mengacuhkan pertanyaan bingung Luhan.
Luhan mendengus tadi tak ada satupun pertanyaannya yang dijawab benar oleh lelaki ini.
"ya, sama-sama. Jadi kau ini siapa?" Tanya Luhan yang yakin pertanyaannya kali ini akan dijawab dengan tepat.
"Kau sendiri siapa? Kenapa menolongku?" Lelaki itu balik bertanya.
"Aku Luhan. Xi Luhan. Tentu saja aku menolongmu, kau pikir manusia mana yang tega melihat manusia lainnya tengah terbaring tak berdaya di jalanan?" Jawab Luhan agak ketus. Oh ayolah, lelaki itu malah balik bertanya.
Lelaki itu mengangguk-ngangguk sambil memegangi dagunya seperti sedang berfikir.
"Jadi manusia itu begitu ya?"
Luhan hanya mengangguk.
"Jadi kau ini sebenarnya siapa? Siapa na-ma-mu?" Tanya Luhan yang memberi penekanan pada petanyaan yang benar-benar ia inginkan untuk terjawab.
Lelaki itu malah berjalan kearah pintu apartemen Luhan,lalu membukanya.
"Kau akan tahu namaku ketika kita bertemu lagi nanti. Sampai jumpa." Dan lelaki itu keluar dari apartemen meninggalkan Luhan yang tengah memasang wajah bingung.
.
EXO Kingdom, Exo Planet
"YA! Bagaimana ini?! Kenapa kalian bisa salah menjatuhkannya pada koordinat yang salah?" Teriak seorang pimpinan laboratorium pada anak-anak buahnya.
"M-maaf Professor. Saat kami mengirim subjek ke bumi, terjadi kesalahan pada komputer server. Kami butuh waktu 2 menit untuk memperbaikinya, namun salah satu anggota kami dengan teledor malah mengirimkan subjek tanpa melihat kesalahan koordinatnya."Jawab salah seorang dari 30 yang memakai jas lab.
"Argh! sekarang apa yang harus aku katakan pada King Young Min tentang kecelakaan pada pengiriman puteranya ke bumi?" Professor itu tengah terduduk sambil memijat dahinya frustasi.
Sementara itu pintu laboratorium terbuka dan menampakkan King Young Min yang tengah berjalan memasuki laboratorium dengan langkah angkuhnya. Sontak professor itu langsung berdiri bersamaan dengan peneliti lainnya yang tengah tegang setengah mati.
"Ah K-king Young Min. Apak-kah ada masalah?" Tanya Professor canggung.
"Katakan saja apakah puteraku sampai di bumi dengan selamat?" tanya King Young Min dengan nada menusuk.
"Oh…itu. Karena ada sedikit masalah, jadi-"
"temukan dia dan pastikan misinya berhasil." Sahut Kim Young Min yang seolah tak mau tahu dengan keadaan puteranya.
"Tapi ada s-satu masalah King…"
King Young Min tanpa menjawab, mata yang penuh keangkuhan langsung menatap professor itu meminta jawaban.
"Alat pelacak dalam tubuh putera anda sepertinya rusak ketika ia mendarat di bumi. Butuh waktu hingga kami dapat melacaknya kembali." terang professor itu sambil mengusap keringatdingin di dahinya.
"Terserahlah. Aku tak mau tahu. Pastikan misinya berhasil dan ia kembali secepatnya." Sahut King Young Min sambil berlalu meninggalkan laboratorium dengan amarah yang membara dalam tubuhnya.
Sementara itu professor langsung memerintah kepada seluruh anak buahnya untuk segera melacak keberadaan putera King Young Min, si subjek nomor 94.
.
'bzzzz…bzzzz…'
"hallo…" jawab Luhan yang masih setengah tertidur saat mengangkat handphone-nya.
Sementara itu seseorang di seberang sana tengah mengomel,
"Ya! Luhan-ssi! Kau dimana? Apa kau tidak akan mengajar ?"
Mata Luhan membulat sempurna. Ia melihat jam di nakas sebelah kasurnya. Ya ampun! Bel di SM Boys High School pasti sudah berdering sejak 10 menit lalu. Luhan lalu menutup handphone-nya dan berlari ke kamar mandi. Tidak ada berendam pagi ini, cukup shower, mengenakan pakaian dan segera berangkat ke sekolah.
Hanya dalam 15 menit, Luhan benar-benar sudah siap. Ia menggigit sepotong roti sambil mengenakan sepatunya. Lalu ia berlari keluar apartement menuju parkiran sepeda. Tapi sialan! Luhan baru ingat kalau ia meninggalakan sepedanya di sekolah gara-gara Wu si sonsaengnim mesum itu. Akhirnya Luhan terpaksa berlari.
Baiklah, akhirnya Luhan sampai di sekolah tempatnya mengajar. Ia tak masuk ke ruang guru, ia langsung menuju kelas tempatnya mengajar. Luhan sadar ia sudah terlambat, sangat terlambat. Tapi siswa-siswanya adalah prioritas pertama.
'tok…tok…tok'
Luhan mengintip dari kaca di pintu sambil mengetok. Ia melihat Lay sonsaengnim tengah menggantikannya mengajar di kelas ini. Lay lalu membuka pintu kelas itu dan mempersilahkan Luhan masuk.
"Waahh… Luhan sonsaengnim terlambat.." Sahut si hitam Kai yang seketika itu langsung mendapat tatapan tajam dari pemuda imut bermata bulat di sebelahnya.
"Ah…maafkan saya anak-anak. Tadi saya ada sedikit masalah. Saya harap ini akan jadi yang terakhir kali saya terlambat mengajar." Ujar Luhan meminta maaf sambil membungkukkan tubuhnya.
"Kalau begitu saya tinggal ya Luhan-ssi. " Pamit Lay sambil tersenyum kearah Luhan.
Dan Luhan pun mengajar kelas itu dengan situasi yang kondusif. Namun, setelah 15 menit berselang, pintu kelas diketok oleh seseorang di luar sana. Luhan melihat melalui jendela dan mendapati kepala sekolah beserta Lay sonsaengnim tengah berdiri di luar sana. Dengan segera Luhan membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Namun alangkah terkejutnya Luhan ketika mendapati seorang murid baru yang berdiri di belakang kepala sekolah adalah…
"KAU?!" tunjuk Luhan kaget dan satu detik kemudian mendapat teguran dari kepala sekolah karena dikira menunjuknya. Sedangkan yang ditunjuk hanya tersenyum miring.
"M-maaf Kepala sekolah." Luhan membungkukkan tubuhnya berkali-kali.
Luhan lalu menggiring mereka masuk ke kelas. Murid baru itu mempercepat langkahnya dan mensejajarkan langkahnya tepat di sebelah Luhan. Ia berbisik di telinga kiri Luhan.
"Sudah kubilang kita akan bertemu lagi kan?"
Luhan langsung mematung dan murid baru itu terus berjalan sambil tersenyum menyusul kepala sekolah dan Lay sonsaengnim yang tengah berada di podium kelas.
"Anak-anak. Ini adalah murid baru di sekolah kita. Nak, silahkan perkenalkan namamu" Sahut Kepala sekolah sambil mempersilahkan murid itu.
"Annyeonghaseyo. Aku Oh Sehun. Panggil saja Sehun. Senang bisa bersekolah di sini. Mohon bimbingannya…" Ujar Sehun sambil membungkuk rendah.
Siswa-siswa itu menyambut baik Sehun, si murid baru yang bertemu dengan Luhan tadi malam. Sedangkan Luhan, masih berdiri mematung. Lelaki yang ia temukan tadi malam adalah murid barunya? Lelaki yang tadi malam ia pikir adalah mayat, sekarang tengah bercanda dengan anak-anak , dunia ini ternyata sempit bung.
Setelahnya, kepala sekolah dan Lay sonsaengnim keluar dari kelas dan meninggalkan Luhan yang harus kembalimengajar dalam keadaan setengah linglung.
.
Luhan sekarang sudah selesai mengajar. Baru kali ini 2 jam ia mengajar, rasanya seperti 2 tahun. Luhan membenahi semua barangnya untuk segera ke ruang guru. Ia melihat Sehun sekarang tengah berjalan sambil tertawa akrab bersama Kai dan Chanyeol. Sebelum Sehun meninggalkan ruang itu, Sehun sempat melemparkan senyumnya pada Luhan. Luhan hanya berfikir 'apa sih maksud anak itu?'
Luhan sampai di ruang guru dan mendapati Lay sonsaengnim dan Minseok sonsaengnim tengah mengobrol seperti biasanya. Luhan mengambil secangkir kopi dan ikut duduk bergabung bersama kedua rekannya.
"Luhan-ssi. Jadi, bagaimana rasanya mengajar siswa setampan Oh Sehun?" Tanya Lay dengan antusias.
"Eh? Hmm… biasa saja." Jawab Luhan singkat. Jujur, rasanya memang biasa saja. Tak ada yang istimewa.
"Biasa saja? Ah mana mungkin biasa saja jika saat mengajar, kita diperhatikan oleh siswa yang sangat tampan sepertinya? Hihihi" Minseok kini tengah ber-fanboying.
Luhan hanya mengangguk sambil tersenyum melihat ulah Minseok dan Lay yang terlihat terobsesi dengan murid baru itu, Oh Sehun.
Tak lama Lay dan Minseok berhenti ber-fanboying dan menatap beku ke belakang Luhan. Luhan bingung dan bertanya,
"Kalian lihat apa?"
Lay dan Minseok bukannya menjawab, mereka berdua malah tengah tersenyum-senyum sambil berbisik. Merasa takmendapat jawaban, Luhan menoleh ke belakangnya. Dan Luhan pun mengerti mengapa Lay dan Minseok terus tersenyum seperti itu.
"Boleh aku bergabung?" Tanya Kris.
Tentu saja dengan cepat Lay dan Minseok menganggukan kepala mereka. Kris tersenyum dan mengambil kursi tepat di sebelah kanan Luhan. Luhan yang masih canggung dengan kejadian kemarin lalu menggeser kursinya untuk sedikit membuat jarak dengan sonsaengnim mesum itu.
"Apa yang membawa anda kesini Wu sonsaengnim?" Tanya Minseok sambil bersemu seperti orang jatuh cinta.
"Bukan apa-apa. Memangnya aku tidak boleh bersantai di meja ini?" Canda Kris sambil memasang senyum mautnya yang membuat Lay dan Minseok meleleh seperti mentega.
"Tentu saja boleh. Lebih seringlah bersantai disini Wu sonsaengnim." Jawab Lay.
"Ngomong-ngomong, ada apa dengan mata kiri anda?" Tanya Lay lagi.
Kris lalu menyentuh pelan mata kirinya sambil tertawa,
"Ah, ini bukan apa-apa. Hanya iritasi biasa." Kris lalu melirik kearah Luhan yang tengah menunduk di sebelahnya.
Luhan merasa semakin tidak nyaman dengan lingkungan ini. Lebih tepatnya, Luhan tidak nyaman berada di sebelah lelaki yang kemarin hampir 'menerkamnya'. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Luhan memutuskan untuk keluar dari forum aneh itu.
"Um… maaf, saya harus ke luar dahulu. Saya permisi." Luhan lalu bangkit sambil membungkukan tubuhnya.
"Tunggu Luhan-ssi." Panggil Kris cepat sebelum Luhan mencapai pintu.
Luhan langsung mematung tak bergerak, dengan enggan ia membalikan tubuhnya melihat orang yang memanggilnya.
"I-Iya Wu sonsaengnim?" Luhan menampilkan senyum canggungnya yang terpaksa.
Kris terus berjalan kearah Luhan sambil tersenyum. Yaa yaa, harus Luhan akui dengan-sangat-terpaksa, kalau Kris memang sangat menawan saat tersenyum manis seperti itu.
"Ini kunci gembok sepedamu." Kris menyodorkan kunci itu. Luhan yang bingung dan kaget hanya memandang kunci itu tanpa mengambilnya.
Kris yang melihat kebingungan Luhan hanya tersenyum sambil mengambil tangan kanan Luhan. Kris lalu meletakkan kunci itu di tangan Luhan.
"maaf aku membuatmu harus berlari tadi pagi." Bisik Kris yang lalu berjalan kembali bergabung dengan Lay dan Minseok.
Sedangkan Luhan sekarang tengah berjalan keluar dengan tatapan kosong. Entah tuntunan darimana, sekarang Luhan tengah berada di atap sekolah.
1…2…3…
Luhan menatap kunci gembok sepeda di tangannya. Tadi Kris memegang tangannya? Luhan sekarang sudah bisa kembali berfikir. Orang itu… orang mesum itu menyentuhnya. Apa Kris gila? Tadi ia tiba-tiba datang bergabung dengan 'korbannya' tanpa terlihat canggung sedikitpun? Lalu ia memegang tangan 'korbannya' yang lagi-lagi tanpa telihat canggung? Setelahnya ia malah minta maaf tentang 'maaf aku membuatmu harus berlari tadi pagi'?
"AAAAAA! DASAR KAU GURU MESUM GILAA! SEKALI LAGI KAU SENTUH AKU, MAKA AKU AKAN MELEMPARMU DARI ATAS SINI!" Luhan berteriak menyumpahi Kris. Luhan melampiaskan kekesalannya dengan berteriak dan tanpa sadar ia malah melemparkan kunci gembok sepedanya ke bawah.
"Oh tidak.." ratap Luhan ketika sadar kunci itu tak lagi di tangannya.
"Wah… kenapa kau melemparnya?" Tanya seseorang di belakang Luhan.
Luhan yang kaget langsung berbalik melihat si pemilik suara. Setelahnya Luhan kembali memasang wajah lesu.
"Kau…"
"hey, kenapa kau melemparnya?" Tanya Sehun lagi sambil berdiri di sebelah Luhan.
"A-aku…hanya sedang kesal." Jawab Luhan dengan nada sedikit meratap mengingat nasib kuncinya yang dibawah sana pastisedang tergeletak tak berdaya.
"Kesal? Apa kau ingin menceritakan kekesalanmu Lu? Ku dengar manusia meringankan kekesalan mereka dengan membaginya dengan orang lain."
"Maaf, tapi untuk saat ini, bercerita pada orang lain adalah hal yang bu- HEY! Kau tadi memanggilku apa?" Jawab Luhan lesu namun tiba-tiba berubah kesal.
"Lu?" Ujar Sehun datar.
Luhan lalu memukul kepala murid yang lebih tinggi darinya itu dengan sekali pukulan yang keras.
"YA! Kau ini murid kurang ajar! Panggil aku Luhan Sonsaengnim! SON-SAENG-NIM! Mengerti?!"
Sehun hanya tertawa melihat guru yang lebih pendek darinya itu tengah kesal sambil mem-poutkan bibirnya.
"Baiklah Luhan Son-Saeng-Nim. Maafkan muridmu ne?" Sehun menekankan kata sonsaengnim untuk membuktikan kepahamannya.
"Akan kumaafkan, tapi ada satu syarat." Ujar Luhan sambil mengacungkan jari telunjuknya.
"baiklah, apa itu?" Tanya Sehun yang masih saja tersenyum.
"Ambilkan kunci yang tadi aku lempar ke bawah sana. Aku akan tunggu kau disini" Ujar Luhan pada Sehun. Sebenarnya Luhan hanya bercanda mengenai syaratnya itu, namun Sehun malah menanggapinya serius. Dengan segera Sehun berlari keluar dari atap sekolah.
"Sehun! Aku hanya bercanda…YA!" Teriak Luhan. Namun Sehun sudah berlari menuruni tangga jauh sekali.
Luhan menghela nafas sambil menyenderkan tubuhnya di sandaran balkon atap sekolah. Bibirnya sedikit mengembang, ia tersenyum. Hey, ternyata anak itu tidak begitu buruk. Harus Luhan akui ternyata ia anak yang menyenangkan. Sangat berbeda dengan Sehun yang ia temukan tadi malam. Luhan lalu kembali berfikir, apakah luka-luka Sehun yang tadi malam sudah sembuh? Ah, Luhan berniat akan menanyakan hal itu jika Sehun kembali nanti.
Luhan lalu memejamkan matanya sambil menikmati angin semilir sore hari yang menerpa wajah manisnya. Tak lama bisa ia dengar suara langkah kaki tengah mendekat kearahnya.
"Kau cepat sekali Se- Wu sonsaengnim?" ekspresi Luhan berubah drastis ketika mengetahui Kris-lah yang sekarang berada di atap sekolah bersamanya.
"Kenapa kau menghindariku Luhan-ssi?" Tanya Kris dengan nada menginterogasi.
Luhan hanya terdiam sambil menunduk karena ia tak tahu harus menjawab apa –atau lebih tepatnya Luhan bingung bagaimana mengatakan pada Kris kalau ia tak mau dekat-dekat dengan orang mesum macam Kris.
Kris terus berjalan kearah Luhan sambil membuka retsleting jaket olahraganya. Heh? Membuka retsleting? Luhan berusaha menghindari Kris dengan mencoba berlari, namun apa daya. Lengan kecinya ditarik dengan sekali tarikan oleh tangan Kris. Kris lalu membaringkan Luhan dengan kasar dilantai. Luhan merasakan punggungnya amat kesakitan mengingat lantai bukan ide yang bagus jika kau jatuh terdorong. Dengan cepat, Kris mengunci pergerakan Luhan dengan menduduki pahanya dan mencengkram tangannya di atas kepala Luhan.
"Jangan berusaha lari lagi Luhan-ssi" ujar Kris yang lalu menciumi leher jenjang Luhan.
"Kumohon Wu sonsaeng-nimhh…J-jangan lak-kkanhh ini hhh.." Pinta Luhan sambil menggerak-gerakan seluruh tubuhnya menolak perlakuan Kris.
Kris berpura-pura tak mendengar permintaan Luhan. Ia terus menciumi leher Luhan dan sekarang ia sibuk menjilatinya. Luhan merasakan lehernya mulai basah oleh saliva Kris.
"Uhh… K-kumohonh Wu sonh-saengnim… h-hentikanhh" tolak Luhan sambil mendesah tanpa ia sadari.
"Hentikan eh? Kau bahkan mendesah Lu~ " Ujar Kris sambil tersenyum seduktif dan kembali mencumbui leher Luhan.
Luhan tak bisa banyak memberikan perlawanan. Entahlah, apapun ini namanya, tapi Luhan merasakan sekujur tubuhnya lemas dalam kenikmatan yang Kris berikan. Kini Luhan merasa tubuhnya bertambah lemas ketika Kris sudah beralih dari lehernya dan menciumi bibir tipisnya sambil mengusap-usap nipple luhan dari luar pakaiannya. Awalnya Kris hanya mengecup bibir luhan, namun seiring waktu berjalan, kecupan ringan itu berubah menjadi lumatan kasar. Kris melumat dan menggigiti bibir bawah Luhan agar Luhan membuka bibirnya. Merasa Luhan tak kunjung membuka bibirnya, Kris lalu menggigit bibir Luhan dengan keras sembari tangannya menarik nipple Luhan kasar. Luhan yang kesakitan sontak membuka mulutnya untuk berteriak. Teriakannya terhalang oleh lidah Kris yang sekrang tengah mengabsen deretan gigi Luhan. Tanpa sadar, Luhan mengeluarkan air matanya. Luhan amat tersiksa dengan keadaannya kini.
Kris lalu melepaskan ciuman mereka, dan menatap wajah Luhan dengan nafsu. Yang Kris lihat saat ini sungguh menakjubkan. Luhan tengah terbaring pasrah dibawahnya dengan bibir membengkak dan mata sembab seperti orang…menangis?
"Lu… Kau menangis?" Tanya Kris yang sekarang tampak khawatir.
Luhan hanya terdiam sambil menangis. Kris merasa bersalah, namun entah setan darimana, ia malah mengecup kedua mata Luhan secara bergantian. Ia jilati air mata Luhan dengan penuh nafsu hingga menimbulkan bunyi kecipak lidahnya dengan kulit Luhan. Sedangkan Luhan, dalam hati terus berdoa memanggil siapapun untuk membantunya lepas dari siksaan ini.
"YA Ajussi mesum! Mau berapa lama kau menyiksa Lu Sonsaengnim?"
Kris yang kaget langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh ke belakangnya. Ia mendapati seorang murid laki-laki tengah bersandar di tembok sambil menyilangkan kedua tangannya.
Luhan yang menyadari itu adalah Sehun langsung bersyukur. Tanpa sadar, air matanya berhenti mengalir dan senyum mengembang tipis di bibirnya. Kris yang salah tingkah lalu bangkit sambil merapikan pakaian dan rambutnya.
Tanpa banyak bicara Sehun berjalan kearah Kris dan Luhan. Kris fikir Sehun akan menghajarnya, namun ternyata ia malah menggendong Luhan di punggungnya.
"Lu sonsaengnim, aku telah menemukan kuncimu. Sekarang ayo kita pergi" Ujar Sehun datar.
Kris masih terdiam sambil memandang canggung kearah Sehun yang tengah menggendong Luhan. Sehun pun membawa Luhan keluar dari atap sekolah meninggalkan Kris yang tengah kini berubah menatapnya penuh kebencian.
"Sialan!"
.
.
.
~~~TBC~~~
A/N:
Yuuhuuu akhirnya chapter 2 update juga. Otte? Rame gak?
Reader: "GAK!"
Whatt? Jadi kalian gituh sama akuh? Oke fix! *nangis di bawah shyower*
Hehe bercanda deng XD…eh, gimana nih Pra-NC nya? (apaan Pra-NC?) hot ga?
Maaf gak hot, abisnya saya belom pengalaman masalah ginian. Hehe
Oh ya, kalo ada yang kalian bingung dari ff ini, boleh tanya kok. Gratis hehe^^
Dan maaaaaaf banget kalo first kissnya Luhan harus diambil sama Kris T.T saya juga sebenernya ga tega, tapi yaa gimana yah? Otak saya udah command buat bikinnya kaya gitu :'(
Tapi tenang aja, saya punya takdir indah untuk HUNHAN kokk :'3
.
Oh iya… thanks buat:
Sehunhan/ hunhankid/ syakilashine/ levy. / Leona838/ xanyeol/ lulurara/ farfaridah16/ HunhanExoL/ HunHanina's/ luderrOhseh/ NoonaLu/ LuluHD/ Sacceyy/ Levian hunhan/ hunhan's/ / / Luhan-Ciumaku/ Zy/ Cakue-chan/ Xi Ata/ SFA30/ non/ karina/ fySugar-Free/ ViviNrH/ myhunhanbaby/ ChagiLu/ NinHunHan5120/ Lulu Baby 1412/ RZHH 261220 II/ WulanLulu/ .58/ hanhyewon357/ Jong Ahn/ Panda Yehet88/ eyeliner luntur.
Thanks buat Review and Fav^^
Thanks buat para Siders^^
Tanpa Kalian, Naega cuman butiran bubuk wafer T***O
Makasih udah baca…. Review pliiss?^^
