Damn! I Love That Alien
Disclaimer: HUNHAN is not Mine, but the story is mine
Cast: Sehun x Luhan, and other cast
Rate: T – M
Length: Chaptered
Warning: Typos, YAOI aka Shounen Ai aka BL, NC (nyusul~)
Jadi, buat yang gak suka YAOI. Tombol close ada dipojok kanan atas [X]
Story By: NaegaFanfan
.
Chapter 3
.
Happy Reading ^o^
.
EXOPLANET, 2 Bulan sebelum pengiriman ke Bumi.
Semua subjek pengiriman kini tiba berada di EXO Hall. Tempat pelatihan bagi para sekutu untuk berlatih menjelang pengiriman mereka ke planet bumi. Di sinilah sekutu no.94 tengah berdiri. Bersama ribuan sekutu lainnya. Tak ada sekutu yang memiliki nama, hanya ada nomor mereka,dan jika mereka memiliki kekuatan, mereka akan mendapatkan nama panggilan . 94 contohya, diberkati kekuatan mengendalikan angin. Ia mendapat gelar berupa nama, Aerokinetics.
No. 94 masih berjalan beriringan bersama sekutu lainnya dengan tertib. Pandangan mereka tajam dan terarah. Semua menampakan raut wajah serius. Tak ada perasaan apapun dalam hati mereka. Mereka sudah ditempa untuk menjadi makhluk yang tak memiliki emosi. Mereka hanya dilatih mengelurkan emosi untuk menyamar di planet bumi nanti.
Seketika itu, pintu utama nan megah EXO Hall terbuka lebar. Mesin-mesin yang bekerja menggerakan pintu itu menimbulkan suara desing yang memekakan telinga. Para sekutu berjalan dengan tertibnya, perlahahan memenuhi EXO Hall. Ketika seluruh sekutu telah memenuhi EXO Hall, dari podium yang berada di bagian utara, tampak asap mengepul. Ini yang mereka semua tunggu. Mereka menunggu perintah dari pemimpin agung EXO Planet, King Young Min.
"Selamat datang para sekutu! Hari ini kalian berdiri sebagai sekutu kehormatan di hadapanku. Kalian yang sekarang berada di hadapanku adalah sekutu-sekutu terpilih yang akan diberangkatkan ke bumi untuk menyelesaikan misi demi kelangsungan Planet kita. Baiklah, sekarang, Aku akan memberi kalian tugas. Tugas Kalian di planet bumi adalah…"
.
.
Luhan masih saja terisak di punggung Sehun. Tangannya memeluk erat pada leher jenjang Sehun. Sedangkan Sehun hanya berjalan dengan raut wajah kesal sambil menggendong Luhan di punggungnya. Ia berjalan melewati sekolah yang sore hari masih ramai dengan kegiatan eskul. Tentu saja pemandangan Luhan sonsaengnim yang menangis di gendongan Sehun –si murid baru menarik perhatian murid-murid yang masih berkegiatan eskul tersebut.
Sehun kesal, entah kenapa. Melihat Luhan –sonsaengnim yang pernah menolongnya diperlakukan seperti itu. Sehun berjalan tanpa memperdulikan tatapan murid-murid yang menatap penasaran kearah mereka berdua. Luhan pun tak menyadari tatapan murid-muridnya karena ia sibuk bersembunyi di punggung Sehun.
Kini Sehun tengah berjalan kearah gerbang sekolah, Luhan akhirnya sadar jika Sehun membawanya ke gerbang sekolah.
"Hiks…Sehun? Apa kita akan keluar sekolah?" Tanya Luhan dengan suara parau.
Sehun mengangguk," Ya… memang kenapa?"
"Ada murid yang minta pelajaran tambahan sore ini. hiks…A-aku harus-"Jawab Luhan yang tak menyelesaikan jawabannya.
Sehun menghentikan langkahnya, ia memutar kepalanya kearah wajah Luhan untuk mendapatkan perhatian lawan bicaranya.
"Pelajaran tambahan? Kau sedang kacau seperti ini, dan kau masih mau mengajar?" Tanya Sehun menginterupsi.
Luhan diam, tak menjawab. Memang, sebenarnya Luhan juga tahu kalau keadaannya sangat kacau saat ini. Tapi, ini kan kewajiban guru. Ketika murid membutuhkan guru, disanalah Luhan harus hadir. Ini semboyan Luhan. Jadi Luhan tak tahu harus bagaimana. Sehun lalu kembali berjalan.
"Aku akan membawamu ke apartemen. Jangan menolak." Sahut Sehun datar ketika tak mendengar ada alasan terlontar dari sonsaengnimnya.
Dan akhirnya Luhan hanya bisa mengalah. Luhan kembali menelungkupkan wajahnya di punggung Sehun, memeluk leher Sehun sambil sesekali terisak dan Membiarkan tubuhnya dibawa ke apartemen dengan kedua kaki Sehun.
Tiba di depan pintu apartemen, Luhan meminta turun dari punggung Sehun. Sehun menekuk lutunya dan menurunkan Luhan perlahan hingga kedua kaki mungil Luhan sempurna menapak lantai. Luhan menekan tombol kode pengaman di pintunya. Setelah mendengar bunyi 'klik' Luhan membuka pintunya dan masuk kedalam diikuti Sehun dibelakangnya.
Luhan langsung mencari sofa, ia lalu membaringkan tubuhnya yang sangat lemas karena kejadian tadi. Entahlah, kejadian tadi rasanya begitu lambat, hingga Luhan bisa merasakan setiap detik penderitaan yang ia alami.
Sehun juga mendudukkan dirinya di sofa yang berada tepat di seberang Luhan. Ia menyenderkan punggungnya. Sepertinya Sehun merasa pegal setelah berjalan sambil menggendong sonsaengnimnya.
Keadaan di dalam apartemen Luhan sunyi, tak ada yang mengeluarkan suara. Hanya terdengar detak jarum jam yang terus berputar mengejar waktu yang terus berjalan. Sehun kini tengah duduk sambil menopang kepalanya dengan tangan kanan yang bertumpu di lengan sofa., terus memperhatikan Luhan yang tengah berbaring membelakanginya. Sehun tak bisa memastikan, apakah ia sedang tertidur? Sehun pun bangkit dan berjalan dengan sangat perlahan mendekati Luhan, berusaha tak membuat berisik, takut-takut Luhan tertidur.
Sehun kini membungkukkan tubuhnya dan mengintip kedalam wajah Luhan yang tersembunyi, Luhan tengah menutup matanya. Mungkin ia tertidur. Setelah memastikan Luhan tertidur, Sehun berjalan ke jendela apartemen Luhan yang besar dan menampakkan pemandangan kota Seoul. Wajahnya yang datar tak bisa ditebak. Sehun merogoh saku celananya dan mengeluarkan alat semacam pager. Sehun menatap layar kosong alat itu. Sehun berdecak kesal,
"Tsk. Sialan. Bagaimana caranya aku melapor kalau aku sudah mendapatkan target jika alat ini tak bekerja?"
"Sehun?" Luhan memanggil Sehun dengan suara yang masih parau dan sangat pelan. Sehun tersentak, dengan cepat ia mengembalikan alat itu ke dalam saku celananya dan segera berbalik.
"Ya sonsaengnim?" Ia berjalan menghampiri Luhan yang terlihat sudah dalam posisi duduk.
"Terima kasih…" Ujar Luhan sambil menatap Sehun yang mendekatinya.
Sehun memiringkan kepalanya tak mengerti. Lalu Sehun duduk di samping Luhan masih dengan wajah miringnya,
"Terima kasih untuk yang tadi. Entah apa yang terjadi jika kau tidak ada…" Sahut Luhan yang sekarang tengah menunduk sambil mengepalkan kedua tangan di pahanya.
Sehun mengangguk mengerti, ia lalu tersenyum.
"Oh itu… anggap saja kita impas. Kau pernah menolongku, jadi aku juga menolongmu."
Luhan tersenyum lalu menatap Sehun yang ada di sampingnya. Mereka saling bertatapan. Sehun tak berkedip memandangi sepasang mata cantik Luhan yang masih menggenang air mata di permukaannya. Sedangkan Luhan tak bisa mengalihkan pandangannya dari senyum tipis yang terbentuk di wajah muridnya itu. Entah sampai berapa lama mereka akan terus bertatapan seperti itu.
Luhan pihak pertama yang sadar dari moment ini, ia mengerjapkan matanya dan membuang pandangannya ke manapun, asal jangan pada Sehun. Sedangkan Sehun belum menyerah memandangi Luhan. Luhan menggerak-gerakkan kedua kakinya gugup, ada perasaan aneh sedang ia rasakan saat ini. Apalagi ketika Luhan tahu kalu Sehun belum berhenti menatapnya sambil tersenyum seperti itu. Senyum yang sulit diartikan. Luhan tak sadar jika pipinya berubah menjadi merah semu.
"Uhm Sehun… bisakah jangan menatapku seperti itu?"
Namun Sehun belum juga menyerah, ia sakarang malah menelusuri tubuh Luhan yang sedang duduk gugup dari kepala sampai ujung kakinya.
"Tak heran Wu sialan itu tertarik padamu…"
"?" Luhan menatap Sehun dengan dahi berkerut, ia tak mengerti.
"Ya… Tak heran Wu sialan itu tertarik padamu sonsaengnim. Kau wanita yang cantik" Lanjut Sehun masih dengan senyum aneh menghiasi wajahnya.
Lipatan di dahi Luhan sepertinya bertambah banyak, ia makin bingung dengan pernyataan Sehun. Tadi dia bilang apa? Luhan 'wanita' yang cantik?
"Tunggu! Kau bilang apa? Aku wanita yang cantik?"
Sehun mengangguk yakin. "Ya, memangnya kenapa?"
Luhan langsung menyenderkan tubuhnya ke sofa sambil mengurut dahinya,
"Kau pikir aku wanita?" Tanya Luhan frustasi.
"Y-Ya…" Jawab Sehun yang kelihatan bingung.
"Hahh biar ku tegaskan disini. AKU INI NAMJA!" Tegas Luhan sambil menepuk-nepuk dadanya.
Sehun memiringkan kepalanya bingung. Tak ada lagi garis senyum di wajahnya, hanya ada garis kerut yang kini menghiasi keningnya.
"Yang benar? Tapi Tadi Wu Sonsaengnim hampir memperkosamu, itu kan berarti kau…" Tanya Sehun datar.
Luhan mengehela nafas frustasi,
"kau pikir sesama laki-laki tidak bisa memperkosa huh? Dia itu Gay Sehunnn… dan Aku ini NAMJA. REAL NAMJA" Tegas Luhan kesal dengan penekanan nada gemas.
"tapi kau cantik." Jawab Sehun datar, yang tanpa sadar membuat Luhan sedikit melayang.
"Ya! Tapi aku ini namja. Memangnya kau tidak lihat dadaku rata begini?" Luhan mem-poutkan bibirnya sambil menyilangkan tangannya kesal.
Sehun tak menjawab, ia terus mengamati Luhan. Jika dilihat dengan seksama, Luhan memang seperti laki-laki. Memiliki jakun, berdada rata. Tapi apakah benar ia laki-laki? Sehun harus memeriksanya dulu.
"Ngghh…"
"Jadi sonsaengnim benar-benar Namja…" Ujar Sehun polos sambil terus meremas junior Luhan.
Luhan langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Suara apa yang ia keluarkan tadi? Dan apa yang Sehun lakukan?
" YA! Apa yang kau lakukan OH SEHUN?!" Luhan berteriak sambil berdiri menjauhi Sehun.
"Memastikan kalau sonsaengnim benar-benar laki-laki.." Jawab Sehun masih dengan wajah datarnya.
"Apa harus dengan meremas 'milik'ku?" Luhan memegang juniornya seolah-olah mencoba menyembunyikannya.
Sehun menganggukkan wajah datarnya.
"Sonsaengnim, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Sehun sambil berjalan mendekati Luhan yang tengah menatap horror kearahnya.
"Apa?" Luhan berjalan mundur. Ia sedang memasang siaga tingkat satu.
Kaki Sehun yang panjang membuatnya berhasil mendekati Luhan yang terus menjauh. Sehun lalu menahan bahu Luhan agar tidak terus mundur menjauhinya. Luhan benar-benar waspada kali ini.
"Sehun? J-jadi kau mau tanya apa?"
"Aku mau tanya, Kenapa 'milik'mu kecil sekali sonsaengnim?" Tanya Sehun sambil 'kembali' menyentuh bagian terlarang Luhan. Kali ini hanya menyentuh, tidak meremas.
Luhan langsung merinding seketika, ada perasaan …enak? Di bagian yang Sehun sentuh. Ah! Tapi Luhan tak mengerti apa yang sedang ia rasakan. Hey tunggu! Sehun bilang miliknya kecil? Memang kenapa kalau kecil? Sepertinya semua laki-laki juga sama seperti miliknya, pikir Luhan.
"Memang kenapa kalau kecil eoh?" Tanya Luhan balik.
Sehun memegang tangan kanan Luhan dan menuntunnya ke miliknya. Luhan membelalakan matanya kaget.
"Kalau begitu jelaskan kenapa milikku sebesar ini."
Luhan yang menyadari milik Sehun sangatlah besar tentu saja kaget. Ia baru sadar, ternyata ukuran setiap laki-laki tidaklah sama. Ukuran Sehun hampir 3 kali miliknya. Dengan polosnya Luhan menekan-nekan milik Sehun.
"Wah? Iya ya… kenapa milikmu besar?" Tanya Luhan yang tanpa ia sadar, Sehun mulai tak nyaman.
"Ahhh..hh" desah Sehun sambil memejamkan matanya merasakan miliknya tengah ditekan-tekan dengan imutnya oleh Luhan.
Luhan yang merasa ada suara janggal, langsung mendongak untuk melihat wajah Sehun. Ia melihat wajah Sehun yang tengah terpejam dengan beberapabulir keringat di dahinya.
"Sehun? Kau kenapa?" Tanya Luhan yang menghentikan kegiatannya di junior Sehun.
Dengan tatapan dingin dan datar Sehun melihat wajah Luhan yang tengah menatapnya. Sehun kesal karena Luhan menghentikan kegiatannya.
"Sehun? Kau sakit?" Tanya Luhan lagi yang merasa pertanyaan sebelumnya belum dijawab.
Sehun hanya menatap Luhan datar. Tak menjawab pertanyaannya dan itu berhasil membuat Luhan salah tingkah.
"Kenapa kau hentikan?" Tanya Sehun yang terdengar mengintimidasi.
"Eh? Memang kenapa?" Luhan bertanya polos tak mengerti sambil menggaruk tengkuknya.
Sehun berdecak sebal, dengan sekali dorongan, Sehun memojokkan Luhan ke tembok apartemen. Luhan yang kesakitan tak bisa menahan suara erangan yang keluar dari mulutnya. Kedua tangannya dikunci oleh kedua tangan Sehun. Sehun terlihat berbeda dengan Sehun yang sebelumnya di mata Luhan. Entahlah, Luhan hanya merasa jika Sehun yang berada di hadapannya terlihat menyeramkan.
"Sehun,Sakit…" Keluh Luhan sambil berusaha melepaskan kuncian tangan Sehun yang terlamapau erat.
Sehun diam, Ia hanya menatap tajam mata Luhan. Sehun seperti sedang memasuki Luhan melalui matanya, Luhan tak bisa berbuat banyak. Menatap balik Sehun sepertinya bukanlah ide yang bagus. Sehun yang masih dalam keadaan mencengkram Luhan lalu memejamkan kedua matanya. Pikirannya melayang ke saat dimana ia diberikan tugas.
EXOPLANET, 2 Bulan sebelum pengiriman ke Bumi.
"Selamat datang para sekutu! Hari ini kalian berdiri sebagai sekutu kehormatan di hadapanku. Kalian yang sekarang berada di hadapanku adalah sekutu-sekutu terpilih yang akan diberangkatkan ke bumi untuk menyelesaikan misi demi kelangsungan Planet kita. Baiklah, sekarang, Aku akan memberi kalian tugas. Tugas Kalian di planet bumi adalah menanamkan benih kalian pada wanita bumi yang merupakan target kalian. Setelah mereka mengandung benih kalian, bawa benih-benih itu untuk kita jadikan sebagai generasi EXOPlanet. Jika sudah selesai, bunuhlah wanita itu untuk menghilangkan jejak. Dan kalian harus ingat! Jangan libatkan perasaan dalam misi kalian. Laksanakan!".
.
.
"Sehun…lepaskan. Kau menyakiti pergelangan tanganku." Rintih Luhan memohon dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Sehun yang mendengar rintihan Luhan tiba-tiba tersadar dari pikirannya. Ia mengerjapkan matanya dan dengan segera melepaskan cengkramannya. Luhan langsung mengusap-ngusap pergelangan tangannya sambil meringis kesakitan.
"Kau tak apa sonsaengnim?" Tanya Sehun dengan raut wajah khawatir.
"Kau ini kenapa?" Tanya Luhan.
"Kenapa bagaimana?" Sehun tak mengertidengan pertanyaan Luhan.
"Kenapa kau bisa terlihat menyenangkan, lalu detik setelahnya kau terlihat sangat menyeramkan?"
Sehun berfikir berusaha mencari alasan yang kira-kira bisa diterima oleh Luhan. Sehun harus terlihat normal. Normal seperti manusia pada umumnya.
"Hm.. maaf aku sedang banyak pikiran."
"Hah.. hanya karena kau banyak pikiran, kau hampir memutuskan lenganku?" Tanya Luhan yang kesal pada sikap Sehun yang menurutnya seenaknya.
Sehun hanya mengangguk. Luhan menghela nafas, ia fikir mungkin Sehun benar-benar sedang banyak pikiran. Apa boleh buat? Sebagai guru yang 6 tahun lebih tua mungkin Luhan harus memaklumi muridnya.
"Ya sudah… mungkin kau kelelahan. Sekarang pulanglah ke asramamu." Ujar Luhan sambil mendorong lembut tubuh Sehun menuju pintu keluar.
Sehun tak melawan, ia hanya mengikuti dorongan Luhan. Setelah sampai di pintu, Luhan melepaskan dorongannya. Sehun pun berbalik menghadap Luhan sebelum ia keluar.
"Sonsaengnim, maaf soal tadi. Jaga dirimu baik-baik ya."
"Ya.. tidak apa-apa. Terima kasih telah menolongku~ kau harus langsung pulang ke asrama. Jangan keluyuran, Arraseo?" Luhan terlihat seperti sedang menceramahi Sehun.
Sehun mengangguk dan berjalan keluar dari pintu. Setelah saling melemparkan ucapan sampai jumpa besok, Luhan menutup pintunya. Sehun yang tengah tersenyum langsung merubah raut wajahnya menjadi dingin dalam sekejap. Ia berbalik dan menjauhi kediaman Luhan. Menyusuri koridor apartemen dan mencari jendela terdekat. Satelah menemukan jendela, Sehun berdiri di ambang jendela. Ia merasakan angin malam yang bersemilir di sekitarnya sambil menyesapi aroma khas malam di tengah kota Seoul.
"Luhan seorang laki-laki? Perintah mengatakan harus wanita. Tapi kurasa lelaki atau wanita tak masalah. Bagaimanapun dia sudah menjadi tergetku, jadi secepatnya akan kucoba menanam benihku padanya."
Dan Sehun menyusuri langit malam tanpa menapaki kakinya.
.
"Luhan ssi? Ku dengar kemarin kau menangis? Apa yang terjadi?" Tanya Lay ketika Luhan baru sampai di ruang guru setelah ia selesai mengajar.
"Oh…umm..bukan apa-apa." Jawab Luhan sambil tersenyum canggung.
"Benarkah? Kalau ada yang sesuatu, ceritalah pada kami." Tambah Minseok sambil mengusap-usap punggung Luhan.
"Ia… Terima kasih Lay-ssi, Minseok-ssi." Luhan tersenyum. Ia senang bahwa ia masih memiliki rekan guru yang peduli padanya.
"Luhan-ssi. Ku dengar daripara siswa, katanya kemarin Oh Sehun siswa tampan itu menggendongmu ya?" Selidik Lay sambil tersenyum, diikuti oleh Minseok yang juga tersenyum-senyum.
Luhan bingung harus menjawab apa. Ia mengetuk-ngetuk jarinya pada cangkir kopi yang ada di tangannya.
"Um… itu… bagaimana ya?"
"Ah kau ini, Kalau kalian memang pacaran, tidak perlu disembunyikan. Hihihi" goda Minseok yang terkikik bersama Lay.
"Mwo?! Tidak-tidak.. Dia hanya menolongku. Hm- kemarin aku terjatuh…Ya, terjatuh. Kakiku terkilir, makanya dia menggendongku- Hm yaa begitulah" Luhan berharap mereka berdua tak bertanya lebih jauh lagi.
Lay dan Minseok hanyamengangguk-nganggukan kepalanya mengerti. Mereka bertiga lalu meminum kopi masing-masing, tak ada pembicaraan untuk beberapa menit. Lay meletakkan cangkirnya di tatakan lalu menjadi yang pertaa yang memecah keheningan.
"Ngomong-ngomong, Wu sonsaengnim mana ya?"
Deg! Nama orang itu. Kenapa harus menyebut nama orang itu? Luhan jadi teringat peristiwa kemarin. Ketika orang itu mencoba memperkosanya. Luhan jadi malas mendengar nama orang itu. Luhan meletakkan cangkirnya dan berdiri, membuat Lay dan Minseok mengalihkan perhatian mereka padanya.
"Kau mau kemana Luhan-ssi?" Tanya Minseok.
"Maaf, Aku akan kembali mengajar." Jawab Luhan sambil membungkuk. Luhan lalu meninggalkan ruang guru diiringi tatapan heran Lay dan Minseok.
Luhan berjalan sambil melamun. Matanya kosong menatap lantai koridor yang ia tapaki. Sebenarnya jam mengajarnya baru akan mulai 15 menit lagi, namun daripada mendengarkan obrolan Lay dan Minseok mengenai Kris, Luhan lebih baik menunggu dimanapun. Asal jangan disitu.
Tas jinjingnya ia ayunkan beriringan dengan langkah kakinya. Beberapa murid yang menyapanya pun hanya diberi senyum simpul dari wajah Luhan, bukan senyum ramah seperti biasanya. Ketika sampai di depan kelas yang akan ia ajar, Luhan hanya menunggu di luar sambil menyenderkan tubuhnya ke tembok dan mendekap tas jinjingnya. Masih dalam keadaan melamun. Jika ia mengingat-ingat kejadian kemarin, tubuhnya terasa bergetar. Luhan jadi merasa tak pantas untuk jadi guru. Luhan lalu mengerjapkan matanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Huh! Aku kenapa sih? Aku harus professional! Aku tidak boleh terlihat kacau di depan murid-muridku. Lupakan saja kejadian itu! Fighting Lu! Fighting!" Ujar Luhan menyemangati dirinya sendiri.
Akhirnya Luhan mendengar bel pergantian pelajaran berbunyi. Luhan mengintip dari kaca pintu kelas untuk melihat siapakah guru yang sedang mengajar. Luhan merapikan pakaiannya,dan seketika itu Jung sonsaengnim keluar dari kelas. Jung sonsaengnim melemparkan senyuman pada Luhan yang Luhan balas dengan membungkukkan tubuhnya untuk menghormati yang lebih tua. Setelah Jung sonsaengnim menjauh, Luhan pun menarik nafas sekali, menghembusakannya dan melangkahkan kakinya ke dalam kelas.
Ia melihat satu-persatu wajah muridnya yang tampak bersemangat. Tanpa sadar, perasaan sedih Luhan seakan hilang dan tergantikan dengan semangat mengajar murid-muridnya. Mungkin itulah sumber semangat setiap guru. Tak perlu murid yang cerdas, guru hanya perlu murid yang memiliki semangat.
Ketika Luhan sudah berdiri di meja guru, Kai ketua kelas itu lalu memerintahkan untuk memberi salam pada Luhan.
"Selamat siang sonsaengnim." Sahut mereka bersamaan.
"Selamat siang juga" Balas Luhan sambil tersenyum.
"Sonsaengnim!" seorang murid bermata bulat mengacungkan tangannya.
"Ya Kyungsoo?"
"Apa kemarin terjadi sesuatu? Kami sangat mengkhawatirkanmu…" Tanya Kyungsoo yang memasang wajah khawatirnya.
Luhan tersenyum, ternyata muridnya mengkhawatirkannya.
"Ah, tidak apa-apa. Kalian tidak usah memikirkannya. Sekarang kita fokus belajar ne?"
Murid bernama Kyungsoo itu mengangguk lucu sambil tersenyum lega. Namun sesaat setelahnya murid bernama Jongin yang mengangkat tangannya.
"Sonsaengnim!"
"Ya? Ada apa Jongin?"
"aku hanya mau bilang kalau kemarin sonsaengnim terlihat manis sekali saat menangis di punggung Oh Sehun KKKkkkk~"
Luhan langsung sweatdrop ketika semua muridnya malah ikut tertawa. Senyumnya berubah jadi senyum garing.
"Ya Jaga omonganmu Kai!" Sahut Kyungsoo sambil memukul kepala meringis sambil mengusap kepalanya.
"Kau cemburu sayang?" Goda Jongin. Dan Kyungsoo hanya memutar bola matanya malas.
Luhan hanya tertawamelihat kedua muridnya tengah bertengkar,dan Luhan rasamereka terlihat sangat manis. Hey! Ngomong-ngomong masalah Sehun, dimana anak itu?
"Baiklah anak-anak, aku akan memulai pelajaran. Tapi sebelumnya, ada yang tahu dimana Oh Sehun?"
Semuanya hanya menggelengkan kepala. Bisa Luhan tebak, sepertinya mereka bahkan tak menyadari kalau Sehun tidak ada.
"Jongin, Apa kau tahu dimana Sehun?" Tanya Luhan.
"Sepertinya dia masih tertidur sonsaengnim. Tadi pagi aku ketuk kamarnya tapi tidak ada yang menjawab." Jawab Jongin.
Luhan menghela nafas, dasar anak itu. Luhan pun membuka buku materi di hadapannya, bersiap untuk mengajar.
"Hari ini kita akan belajar-"
'srekk!' pintu kelas terdengar dibuka. Dan terlihatlah sosok Sehun dengan rambut yang tak beraturan tengah berdiri sambil memasang wajah datarnya.
"Oh Sehun? Kau terlambat masuk. Darimana saja kau ini?" Tegur Luhan yang lagi-lagi tak jadi mengajar.
"Maaf sonsaengnim, saya terlambat bangun."
Luhan menggeleng-gelangkan kepalanya dan menyuruh Sehun untuk duduk agar bisa segera mengikuti pelajaran. Sehun segera berjalan ke bangkunya dan ia disambut dengan tawa Kai yang menertawai rambut berantakannya.
"Baiklah kita lanjutkan, sekarang kita akan belajar menggambar sketsa. Gambarlah sketsa apapun yang kalian bisa, baik itu sketsa wajah, sketsa baju, atau sketsa bangunan. "Terang Luhan sambil membagikan kertas kosong.
Luhan bisa mendengar keluhan malas murid-muridnya yang tidak bisa menggambar. Dan Luhan memaklumi itu.
Setelah semuanya mendapat kertas masing-masing mereka mulai fokus dengan objek yang mereka gambar. Ada yang menggambar sambil mendengarkan musik, ada yang menggambar dengan wajah malas, ada juga yang tidak bisa diam saat menggambar –contohnya Jongin, bahkan ada yang tertidur –dan itu adalah Sehun.
"Oh Sehun! Jangan tidur dalam kelasku!" Tegur Luhan sambil kedua tangannya.
Sehun membuka matanya, lalu menggosok-gosoknya.
"Aku tidak bisa menggambar sonsaengnim…Hoam~" Jawab Sehun sambil menguap.
"Setidaknya kau harus menggambar agar aku bisa memberi nilai."
"Oke oke…" Sehun lalu mengeluarkan pensilnya.
Luhan lalu kembali fokus dengan kertas-kertas nilai dihadapannya. Ia sedang mengkalkulasikan nilai-nilai muridnya. Luhan tak sadar Jika ada sepasang mata yang tengah menatapnya.
.
'kriiiingg'
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, artinya jam mengajar Luhan telah usai. Luhan pun melihat murid-muridnya tengah bersorak gembira. Ada juga yang mengeluh 'sketsaku belum selesai'.
"Baiklah, sekarang kumpulkan sketsa kalian sambil berjalan keluar. Kumpulkan yang tertib!" Sahut Luhan sambil memberesakan barang-barangnya.
Murid-muridnya pun satu persatu mengumpulkan kertas mereka sambil keluar kelas. Mereka berpamitan pada Luhan dan Luhan membalasnya dengan senyum atau sekedar dengan beberapa nasihat. Yang terakhir keluar kelas adalah Sehun. Di kelas itu tinggal Ia dan Luhan. Ia mengumpulkan kertasnya yang kosong. Dan membuat Luhan menggeram kesal.
Sehun hanya tertawa kecil melihat reaksi Luhan. "Aku duluan sonsaengnim~"
Luhan mempoutkan bibirnya kesal, sekarang tinggal ia sendiridi dalam ruangan kelas.
"Dasar pemalas, kalau memang tidak bisa gambar setidaknya gambar saja sebisanya. Tidak per-" gerutuan Luhan terhenti ketika tanpa sadar tangannya membalik sisi kertas Sehun dan melihat potret dirinya beberapa saat lalu yang sedang sibuk dengan kertas-kertas pekerjaannya tergambar dengan sempurna. Darah Luhan berdesir, wajahnya berubah menjadi merah semu. Apalagi ketika Luhan membaca tulisan tangan sehun yang berbunyi:
"Aku hanya bisa gambar ini.
Sebagai minta maaf, malam ini aku akan datang ke apartemenmu
.Sehun."
Luhan memegang dadanya. Entah kenapa ia merasa gugup menunggu datangnya malam ini.
.
.
Sedangkan di sisi lain, Sehun tengah berjalan santai menuju asramanya sambil tak henti-hentinya menampakkan seringaiannya.
"malam ini, Kau akan resmi jadi milikku."
.
.
.
~TBC~
A/N:
Heyyoooo! Udah chapter 3 nih…
Maaf ya kalo banyak typo atau misalnya kalian ngerasa gak ngerti sama ceritanya atao ngerasa alurnya kecepetan, abis gimana yah? Di otak saya semuanya berjalan begitu cepat~
Oh ya, Saya mau ngejawabin pertanyaan-pertanyaan yang sudah masuk ke redaksi /apa sih kamu/
Q: Sehun sengaja dikirim ke bumi?
A: Yaps!
Q: Tujuan Sehun dikirim ke bumi?
A: Udah dijelasin kann? Cuma buat nge'itu' in doang kok~~
Q: Sehun jadi anaknya Youngmin?
A: SATU JUTA RUPIAAH! Ya benar!
Q: Ngapain Coba Kris nyium-nyium Luhan?
A: Yaahh namanya juga setan~ ditambah Luhannya imut begitu. Siapa yag gak tahan? (author juga mau Kkk~) /dibakar fans/
Q: Sehun bukan manusia asli ya? Tapi nanti jadi manusia gak?
A: Hmm gimana yah? Soal ini masih rahasia… hehehe
Q: Sehun Alien? Ada kekuatan khususnya?
A: bias dibilang gitu sih… kekuatannya ya angin
Q: Selama di bumi Sehun tinggal dimana?
A: Dia tinggal di asrama. Soalnya kan SM Boys High School punya asrama sendiri. Lagian Sehun harus menghemat anggaran selama tugas di bumi hohoho xD
Yaah kira-kira itulah pertanyaan yang bisa saya jawab. Oh ya, maaf gabisa balesin review soalnya ada gangguan sama ffn di jaringan saya -,-
Oh ya! Ada kabar gembira untuk kita semua *nyanyi iklan kulit manggis*
Minggu depan sudah ada NC-nya LOohhh! *tebar confetti* tidak ada NC uang kembali~ /apaan/
Yasudahlah… makasih buat yang udah baca, fav, follow, and review. Saya laminating nama kalian di hati saya *wink*
…
Review please?
