A/N: Adakah yang masih ingat dengan fanfic ini? Chapter 1 nya dipublish setahun lalu. Hahaa XD
Di pos KKN, mendadak saya teringat dengan fanfic ini dan berniat melanjutkannya. Ini semua berkat CLBK saya pada Roxas.

Ok, ok, saya memang aneh. Ngaku deh :P

Disclaimer: I don't own anything here...

The Contract

#2

Rumah Mr. Liver merupakan rumah terbesar yang pernah Roxas lihat. Tingginya hampir menyentuh langit, dengan banyak pilar menyangganya seperti kaki-kaki. Cahaya bulan membanjiri atap rumah itu dengan riang. Halamannya seluas lapangan sepak bola seperti yang ada dalam televisi. Kalau Roxas punya kesempatan untuk tinggal di rumah itu, sekalipun itu cuma sehari, dia pasti tidak akan menolak. Rumahnya dan orangtuanya ada di pinggir kota, kecil, sempit, dan tidak mampu memenuhi kebutuhannya dengan layak. Orangtuanya seharusnya mau mengeluarkan lebih banyak uang untuk merenovasi rumah. Mereka kan punya dua anak lelaki yang sudah besar!

Anak itu menekan tombol interkom yang terpapar di sisi gerbang rumah.

"Bicaralah," suara pria menyusup keluar dari speaker interkom.

"Aku ingin menemui Mr. Liver," kata Roxas.

"Kau siapa?"

"Roxas Strife. Makelar Spiritual."

"Makelar… apa?"

Roxas memutar bola matanya. "Katakan saja hal itu pada Mr. Liver. Dia akan mengerti."

"Oh, baiklah, Anak Kecil." Dan suaranya lenyap. Beberapa menit kemudian, suara lelaki itu kembali terdengar. "Masih di sana? Aku akan bukakan gerbang untukmu."

Roxas menyeringai senang.

Lelaki itu berbadan besar dan berambut pirang disisir ke belakang. Seragamnya biru gelap, seragam sekuriti pada umumnya. Dia membukakan gerbang cepat-cepat untuk Roxas, dan berkata, "Aku antar kau menemui Mr. Liver."

"Trims." Roxas seketika merasa telah menjadi orang penting.

xxOxx

Xemnas Liver bisa masuk dalam jajaran pengusaha muda tersukses senegara. Usianya, bisa dipastikan, belum melebihi usia Pappy atau Mammy—masing-masing 45 dan 46 tahun. Rambutnya perak panjang, kulitnya cokelat eksotis. Roxas akan heran setengah mati kalau lelaki setampan dan sekaya dia belum punya pacar atau istri.

Dan dia memang heran.

Xemnas Liver tidak punya keluarga di rumah raksasanya. Dia tinggal bersama pelayan-pelayannya—mereka tidak bisa disebut keluarga, bukan? Walau potret-potret raksasa lelaki dan wanita memenuhi dinding ruang tamunya, Roxas belum pernah melihat langsung satu pun dari mereka. Xemnas juga tidak pernah bercerita tentang keluarganya.

"Senang sekali kau mengunjungiku lagi, Strife," sambut Xemnas seraya menyesap teh dari cangkir poselen berpinggir gerigi tumpul.

Roxas memaksa matanya beralih dari dekorasi klasik abad ke-19 ruang tamu itu pada sang empunya rumah. "Oh, ya? Aku juga senang mengunjungimu lagi."

"Apakah ada hal mendesak, Dear?"

Roxas bergidik mendengar panggilan itu. Biasanya ibunya yang memanggilnya begitu. Mendengar panggilan Xemnas untuknya memaksa Roxas berpikir lelaki tersebut seorang pedofilia. Pedofilia predator anak lelaki imut sepertinya. Jelas aku lebih imut daripada Sora.

"Well, Sir, ini tentang kontrak itu," jawab Roxas ragu-ragu.

"Ada apa dengan kontrak itu?" Xemnas mengerutkan kening. "Apakah uang muka yang kuberikan kurang? Apakah ada yang perlu kuberikan padamu agar proses pengusirannya lancar?"

Roxas terceguk menerima berondongan pertanyaan itu. "Bukan, bukan itu. Ini soal kakakku."

"Kakakmu yang punya kemampuan spiritual itu?" Xemnas meletakkan cangkir tehnya. "Kakakmu ingin upah tambahan?"

Roxas menggeleng. "Kakakku tidak mau. Dia menyuruhku membatalkan kontraknya."

Wajah muda Xemnas seketika kehilangan ronanya. Dia tampak kecewa, sangat kecewa. Roxas menyiapkan telinganya untuk menerima omelan lelaki itu. Dia sudah sering dimarahi oleh ayahnya yang mantan tentara, oleh ibunya yang tidak bisa terima pada betapa tak bergunanya dia, dan, tentu, oleh kakak lelakinya yang sok baik.

"Itu sangat mengecewakan," sesal Xemnas. "Tadinya aku sangat berharap kakakmu yang ahli spiritual itu bisa membersihkan rumahku dari roh jahat itu…."

Roxas memasang wajah menyesal. Namun setidaknya dia merasa lega, karena Xemnas tidak memarahinya atau menanyakan alasan penolakan Sora. "Ya, aku juga tadinya berharap begitu."

"Well, kurasa aku harus mencari orang lain yang mau."

"Ya. Aku sangat menyesal. Sungguh, Mr. Liver." Roxas beranjak dari sofa beludru ungu. "Sekarang aku akan pulang."

Perlu beberapa detik bagi Xemnas untuk merespon pernyataan anak itu. "Kau mau pulang sekarang? Di jam selarut ini?"

Roxas menggulirkan bola mata birunya pada jam antik di pojok ruang tamu. Jarum pendek jam menunjuk angka sepuluh. "Masih jam sepuluh. Kalau aku tidak pulang, kakakku akan marah."

"Menginaplah di rumahku," tawar Xemnas. "Aku tidak tega melihatmu pulang selarut ini sendirian. Besok pagi aku akan mengantarmu pulang"

Menginap? Itu ide terbagus yang pernah keluar dari mulut Xemnas—Roxas belum pernah, sih, mendengar ide lain keluar dari mulut lelaki itu. sejak awal datang ke rumah besar bergaya abad ke-19 ini, Roxas memang selalu berharap bisa menginap. Kapan lagi ada kesempatan menginap di rumah raksasa ini?

"Kalau kau mengijinkan, Sir, aku akan menginap."

Xemnas tersenyum padanya.

xxOxx

Rasanya jadi orang kaya itu pasti sangat menyenangkan. Xemnas memberi Roxas kamar besar dengan perabot lengkap dan kasur beludru biru yang empat kali lebih besar dari tubuhnya. Kamarnya di rumah sangat sempit dan jelek. Apalagi kamar kosnya. Sora selalu menguasai hampir tigaperempat kamar kos. Anak itu bilang, dia yang pertama kali menyewa kamar kos dan memiliki hak penuh atas kamar tersebut.

"Selamat tidur, Strife," ujar Xemnas, wajahnya tampak dari seiris celah di antara pintu dan bingkainya.

Roxas memberinya senyum. "Terima kasih, Sir."

Xemnas tersenyum balik, dan menutup pintu.

Roxas lekas berbaring di kasur besarnya. Sangat empuk dan nyaman. Dia begitu beruntung bisa menikmati kasur besar dan nyaman ini. sora di rumah pasti sedang mengomel karena adiknya tak kunjung pulang. Besok, setelah dia pulang ke kos-kosan, dia akan menceritakan segalanya pada Sora. Kakaknya itu pasti iri besar.

Baru sebentar dia tidur, ponselnya berdering keras. Roxas mengangkat tanpa membaca nama peneleponnya.

"Di mana kau, Bocah Mata Duitan?"

Roxas lekas menjauhkan ponsel dari telinganya dan membawanya ke depan wajah. Sora.

"Hei, kau tidur di jalan, ya?"

Roxas melekatkan ponsel di telinganya lagi. "Aku menginap di rumah Mr. Liver, Goblok!"

Sora terkekeh. "Jadi kau sudah berani memakiku? Oke,selamat menginap. Kalau bisa, tidak usah pulang sekalian."

Ponsel dibanting ke lantai tanpa peduli apa. Roxas segera berbaring lagi di kasur, berguling-guling, dan memejamkan mata. Seberapa kerasnya pun dia mencoba tidur, dia malah sakit kepala. Dan air matanya mendadak tumpah.

xxOxx

"Aku kenal seseorang yang tidak menghargai saudaranya sendiri."

Roxas berusaha membuka matanya yang berat. Kegelapan.

"Dia orang yang egois dan sok tahu," lanjut suara itu. "Lalu, dia mengusir adiknya sendiri. Beberapa tahun kemudian, dia bertemu dengan adiknya lagi. Dalam wujud mayat."

Roxas bangkit dari kasurnya. "Siapa yang bicara?"

"Menyesal. Menyesal. Menyesal. Terlambat, sih, tapi tidak ada salahnya menyesal."

Tangan Roxas merayap di nakas, lalu menyalakan lampu meja. Kamar itu kosong melompong. Hanya dia sendiri yang ada di kamar.

"Dengar, Bocah," kata suara itu lagi, suara remaja laki-laki, "kau sudah memasuki rumahku, jadi kau harus membayar."

"Membayar?"

"Bayarannya mudah saja," kata suara itu.

Mendadak Roxas merasakan sekujur tubuhnya menegang dan menggigil. Dia memeluk lengannya, menggemeletukkan gigi, bola matanya bergulir memindai seisi kamar. Tidak ada. Tidak ada apa-apa!

"Siapa kau?!"

Andai Sora ada bersamanya sekarang, dia pasti akan menemukan sosok itu dan mengusirnya untuk membuat adiknya merasa jauh lebih baik. Mengingat Sora, dia malah merasa menyesal dan berdosa.

"Kasihan sekali anak ini."

Sosok itu muncul. Seorang anak laki-laki setingginya. Dia tertawa melengking, mirip tawa orang gila. Roxas ketakutan. Sangat takut! Pertama kali dalam hidupnya, dia membutuhkan Sora.

TBC

Well, how was it?
Review boleh kok :V