A/N: Oke, saya kembali lagi! KKN saya sudah selesai! Horeeeee! Sekarang saya berada di Singaraja lagi, dekat dengan peradaban, dan bisa nulis dengan tenang :)

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para pembaca dan pe-review :) Kalau tulisan saya ada yang baca dan review itu, rasanya kayak jadi orang paling bahagia di dunia! Beneran!

Dan CLBK ini masih terus berlanjut...


The Contract

#3


Pintu kamar digedor. Sora terbangun dari tidur tak nyenyaknya, menyipit pada sinar matahari yang menerobos kaca jendela. Semua ini gara-gara Roxas. Sudah mengontrakkan kakaknya seenak dirinya sendiri, kemudian dia menginap tanpa memberitahunya apa-apa. Apakah anak itu tidak tahu kalau kakaknya sangat khawatir? Mammy dan Pappy sudah berpesan padanya untuk menjaga adiknya. Mereka pasti marah besar jika terjadi sesuatu pada adiknya yang mata duitan itu.

Gedoran itu semakin keras. Sora mendecak sebal, dan membuka pintu.

"Akhirnya kau pulang juga, Mata Duitan," sindirnya pada Roxas yang berdiri di depan pintu.

Adiknya tidak merespon apa-apa, tapi segera masuk dan berbaring di tempat tidur. Sora merasakan sesuatu mengganjal hati dan pikirannya hanya dengan melihat mata biru adiknya. Mata itu… kosong. Mata itu tertutup sesuatu.

"Hei, kau kenapa?" tanyanya pada adiknya.

Roxas tidak membalas.

Sora mendatangi anak itu, dan duduk di sampingnya. Tangan kanannya meraba kening adiknya, meremas.

Sesuatu seperti gelombang petir menyergap kulitnya. Sora merasakan seluruh isi kepalanya sedang diaduk kencang, dan ketika adukan itu berhenti, dia melihat sesuatu yang lainnya. Seorang anak laki-laki. Samar-samar wajahnya mirip dengan wajah Roxas, rambut pirangnya pun sama. Namun tatapannya berbeda. Seperti tatapan penuh kebencian dan iri dengki. Anak itu terkekeh-kekeh.

"Siapa kau?" sergah Sora. "Kenapa kau bisa ada dalam benak adikku?"

Anak laki-laki itu mencebik dan berkacak pinggang. "Jadi, anak ini adikmu? Wah, aku kaget. Kau bisa berhubungan dengan roh orang mati, tapi adikmu ini tidak bisa sama sekali. Kemarin malam aku merasukinya, dan dia cuma menangis dalam ketakutan. Anak ini tidak punya pertahanan sama sekali!"

"Keluar kau! Tinggalkan adikku sendiri!" Sora membentak.

"Aku akan keluar setelah aku punya rumah baru," balas anak itu, santai. "Untuk sementara aku tinggal di sini saja."

"Kalau begitu, gunakan tubuhku saja!"

Anak laki-laki bertatapan sangar itu terbahak-bahak, lalu, "Kau mau menipuku, ya? Kau ini punya kemampuan spiritual itu. Aku tahu apa yang akan kaulakukan setelah aku meninggalkan tubuh adikmu yang tidak berguna ini dan masuk ke tubuhmu; kau akan membawaku ke laut atau gunung, dan membuangku di sana. Lalu, BUM! Aku akan dijemput oleh malaikat maut ke neraka, tempat seharusnya aku berada."

Sora meremas tinjunya. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. "Kalau kau tidak mau, akan kupaksa kau!"

"Paksa saja!" sentak anak itu. "Akan kubawa serta jiwa anak ini ketika aku keluar, lalu kau akan mendapati tubuh adikmu tanpa jiwa. Seperti cangkang kosong. Bagus sekali, bukan?"

"Hantu sialan."

"Ada lebih dari seratus orang yang pernah menyebutku begitu. Tapi yang lebih parah, beberapa menyebutku Bedebah Gentayangan."

Sora membuka matanya. Roxas masih berbaring di tempat tidur dengan mata mendelik lebar. Sora masih bisa mendengar tawa hantu remaja itu dalam kepalanya. Dia harus mengusirnya dari tubuh Roxas, atau selamanya Roxas akan menjadi perantara.

Perantara. Ya, itu dia!

Sora harus bisa mencarikan perantara baru bagi hantu itu! Perantara yang tepat.

"Akan kucarikan kau rumah baru," katanya pada si hantu.

"Oke, itu bagus," balasnya. "Tapi jangan buang-buang waktu. Aku mulai menikmati rumahku saat ini, tubuh anak tolol yang tidak disukai oleh siapa pun, yang merasa hidupnya tidak berguna, mata duitan, dan… apa lagi ya? Tidak dihargai?"

"Roxas bukan orang seperti itu."

"Oh, jadi namanya Roxas?" hantu itu terkikik. "Roxas yang malang dan kakaknya yang profesor bidang Hantu-O-Logi."

Sora yakin, kalau saja makhluk ini bukan hantu, dia pasti sudah menghajar wajahnya.

"Well, sampai jumpa lagi, Profesor Hantu-O-Logi. Aku ingin jalan-jalan dengan tubuh baruku!"

Segera setelah kalimatnya selesai, Roxas bangkit. Anak itu berjalan gontai, seperti tidak punya tulang, keluar dari kamar kos. Sora tersentak. Buru-buru dia mengenakan pakaian normal, alih-alih baju dalam dan celana pendek, dan mengejar adiknya. Hantu itu sudah benar-benar menguasai tubuh Roxas. Bisa-bisa jiwa Roxas-lah yang harus meninggalkan tubuhnya dan mencari tubuh baru. Oh, tidak! Tidak boleh! Sora tidak mau punya adik bertubuh baru tapi dengan sifat yang sama.


xxXxx


"Mammy."

"Halo, Sayang! Bagaimana sekolahmu?"

Sora merinding mendengar pertanyaan itu. Dia bolos. Bolos demi memastikan hantu itu menggunakan tubuh adiknya dengan benar. Si hantu tanpa nama melangkah cepat melintasi jalan-jalan kota. Tiba-tiba saja dia telah memasuki stasiun, naik kereta tanpa membayar tiket—dan Sora-lah yang harus membayarkan tiket untuknya, dan akhirnya tiba di pantai. Sora bergidik membayangkan Roxas akan terus-terusan seperti itu sampai dia berhasil menemukan rumah baru bagi si hantu.

"Tunggu, jangan dijawab!" Mammy berteriak di sisi lain telepon. "Kau bolos. Benar, bukan?"

"Mammy, keadaannya gawat. Gawat sekali!"

"Biar kutebak, Sora. Kau menandatangani kontrak pengusiran hantu lagi, jadi kau harus bolos sekolah untuk menyelesaikan kontrakmu."

"Bukan, Mammy! Sesuatu yang lebih gawat!" Sora melipir ke balik sebatang pohon kelapa besar. Dilihatnya Roxas berjalan tanpa arah di pesisir pantai. "Ini tentang Roxas."

"Jadi Roxas juga ikut bolos denganmu?" Mammy terdengar kaget. "Bagus. Minggu ini kalian pulang ke rumah. Mammy dan Pappy akan memberi kalian ceramah sepanjang dua puluh empat jam!"

"Mammy, bagaimana caranya menemukan rumah baru untuk hantu yang sudah merasuki seseorang?" Sora menyergap.

Mammy memiliki indra keenam sekuat milik Sora. Indra keenam adalah kemampuan spesial yang diturunkan dari kakek buyut-buyut-buyut-buyut Mammy kepada keturunannya. Sora mewarisi kemampuan itu, tidak seperti Roxas yang normal senormal anak biasa. Tujuan Sora memberitahu Mammy hal yang sesungguhnya terjadi adalah karena Mammy—pasti—tahu cara yang tepat untuk menyelamatkan Roxas.

"Ah, jadi kontraknya untuk mencarikan rumah baru buat hantu?" Mammy terdengar mengejek.

"Mammy, kumohon, dengarkan aku dulu!" Sora nyaris berteriak. Matanya masih terpaut pada sosok adiknya yang kini melangkah masuk ke air laut. Jauh, makin jauh….

"Baik, Mammy akan dengarkan."

"Ini tentang Roxas. Dia…." Sora terbelalak, ketika Roxas menenggelamkan tubuhnya sendiri ke laut. Sekonyong-konyong Sora melempar ponselnya ke pasir pantai, dan menghambur masuk ke air untuk menyelamatkan adiknya. Hantu itu sudah keterlaluan!

Orang-orang seketika berteriak melihat kejadian itu. Beberapa pria menyusul Sora yang telah menyemplung ke dalam laut. Kepanikan seketika berputar-putar di udara.

Sora bisa berenang, untung saja. Dia menemukan adiknya mengapung-apung di laut, kedua tangan terentang ke atas, rambut menutupi wajah. Sebisanya dia menggapai tangan Roxas, melawan arus dan ombak dan… getaran spiritual. Si hantu sialan, Bedebah Gentayangan.

"Kau gila, ya, Bedebah Gentayangan? Kau bilang kau ingin menjadikan tubuh adikku sebagai rumah, tapi kenapa kau malah menenggelamkannya?" sergapnya pada si hantu.

"Menenggelamkan? Kami cuma sedang menikmati laut!" balas si hantu. "Dan omong-omong, namaku Ventus. Aku tidak suka nama Bedebah Gentayangan itu."

"Tapi kau bisa membunuhnya, Brengsek!"

"Dia tidak akan mati selama aku masih menggunakan tubuhnya."

Tubuh Roxas diraih oleh beberapa penolong yang tadi mengikuti Sora ke air, lalu diangkat naik. Dua orang lainnya meraih lengan Sora dan membawanya naik juga. Sora dapat mengembus napas lega melihat adiknya sudah berada di tangan yang lebih aman, dan dirinya sendiri juga sudah lebih aman.

Basah kuyup, Sora mendatangi adiknya yang dibaringkan di pasir dan dikelilingi orang-orang. Dia menyingkirkan punggung-punggung mereka, dan berlutut di samping tubuh lumpuh adiknya.

"Roxas?"

"Kau kenal dia?" tanya seseorang di sebelahnya.

"Aku kakaknya." Tangan Sora menyentuh dahi basah Roxas. Dia merasakan kehadiran si Bedebah Gentayangan, Ventus.

"Apa kau sadar apa yang adikmu ini tadi lakukan?"

"Dia tidak tahu apa yang dia lakukan," jawab Sora, merasakan tawa Ventus berdentaman dalam kepalanya. Hantu itu harus pergi!

"Bunuh diri! Kau dengar? Bunuh diri!"

"Tidak! Seseorang mencoba membunuhnya!" bentak Sora. Mata semua orang bergulir ke arahnya. Sorot mereka menampakkan keterkejutan dan caci maki.

Tiba-tiba dia mendengar suara Ventus dalam kepalanya, "Membunuhnya? Sudah kubilang, dia tidak akan mati selama aku masih menggunakan tubuhnya! Kau ini bodoh, ya?"

Sesuatu dalam diri Sora meledak. Seketika dia mendudukkan adiknya, mencengkeram kerah bajunya, dan menjerit di telinganya, "Keluar kau, Setan! Kembalikan Roxas!"

Dia mendengar orang-orang meneriakinya sesuatu. Dia mendengar Ventus cekakakan menghinanya. Dan dia mendengar dirinya sendiri menjerit sambil menahan tangis. Roxas memang menyebalkan, bodoh, mata duitan, dan tidak peduli pada siapa pun selain dirinya sendiri. Namun semenyebalkan apa pun dia, dia tetap adik Sora.

Roxas mendelik. Mata birunya memandang lurus, mulutnya terbuka. Sora mengguncang tubuhnya kuat-kuat, masih menahan tangis.

"Sora?"

Panggilan itu menyentak sadar Sora. Memandang wajah adiknya, dia menemukan kehidupan di sana. Itu sorot seorang Roxas Strife, bukan si hantu. Sekonyong-konyong dia memeluk adiknya.

"Anak bodoh! Kau membuatku khawatir! Astaga, kau membuatku hampir mati khawatir!"

Roxas membalutkan kedua tangannya ke punggung Sora. "Maaf. Maafkan aku…. Aku takut sekali. Aku takut…."

"Tidak apa-apa. Aku ada di sini."

"Bisakah kita pulang sekarang?" Roxas melepas pelukannya. "Aku ingin… tidur. Lelah sekali…."

Sora membantu adiknya berdiri. Keduanya memandang orang-orang yang tadi mengerumuni mereka, dan mengucapkan banyak terima kasih. Saat mereka menawarkan tumpangan pulang, Sora menolak. Dia yakin bisa membawa adiknya pulang tanpa kendala berarti. Lagi pula Ventus mendadak hilang dari benak Roxas. Mungkin hantu itu sudah menemukan rumah baru di antara orang-orang tadi. Itu bagus. Yang penting Roxas sudah aman.


TBC


A/N: Di laptop saya, saya sudah selesaikan sampai chapter 8. Keceeh banget kan? Hahahahaaaaaa xD