A/N: Ini dia chapter 4!
Fanfic ini benar-benar mengarah ke fantasi. Mungkin bakal kuganti genre-nya :P
Terima kasih sebanyak-banyaknya buat para pembaca dan pe-review. Fanfic ini bisa terus berlanjut berkat kalian semua :D
Disclaimer: KH dan karakternya bukan milik saya.
The Contract
#4
Mengetahui adiknya sudah tidur pulas, Sora menapaki kembali jalanan menuju pantai. Ponselnya terjatuh di sana, dan dia harus menghubungi ibunya untuk meminta bantuan. Ponsel Roxas sudah hilang entah ke mana. Anak itu seperti tidak punya sisa tenaga sama sekali setelah dirasuki Ventus. Dia segera menggeletak dan mendengkur di tempat tidur kos.
Ventus memang hilang tadi, tapi Sora punya firasat hantu itu akan datang lagi. Hantu itu bukan tipe yang akan menyerah sebelum mendapatkan rumah baru. Dan indra keenam Sora baru saja memberitahunya tentang hal itu.
Begitu sampai di pantai, dia segera menyusuri tempat mana saja yang tadi dia lewati. Dia tidak punya pendeteksi logam—dan ini bukan film fiksi ilmiah atau fantasi sejenis itu. Sora terpaksa harus membungkuk dan mengendus seperti seekor anjing.
"Nah, inilah yang kusebut sebagai keberuntungan," serunya, ketika matanya menangkap keberadaan ponsel malangnya di bawah timbunan pasir putih pantai. Mengeluarkan ponselnya, dia mengelap sisa pasir dengan kausnya. Ada empat belas panggilan tak terjawab dan enam pesan dari ibunya. Sora mengakses pesan-pesan singkat itu.
Sor, ada apa?
Mana Roxas? Suruh dia telepon Mammy! Ponselnya tidak bisa dihubungi.
Jawab Mammy!
Apa maksudmu dengan mencarikan rumah baru buat hantu?
Pulang ke rumah Minggu ini. Titik.
Mammy punya firasat buruk, Sayang. Pulanglah hari Minggu ini. Satu lagi, JANGAN BOLOS!
Sora cepat-cepat mengetik pesan singkat balasan:
Semuanya baik-baik saja, Mammy. Roxas juga baik. Jangan khawatir. Ya, kami akan pulang hari Minggu ini.
Pulang. Roxas dan dia harus pulang ke rumah di mana Mammy dan Pappy berada. Mammy bisa membantu.
Dengan pikiran itu, Sora memutuskan segera pulang ke kosnya. Roxas mungkin sudah bangun. Mungkin saja Ventus…. Oh, berhenti berpikir yang aneh-aneh, Sora!
Sora memasukkan kunci ke lubang pintu kamar kosnya. Dia terkejut saat kunci tidak bisa diputar ke kiri. Lantas dia sadar kamar itu sudah tidak terkunci lagi. Sekonyong-konyong dia menjeblak pintu dan menghambur masuk.
Pemandangan yang dia lihat tidak begitu jauh berbeda dengan pemandangan sebelum dia meninggalkan kamar. Hanya saja….
"Roxas?!"
Seketika dia menghambur keluar lagi. Sora ingat benar dia telah mengunci pintu, dan dia tidak meninggalkan kunci cadangan di dalam kamar. Dia juga tahu, seorang Roxas Strife tidak mungkin bisa menghancurkan kunci pintu dengan tangan kosong atau dengan benda apa pun. Anak itu terlalu sayang pada segala benda yang ada. Salah satu ciri seorang mata duitan.
Jangan bilang kalau Ventus sudah merasuki Roxas lagi!
Sora menelan rasa malunya ketika dia menggedori pintu kamar tetangga-tetangganya dan bertanya, "Kau lihat Roxas?". Meski jawaban tidak selalu muncul, dia terus menggedor dan bertanya. Hingga akhirnya dia mencapai pos sekuriti penjaga kos-kosan. Dia bertanya terburu-buru,
"Sir, kau lihat Roxas?"
Lelaki itu mengerutkan keningnya. "Siapa Roxas?"
Sora menepuk jidatnya. Dia lupa si sekuriti tidak mengenal semua penyewa kamar kos. "Dia adikku. Tahun pertama SMA. Pendek, rambut pirang, mata biru, lalu jalannya seperti… hantu."
Kerutan di dahi lelaki itu semakin jelas. "Apa?"
"Pokoknya, dia berjalan seperti tidak punya tulang!"
Beberapa menit yang terasa sangat lama, lelaki itu akhirnya berseru, "Oh, si lemas itu? Dia tadi keluar, tapi waktu kutanya hendak ke mana dia, dia tidak menjawab."
Sora tidak memberinya respon lagi; dia melesat keluar dari kawasan kos-kosan. Instingnya berkata, bukan Roxas yang ingin pergi ke luar, tapi Ventus.
"Ventus, dengar, aku bukannya tidak suka kau ada dalam tubuhku," Roxas berkata selembut mungkin, berusaha tidak melukai perasaan si hantu, "tapi ini tubuhku, seharusnya akulah yang menggunakannya."
Ventus terkikik. "Ini biaya sewa rumahku: aku akan menjadikan tubuhmu rumah baruku!"
"Kenapa tubuhku?" Roxas menahan keinginannya untuk menangis. "Aku cuma anak biasa! Aku tidak bisa melihat hantu, atau mengusir mereka. Aku juga tidak punya kemampuan seperti Sora!"
"Itulah mengapa aku memilih tubuhmu, Bocah!"
"Keluar kau, Sialan! Keluar!"
"Sekali lagi kau berteriak, kukirim jiwamu ke neraka dan kuambil alih tubuhmu seutuhnya."
"Lebih baik tubuhku hancur daripada digunakan oleh hantu sepertimu!"
Roxas merasakan kaki kanannya mengambang di udara. Angin berembus dari bawah, meniup rambutnya ke atas hingga kaku. Separuh dirinya menolak kelakuan itu, tapi separuh lainnya menyetujuinya.
Selamat tinggal, Mammy, Pappy, Sora….
Sora ngos-ngosan, tangan menyentuh dinding sebuah toko untuk topangan. Harus ke mana lagi dia mencari adiknya? Sial! Seharusnya tadi dia ikat saja anak itu. Oh, tidak. Itu jahat sekali!
Dia mencoba menemukan Roxas dengan mengandalkan indra keenamnya. Roxas memang tidak punya kemampuan yang sama, tapi setidaknya mereka punya hubungan darah. Semoga saja dengan begini Sora bisa menemukan anak mata duitan pembawa petaka itu.
Sesuatu terlihat. Sebuah jembatan besar yang sepi. Di bawahnya ada jalan tol lebar yang penuh kendaraan. Sora mendekat. Dilihatnya sosok anak laki-laki berdiri di atas pagar jembatan. Dia mendekat lagi. Kini dia berteriak.
"Roxas!"
Namun dia lupa. Dia hanya bisa melihat jembatan itu. Tubuhnya masih tetap di posisi bertopang pada dinding.
Astaga! Aku harus bagaimana sekarang?
Serentak dengan selesainya umpatan itu, Sora melihat seseorang menarik tubuh Roxas tepat sebelum dia terjun. Lelaki itu berambut perak dan kulitnya kecokelatan. Dia mengenakan jubah hitam sepanjang lutut dan sarung tangan hitam.
Astaga! Sekarang muncul penculik!
Roxas ambruk seketika begitu turun. Lelaki itu menengok-nengok sekeliling sejenak, lalu membopong tubuh Roxas. Sora panik sambil mencoba mendekati lelaki itu. Namun lelaki itu tidak terusik sama sekali oleh kehadiran jiwa Sora. Dia malah memasukkan Roxas ke mobilnya, dan menutup pintu. Sial. Sora harus hadir di sana bersama tubuh kasarnya, bukan cuma jiwanya saja.
Si rambut perak duduk di kursi penumpang, dan mobil melaju meninggalkan jembatan.
Sora tersentak sadar. Para pejalan kaki memandanginya seolah dia sudah gila. Mengabaikan tatapan itu, dia bergegas mengejar mobil yang telah membawa adiknya. Dalam ingatannya, dia melihat mobil hitam dan lelaki berjubah hitam dengan rambut perak. Ada ribuan orang dan mobil dengan ciri-ciri seperti itu! Bagaimana mungkin dia bisa menemukan adiknya tanpa mengetahui ciri-ciri spesifik penculiknya? Astaga, astaga, ASTAGA!
TBC
A/N: Demikian….
Chapter berikutnya bakal saya post minggu depan atau dua minggu lagi. Tergantung dari kesibukan saya (Cieeeeh sok sibuk nih yee)
Btw, kemarin saya ngajar di sekolah xD (ini diabaikan saja)
Terima kasih sudah baca :D
