A/N: Hmm, no review kemarin. No PROBLEMO laah XD
Saya baru sembuh dari cacar. Tp belum total sih :P
Yah, pelarianku selama panas-dingin seminggu adalah menulis, main Resident Evil 4, dan merencanakan fanfic KH berbau RE4.
Oke, saya memang aneh :P
Well, fanfic ini masih berlanjut lhooo
Here we go!
The Contract
#5
Ventus adalah hantu nakal terkonyol yang pernah dia temui—yah, Roxas memang belum pernah bertemu dengan hantu lain sebelumnya, tapi kelakuan Ventus si Hantu ini benar-benar keterlaluan konyolnya! Hantu itu membuatnya bertingkah seperti orang gila, meniru gerak dan suara ayam, meniru sapi, kerbau, dan akhirnya menggelepar-gelepar seperti cacing kepanasan.
"Ya ampun, kau tidak apa-apa?" tanya lelaki itu, lelaki yang membawanya dari jembatan ke rumah besar bergaya klasik ini.
Samar-samar Roxas ingat siapa dia. Ventus menutupi sebidang ingatannya dengan tawa keji dan gilanya.
"Biar kutelepon keluargamu," lanjutnya, meraih gagang telepon. "Kakakmu, mungkin?"
"Tunggu sebentar, Pak Tua!" Roxas menjerit. Bukan, itu bukan Roxas! Itu Ventus!
Lelaki itu berhenti di tempat, gagang telepon diletakan kembali. "Kau bilang apa, Strife?"
"Strife?" Roxas bersedekap. "Namaku bukan Strife! Aku… Ven… Ro… Ven…."
Berhenti mengakui tubuhku sebagai milikmu, Ven!
Kupukul kau, Roxas! Kugigit kau! Atau… kugelitik kau sampai mati!
"Kupikir kau agak sakit, Nak. Biar kutelepon…. Aku baru ingat aku tidak tahu nomor telepon kakakmu atau keluargamu. Seharusnya kau kubawa pulang ke tempat kakakmu, tapi aku tidak ingat tempatnya padahal baru tadi pagi aku mengantarmu ke sana. Ingatan yang payah."
"Ya, kau memang payah!" sentak Roxas.
"Biar kutelepon dokter." Dia meraih gagang telepon lagi, dan menekan nomor.
Roxas melawan gerak Ventus yang mencoba meraih guci. Dia tahu Ventus pasti mencoba membunuh lelaki itu. Xemnas? Ya, dia Xemnas! Tergesa-gesa dia mendudukkan diri di sofa, bersedekap dan memejamkan mata.
"Aku tidak yakin dokter akan bisa menyembuhkanmu," Xemnas berkata padanya, terdengar pasrah. "Biar kupanggilkan paranormal yang baru saja kurekrut. Namanya Garland."
Roxas tidak tahu siapa Garland itu. Dia masih tetap berfokus mengekang keinginan jahat Ventus.
-0-0-0-
Biasanya tidak ada orang bodoh yang mau mengaku dirinya bodoh. Seperti Sora. Dia bodoh, dan dia tidak mau mengakuinya. Anak itu berlarian ke sana-ke mari, memeriksa setiap mobil hitam dan menginterogasi setiap lelaki tinggi berjubah hitam untuk menemukan adiknya. Ketika akhirnya dia kewalahan dan orang-orang menganggapnya sedikit sakit, dia baru teringat pada kemampuannya. Indra keenam, hubungan darah.
Dia duduk di bangku taman, merasakan angin meniupi kulitnya dan mengeringkan keringatnya. Matanya terpejam, lalu jiwanya terbang mencari bau darah Roxas. Perlu beberapa menit baginya untuk menemukan bau itu, bau yang sangat tajam yang menguar dari perbukitan Golden Apple. Sora tahu tempat itu diperuntukan bagi orang-orang kaya, perumahan penuh emas dan permata dan uang dan… pohon apel. Seperti anjing, dia mengikuti ke mana bau itu membawanya. Sebuah rumah besar berpagar tinggi.
Seketika dia membuka mata, dan berlari ke halte bis terdekat.
Matanya berkilauan memandang rumah raksasa itu. Tidak. Tidak ada waktu untuk terkagum-kagum. Penculik Roxas ada di dalam rumah itu. Aneh. Penculik kaya raya menculik anak mantan tentara dan penjual bunga.
"Kau siapa?" tanya sekuriti yang keluar dari posnya dan berdiri di balik pagar. Matanya menunjukkan dia mencurigai penampilan mengerikan Sora yang seperti baru menerjang badai petir di siang bolong.
"Keluarkan orang berjubah hitam, berambut perak, dan berkulit gelap itu!"
Sekuriti itu mendelik.
"Dia menculik adikku!"
"Apa?"
Sora mencengkeram jeruji pagar. "Kau dengar aku? Orang itu, yang berjubah hitam dan berambut perak, telah menculik adikku!"
"Maksudmu Mr. Liver?" Mata sekuriti itu membola sempurna. "Cuma dia yang punya rambut perak di rumah ini."
Mata Sora ikut membola sempurna. "Oh, jadi namanya Mr. Liver?" Dia mengguncang pagar, teringat pada kontrak yang Roxas beritahukan padanya kemarin. "Suruh dia keluar! Orang itu telah menipu adikku, memaksanya mengontrakkan kemampuanku, dan akhirnya dia menculik Roxas karena aku menyuruhnya membatalkan kontrak! Kembalikan adikku sekarang juga!"
"Kau kenal si Makelar Spiritual itu? Anak aneh yang menginap di sini kemarin?"
"Buka gerbangnya!" Sora membentak. "Atau kuhancurkan posmu!"
"Hei, aku punya koneksi dengan pihak kepolisian. Kalau kau berani mengancamku lagi, kutelepon pihak kepolisian agar menyeretmu ke kantor!" ancam sekuriti itu.
Sora merasakan wajahnya mendidih. Berfokus, dia memusatkan matanya pada walkie-talkie yang terselip pada sabuk si sekuriti. Benda itu terangkat lepas dari sabuk, dan mengambang di depan wajah si sekuriti. Sora menyeringai, masih mempertahankan walkie-talkie.
"Aku bisa lakukan yang lebih buruk dari ini," katanya. "Aku tinggal berpikir jantungmu berhenti berdetak, dan jantungmu akan benar-benar berhenti berdetak." [1]
Seperti badai, sekuriti itu menyambar walkie-talkienya dan membuka gerbang tergesa-gesa. Dia menepi memberi jalan kepada Sora. Sora masuk dengan santai, melirik wajah ngeri lelaki itu. Sejenak kemudian, dia melesat menuju pintu utama rumah.
Tidak ada yang membukakan pintu untuknya. Yah, karena dia tidak mengetuk. Anak itu menghambur masuk, mengabaikan teguran orang-orang berseragam pelayan yang dia lewati. Bau darah Roxas menguar semakin kuat, makin kuat. Bau itu berasal dari balik pintu cokelat berukir-ukiran. Sora membuka paksa pintu itu dengan pikirannya.
Di balik pintu itu terdapat kamar tidur. Kasurnya besar, berlapis beludru biru, kanopi dan gorden. Benar-benar mirip dengan kamar tidur dari jaman kerajaan abad 19. Lelaki berjubah hitam dan berambut perak berdiri di sisi tempat tidur raksasa itu. Lelaki lainnya yang berambut merah menyala duduk di kasur, bagian atas badannya diputar memandang seseorang yang sedang berbaring di kasur. Hanya telapak kaki orang itu yang terlihat.
"Aha!" Sora berseru, menarik perhatian kedua orang itu. "Kau terkepung! Kembalikan Roxas!"
Lelaki berjubah hitam mendekati Sora. Wajahnya lembut, tidak sangar seperti dalam pikiran Sora. "Nak, apakah kau mengenal Roxas?"
"Tentu saja, Pak Tua! Dia adikku!" Sora berderap ke arah lelaki berambut merah dan orang yang berbaring di kasur. Roxas-lah yang berbaring di kasur. Anak itu mendelik, kedua tangan mencengkeram seprai, kedua kakinya kejang. "Roxas!"
Lelaki berambut merah memandangnya kaget. "Tahan dulu, Nak. Saudaramu ini…."
"Dirasuki! Aku tahu dia dirasuki setan bedebah bernama Ventus!" sentak Sora. "Aku akan membawanya pulang dan menyembuhkannya."
"Maksudmu, kau bisa…?" tanya si rambut merah. Matanya hijau seperti mata kucing, dengan tato tetes air ungu di bawahnya.
"Bisa? Jelas!" Sora melepas cengkeraman Roxas dengan susah payah. "Aku Sora sang Master Spiritual!"
"Sora Strife, Master Spiritual. Dan Roxas Strife, Makelar Spiritual," sahut lelaki berambut perak. Dia berdiri di belakang Sora, dan menyentuh bahunya. Sora segera menepis tangannya. "Namaku Xemnas Liver. Aku menemukan adikmu di jembatan, mencoba terjun. Ketika aku menegurnya dan membawanya turun, dia malah pingsan. Aku tidak ingat di mana rumah kalian dan berapa nomor teleponmu, jadi kubawa dia ke rumahku."
"Itu menjelaskan kelakuanmu tadi," gumam Sora, membiarkan Roxas terkulai ke bahunya.
"Dan ini," si rambut perak menuding si rambut merah, "Axel Garland, paranormal yang kusewa untuk menyembuhkan adikmu."
Sora memandang hina lelaki bernama Axel itu. Tampangnya lebih cocok dikaitkan dengan anggota grup band—jadi baser, mungkin. Dia tidak percaya lelaki itu bisa menyembuhkan Roxas.
"Maaf sudah membuatmu repot," katanya. "Tapi aku bisa mengatasinya sendiri." Dengan seluruh kekuatannya, Sora menggendong Roxas di punggungnya. Anak itu masih mendelik dan membisu. Tangannya mencengkeram kaus Sora, kedua kakinya mengempit erat pinggangnya.
"Biar kuantar kalian," kata Xemnas. "Aku sudah menganggap Roxas sebagai putraku sendiri."
Sora terdiam sejenak. Lalu dia mengangguk.
TBC
Catatan:
1: Quote yang diambil dari novel Carrie karya Stephen King.
