A/N: Haloo! Saya update lagi. Sudah berapa lama ya? Hmm… belakangan ini saya sibuk banget, sih….

Well, ada sedikit CloudXAerith di sini, karena pairing ini adalah pairing FF pertama yang saya suka!

Disclaimer: Still own nothing but the plot.

Into the story~


The Contract

#6


"Ven, kumohon, biarkan aku menggunakan tubuhku lagi!"

Ventus terkikik. "Supaya aku mencari tubuh baru sendiri? Tidak, Bocah!"

Roxas belum pernah melihat wajah Ventus dengan jelas. Dia berpikir, Ventus pasti hantu berwajah seram atau tidak punya anggota tubuh lengkap. Saat hantu itu muncul dalam benaknya, menampakkan wajah, mata, dan rambutnya, dia terlonjak kaget.

Ventus masih muda, semuda dirinya sendiri dan Sora. Matanya biru langit, dengan bulu mata pendek dan tebal. Rambutnya sewarna madu, digaya ke kanan dalam bentuk duri-duri pendek. Wajahnya ramping, meski pipinya agak tembam. Andai ada cermin dalam benak Roxas, dia yakin wajahnya dan wajah Ventus sama. Persis.

"Astaga," rintihnya. "ASTAGA! Kau mencuri wajahku!"

Ventus memberengut. "Enak saja! Kau yang mencuri wajahku!"

"Tidak, tidak, TIDAK!" Roxas berteriak. "Sudah cukup kau mencuri tubuhku dan wajahku! Aku sudah muak!"

"Bocah tengil! Seharusnya kakakmu yang memiliki wajahku, bukan kau!"


-0-0-0-


Wajah Mammy dan Pappy seputih tepung ketika Sora membawa Roxas ke hadapan mereka dan menceritakan apa yang telah terjadi pada anak itu. Mammy sekarang tampak sedang menahan tangis, sedangkan Pappy membawa Roxas masuk ke kamarnya. Mammy meminta Sora segera ke dapur untuk membicarakan masalah ini.

"Sora, Mammy tidak tahu harus berkata apa," Mammy membuka pembicaraan sambil menuangkan segelas jus. "Bukankah seharusnya kau bisa melindungi adikmu? Kau bisa mengusir roh itu dengan mudah, bukan?"

"Mammy, semua terjadi begitu saja," elak Sora, memandang lapar gelas jusnya. "Hantu itu tidak mau meninggalkan tubuh Roxas. Dia mengancam akan membawa jiwa Roxas ke neraka dan mengambil alih tubuhnya seutuhnya jika aku memaksanya pergi!"

Mammy duduk di sampingnya. "Kau pernah melihat hantu itu?"

"Ya, samar-samar."

Mammy mendesah. "Mammy ingin membantumu dan adikmu, tapi Mammy sekarang sudah tidak punya indra keenam lagi."

Seperti baru disambar petir, Sora terhenyak di kursinya. "Jadi Mammy tidak bisa menolong Roxas?"

"Bukan itu yang ingin Mammy katakan," elak Mammy. "Kemampuan ini diwariskan turun temurun dari kakek buyut-buyut-buyut-buyutmu yang hidup di abad ke-19. Kau adalah keturunan abad ke-21 yang mewarisinya dari Mammy, dan otomatis Mammy sudah kehilangan kemampuan itu."

Sora merasakan tubuhnya lumer di tempat. "Lalu Roxas bagaimana?"

Mammy memilin rambut cokelatnya, kebiasaannya jika sedang berpikir. "Mungkin kita harus membawa Roxas ke tempat yang damai. Dulu Mammy pernah membawa pasien yang seperti Roxas ke pulau kecil di ujung sana…. Tempat yang damai, hanya kami berdua. Lalu Mammy memisahkan jiwa dari tubuh Mammy dan masuk ke benaknya."

"Kurasa aku tahu harus apa."

-0-0-0-

"Bagaimana keadaannya, Cloud?"

Pappy menoleh. Keremangan kamar membuat wajahnya tampak samar. Dia menggeleng. "Tidak ada perubahan. Dia tetap seperti ini."

Sora memandang wajah samar adiknya. Mata anak itu terbuka separuh, mulutnya juga. Kedua tangannya mencengkeram seprai seolah hendak merobeknya. Kakinya tampak tegang. Dada anak itu bergerak naik-turun dengan cepat, napas yang dia ambil pendek dan tergesa. Ingin menangis rasanya melihat keadaan Roxas sekarang. Sora merasakan gumpalan ombak rasa bersalah menyerangnya; dia tidak bisa menolong adiknya saat dia benar-benar membutuhkannya.

"Aerith, apa tidak ada yang bisa kita lakukan?" tanya Pappy pada Mammy.

Mammy duduk di sampingnya. "Aku sedang memikirkan caranya, dear."

"Kasihan Roxas." Pappy memijit-mijit sudut dalam matanya. "Dia cuma anak biasa. Dia tidak tahu apa-apa tentang dunia spiritual dan lainnya. Mengapa hantu itu harus memilih tubuhnya?"

"Cloud," Mammy menyentuh bahu Pappy, membelainya lembut, "Roxas pasti baik-baik saja. Sora dan aku akan mencari cara untuk menolongnya. Kami akan membawanya pulang."

Pappy terisak. Baru kali ini Sora melihat ayahnya menahan air mata dan terisak-isak seperti itu. Untuk ukuran seorang mantan tentara, Pappy punya hati yang cukup lembut. "Aku mengandalkan kalian. Tolong, bawalah bocah kecil kita pulang."

Mammy memberinya senyum tipis. "Tentu, Sayang. Sekarang kau harus istirahat. Biar Sora yang menjaga Roxas."

Pappy memandang wajah kuyu Roxas lama sekali, lalu akhirnya dia berdiri terhuyung-huyung. Mammy memapahnya keluar dari kamar setelah mengangguk pelan pada Sora. Pintu ditutup di belakang punggung Mammy dan Pappy.

Sora duduk di sisi ranjang. Mammy tadi memberitahunya untuk membawa jiwanya sendiri ke benak Roxas dan mengeluarkan si hantu. Dia pernah berhubungan dengannya, jadi dia yakin dia bisa melakukan semua itu. Tangan kanannya merayap ke dahi Roxas. Petir, gemuruh, dan lainnya seketika menyergap isi kepalanya.

Tubuhnya terasa melayang. Angin kencang berembus dari segala arah, menyayat kulit dan rambutnya. Dia membuka mata. Ada sebuah altar lingkaran dikelilingi kegelapan. Sesuatu mirip sangkar burung berdiam di tengah altar. Seketika Sora melayang ke arah sangkar itu.

"Sora!" Itu teriakan Roxas. "Sora, keluarkan aku dari sini!"

Semakin dekat Sora dengan sangkar itu, semakin jelas dia melihat siapa yang ada di dalamnya. Roxas. Anak itu menggenggam jeruji hitam sangkar raksasa, memasang wajah hendak menangis. Sora mendarat lembut di depannya.

"Astaga! Mengapa kau dikurung mirip burung begini?"

Mata Roxas berkaca-kaca. "Ventus melakukannya! Hantu itu jahat! Dia mencoba membunuh Xemnas, si paranormal berambut merah, lalu Pappy juga. Aku mengekangnya, dan dia mengurungku seperti ini! Sora, kumohon, keluarkan aku!"

Sora mendekat, menyentuh jeruji sangkar yang terasa dingin di kulitnya. Matanya berlarian ke seluruh sudut sangkar, memindai dari atas ke bawah, kiri ke kanan, dan berulang berkali-kali. Keringat dingin menyergap kulit tengkuknya. "Tidak ada lubang kunci atau pegangan di sangkar ini! Bagaimana caranya mengeluarkanmu?"

Roxas mengguncang jeruji kuat-kuat. "Tidak tahu, tidak tahu! Pokoknya keluarkan aku! Ini salahmu! Andai saja kau menerima kontrak dari Xemnas, semua ini pasti tidak akan terjadi!"

Sora merasakan jantungnya seperti baru saja ditikam dengan sebilah pedang tajam. Dia mencengkeram dadanya, takut jantungnya akan hancur. Sekonyong-konyong dia menyentak adik lelakinya, "Aku sudah jauh-jauh datang ke sini untuk menyelematkanmu, bodoh! Dan yang kauberikan padaku adalah makian? Apakah kau sudah gila karena terkurung di sini selama beberapa hari?"

Roxas terdiam. Dia mundur, lalu terduduk di lantai. "Maaf," gumamnya.

Sora memandang lekat adiknya. Kini Roxas tidak lagi tampak hampir menangis; dia benar-benar menangis. Air matanya bercucuran menuruni lekuk wajahnya dan mendarat di lantai. "Roxas?"

"Aku takut, Sora. Aku sangat takut!" Roxas tersengguk. "Ventus telah mencuri tubuh dan wajahku. Penampilannya benar-benar sama denganku! Aku takut aku tidak akan pernah bisa kembali ke tubuhku lagi…!"

"Kau bisa kembali! Karena itulah aku di sini, Roxas!" sentak Sora, kemudian berputar di tempat. "Mana Ventus? Hei, Bedebah Gentayangan, keluar kau! Hadapi aku!"

Mendadak kegelapan bagai cat yang diaduk menyelubungi seluruh langit-langit. Sora merasakan tubuhnya bergetar dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Jantungnya berdentaman seperti genderang yang ditabuh. Dia tahu perasaan apa ini, perasaan yang kerap menghampirinya tiap kali sosok halus akan muncul.

Firasatnya tepat. Ventus muncul; anak laki-laki seusia lima belas tahunan, rambut sepirang madu dengan duri-duri gemuk yang dibengkokkan ke sisi kanan, mata birunya setajam pedang. Dia mengapung di atas sangkar Roxas, kedua tangan dilipat ke belakang, dan senyum melukis bibir pucatnya.

Mata Sora membeliak. Anak itu, Ventus, dia benar-benar mirip dengan Roxas!

"Akhirnya kau datang juga, Profesor Hantu-O-Logi," sambut Ventus, melayang turun ke hadapan Sora. Dengan Roxas yang telah berdiri di dalam belenggu sangkar, Sora nyaris tidak bisa membedakan yang mana Ventus si hantu dan mana Roxas adiknya. Untung saja baju mereka berbeda.

"Ventus! Kau keterlaluan!" teriak Sora. "Cepat bebaskan jiwa Roxas! Kalau kau mau sesuatu, katakan saja! Aku akan memenuhinya."

Ventus terkikik—bahkan saat terkikik dia juga sangat mirip dengan Roxas. "Yang kumau adalah tubuh anak ini."

Sora dan Roxas mendelik bersamaan.

"Bagaimana? Aku ambil tubuhnya, dan kau bisa ambil jiwanya," sambung Ventus. "Terserah kau mau masukkan ke mana jiwa adikmu yang konyol ini: kura-kura, kucing, kecoa, atau apa pun! Terserah kau!"

Roxas mencengkeram jeruji dan mengguncangnya lebih kuat dari tadi. "Aku tidak mau! Aku tidak mau ditempatkan di tubuh lain! Persetan kau, Ventus! Kembalikan tubuhku sekarang!"

Ventus si hantu tidak tampak senang. Sora merinding memandang wajah penuh kesan menghina dan bibir mencebiknya. Lalu dia menjentik jemarinya. Sora terbelalak dan berlari seolah ingin meraih adiknya saat sulur-sulur hitam dengan pendaran ungu membelit tubuh Roxas dan menariknya ke bawah. Roxas menjerit-jerit, meronta-ronta, dan menangis. Namun sulur-sulur menelannya ke dalam lantai.

Kemudian dia lenyap.

Hanya ada Sora dan Ventus yang saling berhadapan di tempat aneh itu, ditemani sangkar burung raksasa tanpa isi. Sora merasakan dorongan sangat kuat untuk mencekik Ventus, memuntungkan tangannya, atau apa saja asal dia bisa tersiksa. Rasanya tidak adil melihat adiknya tersiksa dan menangis karena ulah sesosok hantu tanpa bisa berbuat apa-apa. Mammy dan Pappy menitipkan Roxas padaku, dia membatin berkali-kali.

"Nah," ujar Ventus, terdengar senang, "sampai jumpa lagi, Profesor Hantu-O-Logi!"

Dia pun ikut lenyap.

Kini Sora sendirian. Sendirian. Dia terduduk, menatap nanar sangkar kosong di depan hidungnya. Roxas benar. Andai dia menerima kontrak pengusiran hantu itu—hantu itu pasti Ventus—semua ini tidak akan terjadi. Roxas tidak akan menderita dan Mammy dan Pappy tidak akan khawatir.

Saat itulah Sora merasakan lantai tempatnya duduk melunak. Belum sempat dia menyadari apa yang sedang terjadi, tahu-tahu dia telah tercebur ke dalam lantai.


TBC


Sudah dulu yaa….

Fanfic ini sudah selesai saya tulis di laptop saya, jadi saya bisa update sampe tamatnya :P

Review yaaa

Bye :3