A/N: Sudah deket Halloween lho!
Saya sudah siapkan beberapa fanfic horor dan fantasi buat merayakan Halloween tahun ini. Walaupun sedikit-banyak gaya menulis dan bercerita saya berubah (karena saya jarang membaca dan menulis yang proper akibat kesibukan yang nggak ada habisnya), saya akan tetap berusaha menulis fanfic sebanyak mungkin. Karena cuma dari fanfic aja saya bisa merasa bahagia (disamping game, tentunya).
A letter….
Dear pe-review dan pembaca chapter sebelumnya fanfic ini,
Terima kasih telah me-review dan membaca fanfic saya. Jujur, saya sangat senang waktu tahu fanfic ini dapat review dan dapat view. Saya sempat berpikir, nggak ada yang peduli fanfic ini, karena fandom ini seperti sedang terombang-ambing di lautan berombak ganas. Saya masih ingat empat tahun lalu, waktu saya baru nyemplung ke fandom ini, fandom ini sangat hidup! Meriah dan berwarna-warni. Sekarang saya cuma bisa menghela napas dan mengenang kembali masa lalu yang manis itu. Tapi saya tetap menulis, karena saya tahu seseorang di luar sana sedang membaca fanfic saya.
Terima kasih banyak.
Sincerely yours
Metha
Discalimer: Still own nothing….
The Contract
#7
"Masa depan yang…."
Sora tersentak sadar. Di hadapannya ada seorang wanita berbandana biru dengan manik-manik kuning pipih di pinggirnya. Wanita itu memandang dalam-dalam sebongkah bola kaca bening di tengah nakas sempit bertaplak sewarna dan segaya bandananya.
"Masa depan apa?" sela Sora.
Wanita itu memandangnya sinis. "Bukankah kau ke sini untuk mengetahui masa depanmu?"
"Aku? Mengetahui masa depanku?" Sora mengerutkan kening.
Si peramal menegakkan tubuhnya yang terbalut gaun putih dengan luaran biru. "Kau tidak membayarku untuk melayani keisenganmu itu, bukan?"
Sora sekarang membuat kerut di seluruh wajahnya. "Aku tidak…. Aku tidak mengerti!"
Si peramal menghela napas panjang. "Madam Aqua belum pernah ditipu seperti ini, apalagi oleh anak kaya sepertimu. Tapi maaf, Sir. Kaya atau tidak, anak-anak atau dewasa, aku tidak melayani orang iseng." Tangannya yang penuh gelang bulat tebal menunjuk selembar tirai biru bermanik-manik. "Pintu keluar ada di sana, Sir."
Sora berdiri dan lekas keluar dari tenda peramal itu. Dia tidak ingat sama sekali kalau dia pergi ke tenda peramal untuk mengetahui masa depannya. Rasanya ada yang aneh dengan dirinya.
Kereta kuda hitam diparkir di depan tenda peramal. Orang-orang mengenakan pakaian yang hanya pernah Sora lihat dalam film-film historikal—jas hitam berbuntut, topi tinggi, gaun rumbai-rumbai, dan sarung tangan bergaya. Ini seperti bukan dunia tempatnya tinggal dulu.
Astaga! Sesuatu tidak beres di sini!
"Tuan Muda, apakah kita akan pulang sekarang?"
Sora terlonjak di tempatnya. Seorang lelaki, yang baru turun dari kereta kuda hitam, mendatanginya dan bicara dengan sopan padanya. Dilihatnya lelaki muda itu tajam-tajam. Rambutnya cokelat agak gondrong, mata sipit tanpa perasaan, dan tulang pipi menonjol. Sora tidak mengenalnya sama sekali.
"Tuan Muda?" tanya lelaki itu.
"Apa? Kau bicara padaku?" Sora yakin dirinya terdengar seperti orang idiot.
Lelaki itu tertawa lirih. "Tentu, Tuan."
Oke, ini jadi makin aneh saja!
Sora melonjak mundur selangkah, kedua tangan tersilang di depan wajah. "Aku tidak mengenalmu, orang asing! Mundur dariku! Aku bisa karate, dan aku sudah punya sabuk hijau!"
Wajah laki-laki itu tampak terpukul dan sedih. Kerutan-keruan halus muncul di keningnya, mata sipitnya melebar dua kali lipat. "Tuan Muda Ventus, saya akan membawa Anda ke dokter keluarga jika Anda merasa tidak sehat."
Kini Sora merasa ingin muntah. Apa kata pria itu tadi? Tuan Muda Ventus? Tuan Muda Ventus?!
Sora berderap kembali ke dalam tenda peramal. Wanita peramal itu, Madam Aqua, sedang membersihkan bola kacanya. Sora merebut bola kaca itu, dan memandang pantulan wajahnya yang samar-samar di permukaan kaca.
Demi Tuhan!
Wajah itu… wajah Ventus, bukan wajah Sora!
-0-0-0-
Sora mencoba menerima keadaan baru ini. Dia adalah Ventus Lionel Skyler King, bukan Sora Strife si anak SMA kelas 2 yang berprofesi sebagai Prosefor Hantu-O-Logi. Ventus ini anak orang kaya, tinggal di perbukitan yang khusus dijadikan pemukiman orang-orang kaya. Dia jalan-jalan ke kota dengan menunggang kereta kuda yang dikusiri oleh si lelaki berambut cokelat tadi, Terra. Madam Aqua adalah peramal yang ingin Ventus datangi untuk melihat masa depannya.
Yang jadi pertanyaan, bagaimana Sora bisa menjadi Ventus? Dan bagaimana dia bisa terlempar ke jaman Ventus masih hidup?
"Tuan Muda, apakah Anda lelah?" tanya si kusir, saat membukakan pintu kereta kuda. Mereka berhenti di perkebunan apel yang penuh sesak. Warna hijau daun bertabur bintik merah berkilau. Orang-orang bertopi dan menggendong keranjang di punggung memetik apel-apel di atas kepala mereka.
"Sangat," jawab Sora, memijit pelipisnya. "Apakah aku punya adik?"
Wajah Terra tampak mengusam. "Adik?"
Sora punya firasat buruk. Kalau Roxas tidak ada di dunia ini, aku harus apa?
"Anda putra tunggal, Tuan," sambung Terra.
Kaki Sora lemas seketika. Ini petaka.
"Mari, Tuan, biar saya antar Anda ke dalam," tawar Terra. Sora tidak punya pilihan lain selain setuju.
Bagian dalam rumah Ventus sangat besar, mirip istana yang sering Sora lihat dalam televisi. Langit-langitnya cekung ke atas, dihias mural dewa-dewi dan digelantungi lampu-lampu kristal antik. Pilar-pilar menjulang tinggi, penuh ukiran dan corak elegan. Dekorasinya pun tak kalah cantik. Sora merasa dirinya sangat kecil jika ditempatkan di rumah sebesar ini.
Tunggu sebentar! Rumah ini mirip dengan rumah seseorang….
Terra mengantarnya ke kamar—begitu katanya. Mereka menaiki tangga berkarpet ungu. Lorong dipenuhi potret-potret pria dan wanita berpakaian mewah. Pintu-pintu besar berjajar di lorong itu bersamaan dengan potret-potret.
"Aku tidak bisa!"
Sora mendengar teriakan itu dari balik salah satu pintu. Dia berhenti setelah memastikan pintu ganda raksasa berwarna cokelat, dengan bingkai emas dan berulir-ulir, adalah pintu yang menyimpan teriakan itu.
"Kalau semua ini terus berlanjut, aku bisa bangkrut!"
Dada Sora terasa perih. Bukan, ini bukan perasaannya. Dia bahkan tidak mengenal lelaki bernada marah itu! Apakah ini perasaan Ventus?
Terra menyentuh bahu kanannya, satu tangan lainnya terulur ke depan. "Mari, Tuan, ke kamar Anda."
"Tunggu sebentar. Aku ingin dengarkan ini."
Sora memasang telinganya lagi. Suara-suara marah itu tidak terdengar lagi selama beberapa menit. Lalu gebrakan yang terdengar.
"Biar kujual rumah ini saja! Ini modal terbaik untu menunjang usahaku."
Jantung Sora berdegup kencang. Mendadak sesuatu seperti petir merayapi urat-uratnya. Mendadak dia merasa sangat menyayangi rumah ini, sampai-sampai dia yakin tidak akan meninggalkan rumah bahkan setelah dia mati.
Mungkin keluargaku akan bangkrut dan jatuh miskin. Lalu aku di masa depan akan jadi orang miskin…. Aku ingin tahu seperti apa aku di masa depan, aku yang sudah jadi miskin….
Sora menampar bibirnya sendiri. Tadi itu bukan pikirannya! Sumpah, itu bukan pikirannya!
Terra mengantarnya ke kamar. Kamar Ventus luas, bergaya klasik dengan tempat tidur raksasa berlapis beludru biru. Sora ingat Roxas pernah berbaring di sana ditemani Xemnas dan si paranormal berambut merah.
"Astaga!" dia berseru, membuat Terra terlonjak di tempat. "Ini rumah Ventus?"
"Tuan Muda, apakah Anda baik-baik saja?" tanya Terra, wajahnya menampakkan dia sangat khawatir. Sora hendak menjawabnya, tapi dia merasakan sesuatu menerobos masuk ke kepalanya. Seluruh pengelihatannya mengabur, menjadi hitam, dan akhirnya dia limbung.
TBC
Sekian
Silakan layangkan review melalui kotak review di bawah ini :D
