A/N: Happy Halloween!

Sebenernya saya masih punya beberapa fanfic genre horor yang mau saya publish tepat tanggal 31 Oktober, tapi karena beberapa halangan kecil, saya belum sempat menyelesaikannya….

Well, selamat menikmati!

Disclaimer: I don't own Sora, Roxas, or Ventus. So sad….


The Contract

#8


"Sora? Sora!"

Sora membuka matanya lebar-lebar. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah menunduk Roxas yang terarah padanya.

"Roxas? Kau… kita… di mana?"

"Masih di tempat Ventus." Roxas menunduk, tampak menyesal.

Sora bangkit dan duduk tegap. Barusan tadi dia melihat rumah Ventus dan menjadi anak itu. Sora tidak yakin dia punya kemampuan untuk membawanya ke masa lalu dan mengambil peran di masa itu.

"Aku tadi lihat Ventus," katanya, membuka pembicaraan baru.

Roxas memandangnya. "Sungguh? Apakah kau melihat rumahnya? Peramal, kusir, dan kebun apel?"

Kini Sora mengerutkan kening. "Kau juga lihat? Tapi aku tidak melihatmu di sana."

"Aku melihatnya dalam mata Ventus sesaat setelah aku jatuh di sini. Hantu itu menyambutku, matanya menatap mataku." Roxas terdengar tidak yakin. "Tiba-tiba saja aku melihat kejadian itu dari matanya."

"Lalu…?"

"Lalu aku berharap agar kau bisa melihatnya juga." Roxas terlihat kebingungan. "Dan kau bisa melihatnya."

"Tidak mungkin!"

Roxas merengut. Seperti baru dipukul di pipi. "Aku tidak bohong, Sora! Semuanya benar-benar terjadi! Pengelihatan itu… itu masa lalu Ventus! Dia anak dari abad kesembilan belas!"

Sora menggeleng-geleng. "Bukan itu maksudku! Maksudku, kau punya indra keenam, Roxas! Indra keenam seperti milikku!"

Mata biru Roxas membulat sempurna. "Indra keenam?! Aku tidak mau punya kemampuan itu! Aku tidak mau melihat hantu!" Mendadak dia menangis. Air matanya berjatuhan dengan cepat, wajahnya memerah seluruhnya, dan bibirnya gemetaran. "Sora, hilangkan kemampuan itu! Aku tidak mau jadi sepertimu! Aku suka diriku yang sekarang. Diriku yang tidak berguna dan tidak bisa diandalkan…."

Sora bimbang. Dia belum pernah mendengar seseorang mendadak mendapatkan indra keenam seperti yang terjadi pada Roxas. Hmm, mungkin tidak. Semua orang memiliki indra keenam. Indra keenam beberapa tidak beruntung, seperti Sora, sudah aktif sejak mereka dilaihrkan. Sisanya, seperti Roxas, perlu mengaktifkan indra keenam mereka. Kejadian yang berhubungan dengan roh spiritual dan kejadian traumatik biasanya bisa mengaktifkan indra keenam seseorang.

"Sora, lakukan sesuatu!" Roxas merengek, menutupi kedua matanya dengan tangan. "Aku tidak mau indra keenam!"

"Roxas, aku tidak tahu bagaimana cara melenyapkan indra keenammu. Kupikir… kupikir kau harus… belajar mengendalikannya." Sora menangkap kedua tangan adiknya, menurunkannya sehingga mata sembab Roxas terlihat. Sora tidak pernah menyangka adiknya ini sangat cengeng dan penakut.

"Bagaimana?"

Berpikir, Sora berkata, "Gunakan untuk saat darurat. Kau bisa mengekang kemampuan itu, sama seperti saat kau mengekang Ventus."

Roxas mengerjap-ngerjap seperti orang bodoh. "Akan… kucoba…."

Keheningan menggelayuti keduanya. Sora tidak mau mengangkat topik pembicaraan lagi. Dia takut topik pilihannya akan membuat Roxas ketakutan lagi. Adiknya itu sangat penakut, tapi selalu egois dan bertingkah seolah dia sangat pemberani. Mungkin sekarang saat yang tepat untuk kembali ke dunia fana dan melapor pada Mammy bahwa dia sudah gagal.

"Roxas, aku akan kembali," lapornya, berdiri.

Roxas mendelik. Matanya melebar dua kali lipat sehingga mengambil alih separuh wajahnya. Dia menggeleng-geleng. "Jangan, jangan, jangan! Kumohon, jangan kembali, Sora! Aku tidak mau sendirian di sini!"

"Kalau aku tetap di sini, bisa-bisa jiwaku ikut terkurung!"

Mata besar Roxas berair lagi. "Kumohon, Kakak, jangan biarkan aku sendirian di sini! Aku takut sekali! Ventus berbahaya, gila, hantu!"

Panggilan 'kakak' itu menyentuh hati Sora. Dari dulu dia selalu ingin dipanggil seperti itu oleh adiknya. Namun Roxas tidak pernah mau memanggilnya seperti itu hingga beberapa detik lalu.

"Dengar, Roxas, aku akan kembali dan bertanya pada Mammy bagaimana cara mengeluarkanmu dari sini. Mammy—"

"Ya sudah, pergi saja!" Roxas meraung, air matanya menetes lagi. "Pergi saja! Biarkan aku tetap di sini dan mati! Kau tidak pernah memedulikanku, kau selalu memikirkan dirimu sendiri, kau selalu membiarkanku sendirian!"

Bagai pukulan telak di dada, Sora nyaris terjengkang. Rasanya selama ini dia selalu menjadi kakak yang baik, walau Roxas tampaknya tidak pernah bisa melihat kebaikan itu. Dan membiarkan adiknya selalu sendirian? Itu mustahil! Roxas-lah yang selalu memilih sendirian.

"Hei, aku tidak mengerti dengan ucapanmu!" sergahnya.

"Kau jahat, Sora! Jahat!" Kini Roxas mencengkeram rambut cokelat kakaknya dan menggoyangkan kepalanya maju dan mundur. "Aku menyesal punya kakak sepertimu!"

Perih jambakan Roxas mengeruhkan benak Sora. Tanpa sadar dia menampar pipi kanan adiknya.

"Dasar idiot. Kalau kau pikir aku memang seperti apa yang kaukatakan barusan, mengapa aku mau repot-repot ke sini?" Sora menahan air matanya sendiri. "Aku ke sini, karena aku peduli padamu. Aku ingin mengembalikanmu ke tubuhmu, jauh dari hantu itu. Apakah kau tidak menyadarinya?"

Roxas malah menangis dan mengumamkan kata-kata tak jelas.

Lengan Sora meraih bahu bergetar adiknya. Memeluk adiknya, dia mengusap-usap punggung dan belakang kepalanya. "Roxas bodoh. Roxas bodoh. Aku janji, aku akan mengeluarkanmu dari sini. Kau akan kembali ke tubuhmu lagi, jadi si mata duitan lagi, dan jadi Makelar Spiritual."

"Sora…. Aku memang bodoh," erang Roxas, mengeratkan pelukan kakaknya.

"Ini memang salahku," aku Sora, agak malu. "Andai aku menerima kontrak itu, semua tidak akan terjadi. Maaf."

"Kau akan pergi sekarang?"

"Kalau kau mengijinkan."

Roxas memisahkan diri dari Sora. "Pergilah. Aku tidak akan menahanmu di sini. Tapi kau harus janji, kau akan kembali lagi. Karena aku akan menunggumu sampai kapan pun."

Sora meraih tangan kanan Roxas, dan mengaitkan jari kelingking mereka jadi satu. "Janji."

Kemudian Sora merasakan tubuhnya menjadi ringan. Pengelihatannya pada Roxas perlahan memudar. Anak itu tersenyum padanya. Senyumnya yang langka dan menyayat hati.

-TBC-

Silakan review kalau berkenan :D