A/N: Akhirnya update juga!

FYI, saya sedang merencanakan fanfic Xover KH dengan Silent Hill. Semoga bisa selesai nih krosover. Rate-nya bakal M lho! Hahaaa

Oke, lanjut ke story ini dulu….

Disclaimer: I own nothing

The Contract

#9

Sora membuka matanya. Dia memerhatikan sekeliling, mendapati kamar Roxas, lalu berpaling pada sosok adiknya yang berbaring di kasur. Wajah Roxas tidak lagi tampak tegang. Dia terlihat seperti sedang tertidur saja. Sora menyeret pandangannya ke tangannya dan tangan Roxas. Jari kelingking mereka saling bertautan.

"Roxas, aku janji aku akan menyelamatkanmu."

Pintu kamar berderit terbuka. "Sora, bagaimana?"

Sora memandang Mammy yang berdiri di ambang pintu. Dia menggeleng. "Aku berhasil menemui Roxas dan hantu itu, tapi… hantu itu sangat kuat. Dia terlanjur suka pada tubuh Roxas."

Mammy duduk di sampingnya. Wajahnya yang cantik tampak pucat, rambut cokelatnya acak-acakan. "Bagaimana sosok hantu itu?"

Sora memandang wajah tertidur Roxas. "Dia sama persis dengan Roxas. Namanya Ventus Lionel Skyler King."

"Ventus Lionel Skyler King?! Anak lelaki kaya raya?"

Sora gantian memandang wajah Mammy. "Mammy mengenalnya?"

"Tentu saja! Tentu saja, Sora!"

-0-0-0-

Suara kikik-kikik mengusik renungan Roxas. Dia mengangkat wajahnya dari ruang di antara dua lututnya. Dilihatnya Ventus melayang-layang mengitarinya, tertawa seperti anak kecil sedang bermain.

"Lihat Roxy-Foxy! Dia menangis!" hantu itu bernyanyi.

Roxas memilih mengabaikannya dengan menenggelamkan wajahnya ke ruang di antara lututnya lagi.

"Mengapa, Roxy-Foxy? Kau marah pada Sora-Dora?"

Roxas mengangkat wajahnya dengan tergesa. "Tidak!"

Ventus melayang ke depan wajah anak itu. Jarak antara wajah hantunya dan wajah Roxas hanya beberapa inci. "Kalau begitu, kau pasti iri padanya karena dia bisa keluar masuk sesukanya. Iya, bukan?"

Membuang wajah, Roxas cemberut. "Tidak. Sama sekali tidak." Lantas dia merasakan dagunya disentuh oleh jemari dingin, dan wajahnya ditolehkan kembali memandang wajah Ventus.

"Kalau Sora-Dora sang profesor bidang Hantu-O-Logi tidak kembali lagi, kau akan bagaimana?" tanya Ventus, diiringi seringai penuh hina.

"Dia pasti akan kembali." Roxas enggan membiarkan dirinya dilahap ketakutan karena wajah Ventus. Dia memberanikan diri memandang tajam sepasang bola mata safir hantu itu. Sangat tajam. Ada sesuatu dalam bola matanya.

"Ventus, bangun, Nak!"

"Tidak ada tanda-tanda penyakit pada putra Anda, Sir. Dia normal. Kami tidak bisa memberikan obat atau apa-apa padanya."

"Mengapa kau bisa begini, Nak? Mengapa?"

"Apakah Anda yakin ingin memesan peti mati ini, Sir?"

"Putraku sudah mati."

"Tuan Besar, Tuan Muda hanya tertidur! Dia pasti akan bangun!"

"Bagaimana kau bisa seyakin itu, Terra?"

"Karena Tuan Muda Ventus berkata dia pasti kembali setelah mengunjungi dirinya di masa depan."

Roxas buru-buru mendorong wajah Ventus hingga mencolok matanya.

Ventus terhempas ke belakang. "Aduh, sakit sekali, sialan!"

Roxas menutupi kedua matanya. Yang dia lihat tadi itu… apa? Apakah tadi itu… masa lalu Ventus?

"Siapa kau sebenarnya?" tanyanya, gemetaran.

Ventus tertawa terbahak-bahak. "Tebak saja!"

Perlahan Roxas menurunkan kedua tangan dari matanya. Ventus duduk bersila di hadapannya. Matanya masih sebuah tadi, seringainya lebar. Roxas memandang ke dalam mata hantu itu lagi.

"Meskipun kujual rumah ini, Ventus tidak akan kembali."

"Tuan Besar, berapa kali saya harus memberitahu Anda bahwa Tuan Muda Ventus pasti akan sadar?"

"Memangnya kau pikir kau siapa, huh? Kau hanya pelayan! Kau tidak berhak menasihatiku!"

"Ini pesan dari Tuan Muda Ventus sebelum pergi tidur dan mengunjungi dirinya di masa depan. Setelah urusannya selesai, dia akan kembali lagi. Percayalah, Tuan Besar! Percayalah pada putra Anda!"

Seringai Ventus melunak. "Kupikir kau sudah melihat semuanya."

"Kau… bukan hantu." Roxas ternganga.

"Benar. Aku bukan hantu."

Sedetik kemudian, Roxas lupa dia pernah merasa takut pada sosok anak laki-laki yang duduk di hadapannya itu. Sosok itu kini lebih mirip dengan sosok anak biasa, anak tak berdosa dan penuh rasa ingin tahu. Seperti dirinya sendiri, seperti memandang cermin.

"Namamu Ventus Lionel Skyler King," tambah Roxas, nyaris tidak percaya kalimat itu keluar dari mulutnya. "Kau hidup di abad ke-19, punya kemampuan spiritual sekuat milik Sora, dan kau…."

"Ingin menemui diriku di masa depan."

Sialan.

Ventus menepuk lembut kepala Roxas. "Jangan takut. Kau tidak akan mati, Roxy-Foxy. Aku hanya main-main."

Main-mainmu keterlaluan! Roxas hanya mampu merutuk dalam kepalanya sendiri.

"Aku terkejut saat kau datang ke rumahku, rumah besar itu," lanjut Ventus, tersenyum hangat. "Kulihat kau mewarisi wajahku. Kupikir, kaulah orang yang kucari selama ini, diriku di masa depan setelah bisnis ayahku bangkrut dan beberapa generasi hidup sebagai kalangan menengah. Aku mengikutimu ke mana pun kau pergi, dan akhirnya aku ingin mencoba tubuh baruku."

Roxas memberinya tatapan "Kau nyaris membuatku mati ketakutan!"

Ventus terkekeh. "Kau tahu, Diriku di Masa Depan sangat khawatir saat aku mengambil alih tubuhmu. Aku kaget, keturunanku bisa punya sifat peduli yang begitu tinggi."

"Dirimu di Masa Depan itu adalah…."

Ventus menepuk kepala Roxas lagi dan tersenyum.

-0-0-0-

Mammy meletakkan sebuah buku tebal bersampul kulit merah marun di meja belajar Roxas. Sora mengamati sampul merah dan tulisan emas yang tercetak di atasnya.

"King's Legacy." Matanya beralih pada mata Mammy. "Ini… buku silsilah keluarga?"

Mammy mengangguk. "Mammy adalah keturunan keluarga King. Buku ini ditulis oleh kakek buyut-buyut-buyut-buyutmu, yang jadi terkenal karena indra keenamnya yang kuat. Dia jugalah yang mewariskan indra keenam yang kuat pada Mammy, dan akhirnya padamu, Sora."

Sora terceguk. "Itu artinya… aku juga keturunan keluarga King?"

"Tepat sekali." Mammy memutar bola matanya, lalu membuka sampul buku. Aroma tungau dan sesuatu gosong mendera hidung Sora. Buru-buru dia memecet hidung. "Lihat ini."

Halaman pertama buku itu diisi tulisan besar, miring, dengan tinta hitam yang tampaknya berasal dari pena bulu. Agak sulit membacanya, tapi Sora mampu menangkap kalimat:

Ventus Lionel Skyler King.

Sejarah, cinta, ramalan, indra keenam.

Hanya boleh disentuh dan dibaca oleh keturunan King.

1888 saat Ratu Victoria adalah sahabat penaku dan Jack the Ripper mengacak-acak London.

"ASTAGA!"

Mammy menghela napas. "Ventus adalah kakek buyut-buyut-buyut-buyutmu."

"ASTAGA!" Sora menyibak halaman judul itu.

Halaman berikutnya memuat lebih banyak tulisan miring dengan tinta hitam, tapi yang ini lebih kecil. Ada potret hitam putih seorang anak laki-laki, diibingkai lempengan berukir. Anak laki-laki itu… Ventus.

"Ini Ventus! Dia hantu yang…." Sora terdiam seketika, saat otaknya didera kenyataan yang tadi diucapkan oleh ibunya: Ventus adalah kakek buyut-buyut-buyut-buyutnya.

"Kalau memang dia yang merasuki Roxas," ujar Mammy dengan nada serius, "dia pasti punya urusan penting."

"Tapi mengapa dia mengancam akan membawa jiwa Roxas jika aku mengusirnya?" tanya Sora, membolak-balik halaman tua buku Ventus. Setiap halaman berisi tulisan dan beberapa diisi gambar. Sora tidak membaca tulisan Ventus. Selain karena tulisannya yang sulit dibaca, dia juga tidak punya banyak waktu untuk itu.

"Mammy tidak tahu." Mammy menghela napas panjang. "Karena sekarang kau sudah tahu siapa dia, mungkin kau bisa kembali ke benak Roxas dan bicara pada Ventus."

Sora memandang ibunya. "Akan kulakukan. Lagi pula aku juga sudah janji pada Roxas, kalau aku akan kembali lagi."

Mammy memeluknya dan mengecup keningnya. "Mammy percaya padamu, Sayang. Ingat, Ventus adalah kakek buyut-buyut-buyut-buyutmu. Beramah-ramahlah dengannya."

To Be Continued

Sekian

Review ditunggu :D