Desember 2011, New Year Eve

"New year eve! Yey!" Luka berteriak girang di pelukan Hannah. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dan hari ini adalah malam tahun baru. Keluarga Sebastian dan keluarga Hannah berkumpul bersama di rumah Sebastian untuk merayakan tahun baru. Kembang api mulai bertebaran di langit malam. Menghias langit tak berbintang. Pengganti sepi sang langit. Padahal tahun baru masih 3 jam lagi. Tapi nampaknya orang-orang itu tak sabar menyalakan petasan mereka untuk meramaikan suasana. Menghilangkan kantuk juga, mungkin?

"Kak, ayo masuk. Mama udah nyiapin makanan." Sebuah suara terdengar dari belakang mereka. Sebastian, Hannah dan Luka lantas menoleh ke belakang dan menemukan Ciel berdiri di ambang pintu. Sebastian beranjak dari tempatnya dan segera masuk diikuti Hannah dan Luka.

Terlihat di ruang makan, Rachel Phantomhive sedang menata makanan bersama dengan Mrs. Anafeloz. Makanan-makanan kesukaan setiap individu ada di situ. Beberapa jenis pasta, sup, kue, dan panganan khas barat lainnya tersedia di meja. Bau makanan yang menggiurkan itu menguar di seluruh ruangan. Membuat siapa pun yang menciumnya ingin sekali cepat-cepat bisa menyantap makanan tersebut.

Tanpa butuh waktu lama, keluarga Sebastian dan keluarga Hannah sudah berkumpul di ruang makan. Setelah mereka berdoa dan berterimakasih kepada sang Maha Pemberi, masing-masing mulai mengambil makanan kesukaan mereka.

Saat acara makan-makan berlangsung, terlihat bahwa Ibu Sebastian dan Hannah saling berbicara bersama mengenai urusan rumah tangga. Sementara para ayah nampak membicarakan pekerjaan masing-masing dan bisnis yang mereka kelola. Ciel nampak tenang dengan makanannya sendiri. Luka yang sedang menonton televisi yang berada di ruang makan itu sesekali tertawa melihat adegan kocak. Sementara Hannah dan Sebastian, seperti biasa, tetap diam dan tenang. Fokus terhadap apa yang sedang terhidang di depan mereka.

Diantara dua sahabat itu, tidak ada satu kata pun terucap. Tapi, Sebastian cukup senang. Hei, dia sedang mengadakan makan malam bersama semua orang kesayangannya. Ada keluarganya—meski pun bukan keluarga asli, tetap saja terhitung keluarga, kan?—serta keluarga sahabatnya tercinta. Sebastian tentu saja mengkhususkan Hannah. Itu pasti. Mereka sudah bersama sejak SMP. Sebastian menganggap Hannah sebagai seseorang yang sangat penting baginya dan harus benar-benar dijaga baik-baik. Ah, dan dia juga harus menyayangi Hannah seperti ia menyayangi keluarganya sendiri. Mungkin suatu saat, Sebastian dan Hannah bisa menjadi ke—

"Sebastian, nanti minummu tumpah." Rachel menyadarkan anak angkatnya itu dari lamunannya. Sebastian tersentak kaget. Ia baru saja menyadari bahwa dia tengah menatap Hannah dengan intens sembari mencoba meminum airnya. Dan ternyata, melakukan keduanya bersamaan bukan ide yang bagus. Hampir saja minumannya itu tumpah ke bajunya.

Sebastian hanya dapat memperlihatkan semburat tipis kemerahan sembari menaruh kembali gelasnya. Rachel hanya bisa mengulum senyum geli melihat kelakuan Sebastian.

Tak terasa, waktu berlalu. Makanan di atas meja sudah tandas. Para perempuan bangkit dari tempatnya dan mebereskan meja makan. Sementara yang lain sibuk dengan pembicaraan atau pemikiran sendiri. Selang berapa lama, para perempuan kembali lagi dari tugas beres-beres mereka. Hannah bersandar pada konter dapur yang menyatu dengan ruang makan. Ibu Ciel dan Ibu Hannah menghampiri suami masing-masing.

"Payah. Yang laki-laki cuman bisa ngobrol saja. Bukannya membantu beres-beres," komentar Rachel. Vincent tertawa kecil mendengar omelan istrinya yang ia cintai.

"Kan, itu sudah tugasmu sebagai wanita ..." jawab Vincent. Rachel tersenyum geli.

Setelahnya, mereka putuskan untuk pindah ke ruang tengah yang berdekatan dengan pintu menuju taman belakang rumah keluarga Phantomhive. Ciel dan Luka langsung beranjak ke arah taman dengan semangat untuk menyiapkan kembang api. Hannah duduk bersila dan tersenyum melihat adik angkatnya yang manis itu menarik-narik lengan Ciel dengan antusias, memaksa remaja berambut kelabu itu untuk menyalakan kembang api secepatnya. Nampak earphone tengah terpasang di telinga gadis tan itu. Alunan pelan musik klasik mengalir ke gendang telinga Hannah menambah moodnya malam itu.

Kedua orang tua Hannah menghampiri Hannah dan Sebastian. Diikuti dengan pasangan Phantomhive di belakang mereka.

Suara-suara kembang api mulai berkumandang di mana-mana. Langit malam yang gelap dihiasi bintang besar baru buatan para manusia. Warnanya kemerlap semperti emas dengan warna pelangi. Sebelum cahaya pertama pudar, cahaya berikutnya datang menerangi malam itu, dan begitu seterusnya.

"Sebentar lagi sudah tahun baru. Tinggal menunggu count down saja." Rachel memosisikan dirinya di sebelah Sebastian, duduk dengan tenang. Sementara sang suaminya menghampiri anak-anak yang tengah bersiap meluncurkan kembang api mereka. Nampaknya ayah Hannah pun juga bersemangat dan ikut menyiapkan kembang api. Selang berapa waktu, suara menggelegar di taman belakang kediaman Phantomhive terdengar. Kembang api diluncurkan. Gemerlap malam berhias kembang api bertambah meriah seiring dengan larutnya sang malam.

"Oh, sebentar lagi count down!" Suara dari wanita yang kita ketahui adalah ibu dari Hannah membuat yang lainnya segera bersiap dan melirik arloji masing-masing.

"Ten ... nine ... eight ... seven ... six ... five ... four ... three ... two ... one! Happy new year!" semua berteriak penuh semangat. Mulai detik itu juga, dimulailah bab baru dari setiap individu di muka bumi. Tentunya termasuk sang perempuan bersurai putih-keunguan yang tengah berkumpul dengan keluarga dan keluarga sahabatnya ini.

Kira-kira apa ya, yang menunggunya di tahun ini?

.::*::.

Love

Second chapter :

The Scandal

Kuroshitsuji (c) Yana Toboso

.::*::.

Maret 2012

"Hoi, Claude." Ronald bersandar pada meja kerja Claude sambil bersidekap. Sementara itu, lelaki dengan iris berwarna champagne itu hanya menggumam, menunjukkan bahwa ia mendengarkan sembari terus membaca laporan-laporan dan berkas-berkas yang ada di depannya. Dahinya nampak sesekali berkerut saat membaca. Tangannya yang menggenggam pena sesekali menggoreskan tinta hitam itu di atas lembaran putih di tangannya.

"Ke club, yuk. Kau nampak sibuk sekali sampai tidak ada waktu untuk istirahat. Membosankan melihatmu mendekam dibalik paper-paper itu, kau tahu?" Ronald menepuk-nepuk setumpuk kertas yang ada di atas mejanya. Namun lagi-lagi Claude hanya bergumam. Kali ini sambil merengut karena terlalu konsen membaca berkas di tangannya.

"Hoi, kau mendengarkanku tidak, sih?" Ronald semakin sewot sendiri. Lelaki bermata hijau itu tidak terima. Ia bersidekap dan memelototi rekan kerjanya itu.

"Ronald, aku banyak pekerjaan. Pergi sana." Claude mengalihkan pandangannya ke arah temannya yang terkenal penggoda wanita seanter Trancy Corp. ini. Ia tidak mengerti bagaimana lelaki sembrono ini bisa mempertahankan pekerjaannya serta jabatannya. Padahal, ia kelihatan seperti lebih sering bermain-main daripada bekerja.

"Tapi, nanti malam kita ke club bareng teman-teman, ya? Nampaknya otakmu sudah terlalu kusut dan perlu diluruskan. Dengan cara pergi ke club tentunya." Ronald keukeuh dengan ajakannya dan terus berada di sana hingga ajakannya diterima.

Yah, tetap saja Claude tidak menggubrisnya. Mereka lantas beradu mulut. Dengan Ronald yang terus mengajaknya. Ia memohon, merengek, dan bahkan mulai mengejek Claude yang tidak-tidak. Walau begitu, Claude tetap bersikeras menjawab 'tidak' dengan alasan yang sama, banyak kerjaan. Namun Ronald terus saja mengganggunya hingga Claude jengah.

"Tch. Baiklah!" teriak Claude frustasi. "Sekarang, pergi! Aku masih banyak kerjaan. Nanti malam kita ketemu di lobi." Claude membetulkan letak kacamatanya dan mencoba kembali fokus dengan pekerjaannya.

"Nah! Gitu dong, dari tadi! Oke, nanti malam di lobi. Aku kembali ke tempatku dulu. Bye!" Ronald melambai dan berjalan keluar dari ruang kerja Claude. Wajah Ronald nampak sangat senang. Ia bersiul riang karena sudah berhasil membujuk rekannya itu untuk menemaninya pergi ke club.

Selang berapa saat, setelah kepergian Ronald, Claude selesai dengan segala berkas-berkas yang ada di mejanya. Ia menghela nafas. Kentara sekali bahwa dia kelelahan. Laporan-laporan serta proposal-proposal yang masuk akhir-akhir ini benar-benar menggunung.

Ia lepas kacamatanya dan menaruhnya di atas meja. Diputarnya kursi kerjanya menatap ke arah jendela yang menyajikan pemandangan langit siang hari. Ia mengusap wajahnya sekilas dan menyeka rambutnya ke belakang. Ia kembali menghela nafasnya, kali ini lebih panjang.

"Padahal, rencananya hari ini aku bakal ngajak Hannah makan sekalian bahas proyek," Claude berujar pada dirinya sendiri dengan putus asa. Kini sudah memasuki musim semi. Terakhir kali ia melihat gadis bersurai putih keunguan itu adalah saat ia sedang sakit. Sejak itu, ia belum pernah bertemu.

Beberapa kali ia mengajak Hannah untuk pergi bersamanya, membahas proyek tentu saja, tapi ntah mengapa selalu ditolak. Alasan yang dikeluarkan macam-macam. Tapi, umumnya itu menyangkut Luka, adik tiri Hannah yang berambut merah itu, atau Sebastian.

Rasanya panas setiap kali ia mengingat hubungan Hannah dan Sebastian.

Tunggu. Kenapa dia jadi memikirkan gadis itu?

.::*::.

Suara bising terdengar di seluruh penjuru ruangan memekakan telinga orang-orang yang berada di sana. Semua sound system berdebum kencang. Meski tempat ini sangat bising, nampaknya tak ada seorang pun yang peduli. Mereka tetap berjingkrak-jingkrak. Claude mengernyitkan dahinya. Tempat ini terlalu berisik.

"Inilah kenapa aku tidak suka datang ke club," Claude menggerutu. Temannya sudah meninggalkannya di antara kerumunan orang-orang yang setengah mabuk ini sejak tadi. Claude mendesah kesal dan berjalan ke arah sebuah bar di pojok club yang terlihat lebih sepi. Di sana hanya ada seorang wanita berambut merah sepunggung yang terlihat jelas tengah mabuk parah.

Ia mengambil tempat duduk di sebelah wanita berambut merah itu. Wanita itu tertunduk sembari berpangku tangan dengan tangan kirinya. Tangannya yang lain memegang sebuah gelas bening berisi beberapa es batu dengan wiski yang tinggal setengah. Botol wiski di depannya juga nampak tinggal setengah. Ia memutar-mutar gelasnya secara perlahan lalu meminumnya.

Sang bartender datang. Lelaki muda berambut brunette dengan potongan rapih, bertampang lumayan, dan bisa dibilang tinggi. Ia menanyakan pesanan Claude. Claude pun tersadar dari lamunannya saat memperhatikan wanita di sebelahnya.

"Ah, sebotol bourbon, terimakasih." Claude mengambil dompet di saku jasnya. Ia keluarkan sejumlah uang yang diperlukan dan menaruhnya di atas meja di mana minuman yang ia pesan baru saja tiba. Ia membuka botol minumannya dan menuangkan isinya ke dalam gelas berisi es. Claude memutar sebentar gelasnya, membuat riak-riak kecil berwarna keemasan di dalam gelasnya, lalu menyesapnya perlahan. Berusaha mencegah dirinya agar tidak mabuk terlalu parah dan tetap bisa pulang ke rumah.

Tiba-tiba, wanita di sebelahnya membanting meja bar itu dengan gelas dalam ganggamannya membuat Claude kaget. Wanita itu mendesah. Claude menatapnya penasaran. Tingkah wanita merah marun di sebelahnya ini aneh. Saat ia tengah menatap sang wanita merah, wanita itu menoleh membuat Claude salah tingkah. Ia lantas mengalihkan pandangannya ke gelasnya.

Tak disangka, wanita itu mengulurkan tangannya. Claude mengangkat wajahnya dan menatap wanita merah itu bingung. Wanita itu tersenyum manis, kedua belah pipinya nampak bersemu merah muda, matanya menyipit lantaran tersenyum.

"Salam kenal." Claude terkesiap. Ia menerima uluran tangan wanita itu dan saling berjabat tangan. "Aku Meyrin, kau?"

"Claude." Mereka berkenalan. Meyrin melepas tangan Claude dan kembali menuangkan wiski ke dalam gelasnya sendiri. Claude masih bingung dengan situasi ini. Mungkin wanita merah di sampingnya ini sangat mabuk sehingga ia tiba-tiba mengajak berkenalan dengan orang asing sepertinya.

"Kau pasti berfikir aku mabuk." Claude kembali memusatkan perhatiannya pada Meyrin. "Tidak, aku tidak mabuk. Pipiku memerah karena pemulas pipi yang belum sempat kubersihkan. Aku baru saja minum. Jadi aku tidak mabuk," ungkapnya.

"Itulah yang semua orang mabuk bilang, nona. 'Saya tidak mabuk'," Claude menanggapi. Meyrin terkekeh pelan.

"Ya, mungkin kau benar." Meyrin kembali menenggak cairan kekuningan itu. "Tapi, aku tidak mabuk, sungguh! Aku hanya terlihat mabuk karena tampangku kusut dan pipiku berwarna merah muda. Aku hanya ingin berkenalan denganmu. Itu saja. Aku, butuh teman." Claude tertegun. Apakah wanita di sebelahnya ini sungguh baik-baik saja?

"Silahkan bercerita kalau kau mau." Claude meminum bourbon-nya kembali. Sejujurnya, ia ragu-ragu saat mengatakan itu. Tapi, toh, dia juga sedang tidak ada kerjaan. Meyrin menoleh dan tersenyum. Wanita merah itu berterimakasih. Senyumannya sungguh manis. Membuat Claude terpana sejenak.

Pergi ke sini tidak buruk juga untuk sekarang. Batin Claude. Bertemu wanita secantik ini sangat lumayan.

Tentu saja Claude berpikir begitu. Ia masih lelaki tulen yang akan senang bila berkenalan dengan wanita cantik.

.::*::.

Claude terbangun di pagi hari dengan kepala sangat pening. Ia terpaksa memegangi kepalanya dan menekannya kuat-kuat, berharap sakit di kepalanya hilang. Ia meraba-raba nakas di samping tempat tidurnya, mencari kacamata. Setelah menemukannya dan memakainya, ia menoleh ke sekitar dengan tampang kusut baru bangun tidur dan mencoba memproses segalanya yang terjadi di sekitar dirinya. Saat ia menoleh ke samping dan mendapati sesosok makhluk berambut merah tengah tertidur dengan lelap, Claude hanya terdiam. Dirinya masih mencoba memproses segalanya yang terjadi. Setelah beberapa saat memproses, Claude membelalakkan matanya.

Sial.

Di sampingnya, makhluk berambut merah itu masih tertidur dengan lelap. Makhluk cantik itu mendengkur pelan. Claude masih tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat melihat Meyrin, si rambut merah, tertidur di sebelahnya. Alhasil, Claude hanya duduk diam memperhatikan Meyrin yang terlelap.

Claude menoleh dan mencari jam dinding untuk memastikan jam berapa sekarang.

Jam 9 pagi.

Oke ini sudah agak siang. Ia merasa beruntung karena ini adalah akhir pekan dan dirinya tertidur di apartemen dekat kantornya. Apartemen yang biasanya ia pakai tidur saat ia harus pulang larut dan terlalu lelah untuk pulang ke rumahnya di kota sebelah.

Meyrin di sebelahnya mengerang dan membuat Claude mau tak mau kembali menoleh ke arah wanita itu dengan perasaan tegang. Meyrin mulai membuka matanya dan beranjak duduk sambil mengucek-ngucek matanya yang tidak bisa diajak kompromi. Meyrin kembali mengerang saat dirasa kepalanya sangat pening. Mungkin ia harus mengurangi minum-minum, pikirnya. Lalu, setelah sepenuhnya membuka mata, ia bertatapan dengan Claude. Ia memperhatikan Claude dengan seksama dari ujung kepala hingga perut ratanya yang terekspos. Karena sisanya masih berada di dalam selimut putihnya. Nampaknya Meyrin dan Claude sama-sama terlalu mabuk semalam hingga mencerna segalanya pun menjadi agak sedikit lambat. Meyrin yang terus memperhatikan tubuh Claude yang shirt-less, membuat lelaki itu mau tak mau tersipu malu.

Meyrin tiba-tiba membelalakkan mata dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, mencegah dirinya untuk berteriak. Mereka berdua kelabakan setelahnya dan segalanya menjadi canggung.

Bagaimana ini?

.::*::.

Hannah kembali mematut dirinya di depan cermin. Merapikan helaian rambutnya dan tersenyum tipis. Cukup puas dengan penampilannya.

Hari ini, ia berencana menemui Claude untuk membicarakan sesuatu tentang galeri tempatnya akan bekerja. Ah, dan kalau tidak salah, Claude ingin membicarakan sesuatu padanya. Claude sudah menelfonnya beberapa kali, meminta untuk bertemu. Tapi entah mengapa, setiap Claude ingin menemuinya, Hannah selalu berhalangan. Hannah akan menanyakan tentang itu juga nanti. Tapi sejujurnya, itu hanya sebuah alasan. Ia sebenarnya ingin mengunjungi Claude karena ia rindu akan Claude. Mungkin itu tidak masuk akal. Karena kan Hannah hanyalah seorang karyawan di perusahaan milik Claude. Paling tidak bisa dibilang begitu. Tapi, mau bagaimana pun juga, Hannah masih mencintai Claude. Mereka juga belum bertemu lagi semenjak Claude menjenguknya saat sakit tahun lalu. Tentu saja semuanya jadi masuk akal kalau kasusnya seperti itu.

Ia sempat menelfon kediaman Trancy untuk mengecek apakah Claude ada beberapa menit yang lalu, tapi ternyata Claude tidak ada di rumah dan katanya tidur di apartemen dekat kantornya. Hannah menanyakan alamat apartemen Claude, lalu berterimakasih kepada Alois yang pada saat itu mengangkat telefon darinya dan sudah berbaik hati mau memberikan alamat apartemen kakak angkatnya itu.

Setelah mengambil tas khusus berisi lukisannya, Hannah pamit pada mamanya, mengecup pipi Luka, lalu pergi ke apartemen Claude dengan senyum tipis yang manis di wajah Hannah.

.::*::.

"Apa yang—Oh Tuhan." Meyrin tak bisa berkata apa-apa. Ia terus saja memperhatikan tubuh Claude, yang harus diakui sangat seksi, dan juga wajahnya yang nampak kebingungan, dan sama seksinya. Mungkin efek karena baru saja bangun tidur. Setelah beberapa saat Meyrin memperhatikan Claude, ia buru-buru tersadar dan langsung melihat sekujur tubuhnya. Meyrin langsung menghembuskan napas lega saat menyadari bahwa pakaiannya masih lengkap seperti kemarin malam, hanya jas kantor berwarna abu-abu miliknya saja yang tidak ada. Lalu ia kembali memperhatikan Claude yang nampak ikut-ikutan lega. Meyrin melirik ke selimut laki-laki itu dan melihat ada warna hitam yang terlihat di balik selimut putih milik Claude. Meyrin kembali tersenyum lega.

"Berarti tidak ada yang terjadi di antara kita." Meyrin memecah keheningan aneh di sana sambil memasang cengiran. Claude hanya memandangnya datar namun kentara sekali bahwa ia juga ikut lega setelah mendengar hal tersebut.

Claude pun beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar. Meyrin menatap Claude bingung mulanya, namun toh ia akhirnya ikut turun dari ranjang dan berjalan keluar. Claude berjalan ke dapur dan mengambil beberapa lembar roti, dua butir telur dan sekantung sosis dari kulkas. Claude memasukkan dua lembar roti ke dalam pemanggang roti lalu menyiapkan penggorengan untuk memasak telur dan juga sosis. Intinya, Claude membuat sebuah sarapan klasik khas Inggris.

Sementara itu, Meyrin sibuk membuka-buka lemari, mencari gelas atau cangkir untuk dipakainya minum. Ia menemukan tempat gelas di lemari ketiga dan mengambil dua gelas untuknya dan untuk Claude. Ia juga mengambil jus jeruk dari dalam kulkas.

Setelah beberapa menit berselang, keduanya telah duduk di kursi meja makan, berhadapan. Mereka mengambil garpu mereka dan mulai menyendok makanan yang tersedia. Dengan tenang mereka makan. Ruang makan itu hening sekali. Hanya suara dentingan garpu dan piring yang terbentur satu sama lain. Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing. Sejujurnya, kedua orang itu masih syok dan bingung dengan apa yang terjadi di antara mereka. Masing-masing bertanya-tanya tentang apa yang terjadi semalam dan bagaimana mereka berdua bisa berada di sini. Oh, mungkin untuk Claude, itu wajar untuknya berada di sini. Ini kan apartemennya. Tapi, untuk Meyrin?

Terdengar bel berbunyi tanda ada tamu yang datang. Meyrin dan Claude langsung tersentak kaget mendengarnya. Keduanya menatap pintu sejenak lalu saling berpandangan. Siapa kah gerangan yang bertamu sepagi ini? Claude mendesah dan menyeka bibirnya dengan serbet. Ia lantas beranjak dari kursi dan membuka pintu apartemennya.

Saat membuka pintu apartemennya, Claude terkejut mendapati Hannah berdiri dengan wajah datarnya yang biasa.

.::*::.

Hannah berusaha mati-matian untuk tidak tersipu malu saat Claude membukakannya pintu dan melihat Claude yang shirt-less. Claude yang biasa saja sudah sangat tampan dan seksi di matanya. Tapi sekarang, oh terimakasih Tuhan, pemandangan luar biasa seksi terpampang di depan matanya. Dan lagi, lelaki seksi di depannya adalah pujaan hatinya. Hannah tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba keduanya membeku di tempat, saling bertatapan. Namun, keheningan itu dipecah oleh suara Claude yang berdehem.

"Ada perlu apa?" tanya Claude. Hannah kembali ke alam sadarnya dan memandang lurus ke arah Claude.

"Ah, aku ingin membahas sesuatu—"

"Siapa Claude?" pembicaraan Hannah terpotong oleh suara seorang wanita di dalam apartemen Claude. Hannah refleks mengalihkan perhatiannya ke dalam apartemen Claude dan langsung menemukan seorang wanita cantik yang menawan, cukup seksi—meski Hannah masih terbilang lebih seksi dari wanita itu—dan erm … agak berantakan. Rambutnya nampak seperti orang yang baru bangun tidur, acak-acakan. Kemeja putih perempuan itu kusut dan beberapa kancing teratasnya tidak terpasang. Hannah kembali menatap Claude dan mendapati keadaanya juga tak lebih baik dari wanita di dalam sana. Tadi, Hannah terlalu sibuk memperhatikan tubuh Claude yang tanpa atasan. Sekarang setelah diperhatikan baik-baik, Claude nampak sedikit kusut.

Hati Hannah mencelos. Keadaan seperti ini, nampaknya ini adalah gadis yang dimaksud Claude waktu itu.

"Anu, nampaknya kalian sedang sibuk. Urusan ini bisa lain kali. Jadi … bye." Hannah tersenyum sangat tipis sebagai bentuk sopan santun lalu beranjak pergi yang diikuti tatapan bingung dari Claude.

.::*::.

Hannah berjalan dengan langkah yang lebar dan cepat setelah ia mencapai lobi gedung apartemen Claude. Ia ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Saat Hannah melihat wanita itu, Hannah teringat akan apa yang dikatakan lelaki itu saat Hannah menyatakan perasaannya pada lelaki itu untuk terakhir kalinya.

'Aku sudah punya kekasih! Okay? Just leave me alone.'

Hannah berjalan semakin cepat sembari mengepalkan tangan sekuat tenaga. Berusaha untuk menyakiti dirinya untuk mengalihkan perhatiannya dari sakit di hatinya.

.::*::.

"Apa yang tadi itu kekasihmu?" Meyrin bertanya saat Claude sudah kembali duduk di kursinya.

Claude langsung menoleh dengan semburat kemerahan tipis yang ia tahan mati-matian. "Bukan. Hanya rekan kerja," katanya. Meyrin hanya mengangguk.

Meski Claude berkata begitu, Meyrin merasa bahwa Claude dengan gadis tadi memiliki suatu hubungan. Tapi, entahlah. Toh, itu bukan urusannya. Namun, sulit untuk tidak merasa penasaran dengan lelaki tampan, pikir Meyrin.

Sementara itu, Claude masih terbayang-bayang akan ekspresi Hannah tadi. Saat gadis itu menyadari keberadaan Meyrin, ia terlihat terkejut, sakit, marah, kecewa, dan terkhianati. Kenapa gadis itu merasa terkhianati? Claude merasa bersalah telah menyakiti gadis itu. Mungkin Hannah terlihat kuat, tapi dia tetap hanyalah seorang wanita. Di dalam, pasti dia sangat rapuh. Claude terkesiap. Untuk apa dia memperhatikan Hannah seperti itu?

Pagi itu, Claude tidak berselera makan.

.::*::.

Claude menyetir ke arah galeri seninya hari itu. Hari ini dia ada rapat dengan Sebastian dan Aleister untuk menentukan nama galeri tersebut, karena sebentar lagi galeri akan dibuka. Tidak mungkin galerinya dibuka tanpa nama. Sebenarnya rapat akan diadakan di kantornya, bukan di galeri. Tapi, ia merasa sedang ingin mengungjungi galeri. Pretty random, huh?

Beberapa rapat terakhir, Aleister mencoba untuk mengusulkan nama untuk galerinya. Ya, lelaki eksentrik itu mengusulkan beberapa nama. Pria pirang penuh semangat hidup dan sungguh dramatis. Tentu saja, Claude menolak semuanya. Bagaimana ia bisa menyetujui nama-nama yang diusulkan Aleister? Dan lagi, Aleister selalu mengusulkan nama-nama unik yang tidak pernah terpikirkan olehnya dan tidak akan pernah ia pakai, seperti Galeri Robin Kecil Biru—sungguh, apa hubungannya galeri seni dengan burung robin berwarna biru. Ia juga pernah mengusulkan nama Galeri Lobster Laut Raksasa—astaga, rasanya Claude sudah menegaskan bahwa ia akan membuka galeri, bukan restoran. Sungguh, terkadang ia bingung mengapa ayahnya mau bekerja sama dengan lelaki merepotkan seperti dia.

Claude tahu bahwa Aleister adalah salah satu dari pemegang saham terbesar di negaranya. Lelaki pirang itu termasuk dalam daftar sepuluh orang terkaya di sini. Sebagai salah satu rekan kerja Aleister, Claude tentu saja merasa beruntung. Tapi, sikap Aleister itu kadang-kadang tidak bisa ia tangani. Dan itu, terkadang, sungguh merepotkan.

Claude berbelok memasuki area parkir galerinya. Mobil Corolla Altis hitamnya terparkir tepat di sebelah gedung galeri tersebut. Claude keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah gedung galeri. Tak lupa ia mengunci pintu mobilnya terlebih dahulu. Ia berjalan santai ke arah pintu galeri dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana bahannya yang berwarna hitam.

Saat Claude memasuki galeri, ia hampir menabrak seseorang. Refleks, ia mundur ke belakang dan menggumamkan permintaan maaf pada orang tersebut. Saat ia menengadah dan melihat orang yang hampir saja ia tabrak, ia bertatapan dengan sepasang mata biru laut yang dalam. Claude kenal mata itu. Itu adalah mata yang selama ini memperhatikan Claude sejak ia SMA. Claude tengah bertatapan dengan Hannah. Claude terkejut. Ia tidak menyangka akan bertemu Hannah di sini. Meski begitu, ia masih mempertahankan ekspresi datarnya.

"Ah, selamat pagi, Claude," sapa Hannah. Gadis itu nampak datar seperti biasa. Yang sejujurnya membuat Claude sedikit bingung. Beberapa hari yang lalu, terakhir mereka bertemu di apartemen Claude, Hannah nampak tidak baik-baik saja. Tapi, sekarang Hannah berdiri di depannya, dengan ekspresi datarnya yang biasa dan nampak baik-baik saja. Kelewat baik-baik saja. Dan tatapan gadis itu membuat Claude bingung. Selama ini, gadis itu selalu menatapnya dengan tatapan damba dan penuh kasih sayang. Tapi sekarang, tatapan itu kosong dengan sedikit percikan yang Claude tidak bisa artikan. Namun percikan itu tidak terlihat bagus di matanya.

Hannah mengangkat alisnya memperhatikan Claude yang sedari tadi diam saja. Sejak Hannah menyapanya tadi, Claude nampak seperti tidak di tempat. Tubuhnya masih berada di depannya tentu saja, tetapi pikirannya seperti berada jauh. Ia nampak berpikir dengan dalam.

Tersadar dari lamunannya, Claude mengangguk kepada Hannah dan bergumam "pagi". Claude sedikit malu menyadari bahwa ia sedang melamun di depan Hannah.

Tunggu, kenapa aku harus malu?

"Ada apa kau kemari, Hannah?" tanya Claude. Setengah untuk menutupi rasa malunya dan setengah lagi karena ia merasa penasaran.

"Aku baru saja menyerahkan lukisanku," kata Hannah. "Tenang saja, aku sudah menemui Sebastian dan tuan Chamber untuk membicarakan tentang lukisanku sebelum aku datang ke sini." Hannah buru-buru menambahkan. Ia tahu bahwa sebenarnya ia tidak perlu menemui mereka sebelum menyerahkan lukisannya. Mungkin itu sudah kebiasaannya untuk meminta pendapat dulu sebelum benar-benar menyerahkan hasil lukisannya pada kliennya.

"Hm …" Claude bergumam, tidak tahu harus menjawab apa.

"Tadinya, aku ingin membicarakannya padamu saat aku berkunjung ke apartemenmu tempo hari yang lalu. Tapi, nampaknya kau sedang sibuk. Jadi, aku memutuskan untuk pergi menemui Sebastian dan membicarakannya." Hannah menjelaskan. Ia jadi teringat kejadian saat ia berkunjung ke apartemen lelaki di depannya. Ugh … rasanya baru saja ada yang memukul dadanya saat ia mengingat kejadian itu.

Claude mengernyit tipis saat mendengar Hannah menyebutkan nama Sebastian. Ia masih tidak suka saat Hannah menyebutkan nama rekan kerjanya di depannya. Dan ia bingung mengapa ia harus merasa tidak suka akan hal tersebut.

"Kau tahu bahwa kau bisa menyerahkan lukisanmu tanpa harus meminta persetujuan kami, bukan?" Claude mencoba mengganti topik. Ia tidak ingin mendengar nama Sebastian disebut.

"Ya. Ya, aku tahu. Tapi, aku lebih senang bila klienku puas dengan hasil karyaku sebelum kuberikan padanya." Ini sudah seperti kebiasaan bagi Hannah seperti yang tadi disebutkan. Ia harus meminta pendapat orang lain atau kliennya sebelum ia menyerahkan karyanya. Ini membuatnya selalu memberikan kepuasan yang tinggi terhadap para kliennya. Hingga sekarang, belum ada kliennya yang mengeluh tentang lukisan yang ia buat. Hannah cukup bersyukur dengan hal itu. Hidup sebagai seniman itu sulit, kau tahu?

"Ah…" Claude mengangguk mengerti.

"Aku duluan, Claude. Ada janji dengan orang. Sampai ketemu." Gadis itu melirik arloji di pergelangan tangannya selagi ia berbicara. Lalu, Hannah melambai dan beranjak dari tempatnya. Meninggalkan Claude berdiri memperhatikan gadis itu pergi. Sekilas Claude bisa mencium aroma kopi saat Hannah melewati dirinya. Aroma itu masih tercium dengan jelas meski Hannah sudah tidak lagi terlihat dari pandangannya

.::*::.

Kau gadis kuat Hannah.

Hannah terus bergumam dalam hati. Ia sungguh terkejut melihat Claude pagi itu. Jujur saja ia masih tidak ingin bertemu dengan lelaki tersebut. Tapi, apa daya. Mereka rekan kerja. Hannah seharusnya bisa menebak bahwa ia akan tetap bertemu dengan lelaki berkacamata itu cepat atau lambat.

Hannah dan Claude berbicara sebentar di depan pintu masuk galeri. Ia mencoba menahan diri untuk tidak menunjukkan betapa tidak nyamannya ia sekarang dan tetap berbicara kepada Claude. Gadis itu menahan tatapannya agar tetap tertuju pada mata Claude saat mereka berbicara. Hannah harus tetap bersikap professional. Bagaimanapun juga, Claude adalah atasannya dan ia harus menjaga sikapnya. Ia tak mungkin lari begitu saja dari atasannya lantaran ia cemburu.

Ya. Harus Hannah akui bahwa ia cemburu.

Kau gadis kuat, Hannah.

Hannah masih terus bergumam dalam hati. Bahkan, hingga perempuan berkulit tan itu pamit dan beranjak pergi dari galeri. Meninggalkan lelaki pujaannya sejak SMA itu di depan galeri seni.

.::*::.

To be continued

.::*::.

[a/n]

Terima kasih bagi kalian yang menunggu-nunggu cerita ini. Saya memohon maaf dengan sangat atas keterlambatan mem-publish cerita ini dikarenakan jadwal sekolah saya yang padat. Maklum saya masih anak sekolahan.

Saya juga mohon maaf atas kesalahan dalam chapter ini. Ntah itu dalam bentuk typo, ooc, atau apa pun itu.

Terima kasih sudah mau membaca cerita ini.

Sincerely, Kuro