.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Humor/Parody/Adventure/Friendship/Bahasa tidak baku/Curse words
Warn : T rate/OOC/Typo(s)/Chara death
Inspiration from Suikoden II
Story by DarkGrinSmile2
.
.
108 SHINOBI
CHAPTER 2
We Are Leader Of Mercenary Ninjas
-108-
Seorang pemuda tampak tergeletak di pinggiran sungai dengan tubuh yang basah kuyup. Tubuh pemuda yang didominasi dengan pakaian warna orange itu tak bergerak, membuat pria yang sedang berdiri di sebelahnya menjadi cemas.
'Naruto... Kau tidak boleh mati di sini atau permainan akan berakhir. Sadarlah Naruto!'.
Laki-laki yang berdiri di sebelah Naruto itu adalah Asuma Sarutobi yang ternyata malah menjadi hidup begitu masuk ke dimensi lain (hal itu juga berlaku pada semua tokoh Naruto yang seharusnya sudah mati tapi di dunia ini malah menjadi hidup, lantaran terkena jurus edo tensei sebelumnya).
Harapan Asuma terkabul. Pemuda itu secara perlahan membuka matanya. Kalau saja dia tidak ingat akan umur, mungkin dia akan melompat salto ke belakang dan berguling-guling saat ini juga karena saking senangnya melihat si pirang itu sadar, gak jadi mati. Tapi tentu saja Asuma jaga sikap.
"He? Ternyata gue masih hidup? Gue belum mati?" Naruto meraba-raba tubuhnya sendiri, merasa tak percaya kalau dia selamat dari arus sungai deras mematikan itu.
"Yah, untungnya aku berhasil menyelamatkanmu tadi," sambar Asuma cepat.
"Gu-guru Asuma? Ha-Ha-Hacchi!" Naruto bersin sambil nunjuk-nunjuk Asuma.
'Yeh, gue pikir ini anak mau bilang kalau gue itu hantu!' Asuma kecewa karena ternyata tebakannya salah.
"HA-HA-HANTU!" jerit Naruto yang tadi sempat tertunda gara-gara bersin.
'Nah! Ini baru bener!' Asuma malah ngebatin seneng waktu Naruto teriak nyebut-nyebut hantu ke arah dia.
"Kau tidak perlu takut, Naruto. Di dimensi ini saya resmi kembali menjabat sebagai manusia!" ucapan Asuma barusan setidaknya membuat hati Naruto tenang.
'Syukur deh. Gue kira tadi gue udah mati terus masuk ke alam kubur dan ketemu guru Asuma yang mau nagih utang ramen gue!' Naruto mengurut dadanya dengan lega. Pertama dia belum mati dan kedua dia gak perlu bayar utang.
"Lalu, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Naruto yang sukses bikin Asuma mau mengubur dirinya hidup-hidup saat itu juga.
"Seharusnya itu kalimat yang menjadi pertanyaanku!" bentak Asuma agak frustasi dan dia dapat menduga kalau pemuda penyuka ramen itu pasti belum hapal semua naskah miliknya.
"Naruto, sekarang jawab dengan jujur. Apa kau sudah membaca naskah milikmu?" tanya Asuma dengan curiga.
"Kalau itu tenang saja. Aku sudah membaca isi naskah itu!" jawab Naruto dengan mantap dan Asuma diam-diam menghela napas lega. "Tapi aku sama sekali belum hapal isinya, hehehehe." Naruto sukses nyengir dan Asuma kembali merencanakan penggalian kubur bagian kedua.
"Dengarkan aku baik-baik Naruto. Dalam dimensi ini semua ninja harus menjalankan perannya masing-masing. Nanti, siapa pun yang kau temui, anggap saja kau tidak mengenal mereka, mengerti?" Naruto medengarkan khotbah Asuma sambil manggut-manggut (sok) ngerti. "Kalau ada diantara mereka yang kau kenal dan berperan menjadi musuhmu, kau harus benar-benar menganggap mereka sebagai musuh sungguhan karena kalau kau lengah, kau bisa saja mati terbunuh... " Naruto menelan ludah setelah mendengar penjelasan yang terakhir. Ternyata keadaan lebih rumit dari dugaannya.
"Aku sudah memberimu penjelasan. Sekarang kita mulai peran kita," tukas Asuma sambil melemparkan rokok di mulutnya ke sembarang tempat.
"Sekarang jelaskan padaku siapa dirimu?" tanya Asuma yang mendadak berubah jadi serius dan bikin Naruto mules dadakan.
"Ba-baiklah... Na-namaku Naruto dan aku adalah salah satu anggota elie ninjas tingkat pertama, tingkat junior," jawab Naruto dengan sedikit gugup.
"Mercenary ninjas? Kalau tidak salah base camp kalian ada di atas tebing sana 'kan? Apa yang terjadi padamu sampai bisa hanyut di sungai begitu?" tanya Asuma lagi menginterogasi. Kelihatannya guru perokok itu sudah mengetahui 'sesuatu' lebih dulu dari Naruto.
"Sebenarnya aku juga tidak tahu... Tapi tempat kami diserang oleh pasukan mercenary ninjas... " Jawab Naruto sambil garuk-garuk bingung.
"Itu tidak mungkin karena mercenary ninjas baru saja menandatangani surat perjanjian atas kepemilikan Negara ini bersama dengan elite ninjas." Asuma kelihatan yakin banget kalau yang dibilang Naruto itu salah.
"Yakin banget sih, guru Asuma." Naruto melirik curiga jangan-jangan ada udang dibalik bakwan dan mendadak saja dia jadi laper.
"Hoi, apa kalian sudah puas ngerumpinya?" nongol satu mahkluk astral tak diundang dari belakang yang sekarang lagi jalan ke arah Naruto dan Asuma.
"Guru Kakashi!" Naruto kegirangan karena bertemu dengan Kakashi.
"Berapa kali harus kubilang. Bersikaplah pura-pura tidak kenal!" Asuma menampar dirinya sendiri secara mental. Kenapa Naruto sulit sekali untuk menuruti aturan yang sudah dibuat dan selalu lupa.
"Hehehe, maaf guru, aku lupa!" itulah reaksi Naruto. Hanya bisa nyengir dan memasang wajah polos seperti biasa.
"Ngomong-ngomong gimana anak yang satunya lagi? Apa kau berhasil mendapatkannya?" tanya Asuma mengenai Sasuke yang tadi ingin diselamatkan oleh Kakashi.
"Tidak tertolong. Arus sungainya terlalu deras... Aku kehilangan dia... Maaf, ya... " Jawab Kakashi yang kelihatan tidak menyesal sedikit pun ck ck ck.
'Jelas saja kau kehilangan dia kalau kau terus-terusan membaca buku itu!' batin Asuma dan Naruto secara kompak saat melihat Kakashi malah lebih asik baca buku sendiri.
"Tunggu dulu... Kalau begitu Sasuke? SASUKE DALAM BAHAYA!" otak Naruto yang baru complete loading-nya langsung histeris begitu paham sama percakapan Asuma dan Kakashi.
"SASUKE TUNGGU AKU! AKU AKAN SEGERA MENYELAMATKANMU!" Naruto langsung ngambil ancang-ancang mau nyebur kembali ke dalam sungai tapi langsung dicegat oleh Asuma.
"Tunggu dulu, Naruto!" Asuma mencengkram pergelangan kaki Naruto ketika pemuda itu hendak melompat dan nyebur ke sungai.
Bledugh!
Naruto sukses nyosor tanah berkat cengkraman maut Asuma.
"Guru Asuma, apa-apaan, sih? Ancur deh muka ganteng gue!" Naruto kurang ajarnya keluar sambil sempet-sempetnya narsis.
"Lo gak bisa pergi, nyebur seenaknya sendiri. Lo kira itu sungai punya nenek moyang lo!" sembur Asuma sewot lantaran si Naruto ngomongya kurang ajar banget sama dia.
"Terus gimana nasib si ayam? Kalo dia mati gimana?" Naruto cemas sih cemas, tapi sempet-sempetnya melontarkan hinaan ke Sasuke. Yah, mumpung orangnya gak ada. Kalau ada dia mana berani? Bisa dibantai di tempat berani nyebut-nyebut ayam dan sejenisnya di depan Sasuke.
"Dia gak bakalan mati karena menurut peraturan di sini, tokoh utama gak mati. Kalian berdua beruntung karena kebagian peran tokoh utama. Jadi mau kecebur sungai, kesamber geledek, dicincang, ditumis, digoreng, dibakar atau dicipok Orochimaru juga gaK bakalan mati!" cerocos Asuma yang makin lama makin ngelantur.
'Itu sih penyiksaan namanya. Mendingan gue mati beneran!' batin Naruto sweatdropped mendengar jenis-jenis cara memasak (baca : penyiksaan) yang diutarakan Asuma.
"Yah, kalau begitu aku bisa sedikit lega... " Balas Naruto yang sedikit senang. Minimal dia tahu kalau Sasuke gak bakalan mati meski hanyut 7 hari 7 malem plus disiram kembang 7 rupa di sungai.
"Eh, guru Asuma. Ngomong-ngomong tadi guru belum menjawab pertanyaanku. Kenapa guru Asuma bisa seyakin itu kalau mercenary ninjas gak nyerang elite ninjas?" Naruto mengalihkan topik. Malas juga lama-lama dia ngebahas jenis-jenis penyiksaan ala Asuma.
"Itu karena aku dan Kakashi adalah ketua dari mercenary ninjas dan kami sama sekali tidak melakukan penyerangan." Mata Naruto melotot. Dia gak percaya kalau dua gurunya di sini berperan menjadi musuhnya.
"Ketua mercenary ninjas? Ja-jadi kita adalah musuh?" Naruto awalnya keliatan kaget, tapi gak lama dia malah keliatan seneng (banget).
"Heh... Kau itu kenapa Naruto?" Asuma merasa aneh ngeliat Naruto yang sekarang lagi senyum lebar gak jelas di depannya.
"Akhirnya cita-citaku terkabul! Dari dulu aku selalu ingin menantang kalian berdua! Ayo sekarang kita bertarung!" Naruto malah sempet-sempetnya nantangin Asuma dan Kakashi.
"Memangnya kau bisa memakai jurus ninjamu di sini seperti biasa, eh duren?" Kakashi tampak tersenyum meremehkan dan memasukkan buku icha-icha paradise miliknya ke dalam tas kecil yang melingkar pada pinggangnya.
"Eh, iya juga ya. Kalau gitu duelnya ditunda dulu sampai jurus rasenganku balik lagi!" Naruto cengengesan saat nyadar ilmu ninjanya yang sekarang beda jauh sama yang sebelumnya.
"Oh, ya berhubung kita ini musuh jadi kami akan menangkapmu." Asuma menyeringai licik.
"Guru gak serius 'kan?" Naruto menatap horror ke arah Asuma dan Kakashi.
"Kami perlu membawamu untuk diinterogasi. Jangan khawatir kami tidak akan memakanmu," balas Kakashi yang malah tersenyum mencurigakan.
"Melihat guru Kakashi begitu, kenapa perasaanku jadi tidak enak ya... " Gumam Naruto yang akhirnya mau tak mau terpaksa ikut dengan Asuma dan Kakashi. Selain itu dia juga sebenarnya tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Jadi ikut dengan kedua gurunya merupakan pilihan yang tepat saat ini. Siapa tahu dia bisa makan ramen gratis (woi jadi niatnya mau makan doang?).
Sementara di tempat yang berbeda Orochimaru sedang memberikan laporan pada Raja Sarutobi mengenai serangan 'buatan'nya dan mengatakan kalau mereka harus melakukan pembalasan dendam atas nama kebenaran! (kejahatan).
"Jadi, bagaimana, euh... Ayah? Apa kau setuju dengan usulanku barusan?" kayaknya Orochimaru manggil Sarutobi pakai sebutan Ayah dengan setengah hati.
Groook... Groook!
Sang ayah ternyata malah enak-enakan tidur di bangku kebesarannya. Maklum, faktor umurnya yang udah tua. Dia udah kecapean duluan dengerin ocehan si Orochimaru yang udah 2 jam gak berenti-berenti.
'Dasar orang tua! Kalau gak ingat gue udah tobat, udah gue cincang nih kakek!' umpat Orochimaru yang sebel dia udah cerita ampe berbusa, eh si Sarutobi malah enak-enakan molor.
"Berhubung orang tua itu sudah tidur, jadi aku yang akan mengambil keputusan," ucap Orochimaru mengambil alih keadaan.
"Besok aku ingin kalian semua ikut denganku ke Kyaro town dan sebarkan berita ini kepada penduduk. Lalu kau, Mizuki. Pergi dan cari kedua bocah itu dan berikan ini khusus untuk Sasuke." Orochimaru menyerahkan sebuah amplop berwarna pink ngejreng dengan motif lope-lope plus ada tanda cap bibir yang kayaknya sih itu cetakan bibir si Orochimaru sendiri ke Mizuki.
"Awas, ya! Itu surat harus sampe ke Sasuke, kalo gak, gue pecat loe jadi ajudan!" Orochimaru ngancem dengan tampang serem.
"Apa kata loe aja dah... " Gumam Mizuki pelan.
"Kalau begitu, atas nama cintaku pada Sasuke. Ayo kita jalankan misi ini!" Orochimaru keliatan menggebu-gebu, sampai bawa-bawa nama cinta segala. Padahal jatuh cinta aja dia belom pernah.
Akhirnya sang pangeran cinta Orochimaru bersama dengan jendral-jendralnya yang kurang waras pergi menuju ke Kyaro town demi mendapatkan cinta Sasuke. Ralat, demi menaklukan Negara.
.
.
Sementara itu di mercenary fortress Naruto sukses di penjara. Pemuda itu saat ini tengah melamun sambil tiduran dan menatap langit-langit penjara. Memikirkan bagaimana nasib teman-temannya saat ini? Apa yang harus dilakukannya sementara ia terjebak oleh dua ekor guru nista yang tega banget memenjarakan muridnya sendiri.
"Guru Asuma... Guru Kakashi... " Naruto meratap pedih bagai dikhianati sang kekasih.
"Arrghhhh! Kenapa kalian berdua bisa sekejam ini padaku!" Naruto mengacak-acak rambutnya sendiri. "Sungguh teganya dirimu, dirimu sungguh teganya, oh teganya!" si Naruto malah joged-joged ala pole dance di depan pintu penjara.
"Dasar curang, semua ini gara-gara ilmu cakra gue ilang! Liat aja entar gue bales!"
Naruto sukses teriak-teriak sendiri. Untungnya di penjara sana hanya ada dia seorang diri. Jadi dia mau teriak, dangdutan, atau curcol sekali pun gak bakalan ada orang lain yang merasa terganggu lantaran harus mendengar suara cemprengnya.
Sementara di tempat lain, Sasuke terlihat tengah tertidur di dalam sebuah ruangan yang cukup nyaman dengan ranjang yang empuk dan hangat. Sungguh suatu keadaan yang berbanding terbalik dengan kondisi Naruto saat ini. Tampaknya dunia ini hanya adil untuk orang tampan itu memang benar.
Bagaimana kelanjutan dari kisah Naruto dan Sasuke? Lalu, apa rencana Orochimaru?
TBC
A/N : Asuma di sini menjadi Viktor (Suikoden II) : Salah satu pemimpin dari mercenary army. Tadinya saya mau memasangkan Jiraiya untuk posisi Viktor tapi sepertinya di sini Asuma lebih pas.
Lalu Kakashi di sini menempati posisi Flik (Suikoden II) : Kekuatan flik ada di skill listrik, sama halnya dengan Kakashi. Selain itu mereka memiliki pembawaannya yang hampir sama. Tenang, pintar, dan kuat.
Sarutobi jadi Raja Agares, Ayah dari Orochimaru hahaha. Agares sebenarnya adalah raja yang baik, hanya saja dia memiliki sikap yang kurang tegas sehingga terjadinya peperangan. kalau di cerita ini mungkin jadi lucu-lucuan aja...
Mungkin chapter depan saya akan perkenalkan para jendral sableng milik Orochimaru.
Kyaro town adalah kota kelahiran dari tiga tokoh utama, Naruto, Sasuke dan Sakura.
