7 Satsuki's Favorite Things

2 - Berry

Story by Titania aka 16choco25

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Summary : Daiki tidak pernah tahu Satsuki menyukai 7 hal yang benar-benar tidak ia sangka sama sekali. Dan ia hanya selalu berharap bahwa salah satu hal yang disukai Satsuki adalah dirinya, yang apa adanya dan selalu mencoba menjadi yang terbaik di mata Satsuki.

.

.

Satu-satunya hal yang Aomine Daiki tahu tentang hal yang disukai Momoi Satsuki adalah buah berry. Daiki sudah tahu fakta ini, bahkan sejak mereka bersama-sama sejak kecil. Dan pagi ini Daiki sudah melihat gadis bersurai merah muda itu mengulum buah berry, dan Daiki sudah begitu hafal buah berry itu, strawberry. Daiki duduk di sebelah Satsuki dan menatap gadis itu yang masih dengan santainya mengulum strawberry itu.

"Jadi hal lain yang kau sukai selain cokelat adalah berry. Aku mengerti," kata Daiki tiba-tiba.

Gadis itu menoleh heran. "Bukankah Dai-chan sudah tahu hal itu sejak dulu?" tanya Satsuki bingung.

Daiki menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Benar, fakta bahwa Satsuki menyukai buah berry sudah ia ketahui sejak dahulu, sejak mereka bersahabat sejak kecil, bermain basket bersama, dan melakukan segala hal bersama. Dan fakta yang tidak terbantahkan oleh seluruh sekolah adalah—mereka selalu pulang sekolah bersama.

"Yang belum keketahui adalah alasan mengapa kau menyukai buah berry," timpal Daiki. Satsuki memiringkan kepalanya, berpikir sejenak.

"Berry itu manis. Rasanya ringan, tidak begitu membebani indra pengecapku. Dan satu lagi, berry itu…" Satsuki menggantungkan kalimatnya, membuat Daiki semakin penasaran. "Mengejutkan dan membuatku merasa nyaman." Ia tersenyum, kembali meraih strawberry di lunch-box merah mudanya. Ia kembali mengulum buah itu dengan santainya.

Daiki hanya mengangguk, dan ia mengambil dua buah strawberry dari lunch-box Satsuki. Mencoba mencernanya, walaupun ia tidak terlalu menyukai makanan manis, namun begitu melihat wajah Satsuki yang nampak tenang saat memakan strawberry itu telah memaksanya untuk mengunyah buah manis itu. Ia mengunyah buah berwarna merah itu.

Manis.

Tunggu—sekarang seorang Aomine Daiki bingung, karena ia bingung yang mana yang lebih manis, strawberry yang dikunyahnya atau gadis berambut merah muda yang ada di sebelahnya.

"Karena aku sudah tahu setidaknya dua hal yang kau sukai, sekarang aku akan menebak beberapa hal yang tidak kau sukai," kata Daiki sambil menatap Satsuki lekat. Satsuki membiarkan lelaki itu menebaknya sendiri. Lagipula ia sendiri tidak paham mengapa Daiki menyibukkan dirinya menebak hal yang ia suka dan hal yang ia benci.

Baginya itu menggelikan.

Aomine Daiki menunjuknya tiba-tiba dengan bersemangat. "Katak!" teriaknya tiba-tiba dan Satsuki langsung mengangguk dengan cepat. Bagaimana ia bisa tidak membenci katak kalau lelaki berkulit cokelat di hadapannya itu yang menaruh katak di atas kepalanya saat ia kecil? Mungkin itulah penyebab ia takut katak hingga sekarang. Daiki hanya tergelak melihat gadis di hadapannya yang langsung berkacak pinggang.

Dia marah rupanya.

"Bagaimana bisa aku tidak takut katak bila kau tidak menaruh katak di atas kepalaku dulu?" omel gadis berambut merah muda itu. Dan Daiki hanya tertawa, mengingat kejadian masa kecil itu yang terputar kembali di benaknya, seakan-akan memutarnya dengan mode sepia. Satsuki menunjuk-nunjuk Daiki yang masih tertawa keras. "Benar, bukan? Kau itu jahat sekali waktu itu, sampai membuatku menangis!"

Daiki berusaha keras menahan tawanya yang bergema itu dan mengangguk. "Saat itu aku penasaran apakah kau itu takut katak atau tidak. Makanya waktu itu aku berniat menjahilimu. Dan aku tidak menyangka kau akan menangis waktu itu!" teriaknya membela diri, namun masih disertai dengan gelak tawa. Satsuki kembali mencomot strawberry di lunch-box ungunya.

"Lalu, hal apa lagi yang kau benci, Satsuki?" tanya Daiki.

Satsuki memajukan dagunya. "Kau."

"Aku?" Daiki menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya. "Jangan bilang kau membenciku karena insiden katak itu. Atau karena kesukaanku pada idol group. Atau aku yang menjuluki Kagami dengan—Bakagami, atau… banyak hal bodoh yang kulakukan?" tanya Daiki sambil memutar-mutarkan bola basket itu di ujung jari telunjuk kanannya. Satsuki tertawa.

"Bukan itu," kata Satsuki dengan cepat. "Habisnya kau selalu mengalahkanku dalam banyak hal. Kau lebih tinggi kira-kira sepuluh sentimeter lebih dariku. Kau jago basket. Punya segala yang diimpikan banyak laki-laki, yaitu wajah yang… mmm… tampan, keluarga yang berkecukupan, dan aku selalu berpikir kau itu sempurna. A perfect life," sambung Satsuki sambil mengunyah strawberry-nya.

Daiki hanya tertawa, tangannya masih sibuk memainkan bola basket di telunjuknya. "Jangan berpikiran seperti itu, Satsuki. Aku tidak seperti yang kau bayangkan. Bahkan terkadang aku bosan dengan hidupku sendiri."

"Bosan?"

"Aku bosan dengan hidupku. Terkesan hampa. Yang kulakukan hanya bermain basket, dan basket lagi."

"Lalu, hal apa yang membuatmu tidak bosan?" tanya Satsuki heran. Baginya Aomine Daiki hanya seorang lelaki yang aneh. Bermain basket adalah kemampuannya yang diakui semua orang. Tidak salah bila ia terus bermain basket, bukan? Bahkan kemampuan bermain basket itu pun diakui oleh Kise Ryouta, dan Ki-chan selalu berkata bahwa Daiki adalah orang yang menginspirasinya untuk terus bermain basket. Harusnya Daiki bangga dengan hal itu, bukan?

Daiki masih memusatkan perhatiannya pada bola basket yang berputar di ujung jari telunjuknya. "Sesuatu yang dapat membuatku nyaman. Dan tentunya itu bukan masakanmu," katanya disertai tawa di akhir kalimatnya. Satsuki langsung kembali berkacak pinggang untuk yang kesekian kalinya. Daiki masih tertawa keras.

"Mou! Dai-chan! Sudah kubilang, jangan menyebut masakanku itu buruk!" teriak Satsuki tidak tahan, namun memang Satsuki tidak bisa menyangkal tentang hal itu. Ia masih ingat betul saat ia menyajikan lemon yang tidak dipotong pada seluruh anggota timnya. Baginya hal itu memalukan.

Lelaki berambut biru itu hanya tertawa kecil melihat kelakuan gadis berambut merah muda disampingnya itu. Kali ini Daiki kembali mencomot strawberry di lunch-box ungu Satsuki. "Habisnya bagaimana? Memang masakanmu itu parah, bahkan Tetsuya pernah bilang bahwa kau itu tidak perlu pisau dapur untuk membunuh. Dari rasa masakanmu saja sudah bisa membunuh!"

"Hentikan itu!" omel Satsuki kesal. Lelaki berkulit cokelat dengan rambut biru itu buru-buru meminta maaf dan mereka kembali berbaikan. Selalu begitu. Mereka bisa saja bertengkar sepuluh menit yang lalu, dan sepuluh menit kemudian mereka akan berbaikan kembali. Memang pasangan sahabat kecil yang aneh. Ralat, bukan pasangan sahabat masa kecil. Mungkin pasangan kekasih.

"Belajarlah memasak, Satsuki," kata Daiki, masih dengan nada datar khasnya.

Satsuki mendengus. "Memasak itu prioritas terakhirku. Dan aku benci memasak."

"Bila kau menyayangi seseorang, pasti banyak hal yang ingin kau ubah dari dirimu. Termasuk kekurangan dan kelebihanmu." Lelaki itu kembali mendebat Satsuki. Dasar pemaksa. Satsuki malas untuk berdebat dengan Daiki, namun begitu mendengar kata-kata bijak seperti itu keluar dari mulut Daiki membuat Satsuki ingin kembali mendebatnya.

"Aku belum menyayangi seseorang secara khusus."

"Bahkan diriku?"

Hening sejenak.

Satsuki tahu, lelaki itu berhasil membuatnya terdesak.

"Dai-chan adalah salah satu elemen yang kusukai di dunia ini," kata Satsuki akhirnya.

"Katanya tadi kau membenciku," desah Daiki.

"Karena Dai-chan bodoh! Aku tahu bakatmu adalah bermain basket. Kau harus terus mengasah bakatmu itu. Aku benci mendengar kata-katamu tentang kebosanan hidup. Hidup ini penuh dengan berbagai misteri, dan yang harus kita lakukan adalah menyelidiki misteri itu hingga terpecahkan semuanya. Dan misteri hidupmu sudah mulai terkoyak, Dai-chan." Satsuki tersenyum. "Kau akan menjadi pemain basket yang hebat."

"Kalau aku tidak menjadi pemain basket?"

Satsuki berpikir sejenak. "Entahlah."

"Polisi?"

"Tidak mau."

"Kenapa?" Daiki mengerutkan kening. Baginya polisi adalah pekerjaan yang hebat. Seandainya ia tidak menjadi pemain basket, mungkin ia akan menjadi polisi. Menemukan ketegangan di setiap kasus yang diselidikinya. Membuatnya merasa mempertaruhkan nyawanya demi pekerjaannya.

"Nyawa polisi selalu terancam bahaya di setiap kasusnya."

Daiki menaikkan alisnya sekian sentimeter. "Itu benar. Dan hal itu membuatku semakin tertantang."

"Dan hal itu terpaksa harus mengambilmu dari hidupku."

"Dan itulah mengapa kau ingin aku menjadi pemain basket?"

Satsuki menunjuknya tepat di depan hidungnya. "Kau punya bakat, Dai-chan. Aku tahu itu."

Daiki mengembuskan napasnya. Ia melempar-lemparkan bola basket di tangannya dan men-dribble bola basket itu ke segala arah. Satsuki memandangnya lekat. Ia tahu lelaki itu akan begitu. Tidak akan meresponnya bila ia sudah terdesak dan tidak punya lagi jawaban. Satsuki hanya tersenyum. Daiki membiarkannya menang kali ini.

"Pada akhirnya setiap lelaki itu akan menjadi ayah bagi anaknya, dan suami yang baik bagi istrinya," timpal Daiki sambil melemparkan bola basket itu masuk ke dalam ring basket. Masuk dengan sempurna. "Dan bagaimana denganku? Bagaimana menurutmu, Satsuki?"

"Mana kutahu!" teriak Satsuki tidak tahan. Lagipula Daiki selalu begitu. Membiarkan hidupnya diatur seenaknya. Apa dia tidak berpikir setidaknya sedikit saja rencana masa depan hidupnya? "Dai-chan pasti akan menjadi ayah yang hebat," ujarnya lagi. Daiki hanya tersenyum begitu mendengar jawaban Satsuki. Gadis itu selalu begitu. Tidak sekalipun menyanggah ucapannya.

"Seorang ayah dan suami yang hebat perlu istri yang hebat."

"Aku tahu, aku tahu," kata Satsuki tanpa jeda.

Daiki hanya tersenyum. "Dan kau juga gadis yang hebat."

"Siapa yang bilang begitu?"

"Aku," kata Daiki sambil menunjuk dirinya sendiri. Satsuki hanya bisa membalasnya dengan raut muka yang sudah berwarna seperti warna rambutnya sendiri. Daiki kembali mencomot strawberry terakhir yang ada di lunch-box Satsuki. Menelannya setelah mengunyahnya halus-halus.

"Terus, kenapa kau bilang begitu?"

"Karena aku akan menikahimu. Jadi istriku, ya, Satsuki?"

Strawberry di lunch-box Satsuki sudah habis. Satsuki tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Namun melihat tampang serius seorang Aomine Daiki, Satsuki hanya bisa memikirkan adanya beberapa kemungkinan untuk mendebat lelaki itu, namun ia kehabisan kata-kata untuk mendebat lelaki berambut biru itu.

Ah, kali ini Aomine Daiki kembali memenangkan hatinya.

.

.