7 Satsuki's Favorite Things

3 - Basketball

Story by Titania aka 16choco25

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Summary : Daiki tidak pernah tahu Satsuki menyukai 7 hal yang benar-benar tidak ia sangka sama sekali. Dan ia hanya selalu berharap bahwa salah satu hal yang disukai Satsuki adalah dirinya, yang apa adanya dan selalu mencoba menjadi yang terbaik di mata Satsuki.

.

.

"Aku malas sekali hari ini. Sungguh."

Daiki hanya menggedikkan bahu begitu mendengar kata-kata Satsuki barusan. Gadis itu sudah sibuk sekali dengan banyak urusan pagi ini. Ia harus mengontrol beberapa pemain basket di lapangan. Belum lagi menyelesaikan laporan. Dan membuat analisis. Dan masih banyak lagi hal yang harus ia lakukan. Kadang Daiki berpikir, apa gadis itu tidak pernah lelah dengan kegiatan super padatnya itu? Oke, Daiki masih bisa menerima kenyataan bahwa gadis itu manajer tim basket. Tapi seharusnya ia sedikit meluangkan waktunya untuk dirinya sendiri, bukan?

Semenjak Daiki kembali menyukai basket, gadis bersurai merah muda itu seakan-akan tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Ia menyibukkan dirinya menemani Daiki membeli beberapa perlengkapan basket, memberi saran apa yang harus ia pilih, mengajak Daiki ke toko perlengkapan olahraga, dan masih banyak hal remeh yang Satsuki lakukan untuknya.

Hanya untuknya.

"Kenapa?" tanya Daiki, merespon.

"Malas bergerak." Satsuki mengerutkan bibirnya.

"Sebaiknya kau beristirahat," saran Daiki. Walau ia bukan tipe lelaki perhatian, namun entah mengapa seluruh perhatiannya tertuju pada gadis berambut merah muda di sebelahnya itu. Gadis itu langsung menggeleng.

"Aku malas dan ingin mencari kegiatan baru," ujar Satsuki sambil mengitarkan pandangannya ke beberapa sudut. Dan tiba-tiba telunjuknya mengarah ke satu arah. Daiki menoleh ke arah yang ditunjukkan Satsuki. Gadis itu mengedipkan matanya sambil tersenyum padanya. Lapangan basket? "Dai-chan, bagaimana kalau kita berduel basket?"

Sudah Daiki duga, pasti begitu. "Basket? Kau menantangku, Satsuki?" Daiki menyeringai. Satsuki mengangguk tanpa rasa takut sedikitpun. Daiki tertawa kecil. "Aku tidak mau lagi mengalahkanmu, Satsuki," Daiki menahan napasnya. "Kau harus menjadi yang nomor satu."

"Heh, kenapa?"

"Kau yang akan menikah denganku. Dan aku tidak mau melihat kau selalu kalah denganku."

"Dasar, posesif." Satsuki memukul kepala Daiki pelan begitu mendengar ucapan bernada percaya diri yang begitu tinggi seperti itu. Lelaki berkulit cokelat itu hanya tertawa. "Sekarang bagaimana? Mau menjadi lawanku bermain basket, Dai-chan?" Satsuki melirik lelaki di sampingnya yang masih bersiul-siul. "Aku sudah tidak selemah dulu. Aku sudah mendapat latihan khusus dari Tetsu-kun. Dan kupikir sekarang mungkin saja aku akan mengalahkanmu."

"Lagipula kenapa kau ingin bermain basket?" Daiki mengangkat bahunya.

Satsuki tersenyum riang. "Karena basket adalah salah satu hal yang kusukai di dunia ini."

Daiki tidak bisa merespon dan mengalah lagi.

.

a. catching

Begitu melihat tangkapan bola basket Satsuki dari tangannya, Daiki hanya berpikir bahwa gadis itu sudah jauh lebih baik dibandingkan saat ia masih kecil dulu. Sekarang yang ia pikirkan adalah beberapa kemungkinan ia menangkap hati Satsuki, berusaha memenangkan hati gadis berambut merah muda itu. Seorang Aomine Daiki tidak bercanda saat mengatakan ia yang akan menikah dengan Satsuki. Karena hatinya sudah termenangkan oleh gadis itu. Ia sudah tidak bisa mengelak lagi dari perasaannya sendiri.

"Satsuki, kau hebat."

Gadis itu tersenyum, dengan bola basket di tangannya. "Terima kasih!" serunya.

Daiki mengejar Satsuki, dan berhasil merebut bola basket di tangan Satsuki dengan cepatnya.

"Dai-chan!"

b. dribbling

Bila saja perasaan Satsuki dengan mudahnya digiring menuju sosok Aomine Daiki, sama mudahnya seperti Daiki men-dribble bola basket di tangannya, Daiki pasti akan sangat bahagia. Daiki hanya tersenyum melihat gadis berambut merah muda itu yang terengah-engah mengejarnya. Satsuki masih berusaha merebut bola basket dari tangan Daiki, namun lelaki itu—begitu sulit untuk dikecoh. Daiki bergerak dengan cepat menuju garis putih. Di hadapannya sudah terpampang ring basket kosong tanpa penghuni. Satsuki kembali mengejar Daiki dengan wajah kesal, sementara Daiki tertawa-tawa.

"Dai-chan! Curang!"

"Aku tidak curang, Satsuki. Justru kau yang lengah."

"Dai-chan! Cepat sekali!" Satsuki kembali mempercepat langkahnya mengejar Daiki. Daiki kembali tertawa.

"Satsuki, besok malam, berdandanlah yang cantik."

"Heh, kenapa?" Satsuki mengernyitkan keningnya.

"Habisnya kau tidak pernah terlihat cantik," kata Daiki disertai tawa kecil di akhir kalimatnya. Satsuki yang sudah berhasil menjajari Daiki, kembali memukul kepalanya gemas.

"Hei, aku serius, Dai-chan! Memangnya ada apa dengan besok malam?"

c. shooting

Daiki bersiap-siap melemparkan bola basket ke dalam ring. Ia berencana menyelesaikan permainan basket itu dengan sekali tembakan.

Ia melirik Satsuki.

"Hei, kenapa? Ada apa dengan besok malam, Dai-chan?" desak Satsuki.

Daiki melirik Satsuki sambil tersenyum.

"Besok aku akan melamarmu, Satsuki."

Tembakan bola basket itu dengan sukses memasuki ring basketnya.

Disertai dengan rona merah yang menguasai wajah Satsuki untuk sekian lamanya.

"Hei, Satsuki, kau dengar tidak?"

Satsuki terdiam sejenak, berusaha mengendalikan rasa bahagia yang menyelimutinya.

"Aku selalu mendengarmu, Dai-chan."

.

.