.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Humor/Parody/Adventure/Friendship/Bahasa tidak baku/Curse words
Warn : T rate/OOC/Typo(s)/Chara death
Inspiration from Suikoden II
Story by Akatsuki Ren
.
.
108 SHINOBI
CHAPTER 4
We Are Leader Of Mercenary Ninjas
-108-
Mercenary fortress...
.
"Aduh, kenapa nasibku malang sekali di sini! Katanya jadi tokoh utama? Tapi kok malah jadi kayak pembokat gini? Huh! Ini gak adil!" Naruto menggerutu sambil negepel. Sekarang posisinya dia ada di kamar Asuma yang dalemnya bener-bener kotor! Kayak gak pernah dibersihin selama setahun aja itu kamar.
"Huah... " Naruto mengusap peluh keringatnya yang ngalir dari jidatnya, "akhirnya semua pekerjaanku beres juga! Sekarang waktunya untuk makan!" Naruto senyum lebar sambil ngebayangin dua ekor mie ramen dan mendadak air liurnya kembali netes.
Naruto buru-buru ngibrit lari ke ruangan bawah buat nemuin Matsuri dan laporan kalo pekerjaan dia udah beres dan dia mau langsung nagih mie ramen yang dijanjikan oleh cewek itu.
"Liat Matsuri senyum aneh kayak gitu... Kenapa bikin firasat jadi jelek, ya?" gumam Naruto pelan. Dari jauh dia udah bisa liat Matsuri senyum-senyum aneh ke arahnya. Curiga, jangan-jangan dia mau dikerjain lagi sama Matsuri.
"Gimana? Udah beres semua?" tanya Matsuri yang lagaknya persis kayak bos besar. Bikin hati Naruto agak mangkel.
"Udah. Semuanya udah dipel sampe kinclong! Sampe kepala Om-Om botak yang ada di perpustakaan tadi juga dipel sampe licin!" jawab Naruto dengan perasaan bangga.
"Oh, bagus, bagus!" Matsuri manggut-manggut puas.
"Sekarang mana mie ramennya?" tanya Naruto nagih janji cinta, eh, ramen yang dibilang Matsuri sebelumnya.
"Entar dulu. Masih ada satu kerjaan lagi yang harus diselesaikan!" omongan Matsuri memupuskan harapan Naruto untuk bertemu dengan ramen tercinta.
"Kerjaan apa lagi, sih? Penting banget, ya? Gak bisa ditunda dulu gitu?" Naruto udah sebel aja kenapa berat banget peran dia di dimensi ini. Mau makan ramen aja susah bener. Gak tau apa dari tadi dia udah laper lagi? Matsuri juga tega beneran sama dia.
"Sabar ngapa. Nanti juga dikasih ramennya, nambah deh jadi tiga porsi!" Matsuri ngangkat tiga jarinya di depan muka Naruto sambil nyengir sambil masang tampang persekongkolan.
"Hehehehe... " Naruto nyengir makin lebar, "deal!" ucap pemuda itu sambil menangkap ketiga jari Matsuri sebagai tanda persetujuannya.
"Lalu, apa yang harus kukerjakan sekarang?" tanya Naruto yang udah siap siaga. Apa pun bakalan dia lakuin, apalagi porsi ramennya jadi nambah satu mangkuk. Gak mungkin dia gak semangat.
"Temui Sasame dan minta dia memberikan 2 pair of boots, lalu ke blacksmith minta 3 of flints dan terakhir ke tempat persediaan makanan. Minta pada penjaga di sana 2 tepung. Paham?" Matsuri menjelaskan satu-persatu barang yang harus dicari Naruto.
"Setelah mendapatkan semua barang-barang itu, serahkan kepadaku. Ngerti?" Matsuri sebenernya gak yakin Naruto bakalan hapal tapi ya bodo amat, yang penting dia udah jelasin tugas yang harus dilakukan Naruto.
"Ok, sip!" Naruto mengacungkan jempolnya dan bergegas ke TKP pertama.
.
.
"Yo, Sasame!" Naruto langsung nyapa Sasame yang langsung kaget ngeliat penampakan hantu duren aka Naruto.
"Ha-hai Naruto. Kamu pasti orang baru yang dikatakan Matsuri. Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" respon Sasame agak canggung tapi gadis itu masih berusaha untuk menjalani perannya dengan baik.
"Ah, formal sekali dia... " Gumam Naruto saat melihat sikap Sasame. tapi dia dapat mengerti kenapa gadis itu bersikap demikian. "Hemm... Aku mau mengambil barang yang dititipkan Matsuri. Dia memintaku untuk mengambil 2 pair of boots." Naruto menyampaikan pesan yang dikatakan Matsuri padanya.
"2 pair of boots. Ini dia!" dengan cepat gadis itu memberikan apa yang diminta si duren.
"Oke. Sekarang ke tempat selanjutnya! Ramen jumbo 3 porsi, bersiaplah, akang datang!" Naruto ngacir dengan perasaan bahagia.
.
.
Pemuda itu sukses mendapatkann 2 pair of boots dan 3 flints. Namun sayang, barang terakhir yang diminta Matsuri tidak bisa dia dapatkan karena sang penjaga gudang bahan kehabisan stok tepung. Naruto terpaksa kembali ke Matsuri dengan hanya menyerahkan 2 boots dan 3 flints saja.
"Loh, tepungnya mana?" tanya Matsuri saat melihat barang-barang yang dibawa Naruto.
"Katanya persediaan tepung sudah habis," jawab Naruto kecewa. Gak ada tepung, berarti barangnya gak lengkap dan artinya gak bakalan ada ramen 3 porsi untuknya.
"Kalau begitu aku ingin kau pergi ke desa Ruby dan membeli tepung di sana." Matsuri menghela napas. Sepertinya tak ada pilihan lain selain menyuruh Naruto untuk pergi membeli tepung di desa sebelah karena dia sedang sibuk.
"Sekarang pergi temui Ayane dan bilang padanya kalau kau akan pergi ke desa Ruby untuk membeli tepung. Ingat, kau harus pergi dengan seseorang dari sini dan kau tidak boleh kabur!" ucap Matsuri menjelaskan dan memberi peringatan pada Naruto sekaligus.
"Siap, Bu!" Naruto melakukan gerakan hormat kepada Matsuri. Setelah itu dia bergegas pergi mencari Ayane di lantai atas.
.
"KAK AYANEEEEE!" Naruto lari-lari sambil teriak pake toa yang entah dari mana bisa dia dapatkan (mungkin dari gudang?). "KAKK AYANEEE TOLONGG!" teriaknya lagi.
"Naruto, tidak perlu teriak-teriak begitu kalau jarak kita sekarang kurang dari satu meter!" semprot Ayane sambil ngambil toa tersebut dari tangan Naruto dan melemparnya ke sembarang arah dan sukses nemplok (?) di kepala Enma yang kebetulan lagi duduk dekat situ.
"Hehehehe... " Naruto balik nyengir lagi sambil garuk-garuk kepala.
"Ada perlu apa Naruto?" tanya Ayane dengan setengah mendengus.
"Ano... Matsuri menyuruhku untuk pergi membeli tepung di desa Ruby dan katanya aku harus membawa seseorang untuk pergi ke sana," jawab Naruto sesuai dengan titah Matsuri.
"Kalau begitu Enma. Apa kau bisa mengawal Naruto untuk pergi ke sana?" Ayane mengalihkan tatapannya ke arah Enma sambil melemparkan senyuman.
"Hah? Apa? Mengawal bocah ingusan seperti dia? Aku ini ksatria bukannya pengasuh anak kecil!" Enma protes waktu tahu disuruh ngawal Naruto ke desa Ruby.
"Siapa yang bocah ingusan, hah?!" emosi Naruto langsung naik ke ubun-ubun. Enak aja dibilang bocah ingusan. Dia akui kalau dia emang bocah tapi gak pake ingus juga kali!
"Sudah, sudah jangan teriak-teriak di sini! kupingku sudah cukup sakit mendengar kalian bertengkar!" omel Ayane yang ngerasa lama-lama dia bisa jadi budek beneran kalau dekat-dekat sama Naruto.
"Enma sekali ini saja, tolong ya? Enma 'kan ksatria yang paling keren dan kuat! Jadi sudah kewajibanmu sebagai ksatria yang kuat untuk membela yang lemah!" Ayane sama sekali tak menduga kalau dia akan merayu seekor kera seperti sekarang ini. hancur sudah harga dirinya sebagai wanita populer di kalangan pecinta ramen Konohagakure.
"Hehehehe. Baiklah, karena Ayane yang memaksa aku akan menurutinya!" Enma cengengesan kesenengan dipuji-puji cewek. Jarang-jarang banget ada cewek yang mau muji dia kayak gini.
'Hahahaha bukan maksa tapi kepaksa keles!' batin Ayane miris.
"Sip! Ayo kita pergi ke Desa Ruby dan aku bisa segera mendapatkan jatah ramenku!" Naruto teriak kegirangan karena jurus rayuan Ayane ampuh juga ke Enma.
"Apa? Kalian mau ke desa Ruby? Aku ikut ya, ya, ya, ya, ya?" sambar seorang gadis kecil dengan cepat dan memelas untuk diajak pergi ke desa Ruby.
"Rin, memangnya semua tugasmu sudah selesai?" tanya Ayane pada gadis kecil itu.
"Tenang saja. Aku sudah selesai mengobati para prajurit yang terluka. Obat-obatan dari Dokter Shizune juga sudah kuberikan pada Asuma dan Kakashi." Rin mengangguk dan melaporkan semua pekerjaannya di mercenary fortress sudah selesai.
"Baiklah kalau begitu. Enma, kau bisa menjaga mereka berdua 'kan?" Ayane kembali melirik ke Enma yang terlihat keberatan.
"Arghh! Aku harus mengasuh dua bocah ingusan sekarang?" Enma cemberut dengan muka yang gak imut.
"Tolonglah, ksatria kuat, Kapten Enma." Sekali lagi Ayane terpaksa harus merayu Enma.
"Oke! Ayo kita berangkat!" berkat rayuan Ayane, sang kera sakti pun jadi bersemangat layaknya prajurit yang mau bertempur di medan perang.
-108-
Di depan markas...
.
"Baiklah, mulai sekarang kalian berdua adalah tanggung jawabku dan panggil aku dengan sebutan Kapten Enma. Kalian paham?" di depan markas si Enma nyuruh Naruto dan Rin untuk baris di depan dia.
"Gak usah berlebihan gitu, deh! Desa Ruby 'kan deket dari sini!" cetus Rin dengan gaya yang sok tau. Tapi emang bener sih. Enma emang sedikit berlebihan.
"Bicara apa kamu itu, Rin? Biarpun jaraknya deket kayak lagu dangdut 'pacarku memang dekat lima langkah dari rumah' tapi tetep aja di sana banyak monster berkeliaran yang sewaktu-waktu bisa nyerang!" cerocos Enma pake segala bawa-bawa lagu dangdut pula.
"Terserah aja deh. Yang penting sekarang ayo kita ke desa Ruby sebelum hari gelap!" Naruto males ngeladenin Enma. Mendingan dia jalan duluan.
Sementara ketiganya pergi menuju ke desa Ruby. Sasuke yang keadaannya sudah membaik memutuskan untuk mencari keberadaan Naruto. Berita tentang seorang pemuda yang menjadi tawanan di mercenary fortress begitu cepat menyebar bahkan sampai ke desa Toto, tempat di mana sekarang Sasuke berada. Sasuke yang (emang udah) tahu mengenai kabar tersebut akhirnya pergi. Jarak desa Toto ke mercenary fortress tidak begitu jauh. Kalau dia memakai kecepatan penuh mungkin dia akan sampai pada malam harinya.
.
.
Ruby Village...
Naruto beserta Enma dan Rin sudah tiba di desa Ruby. Di desa itu mereka sudah disuguhi oleh keramaian para penduduk desa yang sedang berkerumun melihat sesuatu.
"Desa ini sama sekali tidak berubah! Masih sama seperti dulu!" seru Rin sambil menghirup dalam-dalam udara pada desa tersebut.
"Jangan lupa kita kemari karena ada tujuan lain!" Enma memutar tongkatnya dan menyuruh Naruto untuk lekas mencari barang yang ia perlukan.
"Ih, Enma reseh banget deh!" Rin manyun karena perkataan Enma.
"Ayo cepat ikuti aku!" Enma bergegas berjalan ke sebuah toko yang ada di desa tersebut. Naruto dan Rin membuntuti Enma (dengan Rin yang memasang muka masam).
Di dalam toko itu Naruto segera meminta untuk diberikan 2 kantung tepung sesuai dengan yang diminta oleh Matsuri.
"Jangan pulang dulu, ya? Aku masih mau melihat-lihat keadaan di desa ini, please~ ".
Matsuri mengeluarkan jurus puppy eyes ke Enma dan Naruto, dan yak, jurusnya itu berhasil membuat Enma luluh. Kera berbulu putih itu akhirnya mengijinkan Rin untuk melihat-lihat di desa Ruby.
.
.
"Eh, lihat di sana! Kayaknya ada peramal keliling di situ!" Rin menunjuk ke arah kerumunan orang-orang yang sedang mengelilingi tiga orang yang berada di bawah pohon. "Ayo kita lihat!" dengan langkah riang gadis itu melangkah maju. Tapi karena terlalu senang gadis itu jadi tidak fokus dan menabrak seseorang.
Brukh!
Rin menabrak seorang pemuda yang sedari tadi hanya berjalan mondar-mandir ke kiri dan ke kanan.
"Maaf, aku tak melihat!" Rin secara reflek langsung meminta maaf kepada orang yang ditabraknya.
"Bonaparte?! Apa kau melihat Bonaparte?! Di mana Bonaparte!?" cowok yang ditabrak sama Rin malah histeris nyari-nyari Bonaparte sambil guncang-guncangin bahu Rin.
"Woi, woi! Lepasin anak orang dong. Kasihan tuh, matanya udah muter-muter begitu!" Naruto sweatdrop ngeliat Rin yang klenger gara-gara kena guncangan maut.
"Oh, maaf aku tadi panik... " Balas pemuda itu yang langsung melepaskan Rin begitu sadar apa yang telah dia lakukan. "Sekali lagi, maaf ya." Pemuda itu membungkuk minta maaf dan bergegas kembali berjalan sambil berteriak-teriak memanggil nama Bonaparte.
"Dasar orang aneh... " Gumam Naruto sambil geleng-geleng. Gak sangka ternyata ada juga orang yang jauh lebih aneh dari dirinya.
"Hei, Rin. Kau tidak apa-apa?" Enma nyolek-nyolek Rin pake tongkat saktinya.
"Aku tidak apa-apa sebelum kau mencolekku dengan tongkat itu, Enma!" omel Rin sambil menepis tongkat Enma dari lengannya. "Udah, ah. Mending ke sana aja!" Rin berdiri dan bergegas berjalan menuju ke arah kerumunan yang sejak awal masuk desa sudah menjadi perhatiannya.
"Maaf, tolong beri kami ruang untuk melakukan persiapan!" seorang pemuda berambut panjang tampak kewalahan mengatasi kerumunan yang semakin ramai di sekitarnya.
"Memangnya mau ada apa di sini? kenapa banyak sekali orang yang berkumpul?" tanya Rin pada salah satu penduduk yang ikut berkerumun.
"Mereka peramal keliling dan mau menggelar aksinya di desa ini. Pasti bakalan seru!" jawab pria lokal tersebut dengan antusias.
"Maaf, ya pertunjukannya belum dimulai. Harap bersabar!" seorang gadis berambut coklat muda panjang berusaha untuk menjelaskan keadaan mereka.
"Yah, belum dimulai. Padahal aku ingin sekali melihatnya!" Rin tampak kecewa karena acaranya belum dimulai.
"Sudah kita pulang saja. Lihat hari sudah sore dan sebentar lagi gelap. Jangan sampai membuat yang lain cemas, selain itu kau harus segera kembali ke Muse city 'kan?" Enma menepuk kepala gadis kecil itu sambil tersenyum dan mengingatkan kalau mereka harus segera pulang.
"Baiklah, ayo kita pulang." Rin mengangguk dan menuruti perkataan Enma.
Ketiganya akhirnya meninggalkan desa Ruby dan kembali ke mercenary fortress.
TBC
A/N : Di sini saya memakai nama-nama kota yang ada di suikoden 2.
Rin di sini berperan sebagai Tuta, murid dari Dokter Huan (di sini diperankan oleh Shizune)
Enma memerankan Kapten Gengen
Ayane memerankan Leona dan Sasame memerankan Barbara (sengaja memasang Sasame, biar house keeper-nya imut sedikit :3)
