7 Satsuki's Favorite Things
4 - Ice Cream
Story by Titania aka 16choco25
Kuroko no Basuke © Fujimatsu Tadatoshi
Summary : Daiki tidak pernah tahu Satsuki menyukai 7 hal yang benar-benar tidak ia sangka sama sekali. Dan ia hanya selalu berharap bahwa salah satu hal yang disukai Satsuki adalah dirinya, yang apa adanya dan selalu mencoba menjadi yang terbaik di mata Satsuki.
.
.
Bulan menampakkan bentuk bulatnya yang menurut Satsuki sangat mirip dengan permukaan koin perak yang berkilauan, dan Daiki hanya tersenyum melihat wajah Satsuki yang dari tadi sudah memerah memandanginya. Orang tua Satsuki tidak ada di rumah dan gadis bersurai merah muda itu sendirian—karena Satsuki adalah anak tunggal sama seperti Daiki. Itu berarti―Daiki masih memerlukan waktu lama untuk melamar Satsuki di hadapan orang tuanya. Gadis itu masih menyisakan rona merah di wajahnya, membuat Daiki agak sedikit geli.
"Kau ini canggung sekali, Satsuki."
Gadis itu memajukan bibir bagian bawahnya sekian sentimeter begitu mendengar kata-kata lelaki berkulit cokelat itu. "Ha-habisnya, kau bilang, kau akan melamarku malam ini, bukan?" tanya Satsuki ragu-ragu.
"Tapi kau tidak perlu memakai sepatu hak tinggi juga, bukan, untuk acara ini? Ganti dulu sepatumu, aku mau mengajakmu jalan-jalan terlebih dahulu, kalau kakimu yang begitu kau sayangi itu cedera, aku tidak bertanggung jawab. Cepat. Kuberi waktu lima menit." Daiki melirik jam tangannya, dan Satsuki buru-buru melepas sepatu hak tingginya sambil bersungut-sungut.
"Astaga, dasar kau ini. Tidak romantis sekali," Satsuki buru-buru mengambil sepatu kets dari rak sepatunya dan menjejalkannya dengan paksa ke kakinya dengan cepat. Daiki hanya tergelak. Satsuki bersungut-sungut, namun bagi Daiki, saat-saat calon pendamping seumur hidupnya itu marah, adalah saat-saat dimana Daiki bisa melihat wajah Satsuki yang unik. Wajah marah Satsuki yang jarang sekali ditunjukkan padanya.
Sepertinya Daiki harus segera memutar otak lagi untuk membuat Satsuki tersenyum.
Mereka melewati lampu jalan dan rembulan yang cahayanya menaungi mereka malam ini. Daiki menggandeng tangan Satsuki dan mereka berhenti di sebuah taman bermain di pinggir kota Tokyo. Satsuki memandang komidi putar yang berputar pelan di keramaian itu dengan pandangan antusias dan Daiki melirik Satsuki sambil tersenyum. "Kau mau masuk, Satsuki?" Daiki mengulurkan dua tiket yang sebenarnya sudah dibelinya kemarin. "Aku punya satu tiket gratis untukmu."
"Boleh!" Satsuki langsung menyambar tangan Daiki, buru-buru memasuki taman bermain yang cukup besar itu. Daiki hanya tersenyum kecil begitu melihat rona merah di pipi Satsuki. Ia berhasil. Ia berhasil membuat senyum gadis itu mengembang kembali. Mereka mengitarkan pandangan di antara keramaian, mencoba mencari-cari beberapa permainan yang menurut mereka nyaman untuk dimainkan.
Satsuki memaksa Daiki bermain pancing yoyo. Mungkin dalam dunia basket, Aomine Daiki memang lebih unggul dibandingkan Satsuki, namun gadis bersurai merah muda itu hanya tertawa melihat tangan Daiki yang kini begitu kaku dalam memancing yoyo sasarannya. Kerut-kerut bermunculan di sekitar keningnya, membuat Satsuki harus bersusah payah untuk tidak tertawa lepas. Namun Daiki masih belum menyerah.
"Dai-chan, sudahlah, menyerah saja." Satsuki masih menahan tawanya menyembur keluar begitu melihat Daiki yang masih begitu berkonsentrasi pada kait pancingannya. Daiki langsung berdiri dengan wajah kesal, lelah, dan putus asa. Satsuki akhirnya bisa tertawa dengan keras. Daiki yang beberapa menit lalu masih bersikap normal, kini mulai kelelahan. Ia menyerah rupanya.
"Sudahlah, kita coba permainan lain saja." Daiki menarik tangan Satsuki menuju tempat permainan lainnya. Daiki memancingkan boneka beruang cokelat untuk Satsuki dengan cepat. Satsuki tertawa-tawa melihat Daiki yang begitu berusaha agar kaitannya mengait pada leher boneka beruang itu. Namun akhirnya Daiki berhasil. Setelah selesai, mereka melanjutkan membeli makanan. Satsuki membeli es krim cone dan Daiki membelikan seporsi takoyaki untuk dimakan berdua. Mereka duduk di taman dekat komidi putar.
Daiki masih memerhatikan gadis berambut merah muda itu yang masih sibuk menikmati es krim cokelatnya. Namun ia agak kaget begitu melihat iris mata gadis itu yang balik meliriknya dengan pandangan heran. "Kenapa, Dai-chan? Mau es krim? Apa harus kupesankan? Rasa apa? Cokelat, vanila?" tanya gadis itu dan kembali menjilat es krim di tangannya.
"Ti-tidak," jawab Daiki buru-buru. Rupanya gadis itu sadar bahwa ia sedang diperhatikan. "Aku agak lapar."
Satsuki melirik seporsi takoyaki di tangan Daiki yang masih belum terjamah oleh siapapun. "Dai-chan belum memakan takoyaki-nya, bukan? Sini, amm…" Satsuki meraih tusuk takoyaki dan menyuapkannya ke mulut Daiki yang kini terbuka sedikit. Daiki mengunyahnya pelan-pelan, menikmati sensasi ketika rasa adonan takoyaki yang gurih bercampur dengan potongan cumi-cumi dan mayones yang disertai rumput laut yang cukup lezat di lidahnya.
"Aku ingin terus-menerus seperti ini," ujar Daiki tiba-tiba.
"Apa?" tanya Satsuki ingin tahu.
"Aku ingin terus-menerus disuapi olehmu saat kita hidup bersama nanti." Daiki melirik Satsuki dengan wajah nakal, dan bila kini Satsuki bisa melihat wajahnya sendiri di pantulan cahaya bulan, pasti wajahnya sudah semerah kepiting rebus sekarang. Tidak ada lagi percakapan sampai akhirnya Daiki melirik es krim cokelat Satsuki dengan pandangan penasaran.
"Kenapa kau suka es krim, Satsuki?" tanya lelaki berambut biru itu tiba-tiba, mencoba mencari topik pembicaraan baru. Satsuki menoleh dan tersenyum sebentar sebelum menjawab pertanyaan dadakan seorang Aomine Daiki. Ia telah berulang kali mendapat pertanyaan serupa seperti ini, setelah setiap orang mengetahui hal keempat yang disukainya di dunia ini selain cokelat, berry, dan basket adalah es krim.
"Menurutku, es krim sudah menjadi bagian dari diriku, sedih ataupun senang saat menikmati es krim, semuanya menjadi terasa lebih baik," jawab Satsuki dengan senyum mengembang. "Kalau menurut Dai-chan?" Satsuki menatap Daiki, yang kini mengetuk-ngetukkan jarinya, mencoba mencari jawaban yang tepat untuk mendebat Satsuki.
"Es krim bisa menyampaikan perasaan kita ke orang yang kita sayangi, didalamnya ada rasa manis seperti cinta, ada dingin seperti kerinduan saat tak bersamanya, dan juga kelembutan seperti perasaan kita saat ada di sisinya," lelaki pemain basket itu menambahi dengan nada serius. Satsuki tidak menyangka sama sekali tentang kalimat yang barusan keluar dari bibir sahabat masa kecilnya itu.
Seorang Aomine Daiki mampu berkata-kata bijak seperti itu? Tidak mungkin, pasti ia salah dengar.
"Hebat! Ternyata Dai-chan memiliki pandangan yang unik tentang es krim. Lalu apa perasaan Dai-chan ketika es krimmu meleleh, sebelum Dai-chan sempat menikmatinya?" tanya Satsuki hati-hati agar maksud pertanyaannya tak diketahui lelaki itu.
"Nikmati saja es krimmu, padat atau telah mencair, bukankah hidup juga seperti itu? Tak selalu sempurna seperti yang kita bayangkan." Kata-kata lelaki berambut biru itu seperti menghujam dada Satsuki. "Kau hanya perlu sedikit perjuangan untuk melindunginya sementara agar tetap padat, sebelum kau bisa menikmatinya dengan gembira, Satsuki."
Aomine Daiki berkata seperti itu? Lupakan.
"Dai-chan, mau naik komidi putar?" tanya Satsuki sambil menunjuk komidi putar yang berputar begitu lambat. Daiki melirik Satsuki.
"Boleh juga," jawabnya singkat.
Mereka berjalan dengan bergandengan tangan menuju antrian komidi putar. Mereka memasuki komidi putar dengan cepat, dan Satsuki duduk di dekat jendela. Memandangi pemandangan orang-orang di bawah dan di hadapannya terlihat Tokyo Tower yang bercahaya di malam hari. Daiki memandang es krim di tangan Satsuki yang nyaris meleleh. Satsuki masih sibuk memandang pemandangan di sekitarnya dengan pandangan senangnya.
"Hei, hei, Dai-chan! Itu Tokyo Tower! Dan itu tempat kita memancing yoyo tadi!" teriak Satsuki seperti anak kecil.
Daiki melongok ke arah yang ditunjukkan Satsuki sambil tersenyum. "Hanya satu yang tidak kulihat."
"Apa?"
"Rumah kita di masa depan, Satsuki," jawab Daiki lancar.
Wajah Satsuki langsung memerah dan tidak menjawab lagi. Satsuki hanya tersenyum diiringi putaran komidi putar yang masih terus berputar dengan lambat. "Cinta itu seperti es krim, ya. Es krim bisa menyampaikan perasaan kita ke orang yang kita sayangi, didalamnya ada rasa manis seperti cinta, ada dingin seperti kerinduan saat tak bersamanya, dan juga kelembutan seperti perasaan kita saat ada di sisinya."
"Itu ucapan orang bodoh, jangan kau tiru," ujar Daiki dengan nada kesal begitu mendengar Satsuki yang mengutip kata-katanya barusan. Satsuki hanya tertawa lepas.
"Dai-chan juga pernah mengutip kata-kataku, bukan? Tentang cinta itu cokelat?" tanya Satsuki balik.
"Benar juga."
"Berarti kita impas," kata Satsuki dengan cepat. Tiba-tiba saja lelaki berambut biru itu memegang sebuah cincin dan tersenyum ke arahnya. Satsuki memandangnya kaget. "A-apa?" tanya Satsuki gugup. Tidak, terlalu cepat. Tidak. Apa ini saat-saat yang sejak tadi ditunggunya? Sejak ia memandang wajah Daiki, senyum Daiki, dan tawa Daiki.
"Momoi Satsuki," panggil Daiki dengan nada pelan sambil memasangkan cincin itu di jari manis kanannya.
Satsuki terlalu sulit bergerak sekarang. Ia terdesak. "Mm?"
Saat Satsuki mendongakkan kepalanya, Daiki telah memegang sebuket mawar pink dan boneka babi di tangannya. Ia tersenyum dengan sangat manis hingga Satsuki berpikir ia akan rela mati saat itu juga. "Aku benci namamu, ganti saja namamu jadi—Aomine Satsuki, ya?"
.
.
