.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Humor/Parody/Adventure/Friendship/Bahasa tidak baku/Curse words
Warn : T rate/OOC/Typo(s)/Chara death
Inspiration from Suikoden II
Story by Akatsuki Ren
.
.
108 SHINOBI
CHAPTER 5
Let's Get Outta Here
-108-
Begitu sesampainya di mercenary fortress hari sudah gelap dan Naruto segera memberikan barang pesanan Matsuri. Dengan langkah riang bahagia pemuda itu berlari menuju lantai bawah. Heran juga, balik ke penjara kok bisa sesenang itu? Wajar saja dia merasa girang kalau bukan karena 3 ramen bohay nan seksi sudah menantinya.
"Selamat makan, Naruto." Matsuri tersenyum manis saat melihat Naruto makan ramen kuah yang dibuat Ayane dengan lahap.
"Baiklah Naruto. Aku harus kembali melakukan tugasku. Selamat malam." Gadis itu berdiri dan sempat mengucapkan salam pada pemuda itu.
"Matsuri... Kira-kira sampai kapan aku di sini? Kapan aku bisa keluar dari penjara nista ini?" tanya Naruto dengan muka yang dibuat sok sedih.
"Sampai Asuma dan Kakashi bosen," jawab Matsuri seenaknya. Gadis bersurai coklat itu melenggang keluar dari dalam penjara.
.
.
Hari semakin lama semakin larut. Suasana di mercenary fortress sudah terasa sepi. Kemungkinan para prajurit mercenary ninjas sudah terlelap dalam mimpi indah. Naruto masih bisa melihat beberapa penjaga yang berlalu-lalang di sekitar ruangan bawah tanah, tempatnya di penjara.
"Hoaaam... Gara-gara ramen tadi aku jadi ngantuk... " Naruto menguap lebar dan langsung merebahkan tubuhnya di atas satu-satunya kasur buluk yang menjadi fasilitas untuknya tidur di dalam penjara itu.
BRAKH!
"Ada penyusup! Cepat cari dia!" baru saja Naruto mau memejamkan matanya. Tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari atas yang berteriak-teriak kalau mereka kedatangan penyusup.
'Eh? Ada penyusup?' entah kenapa Naruto jadi berdebar-debar sendiri begitu tahu ada penyusup yang masuk. Dia merasa kalau yang menyusup itu adalah Sasuke.
"Naruto! Kau di mana? Jawab aku kalau kau ada di dalam ruangan ini!" terdengar suara yang Naruto yakini itu adalah suara Sasuke. Ternyata dugaannya benar, pemuda itu benar-benar datang.
"Sasuke, aku di sini! Kemarilah sayang!" balas Naruto kegirangan. Saking senengnya dia sampe manggil-manggil Sasuke dengan sebutan sayang.
Terdengar derap langkah yang menuju ke arah sel tahanan di mana Naruto berada, dan si pemilik langkah tersebut adalah Sasuke.
"Kau menjijikan! Jangan panggil dengan sebutan bejad itu!" cerocos Sasuke langsung protes.
"Hehehehe... Aku hanya merasa gembira! Sudah cepat, sekarang keluarkan aku dari sini!" seru Naruto dengan tak sabar.
"Mundurlah sedikit." Sasuke meminta Naruto untuk menjaga jarak dari pintu sel.
Zrrrrtt... !
Dari tangan pemuda raven itu keluar kilatan cahaya biru bagai listrik. Sepertinya itu adalah jurus chidori hanya saja kekuatannya jauh lebih kecil dan lemah dari kekuatan chidori Sasuke yang biasanya.
Brakh!
Pintu penjara itu terbuka. Rantai kuncinya patah menjadi dua.
"Ayo cepat keluar, Naruto. Sebelum penjaga-penjaga itu menyusul kemari!" Sasuke membentangkan pintu penjara dan menyuruh Naruto untuk cepat keluar.
Kedua pemuda itu bergerak meninggalkan ruangan bawah tanah menuju ke ruangan atas. Namun setelah tiba di atas mereka dihadang oleh Asuma, Kakashi serta beberapa orang prajurit ninja yang sudah menanti mereka di atas.
"STOP!" Kakashi berteriak lantang sambil maju ke depan dan menghentikan keduanya. Semua orang terdiam dan menatap tegang ke arah Kakashi. "Stop kau mencuri tawananku, tawananku~ " Kirain mau ngapain. Ternyata Kakashi malah asik goyang-goyang gergaji sambil nunjuk-nunjuk Sasuke yang mau bawa kabur Naruto.
"Aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi milikku," balas Sasuke cuek dan tanpa sadar pemuda itu menarik Naruto ke sisinya.
"Hoooo~ sudah kuduga anak muridmu memang ada 'apa-apa'." Asuma manggut-manggut sok paham sambil nyengir.
"Alah. Kalian pada membicarakan apa, sih? Aku sama sekali tak mengerti!" Naruto garuk-garuk bingung.
"Kau memang belum patut untuk memahaminya, Naruto," balas Asuma sambil menghisap rokoknya dalam-dalam dan membuang asapnya ke atas sambil menerawang.
"Daripada itu. Kalian semua minggir, jangan menghalangi jalanku dan Sasuke!" Naruto gak mau mikir apa-apa, dia lagi males. Sekarang tujuannya adalah satu, meloloskan diri dari penjara dan terbebas jadi pembokat di markasnya Asuma dan Kakashi.
"Kau berani melewati kami berdua?" tantang Kakashi yang udah balik normal.
"Glekh... " Naruto nelen ludah dan mundur ke belakang.
"Sasuke, sekarang kita harus gimana?" bisik Naruto berharap pemuda raven itu memiliki jalan keluarnya.
"Sepertinya kita tak ada pilihan lain, Naruto. Kita menyerah saja dulu," balas Sasuke dengan tenang.
"Kalian berdua ikut kami," ucap Asuma yang mendadak jadi tegas.
Naruto dan Sasuke tak ada pilihan lain selain mengikuti kedua pemimpin mercenary ninjas yang juga notabene adalah guru mereka sendiri.
-108-
Mereka masuk ke dalam salah satu ruangan yang cukup besar di dalam markas itu. Semua prajurit ninja lain satu-persatu bergegas keluar membiarkan Naruto dan Sasuke di dalam bersama Asuma dan Kakashi.
"Sebelumnya kami ingin bertanya. Setelah kalian pergi dari mercenary fortress apa yang akan kalian lakukan?" tanya Kakashi dengan tampang serius yang dibuat-buat, dan demi icha-icha paradise dia bisa ngeliat Asuma yang menghadap belakang lagi nahan ketawa. Demi rambut putihnya ini pertama kali dia bicara seformal ini.
"Kami akan tetap kembali ke Kyaro karena biar bagaimana pun tempat itu adalah kota kelahiran kami," jawab Sasuke beneran serius. Kayaknya sih dia menghayati banget perannya di sini.
"Idih! Aku lahir dan dibesarkan di Konoha, bukan di Kyaro!" sambar Naruto langsung protes.
"CERITANYA 'KAN BEGITU, NARUTO!" Sasuke, Kakashi dan Asuma kompak teriak pake toa ajaib yang nongol gitu aja ke telinga Naruto.
"HELLO! NAMANYA JUGA LUPA WOI. BIASA AJA KELES!" Naruto ngerebut paksa toa yang lagi dipegang Sasuke dan ngebales ketiga mahkluk yang barusan aja bikin kupingnya ketar-ketir layaknya kena petir.
"GAK USAH SEWOT GITU JUGA KELES!" Asuma dan Kakashi teriak kompakan persis di depan muka Naruto. Rambut Naruto yang dasarnya emang udah jabrik jadi makin jabrik lagi kayak super saiyan ke-3.
"Udah deh, jangan teriak-teriakan lagi. Lagian kita juga gak lagi paduan suara!" Asuma mangkel langsung ngambilin toa dari tangan Kakashi, Sasuke dan Naruto. "Pokoknya kalian berdua tetap masuk penjara!" ucapnya galak.
'Tidak! Masa jadi pembokat lagi?' batin Naruto menjerit tak rela.
'Halah, jadi apes gini. Niat mau nolong malah ketangkep!' Sasuke juga merutuki nasibnya yang bener-bener sial.
-108-
Asuma dan Kakashi mengantar keduanya ke ruangan tamu alias penjara yang ada di ruangan bawah tanah markas. Naruto dan Sasuke tak bisa berbuat banyak daripada mereka habis dihajar satu pasukan di dalam markas itu? Mendingan mereka nurut dulu.
"Akh! Sial, sial, sial! Kenapa harus balik lagi di penjara, sih?" Naruto jerit-jerit histeris. Belum ada 1 jam dia keluar dari penjara, eh udah masuk lagi?
"Berisik. Lebih baik kau diam dan jaga stamina!" sambar Sasuke yang kelihatan anteng, adem-ayem, seolah tidak peduli mereka baru saja dijebloskan ke dalam penjara oleh Asuma dan Kakashi.
"Bagaimana aku bisa tenang, Sasuke? Kalau begini terus kapan kita bisa bebas dari sini dan menyelesaikan jalan ceritanya!" balas Naruto kayak kebakaran jenggot. Panik? Tentu saja. Keluar-masuk penjara terus dia hanya bergerak di tempat yang sama dan tak ada kemajuan.
"Kita tunggu setelah suasananya benar-benar sepi. Sekarang perlihatkan padaku barangmu." Naruto sukses salah tanggap mendengar perkataan Sasuke. Wajahnya langsung merah padam.
"Hah? Apa? Jangan berpikir mesum, dobe!" Sasuke yang menyadari temannya salah paham langsung menghadiahinya sebongkah benjolan cantik tepat di ubun-ubun kepalanya.
"Apa sih? Kenapa memukulku, hah?" Naruto merutuki Sasuke yang berbuat kejam terhadap dirinya.
"Otakmu itu, tuh! Harus segera dibersihkan! Ya, ampun kelamaan dengan Jiraiya dan Kakashi kau berubah jadi mesum begini." Sasuke mengurut dadanya. Sabar, sabar. Orang sabar disayang Jashin. Oke, ada yang salah dari kalimat tadi. intinya Sasuke harus super sabar menghadapi kemaksiatan otak Naruto.
"Maksudku barang-barang yang kau punya, coba keluarkan. Siapa tahu bisa berguna!" Sasuke mengulangi kalimatnya lagi. Kali ini dia mengucapkannya lebih benar dan jelas agar otak mesum Naruto tidak kembali berkicau (?).
"Oh, itu maksudnya? Bilang dong dari tadi!" Naruto nyengir setelah mengerti apa maksud ucapan Sasuke tadi.
Pemuda berambut jabrik itu mengeluarkan berbagai macam benda dari dalam jaket yang didominasi oleh warna hitam dan orange (di sini Naruto memakai baju seperti yang di shippuden). Benda-benda yang dikeluarkannya cukup beragam membuat Sasuke yang melihatnya sempat berpikir, apakah Naruto itu titisan Doraemon? Sasuke menggelengkan kepalanya akibat pikiran nistanya tadi.
"Aku kira kita bisa menggunakan ini." Sasuke mengambil sebuah tali panjang. "Ini juga bisa kita pakai untuk jaga-jaga... " Sasuke juga mengambil sebuah kain lap buluk dan sebuah pematik.
Kedua pemuda itu menunggu waktu sampai keadaan benar-benar sepi dan semua orang di dalam markas terlelap semua. Sampai tiba tepat waktunya Naruto dan Sasuke beraksi.
"Naruto, cepat bangun!" Sasuke membangunkan Naruto yang sudah tertidur sejak 30 menit yang lalu.
"Mmhp... Tunggu sebentar lagi. Ijinkan aku menghabiskan semua ramen-ramen ini... " Sudah dapat diduga kalau Naruto sedang bermimpi indah pastinya saat ini.
"Yeh, malah mimpi makan nih anak!" Sasuke memutar kedua bola matanya dengan bosan. "Naruto, kita harus cepat pergi dari sini. ini adalah kesempatan kita. Cepat bangun Naruto!" Sasuke dengan sekuat tenaga menarik tangan Naruto, dan...
Gedebugh!
Naruto sukses jatuh dari atas tempat tidur dan menimpa Sasuke.
"Hehehehe... " Naruto yang terjatuh tampaknya masih belum sadar dari mimpinya. Sekarang mulutnya malah terbuka lebar dan tampak air liur menetes dari sudut bibirnya.
Syut!
Air liur Naruto sukses mendarat di baju Sasuke.
Ctak!
"Angry Blow!" Sasuke menyetrum Naruto dengan jurus listrik.
"GYAAAAAAA!"
Beberapa saat kemudian Naruto akhirnya tersadar dengan keadaan yang acak-acakan (muka gosong dan tubuh mengeluarkan asap). Keduanya bersiap untuk kembali melarikan diri. Sasuke membuka pintu penjara. Setelah yakin keadaan benar-benar sepi dan tak ada penjaga, keduanya bergegas keluar dari dalam penjara menuju lantai atas.
Drap drap drap drap!
Naruto dan Sasuke berlari menaiki anak tangga dengan langkah tergesa. Begitu tiba di atas anak tangga Sasuke segera menghentikan langkahnya dan Naruto.
"Tunggu dulu, Naruto. Di sana masih ada dua penjaga." Sasuke menunjuk ke arah dua penjaga yang sedang berjalan di sebrang mereka dan hendak menuju ke atas tangga.
"Kita harus mengalihkan perhatian mereka." Sasuke mengeluarkan seonggok kain buluk yang di dapatkannya dari Naruto dan membakar kain tersebut.
Begitu kain tersebut terbakar, Sasuke melemparkannya tepat ke pojok ruangan dan kini ia tinggal menunggu rencananya berhasil untuk mengalihkan perhatian kedua penjaga itu agar tidak jadi jalan ke atas.
"Kau mencium bau sesuatu tidak?" tanya seorang penjaga sambil mengendus-endus.
"Bau apa pun itu tapi yang jelas ini bukan bau kentutku," balas temannya yang agak tersinggung karena tepat 1 detik yang lalu dia sudah menghembuskan hawa beracun itu. Masa bisa ada bau lagi?
"Ah, ada api!" teriak temannya yang berhasil menemukan sumber bau tersebut.
"Kita harus mematikan api tersebut sebelum terjadi kebakaran!" sambar si tukang kentut ikutan panik.
Kedua penjaga itu tidak jadi untuk memeriksa bagian atas dan sibuk mengurusi kain pel yang terbakar. Kesempatan itu digunakan Sasuke dan Naruto untuk lari ke lantai paling atas (karena pintu pada lantai itu terkunci). Pada lantai paling atas, keduanya bergegas berlari menuju ke arah beranda dan keluar dari arah sana.
"Bagus. Kelihatannya masih aman." Sasuke celingak-celinguk melihat keadaan sekeliling. Sepertinya para penjaga yang berjaga-jaga di luar sudah tidak ada. "Naruto, berikan tali itu padaku," ucapnya pada Naruto.
Naruto memberikan tali yang ukurannya lumayan panjang itu kepada Sasuke. Pemuda raven itu mengikat tali tersebut pada penyangga balkon beranda dengan kuat. Setelah dipastikan ikatannya tidak kendur, dilemparkannya tali itu ke bawah. Sasuke merayap turun dengan menggunakan tali itu yang kemudian disusul oleh Naruto.
"KITA BEBAS!" teriak Naruto kegirangan.
"Ssst! Jangan teriak-teriak. Nanti kau membangunkan seisi markas dan kita tertangkap lagi, apa kau mau itu terjadi?" Sasuke melemparkan death glare pada Naruto agar pemuda itu diam.
"Aku hanya sedang senang! Akhirnya penderitaanku jadi pembokat telah berakhir!" seru Naruto yang udah muak jadi pembantu disuruh ini-itu.
"Setelah ini kita harus kembali ke Kota Kyaro. Tapi, kudengar di gunung yang menuju ke arah situ di jaga oleh monster. Apa kau siap, Naruto?" balas Sasuke sok nakut-nakutin.
"Mau ada monster atau apa pun, hajar aja deh!" Naruto mana mempan ditakutin? Yang ada dia malah makin semangat.
"Bagus. Ayo pergi!"
Keduanya bergegas meninggalkan mercenary fotress. Baik Naruto atau Sasuke saat itu tidak menyadari kalau dari arah beranda rupanya Kakashi dan Asuma tengah mengawasi.
"Wah, wah. Hebat juga mereka bisa lolos dari sini," ucap Asuma dengan takjub.
"Tapi mereka tidak akan bisa pergi jauh. Penjaga-penjaga di kaki gunung itu tak akan membiarkan mereka lewat," balas Kakashi sok yakin.
"Jadi? Kita tidak perlu mengikuti mereka?" Asuma melirik Kakashi yang terlihat santai dengan buku icha-ihca paradise-nya.
"Aku rasa tidak perlu. Kita lihat saja perkembangannya nanti." Kakashi melenggang masuk ke dalam ruangan dan melanjutkan buku bacaannya.
TBC
A/N : Next chapter spoiler : Hinata, Hanabi dan Neji akan ikut bergabung membantu Naruto dan Sasuke.
