7 Satsuki's Favorite Things
5 - Daiki
Story by Titania aka 16choco25
Kuroko no Basuke © Fujimatsu Tadatoshi
Summary : Daiki tidak pernah tahu Satsuki menyukai 7 hal yang benar-benar tidak ia sangka sama sekali. Dan ia hanya selalu berharap bahwa salah satu hal yang disukai Satsuki adalah dirinya, yang apa adanya dan selalu mencoba menjadi yang terbaik di mata Satsuki.
.
.
Saat Tuhan menciptakan seseorang yang telah hidup di dunia, Tuhan tidak akan membiarkan seseorang itu berakhir dengan kesendirian. Mungkin butuh waktu lima tahun, sepuluh tahun, atau bahkan hingga seumur hidup untuk menemukan cinta sejatinya. Dan dalam kasus ini, berlakulah hukum yang sama pada Aomine Daiki. Ia menatap dirinya di hadapan kaca, yang tengah mengenakan tuksedo hitam berkilat. Ia tersenyum kecil begitu melihat sosoknya di depan kaca, menunggu detik-detik yang sudah ia nantikan. Membuatnya merasa berdebar dan penasaran bagaimana kelanjutannya.
Detik-detik berharganya akan segera dimulai.
Pernikahannya bersama Momoi Satsuki.
Dan Daiki selalu percaya, bahwa cinta yang dimaksud Tuhan hanya Momoi Satsuki. Gadis yang beberapa jam kemudian akan menjadi istrinya.
Pihak keluarga sudah sama-sama setuju, namun karena dasar faktor bahwa mereka sama-sama anak tunggal, orang tua Daiki dan Satsuki agak cemas dengan berbagai hal. Seperti tempat pernikahan, cincin, rumah tempat tinggal sementara sebelum mereka membangun rumah yang baru, dan hal-hal remeh lainnya. Daiki menjawab dengan mudah kecemasan-kecemasan di atas. Untuk tempat pernikahan, ia dan Satsuki sepakat akan menikah di gereja dekat kawasan Tokyo. Cincin pernikahan sudah dibeli oleh Daiki dengan uang tabungannya sendiri. Untuk tempat tinggal sementara, Satsuki sudah membereskan apartemen sewaannya di pusat Tokyo. Mereka bisa tinggal disana.
Daiki kembali mematut sosoknya di depan kaca. Tuksedo hitam yang dipinjamkan ayahnya nampak pantas di badannya. Ia duduk di depan kaca dan mengetuk-ngetukkan jari-jemarinya di atas kaca. Ia tidak gugup, tidak. Berkali-kali ia menarik napas satu-dua, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Tanpa ia sadari keringat dingin terus menerus menetes dari keningnya. Satsuki adalah gadis pertama yang mampu membuatnya gugup tidak keruan seperti ini. Ia justru merasa ingin segera menyelesaikan pernikahannya ini. Ia langsung ingin melihat senyum lega Satsuki yang tersipu malu di hadapannya.
Namun Daiki merasa gadis itu terkadang tenang, tapi ia bisa berubah menjadi sangat keras kepala. Sangat keras kepala sehingga tidak bisa ia tenangkan. Tapi selalu ada keinginan dalam hati Daiki untuk melindungi gadis itu dimanapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun. Daiki mungkin telah bertemu banyak wanita dalam hidupnya. Namun Satsuki telah membalikkan dunianya. Gadis itu seakan-akan membuatnya berpikir untuk kedua kalinya untuk mengenal apa arti cinta yang sebenarnya. Hati kerasnya mungkin sulit untuk memahami itu. Otak pendeknya mungkin sulit untuk menjangkau apa itu definisi cinta. Sikap dinginnya mungkin tidak bisa menyerupai makna cinta.
Namun Satsuki telah mengajarkannya, apa makna cinta yang sebenarnya.
"Kau lama sekali, Bodoh!"
Daiki menoleh ke arah pintu keluar, mencari arah suara menyebalkan yang telah membuyarkan lamunannya tersebut. "Bakagami," rutuknya malas. "Kau datang juga rupanya."
Kagami tertawa sambil menjulurkan lidahnya. "Mana mungkin aku lupa pernikahan orang menyebalkan sepertimu, bukan? Apalagi kata Kise, makanannya enak-enak. Jadi aku langsung kesini." Daiki menghela napas kesal. Astaga, Kagami masih tetap menyebalkan seperti biasanya. Dan muncul wajah-wajah lain. Tetsuya dan Midorima. Mereka tersenyum sambil melambaikan tangan.
"Tetsu, kau datang," kata Daiki dengan wajah sedikit senang. Tetsuya hanya tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan Daiki. Ah, sudahlah. Lagipula Daiki tidak memerlukan jawaban.
"Aku tidak menyangka, diantara kita kau yang pertama menikah, Aomine," kata Midorima, ia membetulkan kacamatanya sambil tertawa kecil. "Kukira yang pertama kali menikah adalah Tetsuya. Dia idola para gadis, bukan?"
Tetsuya melirik Midorima dengan wajah kaku.
"Cih," respon Daiki, melirik jam.
Namun, Daiki memang akan keluar dari ruang rias itu.
Untuk melihat gaun pernikahan Momoi Satsuki.
.
.
Gaun putih itu sangat cocok bersanding dengannya. Membungkus tubuh mungilnya dengan indah, menjuntai ke bawah. Renda di ujung gaunnya menghiasi dengan menakjubkan. Rambut merah mudanya terbungkus dengan rapi di balik kelambu tipis yang ada di mahkota yang dikenakannya. Ia nyaris tak percaya menatap dirinya sendiri di depan kaca. Seakan-akan dia baru saja menemui hari terbaik dalam hidupnya. Hari yang selama ini ia impi-impikan. Kejadian yang selalu membuatnya berdebar-debar, penasaran bagaimana kelanjutannya. Ia mencoba berjalan, ke depan kaca, mendekati kaca, dan menyentuh bayangan sosoknya di depan kaca. Kagum akan keindahan gaun yang ia kenakan saat ini.
Pernikahan.
Satsuki butuh waktu untuk sendiri, meskipun waktu berharganya itu—pernikahannya akan dimulai sebentar lagi. Dan ia kembali memutar ingatannya tentang sosok Aomine Daiki. Sahabat masa kecilnya, pemain basket yang hebat, serta rekan setim yang baik—tak lupa pembolos yang baik. Satsuki mengagumi sosoknya, itu benar. Daiki yang begitu tenang, Daiki yang agak bodoh, Daiki yang kadang menyebalkan, Daiki yang kadang mengeluarkan kata-kata puitis yang nampak mustahil keluar dari bibirnya, Daiki yang rasional, Daiki yang posesif, dan Daiki yang benci kekalahan.
Masih terekam jelas dalam benaknya bagaimana Daiki melamarnya, berkali-kali mengatakan perasaannya sendiri pada Satsuki, melamarnya tepat di depan Tokyo Tower, dari dalam komidi putar. Daiki memasangkan cincin di jari manisnya dan mengulurkan mawar pink dan boneka babi sambil berkata, "aku benci namamu, ganti saja namamu jadi—Aomine Satsuki, ya?" dan Satsuki tidak dapat berkata apapun lagi kecuali mengangguk. Ia terharu, dan kagum.
Tiba-tiba derit pintu terdengar. Ayahnya membuka pintu ruang rias dan ternyata ia telah bersiap-siap dengan tuksedonya yang dihiasi bunga mawar di kantongnya. Satsuki menoleh ke arahnya. "Satsuki? Apa kau sudah siap?" tanyanya sambil melangkah masuk ke dalam. Satsuki tersenyum, menatap dirinya sendiri di depan kaca.
Momoi Satsuki langsung mengangguk tanpa ragu, dan ia menyadari bahwa pernikahan akan menjadi sejarah baru yang terukir dalam hidupnya.
Pernikahannya bersama Aomine Daiki.
.
.
Lagu Wedding March dimainkan oleh para pemain organ. Dekorasi warna putih menghiasi gereja dengan indah. Berjuntai-juntai kain putih dengan bunga morning glory. Di karpet merah, Momoi Satsuki, menggandeng tangan ayahnya seraya berjalan menuju altar, memegang buket bunga morning glory dengan gaun pernikahannya yang menjuntai ke lantai. Tetsuya, Kise, dan Akashi bertepuk tangan dengan keras begitu Satsuki melewati mereka. Nijimura dan Midorima bersuit-suit. Sahut-sahutan bergema di gereja itu, saksi bisu atas pernikahan Momoi Satsuki dan Aomine Daiki.
Satsuki berjalan dengan mata berkaca-kaca, menuju altar, dimana Aomine Daiki, berdiri disana, sedang menatapnya dengan pandangan dalamnya, menunggunya datang menghampirinya.
Satsuki telah sampai di depan altar. Pendeta di hadapan mereka hanya tersenyum melihat mereka, dan Satsuki memandang Daiki yang nampak gagah dengan tuksedonya. Sebaliknya, Daiki memandang Satsuki yang nampak sangat berbeda dengan gaun pernikahannya. Sederhana sekali, namun ia benar-benar nampak cantik. Sangat cantik. Satsuki menyentuh pundak Daiki pelan dan lelaki itu menoleh.
"Kau tahu apa hal kelima yang kusukai di dunia ini, Dai-chan?" tanya Satsuki pelan.
"Hm? Apa?"
"Seseorang yang bernama Aomine Daiki." Satsuki tersenyum, membuat Daiki sedikit tersenyum juga.
"Kenapa?"
Satsuki mengulum senyumnya. "Di belahan dunia mana lagi aku bisa menemukan manusia aho yang sangat kucintai seperti aku mencintai seorang Ahomine Daiki?"
"Kau ini."
"Dai-chan?" Satsuki memiringkan kepalanya. Daiki menatap wajah gadis itu yang nampak cantik dengan riasan pengantinnya.
"Kau hanya tidak tahu mengenai satu-satunya hal yang kusukai, Satsuki."
"Apa?" Kening Satsuki berkerut.
"Aku suka namamu."
"Kalau namaku bukan Satsuki?"
"Meskipun namamu bukan Satsuki, kau tetap akan menjadi milikku."
"Dasar posesif."
"Seandainya namaku bukan Daiki dan kau bukan Satsuki, kau tetap akan jadi milikku, Satsuki."
"Dasar."
Daiki tertawa kecil, tawa khasnya, dan Satsuki menatap lelaki itu, seakan-akan tidak ingin kehilangan lelaki itu dari sisinya.
Pada kenyataannya, Daiki akan selalu ada disisi Satsuki, melindunginya seperti perisai yang sangat kuat. Menyayanginya seperti kasih sayang orang yang menganggap kekasihnya lebih dari apapun, dengan cara apapun, berusaha menjadi ia yang apa adanya dan selalu mencoba menjadi yang terbaik di mata Satsuki.
.
While God created humans, He didn't make anyone ended up single.
So, everyone have their own only one person. Maybe it would takes 5 years, 10 years, 20 years, or even 50 years to find that person.
But once they were meant to be together, they would definitely meet.
And in my case, I do believe, that my only one person, is you, Momoi Satsuki.
Aomine Daiki.
.
.
To be continued.
