.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Humor/Parody/Adventure/Friendship/Bahasa tidak baku/Curse words

Warn : T rate/OOC/Typo(s)/Chara death

Inspiration from Suikoden II

Story by Akatsuki Ren

.

.

108 SHINOBI

CHAPTER 6

Traveller Perfomance

-108-

Naruto dan Sasuke berjalan menuju ke arah kaki gunung, karena di sanalah jalan satu-satunya menuju ke Kyaro. Namun, sesampainya di sana mereka dihadang oleh dua orang penjaga yang merupakan para mercenary ninjas di bawah pimpinan Asuma dan Kakashi.

Kedua penjaga itu tidak mengijinkan Naruto dan Sasuke untuk lewat. Hal itu dilakukan sesuai dengan perintah dari Asuma dan Kakashi.

"Tapi, kami harus kembali ke Kota kami!" Sasuke berkeras untuk diijinkan lewat.

"Maaf, tapi ini sudah menjadi perintah!" prajurit itu juga tak mau kalah dari Sasuke.

"Jalan ini memang tertutup selama perang antara mercenary ninjas dan elite ninjas agar tidak ada penyusup yang masuk. Selain itu di dalam sana juga ada monster yang berbahaya. Lebih baik kalian pergi dan kembalilah setelah perang berakhir," ucap prajurit yang satunya menjelaskan keadaan yang sekarang sedang mereka hadapi.

"Pulanglah kalian!" perintah prajurit-prajurit itu dengan tegas.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Naruto yang jelas-jelas bingung. Mau pulang aja susah begini.

"Sudahlah. Rasanya percuma kita berdebat dan mereka juga hanya menjalankan tugas. Lebih baik kita ke Ryube Village. Siapa tahu kita bisa mendapatkan sesuatu di sana".

Karena tidak bisa lewat akhirnya Sasuke memutuskan untuk pergi ke Ryube. Mungkin saja di sana mereka akan menemukan jalan lain untuk pergi ke kota Kyaro. Sementara Naruto masih dengan setia mengekor sahabatnya.

-108-

Ryube Village

.

Sesampainya di desa Ryube, mereka melihat sedang ada keramaian. Tampaknya ketiga peramal keliling itu sedang mengadakan pertunjukkan. Tertarik, akhirnya Naruto menyeret Sasuke untuk melihat pertunjukkan tersebut.

"Kami akan membawakan sebuah pertunjukkan yang sensasional dan menggetarkan! Sebuah atraksi yang akan membuat jantung kalian semua keluar dari tempatnya!" cerocos Neji dengan lihai. Gayanya mirip banget kayak pedagang kaki lima yang lagi obral baju.

"Gak salah? Itu Neji?" Onyx Sasuke mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk memastikan penglihatannya.

"Iya itu Neji. Dia hidup lagi kali di sini kayak Asuma-sensei. Gak usah kaget gitu kali!" balas Naruto biasa aja.

"Baru kali ini ngeliat dia ngomong panjang lebar begitu... " Sasuke berujar takjub.

"Mari saya perkenalkan sang pelempar pisau yang paling cepat, paling hebat dan paling tepat (kadang-kadang). Inilah... " Neji memainkan drum supaya memberikan efek dramatis.

"HYUUGA HINATA!" teriaknya pake toa.

Lalu munculnya seorang gadis di tengah-tengah kerumunan itu yang tak lain adalah Hinata (dia memakai pakaian pada saat di Naruto the last movie. Hanabi mengenakan baju yang sama dengan Hinata tapi warna cream, sementara Neji memakai pakaian yang seperti di shippuden).

Hinata memberikan hormat pada semua para penduduk yang datang untuk melihat atraksinya dengan wajah merah. Ini pertama kalinya dia tampil di depan umum dan dilihat oleh banyak pasang mata. Membuatnya merasa gugup dan canggung bersamaan.

"Sebelum itu kami butuh seorang sukarelawan." Hanabi maju ke depan. Matanya tampak sedang mencari-cari ke arah para penonton. Tepat setelah pandangannya bertemu dengan wajah Naruto, gadis kecil itu nyengir lebar dan langsung bikin bulu kuduk Naruto berdiri.

"Kamu yang di situ, coba kemari!" Hanabi menunjuk ke arah Naruto dan menyuruh pemuda itu untuk maju ke depan.

"Eh? A-aku?" Naruto menunjuk dirinya sendiri sambil celingak-celinguk ke sekeliling. Siapa tahu dia salah menduga.

"Iya, kamu yang bertampang blo'on. Ayo buruan maju ke sini!" Hanabi yang gregetan liat Naruto kayak bingung gitu langsung jalan mendekati Naruto dan menyeret pemuda itu ke depan.

"Kamu mau 'kan membantu kami?" tanya Hanabi sambil senyum manis. Sementara dari arah samping terdengar Neji yang bilang "Tak usah bersikap manis sama beruk itu, Hanabi!". Naruto memicing ke arah Neji dengan hasrat menjambak rambut pemuda gondrong itu. Tapi gak elit kalau dilakukannya di depan Hinata dan Sasuke. Bisa malu dia. Masa main jambak-jambakan sama Neji?

"Tentu saja dengan senang hati. Apa yang harus kulakukan untuk membantu kalian?" balas Naruto dengan senyum lima jarinya, walaupun sempat sebel juga dibilang blo'on.

"Baiklah, kau diam saja di sini dan jangan bergerak. Hinata biasanya mahir menggunakan pisau, tapi entahlah kalau meleset... " Neji menyuruh Naruto untuk berdiri di bawah pohon dan mengikat kedua tangan pemuda itu ke belakang.

"Oi, oi, oi! Apaan tuh maksudnya 'kalau meleset'?" Naruto berteriak cemas.

"Kalau meleset, kau akan lewat," sambar Hanabi sambil terkikik geli.

"Le-lewat? Apanya yang lewat?" entah mengapa, apa pun yang dikatakan Hanabi tadi pasti artinya tidak baik untuknya.

"Udah, jangan kebanyakan ngomong. Nanti Hinata tidak bisa konsentrasi, gimana? Mau palanya berlubang ketancep pisau?" Naruto nelen ludah sambil bayangin dia mati dengan kepala yang bolong. Waduh, bisa-bisa dia bakalan jadi hantu ala Indonesia yang namanya sundel bolong, dong?

"Gak! Aku belum mau mati!" pemuda itu langsung geleng-geleng cepat.

"Makanya diem aja!" balas Neji yang kemudian meletakkan sebuah semangka di atas kepala Naruto.

"Ayo, Hinata kau pasti bisa!" Neji menyemangati Hinata untuk melemparkan pisau ke arah di mana semangka itu bertengger tepat di atas kepala Naruto.

"Ba-ba-baik!" Hinata agak gugup dengan jantung berdegup.

Tatapan lavender gadis itu awalnya terfokus pada buah semangka yang berada di kepala Naruto. Dia bersiap untuk melemparkan pisau ke buah tersebut. Namun fokusnya kacau saat Naruto tiba-tiba saja tersenyum lebar dan memberi semangat kepadanya.

"Hinata, kau pasti bisa!" teriak pemuda itu.

'Barusan tadi... Na-Naruto memberi semangat kepadaku... ' Wajah gadis itu seketika langsung merah padam.

Brukh!

Hinata sukses pingsan di tempat. Neji dan Hanabi tanpa dikomando langsung mendekati gadis indigo itu dan menyadarkannya.

"Hinata-Nee sadarlah! Jangan pingsan dulu di sini. kita harus menjalankan peran kita!" Hanabi mengguncang-guncangkan bahu Hinata kayak lagi mengguncang-guncangan celengan semar.

"Maaf, ta-tadi aku ha-hanya gugup... " Hinata akhirnya tersadar dan segera berdiri. Bersiap untuk menjalankan tugasnya sesuai alur cerita yang ia dapat.

"Kalau begitu kita ganti saja buahnya!" Neji mengganti si buah semangka dengan buah melon dan meletakkanya di atas kepala duren Naruto.

Hinata kembali fokus pada si melon. Tapi lagi-lagi Naruto berulah. Pemuda itu kali ini tidak tersenyum lebar. Cukup dengan sebuah cengiran khas miliknya sudah ampuh menghipnotis sang indigo dan mengalihkan fokusnya.

Brukh!

Sekali lagi Hinata tumbang sebelum berhasil menancapkan pisau itu ke si buah melon.

Melon : Untung aja dia pingsan! Kalau gak, bisa lewat nyawa ane!

"Hinata!" Neji dan Hanabi lagi-lagi teriak sambil lari-lari kompakan ke arah Hinata.

"Ma-maaf! Se-se-sepertinya aku butuh minum... " Hinata benar-benar merasa tegang.

Hanabi memberikannya segelas air dingin untuk menenangkan Hinata yang gugup berat. Kenapa kakaknya bisa jadi selemah ini kalau harus berhadapan dengan Naruto? Cinta memang aneh.

"Terima kasih, Hanabi." Hinata memberikan gelas tersebut kepada Hanabi.

"Kau sudah siap?" tanya Neji harap-harap cemas.

"A-aku sudah siap!" Hinata mengangguk cepat dan kembali berdiri.

Kali ini Neji kembali mengganti sang melon dengan buah mangga dan kembali ia letakkan di atas kepala pirang Naruto. Hinata kembali bersiap untuk melemparkan pisau yang ia pegang ke arah sang buah mangga. Naruto kali ini tidak memamerkan senyuman atau cengiran lebarnya. Pemuda itu hanya tersenyum. Senyum yang begitu tipis, tapi tentunya senyum yang sedikit itu masih bisa tertangkap oleh pandangan byakugan milik Hinata.

'Na-Naruto manis sekali kalau senyum seperti itu... ' Hinata merona melihat senyuman tipis Naruto yang tak biasa.

Brukh!

Kalian sudah bisa menduga kalau gadis indigo itu kembali pingsan di tempat.

"HINATA!"

"NEE-SAN!"

Sudah dapat diduga Neji dan Hanabi kembali dibuat repot dan harus kembali menyadarkan Hinata ke alam nyata.

"Maafkan aku... " Hinata tertunduk, merasa tak enak hati. Lagi-lagi dia gagal melemparkan pisau itu.

"Sudah tidak apa-apa. Kita bisa mencobanya lagi." Neji tersenyum lembut ke arah Hinata agar gadis itu merasa lebih baik dan dapat melanjutkan perannya.

"Hoi, gimana sih? Masa dari tadi pingsan mulu! Kita semua di sini mau melihat atraksi yang menegangkan, bukan melihat orang pingsan!" gerutu salah satu penonton yang sudah mulai merasa bosan.

"Kecuali tempat mendarat gadis itu jatuh diberi kue pie, jadi bisa memberi sedikit hiburan!" sambar penonton lainnya. Akhirnya orang-orang yang ada di sana semuanya mentertawakan Hinata.

"Sabar, sabar! Kali ini akan kami berikan atraksi yang benar-benar menegangkan dan akan membuat jantung kalian benar-benar copot!" teriak Neji mencoba mengendalikan keadaan agar para penontonnya tidak kabur atau pun membuat kegaduhan.

Neji kembali berjalan mendekati Naruto dan kali ini dia terlihat sedang membawa sebuah apel. Diletakkannya apel itu di atas kepala Naruto menggantikan posisi buah mangga tadi.

"Hei, jangan macam-macam! Apa kau sudah gila, Neji!" Sasuke tampaknya panik begitu menyadari apa yang akan dilakukan Neji.

"Tenang saja, Naruto pasti tidak akan apa-apa!" balas Neji senyum-senyum, "mungkin... " gumamnya malah jadi tak yakin. Naruto yang mendengarnya langsung pucat pasi.

"Baiklah Hinata. Lakukan yang terbaik!" teriak Neji kepada Hinata sambil memberikan aba-aba.

"A-aku siap!" Hinata bersiap di posisinya sambil mengenggam erat pisau kecil di tangannya. Tatapannya fokus ke arah buah apel yang ada di kepala Naruto.

Saat itu bukan hanya Hinata yang tegang, tapi semua para penonton yang melihatnya ikutan tegang. Mereka membayangkan kalau lemparan Hinata meleset. Sementara Sasuke udah komat-kamit, berharap Naruto tidak mati. Kalau sampai bocah itu mati di tangan Hinata, permainan akan selesai dan mereka semua akan terperangkap di dalam dimensi itu selamanya.

Naruto kali ini hanya berdiri pasrah dengan tubuh yang agak gemetar. Dia bahkan gak berani melempar senyuman genitnya yang tadi sempat ia rencanakan untuk menggoda Hinata.

'Apa pun yang terjadi... Terjadilah... ' Naruto akhirnya menutup kedua matanya.

Antara pasrah dan gak rela juga kalau dia harus mati di tangan Hinata. Hei, dia masih belum mau mati sebelum menyatakan cinta pada Hinata. Tapi kalau dia benar-benar mati di tangan Hinata akan sungguh tragis sekali nasibnya.

Saat sedang memikirkan gadis manis itu, entah kenapa dalam bayangannya sekarang ia seperti sedang melihat gadis itu berdiri tepat di depan mukanya. Membuat wajah pemuda itu memerah secara tiba-tiba.

Tiba-tiba saja otak mesumnya hasil tapa dari Jiraiya bekerja. Dalam bayangannya kini ia sedang mendekati Hinata dan hendak menciumnya! Bisa kalian bayangkan sekarang Naruto yang sedang memejamkan mata ikut memajukan bibirnya ke arah depan. Hinata yang melihat kelakuan Naruto yang begitu jadi salah tingkah.

'Na-Naruto... ' Hinata merasakan debaran jantungnya berpacu cepat, sangat cepat. Tangannya yang sedang memegang pisau terkepal kuat akhirnya terlepas. Namun gadis itu sempat melakukan sambitan mautnya ke arah Naruto.

Brukh!

Gadis itu kembali pingsan gara-gara ulah maksiat Naruto.

"GYAAAAAA EMAAAK!" Naruto udah horor aja melihat pisau terbang lemparan Hinata yang kini tertuju ke arah mukanya. Secepat kilat pemuda itu merunduk, dan...

JLEB!

Sang pisau terbang ala Hinata berhasil selamat mendarat di buah apel tersebut.

Inner apel : Emaak! Ane ketancep pisau!

Prok prok prok prok!

Sementara para penonton langsung bertepuk-tangan sambil bernapas lega. Bagaimana tidak? Adegan kejar-kejaran antara si pisau dan si apel benar-benar menegangkan. Bagaikan melihat adegan cinta bollywood dari India.

"Huah... A-aku selamat, hehehe... " Naruto langsung sujud sukur karena dia gak jadi mati muda dengan tragis.

Blugh!

Naruto yang dari tadi udah nahan tegang langsung ikutan pingsan juga di bawah pohon. Gimana gak tegang? Dia nyaris mati tadi.

TBC


A/N : Untuk Hinata sebenarnya saya ingin menampilkan hints NaruHina. Hal itu tidak bisa diwujudkan kalau Hinata memerankan Sierra, karena sosok vampir itu sebenarnya sudah bersuami (suami dia Nash, salah satu hero di suikoden 3 dan merupakan tokoh utama di harmonia dan baru terungkap di ending suikoden 2). Neji memang memerankan peran Bolgan, tapi Neji tetaplah Neji karena di sini suikoden ala Shinobi hehehe. Salah satu dari traveler itu yang bernama Ellie memang menaruh hati pada tokoh utama di suikoden 2. Maka dari itu saya memasang peran itu untuk Hinata, biar bisa ngasih hints NaruHina.

Di sini ada kesamaan sifat antara Neji dan Bolgan. Mereka sama-sama percaya pada si tokoh Utama. Seperti Bolgan yang percaya pada hero di suikoden 2 kalau dia bisa membawa kedamaian di dunia suikoden, begitu juga Neji yang begitu mempercayai Naruto. Saya memasukkan peran itu atas karakter sifat juga, bukan sekedar fisik (meski sebagian ada yang murni untuk lucu-lucuan, kayak Itachi :D).

Sakura akan segera muncul mungkin dua chapter lagi atau chapter depan.

.

.

HAPPY NEW YEAR!