7 Satsuki's Favorite Things

6 - Stars

Story by Titania aka 16choco25

Kuroko no Basuke © Fujimatsu Tadatoshi

Summary : Daiki tidak pernah tahu Satsuki menyukai 7 hal yang benar-benar tidak ia sangka sama sekali. Dan ia hanya selalu berharap bahwa salah satu hal yang disukai Satsuki adalah dirinya, yang apa adanya dan selalu mencoba menjadi yang terbaik di mata Satsuki.

.

.

Dua minggu sebelum Daiki pergi ke Amerika.

Malam itu Daiki hanya bisa melihat wajah istrinya termenung, memandang bulan dengan kedua belah matanya, mencoba merangkai angan melalui bintang-bintang dan angin malam yang berdesir dengan lembut. Ia membiarkan istrinya itu bersandar ke pundaknya, menggerak-gerakkan telunjuknya ke arah bintang. Satsuki tersenyum. Daiki berani bersumpah bahwa bintang-bintang malam itu, jauh lebih indah dari yang seperti biasanya ia lihat dari pinggir jendela kamarnya.

"Aku tahu bintangnya sangat bagus."

"Seratus untuk ucapan Dai-chan tadi!" teriak Satsuki ceria. "Bintangnya memang bagus sekali."

Satsuki tidak berani berkhayal apakah bintang-bintang kecil dengan latar belakang langit gelap itu mirip seperti permukaan roti dengan taburan meises di atasnya atau seperti permukaan jalan dengan bebatuan di atasnya, karena ia berani bersumpah, bintang-bintang yang ia lihat malam itu lebih indah dari sebelumnya, apalagi ditemani Daiki di sampingnya. Daiki yang sedang merangkulnya erat.

Ia ingin bicara lebih jauh. Namun sebelum ia bicara, kepalanya telah dibuat Daiki bersandar di pundak tegapnya. Ia membuka mulut, namun bibirnya langsung terbungkam oleh bibir Daiki, dan membuatnya merasa bintang-bintang telah menjadi saksi akan perasaan mereka, suatu perasaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata seindah apapun, karena perasaan yang mereka rasakan lebih jauh dari kata-kata indah.

Bintang adalah saksi akan kebersamaan mereka, saksi antara kisah mereka berdua.

Satsuki menatap Daiki, dan kembali membuka mulut.

"Dai-chan."

"Hm," Daiki mengangguk.

Satsuki memejamkan mata sejenak, mencoba mencerna perasaannya yang kini sedang meluap. "Bintangnya cantik." Ia tersenyum, memandang ribuan bintang yang terhampar luas di langit yang seolah menjadi atap bagi hamparan bumi yang begitu luas. Ia mengerjap, lalu ia kembali mendongakkan kepala, melongok ke arah atas jendala kamar, dan menikmati keindahan pemandangan khas malam haribintang, awan hitam, dan bulan.

Sedangkan Daiki lebih tertarik untuk memandang sosok istrinya dengan lekat dibanding memandang bintang-bintang. Baginya memandang senyum Satsuki dengan latar belakang langit malam berbintang jauh lebih indah dan membuatnya senang. Matanya seperti gundu, iris hitamnya berkilat-kilat dengan sosok Satsuki yang terpantul di matanya.

"Lebih cantik kau."

"Hhh, rayuan maut," cibir Satsuki sambil memajukan bibir bawahnya. "Kau bilang begitu karena kau sekarang bersamaku. Kalau aku tak menjadi istrimu dan kau bersama gadis lain, pasti kau tidak akan bilang begitu," Satsuki terkekeh. Daiki memainkan rambut merah muda Satsuki sambil menatap bintang-bintang. Dan Daiki bisa melihat tangan Satsuki berusaha merangkai rasi bintang dari banyaknya bintang yang berhamburan di langit kelam.

"Tidak bisa begitu," gerutu Daiki, membuat Satsuki terhenti sejenak dari kegiatan merangkai rasi bintangnya. Gerutuan Daiki langsung membuat Satsuki menoleh dan lelaki itu mendadak tersenyum dingin seperti biasanya. "Walau namaku bukan Daiki dan namamu bukan Satsuki, kau tetap milikku. Takdir memang sudah begitu," kata Daiki melanjutkan, dan Satsuki mencubit pipi Daiki gemas.

"Dasar, tidak punya banyak perbendaharaan kata," ujar Satsuki dan lelaki berambut biru di hadapannya hanya tertawa kecil meresponnya. "Kau tahu, kau juga bilang begitu saat kita menikah." Satsuki kembali menengadahkan kepalanya, menatap bintang-bintang di hadapannya. "Aku suka bintang," katanya seperti anak kecil. Daiki mendengus.

"Jangan bilang bintang adalah hal lain dari tujuh hal yang kau suka di dunia ini," kata Daiki, nemun begitu melihat senyum di bibir Satsuki, Daiki yakin jawabannya pasti ya. Tanpa menunggu respon Satsuki karena ia merasa sudah yakin pada dugaan tersebut, ia bertanya. "Kenapa?"

Kening Satsuki berkerut. "Kenapa?" Ia mengulang pertanyaan singkat yang keluar dari mulut besar Daiki. "Ti-tidak ada alasan yang khusus, bukan? Lagipula siapapun yang menyukai bintang akan berpendapat sama denganku. Hal yang indah tidak perlu alasan untuk disukai. Kau setuju, bukan, Dai-chan?" tanya Satsuki, dan Daiki langsung mengangguk.

"Satsuki," panggil Daiki dengan intonasi rendah. Tangannya masih memeluk Satsuki dengan erat.

Gadis bersurai merah muda itu menyandarkan kepalanya di dada Daiki. "Hm?"

"Aku bosan mengatakan bahwa aku mencintaimu, bolehkah aku ganti ucapan itu?"

"Hah?" Alis Satsuki tertahan bingung.

"Aku tidak mau kehilanganmu."

Dan bintang-bintang seolah jatuh menimpa hati Satsuki yang diliputi rasa syukur telah memiliki pasangan seperti sosok Aomine Daiki.

.

.

aomine_daiki : Perlombaanku berakhir. Finalnya besok. Sukses besar.

satsuki_ : Benarkah? Selamat! Masih tersisa satu laga final lagi, bukan? Good luck.

aomine_daiki : Yah, kali ini aku sedikit berusaha. Terima kasih, Satsuki.

satsuki_ : Untuk apa Dai-chan berterima kasih?

aomine_daiki : Ah, sudah, lupakan. Aku akan beristirahat. Selamat tidur, Satsuki.

satsuki_ : Aku selalu mendukungmu. Selamat tidur.

Percakapan terputus. Satsuki melirik kolom pesan di sebelah emoticon, lalu mengetikkan beberapa kalimat sederhana : Aku rindu Dai-chan. Mengapa kau tidak meneleponku? Telepon aku sekarang. Namun dengan cepat ia menghapus pesan itu sebelum dikirim dan membanting ponselnya ke atas bantal. Gawat. Entah mengapa, untuk mengirim chat pada Daiki tentang sesuatu yang menurutnya tidak penting—menurutnya sekarang sangat penting. Ia mengacak-acak rambutnya.

Untuk kesekian kalinya ia menatap ponselnya dan berteriak dalam hati.

Kenapa kau tidak meneleponku?

Astaga, rupanya ia mulai merindukan lelaki berambut biru dengan kulit cokelat itu.

Siapa yang diam saja kalau suaminya tidak memberi kabar selama dua minggu lamanya? Sudah dua minggu lamanya lelaki itu pergi bersama skuad tim basketnya untuk menjalani laga basket persahabatan dengan tim-tim berkelas Amerika seperti Chicago Bulls dan sebagainya. Suaminya itu selalu berkata bahwa ia tak akan pernah menolak tawaran itu, dan Satsuki tidak bisa menghalangi keinginan kuat Daiki untuk pergi.

Ia begitu bersikeras, hingga terjadi perdebatan panjang antar Daiki dan Satsuki tentang keinginan mereka masing-masing, namun akhirnya Satsuki mengalah. Masih terekam jelas dalam benaknya pada sehari sebelum Daiki pergi. Satsuki ada di kamar, dan saat itu Satsuki sedang membereskan isi ransel Daiki karena laki-laki itu memaksanya menyusun segala sesuatu dengan sikap arogannya itu, dan lelaki itu hanya bisa memperhatkannya menyusun semua kebutuhannya di dalam ransel yang akan dibawanya pergi. Satsuki menghela napas.

"Jangan lupa makan. Kau kalau sudah tenang sedikit, selalu lupa makan. Hingga aku lelah memperingatkanmu." Satsuki memasukkan beberapa baju ke dalam ransel lusuh Daiki.

Daiki mengangkat bahu ringan. "Aku tahu."

Satsuki menatap suaminya itu dalam. "Jangan tidur di sembarang tempat. Dan jangan tidur sembarangan. Kau harus tahu waktu. Dan ingat..." Satsuki terhenti sebentar, dan Daiki kembali memandangnya. Suaminya itu meyandarkan bahunya di dipan ranjang.

Satsuki menelan ludah gugup.

"Jangan selingkuh."

Hening sejenak. Tumpukan pakaian dalam ransel Daiki semakin meninggi. Daiki langsung menoleh ke arah wanita berambut merah muda itu, yang sekarang menatapnya serius dengan kedua alis bertaut. Dan istrinya itu sekarang berwajah seperti malaikat pencabut nyawa yang siap mencabut nyawanya bila ia berani selingkuh. Daiki jadi ingin tertawa melihat ekspresi istrinya itu.

"Hei, kau sebenarnya kenapa?"

Aomine Satsuki menahan napasnya. Ia ingin menahan suaminya itu pergi, ingin, ingin, ingin sekali. Ia selalu mempunyai keinginan itu jauh di dasar hatinya. Ia tipikal wanita yang benci menunggu, benci terikat akan sesuatu, dan membenci segala sesuatu yang akan membuat Daiki jauh darinya.

Mungkin itu hanya merupakan sebagian kecil dari alasannya untuk menahan Daiki pergi, namun ia tak bisa mengelak lagi begitu suaminya itu dengan santainya menanggapi ucapan datarnya dan Daiki mengacak rambut merah mudanya, seperti biasanya.

"Bukan berarti aku harus bilang, bukan?" respon Satsuki.

"Lalu? Apa salah jika aku bertanya apa maksud perkataanmu barusan?"

Daiki hanya merasa bingung. Untuk apa istrinya ini bersikap seperti itu? Ia bisa saja menahan keinginannya untuk pergi, namun bila melihat ekspresi wanita berambut merah muda di hadapannya ini, ia hanya bisa menghela napas berat dan mencoba menjawab semampu yang ia bisa.

"Tidak―tapi..."

Alis Daiki berkerut, menbentuk kerutan samar yang saling berlawanan satu sama lain. "Tapi?"

Daiki langsung bertanya, dengan intonasi yang sama seperti biasanya, dan seperti biasanya, tanpa nada perhatian sama sekali. Ugh, lelaki itu malah terus-menerus mendesaknya. Sekali lagi begitu, awas saja. Satsuki mengerucutkan bibirnya dan memajukan dagunya. Daiki bisa saja terus menerus menanyainya dan untunglah―suaminya itu cukup bisa menahan luapan rasa ingin tahunya. Satsuki menegakkan posisi duduknya, menatap Daiki dengan penuh pertimbangan, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan lelaki tersebut.

"Aku hanya khawatir padamu, Bodoh!"

Satsuki tidak bisa memanjangkan kata-kata cerdasnya di depan Daiki. Lidah cerdasnya seakan terbungkam bila melihat lelaki berambut biru itu sedang memandangnya dengan dalam, seperti biasanya. Ia tidak bisa berkutik lagi sekarang. Yang ia tahu sekarang, ia hanya perlu mendukung lelaki itu untuk berjuang semampu yang ia bisa. Daiki hanya memandangnya heran.

Ingin rasanya Satsuki meninju wajahnya begitu melihat ekspresi heran Daiki. Lelaki itu memang agak bodoh, tapi ia seharusnya bisa bukan, tidak bersikap bodoh di depan istrinya?

"Khawatir, katamu?"

Jawaban singkat Satsuki membuat Daiki semakin heran. Daiki hanya perlu duduk di sebelah Satsuki dan kembali memutar taktik bagaimana caranya untuk membuat istrinya itu bersikap kembali seperti biasanya. Istrinya itu bangkit dari duduknya dan menyodorkan ransel padanya yang sedang menunggu. Satsuki menunduk dengan wajah pasrah, dan memaksakan wajahnya untuk tersenyum ke arah Daiki. Ia malas berdebat.

"Cepatlah pulang."

Daiki melihat istrinya itu berkata dengan pelannya, hingga suaranya pecah, ia berucap dengan suara yang hampir tak terdengar, seolah tak mendengar pertanyaannya tadi. Suaranya setengah parau. Namun Daiki masih dapat mendengarnya jelas dari jarak sejauh ini. Daiki menggenggam tangan Satsuki dengan alis bertaut. Satsuki menggigit bibirnya.

"Hanya itu?"

"Apa?" Satsuki menoleh heran begitu mendengar suara serak Daiki yang begitu dinginnya. Suaminya menaikkan alis, menatap wanita bersurai merah muda itu dengan serius, dan Satsuki tidak tahu lagi harus berkata apa. Jika ia berani sekali saja melawan isi hatinya, ingin sekali rasanya Satsuki melarikan diri dari kamar ini sekarang juga.

"Maksudku, kau hanya berkata seperti itu?"

"Memangnya aku harus bilang apa?" Satsuki berkacak pinggang dengan kesal. Ia benci begitu melihat wajah Daiki yang seperti itu. Wajah bodoh Daiki kembali berubah menjadi wajah datar, dan Daiki kembali mengacak rambut istrinya untuk yang kesekian kalinya. Daiki menarik napas panjang, panjang dan berat, dan suasana hening di kamar mereka hanya terpecah dengan suara tarikan napas mereka yang saling bergantian.

"Seharusnya kau bilang, 'jangan pergi' atau semacam itu, bukan? Kau ini, tidak perhatian sekali."

Kata-kata Satsuki tercekat, kaget begitu mendengar kata-kata Daiki yang seperti itu. Lelaki itu mengucapkannya tanpa ragu, dengan nada ketusnya seperti biasanya, dan dengan wajah datarnya seperti biasanya. Tanpa kata-kata romantis, tentu saja. Satsuki terkesan, namun ia malas untuk mengungkapkannya.

Satsuki memandang suaminya itu dengan tatapan tegas, dan tanpa tedeng aling-aling, Satsuki maju, sedikit berjinjit, memeluk lelaki bertubuh itu dengan erat. Seakan ingin berkata 'jangan pergi'. Lelaki itu tersentak, namun ia sedikit menyunggingkan senyumnya. Mengacak rambut Satsuki lagi. Satsuki menggigit bibirnya, mencoba meraih rambut Daiki, dan mengelusnya pelan.

"Seharusnya aku tidak perlu mengatakannya, bukan, Dai-chan? Kau tentu saja tahu apa maksudku."

Satsuki hanya tersenyum pehit begitu meningat percakapan itu.

Ia rindu Daiki.

Ia akhirnya menekan nomor ponsel Daiki. Ia yakin Daiki tidak akan mematikan ponselnya saat tidur karena ia punya kebiasaan menyalakan alarm untuk membangunkannya di pagi hari. Ia tahu betul kebiasaan Daiki seperti apa. Setelah mendengar nada tunggu cukup lama, akhirrnya terdengar suara lesu tanpa semangat.

"Ya, Aomine disini," suara berat Daiki terdengar. Satsuki berusaha keras menahan tawa. Ia berani bertaruh, pasti Daiki mengangkat teleponnya dengan mata yang setengah terpejam menahan kantuk yang melandanya.

"A-ah. Da-dai-chan?" tanya Satsuki ragu-ragu.

"Sa-satsuki?" Telinga Daiki langsung berdiri dan kesadarannya langsung pulih begitu mendengar suara yang sangat dikenalnya itu. Suara yang selama ini dirindukannya. "Untuk apa malam-malam meneleponku?" tanyanya sambil melirik jam dinding di sudut kamar hotelnya. Jam sebelas malam. "Sudah jam... sebelas. Kau tidak tidur?" tanya Daiki dingin.

"Ka-kau tidak ingat kebiasaanku setiap malam? Jangan beralibi dengan berlagak perhatian seperti itu, Dai-chan. Apa kau ingat kebiasaanku setiap malam apa?" Satsuki membuat lelaki berambut biru itu berpikir sejenak dan terdengar decakan dari ujung telepon, membuat Satsuki yakin Daiki telah tahu jawaban dari teka-teki kecilnya.

"Melihat bintang," Daiki menyibak gordennya, dan jawaban dari teka-teki Satsuki sudah terkapar di latar belakang langit hitam Amerika―bintang. Daiki sangat yakin Satsuki pasti melihat pemandangan bintang yang sama dengannya kali ini.

"Bintangnya bagus, bukan?"

"Ya," angguk Daiki kecil, menatap ribuan bintang yang ada di iris matanya kali ini. "Kenapa kau menelepon larut malam begini?" tanyanya langsung. Suasana hening, namun tiba-tiba Daiki bisa mendengar tarikan napas berat Satsuki di ujung teleponnya. Ia menggenggam ponselnya erat. "Satsuki? Kau kenapa? Apa ada yang terjadi?"

"A-aku merindukanmu, Dai-chan."

Satsuki tidak mendengar suara lagi dari telepon, hening untuk sejenak.

"Aku kesana sekarang," suara berat Daiki memecah keheningan.

"Bo-bodoh!" Satsuki melotot. "Kau mau pergi naik apa dari Amerika ke Tokyo? Naik pesawat jet?"

"Habisnya bagaimana?"

"Tidak usah, kau bertanding saja. Finalmu besok, bukan?"

"Satsuki."

"Apa?"

"Aku juga merindukanmu."

Dan Satsuki dan Daiki tahu, bintang-bintang yang ada di langit Tokyo atau Amerika adalah bintang yang sama, bintang yang menjadi saksi kebersamaan mereka.

.

.

To be continued.