.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Humor/Parody/Adventure/Friendship/Bahasa tidak baku/Curse words/Ecchi

Warn : T rate semi M/OOC/Typo(s)/Chara death

Inspiration from Suikoden II

Story by Akatsuki Ren

.

.

108 SHINOBI

CHAPTER 7

Go To Kyaro Town

-108-

.

Ryube Village

.

Keadaan di desa Ryube sudah kembali normal. Naruto dan Hinata yang sempat pingsan berjama'ah juga sudah sadar.

"Terima kasih sudah membantu di dalam pertunjukan kami. Maaf, kalau kami merepotkan," ucap Hinata sambil membungkuk dan menyembunyikan wajahnya yang merona.

"Ah, tidak apa-apa. Kami senang bisa membantu." Naruto nyengir lebar sambil garuk-garuk canggung. 'Meskipun tadi nyaris mati, sih... ' Ucap batinnya miris mengingat kejadian yang terakhir itu.

"Ngomong-ngomong perkenalkan. Aku adalah Neji. Dia adalah Hinata dan Hanabi. Mereka berdua adalah adikku." Pemuda gondrong yang bernama Neji itu memperkenalkan Hinata dan Hanabi pada Sasuke dan Naruto, walaupun hal itu sebenarnya tidak perlu dilakukan.

"Kenalkan, aku Sasuke dan dia Naruto," balas Sasuke yang ikut larut dalam percakapan yang terlalu berbasa-basi.

"Halah, gak usah bertele-tele deh! Lagian udah saling kenal juga, ngapain kenalan lagi?" Naruto mengacak-acak rambutnya pirangnya. Dia merasa jengah melihat hal formalitas yang dilakukan Neji dan Sasuke. Pada kenyataannya mereka sedang ada di sebuah desa, bukan sedang berada di tengah acara resmi!

"Jangan berisik!" balas Neji dan Sasuke kompakan dan keduanya melemparkan deathglare andalan masing-masing. Naruto diem seketika, membuat Hanabi menyeringai dan Hinata tertawa kecil.

"Ngomong-ngomong setelah ini kalian mau kemana?" tanya Neji membuka alur pembicaraan yang sesuai dengan jalan cerita.

"Kami ingin pergi ke Kyaro!" sambar Naruto cepat.

"Oh, ya? Kalau begitu sama dengan kami, dong!" seru Hanabi sok kaget. Padahal sih, dia udah tahu alurnya kemana.

"Benarkah?" Naruto kelihatan kaget beneran. Mata baby blue miliknya membulat sempurna. Berharap bisa melakukan perjalanan bersama Hinata yang sekarang sedang tersipu.

"Tapi kata penjaga-penjaga di sana, tidak boleh ada satu pun yang melewati puncak gunung. Selain itu katanya di sana juga ada monster penjaga gunung." Sasuke memberikan informasi yang didapatnya saat pergi ke kaki gunung bersama Naruto tadi. Dia merasa tidak yakin apa para penjaga itu akan memberikan mereka ijin untuk lewat.

"Tujuan kita sama, kenapa kita tidak pergi bersama? Untuk urusan penjaga-penjaga itu serahkan saja padaku." Hanabi tersenyum mencurigakan. Tampaknya gadis kecil itu sedang merencanakan sesuatu dan apa pun yang direncanakan Hanabi, entah mengapa Neji sudah merasa menyesal duluan.

"Itu ide bagus! Aku setuju sekali kalau kita pergi bersama. Bagaimana menurutmu, Sasuke?" sambar Naruto langsung saja mengiyakan usulan Hanabi.

"Aku juga tidak keberatan. Lagipula, lebih banyak orang itu jauh lebih baik, apalagi kalau harus bertemu dengan monster penjaga gunung itu." Sasuke mengangguk setuju.

"Kalau begitu ayo kita berangkat!" Hanabi bersorak girang sementara Hinata diam-diam tersenyum senang. Tak disangka-sangka ia bisa berpergian bersama dengan Naruto.

-108-

Mountain Pass

.

Naruto dan Sasuke kembali mendatangi puncak pass bersama dengan Hinata, Hanabi dan Neji yang resmi menjadi teman seperjalanan. Kedua penjaga itu langsung memasang tampang bosan saat melihat wajah Naruto dan Sasuke.

"Kalian lagi. Apa kalian tidak bosan? Sampai kapan pun kami tidak akan memberikan ijin kalian untuk lewat," ujar penjaga itu yang langsung berdiri tegap bersama seorang temannya, seolah ingin menyatakan walau badai menghadang mereka akan terus berdiri di sana. Intinya Naruto cs tidak boleh lewat.

"Ta-ta-tapi kami ada keperluan di Kyaro. Kumohon, biarkan ka-kami lewat." Hinata memohon dengan mata berkaca-kaca dan membuat iman kedua penjaga itu nyaris runtuh! Yah, hanya nyaris.

"Maaf sekali Nona. Kau memang manis, tapi kami tidak akan tergoda dengan rayuanmu," dengus penjaga itu, padahal hidungnya hampir mimisan saat melihat wajah Hinata yang memelas.

"Penjaga~ " Hanabi mendadak genit. Dia memanggil kedua penjaga itu dengan suara yang menggoda. Kedua penjaga itu langsung terfokus pada Hanabi yang berdiri di depan mereka dan memasang pose (sok) seksi.

"Hanabi kau mau apa?" Neji menatap curiga ke arah Hanabi.

"Serahkan saja padaku," balas gadis kecil itu sambil mengerling genit ke arah Neji dan bikin pemuda gondrong itu mules seketika.

"Mas, penjaga~ " ucapnya dengan suara yang menggoda, "mau tahu sesuatu yang menarik, tidak?" Hanabi kali ini tersenyum misterius. Kedua penjaga itu menelan ludah mati-matian melihat aksi Hanabi. Dia memang masih bau kencur tapi lagaknya udah kayak orang 17 tahun ke atas.

"Se-se-se-sesuatu apa?" tanya salah satu penjaga itu dengan susah payah.

"Akan aku beritahu kalau kami diijinkan melewati tempat ini. Bagaimana?" Hanabi memainkan ikatan obinya dengan gaya menantang.

Kedua penjaga itu tampak saling melirik dan melempar pandang. Ada keraguan pada wajah keduanya.

"Hanabi, jangan berbuat yang tidak-tidak!" Hinata menarik Hanabi ke belakang dan langsung memarahi gadis itu.

"Hinata-nee tenang saja. Aku tahu apa yang kulakukan." Hanabi menepis tangan Hinata dan kembali bergerak maju mendekati kedua penjaga yang sedang dilema itu.

"Bagaimana? Apa kalian menyetujuinya?" tanya gadis itu sambil memasang wajah sepolos mungkin dengan suara manja.

"Ah, baiklah kami setuju!" tampaknya kedua penjaga itu sudah termakan rayuan Hanabi.

"Kalau begitu, ikuti aku." Hanabi berjalan melewati kedua penjaga itu dan bergerak menuju ke arah pojokan yang diikuti oleh dua lelaki yang memasang tampang mesum.

"Sebenarnya apa yang mau dilakukan Hanabi?" tanya Naruto dengan polosnya. Ternyata dia sama sekali tidak mengerti dan tidak paham mengenai percakapan yang dilakukan Hanabi kepada dua penjaga itu sejak tadi.

"Kau itu benar-benar bodoh, ya?" Sasuke hanya bisa menggeleng pasrah melihat kepolosan (atau kebodohan?) Naruto.

"Aahhh."

"Uhmm wow... "

"Menakjubkan... "

"Mmmhhhh."

"Seksi sekali... "

Begitulah, terdengar suara-suara aneh dari ujung sana. Suara gumaman, desahan dan pujian-pujian yang mencurigakan. Membuat kuping Neji, Sasuke dan Hinata langsung memanas. Naruto hanya bisa celingukan sambil berpikir bingung sebenarnya apa yang sedang dilakukan Hanabi di ujung sana, kenapa wajah Hinata bisa semerah itu? Kenapa Neji langsung pucat dan Sasuke ternsenyum aneh?

Tak berapa lama Hanabi dan kedua penjaga itu datang menghampiri Naruto dan yang lainnya. Tampak wajah kedua penjaga itu memerah.

"Hanabi, apa yang tadi kau lakukan?" serobot Neji penuh napsu. Awas saja kalau anak kecil itu berani melakukan hal yang belum sepantasnya dilakukan.

"Ish! Neji-nii mau tahu saja!" Hanabi hanya memasang wajah cemberut ke arah Neji yang terlalu mencurigainya. "Aku tidak melakukan apa-apa kok. Iya 'kan Tuan penjaga?" Hanabi mengerling nakal kepada dua penjaga itu.

"Hanabi, jangan macam-macam, ya!" Neji kesal melihat tingkah Hanabi.

"Sudah kubilang aku tidak macam-macam, aku itu hanya satu macam. Sudah, ayo kita jalan!" gadis itu hanya mendengus saat melihat Neji marah kepadanya dan dapat dipastikan otaknya sudah berpikir yang aneh-aneh.

Akhirnya rombongan Naruto diijinkan oleh kedua penjaga itu untuk lewat. Dengan begitu mereka bisa pergi ke Kyaro yang menjadi tempat tujuan selanjutnya.

"Ne-Neji... Hati-hati, ya!" teriak kedua penjaga itu kepada Neji dan membuat pemuda itu mengernyit bingung.

"Dari mana mereka tahu namaku?" tanya Neji sambil melirik ke arah Hanabi.

"Aku yang kasih tahu, nih!" Hanabi memberikan lembar demi lembar sebuah foto kepada Neji. Begitu melihat foto-foto itu wajah Neji berubah menjadi merah.

"Hanabi, jangan bilang kalau kau... " Tangan pemuda itu bergetar dan kalimatnya menggantung begitu saja.

"Tepat sekali! Aku memerlihatkan foto waktu Neji-nii mengadakan acara Kobuki!" Hanabi mengangguk dan seperti tahu apa yang akan dikatakan oleh sang kakak, gadis kecil itu langsung mengiyakan kalau dugaan Neji benar.

"Hanabi, ini 'kan foto waktu aku harus berperan jadi perempuan! Kenapa kau berikan pada mereka? Pantas saja sikap kedua penjaga itu jadi aneh tadi!" Neji stress berat ternyata aibnya kebongkar. Berbagai macam fotonya dalam wujud perempuan yang ehem sedikit aduhai itu terekspos dan diketahui oleh dua ekor penjaga mesum tadi.

"Mana coba aku lihat!" celetuk Naruto berusaha meraih lembaran foto-foto itu dari tangan Neji.

"Jangan macam-macam kecuali kau mau ku jyuuken sampai mati!" ancam Neji melotot seram ke arah Naruto.

"Gak jadi deh... " Naruto langsung menjauh dari Neji beberapa langkah.

"Habis mau gimana lagi? Yang penting kita berhasil lewat 'kan?" hanabi kayaknya cuek aja meskipun aib Neji udah dia bongkar di depan orang lain. Selama itu bukan aib dia atau pun Hinata gak apa-apa menurutnya.

'Sial! Kenapa aku merasakan sepanjang alur permainan ini, satu-persatu aib nistaku bakal dibongkar, ya?' Neji membatin was-was.

-108-

Kelima orang itu melanjutkan perjalanan sambil melakukan aktifitas masing-masing. Mulai dari Naruto yang terus-terusan berteriak kalau ia sedang lapar dan ingin makan, Sasuke yang tak henti-hentinya menyuruh pemuda itu untuk diam, Neji yang tetap memicing waspada ke arah Hanabi yang berjalan di depan dengan Hinata yang sedari tadi menunduk tidak melihat jalan.

Tuk!

Akibat kecerobohannya sendiri Hinata tersandung batu dan terjatuh. Wajahnya yang konon sangat sempurna itu sukses mencium tanah.

"Aduh... Sakit!" gadis manis itu meringis sambil memegangi hidungnya yang mimisan.

"Kau itu ceroboh sekali. Siapa suruh jalan tidak lihat-lihat ke depan!" Neji membantu Hinata berdiri sambil memarahinya. Dasar tsundere, padahal dia cemas sekali melihat Hinata terjatuh seperti itu.

"Kenapa mendadak saja hawanya jadi dingin begini... " Naruto memeluk tubuhnya yang merasa menggigil dan di sekeliling mereka sudah diselimuti kabut putih yang tebal.

"Hati-hati. Ini tidak salah lagi. Monster itu pasti datang!" Sasuke mengambil sikap waspada.

Kabut tebal yang mengelilingi mereka berkumpul di tengah dan membentuk suatu wujud.

JRENG!

Kini tampaklah sosok wanita bohay berbadan aduhai sedang mejeng di depan Naruto dan kawan-kawan.

CROTH!

Naruto dan Neji langsung tepar di tempat dengan hidung mimisan. Tak luput Sasuke yang langsung menyumbat kedua lobang hidungnya.

'Sialan! Kok bisa ada monster seseksi ini?' umpat Uchiha bungsu itu dalam hati.

"Eh, copot! Ya, ampun ada orang yah! Ih, bikin kaget aja!" monster kabut itu nyerocos karena kaget.

"Lho, kok pada pingsan? Padahal aku belum nyerang sama sekali." Monster kabut itu ngelirik ke arah Neji dan Naruto yang masih tepar di tanah.

"Hmph!" Hinata yang gak terima Naruto ngelirik cewek (mahkluk?) lain langsung cemburu. Dia langsung berdiri dan berjalan mendekati sang monster.

"Hinata-nee mau ngapain?" tanya Hanabi udah horor aja ngeliat sang kakak dengan pedenya nyamperin si monster kabut.

"A-aku menantangmu!" Hinata menunjuk sang monster dan menatapnya tajam.

"Hee? Berani kau menantangku, eh?" Monster itu menyeringai dan menatap Hinata dengan tatapan yang meremehkan.

"A-aku menantangmu dalam hal keseksian!" pernyataan perang itu tercetus dari bibir mungil Hinata membuat Neji dan Naruto yang lagi terkapar langsung bangun seketika.

"NANI!?" keduanya terbelalak, kaget dan tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Hinata.

"Hahahaha boleh saja! Semua tahu aku adalah monster paling seksi di sini!" sang monster kabut mulai berpose menantang dan memerlihatkan lekukan tubuhnya. Yah, meskipun dia hanya berwujud dari kabut tapi, ehem, lekukan tubuhnya benar-benar seksi.

CROTH!

Neji, Naruto dan Sasuke sukses mimisan babak kedua.

"A-aku bi-bisa lebih seksi dari itu!" Hinata berkoar lantang.

"Apah?" Hanabi menatap tak percaya.

"Sumpeh?" Neji ia gak percaya.

"Miapah?" Naruto sih percaya-percaya aja, sementara Sasuke lebih milih diem.

"Ka-kalau aku menang, kauharus membiarkan kami le-lewat!"

Setelah mencapai kesepakatan monster itu menyetujui kalau rombongan Hinata boleh melwatinya kalau Hinata bisa menang dan membuktikan dirinya lebih seksi dari si monster.

Gadis indigo itu melangkah mantap ke depan sang monster. Neji, Naruto, dan Sasuke langsung pasang mata sambil menahan air ludah.

Hinata memasang wajah manja yang tampak menggoda, apalagi dengan semburat merah yang timbul pada pipinya, membuat kesan yang lebih alami tentunya.

Kyut!

Tangan Hinata bergerak ke arah atas, atau lebih tepatnya ke arah dadanya dan gadis itu meremas bagian dadanya sendiri sambil memasang wajah polosnya.

CROTH!

Naruto, Neji dan Sasuke balik mimisan berjama'ah lagi.

"Hanabi jangan dilihat!" Neji masih sempat menutup mata Hanabi agar tak melihat Hinata yang sedang berbuat maksiat.

Kyut!

Hinata meremas dadanya yang sebelah lagi dengan pose yang sangat menggoda.

"HINATA SUDAH HENTIKAN!" teriak Neji meminta Hinata untuk menghentikan aksi nakalnya sebelum akan benar-benar jatuh korban karena kehabisan darah.

"Dasar Neji, bisa-bisanya dia ikutan mimisan melihat Hinata!" sembur Naruto sambil ngelap hidungnya yang berdarah.

"Eh?" Hinata kayaknya malah keasikan dan baru nyadar.

"Hentikan aksimu, nak. Kau mau membuat kami mati?" Neji nyamperin Hinata dengan hidung yang ia sumbat dengan lembaran foto miliknya sendiri. Pemuda itu menepuk pundak Hinata dan menyuruhnya untuk berhenti melakukan aksinya.

"Oh! Ma-maaf, a-aku kelepasan!" jawab Hinata yang kini tertunduk malu. Sungguh sangat kontras dengan aksi yang dilakukan sebelumnya.

'Sering-sering aja!' batin Naruto dan Sasuke kompakan.

"Tapi, ba-bagaimana dengan monsternya?" tanya Hinata yang menyadari monster kabut itu tak terlihat.

"Monster kabut yang seksi itu ternyata adalah monster laki-laki. Sekarang dia terkapar di sana." Neji menunjuk ke arah sang monster kabut yang udah tepar klepek-klepek di tanah. Gak lama tubuh sang monster lenyap dan kabut di sekeliling mereka menghilang.

"Hore! Ayo kita lanjutkan perjalanan!" Hanabi berseru senang. Gak peduli pada tiga laki-laki yang hampir mati kehabisan darah.

TBC


A/N : Saya tidak menyangka chapter ini akan amat sangat terlalu dan Hinata benar-benar OOC. UNtuk keamanan saya naikan ratingnya sedikit. Ntahlah, mungkin bisa jadi M.