Nakushite Shimata (Segalanya telah hilang)

Stacie Kaniko©

This story belong to me, casts belong to Masashi Kishimoto

Standard warning applied.

No copycat and plagiarize, because its sinning!

Warning : Last, chapter ini panjang!

Siang itu, Sakura dan Ino mengobrol ceria di kantin, seperti biasa lagi. Para penggemar Sasori masih kesal dengan mereka, atau tepatnya pada Sakura. Namun, tindakan pembully-an sudah terhenti. Deidara berhasil membuat kerusuhan itu terhenti, jelas di belakang sepengetahuan Sakura dan Ino.

Kini, Sakura menatap lelaki bersurai merah di samping Deidara, diam-diam mata Emerald-nya memperhatikan orang yang dihindarinya itu, si manis Sasori.

Diam-diam Sakura mengernyit ketika otaknya memikirkan kata, 'manis.' untuk orang yang sudah menyakiti hatinya. Ada ya orang yang tega menyakiti gadis lugu, ini kisah cinta pertama Sakura, siswi SMA modern, dan sialnya ketemu cowok nyebelin sebagai cinta monyetnya. Ia mendesah sebal dan mengerucut, dengan cepat dialihkannya pandangan dan menjahili Ino yang duduk disisinya walau sedikit-sedikit curi-curi pandang ke meja para senpai itu.

Sasori sadar ia di perhatikan dan dengan siapa pula ia di perhatikan. Akhirnya, di putuskan untuk bergeser lebih dekat dengan Konan dan mengacak-acak surai gadis itu sambil bercengkrama riang.

Wajah Konan memerah dan merespon positif lelaki itu. Ia sengaja mengoleskan saus ke sudut bibir Sasori yang reflek menghapusnya dengan punggung tangan seraya menggerutu. Tak biasa, meja yang mereka duduki lebih bersuasana friendly.

Sakura langsung menekuk wajahnya dan membuang muka cepat-cepat, menggigigt rotinya dengan kesal. Semua gerakannya di perhatikan oleh seseorang, Deidara.

Lelaki bermata Aquamarine itu tersenyum—bahkan tertawa kecil dan terus memperhatikan Sakura.


*** Stacie_Nakushite Shimatta ***


Hari demi hari berjalan tanpa terasa. Sakura telah membulatkan tekatnya untuk menjauhi Senpai bersurai merah dan kawan-kawannya itu. Hatinya sakit ketika ia melewati kelas mereka, hanya tatapan sinis atau sindiran yang ia dapat—walaupun tidak semuanya memperlakukannya seperti itu.

Sedramatis ini 'kah kehidupan SMA-nya hanya karena jatuh cinta pada senpai tampan? Memalukan. Diam-diam meruntuki diri sendiri karena pernah meledek ibunya nonton drama korea yang ceritanya mellow itu; Adegan pembullyan, diselamatkan senior. Apa namanya? Boys Flower? Be boys Flower? Before Flower? Apapun itu. Apa ini karmanya?

Setidaknya biarkan aku mendapat akhir yang bahagia, dong. Jangan yang pahit semua, Sakura menggerutu dalam hati.

Ia juga mulai jarang bertemu dengan pemuda bersurai merah darah. Ia tidak muncul di kantin ataupun hadir di kelasnya. Deidara juga jadi sering berjalan dengan Itachi atau Tobi ketika bertemu dengannya dilorong. Dimanakah lelaki bersurai merah itu?

Ia sadar; seharusnya ia membenci—atau setidak nya menghindari orang itu, bukan merindukannya. Orang yang mempermalukannya di depan umum, orang yang hanya berpura-pura bijak ketika insiden kantin, orang yang menolak bento yang sulit di buatnya, orang yang selalu menatap Sakura sinis atau menganggapnya tidak ada.

Benci, benci, dan benci. Tidak ada suka—atau mungkin cinta—untuk orang itu. Sesaat hati Sakura mencelos, sulit membohongi diri sendiri. Karena semakin ia berusaha melupakannya, semakin ia rindu akan sosok itu.

Menyadari hal ini membuatnya mengintropeksi diri. Semenjak hari itu, sikap Sakura mulai berubah. Tidak secara spesifik sebenarnya. Hanya orang-orang dekatnya saja yang sadar. Perlahan Sakura menyadari posisinya dan menerima apa adanya. Mencatat dikepalanya bahwa orang yang ia suka menolaknya. Terus menerus mengingat itu membuat Sakura menyerah dan mundur perlahan.

Siang di kantin, akhirnya selama seminggu tidak melihat senpai bersurai merah itu, lelaki itu muncul dihadapan Sakura. Akasuna Sasori benar-benar menatapnya ketika ia berjalan untuk membereskan makan siangnya. Namun, Sakura memberikan respon barunya, ia tak ingin selalu ditindas oleh tatapan-tatapan senpai khususnya itu.

Sudah cukup. Kalau kalian pikir Haruno Sakura adalah gadis yang lemah, maka dengan tegas ia menolak. Belakangan, ia hanya lemah karena rasa cinta monyet melanda hatinya saja. Anggap itu normal. Ini bukan novel shoujo manga atau apalah, rasanya Sakura malu kalau mengingat ia tampil lemah di hadapan umum.

Sasori tengah menatapnya datar seperti biasa, namun tidak setegas dulu, entah kenapa wajahnya terlihat lelah dan sayu, tubuhnya nampak kurus. Tapi Sakura—berusaha—tidak mempedulikannya lagi, ditatapnya lelaki bersurai merah itu dengan sinis dan sarkasme yang menyala-nyala dimatanya sampai Sasori sekilas terperangah lalu sedetik kemudian kembali ke ekspresi semula,

Tentu saja disertai dahi yang mengernyit samar.


*** Stacie_Nakushite Shimatta ***


"Sasori, kau disana?" Seorang wanita tua memasuki kamar Sasori, namun lelaki itu tidak ada, ia membuka pintu kearah balkon tetapi Sasori tetap tidak terlihat. Sang wanita tua mulai menunjukan raut cemas, ia memandangi sekeliling kamar cucunya sampai ia melihat pintu kamar mandi. Diketuknya perlahan pintu itu, "Sasori?"

Tak ada jawaban, dengan perlahan sang wanita tua itu memutar kenop pintu kamar mandi dan terlonjak kaget melihat cucunya tergeletak di ubin dengan hidung menetesi darah.

"Sasori!"


*** Stacie_Nakushite Shimatta ***


Sasori Pov

Kubuka mataku, hal pertama yang kulihat ialah putih—warna putih. Kupicingkan mata dan berusaha menatap jelas sekeliling. Aku tahu ini dimana. Tempat dimana pada akhirnya aku akan di bawa kemari. Sekarang aku adalah Akasuna Sasori yang tergeletak lemah tak berdaya, Payah. Tapi kemudian aku menyesali pemikiranku.

Aku berusaha tersenyum walau samar, tuhan telah menggariskan segalanya. Dan disinilah aku berakhir, kucoba menutup kembali mataku, aku ingin disisa-sisa nafasku ini menjadi waktu paling bahagia, dimana semua beban dikepala dan hatiku menguap. Tapi sayangnya, harapanku tak terkabul. Aku merasa berat. Tidak bebas. Tidak lega.

Dadaku semakin terasa sesak. Sebentar lagi, batasnya sebentrar lagi. Dan tiap detik yang kulalui membuat dadaku makin terhimpit.

Satu-satunya bayangan yang menari-nari didepan mataku hanyalah gadis itu, orang asing yang muncul seenaknya, Haruno Sakura. Gadis sialan itu membuat pikiranku kacau. Gila saja tiap saat mengingat wajahnya. Kusadari senyumku terkuak, entah kenapa mengucapkan namanya seperti candu, begitu menyenangkan. Ia tersenyum bodoh, membuatku gemas sendiri.

Kira-kira apa yang ia pikirkan jika sedang memasang wajah bodohnya itu? Haruno Sakura; Bunga Sakura yang mekar, eh?

Gadis bodoh itu ternyata bisa menjadi gadis pemalu. Sakura, Sakura, Sakura. Terus kurasakan bibirku membentuk senyuman. Ahaha sepertinya aku rindu tersenyum, lantas ini membuatku senang.

Lalu saat mata kami bertemu di satu titik, Emerald-nya sungguh indah; hijau jernih yang menyenangkan, begitu luas. Ekspresi bodohnya, lagi lagi ekspresi bodoh yang jika gadis normal lain pasti akan malu jika menunjukannya didepan orang banyak. Tapi gadis itu tidak. Mungkin dia lugu… atau terlalu bodoh?

Apa pun itu yang jelas dia menarik. Jelas bukan gadis munafik.

Aku tertawa pelan, gadis itu bukan gadis normal? Entah kenapa hatiku terasa cukup senang mendengar suara tawaku yang tak terbebani. Siapa yang mengira mengejek orang seperti ini begitu menyenangkan? Dan sialnya dia berhasil menarik seluruh perhatianku.

Sekilas, untuk pertama kalinya aku merasakan perasaan ini—sedih; sedih karena punya penyakit ini. Kematian, sedih akan keharusan meninggalkan dunia, sedih takkan pernah melihat senyum cerianya yang bodoh itu.

Aku kembali tersenyum, bukan senyum bahagia sebenarnya. Tapi tak terlalu buruk, waktuku tinggal sebentar lagi—pesimis memang, tapi siapa yang kuat jika di vonis 'kemungkinannya 35%'? — aku ingin terus tersenyum dan tertawa; sesuatu hal yang jarang kulakukan semasa hidupku.

Lalu pikiranku beralih mengingat responnya baru-baru ini. Ketika aku harus beristirahat terus di rumah dan tak bisa memperhatikan tingkah bodohnya lagi. Seminggu istirahat total, nenek akhirnya membarkanku sekolah.

Satu yang harus kalian ketahui, ketika lelaki tertarik padamu; dia selalu ingin menemuimu. Apa pun keadaannya.

Well, kata 'tertarik' mungkin harus ku pertimbangkan lagi. Bukan hanya tertarik, tapi suka.

Kantin adalah tempat yang tepat. Kulihat kepalanya, surainya sangat mencolok sampai gampang di temukan.

Sedikit mencelos juga harus memandangnya dengan tatapan tak bersahabat,—tapi apa mau dikata, dia tak boleh sakit terlalu jauh.—walaupun aku tidak begitu yakin ia menyukaiku atau tidak, tetapi cari aman lebih baik.

Kupandang dia, ia menyadari tatapanku dan membalasnya, tapi bukan ekspresi senang, bodoh, ataupun sedih yang ia tunjukan,—ekspresi yang membuatku terkejut—matanya berkilat marah, dan sinis.

Ayolah. Aku belum pernah menghadapi respon penolakan.

Satu hal yang harus ku sadari; aku yang terlebih dulu memperlakukannya dengan tidak baik. Makan saja buah dari bibit yang ditanam.

Mana ada orang yang senang diberi perlakuan sinis.

Tapi kenapa hatiku sakit?

Kuhela nafas. Sakura, apa ini akhirnya? Tak pernah kubayangkan ia akan marah seperti ini. Ini adil, aku melukai dan terluka. Tapi sialnya tak se-simple kedengarannya.

Tanganku bergerak, memegangi dadaku yang—jujur—sakit, rasanya menyukai memang unik. Namun sepeertinya aku belum siap jatuh. Kualihkan pikiran dan merasakan keadaan sekitar. Byouin—Rumah Sakit. Berbau yang membosankan dan tak ada harumnya sama sekali, tidak secara spesifik sebenarnya.

Kira-kira berapa lama aku harus menghamburkan uang tunjangan nenek? Ini membuatku malu. Aku laki-laki dan sekarang bergantung pada orang yang sudah tua. Ini kebalik. Memalukan.

Ada percakapan di luar ruangan. Tak terlalu jelas, tapi sepertinya bisa kutangkap.

"Jadi, kapan kita melakukannya, sensei—Dokter?" Suara cempreng yang familier, siapa ya—.

Deg!

Ingatanku kabur. Ini menakutkan.

Pelan-pelan aku mengingat; suara cempreng, kupikir ada. Sering kudengar malah—.

—Deidara. Ya, benar.

"Setelah ia sadar. Jika malam ini ia siuman, besok pagi bisa kami laksanakan."

Yah, Operasi. Cepat sekali rasanya.

Ckleeek..

Kubuka mataku, sedikit buram, kupicingkan sosok putih dihadapanku. Siluet yang makin jelas—perawat.

"Ah… Kau sudah sadar, tuan Akasuna?" Dia tampak tersenyum yang menurutku bukan senyum yang buat-buat. Tapi iapa yang peduli.

Kuanggukan pelan kepalaku, sebenarnya sebagian besar alasanku bukan untuk meyakinkan pertanyaan retorisnya, hanya untuk mengetes apakah aku bisa bergerak. Dan cukup sukses, setidaknya tubuhku tidak terlalu kaku.

"Syukurlah. Sebentar ya," ia memeriksa alat-alat di meja sebelahku, tapi aku tak peduli. Kupejamkan kembali mataku sampai ia berkata, "aku akan segera memberi tahu sensei bahwa kau sudah sadar."

Kudengar derap langkahnya lalu bunyi pintu tertutup, kubuka lagi mataku. Tak lama muncul seorang lelaki tinggi yang aku bisa tebak sebagai Isha. Dibelakangnya mengekor seorang… Berambut kuning panjang, dia lelaki atau perempuan?

Kupertajam mataku, ia sosok familier. "Oi danna, sudah merasa baikan? Un," tanyanya seraya menepuk-nepuk kakiku canggung. Siapa lagi yang memanggilku danna kalau bukan Deidara. Kenapa aku baru menyadari dia mirip wanita, ya?

"Hm."

"Jangan mengeluh, ya?"

"Apanya?"

"Aku punya kabar untukmu." Gelagat Deidara sungguh lucu, aku inginn tertawa sebenarnya. Kalau begini, rasanya agak gak percaya aku sakit keras.

"Katakan saja."

"Pertama, kau pingsan selama 2 hari."

"Terus?"

"Jangan tatap aku dengan pandangan bodoh sok polos situ, bakka!" ia mengerucutkan bibirnya. Cih, jelek Dei. Kau harus praktekkan itu suatu hari nanti di cermin.

"Jangan pasang wajah itu Dei. Rasanya—," nafasku pendek dan aku menarik nafas lagi. Dia nampaknya tersinggung. "—aku tak bohong, kau mirip temannnya si Haruno."

Aku tertawa pelan melihatnya mengomel.

"Hanya itu?"

Dia berdehem dan kembali serius.

"Sensei bilang, kau bakal di operasi kalau keadaanmu sudah stabil." Ia menatapku dari atas sampai bawah, dan cemberut, "dan melihat tingkahmu, kupikir kau sudah normal."

"Ah masa?"

"Un. Apa lagi coba yang kurang?" ujarnya sinis.

Aku memegang dada sedikit dramatis. Dan memandangnya galau.

Tentu wajahnya langsung berubah dan begitu cemas. Ah, Deidara memang tipe teman yang baik. Selalu menghibur. "Kupikir disini sakit, Dei."

"D-dimana?"

Kutunjuk dadaku dengan polos.

"Hey, kau itu komplikasi apa? Aku tak tahu dadamu juga sakit." Deidara mengernyit prihatin, namun matanya nampak tak percaya.

"Aku serius." Dan memejamkan mata, dan berusaha terdengar putus asa. "Lupakan saja, Dei. Aku sehat."

"Tutup omong kosongmu, dimana sakitnya? Biar kupanggil sensei."

"…"

"Oy danna,"

"…"

"Jangan kayak anak kecil, deh. Cepat katakan oy."

"… Ukh."

"OH TUHAN! DANNA JAWAB JANGAN BUAT AKU GILA!"

Aku membuka sebelah mata dan menatapnya datar. "Dadaku."

"Sakitnya… seperti apa?"

Aku berpikir sesaat, "Diremas? Ini sangat menyakitkan kau tahu."

Dan seketika wajahnya terlihat jijik, rona merah mewarnai pipinya. "Gila, masih aja mikir mesum padahal sebentar lagi perang nyawa sama pisau bedah."

Dan aku memasang wajah paling datar yang bisa kutunjukan. "Kupikir otakmu yang mesum, bakka." Ini bertentangan sungguh.

"Kau yang bilang—."

"Apa?"

"Lupakan. Jadi maksudmu sakit bagaimana? Mo-hon le-bih je-las." Ia menatap sengit.

"Aku kangen seseorang. Sudah."

"Nenekmu?"

"Bukan."

"Cucu kurang ajar."

Aku menatapnya sinis.

Dia mencoba sabar. "Jadi, siapa orangnya? Danna-ku sayang." Bahasa sarkasmenya keluar.

"Dei menjauh. Aku jijik."

Dan kini ia menarik rambut panjangnya frustasi, dan menjerit tertahan.

"Serius. Seharusnya kau bantu orang sekarat sepertiku."

Empat siku-siku masih menempel di jidatnya.

"Aku tidak memaksa."

"Nama. AKU-BUTUH-NAMANYA." Belajarlah Dei, orang sakit itu menyebalkan. Semakin sekarat, semakin suka menyiksa.

Aku tertawa puas. Jujur, ini membuatku pening jadi aku berhenti. "Haruno Sakura."

Deidara berhenti bersikap menyebalkan dan menatapku serius. "Beneran nih?"

"Bohongan."

"HOY."

"Bawa gadis itu kemari besok. Lama-lama kau membuatku pening, Dei."

"Kau memerintah?" ia menatapku dengan pandangan keji.

"Memohon, Deiku sayang. Hush." Aku kembali memejamkan mata dan kudengar ia jalan keluar sembari menyumpah-nyumpah frustasi. Tak lama terdengar protesan suster galak yang mengusirnya dari rumah sakit.

Yah Dei, sekali-kali. Terima saja.


*** Stacie_Nakushite SHimatta ***


Aku tak punya kerjaan dan terlalu sulit untuk tidur lagi. Maka tengah malam aku membunyikan bel perawat dan memintanya membuatkan surat. Awalnya ia terlihat sebal, namun setelah ku tatap ia langsung menerimanya.

Tertulis,

Deidara yang baik,

Esok adalah penentuan. Aku ingin kau bawa obasan kemari jam8 pagi, ingat, 8 pagi. dan 1 lagi jam 2 siang bawa orang yang tadi kusebutkan namanya.

Jika orang kedua ini tak mau ya sudah—mungkin kau paksa saja sedikit—,tapi jika dia berkeras tidak mau juga tak apa.

Katakana saja ada salam minta maaf.

Nah, karena ini permintaan orang sekarat jadi kau harus melaksanakannya,—ini permohonan, kok.

Selamat malam

A.S

Jika kalian berpikir, kenapa ini dramatis seperti era 80-an—pakai saja E-mail. Beres, pasti sampai. Aku hanya ingin meluluhkan hati anak satu itu. Sepertinya dia ngambek atas kelakuanku sore tadi. Yah, kan hanya berniat senang-senang.

Kuangkat sebelah alis heran.

Setelah itu aku memejamkan mata dan benar-benar tertidur.


*** Stacie_Nakushite Shimatta ***


"Dei, aku butuh bantuan", ujarku dengan 1 tarikan nafas.

"Un? Apa apa Danna?" Deidara jelas bingung melihat-ku.

"Selamatkan Sakura."

Deidara tertegun sebentar, "un?"

"Jaga dia. Kau harus menjadi pahlawannya."

"Tapi untuk ap—."

"Ucapanku ini mutlak, Dei. Janji, ini perintah terakhir."

"Untuk melindunginya. Katakan ini perintah terakhir untuk melindunginya."

"Kau tahu—."

"Begitukah caramu meminta tolong, danna? Dengarkan kataku atau minta tolong pada orang lain."

Kubuka mataku dengan cepat, mimpi. Kucoba untuk tersenyum dan menenangkan diri. Benar, harusnya aku tersenyum, bukan merasa sakit ataupun takut.

Ini garis takdirku; seorang penyakitan. Salahku tidak bisa jujur, salahku sendiri yang menjadikan Deidara pengganti. Berang sebenarnya melihat Deidara berakhir dengan selalu berdekatan dengan gadis itu, tertawa, saling ejek, saling peduli. Ya, berang pada diri sendiri.

Tapi tak ada waktu untuk menyesal. Inilah pilihanku. Biarlah Sakura bersama dengan Deidara. Gadis Emerald itu tidak pantas dekat—atau bahkan melirik seseorang sepertiku. Ayolah, masa depannya harus disuguhkan dengan kepastian. Pertama, jangan mau berhubungan dengan orang yang tak pasti; penyakitan dan di vonis berumur pendek. Yang Ia butuhkan cukup lelaki kuat yang bisa menjaganya.

Aku tertegun saat mengingat insiden lalu, dari kepalanya menetes-netes cairan kuning kental dengan bau menusuk—telur busuk. Ketika ia kesakitan, ketika ia membutuhkan seorang untuk menolongnya, melindunginya. Apa yang bisa kulakukan? Menyuruh seorang sahabatmu menolongnya? Pengecut, tapi itu Aku. Sasori. Akasuna Sasori.

Salah, ini semua salah. Sejak awal mental dan fisik-ku lemah, yah sialan.

Ku hela nafas kesal, Kucoba untuk mencari objek menarik dikamar ini. Kuedarkan pandanganku sampai menemukan jam dinding dan termenung.

06.10.

Kuharap aku bisa kembali tidur. Sungguh.

Menunggu itu memuakkan.


*** Stacie_Nakushite Shimatta ***


[Author Pov]

"Aku telah berjanji pada kedua orang tuamu untuk merawatmu. Kau cucuku tersayang." Chiyo obaasan terlihat begitu letih dan sedih menatap cucu satu-satunya itu terbaring tak berdaya di ranjang Byouin. "Aku tak habis pikir jika kau mendahului-ku, nak. Lihat umurmu."

Sasori hanya memejamkan kedua matanya dan tersenyum, ia tak ingin berbohong. Cukuplah menenangkan orang itu. Lebih baik diam di banding memberi harapan tak pasti. "Kedengarannya unik, nek."

"Unik dari mana, nak?" Chiyo mengernyit tak suka.

"Sudahlah nek, jangan terlalu di pikirkan. Kita kan cukup berdoa saja, toh hanya itu yang bisa di lakukan." Kankuro (teman kecil Sasori) mengeluarkan suaranya.

Sasori tertawa pelan, "Kankurou benar. Nek, maukah kau memberiku waktu untuk sendiri?" ujarnya pelan dan tenang. "Esok aku operasi, aku ingin nenek menunggu dalam keadaan sehat. Pulang dan istirahatlah."

Wanita tua Nampak berpikir sesaaat. Tak lama Chiyo mengangguk pelan. Chiyo akhirnya dituntun oleh Kankuro keluar ruangan. Kankuro hanya menatap optimis temannya. Ia mengangkat satu kepalan tangannya ke udara, berusaha menyemangati pemuda bersurai merah itu.

Deidara telah pergi menjemput Sakura. Tugas pemuda bermata Hazel itu hanya menunggu dan mempersiapkan diri untuk menemui Haruno Sakura. Apa yang harus ia katakan nanti? Bingung, setelah sikapnya yang mengabaikan gadis itu, kini ia menjemputnya. Apa yang akan di katakan gadis itu?

Sasori menghela nafas, dalam hati berdoa agar refleknya bertemu Sakura nanti tidak buruk. Kini fokuslah ia untuk menunggu—tapi sayangnya ia benci menunggu. Ia bergerak-gerak gelisah, ingin melakukan hal lain.

Dilihatnya dua buah boneka setinggi 45 cm disamping ranjangnya. Boneka buatan kedua tangannya sendiri, boneka yang menemani Sasori kecil ketika kesepian; ketika merindukan Ayah Ibunya. Boneka berbentuk Ayah dan Ibunya yang ia contoh dari satu-satunya foto yang ditinggalkan mereka berdua.

Kankuro telah membawakan boneka kesayangannya untuk mengisi waktunya.

Lelaki itu mengamati kedua boneka tersebut, lalu dengan perlahan di raihnya. Perlahan ia melilitkan benang-benang halus boneka dijari-jarinya lalu menggerakannya.

Perlahan dan perlahan, boneka itu terus bergerak, menyita seluruh pemikiran sang lelaki muda itu. Sang pemuda menyadari tetes demi tetes liquid mengalir di pipinya lalu jatuh. Ia tersenyum dan tak berusaha menghapusnya.

Tiba-tiba saja, ia ingin menemui mereka berdua untuk bercerita tentang kehidupan singkatnya.


*** Stacie_Nakushita Shimatta ***


Jam telah menunjukan pukul 16.35 Lelaki bersurai merah itu memandangi langit-langit ruang rawat itu. Sebentar lagi, waktu terus berjalan dan membabat habis waktu bebasnya. Apa yang bis ia protes begitu mendengar perkataan sensei mengenai tanggal operasinya?

"Lebih cepat lebih baik. Kita tak bisa membiarkan sel itu berkembang biak lebih lama lagi."

Ia menghela nafas lesu. Akan dilaksanakan proses yang akan menentukan, ia masih bisa menetap atau harus pergi. Akasuna Sasori tak pernah percaya keajaiban.

Sudah cukup masa kecilnya dipenuhi dengan harapan keajaiban; orang tuan Akasuna Sasori tak pernah percaya keajaiban.

Sudah cukup masa kecilnya dipenuhi dengan harapan keajaiban; orang tuanya tidak meninggal dalam kecelakaan pesawat, kakeknya tetap menemani neneknya dan sembuh dari penyakit jantungnya, Temari sang kakak tidak dibawa suaminya ketika menikah.

Tapi satu pun harapannya tak dikabulkan. Ayolah, dulu Sasori adalah anak kecil yang polos—dan doanya tidak dikabulkan.

Apalgi sekarang.

Tak ada kunjungan seorangpun setelah wanita tua setengah jam yang lalu itu. Tidak ada yang tahu dengan keadaannya kecuali si kepala kuning dan sang Nenek beserta Kankurou.

Entah reaksi apa yang akan ia terima jika teman-temannya mengetahui keadaannya; itu yang ia pikirkan sejak kemarin.

Namun, ketukan pintu membuatnya tercekat. Berdoa dalam hati bahwa ialah Deidara. Namun, matanya membola kala mendapati teman-temannya datang bergerumbul.


*** Stacie_Nakushite Shimatta ***


Pertemuan singkat dengan teman-temannya membuatnya termenung. Ia pikir, akan di hadiahi amarah oleh teman-teman sejawatnya.

Namun, yang di dapati ternyata adalah ucapan penuh suport yang membuat matanya panas. Mereka nampak biasa, namun Sasori dapat melihat wajah cemas dan takut dari ekspresi pengunjungnya itu.

"Aku harap kau lolos."

Kalimat Pain terulang di pikirannya. Wajah penuda itu sedatar tembok, namun matanya menyiratakan—yang sangat di benci Sasori—keprihatinan.

"Aku ingin melihatmu esok, esok, dan esok Saso-kun."

Sasori menghela nafas. Konan menangis saat ini. Dan, mengapa ia harus melihat teman-temannya nampak hancur sekarang. Setidaknya walau kecil, Sasori kan lebih tenang kalau mereka cukup berdoa dan tak terbebani.

Teman-temannya akhirnya pulang. Dan inilah yang tak disukai Sasori.

Kamarnya kembali sepi.

Semakin lama, sampai rasanya keceriaan teman-temannya tadi terasa tak nyata.

Di liriknya kembali jam dinding berbingkai perak di kamarnya.

18.00

Ia mendesah lelah. Matanya hampa, kekosongan mengisi wajahnya. Ia menutup kedua matanya sambil bersenandung lirih,

"Kono ryoute ni kakaete iru mono toki no shizuku,

[Perasaan ini tersisa sudah sejak lama]

Ya, perasaan suka itu sudah ada sejak lama. Sejak pertama kali ia melihat gadis berambut cerah itu. Dan baru ia sadari kalau rasa itu disebut 'suka', bukan 'tertarik'.

"sotto nigirishimete wasureta kioku nakushita kotoba,

[Ku pertahankan dengan penuh perasaan. Kenangan yang terlupakan, kata-kata yang telah hilang]

Hari demi hari tanpa sadar ia memenuhi kepalanya dengan segala sesuatu dari gadis itu. Memupuknya, hingga benih-benih suka itu tumbuh menjadi bibit—yang kini sudah tumbuh begitu kuat; Cinta—bisakah disebut begitu? Ah, cinta monyet. Dan selama itu pula, Sasori tetap mempertahankan rasa itu. Mencoba mengingat kenangan yang telah terlupakan, dengan segala kata-kata yang tak sempat terucapkan.

"Hitotsu hitotsu omoidaseba, Subete wakatteita kigashite ita no ni,

[Satu persatu kenangan itu pergi, Saat ku pikir dapat memperbaiki semuanya.]

Ketika ia mencoba untuk memperbaiki segala keadaan, ia tersadar; ia tak mungkin bisa. Perlahan, pemuda itu menutup matanya. Berusaha melenyapkan kenangan itu.

"Iroaseta kotoba wa boku no sugu soba ni oite atta,

[Segalanya lenyap begitu saja dari sisiku]

Ia tak mengerti. Itu berhasil atau tidak. Yang jelas, Gadis itu perlahan menjauh. Lenyap dari sisinya.

"Kotaete no denai yoru to,

[Malam yang kulalui tanpa jawaban yang pasti lenyap dalam kehangatan]

Ketika langit menggelap, ia selalu berpikir. Menanyakan alasan mengapa tuhan memberikan penyakitnya. Dan berakhirlah dengan bulir air mata, yang terasa hangat di pipinya yang dingin.

"Hitokira no nukumorito,

[Lelah mengharapkan sesuatu yang tak pernah tercapai]

Lelah. 1 kata yang mewakili segala perasaan di hatinya. Segalanya adalah percuma.

"Haruka kanata no akugare to,

[Kulalui semua itu berulang kali]

Hal yang sama berulang hari demi hari. Aktivitas baru itu menjadi kebiasaan. Dan setiap waktu, pemuda itu berusaha melewati segalanya dengan perasaan hampa.

"Tada sore dake wo kurikaeshi boku wa ikite iru,

[Waktu berlalu, menyisakan perasaan ini]

Ya, waktu memang berlalu. Dan perasaan di hatinya malah melekat kuat seperti permen karet. Entah harus merasa sakit atau senang.

"Kono ryoute ni kakaete iru mono toki no shizuku,

[Ku jaga dengan penuh perasaan]

Yang jelas, ia menjaga sebisanya. Sepenuh hatinya.

"sotto nigirishimete wasureta kioku nakushita kotoba,

[kenangan yang terlupakan, kata-kata yang telah hilang]

Kembali teringat dengan kenangan dan kata-kata yang merangkainya. Namun, itu tetaplah masa lalu. Kenangan yang telah terlupakan. Kata-kata yang tak berhasil terucap.

"Anata ga omou kotowo sameru koto nakutemo to ni tsukamitai no ni,

[Pikiranmu yang terlanjur dingin kucoba hangatkan kembali]

Hingga akhirnya ia menyerah. Cukup untuk menyesali masa lalu. Hari ini, Pemuda itu akan berusaha untuk menyatakan perasaan yang di pendamnya. Berusaha menghangatkan jalinan yang telah dingin membeku oleh kecanggungan.

"Hito dearu bokutachi wa sono kimochi wo,

[Aku dan kau tak seperti orang lain, yang dengan mudahnya menyatakan perasaan.]

Karena kita berbeda. Kau dan aku berbeda dari yang lainnya. Itulah yang pemuda itu ingin sampaikan.

"Wakachi aenai mama,

[Perasaan yang tak ternyatakan]

Stuck in the moment with you. Ketika kita berhadapan, selalu saja stuck di tengah-tengah. Dengan perasaanku yang gagal tersampaikan.

"Kotoba ga hanatsu imi wo,

[Hasrat tanpa jawaban yang nyata]

Hasrat mencintaimu. Ketika aku mencintaimu. Itu monolog. Tak ada jawaban untuk itu. Itulah yang pemuda itu teriyaki dalam hati.

"Tatoe no nai omoi wo,

[Semua mungkin akan lebih jelas bila kita saling berpandangan]

Mungkin pada akhirnya, pemuda itu memilih untuk berhadapan dengan Sakura. Dengan cara kuno. Ya, karena mata tak dapat berbohong.

"Kotaeru koto no nai kanjou wo,

[Waktu berlalu, menyisakan Perasaan ini]

Teruslah ia mendengar jam berdetik. Dan perasaan itu semakin mengental.

"Mitsumaeaeba tsutawaru koto ga dekitara ii no ni na,

[Kujaga dengan penuh perasaan]

Tidak, untuk kali ini ia tak akan menyerah pada keegoisan dan ketakutannya. Akan ia jaga perasaan itu, hingga berhasil tersampaikan.

"Kono ryoute ni kakaete iru mono toki no shizuku,

[Perasaan ini tersisa sudah sejak lama]

Benar, sejak lama.

"sotto nigirishimete wasureta kioku nakushita kotoba,

[kenangan yang terlupakan, kata-kata yang telah hilang]

Yang berisi kenangan-kenangan lampau, serta kebisuan yang mengiringinya. Membiarkan gadis itu terbalut kesalahpahaman.

"Kono omoi wa mune ni shimatte okou,

[Rasa ini akan selalu kusimpan didalam hatiku]

Selalu. Dan pasti. Hingga nafas pemuda itu berhenti, ia berjanji untuk menyimpannya di hatinya.

"Nakushite shimatta…"

[Segalanya telah hilang…]

Akan ia jaga, hingga waktunya. Waktu dimana segalanya akan hilang.

(Nakushita Kotoba by No regret life)

Lelaki itu menangis dalam diam, air matanya berlinang jatuh dari pipinya. Hari penantian ini adalah hari yang telah dipikirkan jauh lebih dulu sebelum hari ini datang.

Ketika ia akan melunakan hati sang gadis, menyatakan semuanya, segala perasaan yang berkecamuk dalam benaknya pada sang gadis. Perasaan yang sulit dijelaskan. Perasaan yang telah lama tersimpan dari waktu yang telah lama berlalu.

Dengan tegar dan sabar, ia melantunkan baris demi baris lagu itu dengan suara lirih. Penantiannya, menunggu sang gadis yang tak kunjung menampakan diri dihadapannya.

"Haruno Sakura." kalimat itu akhirnya terucap dibibir pucat Akasuna Sasori dengan luwes.

Di hapusnya air mata yang berlinang itu dan mencoba tegar. Dengan sabar, walaupun ini bukanlah sifatnya, ia berusaha menunggu sang gadis.

Tik, tik, tik, tik

Jam dinding terus berdetik. Dengan setia sang pria memandangi pintu ruang rawat itu. Menunggu seorang gadis yang telah menawan hatinya melewati pintu itu.

Ia menutup matanya dan berdoa. Mungkin jadi doa terakhirnya. Mungkin.

Walaupun jam besuk sudah lewat. Bolehkah ia berharap?

Setidaknya hanya melihat saja. Ia tak bohong kalau sekarang merindukan gadis itu.

Ckleeek…

Setetes liquid bening jatuh dari mata sayu Sasori yang baru ia buka. Dengan gerakan cepat ditatapnya pintu itu.

"Akasuna-san, mengecekan terakhir, kau siap?" sang Isha tersenyum ramah. Sasori menutup lagi kedua matanya.

Menghembuskan nafasnya, "Ya."

Sudah malam. Gadis itu tidak datang. Yah, cinta pertama terkadang tak berhasil. Tapi bagaimana jika Haruno malah jadi cinta terakhirnya?


*** Stacie_Nakushite Shimatta ***


Sekarang masih pagi-pagi buta, namun terdengar begitu bising. Dua orang berbeda gender itu berlari-lari menyebrangi lorong putih rumah sakit itu. Dari wajahnya yang harap-harap cemas, pasti mereka berlari mengejar waktu.

Nafas gadis itu terengah engah, peluh membasahi tubuhnya, tapi ia tak gentar. Dibelakangnya sesosok pria bersurai pirang panjang menatapnya sebal seraya lari mengekorinya.

"Ini salahmuuu!"

"Apa maumu?!"

"Kenapa gak kasih—hah—tahu dari jauh-jauh hari!"

"Memangnya kenapa?! —hah. Hah. Kau itu ansos atau kele—hah. hah—wat bodoh sampai tak ada—tak ada yang punya nomormu?!"

Tap, tap, tap…

"Siapa yang—hah—tahu bakal begini."

"Kau itu gadis idiot ya—," Deidara berhenti berlari dan menstabilkan nafasnya. Ditatapnya ruang nomor 101 dihadapannya. "—, sepulang dari sini, sebarkan nomor ponselmu. Kita tak tahu keadaan mendesak apa yang akan terjadi. Bodoh." Oh, Deidara benar-benar kesal.

Sakura hanya menggeram.

Tanpa aba-aba Deidara menerobos pintu itu sedikit kasar. Muak, MUAK SEKALI. Ia akan menyampaikan keluhan yang pertama kali dalam hidupnya ia menunggu seperti orang tolol. Menunggu dari siang, diusik anjing penjaga rumah orang, berdiri kedinginan di luar rumah orang sampai tengah malam, makan ramen cup didepan rumah orang, diusir satpam keliling, terpaksa bermalam di pos ronda terdekat dengan nyamuk dan menggigil kedinginan—,

Oh siapa yang bisa tidur dalam keadaaan seperti itu? Subuhnya ia kembali kerumah si gadis dan ternyata pembantu rumahnya yang tulalit itu akhirnya teringat dan menyampaikan bahwa 'Nonanya sedang menginap dirumah sahabatnya, bukan kerja kelompok biasa.'

Oh, bahkan ia tidak ingat siapa nama sahabat nonanya. Dengan ekspresi keji Deidara memastikan dengan nama Yamanaka Ino berambut pirang panjang dan pembantu itu baru mengingatnya dan langsung menelponnya. Jam 5 pagi. Camkan itu.

"DANNA KAU HARUS TANGG—." Dan ucapan setelahnya tertahan begitu melihat sosok yang terbaring diranjang itu. Wajahnya sepucat mayat, putih kapur. Demi tuhan, Deidara tahu Sasori berkulit putih, tapi tidak begini. Disisinya terdapat kedua boneka kayu kecil, terbaring disisi kanan dan kiri.

Sosok itu terbangun dan membuka matanya perlahan, matanya terlihat sayu. Benar-benar beda dari hari sebelumnya. Mengerikan, kemarin sosok ini masih bisa membuat dirinya frustasi dan sekarang terbaring skarat—ini baru benar-benar sekarat.

"Kau ribut, Dei." Suara itu berat dan pelan.

Dan kini Deidara sungguh ketakutan, ia telah mangganggu tidur orang sakit—coret—sekarat.

"E-eto… gadis itu membawa masalah untukku, danna," Deidara menggaruk pipinya. "T-tapi kubawakan dia untukmu. Lihat!" ia menunjuk sosok yang berdiri kaku di depan pintu.

Untung pandangan mata Sasori benar-benar terbatas saat itu, jika tidak ia mungkin begitu tertekan melihat wajah Sakura pucat pasi dengan tangan gemetar.

"Kau… jadi jelek, danna."

"Hm."

Deidara bertanya hati-hati, "Kenapa?"

"Kemoterapi sebentar kemarin."

"O-oh… kau yakin baik-baik saja?"

"Tidak."

"Tidak! Hebat." Dei tersenyum getir, "Terus operasinya?"

"O-op-opera—si?" sosok yang sedari tadi membisu akhirnya membuka mulut. Perlahan, kakinya mendekati ranjang putih itu dengan hati-hati. Sakura menjerit dalam hati melihat sosok yang—bahkan masih ia suka—kini dalam keadaan yang benar-benar berantakan.

Rambutnya! Oh rambut yang kudambakan…mereka kemana? Sakura ternganga.

"Kupikir kelihatan bagus." Sasori berusaha memegang rambutnya dan menatap Sakura polos. Sayang, keterkejutan diwajah gadis itu membuat Sasori terhenyak sesaat. "Atau tidak. Lupakan."

Ayolah, ia kesal melihat rambutnya yang rontok, kemo terakhir membuat rambut merah yang menjuntai hingga keningnya nampak tipis. Akhirnya diputuskan untuk memotong rambutnya seperti Gaara sepupunya. Tidak miripkah? Padahal ia suka potongannya. Yah, setidaknya sebelum rambutnya digunduli untuk operasi.

Sakura tersentak melihat reaksi senpainya itu, oh ia tak tahu Sasori akan se-sensitif ini, ngambek? Kecewa? Apapun itu, Sakura tak ada niatan untuk itu, sumpah. Hanya saja, Sasori yang dihadapannya begitu berbeda dari yang ia temui beberapa hari lalu, di kantin.

Matanya, wajahnya, kulitnya, rambutnya, oh bahkan lengannya makin kurus. Oh ayolah baru terhitung 1 minggu!

"B-bukan begi-gitu, senpai," Sakura berusaha mengendalikan detak jantungnya, bagaimanapun ia berbicara dengan Sasori, Sasori Senpai! "Itu… keren, sungguh—," sangat tampan jika wajahmu itu tidak sepucat itu, sumpah "—,cu-Cuma… kau kelihatan… beda."

"Seram, ya?"

Sakura menelan ludah, "karena kau sakit, iya." Melihat Sasori tak berhenti menatapnya membuatnya salah tingkah, "t-tapi aslinya… tampan—uuh~" wajahnya memerah. Ini jujur! Lupakan semua usahanya untuk menghindar, ia tersiksa tiap malam. Galau cinta monyet adalah salah satu penyakit, kau tahu.

Sasori tertegun.

Deidara melirik hati-hati.

Dan Sakura tegang bukan main.

Sasori akhirnya tersenyum. Kecil, sekuat tenaga, dan tulus. "Aku senang bertemu denganmu, Sakura. Maaf atas perlakuanku… yang buruk."

Sakura masih mendengarkan, namun sepertinya senpainya sudah menyelesaikan kalimatnya. Baru saja ia membuka mulut, pekikan tak terima terdengar.

"Hanya itu?! Danna kau gila! Aku menghabiskan malam di luar rumah demi menyeretnya! Kau tahu? Kolong langit!" hardiknya tak terima.

Sasori melirik orang berisik itu. "Bukan kolong jembatan."

"Kau—."

"Dan jika aku mati, kau akan menelan semua perlakuan burukmu itu, Dei." Telak. Deidara ingin menangis sekarang. Kurang apa? Masih saja. Dia kan hanya emosi, bukan berniat jahat. DAN APA MAKSUDNYA KATA MATI?

Tok tok

Pintu itu terbuka, menampakan sensei disertai para perawat. Dengan lirikan Sakura melihat jam di dinding, 08.05 pagi. Apakah ini—.

"Selamat pagi, tuan Akasuna."

Sasori mengangguk.

"Wah, pagi ini banyak penyemangat, ya?" salah satu perawat berbasa-basi, Sasori tetap diam. Ekor matanya mengawasi tingkah gadis bersurai merah muda itu.

"Sensei." Semuanya menatapnya, Sasori berusaha memanggi dengan lantang.

"Ya?" sang dokter tetap ramah.

"Kau mau membawaku?"

"Tentu saja, tuan Akasuna. Sudah tiba—."

"Boleh kucuri 5 menitmu?"


*** Stacie_Nakushite Shimatta ***


"Senpai…"

"Ya."

"Ini, benar tidak apa-apa?"

"ya, ada yang mau kusampaikan." Iris Hazel itu berusaha fokus akan objek dihadapannya. Sosok gadis muda yang enerjik dan cantik, namun sayang hidungnya memerah. "Wajahmu mirip dengan rambutmu, warnanya."

"B-bodoh."

"Kenapa menangis?" ini membuatnya tak nyaman.

"T-tentu saja… khawatir bodoh!"

"Begitu."

"Ka-katakan sekarang, kenapa kau memanggilku, senpai?" Sakura menatap meminta kepastian.

"Aku ingin melihatmu."

"..Hah?"

"Kau tidak?"

"Apa?"

"Kangen."

"…" WHAT THE…

"Lupakan. Maaf bertingkah jahat. Setidaknya aku sudah tenang sekarang."

"Bohong."

"Ap—."

"Bohong!" Sakura menarik nafas dalam, berusaha menahan air matanya. "Kau gila! Apa-apaan, dengan sifatmu yang begitu, lalu tiba-tiba menyuruh orang menjemputku dan berkata begitu. Kau tak mengerti! Kau menghancurkan hati—."

"Gadis polos nan bodoh."

Stuck. Sakit. Dia itu Akasuna Sasori. Orang yang disukainya. Bisa-bisanya—,

"Gadis sialan, malah membuatku jatuh cinta. Dasar anak nakal."

,—menghinanya. Benar, kan? Itu hinaan atau apa? Sakura tak cukup cerdas untuk menangkap kemana arah pembicaraan ini.

"Kau itu bodoh, rambutmu aneh, dan tingkahmu tidak cantik."

"Ap—."

"Apa yang harus kulakukan untuk mengenyahkan dirimu? Itu menganggu, aku jadi sulit tidur."

"Kau—."

"Jadi enyah saja. Mulai detik ini."

Air mata yang terbendung akhirnya jatuh. Tidak, Sakura pikir ucapan kurang ajar senpai-nya itu akan manis diakhir. Namun… ia benar-benar kesal sekarang. Dan sakit hati. Dengan cepat Sakura berjalan cepat dan menyentak kerah piyama rumah sakit itu dan menatap marah, meski bulir air matanya tetap menetes.

Membasahi wajah pucat Sasori.

"Ah, kau wanita kasar—."

"HENTIKAN! Hentikan sebelum aku menamparmu!"

"Silahkan."

Sakura menggeram, "Kau, senpaiku atauu bukan, searang hanyalah seonggok tubuh yang tak berdaya—," sakit mengatakannya." —, begitu menyedihkan. Aku tak suka melawan yang lemah. Hadapi aku jika kau sudah sehat bakaaaa."

Sakura meninju bantal disisi Sasori. Bahkan laki-laki itu sampai tercengang atas tindakan Sakura.

"Kau, Akasuna Sasori. Tak akan kuampuni. Yang baru saja kau hina adalah Haruno Sakura, tangan kanan Pembina karate! KUPERINTAHKAN UNTUK SEHAT DAN BIARKAN AKU MENGHAJARMU WAJAHMU!" ia berteriak tepat diwajah pemuda lemah itu.

Tentu saja teriakan itu membuat dokter yang menunggu diluar masuk dan terbelalak kaget. Dengan cepat para perawat datang dan menjauhkan Sakura yang jelas terlihat frustasi. Sasori terpana atas kejadian tadi. Sungguh di luar dugaan. Ia terkekeh pelan.

Seiring ia dipindahkan ke meja dorong, ia tak berhenti dengan kekehannya. Dokter menatapnya iba dan melempar pandangan mengancam pada gadis itu. Deidara tentu saja shock bukan main.

"Gadis gila." Lirihnya tak percaya. "Oy danna tak apa?"

Sasori berhenti tertawa dan terhenyak sesaat, lalu melirik gadis yang dipegangi oleh dua suster itu. "Kau berbeda. Manis sekali, itu menghiburku."

Dan semuanya terperangah.

"S-senpai—."

"Tapi hentikan usahamu itu." Meja itu akhirnya di dorong keluar ruangan. Ia melanjutkannya ketika melewati gadis itu dengan nada tenang yang begitu lirih. "Penantianmu bisa jadi sia-sia. Jangan terlalu berharap, dunia itu kejam. Dan tak ada yang namanya keajaiban."

"Danna—."

"Arigatou na, Dei. Kau membuatku senang akhir-akhir ini."

Sakura terdiam, menatap tak percaya hingga para perawat melepaskannya. Deidara mendecih, dan matanya memanas. Namun, ia melirik sosok gadis disampingnya yang kembali tersadar. Dengan cepat Deidara menggenggam pergelangan tangan sang gadis, "Sudah cukup. Hentikan."

"Tidak. Kumohon lepaskan aku senpai." Sakura menarik pergelangan tangannya dengan kencang.

"Kau gila! Berhenti menganggunya!" oh Deidara benar-benar memohon agar semua ini berakhir. Rasanya syarafnya terlalu tegang. Teman sejawatnya kini dioperasi, operasi besar! Tumor otak kau tahu! Berhenti bersifat kekanakan karena—," Deidara menarik nafas, matanya basah. Emosinya terlalu campur aduk. "—, UNTUK HIDUP SAJA KECIL! Kumohon berhenti membuat Sasori berharap tinggi, dia sudah terpuruk. Aku tak ingin hatinya sakit lagi mengetahui kemungkinan terburu—."

PLAK!

Sakura menarik pergelangan tanggannya kasar, "Kau bukanlah pria, senpai. Siapa yang kira umurmu atau bahkan aku akan panjang—oh bahkan bisa saja besok lusa kita mati! —dan kau disini berpangku tangan? GILA. Hidup adalah hadiah yang diberikan tuhan. Dan berharap adalah teman dari doa. Kalian yang berkata bahwa keajaiban itu tak ada, hanyalah orang egois yang tak pernah bersyukur!"

Dan setelah itu Sakura berlari meninggalkannya sendiri.

Deidara mematung, pipinya panas, kepalanya seperti dibakar, namun yang lebih parah hatinya mengernyit. Tidak bersyukur, eh?


*** Stacie_Nakushite Shimatta ***


Sakura terus berlari kencang, berusaha mengejar tempat tidur dorong itu, menabrak bahu beberapa orang yang dijumpainya. Ia melihatnya, dan dipercepat larinya itu. Nekat, kalau ketahuan satpam ia pasti sudah ditendang.

Akhirnya ia sampai di depan ruang operasi lebih dulu daripada para dokter dan koleganya, mereka mengernyit dan berusaha untuk menahan Sakura.

"Dengar senpai, jika kau tak percaya keajaiban, maka kau adalah manusia yang sombong dan egois." Sakura menatap sosok itu gemas, "percaya pada dirimu sendiri, ingat semua doa keluargamu, dan pasrahkan pada tuhan!"

Sasori terdiam sesaat, mata gadis itu membara. Sangat membara, membuatya tertegun.

Dia, Haruno Sakura. Orang asing—adik kelasnya. Baru-baru ini saling suka satu sama lain dan hampir tak pernah menghabiskan waktu bersama, mendukungnya sepenuh hati.

Namun keajaiban—.

"Percayalah pada keajaiban senpai, itu bukan bualan semata!"

Dan pintu itu tertutup sempurna.


*** Stacie_Nakushite Shimatta ***


Tampak sesosok pria bersurai coklat berantakan disamping seorang wanita tua duduk menunggu dengan sabar.

Sakura berjalan gontai dan duduk dibangku yang masih kosong. Wajahnya benar-benar kalut sedangkan pria bersurai pirang menatap pintu operasi itu dengan nanar. Deidara menunduk, poninya menutupi wajahnya. Tak terlihat ekspresi apa yang dikeluarkannnya. "Baka."

Sang wanita tua menatap Deidara di tengah lorong bangkit dan berjalan perlahan kepadanya, "Deidara, Didalam cucuku yang gagah tengah berjuang, duduklah yang tenang," sang nenek merangkul sayang dan mendudukannya dikursi. "Kau berdoa dan tenanglah. Sasori anak yang kuat, kau tahu."

Deidara mengheka nafas dengan berat dan menangguk dalam.

Sakura tak bisa diam. Tubuhnya gemetar memikirkan keadaan ini, Tumor otak. Kembali jantung Sakura berdetak keras. Kepalanya begitu pusing ketika memikirkannya. Apa yang akan terjadi? Tentu saja ia selalu berdoa di sepanjang perjalanannya kemari.

Tangannya telah terlipat, Nampak berdoa. Ia takut… begitu takut. Jantunghnya masih berdetak kencang. Untuk Sakura, dadanya nyeri kala mengetahui keadaan sesungguhnya seorang senpai bersurai merah yang ia benci itu. Penyesalan selalu datang terlambat.

Kembali ia ingat kejadian pagi tadi.

Entah rasanya kasur itu terasa begitu nyaman untuk Haruno Sakura. Namun ternyata tak bertahan lama, sosok kuning dengan rambut panjang yag tak diikat menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan cepat. Alhasil ia tak dapat tidur lagi. Ia meruntuki sahabatnya satu itu. Ayolah ini masih ssubuh.

"BANGUN JIDAT! ASUNA-SAN MENELPONKU, KATANYA KAU DICARI DEIDARA DAN INI PENTING!"

Sakura melengguh mendengar teriakan nyaring yang taka da duanya. Dan ketika ia membuka mata, Ino sudah menatapku dengan sangat serius sehingga gadis pinky itu hanya menurut ketika disuruhnya pulang.

Kejam, bahkan matahari belum terbit!

Sakura tak tahu betapa pentingnya ini, Ino bungkam dan terlihat panik. Ia bahkan membangunkan supir pribadinya untuk mengantar temannya pulang. Tapi tetap saja Sakura masih mengantuk, jadi diputuskannya untuk menurut saja.

Dijalan pulang Sakura memikirkan apa yang akan dihadapi. Bahkan ada senior yang datang subuh-subuh begini. Kira-kira apa yang terjadi? Dan sejauh dia berpikir, ujung-ujungnya teringat pada satu orang. Sakura menghela nafas.

Sasori. Akasuna Sasori. Sasori senpai.

Senpai tampan berbulu mata lentik dan iris hazel menakjubkan. Kalau di pikir-pikir Sakura mulai menyukai senpai-nya satu itu ketika melihat matanya. Ya, mata indahnya. Berlanjut ke wajahnya yang baby face, menunjukan sikapnya yang lembut—Sakura mendengus, begitu pikir gadis itu dulu. Ternyata orang yang di taksirnya malah dingin begitu.

Kembali gadis itu merenung. Apa yang salah dengan senpai-nya satu itu. Rambut merah darahnya begitu keren karena nampak berantakan, wajah tampannya, lalu tubuh tingginya yang menawan hati. Stop, mengingatnya saja membuat jantung gadis itu berdebar kencang.

Tapi satu yang di sayangkan, pemuda itu sangat aneh. Ada saja orang yang sebelumnya baik, tiba-tiba mengabaikan—bahkan berubah dingin kepada-ku. Padahal aku gak berbuat yang aneh-aneh. Bahkan aku bukan fangirl-nya seperti siswi lain. Apa yang salah coba dari perilaku-ku?

Namun, makin lama pandangan gadis itu makin sayu. Ya, Ia sadar kalau tak bisa mundur lagi. Ia suka. Sangat suka senpai-nya satu itu.Begitu tergila-gila. Dan kenyataan itu membuat hatinya sakit. Ia harus melupakannya. Tak boleh suka, sangat suka, atau cinta—atau apapun itu.

Ia terlonjak ketika turun dari mobil Ino, orang yang awalnya dikira hantu langsung menyerbu dirinya dan menyeret dirinya seenak jidat. Tentu saja siapa lagi yang punya rambut pirang panjang selain Ino?

Diam-diam ia mendengus, Ino temannya mirip dengan Deidara teman Sasori. Sebut saja ini kebetulan. Yang lebih penting, untuk apa kemari pagi-pagi buta? Bahkan mentari belum benar-benar terbit.

Sakura menolak seretan senpai-nya. "Apa-apaan ini, senpai?"

"SASORI MENUNGGUMU. AKU HABIS KESABARAN!" dan dengan tarikan kuda Deidara menyeretnya masuk kedalam mobilnya dan menutup kencang pintu itu, emosi.

Mata gadis itu membola mendapati Deidara berucap. "Apa… saya tidak salah dengar?"

Mengabaikan teriakan sang supir yang berteriak memanggil, oh tentu saja barang bawaannya belum ia keluarkan dari mobil itu.

Ia menatap jengkel, dan menjawab dengan tak sabar. "CEPATLAH. MENUNGGUMU MEMBUATKU GILA. AKU TAK SUKA MENUNGGU, DAN DANNA SANGAT MEMBENCINYA, NAMUN KAU MEMBUATKU TIDUR DI JALANAN MENUNGGU KEHADIRANMU NONA GILA."

Ini membuatnya pening. Bukankah kemarin Sasori masih marah dengannya? Ia kembali membuka pintu mobil itu,

"Kenapa ia mau bertemu denganku? Maaf senpai," ia menarik nafas dan berusaha tenang. "Aku tak ingin menemuinya. Kau pikir siapa dia untukku? Dan siapa aku untuknya? Aku tak ingin melihat wajahnya lagi." Mata gadis itu mendatar. Walau hatinya tidak terima, ia harus mengambil langkah sebelum jatuh lebih sakit lagi.

Deidara mematung. Oleh karena itu, Sakura berniat keluar dari mobilnya sampai Deidara memekik frustasi.

"Sasori sakit!" Deidara berteriak frustasi. "Tumor. Dia kena tumor otak!" Deidara membanting pintu mobilnya dan memacu dengan kecepatan yang dapat mengalahkan kereta dengan 50 tenaga kuda.

Dan detik itu Sakurs rasa tubuhnya membeku.


*** Stacie_Nakushite Shimatta ***


Tidak, ia tidak tahu bahwa cinta monyet seperti ini begitu menakutkan.

Bukankah cita monyet itu hal wajar? Yang gampang di lupakan? Yang efeknya tidak begitu parah? Setidaknya itu yang di ketahui Haruno Sakura.

Namun sekarang ia hanya membisu, dadanya begitu nyeri, dan matanya panas. Setidaknya ia berharap mendapatkan cinta monyet yang menyenangkan. Yang berakhir baik pula, yang dapat di kenang kala ia tua. Bukan yang seperti ini.

Tumor otak. Ayolah, lelucon macam apa. Ini bukanlah drama korea kesukaan ibunya. Ini nyata, seorang senpai—yang ia sangat sangat sukai—terkena penyakit seperti itu. Oh tuhan, Sakura begitu pusing hingga rasanya ingin pingsan.

Gadis itu terlonjak mendapati tepukan di bahu kirinya. Dan ketika itu, matanya terbelalak melihat senpai berambut biru di sisinya. Yang kelihatan begitu cantik di mata Sakura, Konan.

Senpai-nya tengah menatapnya sendu. Sakura yakini bahwa gadis itu telah menangis. Kelopak matanya nampak bengkak. Hidungnya memerah. Namun matanya berusaha menunjukan ketegaran. Sadarlah dirinya bahwa banyak yang menginginkan Sasori untuk tetap hidup.


*** Stacie_Nakushite Shimatta ***


"Aku suka Sasori sejak SMP." Gadis berambut biru itu menatap lukisan abstrak hi hadapannya.

Itu membuat Sakura terdiam. Dadanya sakit, iri. Tentu saja iri. Namun, apa arti dirinya? Jika di bandingkan ia belum ada apa-apanya. "Souka." Ujarnya hati-hati.

"Hm."

Hening terlalu itu Sakura berujar pelan, "bagaimana dengan Sasori-senpai?" dalam hati berupaya tenang. Dalam kepalanya, muncul bayangan wajah Sasori.

"Ia sadar. Dan ia orang baik."

Tercekat. Rasanya tenggorokan Sakura tercekat. Ia tau ke mana arah pembicaraan ini.

Konan melirik gadis di sampingnya. Rambutnya panjang sepunggung, dengan mata memikat, dan tubuh proporsional. Cantik. Itulah yang di pikiran Konan. Namun, wajah Haruno Sakura nampak tertekan, matanya sayu. Konan tahu kenapa.

"Sou, ini mungkin tidak sopan. Tapi, senpai masih jadian sama Sasori-senpai, kan?" Sakura berusaha membuka lembar pertanyan baru. Rasanya benar-benar cemburu.

Tapi gadis itu terkejut ketika mendengar tawa lirih senpai di sampingnya. "kami tidak pernah pacaran," Konan menatap Sakura yang kaget dan melanjutkan, "aku jadi sangsi menyebutnya baik. Habis, dia menolakku, padahal aku belum bilang apa-apa."

"eeh?" tentu saja Sakura bingung.

"Saat kelas 3 SMP, aku bosan menunggu responnya. Dia begitu baik, tapi tak pernah bilang apa-apa." Konan menatap lukisan lain dan merenung, "akhirnya aku menemuinya di gimnasium ketika pulang sekolah. Tentu saja niat menyatakan perasaan."

Tentu saja Sakura paham dengan jalan yang diambil senpai-nya satu itu. Toh ia juga merasa, jika senpai-nya benar-benar memikat. Bahkan, Sakura menunjukan perasaan sukanyadan rasa terima kasih dengan Bento saat itu. Mungkin kalau dia jadi Konan, Sakura yakin akan melakukan hal yang sama.

"Entah mengapa Sasori bisa paham apa yang akan aku lakukan." Konan tertawa. "kau tahu apa yang ia katakan?"

Sakura menggeleng.

"'Konan temanku yang baik, Ku pikir aku akan mendapatkan gadis yang ku suka saat SMA. Sekarang aku terlalu kekanakan untuk bicara soal cinta. Kau kan pengertian, jadi aku bilang begini padamu.'" Konan tersenyum hingga terdapat rona merah di pipinya. "tak bisa ku lupakan wajahnya yang memerah ketika bilang begitu. Dia kesulitan memilih kata, kau tahu."

Sakura terdiam. Bahkan ketika mendengar kekehan senpai di sampingnya ia masih terheran-heran. "Sasori-senpai… ku pikir dia orang yang dingin—atau mungkin datar."

Konan terdiam dan menatap Sakura. Ia tampak berpikir sesaat, "Sasori itu tak banyak bicara. Tapi bukan berarti dia seperti itu, dear." Ia tersenyum, "Ia adalah orang yang hangat."

Dan saat itu pula Haruno Sakura ingin pulang, mengunci pintu kamar da menangis. Betapa irinya ia terhadap senpai di sampingnya itu. Ayolah, Konan terlihat sempurna di mata Sakura, tapi masih dapat di tolak oleh Sasori. Bagaimana dirinya?

"Tapi baru saja ia menghinaku. Ia cerewet, dan kalimatnya menjelek-jelekkan aku." Aku menunduk, "Rasanya sakit."

Konan nampak kaget, "Benarkah? Yang ku tahu ia mengaggumimu."

"Dia mengatakan perasaannya dengan kalimat yang kejam. Dia bahkan memintaku untuk enyah dihadapannya." Sakura menarik nafas, "Ku pikir ia serius memintaku untuk enyah."

"Dia tak mau melihat orang lain iba. Sasori tak suka dikasihani, itu saja." Melihat Sakura yang nampak terpojokan membuat senyum di bibir Konan lenyap. "Aku iri padamu, nona." Dan Sakura terkejut mendengar kalimat itu dari bibir Konan.

"Eh?"

Konan menghela nafas, "Sasori memperhatikanmu sejak kau masuk SMA Kouho gakuen. Saat itu aku sadar kalau Sasori tertarik padamu. Aku sampai berpikiran untuk memanjangkan rambutku, loh."

"Eh? Majide?" tentu saja Sakura tidak sadar. Malah nyaris tak percaya. "Berarti perkataannya tidak asal? Y-yang dia bilang… cinta itu?"

Konan tersenyum pahit, "Jadi dia benar-benar mengatakannya, ya." Ia terdiam dan menanggguk mengangguk. "Dia jujur. Tapi, Deidara bilang kalau kondisi fisik Saso-kun makin lama menurun. Kerena itu ia sedikit demi sedikit menarik dirinya. Karena itu Ia lebih sering sendirian. Makin kulihat penolakannya padaku, aku pun paham. Ada seseorang yang mengisi hatinya sekarang."

Sakura tercekat. Jantungnya berdebar kencang. Bolehkah ia berharap?

"Ya. Dia menyukai kohai-nya. Haruno Sakura." Konan berbalik dan berjalan lebih dahulu. "Aku butuh ke toilet sekarang."

Saat itu, setetes air mata menuruni pipi Sakura.

Cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Namun dengan keadan seperti ini? Memikirkan perkataan Konan tadi. Ia tak tahu, apa harusnya senang, atau takut. Ya, takut. Ketika cintamu terbalas, orang itu sedang sekarat, berjuang melawan kematian.


*** Stacie_Nakushite Shimatta ***


Penantian panjang itu membuat Sakura mekin terdiam.

Detak jantungnya makin liar. Ah, hari ini ia terus di kagetkan oleh banyak hal. Membuatnya berdebar tak karuan. Dan segalanya berhubungan dengan 1 nama, Akasuna Sasori. Ia tak tahu—tak peduli sudah duduk mematung berapa ia terus saja melamun.

Ketika jam menunjukan pukul 1 siang ia dan yang lainnya bergilir menuju kantin rumah sakit. Bukan berarti Sakura lapar, hanya aja Deidara terus menariknya supaya dapat makan siang. Gadis itu tahu Deidara saat ini tengah tersiksa, mengingat sejak tadi pemuda itu hanya mondar-mandir tak jelas.

Berbeda dengan nenek Chiyo. Ia duduk dengan tenang dan berdoa. Terkadang ia di temani dengan pertunjukan boneka kecil-kecilan oleh Kankurou. Sedangkan teman-teman Sasori, di sana bertahan Konan, Pein, Deidara dan Tobi. Masih setia di sana menunggu.

Tiga jam kemudian lampu ruang operasi itu mati dan terbuka pintunya. Ekspresi lelah sang Isha menyambut berbagai ekspresi para keluarga.

Sakura tersedak mendengar ucapan Isha saat itu, dan merasa melayang. Detik berikutnya ia terduduk di lantai dan meletakan kepalan tangannya di depan dada.

Dan detik itu juga Sakura berujar lirih, "tuhan…." Dengan air mata menuruni pipinya.


*** Stacie_Nakushite Shimatta ***


Semuanya menunggu. Terdiam dengan tegang. Beberapa detik sekali melirik ruang yang di sekat dengan kaca dengan pandangan tegang. Di dalam ruang bersekat itu terdapat tempat tidur dengan alat-alat kesehatan lainnya.

Tepat di atas ranjang itu terdapat seonggok tubuh tak berdaya dengan selang-selang dan alat-alat lainnya yang menempel di sekujur tubuh dan kepalanya. Dengan alat pendeteksi di sisi ranjang, mereka semua tahu bahwa detak pemuda itu begitu pelan dan teratur.

Entah mereka harus takut atau senang.

Yang jelas, sekarang ini mereka telah tenang. Mendapati pernyataan Isha bahwa pemuda itu selamat membuat jantung mereka nyaris copot. Yang jelas mereka begitu lega.

Begitu pula dengan gadis bergiok Emerald-nya. Sejak tadi matanya menumpahkan air mata kebahagiaan. Melihat pemuda itu lolos dari maut saja membuatnya lega luar biasa. Walau hanya melihat tubuhnya yang tergeletak, setidaknya ia sadar bahwa orang yang di cemasinya masih bernafas sekarang.

"Aku tak tahu Sasori punya penyakit seperti itu." Ujar Pein pelan. Iris pucatnya menatap datar temannya satu itu.

"Cucuku tak pernah bilang apapun sampai aku menyadari hal yang tak beres." Nenek Chiyo merenung, di sisinya Kankurou tengah mengelus bahunya berusaha menenangkan.

Tatapan Sakura beralih pada Nenek Chiyo, lalu pada Deidara. Di luar dugaan, Sakura pikir Deidara akan mengangguk atau menyetujui yang lainnya. Namun, reaksi Deidara adalah tegang, Aquamarine-nya di alihkan ke jam yang ada di ruang tersebut.

"Aku tahu ia sakit," Konan berujar pelan. "Tapi, tak tahu kalau penyakitnya mengerikan seperti ini." Ia menatap sendu tubuh yang tergeletak itu.

"Apa kau tahu sesuatu, Dei? Kau kan dekat dengannya." Tanya Tobi, tak menaydari keanehan dari Deidara.

Deidara menghela nafas. Tak ada artinya ia terus-terusan menghindar. "Ya, aku sudah tahu."

Sore telah tiba. Teman-teman Sasori telah pulang, minus Deidara. Ya, sejak pintu operasi terbuka Sasori belum membuka matanya. Itu hal wajar kata Isha. Karena itu ia memandangi tubuh itu dari dinding kaca. Tiba-tiba saja kenangan hampir setahun yang lalu terputar kembali memenuhi ingatan Deidara.

"Danna, apa itu yang benar-benar kau inginkan? Un" Deidara menatap serius temannya itu.

"Hm?"

"Menjauhi gadis kepala pink itu un."

"Ya."

"Hmm, Kukira kau menyukainya."

Sasori yang tengah mengambil ancang-ancang untuk men-shooting bola terhenti sebentar lalu men-shootnya. Gagal. Sasori memandangi bola yang tengah memantul perlahan seraya merenung.

"Aku sudah memikirkannya," ia mengambil bola yang terdiam ditengah lapangan lalu mem-passingnya ke Deidara. "Aku tidak butuh wanita," dipalingkan wajahnya memandang langit-langit gimnasium, kembali merenung.

Rasanya ingin sekali lelaki berambut panjang itu melemparkan bola kekepala Dannanya jika saja ia tidak mengenal sifat Sasori, tapi sayangnya ia memahami Sasori. "Kenapa kau hanya pasrah un. Itu lemah dan bodoh, un. Jika aku jadi kau, aku pasti lebih pintar darimu! Aku akan mencari solusi!"

Diluar dugaan, Sasori tersenyum, sangat jarang sekali ia menarik sudut bibirnya itu keatas. "Deidara, kau tahu kenapa aku lebih memilih kau daripada yang lain?"

Lelaki ber iris Aquamarine itu hanya memandang sinis sambil mengangkat sebelah alisnya.

"Karena kau menyenangkan."

"… Apa maksudmu?"

Sasori hanya mengendikan bahu seraya memandangi bola ditangan temannya itu.

"Sasori no Baka! Kau memang tidak jelas. Tapi aku mau Tanya, Kenapa kau hanya pasrah dan tidak berusaha berobat? Un" Deidara mendengus, tetapi tatapannya kembali serius.

Sesaat Sasori tergelak, membuat Deidara membelalakan mata, lalu mengernyit curiga, ada apa dengannya hari ini?

"Ya, aku bodoh," ia kembali tergelak. "kenapa aku pasrah? Karena walaupun aku berobat, jika takdirku berkata lain, aku tetap akan mengikuti garis takdir. Itu hanya membuang-buang waktu dan uang."

Sesaat lelaki ber surai panjang itu terperangah mendengar pernyataan yang terlontar dari mulut temannya itu. "… Jadi kau mau bilang itu tidak berguna? Un" ia memandang danna-nya dengan tatapan horor.

Sasori hanya mengangkat bahu dan nyengir, seolah mengatakan itu benar.

"Kau gila ya, haah pemikiranmu itu sungguh rumit." ia terus-terusan mencibir. Baru pertama kali ia menemukan orang yang mengatakan berobat itu tidak berguna. "Lalu.. Kenapa kau bertindak begitu pada si Haruno? Un"

Sasori terdiam sebentar, namanya Haruno?, "Untuk apa aku berbuat baik padanya. Aku bisa mati kapan saja, orang sering bilang, jika sudah jatuh cinta akan sulit melepaskan. Aku hanya tak ingin meninggalkan luka." sesaat pemuda ber iris Hazel itu berhenti dan merenung, "bahaya jika aku dekat dengannya." Sasori nyengir.

Lagi-lagi Deidara dibuat bungkam olehnya, pemikiranmu itu, panggilan Sasori no Danna cukup pantas juga, "hmm, jadi kau menyimpan rasa padanya?"

Kembali Sasori tersenyum, meski tersenyum miris. "Sejak ia masuk sekolah ini. Jadi namanya Haruno ya."

"Benarkah? Coba ceritakan padaku! un. Ya, Haruno Sakura."

Nama yang cantik, "tidak. Aku lelah berbicara banyak."

Deidara hanya menyeringai sinis, tapi sekejap air mukanya berubah "tumben kau bicara banyak un," Deidara mengernyitkan dahinya.

"Nikmati dan dengar saja. Waktu tak akan terulang." Sasori kembali tersenyum samar merasakan beban di dadanya menguap.


3 Bulan kemudian, kabar mengejutkan datang dari rumah sakit. Akasuna Sasori akhirnya membuka mata. Ia sadar dari komanya. Tentu saja semua begitu kaget dan senang bukan main, mereka langsung berkumpul di ruang inap si surai merah.

Namun, sebelum mereka sempat masuk, ada dokter yang 3 bulan lalu melakukan operasi besar itu. Wajahnya sedikit masam membuat mereka tak nyaman.

"Satu hal yang ingin kuberi tahu. Kami baru saja dapat hasilnya 3 jam lalu. Tumor itu berhasil diangkat. Hanya saja—."

"Hanya saja?" Sakura memotong dengan cepat.

"Maaf, kami hanya bisa menyelamatkan nyawanya, dan itu keajaiban. Hanya saja, ingatannya tak bisa."

"M-maksudnya, sensei?" Konan menatap sosok itu dengan wajah pucat.

"kami tak bisa mempertahankan memori ingatannya. Semuanya hilang." Sensei melangkah pergi, dan mereka diliputi suasana yang beitu mengejutkan.

Dengan cepat Deidara menerobos kasar ruangan itu. Nampak sosok Sasori tengah menatap boneka kayu orang tuanya dengan heran. Kepala merah itu lalu beralih menatap orang-orang yang berkumpul menghadang pintu masuk kamarnya.

Sakura mematung dan air matanya turun dengan cepat, mulutnya ternganga. Saat itu Sasori menatapnya dengan rasa heran, iris hazel yang familiar itu menatapnya lagi—setelah penantian panjang. Begitu heran dan penuh perhatian sampai pekikan nyaring Deidara mengusiknya.

"OY DANNA, YA TUHAN KEAJAIBAN!" Deidara memekik nyaring, dan berlari untuk memeluknya.

Kerutan di dahinya makin dalam, maka sosok itu mengangkat tangannya, "Maaf, tapi nona siapa?"

Dan itu cukup untuk menghentikan tingkah bodoh Deidara. Semua membeku ditempat.

Dan iris Hazel itu kembali menatap dalam ke Emerald Sakura begitu dalam. Dahinya mengernyit, "Kalian siapa?"

Sakura nyaris pingsan. Oh tuhan, setelah cobaan panjang ini, ia harus mengulang semuanya dari awal. DARI AWAL. Semuanya lenyap tak tersisa. Betapa menyedihkannya ini. Namun Konan memegang bahu gadis itu dan tersenyum lembut,

"Ini adalah keajaiban. Tuhan memberi kita hadiah. Jika kita diizinkan untuk mengulang semuanya, tulislah lembar baru kehidupannya dengan momen indah. Kupikir ini awal yang bagus untukmu, Haruno Sakura."

Dan pipi gadis itu memerah sempurna, diam-diam ia melirik pemuda itu. Rambutnya telah menutupi keningnya, semua kembali kecuali memang tubuhnya masih tetap kurus. Dan siapa sangka, iris Hazel itu juga tengah menatapnya dalam diam.

Nakushite SHimatta; mungkin semuanya telah hilang. Namun, bila ternyata kita diberi kesempatan untuk mengganti, kenapa tak di coba?

Dan Haruno Sakura berharap cinta monyetnya berakhir bahagia, terserah mau di bilang mirip drama korea apalah itu. Ia bahagia untuk sekarang. Dengan ringan, senyumnya merekah dan memberi salam pada sosok yang begitu dirindukannya.

OWARI

Yeah! Finally I was finished my first anime Fanfiction. SUMPAH EMOSIONAL BANGET, AKHIRNYA SELESAI,

Dan jujur ini di rombak banyak banged, BANGAD *gak nyante*

Jujur aja, takut liburan selesai malah di pending lagi, jadi saya rombak bener-bener dari jam 9 pagi-8 malem.

Ini ide cerita udah muncul 3 tahun yang lalu. Tapi berubah alur, jelas death chara, Cuma karena zocshan bilang jgn death-chara jadi saya pertimbangin ulang.

REVIEW?

01 Januari 2015

Regard,

Stacie Kaniko