Disclaimer: Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro-sensei
Warning:
AU banget! OOC kayaknya. Gaje banget! Humor? Gak terlalu bisa, tapi diusahakan! XD
Her Crazy Story
Chapter 1
-oOo-
"Kak Kura, Kak Killua sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Kak Kura?"
"Iya, Alluka. Aku segera turun. Terima kasih atas perhatianmu."
"Baik! Aku dan Kak Killua menunggumu diruang makan dibawah tangga, ya?"
"Baik."
Kurapika, ia sedang memikirkan tentang.. Bagaimana ia bisa tersesat selama 15 hari dihutan. Dan bertemu Killua, akhirnya ia tinggal dirumahnya, walaupun untuk sementara.
Akhirnya, ia turun kebawah. Tepatnya dibawah tangga untuk makan bersama Killua dan Alluka. Mereka sudah menunggu sedari tadi.
"Itu kak Kura.." Alluka bangun dari duduknya dan menyeret Kurapika kedekatnya. "Kak Kura duduk disebelah aku aja."
"I-iya."
Mereka memulai makan dengan keadaan canggung. Sangat canggung sampai Killua berdiri.
"Aku sudah kenyang."
"Kak Killua, mau kemana? Kakak belum menghabiskannya. Bahkan kakak belum makan setengah dari piring kakak."
"Sudahlah, Alluka. Tak usah khawatir."
"Tapi ka-"
"Alluka, tolong hargai kakakmu, oke?"
"Baik kak Kura."
-Skip-
"Halo?"
[Halo? Siapa ini?]
"Kurapika. Ini siapa?"
[Kuroro.]
"Ku-kuroro!?"
[Ada apa, Kurapika? Kau se-]
"A-apa yang kau inginkan dariku?"
[Apa yang ku inginkan? Aku baru ingin bertanya itu padamu. Apa yang kau inginkan dariku? Mengapa kau menelfonku?]
"Me-menelfonmu!? A-aku tidak menelfonmu, Bodoh!"
[Baiklah. Terserah kau saja. Aku tutup telfonnya.]
Tuut..
Dikamar barunya, Kurapika hanya bisa memikirkan apa yang tadi ia lakukan. Hah? Menelfon Kuroro!? Aku tak merasa menelfonnya. Ketika ia melihat nomor yang tertera di handphone-nya, barulah ia mengutuki dirinya sendiri.
"Kak Kura? Ada telfon dari kak Neon."
Neon? Tak biasanya dia menelfon.. Ki.. Ha?!
"Baik! Aku segera turun!"
-oOo-
"Leorio, kira-kira, Kurapika benar tinggal dirumahnya Killua tidak, ya?"
"Coba saja kau ikuti feeling mu. Pasti ketemu, jawabannya."
"Hm.. Baik, aku akan tanya feelingku."
Beberapa saat kemudian, ketika Gon sadar dari konsentrasinya, *gakbiasanya-_-* ia melihat sosok yang sangat ia kenali. "Kurapika?"
"Bagus! Kau sudah tau dia tinggal dimana? Kenapa kau memanggil namanya? Dia tidak disini, Gon."
"Kurapika?"
Leorio memutar kedua bola matanya "oh, ayolah. Kurapika tidak disini, bersama kita atau didepan kita."
"KURAPIKA!" Gon berlari kearah Kurapika berlari tadi.
"Kura- huah!? Kurapika! Gon, tunggu aku!"
-oOo-
"Mitsuketa!"
"Oh, ayolah.. Kau tidak asik, Kurapika."
"Hehe.. Peraturan tetaplah peraturan, Killua. Belikan aku coklat chocococorobun? Choco co roro bun? Choco-"
"Chocorobun?"
"Iya, apalah itu! Cepat! Atau.. Aku akan melaporkanmu pada wasit Alluka?"
"E-e.. Tunggu! Baiklah, akan kubelikan kau coklat!"
Lalu, Kurapika merasa punggungnya seperti dipeluk dari belakang. Refleks? Dia menoleh kebelakang dan melihatnya. Lalu ia berteriak. "GON!"
Killua yang tadi berjalan didepannya, langsung menoleh kebelakang dan berlari kearah Kurapika dan Gon. "Gon!" Kata Killua sambil berlari kearahnya.
Merasa namanya dipanggil, ia menghampiri Killua. Killua belum apa-apa langsung menjitak kepalanya. "Aww.. Sakit sekali.. Killua, kenapa kau kejam sekali padaku?"
"Habis, itu salahmu! Kenapa menghilang begitu saja!?"
"Hehe.. Maaf, Killua."
-oOo-
Apa yang harus kulakukan sekarang? Sudah ada Gon dan Leorio disini. Aku tak bisa jujur pada mereka bahwa Kurapika tinggal dirumahku. Batin Killua.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Sudah ada Gon dan Leorio disini. Aku tak bisa jujur pada mereka bahwa aku sekarang tinggal dirumah Killua. Batin Kurapika.
Suasana sangat canggung sekali. Akhirnya, suasana itu dipecahkan ketika Alluka datang dan bergabung. "Kak Killua, masa dari tadi belanjanya lama banget sih?" Kata Alluka sambil mengambil posisi disebelah Killua.
"Ma-maaf, Alluka."
"Kak Kura, kak Kura dan- oh!? Kak Gon! Lama tak bertemu padamu, kak Gon! Aku rindu sekali.." Alluka langsung memeluk Gon ketika ia melihat Gon. "Dan.. Paman Leorio?"
"Pa-paman!? A-aku masih muda, kau tahu!?" Lalu Alluka memeluk Leorio
Alluka menggangguk. "Aku tahu! Kau dan kak Kura kan hanya beda.. 2 tahun, benar?"
"Be-benar. Kau benar, Alluka."
"Benar? Asik!" Alluka langsung melepas pelukannya dari Leorio
"Paman, sekarang belikan aku es mambo jumbo!"
"Eh? Es mambo jumbo?"
"Iya! Begini saja, kalau paman menjawab pertanyaanku dengan benar, paman tak usah belikan aku es mambo jumbo. Tapi kalau paman salah jawab, paman harus belikan aku es mambo jumbo. Kalau paman kalah dan paman tak mau belikan aku es mambo, maka kak Killua yang akan memberi paman hukuman. Setuju?"
"Setuju. Baik, a-apa pertanyaanmu."
"Pertanyaanku? Hm.. Oh! Siapa orang yang kusukai?"
"Orang yang kau sukai? Hm.. Gon?"
"Salah!"
"Aku?"
"Salah besar!"
"Siapa? Kurapika?"
"Teet toot! Paman salah! Sekarang paman belikan aku es mambo!"
"I-iya. Tapi siapa orang yang kau sukai?"
"Orang yang kusukai adalah, kak Killua."
"Eh?"
"Sudah! Paman harus belikan aku es mambo!"
Tak terasa, saku Kurapika bergetar. Handphone miliknya sedang bergetar. Ia mengangkat telefon itu diluar.
"Halo?"
[Kurapika?]
"Ku-kuroro?"
[Ping pong! Kau benar!]
"Ada apa? Apa yang kau mau dariku?"
[Bisa kita bertemu?]
"Be-bertemu? Hanya berdua? D-dimana?"
[Ditaman. Sore ini pukul 5. Ada waktu?]
"H-hn.. Ku-kurasa."
[Baik, akan kutunggu kau di taman pukul 5 sore ini. Da~]
-oOo-
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Ia sudah bersiap sedari tadi. Juga sudah merapihkan apa yang bisa ia rapihkan. Ia bolak balik didepan kaca, berharap dapat memasangkan pakaian yang cocok dengannya. Sayangnya, nihil. Karena dia hanya membeli kaos biasa.
"Hfft.. Tak punya baju yang bagus. Hm.. Oh! Tunggu.. Tunggu."
Ia membuka lemari pakaiannya, berharap menemukan baju yang lebih layak dan ketemu! Untungnya ia membeli baju kemarin ketika Killua membeli bahan makanan.
Setelah ia memakai baju itu, ia kembali lagi kedepan kaca. Berharap baju itu cocok dengannya. Dan, harapannya terkabul. Ia baru memakai baju saja. Belum bawahannya. Ia mencari-cari lagi dan ia menemukan satu buah celana jeans pendek.
"Sial! Apa aku harus pakai celana ini ketika ingin bertemu Kuroro? Sial! Sial! Sial!"
Pintu diketuk tiga kali. Menandakan ada orang di depan kamarnya. Dan, benar saja. Itu suaranya Alluka.
"Kak Kura?"
"I-iya?"
"Kak Kura kenapa?"
"Ti-tidak kenapa-kenapa, Alluka." Ia membukakan pintu untuk Alluka.
"Benarkah?"
"Benar. Ohiya, apa Alluka punya celana jeans yang selutut?"
"Maaf, kak Kura. Aku hanya punya baju dress. Apa tak apa?"
"Tidak. Aku butuh celana jeans selutut. Kalau kau tak punya, tak apa. Terima kasih, Alluka."
"Baik."
Lalu Kurapika menutup pintu kamarnya dan kembali kedepan kaca. "Berarti, itu artinya, aku tetap harus memakai celana pendek ini."
-oOo-
Ia berlari secepatnya ke taman. Ia tahu, ia terlambat 10 menit. "Huft! Kalau saja Killua tidak memintaku.."
Flashback~
"Kurapika? Kau mau kemana?" Tanya Killua ketika ia melihat Kurapika berpakaian rapih dan melaluinya.
Ia mengerem mendadak dan mengakibatkan dirinya terdorong ke depan. "Kenapa?"
"Kenapa kau pakai begitu?"
"Me-memang kenapa?"
"Ganti pakaianmu,"
"Maaf, aku sudah telat, Killua. Aku berangkat."
"Kurapika!"
"Maaf, Killua."
"Kurapika, tunggu."
Ia berhenti lagi. "Tolong bawa ini,"
"Apa ini?"
"Sudah. Bawa saja, juga, berikan ini pada Gon. Kalau kau ketemu. Sudah, sana. Hati-hati."
End flashback~
"Kau terlambat." Kata Kuroro datar
"Ma-maaf. Aku tadi harus mengirim paket khusus pada Gon terlebih dahulu."
"Ya sudah. Tak apa. Ngomong-ngomong," sreet! A-apa ini? Kenapa aku merasa.. Seperti Kurapika itu cantik? A-apa ini!? Perasaan apa yang sedang kurasakan ini?
"Ngomong-ngomong apa?"
"Ka-kau.." Berhenti! "Kau.."
"Aku?"
"Hn." Kuroro mengangguk. "Kau.. Terlihat.." Berhenti bodoh! Berhenti! "Terlihat ca.." BERHENTI, KURORO LUCIFER! Berhenti!
"Terlihat?"
"Terlihat cantik dengan baju yang kau pakai itu- hap!" Ia segera membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Mukanya memerah karena malu.
"Be-benarkah? T-terima kasih."
"Kurapika, apa kau lapar?"
"Tidak. Aku baru saja makan."
"Ah, sayang. Kau mau temani aku makan?"
"D-dimana? Ha-hanya berdua?"
Kuroro mengangguk. "Iya. Hanya berdua."
"Te-terserah kau saja." Kurapika memalingkan wajahnya dari Kuroro. Ia merasa pipinya memanas karena malu.
-oOo-
A/N: Sebenarnya, ini chapter 1-nya. Nah, chapter prologue itu chapter 00. Maafkan atas ke-tyo-an chapter lalu, ya? Review, pleasee.. *kittyeye*
Mari kita berbalas review :3
Guest:
Huwaww~ trims, atas review positifnya dan kau menyukainya. Kau adalah yang pertama me-review dalam cerita ini :') *curcol* aku minta maaf atas typo yang ada. Trims atas supportnya. Yupp ini sudah ku update. *iyeii* ^-^)/
Tsukihana-chan:
Lihat saja, siapa yang Kurapika cintai, *menyeringai* trims atas reviewnya. Sudah di apdett kok. *kabur*
