Disclaimer: Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro-sensei
Warning:
AU banget! OOC kayaknya. Gaje banget! Humor? Gak terlalu bisa, tapi diusahakan! XD
Her Crazy Story
Chapter 2
-oOo-
"Bagaimana kalau di restoran depan?"
"Te-terserah kau, Kuroro."
"Ya.. Baiklah, ayo. Aku sudah lapar."
Sesampainya di restoran yang Kuroro maksud, mereka *ralat, Kuroro* langsung memilih tempat terbaik di cafe itu. VIP Class. Hanya ada 3 buah meja besar dan 2 buah meja kecil dengan bangku yang saling berhadapan. Kuroro memilih 1 dari 2 meja kecil itu.
"Silahkan," Kuroro mempersilahkan Kurapika untuk duduk terlebih dahulu. Lalu ia duduk didepannya. Setelah itu, pelayan datang dan memberi mereka dua buah buku menu.
"Kau mau apa, Kurapika?"
"A-aku bilang aku tidak mau makan. Aku suda-"
"Baik, kalau begitu, lasagna 2. Ditambah minumnya," Kuroro melirik kearah Kurapika. "Kau mau minum apa?"
"Terserah kau."
"Baik, soda putih dua."
"Baik. Silahkan ditunggu, Miss, Mister."
Setelah pelayan itu menjauh dari mereka berdua, Kurapika mulai merasa canggung berada didepan Kuroro. Lalu ia berkata, "apa yang butler tadi katakan? Miss? Apa artinya?"
"Miss, kau tak tahu?"
"Iya, aku tahu! Maksudku, mengapa ia berwajah seperti itu ketika melihatku?"
"Berwajah apa maksudmu?"
"Berwajah, seperti dia mengatakan, selamat-karena-kau-mendapat-pasangan-yang-cocok-dengan-mu."
"Haha. Kau konyol, Kurapika. Tak mungkin itu terjadi."
"Iya. Tak mungkin! Karena setelah ini, akan kupastikan kau tak dapat melihat dunia lagi."
"Oh? Benarkah?"
"Ti-tidak juga, sih."
"Haha, bodoh."
Tak lama, makanan yang mereka pesan datang. Pelayan yang melayani mereka, meletakkan dua piring lasagna dihadapan mereka. Beserta dua gelas soda putih. "Silahkan di nikmati, miss, mister." Lalu pelayan itu berlalu dari ruangan VIP itu.
Mereka dalam keadaan canggung lagi. Mereka tak menyentuh makanannya ataupun minumannya. Mereka hanya memandanginya satu sama lain. Lalu, kecanggunggan itu dihancurkan ketika ponsel Kurapika berbunyi.
"Halo?"
[Kurapika, kau ada dimana?]
"Ki-killua? Aku ada di.." Ia mengambil jeda antara kalimatnya. "Tak dimana-mana."
[Begitu. Bisa kau cepat pulang? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.]
"Apa?"
[Sudah, cepat kau pulang!]
"I-iya. Tunggu aku setengah jam lagi."
[Oke.]
Tuut..
Telfon terputus. Kali ini, Kurapika memberanikan diri memandangi Kuroro. Sadar akan tatapan itu, Kuroro balik memandang Kurapika dengan wajah datarnya. "Ada apa?"
"Oh, tidak. Hanya saja Killua menelfonku. Dan aku harus segera pulang, terima kasih atas makanannya. Aku pulang, da-"
Kurapika merasa tangannya dipegang. Ia menoleh dan mendapat Kuroro memegang tangannya. "Ada apa?" Tanya Kurapika dingin.
"Kau belum menyentuh makanmu, Kurapika."
"Berapa kali aku harus bilang padamu? Aku sudah kenyang!"
"Satu suap saja? Aku tahu kau belum makan sama sekali."
Mata Kurapika membelakak. Kenapa ia tahu bahwa aku belum makan? "Bu-bukan urusanmu!"
Kuroro menarik paksa tangan Kurapika dan mendudukkannya di bangkunya tadi. "Cepat makan, atau akan ku-"
"Baiklah, baik! Kali ini kau menang, Lucifer! Tch, sial!"
"Ha! Sudah kuduga. Sudah makan."
Setelah mereka selesai makan, Kurapika meneguk isi terakhir dari gelas sodanya. Ia segera berdiri dan ingin pulang, lagi-lagi, Kuroro menahannya. "Kali ini, apa?"
"Tunggu sebentar, ikut aku." Kuroro menarik Kurapika kedalam kamar mandi. Kurapika kaget bukan main. Ia takut ia di sentuh oleh Kuroro. Namun, semua fikiran negatif Kurapika buyar, ketika Kuroro menyuruh Kurapika memejamkan matanya. Anehnya, Kurapika menurut.
Tunggu, kenapa aku merasa berat. Terutama pada bibirku? Apa.. Ah? Tidak! Tak mungkin ia.. Baik, akan kubuka mataku. Dan, ketika ia membuka matanya, wajahnya memerah. Semerah tomat segar. Kuroro.. Menciumku!?
Kuroro tahu, Kurapika sudah membuka matanya. Makanya, ia segera melepaskan ciumannya. "Jangan beritahu siapapun apa yang terjadi hari ini, Kurapika. Atau.. Aku tidak menjamin keselamatan sahabatmu, Shalnark."
"Tunggu, bukannya dia anak buahmu?"
"Hm.. Iya, tapi secara rahasia, ia memberi tahuku bahwa kau dan Shalnark bersahabat dekat."
Sial kau, Shalnark! Sekarang kau akan rasakan akibatnya. Bodoh! Shalnark bodoh! Bodoh!
"Bagaimana? Deal?"
"Hm.. I-iya, deal."
"Sepakat! Sudah, sana kau pulang. Pasti kau sudah ditunggu oleh Killua."
Benar juga, aku janji pada Killua akan pulang setengah jam lagi, "baik, aku pulang!"
-oOo-
"Kau.. Dari mana saja!?"
"Ma-maaf, Killua."
"Sudah, ayo duduk!"
Setelah Kurapika dan Killua duduk, Killua memulai percakapannya. "Apa kau tahu? Gon, sudah mengetahui bahwa kau tinggal dirumahku."
"Ha!? Tak mungkin! Apa itu benar?"
"Benar. Gon sendiri yang menelfonku tadi."
"Gawat. Aku harus bagaimana?"
Killua mengangkat bahunya "aku tak tahu. Akan kuusahakan mencegah Gon dan Leorio memeriksa kamarmu. Kunci kamarmu dan jangan keluar kamar. Mulai besok, mengerti?"
"Baik."
-oOo-
"Se-selamat datang, Gon.. Leorio."
"Rumahmu besar, Killua." Leorio langsung berlari kearah sofa Killua. "Sofamu, empuk sekali!" Lalu ia merebahkan diri di sofa milik Killua. "Ini baru rumah idaman! Tv besar, rumah besar, sempurna!"
"Leorio, kau melenceng dari tujuan awal kita."
"Oh, benar!" Leorio langsung duduk di sofa Killua. Gon dan Killua segera duduk diposisi mereka masing-masing.
"Jadi, apa tujuan kalian datang kesini?"
"Hanya memeriksa, apa benar feeling Gon itu benar. Bahwa Kurapika tinggal disini."
Sementara diposisi Kurapika, Kurapika ditemani Alluka sedang mengintip keadaan Killua. Killua terlihat pucat ketika Leorio bilang, feeling Gon dan bahwa Kurapika tinggal disini.
"Alluka, apa yang harus kita lakukan?"
"Bukankah sudah jelas, kak Kura? Ikuti saja instruksi dari kak Killua. Oh, tunggu! Lihat kak Gon! Dia naik ketangga! Kak Kura, cepat tutup pintu dan kunci!"
Sementara diposisi Killua..
Kuharap, Alluka dan Kurapika segera menutup pintu dan menguncinya.
Gon, Leorio dan Killua sampai di depan kamar Kurapika. "Ini kamar siapa?" Tanya Gon
"Ka-kamar A-alluka." Jawab Killua tergagap
"Bukankah tadi kita sudah melihat kamar Alluka?"
"I-ya benar. Alluka punya dua kamar. Dan kamar ini adalah kamar rahasianya Allu."
"Gon, tolong gunakan penciuman anjingmu."
"Baik."
.
.
.
"Bagaimana, Gon?"
"Kurapika tidak ada di dalam, Leorio. Bagaimana ini?"
Haft, untung saja mereka pakai zetsu. Kalau tidak.. Aku tak tahu harus bagaimana.
"Yah.. Mau bagaimana lagi? Kurapika menghilang setelah dari cafe itu. Boleh kami menginap disini, Killua?"
A-apa? Menginap?! Akhirnya ketakutanku datang juga!
Sementara diposisi Kurapika dan Alluka, mereka bersembunyi dibawah kasur Kurapika. "Kita harus bagaimana, kak Kura?" Kata Alluka sambil berbisik
"A-aku tidak tahu, Alluka. Kalau mereka sampai menginap, tolong fikirkan skenario terburuk dari situasi ini." Jawab Kurapika.
Alluka's Image~
"Gon! Cepat kesini, aku menemukan dua baju perempuan!"
Yang dipanggil pun langsung menghampirinya. "Mana? Oh, iya. Siapa tahu, itu milik Kurapika." Tak lama, Killua menghampiri mereka.
Ketika seseorang keluar dari kamar mandi, mereka berdua kaget dan tersipu. Apa lagi Gon, karena dia masih sangat polos. Juga Leorio, yang tiba-tiba datang, enta dari mana. Mungkin ia nongol tiba-tiba(?) seperti jin. V(°-°)V entahlah. Karena dia hentai, pastinya.
Ketika seseorang tersebut sadar akan tatapan tiga orang lelaki, ia pun juga tersipu. Rambut emasnya basah ditambah handuk yang melilit kepalanya dan ia hanya mengenakan handuk lainnya untuk menutupi tubuhnya. Killua tahu Kurapika dalam bahaya, maka dari itu, ia membuat Gon dan Leorio pingsan dengan memukul bahu mereka sekencang mungkin.
"Te-terima kasih, Killua."
"Sa-sama sama, Ku-kurapika. Su-sudah, sana! Ka-kau pakai ba-baju dulu!" Kata Killua tergagap. Menanggapi itu, Kurapika hanya tersenyum dan melaluinya. Lalu masuk ke kamarnya. Ia sempat mencium wangi shampoo dari sela-sela rambut Kurapika. "Hm.. Wangi jasmine. Wangi yang alami untuknya."
End of Alluka's image~
"Tunggu, kau tidak sedang memikirkan hal yang aneh, 'kan, Alluka?" tanya Kurapika dengan kedua matanya yang disipitkan ketika melihat pipi Alluka tersipu hebat(?)
"Eh.. Ah? Ti-tidak." Allukan mencoba mengelak pertanyaan Kurapika itu.
"Sudahlah, lupakan. Bagaimana? Tahu skenario terburuk dari itu, 'kan?!"
"I-iya. Cepat atau lambat, mereka pasti akan tahu bahwa kau tinggal disini, kak Kura."
Kembali lagi diposisi Killua. Killua hanya terdiam mematung ditempat. Ia tak bisa berkata-kata. Kalau ku izinkan mereka menginap, mereka cepat atau lambat akan tahu bahwa Kurapika tinggal disini. Tapi, kalau tak ku izinkan, mereka akan sebal padaku. Apa yang harus ku lakukan, Tuhan?
"Bagaimana, Killua? Kau mengizinkan kami menginap?"
"Hm.. Itu.. Itu.."
"Itu apa? Tak boleh?" Tanya Gon lesu
Sial kau, Gon! Jangan mengandalkan wajah melasmu seperti itu, bodoh! Aku tidak tega melihatnya.
"Bagaimana? Boleh?" Tanya Gon lagi
-oOo-
A/n: bagaimana dengan chapter 2 dari ini? Apa ada yang aneh? Apanada typo yang sempat terlihat dan nongol tiba-tiba sepertu Leorio di gambarannya Alluka? Entahlah. *dijitak* aduh! Baiklah. Menurutku, korban OOC disini adalah.. *sfx: jreengg!* ngomong-ngomong, apa sih yang dimaksud dengan "sfx"? *diblender* oke, korban OOC dichapter ini adalah.. Alluka! *iyeii* *ditabokKillua* ba-baiklah. Untuk Readers yang tau apa itu artinya SFX, silahkan beritahu saya dikotak review yang sudah disiapkan oleh Xing Li-san. Jadi, mohon bantu aku!
Balasan chapter lalu:
Ukimitaro:
What? Alluka agak OOC? Tak apa, kuterima itu. Lagipula, mungkin dikau benar(?) trims sudah mampir. Sudah dilanjutkan, kok.
Review? Sangat dibutuhkan!
KxN.
