Disclaimer: Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro-sensei

Warning!

Penambahan OC. 2 chapter ku jadikan satu. AU banget! OOC kayaknya. Gaje banget! Humor? Gak terlalu bisa, tapi diusahakan! XD

Her Crazy Story

Chapter 9 — A New Beginning

Chapter 10 — Date With Kuroro

-oOo-

Kurapika memutuskan untuk meninggalkan rumah Killua setelah bertemu dengan Shalnark dalam keadaan parah. Shalnark memintanya untuk tinggal dengannya. Memang, apa salahnya bila itu kakak dan adik?

Kurapika membuka matanya dihari yang baru. Semua nampak sangat berbeda dari kamar yang biasa ia tempati. Suasananya lebih.. Lembut. Kurapika menyapu pandangannya keseluruh sudut ruangan dan menemukan sesosok yang sangat ia kenali. Ia tersenyum ke arahnya. Orang itu membalas senyuman Kurapika dengan tertawa. Sontak, Kurapika sadar seutuhnya.

"Apa yang kau tertawakan, bodoh?"

"Tidak sopan. Bicara dengan kakakmu dan memanggilnya bodoh. Lebih baik, kau mengaca dulu. Wajahmu sangat sangat abstrak."

Mendengar itu, ia langsung turun dari kasurnya dan bertanya dimana kamar mandi. Shalnark menjawabnya diujung sudut lantai dua ini. Ketika ia sampai, ia langsung menuju ke arah westafle dan mencuci mukanya.

Setelah keluar kamar mandi, ia disapa ramah oleh kakaknya. "Apa kau lapar?"

Kurapika menggangguk. "Kau masak apa, Shalnark?"

"Kau maunya apa?"

"Hm.. Bisa kah kau memasakkan aku sebuah masakan khas sini? Aku ingin mencobanya."

"Aku tak terlalu bisa memasaknya. Tapi akan kuusahakan. Bagaimana kalau satu piring kecil agar dulu? Untuk mengganja-"

"Dimana agar itu?"

"Astaga. Itu didalam kul—" sebelum ia melanjutkan kalimatnya, Kurapika terlebih dahulu menyerobot kulkas. "..Kas."

-oOo-

Gadis bersurai pirang ini sedang menyirami tanaman. Iris coklat miliknya menyapu halaman belakang rumah kakaknya yang luas. Ia berhenti dari kegiatannya ketika ia melihat Kuroro bertengger(?) Dipagar.

"Apa yang kau lakukan disini, tn. Lucifer?" tanyanya yang dilembutkan.

"Oh, astaga ny. Claire,"

"Siapa yang kau panggil Claire?" nadanya mulai ia tinggikan.

"Kau."

"Ke-kenapa?"

"Karena namamu adalah Kurapika Claire, benar?"

"Bo-bodoh! Bukan itu namaku!"

"Lantas?"

Dengan bangga, Kurapika menyebutkan namanya. Namun ia terdiam. "Kurapika.."

"Kurapika siapa?" ledek Kuroro. Sebenarnya, ia ingin tahu nama asli Kurapika.

"..Claire."

"Apa kubilang. Hey, Kurapika! Apa kau ada kegiatan malam ini?"

"Mau apa kau bertanya begitu? Jangan bilang, kau mau mengajakku berkencan. Ha, itu bodoh, Kuroro." Katanya dengan nada mengejek.

"Memang itu kenyataannya, Kurapika."

Sore itu, dilangit yang merah, Kurapika tersipu dengan jelasnya. Untungnya, langit sore yang merah itu menyamarkan rona merah di pipinya. "Lalu, apa yang akan kau lakukan jika aku ingin berkencan denganmu, Lucifer?"

"Simple. Kau hanya perlu berdandan layaknya perempuan.."

"Tapi aku memang perempuan, bodoh!"

"Maksudku, benar-benar berdandan seperti perempuan, Claire."

"Ta..tapi.."

"Sudah, tak ada tapi tapian. Aku sudah bicara pada kakakmu tadi. Dan ia menyetujuinya dengan senang hati."

-oOo-

"Shalnark! Apa yang kau katakan pada Kuroro?!" bentak Kurapika ketika ia melihat Shalnark sedang asik menonton televisi.

"Katakan? Apa maksudmu?"

"Sore tadi Kuroro bilang padaku, bahwa ia akan mengajakku berkencan. Dan kau menyetujuinya dengan senang hati. Apa maksudmu?"

"Tadi danchou memang bilang begitu padaku. Dan aku memang menyetujuinya.."

"Sialan kau!"

"Hehe.. Tapi jangan salah sangka dulu. Kalian memang cocok. Walaupun kalian berbeda 9 tahun darinya."

"Diam kau!"

"Kurapika, sudahlah. Kau sesekali harus merasakan cinta."

Aku memang sedang merasakan cinta dengan orang yang mengajakku berkencan itu, kakak. Batin Kurapika bicara lirih. "Shalnark, aku akan ikut. Tapi kau juga harus ikut dengan kami."

"Apa? Itu tidak bisa. Kau mau kehilangan kakakmu satu-satunya karena ikut dengan kencanmu dan danchou?"

"Setidaknya masih ada tante Bisky." Kurapika berbicara dengan melipat kedua tanggannya didepan dadanya dan mengalihkan pandangannya dari Shalnark.

"Jadi, kau memang mau aku mati?" Shalnark memalingkan wajahnya dari Kurapika. "Baiklah kalau begitu."

Wajah Kurapika tiba-tiba menjadi pucat. "Ti-tidak usah. Aku tidak mau mengambil resiko. Kau tetap saja dirumah. Kau boleh berduaan disini dengan Shizuku."

Shalnark tiba-tiba tersipu. "A-apa yang kau katakan? Te-terserah kau saja. Sudah sana cepat bersiap-siap! Pasti danchou akan marah bila kau terlambat."

"Iya, baiklah." Kurapika berjalan menjauh dari kakaknya. Dan tiba-tiba ia teringat sesuatu dan berhenti melangkah. "Hei,"

"Apa?"

"Menurutmu, kenapa Kuroro mau susah-susah mengajakku berkencan? Maksudku, padahalkan masih banyak wanita lain yang mau dengannya. Neon, contohnya."

"Anak bos mafia yang manja itu? Jangan buat aku tertawa! Danchou bilang, ia tak suka dengan orang manja."

"Kuroro bilang begitu?"

"Hn, Danchou sendiri yang bilang begitu pada kami."

"Kami? Ah. Terserah. Oh, bilang pada Shizuku, untuk jangan lupa membersihkan debu dirumah ini dengan penyedot debunya."

"Hei! Apa maksudmu?!" tanya Shalnark dengan nada yang 'agak' marah.

"Tidak. Aku akan bersiap. Da~"

-oOo-

Dimana dia? Tumben sekali dia terlambat! Huh! Dasar menyebalkan! Kurapika membatin dalam hati. Oh, itu dia. Lalu Kurapika berpose seperti, aku-sudah-lama-menunggumu,-tuan-lucifer!

"Maaf atas keterlambatanku, ny. Claire." Kurorp membungkuk layaknya bertemu putri raja.

"Ti-tidak apa, Kuro—Tn. Lucifer," balasnya ramah.

"Kita masuk?" tanya Kuroro masih dengan sikap lembutnya. Dan Kurapika menggangguk lalu mereka masuk kedalam restoran. Kuroro memandang gadis didepannya dengan tatapan berbeda dari biasanya. Biasanya ia akan memandang atau melihat sesuatu dengan wajah datar. Tapi kali ini tidak. Ia memandang Kurapika dengan pandangan yang dapat diartikan sebagai tuan-puteriku-sangat-cantik-malam-ini.

Kuroro berdiri dan mempersilahkan Kurapika duduk dihadapannya. Lalu ia kembali ke bangkunya. "Apa kau sempat berfikir dua kali untuk akhirnya berkencan denganku, Kurapika?"

Kurapika mengalihkan tatapannya dari wajah Kuroro. "Kalau iya, kenapa?"

"Tidak. Hanya saja, sepertinya kau setengah hati berkencan denganku kali ini."

Mata Kurapika terbelalak. Bagaimana ia tahu? Batinnya bertanya. "Bukan urusanmu, Lucifer."

"Tapi, bila aku boleh jujur padamu, malam ini kau terlihat cantik. Lebih cantik dari biasanya."

"Apa itu sebuah pujian? Kalau iya, aku tidak akan berterima kasih padamu."

"Kenapa?"

"Kau ingin tahu saja. Cepat beritahu aku. Untuk apa kau mengajakku berkencan malam ini?"

"Hanya ingin lebih mendekat ke calon pacarku. Apa itu tidak boleh?"

Mata Kurapika terbelalak lagi. "Pacar, katamu? Bodoh! Kau tidak akan pernah aku anggap sebagai seorang pacar! Tapi sebagai orang yang sok tahu dan terlewat pede!"

"Terserah kau saja, Claire."

"Ja-jangan panggil aku dengan Claire! Aku tidak suka dengan panggilan itu."

"Tapi itu kan namamu. Kenapa kau tidak suka?"

"Di-diam!"

"Baik, kau mau makan apa malam ini?"

"Mungkin sup ikan?"

"Sup ikan? Kau yakin itu?"

-oOo-

"Ke-kenapa?" Kurapika bertanya pada Kuroro. "Ja-jangan bilang, kau mau menciumku seperti kejadian di restoran lalu!"

"Kalau iya?" Kurapika menampar Kuroro. Ia sekarang kesal dengan pria didepannya ini. "Kau.."

"Kenapa? Apa kau tidak suka sikapku? Terima kasih, karena kau tidak menyukainya. Dan, jangan panggil aku dengan Claire lagi."

"Lalu, aku harus memanggilmu apa?"

"Hm.. Sekiranya yang aneh bagimu."

"Aneh bagiku?"

"Ah, panggil saja aku Kuruta. Kurapika Kuruta."

"Kuruta? Itu aneh. Aku belum pernah mendengar itu sebelumnya."

"Iya. Itu aneh, 'kan? Su-sudah. Panggil saja aku Kuruta. Tapi kau boleh memanggilku Claire." Ia memalingkan wajahnya dari hadapan Kuroro. "Tapi itu, kalau aku sedang bersama Shalnark saja. Camkan itu!" Lalu Kurapika melalui Kuroro dengan sedikit menabrak pundaknya.

"Tunggu," Kuroro menahan Kurapika dengan memegang tangannya "jangan pulang dulu."

"Kenapa? Sekarang sudah pukul 9! Shalnark bisa marah padaku!"

"Tidak bila bersamaku, Kurapika." Kini Kurapika tersipu. "Bolehkah kau mengizinkan aku untuk.."

Apa yang dia mau dariku? Kurapika bertanya dalam hatinya.

"Memelukmu sebentar saja." Kurapika kini benar-benar tersipu. Ia tak dapat menyangkalnya. Tanpa jawaban dari Kurapika, Kuroro langsung memeluk Kurapika dari belakang. Sontak, Kurapika makin tersipu.

"Le-lepaskan, bodoh!"

"Tidak akan. Memangnya kenapa? Apa kau membenciku?"

"Iya! Aku membencimu karena kau membuat aku patah tulang! Juga kau melemparku kedanau!"

"Tapi itukan sudah kejadian lalu, Kurapika. Lupakan sajalah." Kuroro memutar tubuh Kurapika. Kini, Kurapika sudah ada dihadapannya.

"Lupakan? Seenaknya kau bicara! Aku takkan pernah melupakan kejadian itu seumur hidupku, kau tahu!?"

"Kau memang keras kepala, Kurapika."

"Ke-kenapa?" Kurapika bertanya pada Kuroro. "Ja-jangan bilang, kau mau menciumku seperti kejadian di restoran lalu!"

"Kalau iya?" Kurapika menampar Kuroro. Ia sekarang kesal dengan pria didepannya ini. "Kau.."

"Kenapa? Apa kau tidak suka sikapku? Terima kasih, karena kau tidak menyukainya. Dan, jangan panggil aku dengan Claire lagi."

"Lalu, aku harus memanggilmu apa?"

"Hm.. Sekiranya yang aneh bagimu."

"Aneh bagiku?"

"Ah, panggil saja aku Kuruta. Kurapika Kuruta."

"Kuruta? Itu aneh. Aku belum pernah mendengar itu sebelumnya."

"Iya. Itu aneh, 'kan? Su-sudah. Panggil saja aku Kuruta. Tapi kau boleh memanggilku Claire." Ia memalingkan wajahnya dari hadapan Kuroro. "Tapi itu, kalau aku sedang bersama Shalnark saja. Camkan itu!" Lalu Kurapika melalui Kuroro dengan sedikit menabrak pundaknya.

"Tunggu," Kuroro menahan Kurapika dengan memegang tangannya "jangan pulang dulu."

"Kenapa? Sekarang sudah pukul 9! Shalnark bisa marah padaku!"

"Tidak bila bersamaku, Kurapika." Kini Kurapika tersipu. "Bolehkah kau mengizinkan aku untuk.."

'Apa yang dia mau dariku?'

"Memelukmu sebentar saja." Kurapika kini benar-benar tersipu. Ia tak dapat menyangkalnya. Tanpa jawaban dari Kurapika, Kuroro langsung memeluk Kurapika dari belakang. Sontak, Kurapika makin tersipu.

"Le-lepaskan, bodoh!"

"Tidak akan. Memangnya kenapa? Apa kau membenciku?"

"Iya! Aku membencimu karena kau membuat aku patah tulang! Juga kau melemparku kedanau!"

"Tapi itukan sudah kejadian lalu, Kurapika. Lupakan sajalah." Kuroro memutar tubuh Kurapika. Kini, Kurapika sudah ada dihadapannya.

"Lupakan? Seenaknya kau bicara! Aku takkan pernah melupakan kejadian itu seumur hidupku, kau tahu!?"

"Kau memang keras kepala, Kurapika."

"Bia—" belum sempat Kurapika meneruskan kalimatnya, Kuroro langsung menciumnya. Tak lama ia melepaskannya. "Bodoh!" Kurapika mendorong tubuh Kuroro sampai ia terjatuh.

"Kau bilang kau mau pulang, 'kan? Silahkan."

"Kau.. Brengsek kau!" Kurapika keluar dari kamar mandi. Seperti kejadian yang lalu. Lalu ia bergegas kerumahnya dengan hiasan sedikit air mata diwajahnya.

-oOo-

"Kenapa kau? Kenapa menangis?"

"Shalnark," Kurapika menghempaskan dirinya dikasur kakaknya. "Tolong bilang pada danchou-mu itu."

"Kenapa?"

"Kau ini, niat sebagai kakak atau tidak sih? Tidak peduli sama adiknya sama sekali!"

"Iya iya. Memang kau di apakan danchou, sampai kau menangis? Danchou tidak mungkin menyentuhmu, 'kan?"

Perkataan Shalnark yang terakhir, berhasil membuat mata Kurapika terbelalak. "Ti-tidak. Dia tidak menyentuhku. Tapi dia,"

"Tapi dia?"

Kurapika langsung memeluk kakaknya dan hanyut dalam tangisannya dibahu Shalnark. Shalnark bingung dengan kelakuan Kurapika.

"Bisa kau ceritakan apa yang terjadi? Aku janji, aku akan menegur danchou bila i—"

"Menegur? Huh!" Kurapika melepaskan pelukannya dari kakaknya. "Kau memang kakak yang tidak niat menjadi kakak!"

"Apa maksudmu? Baik, terserah kau saja. Ceritakan masalahmu pada kakakmu, Kurapika." Lalu Kurapika menceritakan semuanya.

-oOo-

"Danchou! Kenapa kau mencium Kurapika? Apa kau tahu?! Dia sampai menangis!"

"Shalnark, aku tak sengaja menciumnya. Aku tersandung dan terjatuh tepat mengenai bibirnya."

"Kau bohong! Ceritamu sangat berbeda dari Kurapika!"

"Jadi kau memilih adikmu daripada aku? Terserah. Tapi kau akan aku pecat menjadi anggota Ryodan dan berhenti berhubungan dengan Shizuku."

Shalnark membelalakkan matanya. Ia tak percaya. Tak apa bila diberhentikan dari Ryodan. Asal tetap bisa berkomunikasi dengan Shizuku. Tapi, tidak keduanya. Ia merasa lemas seketika.

-oOo-

Ia, Shalnark Claire, kembali kerumahnya dengan langkah gontai. Kau tidak boleh berhubungan apapun lagi dengan Shizuku. Kalimat 'mantan' Danchou-nya masih mengiang dikepalanya. Apapun, apapun akan kuberikan, bahkan itu jabatanku dan nyawaku. Asal aku tetap bisa bertemu dengan Shizuku. Hati kecil Shalnark berbicar lirih.

Diperjalanan menuju rumahnya yang gontai, ia sering menabrak orang. Sampai orang yang ditabraknya terjatuh dan meringis kesakitan. "Aduh.."

Ia segera mendongakkan wajahnya yang selalu ia tundukkan keatas. Dan ia menatap manik hijau seorang gadis. "Ma-maafkan aku, nona. Aku tidak sengaja." lalu ia berdiri dan membantunya berdiri. "Siapa namamu, nona?"

"Namaku? Namamu siapa?" tanya balik sang gadis kepada Shalnark.

"Kenapa kau balik bertanya?" tanya Shalnark jengkel.

"Kenapa? Aku yang bertanya padamu duluan, tuan."

"Aku."

"Aku!"

"A— Baik, aku menyerah. Namaku Shalnark Claire. Namamu?"

"Salam kenal, Shalnark!"

"U-uh. Salam ke— hei! Kau belum jawab pertanyaanku, nona. Siapa namamu?"

"Suatu saat nanti, kita akan bertemu lagi ditempat yang tak terduga, Shalnark. Tolong hafalkan wajah dan suaraku. Karena kita akan bertemu lagi."

"Ha? Hafalkan wajah dan suaramu.." Shalnark berkata sambil memejamkan matanya. Tak lama ia membukanya. "Kau fi— Saus tartar! Lebih baik aku pulang saja!"

Setelah sampai dirumahnya, Shalnark membuka pintu rumahnya dan disambut hangat oleh Kurapika. "Selamat datang kembali, Shalnark."

"Ah. Aku pulang. Kurapika, apa kau lapar?" sang adik menggelengkan kepalanya. "Tidak? Baiklah. Kalau begitu buatkan aku makanan."

Kurapika langsung cemberut. "Kau fikir kau siapa? Baru pulang sudah menyuruh aku!"

"Jelas aku, kakakmu, Kurapika." jawabnya santai.

"Oh, kau benar. Kau mau apa?"

"Tolong nasi goreng satu."

"Huh! Aku bukan orang kantin sekolahan, kau tahu!?" Kurapika berbalik sambil mengumpat kakaknya.

Hafalkan wajah dan suaraku. Suara gadis yang ia tabrak tadi mengiang dikepala Shalnark. "Sial! Hafalkan!? Dia fikir aku siswa sekolahan yang sedang belajar menghafal, apa!?" Shalnark memejamkam matanya. Kita akan bertemu lagi disuatu tempat yang tak terduga. Dan, kalimatnya masih betah mengiang dikepala pemuda berambut pirang pendek ini.

"Ini, nasi goreng kesukaanmu."

"Danke, Kurapika."

"Ebenso. Hei," panggil sang adik. "Shalnark, apa kau ada kegiatan? Apa kau ingin mengantar aku berbelanja ke super market untuk membeli baju baru untukku?"

Shalnark yang sedang menikmati nasi goreng buatan adiknya kini tersedak karena pernyataan adik kesayangannya ini. "Uhuk uhuk!" lalu ia meneguk segelas air yang diberikan Kurapika bersamaan dengan nasi gorengnya. "Membeli baju baru, untukmu? Apa aku tidak salah dengar?"

"Tidak. Kau tidak salah dengar."

Shalnark meletakkan piring yang ia pegang ke meja dan berdoa lebay. "Oh, terima kasih, Tuhan! Kau telah mengabulkan permohonanku untuk membuat adikku sadar, kalau ia adalah perempuan!"

"Hei, aku memang perem—"

"Sstt.. Dan kau membuatnya sadar, bahwa ia harus berdandan ala perempuan. Oh, Tuhan! Terima kasih banyak!"

"Shalnark, sudah lah! Kau mau menemaniku atau tidak?"

"Tentu aku mau menemanimu, Kurapika. Apa yang tidak untukmu, sih?" Shalnark mencubit pipi adiknya. "Kapan dan jam berapa kau akan berangkat?"

"Besok. Pukul 10."

"Oke. Pertama-tama, biarkan aku menyelesaikan makan masakan pertamamu yang kau buat khusus untukku ini."

"Kau kebiasaan, selalu promosi setiap ada kesempatan." Kurapika dan Shalnark tertawa. "Hei, bagaimana kalau kau menjadi seorang promotor saja?"

"Maksudmu?"

"Iya. Kau bekerja seperti Killua! Kau tahu, ia bisa mendapat rumah sebesar itu dengan menjadi seorang promotor, Shalnark."

Flashback~

"Killua, dari mana kau mendapat semua uang ini?"

"Aku? Mudah! Aku hanya menjadi seorang promotor."

End flashback~

"Begitu? Jadi Killua adalah seorang promotor? Ide bagus!"

"Iyapm, bagaimana?"

"Boleh juga,"

-oOo-

A/n: okw, chaptee 9, 10 selesai. Menurutku, disini korbsn OOC-nya itu Shalnark.

Review kemarin:

tsukihana ruby-chan:

Cie ah, ganti uname nih.. Kenapa, Kurapika dan Shanlarknya?

Nahya-Chan:

Lupakan apa maksudnya(?) itu adikku yang membantu menyelesaikan itu..

ukimitaro:

Yo. Tak apa.

Oke, review please.. Huam*

KxN.