Disclaimer: Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro-sensei
Warning!
Alur cerita dipotong-potong a.k.a dicepetin. OC. AU banget! OOC kayaknya. Gaje banget! Humor? Gak terlalu bisa, tapi diusahakan! XD
Her Crazy Story
Chapter 12 — This is The end?
-oOo-
"Permisi,"
Kedua orang itu menoleh secara bersamaan. Sang gadis terkejut melihat siapa tamu yang datang kerumahnya. Lalu ia melepaskan genggaman tangannya dan berlari kebelakang punggung orang itu.
"Untung saja kau datang! Kalau tidak.. Mati aku!"
"Mati? Mati kenapa?" lalu orang itu menoleh kebelakang untuk menatap wajah si gadis yang bersembunyi dibalik punggungnya.
"Tn. Hill?" panggil seseorang didepannya.
Yang dipanggil menoleh ke sumber suara. "Oh, tn. Lucifer, rupanya!" lalu ia menghampiri Kuroro dan mulai mengobrol dan meninggalkan gadis yang tadi bersembunyi dibelakang punggungnya.
Si gadi hanya menghela nafas berat nan panjang. "Masalah lekaki, biasa." lalu si gadis melangkah masuk kedalam rumah dan pergi kearah dapur. Ia membuatkan dua gelas teh manis dan membawanya kearah depan juga meletakkannya dimeja. "Teh siap, tuan-tuan!"
Pariston— Tamu yang datang kerumah Kurapika dan Kuroro yang sedang mengobrol menengok kearah Kurapika dan masuk kedalam. "Pariston," panggil Kurapika. Yang dipanggil hanya menoleh. "Aku ada dikamar. Jika ada sesuatu atau kau ingin berbicara sesuatu, kau boleh masuk. Tapi, ingat untuk mengetuk pintu terlebih dahulu!"
"Siap, nyonya!"
-oOo-
"Ah! Banyak sekali kerjaannya! Aku tidak sanggup!"
"Tn. Claire?"
"Eh? Apa?" yang dipanggil menoleh keatas komputernya. "Loh, kau?"
"Hihi.." orang itu hanya tertawa pelan dan memejamkanmatanya. "Aku kan sudah bilang untuk menghafalkan suara dan wajahku. Kita akan bertemu disuatu tempat yang tak kau duga, 'kan apa kau menduga ini akan terjadi?"
Shalnark menggeleng. "Baguslah kalau begitu." lanjutnya. "Kemarin aku belum sempat memperkenalkan diriku. Sekarang, kita akan mengulanginya lagi. Namaku,"
-oOo-
Pintu diketuk tiga kali. Mendakan ada orang didepanpintu yang ingin masuk. Gadis itu hanya menjawabnya singkat dan orang itu memasuki kamarnya. "Kurapika," panggil orang itu.
"Hn?" jawab sang gadis tanpa menoleh sedikitpun dari kegiatannya, belajar.
"Kurapika," ulang orang itu. Kini ia berada dibelakang gadis itu. "Lihat, siapa yang datang?"
"Mau apa kau? Kau tidak diterima dikamarku. Pergi, sana." jawabnya tanpa menoleh lagi.
"Kenapa? Kan kau yang mengizinkan aku masuk."
"Terserah kau." jawb si gadis singkat. "Tunggu, aku belum selesai!" kata si gadis ketika merasa dan mendengar orang itu melangkahkan kakinya keluar kamar si gadis. "Kau bisa tinggal,"
"Benarkah?"
"Hn. Apa Pariston masih ada dibawah?"
"Masi—"
"Bagus. Aku akan turun, kau sementara tunggu aku disini."
"Siap!" lalu sang gadis berdir dari meja belajarnya dan melangkahkan kakinya keluar kamarnya.
-oOo-
"Jadi, apa benar kau adiknya.."
"Ya. Aku adiknya Kuroro. Bagimana? Beda, ya? Jangan fikirkan perbedaan itu. Ngomong ngomong,"
"Ya?"
"Apa yang sedang kau kerjakan, Claire?"
Si 'Claire' itu tertawa. "Kau kan sudsh memanggilku Shalnark. Panggil saja aku itu. Anggap nama belakangku tidak ada."
"Tapi ini dikantor. Kalau diluar kantor, aku akan memanggilmu itu. Bagaimana?"
"Terserah kau. Oh, Pearl?"
"Ya?"
"Apa kau mengerti apa maksudnya ini? Aku sedari tadi tidak tahu apa maksudnya."
"Tentu, biar aku lihat, sini." lalu Shalnark menggeser kursinya dan membiarkn Pearl berdiri disampingnya.
-oOo-
"Apa?! Tidak, Pariston! Itu bodoh!"
"Tapi, itu kenyataan, Kurapika."
"Lupakan! Lupakan itu! Aku tidak akan menyetujuinya! Dan kau tahu? 'Kerabat kerja' mu itu sudah melakukan banyak kejahatan!"
"Contohnya?"
Kurapika membelakakkan matanya. Apa? Pariston tidak percaya padaku? Apa ia sudah dicuci otaknya oleh Kuroro? "Apa maksudmu, 'contohnya'?"
"Iya. Contohnya apa, sampai kau menuduh Lucifer melakukan kejahatan?" Kurapika terdiam. "Tidak? Kau berbohong, Kurapika. Kau kan tahu, aku paling benci orang berbohong."
"Tapi.."
"Sst.." Pariston menepmelkan jari telunjukknyua kebibir Kurapika. "Tidak ada tapi tapian. Aku akan terus melanjutkan pekerjaanku dengan kerabat baruku, Lucifer." lalu ia menarik kembali jari telunjuknya.
"Parist—"
"Aku akan pulang. Apa kau tadi sedang belajar? Maaf kalau mengganggu. Kalau begitu, selamat tinggal." Pariston melakahkan kakinya keluar rumah Kurapika. Kurapika hanya bisa terdiam dan berdiri mematung. Lalu ia merasa dirangkul dari belakang oleh seseorang.
"Siap—" ketika ia menoleh, ia mendapati Kuroro dibelakangnya sedang tersenyum kepadanya. Ia jug merasakan wajahnya memanas. Sial! Perasaan ini.. Jangan jangan.. Aku..
-oOo-
"Kau kenapa? Wajahmu memerah! Kau lucu!" kata Kuroro sambil menahan tawanya.
"Be-berhenti, bodoh!" kata Kurapika dengan nada yang agak tergagap. "Kau.. Kau kan sudah kubilang, tunggu diatas! Kenapa kau turun?!"
"Karena aku bosan. Dikamarmu tidak ada apa apa melainkan buku. Apa kau seorang kutu buku?"
"Bukankah kau juga sama, Kuroro?"
"Mungkin, kau bisa bilang begitu. Tapi, koleksi bukumu belum selengkap koleksiku." dengan bangga, Kuroro memgumumkannya.
"Kau boleh bahagia sekarang, Kuroro. Oh, kau kenapa kesini? Kau bekum menjaab pertanyaanku."
"Kapan kau bertanya?"
"2 jam yang lalu."
"Benarkah? Sepertinya kau tidak bertanya seperti itu."
"Sunggu—" bila aku berdebat dengannya, debatan kami tidak akan pernah selesai. Karena kami sama sama keras kepala. Apa aku sebaiknya jujur saja, ya? Ah, tidak tidak! Itu tidak boleh. Namun aku sedang malas berdebat. Ya sudah, aku mengalah saja. "Sudah, lupakan. Aku malas berdebat dengan orang sepertimu." Kurapika melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya.
"Hei!" panggil Kuroro dari bawah. Kurapika berhenti melangkah dan menatap Kuroro. "Aku akan tinggal disini sebentar. Apa kau tidak keberatan?"
Kurapika mengalihkan pandangannya dari Kuroro dan menatap anak tangga dibawahnya. "Tentu. Tapi jangan salahkan aku bila aku menyuekimu?"
"Bukan masalah bagiku."
Lalu Kurapika kembali kekamarnya. Dikamarnya, ia langsung merebahkan tubuhya kekasur yang tidak besar. Aku tak habis fikir. Kenapa ia mau datang kerumahku dan aku cueki? Ada apa dengannya? Dan, kenapa aku harus menunjukkan wajah merahku padanya!? Kurapika membatin. Lalu ia mengambil guling yang ada didekatnya dan menenggelamkan wajahnya kebantal guling itu.
-Skip time-
Ia membuka matanya. Langit sudah gelap. Menandakan mentari sudah kembali ke ufuknya. Ia keluar kamar dan mengusap matanya. Lalu pergi kekamar mandi untuk mengusap wajahnya dengan air. Setelah ia merasa segar, ia pergi kedapur untuk mengambil minuman.
Alangkah kagetnya ia ketika ia sudah tiba diruang tamu. Kuroro belum juga pulang dari rumahnya. Ia malah menonton televisi dan ruang tamunya berantakan bukan main. "Kuroro!"
Yang dipanggil hanya menoleh dan menatapnya datar. Dengn sedikit rona merah dipipinya yang membuatnya tampan lalu memandang wajahnya. "Ada apa?"
"Kenapa ruang tamuku berantakan? Dan.." ia berjalan kedepan Kuroro dan mengambil kaleng kosong. "Kenapa ada kaleng bir kosong dirumahku? Ku tidak mabuk, 'kan?"
"Hik.. Aku.. Hik.." katanya dengan sedikit terbata-bats.
"Hentikan kalimat, 'hik' itu. Kalau kau cekukan, bilang saja kau cekukan."
"Aku.. Aku tidak mabuk. Sekaleng bir itu tidak akan membuatku mabuk, Kurapika." jawabnya dan ia berdiri mendekati Kurapika.
Iya.. Kan kau bilangnya hanya, sekaleng.. Tapi ini.. 20 kaleng! Apa dia punya uang sebanyak itu untuk membeli 20 kaleng bir yang harganya hampir 50.000 jenny per satu kaleng?! Kurapika membatin dalam hati dan hanya bisa speechless.
Ketika Kurapika sadar dari lamunannya, ia menyadari kalau Kuroro sudah dekat dengannya. Kurapika hanya mengambil langkah mundur selangkah demi selangkah menjauhi Kuroro. "Kalau aku mabuk, kau akan terancam, bukan?"
Kurapika meneguk ludah. Kini ia sudah terpojok. Tidak ada ruang sedikitpun untuknya mundur lagi. Sementara Kuroro, ia semakin dekat dengannya. Tuhan.. Apa yang akan Kuroro lakukan kepadaku? Kurapika membatin dengan khawatir.
"Kurapika," Kuroro memanggil Kurapika dengn asesoris 'cekukan'-.- "apa kau suka bersamaku?"
"A-apa maksudmu?"
"Aku bilang, apa kau senang bila kau ada disampingku?"
"Ti-tidak juga. Kau kenapa dekat sekali denganku?! Pergi!" ia mendorong tubuh Kuroro ketika Kuroro beranjak kurang dari 1 cm darinya.
"Mau bermain?"
"Tidak!" Kurapika memejamkan matanya dan sedikit menundukkan kepalanya sambil mengulangi apa yang ia katakan sembari mendorong Kuroro yang berulang kali mendekatinya.
-oOo-
"Sudah malam. Kau belum pulang, Pearl?"
"Aku sedang merapihkan barangku. Kau ingin pulang bersamaku? Aku agak takut pulang sendirian."
"Tentu. Kenapa tidak? Oh, kau mau mampir? Akan kukenalkan dengan Kurapika."
"Kurapika? Siapa dia?"
"Dia adikku. Tentu saja kau tidak tahu karena kau belum kena—" Shalnark terdiam. Ia merasakan ada perasaan aneh didalam dirinya. Mungkin adiknya dalam bahaya. "Pearl, ayo cepat! Aku merasa Kurapika sedang dalam bahaya!"
"Hn. Tentu. Tunggu sebentar!" Pearl merapihkan barangnya dengan sangat cepat. Dan selesai dalam sekejap mata. "Ayo."
Lalu Pearl dan Shalnark kembali dengan berlari sekencang yang ia bisa. Didalam hati, Shalnark berdoa. Ya tuhan, lindungi adikku kalau ia dalam bahaya apapun sampai aku kembali kerumah. Jangan sampai adikku menangis lagi. Aku tak mau melihatnya menangis lagi. Aku tak mau melihatnya menangis. Kumohon, tuhan.
Ketika mereka sampai dirumah Shalnark, mereka berdua terbelalak bukan main. Pearl menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menahan tangisnya. Sementara Shalnark, ia masih tetap terbelalak. Sampai Pearl membuka suara. "Kuro nii-sama.."
Kuroro— Orang yang dipanggil Pearl menoleh kearahnya dan kaget. Lalu ia berdiri dan bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi.
Sementara itu, Shalnark mendekati Kurapika dan memeluknya. "Kau tak apa? Kau diapakan?" Shalnark bertanya dengan sangat khawatir.
Sementara didekapannya, Kurapika menangis deras(?) sambil membalas pelukan kakaknya. "Shalnark.."
"Tak apa. Aku sudah disini. Tak perlu takut, Kurapika."
"Kuro nii-sama, kenapa.." Shalnark menoleh kearah Pearl ketika ia berbicara lagi. "Kenapa kau.."
"Bukan masalah kenapa. Kau kenapa ada disini?"
"Aku.. Aku diajak Shalnark untuk mampir dan berkenalan dengan adiknya."
"Begitu. Pearl, ayo pulang." Kuroro berjalan menghampiri Pearl dan menarik tangannya. "Lupakan apa yang kau lihat tadi. Anggap saja itu mimpi burukmu."
"Tapi, Kuro nii-sama.."
"Ayo pulang!" Kuroro membentak adiknya didepan Shalnark dan Kurapika. "Tunggu apa lagi!? Ayo! Aku pusing!"
Kuroro berjalan mendahului Pearl dan meninggalkan rumah kedua anak Claire itu. "Maafkan Kuro nii-sama, ya, Kurapika?"
Kurapika hanya menengok dari pelukan Shalnark dan bertanya. "Dari mana kau tahu namaku?"
"Dari Shalnark. Dia bilang, dia akan memperkenalkan aku denganmu. Oh, begini saja. Bagaimana kalau besok, aku datang lagi?"
Kurapika menggeleng. "Tidak. Kita ketemuan saja. Di cafe, bagaimana?"
"Ide bagu—"
"Pearl!"
"Se-segera datang, Kuro nii-sama! Kurapika, besok di cafe ini, pukul 8 pagi. Mengerti?" Pearl memberikan secarik kertas kepada Kurapika dan Kurapika menerimanya dengan senang hati.
"Hn."
"Oke. Aku pergi dulu."
-oOo-
Keesokan harinya, ia sudah bersiap-siap. Didepan kaca dikamarnya, ia sedang memilah baju. "Bingung memilih baju mana yang akan kau pakai, Kura-chan?"
Kurapika berbalik dan mendapati kakaknya berada diambang pintu sambil memejamkan mata dan tangannya terlipat rapih didepan dadanya. Pastinya ia juga tersenyum. "Lebih baik, pakai baju yang kemarin kita.. Kau beli saja." lanjutnya.
"Itu ide bagus, Shalnark. Danke."
"Esbenso. Oh, apa kau akan pergi sendirian ke cafe itu?"
"Hn. Sehabis pulang dari cafe, aku akan mampir kerumah Killua."
"Mau apa?"
"Mengunjunginya. Apa lagi?"
"Iya, terserah kau saja. Tapi, kau tidak boleh pulang lewat dari 9 malam. Mengerti?"
"Tentu." setelah Kurapika berpakaian rapih, ia segera keluar kamar. Sebelumnya, ia mencium pipi kiri Shalnark. "Danke,"
Shalnark— Orang yang dicium oleh Kurapika hanya terbelalak. "Un..untuk apa kau menciumku?"
"Untuk ucapan terimakasih. Baik, aku berangkat!"
"Hati-hati!"
-skip time-
"Maaf atas keterlambatanku,"
"Tidak apa. Aku baru sampai disini."
Lalu Kurapika duduk didepan orang itu. "Baik, kita kan mengulang perkenalan kemarin malam. Namaku Pearl Lucifer."
"Ku-kurapika Claire."
"Kurapika, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan. Tolong dijawab dengan jujur."
Kurapika menggangguk tanda setuju. "Iya. Apa pertanyaanmu?"
"Pertama, bagaimana kau bisa kenal dengan Kuro nii-sama? Kedua, kenapa Kuro nii-sama tidak pernah menceritakan apapun tentangmu padaku? Ketiga, kenapa Kuro nii-sama mabuk? Dan yang terakhir, kenapa Kuro nii-sama ada dirumahmu?"
"A..aku tidak tahu harus menjawab yang mana dulu. Yang jelas, Kuroro datang kerumahku kemarin siang, ketika Shalnark baru saja berangkat kerja. Dan.. Datanglah Pariston."
"Pariston? Tn. Hill, maksudmu?"
"Hn. Pariston datang, kemarin."
"Begitu. Biar aku ulangi pertanyaanku yang pertama. Bagaimana kau bisa kenal dengan Kuro nii-sama?"
"A..aku tidak tahu, Pearl."
"Tunggu, biar aku lihat ingatanmu."
"Ingatan? Kau sepert—"
"Pakunoda. Ya. Aku mempunyai kemampuan sepertinya."
"Be..begitu. Silahkan."
Lalu Pearl menarik tangan kanan Kurapika dan memejamkan matanya. Pearl memulai membaca ingatan Kurapika dimulai ketika ia dan Shalnark membuat perjanjian.
Kurapika's Memories..
"Bagaimana kalau Claire?"
"Shalnark Claire.. Kurapika Claire.. Hm.. Ide bagus." jawab seorang anak lelaki berambut pirang.
"Kak.."
"Jangan panggil aku kakak! Mulai sekarang, panggil saja aku Shalnark."
"Shal..nark.."
"Bagus. Perjanjian ini berakhir ketika ada seseorang yang mengetahui kalau kita bukanlah sahabat. Melainkan saudara."
-oOo-
"Ku..rapika?" panggil seseorang.
"Apa kaba—"
"Apa kau sedang mencari penginapan?" tanya orang itu lagi.
"Ping pong.. Killua, bisa kau carikan aku satu dan yang harganya juga murah?"
"Kau hanya tinggal dirumahku saja."
-skip-
"Aku pulang."
"Kau lama sekali, kak. Siapa gadis itu?"
"Gadis? Dia Kurapika, temanku. Kurapika, dia Alluka. Adik kesayanganku."
"Salam kenal! Aku Alluka!"
-oOo-
"Mitsuketa!"
"Oh, ayolah.. Kau tak asik, Kurapika."
"Cepat belikan aku coklat chocororobun.."
"Chocorobun?"
"Iya. Apalah itu, namanya."
Lalu, si pirang dan Killua berjalan kembali. Tapi, Kurapika— si pirang berteriak ketika merasa seseorang memeluknya dan menoleh kearahnya. "GON!"
Lalu, Killua berbalik dan berlari kearah Kurapika.
-oOo-
"Sial! Apa tak ada celana panjang?"
Tok.. Tok.. Tok..
"Kak Kura, kau tak apa?"
Kurapika berjalan kedepan pintu dan membukanya sedikit. "Iya, aku tak apa." ia memberi jeda pada kalimatnya. "Apa kau punya celana panjang?"
"Tidak. Aku hanya punya dress."
-oOo-
"Maaf, aku terlambat."
"Hn."
-oOo-
"Bisa kau jelaskan kenapa kau membawaku ke'markas'mu?"
"Kenapa kau pakai dress? Kan sudah kubilang, pakai kimono." jawab seseorang berambut hitam. "Cepat, pakai ini." ia melemparkan sebuah kimono kearah Kurapika.
-skip-
"Mengapa kau memilih bangku dipinggir sungai? Misalnya, kau tenggelam, apa kau bisa berenang?"
"Te-tentu bisa!"
"Coba, buktikan!" lalu orang berambut hitam itu melempar Kurapika kedanau.
"Kuroro! Tolong!"
-oOo-
"Kurapika.."
Mata Kurapika perlahan terbuka. "Ayah?"
"Kurapika.."
Kini, matanya benar-benar terbuka. "Kuroro!? Sialan kau!" lalu Kurapika menampar Kuroro.
-skip-
"Kau bisa berjalan, Kura-chan?"
Kurapika menggangguk. "Bisa. Trims, Shalnark."
"Kau mau aku antar pul—"
-oOo-
"Dia.. Gurita berwarna.. Hitam. Mulut yang berbentuk seperti, 'O'.."
"Ceritakan lagi! Aku tak sempat melihatnya!"
Kurapika menampar Kuroro untuk kedua kalinya. "Aku takut!"
-skip-
"Baik, kau menang. Ciri-cirinya, berwarna hitam.. Tidak, merah. Mulut seperti huruf 'O', besar dan.."
"Bagus! Ikut aku!"
-oOo-
"Kurapika, Gon dan.."
"Leorio!"
"Ya. Cepat kalian sembunyi,"
"Kalau kau tidak mau, biar aku dan Gon saja. Ayo, Gon!"
"U-uh." jawab Gon.
"Oh! Tunggu!" panggil Leorio.
-skip-
"Hei gurita aneh! Jelek! Kau fikir kau bisa memakanku? Rasaku tidak enak! Karena aku dipenuhi dendam!"
-oOo-
"Claire!" kedua anak 'Claire' itu menoleh.
"Valent!" jawab salah satunya.
"Aku dengar, kau dikeluarkan dari Ryodan? Apa benar?" tanya Valent.
"Maaf mengganggu. Shalnark, aku akan kerumah Killua."
End of Kurapika's Memories.
Pearl membuka matanya dan tersenyum. "Jadi, itu caranya bagaimana kau bertemu Kuro nii-sama."
"Pearl,"
"Hn?" si Pearl hanya membalasnya dengan 'hn', sambil menyeruput minuman pesanannya. "Kenapa, Kurapika?" lanjutnya secara melepaskan mulutnya dari ujung sedotan.
"Apa menurutmu— Ah, lupakan." kata Kurapika sambil memejamkan matanya dan menyeruput juga minuman pesanannya.
Kurapika memang menarik, seperti yang kau deskripsikan, Kuro nii-sama.. Pearl membatin sambil memejamkan mata dan menikmati minumannya. Tak lama Pearl berdiri dan berpamitan pada Kurapika. "Aku akan pulang. Titipkan salamku untuk kakakmu."
"Pulang?" Kurapika mengulangi kalimat Pearl.
"Tenang, aku yang traktir.." lalu Pearl berbalik dan mulai berjalan.
"Tunggu! Bukan itu maksudku."
Pearl berhenti dan berbalik kearah Kurapika. "Lalu apa?"
"Kau tidak mengintip kebagian privasiku, 'kan?" Kurapika bertanya dengan nada yang agak malu.
"Pri— Tentu saja tidak. Aku tidak berani sampai kebagian privasi seseorang, Kurapika."
"T-trims."
"Ada lagi? Kalau begitu, aku akan membayar minuman kita dan kembali pulang."
Setelah Pearl menghilang dari pandangan Kurapika, Kurapika mengeluarkan ponselnya dan memencet nomor seseorang. "Killua? Iya. Bisa kau bertemu denganku di cafe Fall? Iya. Sekarang. Aku tunggu disini. Oke, terima kasih atas perhatianmu." Kurapika memutuskan sambungannya dan memejamkan matanya lagi.
Karena bosan, Kurapika akhirnya membuka ponselnya dan bermain dengan ponselnya. Lalu, ia melihat nomor telepon seseorang yang hampir saja membuatnya kehilangan mahkota kesuciannya. Ia membaca nama itu dan tersenyum. Ia terhanyut dengan senyumannya sampai tak menyadari kalau ada Killua dibelakangnya. Bahkan, sampai Killua duduk didepannya-pun, ia tidak melihatnya.
"Terhanyut dalam duniamu sendiri sampai tidak menyadari kedatanganku, ya, Kurapika?" salam Kilua dan berhasil membuat Kurapika hampir terloncat.
"Se-sejak kapan kau datang, Killua?" tanya Kurapika dengan nada yang agak panik dan menutup ponselnya.
"Sejak tadi. Kau tersenyum sendiri dengan ponselmu, memang apa yang membuatmu tersenyum begitu?" kini, Killua yang bertanya pada Kurapika.
"Tidak ada hal istimewa. Bagaimana kabarmu?"
"Baik. Kau? Ngomong-ngomong, ada apa, sampai menyuruhku datang menemuimu?"
"Hanya ingin berbicara tentang.." Kurapika mengisyaratkan Killua agar mendekat. Dan Killua menurut. "Apa kau bisa merahasiakan in—"
"Ehem.." seseorang berdehem. Kurapika dan Killua menoleh kesumber suara dan mendapatkan Leorio dan Gon yang sedang menyamar menggunakan koran sebagai perantara.
"Sst.. Leorio, kan sudah kubilang untuk tidak berisik.." kata Gon dengan nada yang berbisik.
"Tapi, mereka sangat dekat! Aku tidak kuat melihatnya!"
Lalu, diposisi Kurapika dan Killua, Kurapika memicingkan matanya sedikit. "Apa kau mengajak mereka?"
"Tentu saja tidak. Aku tidak berani melanggar perintahmu."
"Begitu?"
"Hn."
"Hei, kalian sedang apa?" Leorio dan Gon yang sedari tadi menyamar, kini membuka penyamaran mereka dan mendekati Kurapika dan Killua. Lalu, Gon duduk di samping Killua dan Leorio duduk disamping Kurapika.
"Tidak ada. Killua, akan aku kirim pesan. Kau bawa ponsel, 'kan?"
"Ya. Aku bawa."jawab Killua singkat.
Ketika Kurapika ingin menulis surel, tiba-tiba Kuroro ada disamping jendela dan membuat Kurapika syok bukan main. Kuroro berjalan dan akhirnya masuk kedalam restoran dan bergabung dimana Kurapika berada. Lalu, dengan nada dan wajah yang datarnya, Kuroro bertanya pada Kurapika. "Apa tadi Pearl menemuimu?"
Ketiga temannya hanya memandang Kuroro dengan tatapan mau-apa-kau-kesini?
"Jangan buat aku mengulangi perkataanku, Kurapika."
"Tidak. Ia tidak menemuiku. Aku juga tidak tahu dimana dia sekarang."
"Jangan bohong!" Kuroro membentak Kurapika. Dan itu sukses membuat ketiga temannya tercengang. "Akan kuulangi kalau begitu. Apa tadi Pearl menemuimu?"
Kurapika menoleh dari tatapan Kuroro dan menghadap jendela. Tatapan yang mengintimidasi. Batin Kurapika.
"Kau tahu?" Kuroro mulai membuka suara setelah diabaikan Kurapika. "Pearl sebenarnya bukanlah adikku,"
"Hn. Aku tahu."
"Kalau kau sudah tahu, berarti tadi Pearl menemuimu?"
Kurapika memejamkan matanya dan menghela nafas. Lalu melanjutkan menulis surel yang sempat terhenti karena Kuroro.
To: Killua.
Mungkin tidak sekarang, Killua. Karena ada Gon, Leorio dan Kuroro juga, disini. Aku takut mereka mendengar percakapan kita. Sekali lagi, maaf.
From: Kurapika.
Lalu Kurapika memencet tombol 'send' pada ponselnya disudut kanan bawah. Killua merasakan sakunya bergetar dan ia tersenyum simpul. Sudah dikirim, rupanya. Batin Killua.
Setelah Killua membaca isi pesan Kurapika,ia segera membalasnya.
To: Kurapika.
Baik. Aku mengerti. Telfon saja aku ketika kau sudah ada dirumah.
From: Killua.
Kini, giliran saku Kurapika yang bergetar. Lalu Kurapika membaca sms Killua. Tak lama, Kurapika berdiri. "Aku akan pulang." sontak, kata-katanya membuat ke empat lelaki disekitarnya menoleh ke arahnya.
"Kurasa, Shalnark membutuhkanku. Aku permisi." setelah Kurapika berkata begitu, Leorio dan Kuroro menyingkir. "Killua, jangan lupa lihat ponselmu."
"Hn."
Kriiiiing
Suara bel pintu kafe terbuka. Kurapika keluar melewati Kuroro dan teman-temannya. "Kurapika! Tunggu!" Kuroro berteriak sambil mengejar Kurapika.
Dijalan, ia membuka ponselnya dan mendapat sms dari Killua.
From: Killua.
Kuroro mengejarmu. Sembunyilah.. :3
To: Kurapika.
Kurapika menahan ketawa membaca sms dari sahabatnya yang berambut silver itu. Dan benar saja, Kurapika mendengar namanya dipanggil beberapa kali oleh orang yang sepertinya ia kenal. Ia menoleh dan membelalakkan matanya. Lalu ia menunggu sampai orang itu berada didekatnya.
"Kenapa kau berhenti?" tanya orang itu.
Kurapika tidak mengiyakan pertanyaan orang itu. Kurapika memandangnya takjub. Sampai tak berkedip. Dia.. Memang keren. Bahkan, ia tidak berkeringat sedikitpun. Dari kafe Fall ketempatku berdiri sekarang ini kan.. Cukup jauh. Kurapika berkata dalam hati.
"Hei." orang itu melambaikan tangannya didepan wajah Kurapika. "Kau kenapa? Hei! Berkedip! Kurapika.." merasa tak mendapat jawaban, Kuroro– Orang yang dipandangi Kurapika tanpa mengedip, mengguncang-guncangkan badannya. "Hei! Kurapika.."
"E-eh.." Kurapika mengedipkan matanya 3 kali. "Kuroro?! Kapan kau disini?"
"Sedari tadi. Mau pulang, 'kan? Aku antar!" Kuroro berkata sambil menggandeng tangannya. Sama seperti pasangan baru.
"Lepaskan! Lepas—" belum sempat Kurapika melanjutkan, Kuroro berlari sekencangnya. Dan itu sontak membuat Kurapika ikut berlari. "Kuroro,"
"Diam. Aku merasa.. Kalau ada orang yang mengikuti." kata Kuroro datar.
"Tapi, dibelakang tidak ada siapa-siapa. Memang, siapa yang mengikuti kita, Kuror–" Kurapika menggantungkan kalimatnya ketika Kuroro berbelok tajam. Wajah Kurapika abstrak seketika. Lalu ia mengedip sekali. "Hei! Kau hampir membunuhku karena kau berbel–"
Bukk!
Kuroro berhenti berlari secara mendadak. Sontak itu membuat Kurapika menabrak punggungnya. Lalu ia menarik dirinya dari punggung Kuroro dan memegang hidungnya. "Oh.. Hidungku.. Aku harap kau tidak patah." kata Kurapika dengan nada memelas. "Dan, Kuroro! Apa yang kau fikirkan?! Berhenti mendada– hei! Aku sedang bicara padamu!"
"Diam!" Kuroro membentak Kurapika. Sontak ia menurutinya, tanpa sadar pastinya. "Keluarlah. Aku tahu kau ada disana. Mau apa kau mengikutiku dan mengikutinya?"
Lama tak terdengar suara. Sepi. Sangat sepi. "Kuroro, mungkin kau salah. Tidak ada yang mengikuti kita." kata Kurapika sambil berbisik.
"Oh, aku ketahuan, ya?" jawab seseorang yang entah ada dimana.
"Keluarlah. Tak usah bermain petak umpet."
Kurapika tak mengerti. Kenapa Kuroro menyadarinya sedangkan ia tidak? Apa ia terlalu lelah karena beban fikiran? Entah lah.
"Kuroro.. Lucifer, 'kan?" tanya orang itu. Lalu ia keluar dari tempat persembunyiannya. "Perkenalkan. Namaku Karin. Karin Musle. Dan kau pasti, Kurapika Claire, benar?"
Kuroro dan Kurapika kaget. "Kurapika.. Mundur." Kuroro membentangkan tangan kirinya untuk mencegah Kurapika maju selangkah.
"Kuroro.. Siapa itu Karin Musle?"
"Musuh bebuyutan keluarga Lucifer. Musle. Keluarga paling dipandang di Yorkshin, 15 tahun lalu. Ketika aku baru berumur 14.."
Flashback-
[Keluarga Musle, keluarga terpandang di kota ini sedang berbahagia. Mereka baru mempunyai pewaris kecil yang lucu. Seorang bayi perempuan yang diharapkan dapat mengatur keuangan keluarga Musle, Karin Musle. Sekarang, saya sedang berada di kediaman keluarga Musle. Saya juga ditemani oleh salah satu butler pribadi mereka. Apa pendapatmu tentang pewaris keluarga yang baru lahir ini, tn. Yukio?] tanya seorang reporter.
[Pendapatku tentang Nona muda Karin? Ya. Saya harap Nona muda Karin dapat memenuhi harapan tuan besar dan nyonya besar.] jawab sang butler yang bernama Yukio.
[Ngomong-ngomong tentang pewaris baru, Karin. Siapa yang akan menjaganya?] tanya reporter itu lagi.
[Tentu saja saya dan Liona. Liona adalah butler magang yang baru berusia 3 bulan di keluarga Musle. Butuh 5 atau 7 tahun untuk mendapat kepercayaan penuh keluarga Musle.] jawab Yukio.
[Jadi, butuh kesabaran dan keuletan yang ekstra untuk menjaga nona muda Karin, benar?]
[Tentu sa–]
Cuuut(?) *suara tv yang dimatikan*
"Kuroro, berhenti menonton televisi! Cepat kau pergi ke kediaman Musle dan buatlah keributan."
"Tapi, ayah.."
"Sudah! Cepatlah."
"Baik, ayah."
Lalu pemuda berambut hitam itu berdiri dari sofa kumuhnya dan berjalan keluar pintu. "Aku berangkat."
Dijalan, ia hanya menunduk dan merelungkan kalimat ayahnya. Cepat kau pergi ke kediaman Musle dan buatlah keributan! "Huh! Aku selalu diberikan tugas kotor oleh ayah. Kenapa tidak ayah saja?"
Buuuk!
Kuroro menabrak seorang pemuda lainnya yang berambut pirang. "Maaf. Apa kau tidak apa-apa?" lalu Kuroro membantu orang yang ia tabrak itu. "Aku benar-benar minta maaf," setelah orang itu terbangun dari jatuhnya, ia tersenyum kearah Kuroro.
"Aku baik-baik saja, namaku Shalnark Claire. Namamu?"
"Kuroro Lucifer." jawab Kuroro singkat.
"Salam kenal. Kuharap, kita bisa berteman! Ngomong-ngomong, kau ingin kemana?" tanya Shalnark ketika melihat Kuroro segera berjalan dengan tergesa-gesa. "Bolehkah aku ikut bersamamu? Lagi pula, aku orang baru disini,"
"Oh, tentu saja. Aku akan menjalankan sebuah misi yang ayahku berikan kepadaku. Kau ingin membantuku?" tanya Kuroro.
"Tentu!" jawab Shalnark singkat
-oOo-
"Disini. Disini kita akan menjalankan misi yang ayahku berikan. Kau siap?"
"Misi apa, memangnya, Kuroro?" tanya Shalnark.
"Menghancurkan keluarga Musle.." jawab Kuroro datar.
"Apa? Kenapa ayahmu memberikan tugas yang begitu berat kepadamu, Kuroro?"
"Aku tak punya banyak waktu lagi untuk menjelaskannya kepadamu! Ayo!"
End Flashblack-
"Apa? Jadi, Shal—"
"Awas!" Kuroro memotong kalimat yang akan keluar dari bibir Kurapika dengan mendorongnya kebelakang. Sehingga ia menabrak dinding.
"Lucifer! Terkutuklah kau! Kau dan teman pirangmu telah berhasil menghancurkan keluargaku! dan kini, Aku akan membalaskan dendam mereka!" seru Karin. "Jika dulu kau ingin membunuhku, kini aku akn membunuh teman kencanmu, Kurapika Claire. Aku akan membuatmu merasakan apa yang aku rasakan 15 tahun lalu!" lanjutnya,
Raut wajah Kuroro berubah. Yang tadinya datar, tanpa eskpresi, kini menjadi seram. "Jika kau menyentuh Kurapika dengan jempolmu saja, akan kubunuh kau!" ancam Kuroro.
"Ohoho.. Kau mengancam untuk membunuhku? Coba saja kalau berani!" ledek Karin. "Palingan, kau hanya terfokus untuk melindunginya saja, iya, 'kan?" tambahnya.
"Hei! Jangan kau fikir aku ini tidak bisa apa-apa!" Kurapika tiba-tiba marah karena Karin 'mengejeknya' terus menerus. "Kau mau aku menghadapimu? Oke! Tapi, jangan harap aku akan berbelas kasihan, padamu!"
"Oi, Kurapika! Berhenti! Kau tahu apa yang kau bicarakan?" tanya Kuroro kepada Kurapika ketika Kurapika menabrak tangan kiri Kuroro. "Kau pasti tahu Hisoka, bukan?"
"Tahu. Pesulap psikopat yang selalu mengejar Gon, entah karena suatu alasan, benar?" jawab Kurapika. "Memang, apa hubungannya orang ini dengan Hisoka?"
"Bukan hubungan. Lebih tepatnya, kesamaannya. Kalau Hisoka mengejar Gon, kini dia mengejar.." Kuroro menggantungkan kalimatnya. Berharap Kurapika berhasil menjawabnya.
"Mengejar, kau! Benar?" jawab Kurapika dengan tanpa dosanya.
Kuroro hanya menepuk jidatnya sekali dengan kencang. "Bukan, bodoh! Dia ini mengejarmu!" jawab Kuroro dengan nada yang 'agak' tinggi. "Baik, aku mau kau tetap berpegangan padaku. Mengerti?"
"Untuk apa?" tanya Kurapika 'polos'.
"Maaf aku mengganggu.. Tapi, apakah kalian sudah selesai dengan urusan pribadi kalian masing-masing? Jika sudah, aku ingin segera menyelesaikan masalahku dengan Lucifer bajingan ini! Oh, anak Claire!" Karin berkata sambil berkacang pinggang.
Kurapika agak tersentak ketika Karin menyebutkan ''anak Claire'. "Haa? Siapa yang kau panggil anak Claire?! Aku punya nama, kau tahu?!" Kurapika segera membentak Karin setelah itu. "Baik, apa maumu!?"
"Dimana kakakmu? Shalnark yang tidak tahu sopan santun! Dimana dia?!" tanya Karin kasar.
-oOo-
"Shalnark,"
"Ya?" tanya Shalnark ketika ia berhadapan dengan Pearl.
"Aku akan memberitahumu satu hal. Yang jelas, hal itu harus kau laksanakan secepatnya. Atau, kau dan Kurapika akan tersiksa,"
"Apa?" Shalnark bertanya lagi.
"Kau harus pindah dari kota ini secepat mungkin."
"Kenapa, Pearl?"
"Kau tak ingin dirimu dan Kurapika— terlebih lagi, Kurapika. Kau tak ingin ia dalam masalah terus menerus, bukan?" Pearl menjelaskan sembari bertanya. Shalnark hanya menggangguk menanggapi pertanyaan Pearl. "Maka, kau harus pergi. Lebih cepat kau pergi, keamanan Kurapika akan terjaga."
"Kenapa harus pindah? Apa maksudmu ke amanan Kurapika akan terjaga? Toh, selama ini aku ada disisinya untuk melindunginya. Jadi, tidak butuh pergi dari kota in—"
"Kau salah. Dengan hanya kau disisinya saja, itu belum cukup. Maksudku, siapa yang akan melindunginya ketika kau pergi bekerja? Kakak? Kalau moodnya sedang baik. Kalau tidak?" Pearl berkata sambil meyakinkan Shalnark. "Dengar, aku juga bisa mempediksi, bila kau dan Kurapika pergi secepatnya dari kota ini dan kau mencari pekerjaan di kota yang kau pilih, niscaya kau akan mendapatkan pekerjaan yang lebih dari yang kau jalani sekarang."
"Aku.. Baik. Namun, kau belum menjawab pertanyaanku. Apa maksudmu ke amanan Kurapika akan terjaga?"
"Apa kau ingat peristiwa ia diseret ke danau? Dan ia di ambil rohnya oleh Valent?" tanya Pearl meyakinkan.
"Hn. Aku ingat." jawab Shalnark dengan nada datarnya.
"Nah, begitulah serangkaian peristiwa yang akan menimpa Kurapika, nantinya. Apa kau mau kejadian itu terulang?"
"Tidak."
"Kalau begi— Shalnark!" Pearl memanggil nama Shalnark dengan nada membentak.
"Ya?"
"Shalnark, Kurapika dalam bahaya! Apa kau ingat Karin Musle?"
"Ingat. Anak seorang jutawan, itu bukan?"
"Hn. Nah, sekarang, Karin sedang berada di hadapan kakak. Dan kakak melindungi Kurapika. Karin bertujuan untuk balas denda kepadamu dan kakak. Lalu, ia bertanya kasar pada Kurapika. Katanya, jika kau tidak muncul, aku akan membunuh gadis itu! Apa yang akan kau lakukan, Shalnark?"
"Tentu saja aku akan muncul! Dimana dia?!"
"Ikut aku."
-oOo-
"Dimana! Keluarlah! Keluarlah Shalnark Claire! Keluarlah!"
"Hei, hentikan! Jangan memanggil namanya seperti itu!" Kurapika membentak Karin yang sudah setengah gila. "Hei! Aku bilang, berhenti! Berhenti!"
"Kurapika," panggil Kuroro. Kurapika berhenti dari kegiatan awalnya. "Shalnark.."
"A-apa?" Kurapika bertanya dengan wajah (o.O) "Apa? Ulangi!"
Kuroro mendekat ke telinga Kurapika. "Shalnark ada 150 meter didepan kita. Bersama Pearl juga. Setelah Pearl datang, kau harus segera lari."
"Kenapa?"
"Ikuti saja! Nanti kau akan pergi bersama Pariston."
"A-apa!?" tiba-tiba Kurapika membentak Kuroro. Sontak, itu membuat Karin terkaget dan melihat ke arah mereka. "Kenapa kau mengikut sertakan dia!? Dia tidak bisa apa-apa, kau tahu!?"
"Hn. Maka dari itu, dia akan mengajakmu berlari dan bersembunyi."
"Apa?"
"Diam! Shalnark 45 meter di depan kita." lalu Kuroro mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan kepada seseorang. "Ya. Pariston akan datang menjemputmu sekitar 3 menit lagi."
"Dimana kau!? Keluarlah! Supaya aku bisa membalaskan dendam keluargaku!" Karin mulai tak sabar. Ia membalikkan tong sampah besar hanya dengan jari telunjuknya. Ia melemparkan semua isi sampah yang ada ke arah Kurapika dan Kuroro. "Berhentilah bermain petak umpet lagi, pengecut!"
"2 menit lagi.." Kuroro mengingatkan.
"Oh! Apa jadinya ini!? Lucifer! Apa teman sintingmu itu akan hadir disini!?"
"Jangan sebut Shalnark dengan sebutan sinting, kau gila!" Kurapika mulai ke habisan kesabaran.
"1 meit lagi.. Kurapika! Jangan terpancing emosinya!"
"Baik," jawab Kurapika singkat. "Oh, he—"
"Ah~ Shalnark Claire memang pengecut! Aku akan menunggu disini saja, kalau begitu. Kalian, silahkan bicara sesuka hati kalian saja. Aku sudah bosan."
"Sekarang!" Kuroro berteriak dan mendorong Kurapika ke sisi kiri tempat gelap.
-oOo-
"Pa-pariston. Apa yang kau lakukan?"
"Menarikmu, tentu saja. Membawamu kabur dari masalah yang seharusnya tidak perlu kau tahu." jawabnya.
"Aku tidak bertanya padanya! Ia sendiri yang memberitahuku!"
"Lupakan, Kurapika! Oh, aku mendapat e-mail dari bibi Bisuke."
"Benarkah? Apa katanya?"
"Sebelum itu, kita berhenti di suatu tempat dulu. Oh, disana! Di taman sana!" lalu Pariston menarik tangan Kurapika untuk mengikutinya ke taman. Lalu mereka berdua duduk di salah satu bangku taman. "Ini," Pariston menyodorkan ponselnya kepada Kurapika.
From: bisukechama1
Dear, Pariston.
My lovely Pariston, how are you? Aku sedang ada di pulau yang belum teridentifikasi apa namanya. Aku dengar dari banyak orang yang mengabariku, they said, mr. Hill has got new partner! Oh, i'm so glad to hear that! By the way, siapa partner barumu?
Pariston, i want to ask you something. How about Kurapika's condition? Katanya ia tak sadarkan diri, ya? Because a red giant octopus atacked her, benar? I'm so sorry to hear that and i can't visit my lovely Kurapika. Who knows, dengan my Cookie power nen, ia bisa kembali sehat sediakala.
Pariston, please to tell this to Shalnark. Don't push his self. Because, nanti dia akan sick.
Oke, only that yang aku bisa kabarkan dan tanyakan padamu. See you, Pariston, Kurapika.. Juga Shalnark :)
Receiver: paristonhill08
Setelah Kurapika selesai membaca isi e-mail dari tante kesayangannya itu, i menjadi abstrak. "Ahaha.. Sudah kuduga.." kata Kurapika sambil tertawa yang dipaksakan. "Dia itu kan.. Bulepotan.."
"Kurapika?" seseorang memanggil Kurapika yang sedang duduk di bangku taman. "Kurapika? Aha! Aku benar, 'kan, Killua?"
Killua? Jangan-jangan.. "Gon? Killua? Itu kalian?"
"Iya! Tunggu kami!"
"Siapa?" tanya Pariston.
"Oh, benar. Kau belum berkenalan dengan mereka. Mereka Gon dan Killua. Kau akan jatuh cinta pada mereka pada saat baru pertama kali berbicara."
"Ha?" wajah Pariston langsung abstrak seketika.
"Kurapika, kami kembali~" ucap Gon senang. "Kami sangat merindukanmu! Sangat!"
"Hn. Kau menghilang dari café. Kemana saja, kau? Kuhubungi, telfonmu tak menyala. Oh, kau bilang kau ingin membicarakan sesuatu. Apa itu?"
"Nanti saja. Mungkin masalah ini tidak terlalu penting. Kalau ada masalah yang penting, baru aku mengirimkanmu e-mail."
"Huh! Kau ini sama saja dengan Gon! Kau tahu!? Aku sempat khawatir! Kau menghilang begitu saja! Kau pergi tanpa pamit! Atau mungkin, kau pamit? Entahlah, aku lupa. Intinya, jangan suka buat aku khawatir! Cukup Gon saja, mengerti!?"
"Me-mengerti, Killua-sama.." jawab Kurapika dengan nada yang agak mengejek.
Mendengar di panggil Killua-sama oleh Kurapika, ia merasakan getaran aneh merambat perlahan. Dan ia tersipu hebat. "Ja-jangan panggil aku dengan Killua-sama! Dipanggil begitu olehmu itu, rasanya aneh!"
"Hihi.. Iya, aku mengerti, Killua."
"Kurapika!" panggil seseorang. "Kurapika," orang itu memanggil lagi. Setelah orang itu sudah berada di hadapannya, ia berkata. "Ayo cepat pulang!"
"Kenapa?"
"Kita harus segera pergi dari tempat ini!" terangnya.
"Ap maksudmu pergi dari tempat ini?"
"Kita harus pergi keluar kota! Secepatnya!"
"A-apa? Tunggu!" Killua menahan Shalnark ketika ia menggandeng tangan Kurapika. "Apa tujuanmu membawa Kurapika keluar kota? Apa jadinya kami jika kami kehilangan Kurapika?"
"Killua," suara Shalnark merendah. "Ini semua kulakukan demi kebaikan dan keamanan jiwa Kurapika, kau tahu? Aku tahu, kalian bahkan tidak bisa menerima kenyataan ini. Apalagi, Kurapika?"
"Tapikan, jika kau berangkat kerja, aku dan Gon akan menemaninya, sampai kau pulang.."
"Apa kau akan membiarkan seorang gadis menerima dua orang tamu lelaki, setiap hari?" Shalnark melepaskan genggaman tangannya yang menggandeng tangan Kurapika. Lalu membentak Killua. "COBA KAU FIKIRKAN! APA YANG AKAN TERJADI PADANYA, NANTI!? KAU MAU, SAHABATMU DI BILANG WANITA MURAHAN!?"
"Te-tentu saja tidak. Namun, Pearl, adiknya Kuroro kan bisa menemaninya." Killua mulai berdebat dengan Shalnark.
"Kau fikir, Pearl tidak bekerja? Ia bekerja di kantor yang sama dengan tempatku bekerja!" Shalnark membalas debatan Killua dengan emosi.
"Sudahlah, Shalnark.. Maksudnya Killua itu, baik."
"Ah. Aku tau maksudnya. Tapi penggambaran situasinya itu tidak tepat!"
"Sudah. Killua, maafkan Shalnark. Biasa, jiwa melindunginya, sedang On. Kalau aku sudah sampai luar kota, akan ku e-mail kalian. Selamat tinggal, Pariston, Gon, Killua, Pearl dan.. Kuroro.."
-oOo-
From: kurapika
Gon, Killua, Pariston dan Pearl.. Aku ingin memberitahu kalian satu hal.
Yaitu, aku sudah ada di luar kota. Entah kota apa namanya, ini. Namun, orang-orangnya lumayan ramah. Shalnark memberitahuku, bahwa pekerjaan yang ia ambil, lebih besar pendapatannya dibanding pekerjaannya yang lama. Kabarku dan Shalnark baik-baik saja.
Pearl? Aku harap, aku dapat bertemu kau lagi di suatu tempat. Kuroro juga :)
Killua, aku minta maaf atas perkataan Shalnark 3 minggu lalu. Aku masih tidak bisa melupakannya. Gon? Bagaimana denganmu?
Pariston, apa tante Bisuke masih seorang bulepotan? Atau ia sudah insyaf menjadi bulepotan? Haha.. Astaga..
Ya, mungkin hanya segitu saja yang bisa aku kabarkan kepada kalian. Kalau aku sudah tahu nama kotanya, akan ku e-mail lagi. Da~
To: gonfreecss
killuaz
paristonhill08
pearlucifer
-oOo-
A/N: iya, haha~ akhirnya selesai juga, chapter ini, nya~n.. Aku mau nanya nih, satu chapter lagi (epilogue), alur ceritanya akan bagaimana, ya? Maksudnya, di epilogue nanti, Kurapika akan menemukan seseorang? Yang jelas-jelas itu OC :3 atau sebenarnya dia masih mencintai..(?) Kuroro tapi melupakan wajahnya? Dimohon bantuannya.. Shankyuu, nya~n!
