This... for you.

I don't own KWMS

Edisi Hari: Pagi

Misaki Ayuzawa membuka pintu depan rumahnya pelan. Mulut kecilnya mengapit sehelai roti bakar yang baru saja disajikan oleh adiknya. Ia hampir saja berteriak dan menjatuhkan rotinya ketika sebuah suara tiba-tiba menerpa gendang telinganya.

"Yo, Prez!" sapa Takumi Usui dengan suara monoton khasnya. Ia mengangkat tangan kanannya sekilas dengan wajah datar di wajahnya.

Misaki mematung sejenak di tempat, memandang laki-laki setinggi 6 kaki di depan rumahnya tanpa kata. Takumi sudah menggunakan seragam yang berbeda darinya hari ini. Seragam putih dengan garis biru di sekitar leher dan pergelangan tangan terlihat cocok di tubuh atletisnya.

"Usui Bodoh! Jangan mengagetkanku!" gerutu Misaki setelah menelan habis rotinya, lalu berjalan mendekati Takumi. "Dan, apa yang kau lakukan sepagi ini di depan rumah orang lain?" Misaki berjalan mendahului Takumi.

"Ralat, Prez. Depan rumah pacarku bukan orang lain," sanggahnya dengan kalem. "Ah. Abaikan saja aku karena aku adalah permen karetmu." Ia berjalan mengikuti Misaki, lalu dengan langkah kakinya yang panjang ia menyamai langkah kaki Misaki.

"Terserah."

"Jujur saja. Kau senang kan melihat wajah tampan pacarmu pagi ini?" goda Takumi dengan seringai di bibirnya.

Pipi Misaki mulai memerah. "Pervert!"

Kata yang keluar dari mulut Misaki semakin melebarkan seringai di bibir Takumi. "Lihat lihat. Kau sudah kehabisan kata dan menggunakan kosakatamu yang sangat minim itu. Ini masih pagi, Misa-chan."

"Berhentilah mengikutiku dan pergilah ke sekolahmu," perintah Misaki lirih, tanpa menatap lawan bicaranya.

"Aku akan berpura-pura tidak mendengar kalimatmu barusan, Misa-chan," sahut Takumi sambil memasukan kedua tangan ke dalam saku celana putihnya. Ia terdiam sejenak, menerawang, lantas berkata pelan dan lirih. "Aku hanya ingin Ayuzawa menyambutku dengan senyuman, karena aku tak bisa menemuinya di sela-sela pergantian pelajaran nantinya."

Sebenarnya ia menggumam untuk dirinya sendiri. Namun jarak yang tak jauh di antara keduanya, membuat Misaki bisa menangkap kata-kata Takumi. Gadis itu hanya terdiam, menundukan kepalanya, dan memegang tali tasnya dengan erat.

Keheningan menemani langkah kaki mereka hingga sampai di depan gerbang Seika yang masih terlihat sepi. Misaki berhenti lalu memutar badannya untuk menghadap Takumi. Ia mengangkat wajah yang menampakan ekspresi... ragu.

"Ada apa Misa-chan?" Takumi bertanya dengan nada riangnya. "Ingin menciumku?" Takumi mengira, ia akan dilempari dengan kata-kata 'Alien Mesum!', 'Pervert!', 'Alien Mesum Bodoh dari Planet Pheromon!' atau semacamnya. Namun kali ini, gadis di hadapannya hanya terdiam sambil menatapnya.

Semenit saling menatap tanpa kata, Misaki akhirnya membuka mulut. "Jaga dirimu baik-baik, Usuiku Bodoh!" Lalu, dengan cepat, ia mendekati Takumi dan menjinjit. Ia mengecup pipi Takumi kilat. Tanpa mengatakan apapun setelah itu, ia langsung berbalik dan masuk ke dalam sekolah dengan wajah merah padam.

Sementara Takumi, mematung di tempat dengan mulut sedikit terbuka. Kemudian, ia mengeluarkan tangan kanannya dari saku celana dan menempelkan telapak tangannya di pipi, di mana Misaki mengecupnya beberapa detik yang lalu. Ia tersenyum dengan sedikit rona merah muda terbit di wajahnya.

"Jeez. Dia benar-benar tak bisa kutebak."

-x-x-Tamat untuk Edisi Hari Ini-x-x-