Never Happy Ending
.
.
.
.
Prolog
Tahun ajaran baru sudah berada didepan mata. Itu artinya hanya tinggal menghitung beberapa hari saja. Menghitung mundur dimana sekolah akan kembali ramai. Dimana jalan akan tertutup oleh puluhan—bahkan ratusan kendaraan.
Kyungsoo. Satu dari sekian banyak siswa yang akan menghadapi masalah itu. Oh ayolah, tahun ajaran baru bukanlah hal yang terlalu menyenangkan.
Belum lagi, Kyungsoo harus menghadapi kenyataan bahwa dia harus berpisah jarak dengan keluarga kecil tercintanya—Bukan, Kyungsoo bukanlah seorang suami yang memiliki istri dan anak. Keluarga kecil yang dimaksud adalah Appa, Eomma, dan 2 adik kecil tercintanya. Berpisah jarak itu sangat tidak menyenangkan.
.
.
.
Seoul High
Sekolah berlantai tiga. Sekolah elit yang disegani banyak orang. Kyungsoo akan menuntut ilmu selajutnya disini. Well, bagi Kyungsoo, dia hanya beruntung dapat diterima disini. Begitulah.
"Kyungsoo-ya! Hey Kyungsoo-ya!"
Ada juga ya orang yang mengenal Kyungsoo.
"Hai Daehyun, ada apa?"
"Oh ayolah soo, kau ini kenapa? Jangan melamun saja! Kulihat dari jauh kau sudah menabrak dua orang. Kau kenapa, hm?" Jelas anak bernama Daehyun yang merupakan teman sekolah menengah pertama Kyungsoo. Daehyun menatap Kyungsoo intens, bahkan dia hanya mengerjap sekilas.
"Kurang enak badan." Jawab Kyungsoo seadanya.
"Hngg, kau ini. Yasudah, mungkin kau ada masalah. Kalau tidak keberatan, ceritanya saja padaku. Aku pasti akan mendengarkannya dengan baik. Hm.. Kyungsoo-ya , aku kembali kebarisan ku ya."
"Silahkan, aku tak melarangmu."
Hari pertama. Tidak menyenangkan. Kyungsoo malas.
.
.
.
Sial, Sial, dan Sial. Mungkin itu adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang dirasakan Kyungsoo. Sial.
Bagaimana tidak sial jika dalam satu minggu, tenaga terkuras habis. Waktu tersita banyak dan pikiran terbuang percuma. Ospek memang hal paling menjijikan bagi Kyungsoo. Jika dia tau jika rasanya akan se-sial ini, dia tidak akan bersyukur masuk kesekolah ini. Asal kalian tahu, Seoul High memang terkenal dengan ospeknya yang mengerikan.
Kyungsoo terlalu lelah berdebat dengan kata sial diotaknya. Dia memilih untuk tidak ambil pusing lagi dengan ospek. Lagipula, itu sudah terjadi dua minggu yang lalu. Sekarang dia hanya perlu bersenang-senang ria karena dapat masuk ke kelas X Science 1. Kelas yang—bisa dibilang adalah kelas unggulan. Kyungsoo bangga.
.
.
.
Dengan tas yang menempel sempurna dipunggungnya, Kyungsoo berjalan riang sembari bergurau tak jelas—sebenarnya Kyungsoo bernyanyi, hanya suaranya saat bernyanyi sangat tidak jelas— menuju kelasnya yang berada di ujung koridor. Hari ini suasana hati Kyungsoo sedang baik. Jadi, penampakan kyungsoo yang sedang bernyanyi tak jelas dengan senyuman tiga jari bukanlah hal aneh.
Pintu kelas sudah berada didepan kedua mata bulat Kyungsoo. Oh demi boneka pororo yang tidak pernah dicuci, Kyungsoo gugup. Fakta dimana Kyungsoo sebenarnya adalah orang pemalu membuat hatinya sedikit menciut. Ayolah, dia akan menghadapi teman baru. Bisa saja teman itu tidak suka dengannya kan? Ya bisa saja.
Knop pintu diputar. Dengan menahan gugup setengah mati, Kyungsoo perlahan masuk kedalam ruangan—yang biasa disebut kelas— itu dengan sangat perlahan. Alih-alih kelas masih sepi, Kyungsoo bisa merasa sedikit lega. Dia sudah masuk seratus persen kedalam kelas.
Tapi Kyungsoo merasa masih ada yang janggal dalam benaknya.
Oh
Dia ingat.
Kyungsoo ingat.
'Oh haruskah aku menggunakan kata sial itu lagi. DIMANA BANGKU YANG MASIH KOSONG?! ADUH BODOH KAU KYUNGSOO' batin Kyungsoo kini mulai beraksi. Kyungsoo lupa pada kenyataan jika dia tidak masuk saat perebutan bangku dikelas ini karena sakit. Dan kini? Oh dia tidak tahu harus duduk dimana. Kalau sampai salah tempat duduk—menduduki bangku yang sebenarnya sudah ditempati orang lain— bisa mati Kyungsoo.
'Apa yang harus kulakukan? Ish'
Kyungsoo pusing setengah mati. Ayolah, tadi dia sudah senyum tiga jari selama perjalanan menuju kesini.
Tak perlu waktu lama, akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk—
"Bangku yang kosong dimana ya?"
Bertanya.
Tidak salah kan?
"Disini! Duduk disampingku saja." Ucap seorang namja yang tengah duduk manis sambil menepak-nepak bangku kosong disampingnya dengan senyum yang merekah.
Kyungsoo mengerjapkan kedua mata doenya berkali-kali. Hey! Dia tidak menyangka akan mendapatkan respon secepat itu.
Kyungsoo hendak melajukan langkahnya, sampai dia terhenti sesaat.
Senyuman namja tadi.
Dia terbayang senyuman namja tadi.
.
.
.
.
.
'Itu senyum termanis yang pernah kulihat. Aku rasa aku suka.'
-TBC-
A/N: Helooo ini cerita pertama yang aku post disini. Jelek banget ya? Iyaaaaa pasti kan T-T tapi gaapa deh, udah berjuang bikinnya kok *angkat baekhyun*. Ini masih prolog, jadi ya gitu masih sedikittt banget wordnya hohoho. Mau lanjut? *maunya sih mau(?)*. Oke RnR please? :D
