I have a crush with my ex's boyfriend
Author : Do Sung Gyeol
Main pair : KaiSoo/KaiDO
Rate : M (for all)
Genre : Romance
Warning : I never write straight fic except for a slight, I never write GS, classic story, ini ngebut, OOC, typos(s), bahasa ga disensor, blablabla. Bad!Kai, teacher!Kyung Soo.
a/n : please read the warn before you read!
The chara belongs to God and this fic belongs to me
.
.
.
.
"Do sonsaengnim anda DI PECAT!"
"K- keundae... saya bisa menjelaskan semuanya"
"Menjelaskan apalagi eoh? Kau itu sudah mencemarkan nama baik sekolah ini! Kau harusnya tahu kau itu sedang berada di dalam posisi apa! Sonsaengnim mencabuli seorang muridnya, laki-laki pula, sonsaengnim macam apa itu!?"
"Saya mohon... saya mohon dengan sangat, saya akan menjelaskannya. Saya akan membawa Kai kemari dan menjelaskan semuanya"
Kyung Soo berlari sekuat tenaga, ia harus segera menemukan Kai dan memintanya untuk menjelaskan semuanya pada kepala sekolah.
Dia terus berlari hingga sampai di pintu utama sekolah. Ketika ia membukanya, Kyung Soo terkejut karena tiba-tiba saja ia berada di sebuah gereja. Gereja itu penuh dengan hiasan bunga.
Kyung Soo menatap ada tiga orang yang sedang berdiri disana. Seorang penghulu, Kai dan Miyoon. Kyung Soo berdiri terpaku, Miyoon dan Kai berbalutkan busana pengantin. Mulutnya mendadak gagap, Kyung Soo tidak percaya ini.
"Mempelai pria dipersilahkan untuk mencium mempelai wanita"
Mata Kyung Soo yang bulat semakin membesar saat Kai dan Miyoon berciuman dengan perasaan bahagia.
Tangan Kyung Soo terkepal, matanya memanas, ia ingin menangis, ia ingin menghentikan upacara pernikahan ini.
Entah sejak kapan Kyung Soo sudah bisa menggerakkan lagi kakinya. Dia segera berlari menuju pelaminan. Ia tidak terima Miyoon dan Kai berciuman dengan bahagia di depan matanya.
"Hentikan ini Kim JongIn!"
"Sonsaengnim?"
"Kyung Soo?"
Kyung Soo menangis dihadapan Kai dengan keras.
"Kenapa kau melakukan ini? Jadi setelah aku dipecat, kau malah menikah dengan Miyoon?"
"Sonsaengnim aku-"
"Kai babo! Padahal aku mencintaimu Kai!"
Sejenak Kai terdiam, namun beberapa saat kemudian ia menyunggingkan seringaiannya.
"Ah... jadi kau mencintaiku sonsaengnim?"
"Eh?"
"Ahahaha... sonsaengnim kau itu bodoh sekali! Tidakkah kau sadar kau sudah terlanjur berada di dalam perangkapku? Dan asal kau tahu saja sonsaengnim, aku hanya memanfaatkan tubuhmu! Juga apa tadi kau bilang? Cinta? Cih! Aku tidak mau dicintai oleh seorang ahjussi sepertimu!"
"Kai... KAAAIII!"
"HIYAAAAAAAAAAA!"
Kyung Soo terkejut dari tidurnya. Sungguh mimpi buruk yang benar-benar buruk. Kyung Soo mengatur nafasnya, kepalanya pun tiba-tiba terasa pening. Bagaimana bisa ia bermimpi dirinya dipecat dan melihat Miyoon dengan Kai menikah? Juga hal bodoh apa yang membuatnya mengatakan kalau dia mencintai namja kurang ajar itu?
"Aish... menyebalkan!" rutuk Kyung Soo.
Dilihatnya Kai yang masih tertidur pulas disampingnya. Tangannya dengan enak melingkar dipinggang ramping Kyung Soo. Ingin rasanya sonsaengnim itu mencabik-cabik orang yang sedang tidur nyenyak memeluknya.
"Ya! Kim Jo- Kai! Bangun murid kurang ajar!" kata Kyung Soo sambil menggoyang-goyangkan badannya.
"Eungg... sebentar lagi chagi... kau siapkan saja dulu sarapannya" katanya mengigau.
Kyung Soo menyerinyitkan dahinya sebal. Apa barusan Kai menganggapnya sebagai pendamping hidup? Semoga telinga Kyung Soo bisa normal kembali setelah ini.
"Ish... lepaskan tanganmu dari pinggangku sekarang juga!" Kyung Soo mendorong tubuh Kai jauh-jauh darinya.
Kyung Soo menghela nafas, matanya mengarah pada jam yang terpasang di dinding kamar hotel itu.
"Omo! Aku bisa terlambat masuk"
Kyung Soo segera menyibak selimutnya dan meloncat dari kasur. Kalau saja Kyung Soo ingat semalam ia sudah melakukan apa, Kyung Soo pasti tidak akan jatuh dengan posisi menungging saat ini.
Mendengar suara gubrak yang keras, Kai membalikkan tubuhnya. Murid itu baru sadar Kyung Soo sudah tidak ada disampingnya. Dan saat ia bangun, dirinya mendapati sang sonsaengnim dengan posisi tidak elit. Namun menurutnya itu merupakan posisi menggoda.
"Sonsaengnim, apa yang sedang kau lakukan? Kau ingin lagi eoh? Tapi punyaku belum bangun"
"Sudah jelas-jelas jawabannya adalah tidak!" jawab Kyung Soo berusaha berdiri dengan kedua kakinya.
Kai terkekeh saat melihat cara berjalan Kyung Soo yang 'unik' dari biasanya. Dan tentu saja Kai tahu siapa penyebab Kyung Soo berjalan seperti itu.
Tidak tega, Kai segera beranjak dari kasurnya lalu menggendong tubuh Kyung Soo menuju kamar mandi.
"Ya! Turunkan aku dasar murid sialan!"
"Aku akan membantu menggosokkan punggungmu sonsaengnim"
"Tidak perlu! Aku bisa mandi sendiri!"
Kai menurunkan Kyung Soo di bath tub dan menyalakan keran airnya. Ia hendak ikut masuk ke dalam bath tub itu sebelum akhirnya Kyung Soo mengusir Kai.
"Mau apa kau?"
"Mandi"
"Mandilah di shower!" bentaknya, JongIn menghela nafas menurut.
.
.
Setelah keluar dari hotel itu, Kyung Soo cepat-cepat pulang ke rumahnya untuk ganti baju dan menyempatkan sarapan.
Sampai dirumah, ia melirik jam sejenak. Masih ada 25 menit lagi sebelum berangkat ke sekolah. Kyung Soo memakai apronnya dan mulai memasak.
Tidak sampai 10 menit, Kyung Soo sudah menyiapkan sarapannya sendiri di atas meja makan.
"Selamat makan" ucapnya saat kemudian seseorang mengetuk pintu rumahnya.
"Aish... mengganggu saja"
Kyung Soo segera menghampiri pintu. Dan baru saja pintu itu dibuka, ia sudah kembali menutupnya.
"Sonsaengnim camkanman!"
Kaki Kai rupanya menahan pintu itu menutup. Namun Kyung Soo terus saja mendorongnya dan membuat kaki itu semakin terjepit.
"Appo! Sonsaengnim, kakiku terjepit"
Tidak mau peduli, Kyung Soo semakin kuat mendorong pintunya. Tapi, pada akhirnya Kai yang notabennya sering berolahraga itu membalas mendorong pintunya kuat-kuat. Alhasil Kyung Soo sedikit terpental saat Kai berhasil memenangkan pertarungan dorong mendorong itu.
Kyung Soo geram, matanya menatap Kai tajam. "Kenapa kau membuntutiku?" teriaknya.
"Hanya memastikan kau pulang dengan selamat sonsaengnim"
"Aku akan selamat tanpamu!"
Kai mendengus dan tertawa kecil. Sementara Kyung Soo terus saja menatap dingin orang di hadapannya. Sambil berdo'a agar dia segera keluar dari rumahnya sekarang juga.
"Sonsaengnim kau melupakan sesuatu"
"APA?"
Cup
Kai mencuri ciuman lagi dari Kyung Soo, "Morning kiss" katanya lalu tersenyum manis.
Kyung Soo masih mematung, itu ciumannya yang kedua dari Kai. Dan kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak dengan cepat karena ciuman tadi? Oh, jangan bilang Kyung Soo mulai menyukai muridnya itu. Karena itu tidak akan pernah terjadi.
Kai hanya main-main dengannya. Kyung Soo sudah camkan itu dari sejak pertama ia bertemu dengannya. Ditambah dengan mimpi buruk semalam, Kyung Soo tambah yakin.
"Sonsaengnim, ini benar-benar enak, boleh kuhabiskan?"
"YA! Itu sarapanku!"
.
.
.
.
Bel istirahat berbunyi, Kyung Soo selesai untuk jam kelas ini. Akhirnya ia bisa kembali istirahat di mejanya. Karena Kyung Soo sempat tidak fokus dalam mengajar, ia terlalu mengantuk ditambah badannya yang pegal-pegal karena aktivitasnya bersama Kai kemarin.
Kyung Soo juga tidak mau lagi bertemu dengan Kai, untungnya Kim sonsaengnim tidak keberatan jika harus bertukar kelas lagi. Sungguh sonsaengnim yang berhati mulia, pantas saja istrinya betah.
Dan sekarang waktunya untuk mendamaikan pikirannya. Namun kemudian Kyung Soo merasakan handphonenya bergetar dari dalam saku celananya.
Ada sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Isinya mengatakan bahwa Kyung Soo harus segera pergi ke atap sekolah sekarang. Kyung Soo mendengus, ia tahu siapa si pengirim pesan itu.
"Cih! Benar-benar murid kurang ajar, berani sekali memerintahku. Dia pikir aku ini apa?" Kyung Soo menggerutu, handphonenya ia masukan kembali ke dalam sakunya.
Baru beberapa langkah ia berjalan, handphonenya bergetar lagi.
"Kali ini apa!?" teriaknya dengan kesal. Kyung Soo membaca dengan seksama, Kai mengancamnya kali ini, dia bilang kalau Kyung Soo tidak kesana maka foto itu akan segera tersebar dalam waktu beberapa detik.
Skakmat lagi! Kyung Soo hanya menghela nafas pasrah. Kai masih mempunyai senjata pamungkasnya. Mau tak mau Kyung Soo pun harus menurut.
Ketika Kyung Soo membuka pintu atap, tangannya tiba-tiba ditarik dengan kencang. Alhasil, Kyung Soo jatuh dipelukan seseorang. Kim JongIn alias Kai.
Tubuh Kyung Soo dipeluk erat oleh namja itu. Kai menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kyung Soo, mencium aroma sabun hotel yang sama-sama ia gunakan tadi pagi. Sedangkan Kyung Soo tidak bisa meronta sama sekali, Kai benar-benar mendekapnya kuat.
"Jadi, berikan alasan kenapa kau tidak mengajar dikelasku lagi sonsaengnim"
"Aku malas bertemu denganmu Kim JongIn"
"Oh, kau mulai menghindariku?"
Tangan Kai menyusup ke sela-sela celana Kyung Soo. Kyung Soo sudah mewanti-wanti, Kai pasti akan melakukannya lagi. Dan sekarang Kyung Soo mulai menggerakkan tubuhnya agar bisa terlepas dari jeratan itu.
Namun sial, jika saja Kyung Soo lebih kuat dan lebih besar dari Kai, mungkin sekarang ini Kyung Soo bisa lepas dari cengkraman namja itu.
"Ahmmhh... K- Kai!" Kyung Soo memekik, Kai mulai memasukkan satu jarinya kedalam lubangnya.
Kyung Soo mencengkram kemeja Kai dengan kedua tangannya. Lututnya mulai terasa lemas dan tidak mampu menopang berat tubuhnya.
Kai memasukkan satu lagi jarinya, Kyung Soo kembali memekik. Celananya yang masih menempel membuat pergerakkan jari-jari Kai terbatas, Kyung Soo tidak nyaman dengan posisi seperti ini. Terkadang belahan celananya membuat twinsballnya terjepit.
Kyung Soo menggigit bibirnya saat Kai mulai menggerak-gerakkan jarinya di dalam lubangnya. Nafas Kyung Soo menjadi tidak teratur, tidak hanya lututnya saja, semuanya bergetar hebat akibat jari-jari Kai.
Kyung Soo merasakan miliknya dan Kai sama-sama terbangun. Itu dibuktikan dengan celananya yang semakin sempit, juga Kai yang sepertinya mulai gelisah. Kyung Soo memejamkan matanya, mencoba agar mendesah sepelan mungkin.
"K- Kai... aku benar-benar tidak nyaman"
Mendengar penuturan itu, Kai mengeluarkan kedua jarinya. Lalu, ia mulai membuka celana Kyung Soo dengan brutal dan menggendong tubuh mungil sonsaengnim itu. Sepasang iris itu bertemu, saling menatap untuk beberapa saat.
Kyung Soo memejamkan matanya saat Kai mulai menciumnya kembali. Kai menyedot kuat-kuat bibir bawahnya yang tebal, Kyung Soo merasa bibirnya seperti permen karet yang tengah dikunyahnya saat ini.
Benang tipis pun tercipta saat keduanya melepas tautan bibir mereka. Keduanya terengah-engah dengan wajah merah dan mata sayu.
Kai menidurkan Kyung Soo di salah satu tumpukan meja yang sudah tidak dipakai itu. Kyung Soo sama sekali tidak menolak, bahkan ketika miliknya yang setengah bangun itu dilahap oleh Kai.
Hanya desahan dan erangan nikmat yang Kyung Soo keluarkan dari mulutnya. Bunyi yang Kai ciptakan hasil gesekan mulut dengan kejantanan itu membuat irama tersendiri ditelinganya.
Butuh beberapa kuluman, jilatan dan hisapan lagi. Milik Kyung Soo semakin tegang, ia sudah bersiap mengeluarkan apa yang ditahannya.
"K- Kai... I'll co- me.."
"Camkanman sonsaengnim"
Kai mengeluarkan handphonenya, "Izinkan aku mengabadikannya lagi" katanya sambil mengecup ujung kejantanan Kyung Soo sebelum kembali mengulumnya.
Handphone itu diletakkan mengarah pada keduanya. Suara timer mulai terdengar saat Kai menekan tombol kamera.
"K- Kai I'm coming!"
Tangan Kyung Soo meraih kepala Kai dan menekannya hingga seluruh kejantanan Kyung Soo masuk dalam-dalam melalui mulut itu. Kyung Soo mendesah lega saat miliknya akhirnya keluar juga disaat yang bersamaan kamera itu mengambil gambarnya.
Kai menjauhkan kepalanya dari selangkangan Kyung Soo. Tangannya menyapu sisa sperma yang Kyung Soo keluarkan tadi.
"Kau sadis juga, menekan kepalaku seperti itu saat kau hendak keluar" katanya yang hanya dibalas dengusan oleh Kyung Soo.
Kai meraih handphonenya, bibirnya menyungging saat melihat hasil jepretan itu. Kyung Soo dengan lemasnya menoleh.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Tunggu- KAU MEMOTRETNYA LAGI?" teriak Kyung Soo menggelegar.
"Aku sudah bilang tadi, sebelum kau klimaks" katanya sambil mengatur-atur sesuatu di handphonenya.
Kyung Soo berusaha bangun dan membetulkan celananya kembali.
"Cepat hapus fotonya!"
"Andwae, yang ini terlalu indah untuk di hapus sonsaengnim"
Kyung Soo rasanya ingin bunuh diri saja saat itu juga. Ia turun dari atas meja itu lalu segera menerjang Kai.
Gerakan Kyung Soo sudah terbaca, dengan mudahnya Kai menghindar dari amukan sang sonsaengnim. Ia menangkap pergelangan Kyung Soo lalu kembali menariknya pada pelukannya.
"Sonsaengnim, aku punya satu permintaan lagi sebelum aku menyebarkan foto yang ini"
Kyung Soo membelalakkan matanya. Ia mulai berdo'a agar tidak terjadi lagi hal yang lebih buruk dari ini.
Kai tersenyum, bibirnya mengarah pada telinga Kyung Soo.
"Izinkan aku tinggal dirumahmu"
Tamat sudah riwayat Kyung Soo mulai detik ini juga.
.
.
.
.
Tok Tok
"Kai, darimana saja kau?"
"Aku pergi ke sekolah"
Kai melepas sepatunya lalu melengos masuk ke dalam rumah itu tanpa mempedulikan Miyoon yang khawatir akan dirinya.
"Kai, aku bertanya sekali lagi. Darimana saja kau setelah mengantarkanku pulang dari rumahmu kemarin"
Kai melepas kemejanya hingga tubuhnya yang berwarna kecoklatan itu terekspos bebas. Memang sudah jadi kebiasannya bertelanjang dada jika sudah sampai dirumah. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman dingin.
"Kai jawab aku!" bentak Miyoon mengejarnya.
"Sudah kubilang kan chagiya, aku dirumah mengerjakan tugas yang dikumpulkan hari ini"
Miyoon terlihat kesal. Direbutnya gelas itu dari tangan Kai. Kai membalas dengan menatap Miyoon tajam.
"Kau membohongiku Kai! Kemarin aku pergi lagi ke rumahmu dan disana tidak ada siapa-siapa. Aku berada dirumahmu selama seharian penuh, jadi sekarang aku bertanya lagi padamu, darimana saja kau kemarin?"
Kai melihat kilatan mata Miyoon yang marah. Ia memutar bola matanya sambil menghela nafas malas.
"Bukan urusanmu" jawab Kai pergi ke kamarnya, atau lebih tepatnya, kamarnya dengan Miyoon.
Miyoon kembali mengejar Kai. Saat berada di kamar, Miyoon membalikkan badan Kai lalu mendorongnya hingga jatuh ke atas ranjang. Dengan balutan piyama tipis itu, Miyoon menindih tubuh topless Kai.
"Sekali lagi, aku ingin bertanya. Kemana kau kemarin?" tanya Miyoon dengan memberikan penekanan disetiap kata-katanya.
Namun lagi-lagi Kai tidak menjawab dan hanya memalingkan wajahnya dari tatapan Miyoon.
Kesal karena merasa diacuhkan, Miyoon tiba-tiba merobek piyamanya sendiri. Ia mulai menyambar bibir Kai dengan liar.
Merasa ditantang, Kai membalikkan posisi tubuhnya.
"Dengarkan aku, mulai besok dan selamanya aku tidak akan kembali ke rumahmu. Begitu juga dengan kau, jangan pernah sesekali menginjakkan kakimu lagi dirumahku. Kita akhiri hubungan kita mulai detik ini juga. Tapi, aku tahu kau masih membutuhkan tubuhku, jadi aku dengan senang hati akan melayanimu sebagai permintaan terakhir" jelas Kai.
Miyoon hendak mengatakan sesuatu, namun Kai dengan cepat mengunci bibirnya dengan sebuah ciuman panas. Berkali-kali Kai melepas dan memagut bibir manis itu. Miyoon sekarang sudah kehilangan kendali. Tubuhnya ia biarkan Kai yang mendominasi malam itu.
.
.
Dini hari, saat keduanya selesai dengan aktivitas mereka, Miyoon terbangun dari tidurnya. Ia melirik Kai yang terlelap dibawah tubuhnya. Perlahan Miyoon membangunkan tubuhnya tanpa membuat suara. Dicabutnya dengan hati-hati kejantanan milik Kai yang masih tertanam di vaginanya.
Setelah berhasil menjauhi tubuh Kai, Miyoon menolehkan kepalanya mencari sesuatu. Ia pun kemudian mengambil celana seragam Kai yang tergeletak begitu saja di lantai. Miyoon berhasil menemukan handphone Kai.
Saat hendak menyalakannya, ternyata handphone milik Kai dilindungi sandi. Untung saja Miyoon masih ingat sandinya, jadi dengan gampang yeoja itu bisa mengotak-atik handphone Kai.
Miyoon membelalakkan matanya, tangannya menutup mulutnya yang menganga. Ia terkejut bukan main saat melihat wallpaper handphone Kai yang tidak lain adalah foto Kyung Soo dengan Kai saat berada di atap sekolah tadi siang.
Tangan Miyoon bergetar, ia masih tidak percaya jika Kai adalah bisex. Miyoon memberanikan diri untuk membuka gallery Kai. Ia semakin terkejut ketika mendapati isi folder tersebut di dominasi oleh beberapa foto telanjang Kyung Soo, ditambah dengan foto Kai yang tengah mencium bibir Kyung Soo.
Miyoon mengusap rambutnya ke belakang. Sekarang ia sudah tahu alasan mengapa Kai tidak pulang kemarin dan mematikan telfonnya. Rupanya Kyung Soo penyebabnya. Miyoon berpikir jika Kyung Soo ingin balas dendam setelah kejadian beberapa waktu lalu.
Miyoon mendengus, ia kembali menatap beberapa foto di handphone itu.
"Jadi kau ingin membalas dendam Do Kyung Soo? Kita lihat saja bagaimana hidupmu setelah orang-orang mengetahui kalau kau adalah bisex" ucapnya dengan seringaian jahat terlukis diwajahnya yang cantik.
.
.
.
.
Keesokan paginya, Kai nampak terburu-buru. Miyoon yang baru saja selesai membuatkan Kai kopi segera menghampirinya.
"Kai" panggil Miyoon.
"Hm?"
"Kau serius mengakhiri hubungan ini"
"Hm"
"Tapi... kenapa Kai? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Aku tidak mengerti salahku dimana"
Kai berbalik menatap Miyoon yang masih memegang dua cangkir kopi itu.
"Tenang saja, kau tidak punya salah apapun. Aku hanya sudah bosan dengan tubuhmu"
Miyoon mengeratkan genggamannya pada cangkir itu. Dilihatnya Kai pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan padanya. Miyoon kesal, demi apapun ia kesal saat ini.
Dibantingnya kedua cangkir itu ke lantai. Miyoon segera melangkahkan kakinya untuk ganti baju. Setelah itu, ia mengambil kacamata hitam dan kunci mobilnya di meja, lalu segera pergi mengikuti Kai.
.
"Sonsaengnim" panggil Kai sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah Kyung Soo.
Sudah ke sepuluh kalinya Kai mengetuk pintu rumah itu, namun tetap tidak ada sahutan dari tuan rumah. Tapi Kai tahu Kyung Soo masih ada di dalam rumahnya, buktinya ia masih bisa mencium aroma masakan dari arah dapur Kyung Soo.
"Sonsa-"
"Berisik! Pergi dari rumahku sekarang juga!" usir Kyung Soo.
"Sonsaengnim, bukankah sekarang aku tinggal disini?"
Kyung Soo menepuk jidatnya sendiri, ia baru ingat kalau Kai mengancamnya lagi dengan mengizinkannya untuk tinggal bersamanya mulai hari ini.
"Ck, baiklah cepat masuk"
"Josonghamnida"
Dengan perasaan gembira, Kai masuk ke dalam rumah barunya.
"Dengarkan aku Kim JongIn, aku hanya mempunyai satu kamar disini jadi ka-"
"Gwaenchana sonsaengnim, aku akan lebih senang jika aku bisa tidur seranjang denganmu setiap malam" kata Kai dengan senyum diwajahnya. Rasanya Kyung Soo ingin mengubur hidup-hidup Kai karena tingkahnya yang semakin keterlaluan.
Kyung Soo menghela nafasnya pelan sebelum mulai bicara lagi, "Kita memang tidur di dalam kamar yang sama, tapi tidak untuk ranjang! Kau tidur di dalam futon!"
"Aish... nde arraseo, tapi jangan salahkan aku jika nanti aku akan menarikmu saat tidur"
Wajah Kyung Soo memerah, bukan malu tapi kesal.
"Jika itu terjadi, aku akan menendang wajahmu"
Kai hanya tersenyum. Kyung Soo pun berlalu menuju dapur, diikuti dengan Kai dibelakangnya.
Keributan pun terjadi lagi di dalam rumah itu, walau pada akhirnya sebuah desahan kecil yang terdengar.
Dari luar, Miyoon menutup kembali kaca mobilnya. Dia memutar-mutar handphone berwarna hitam ditangannya. Lalu ia menggenggam erat benda persegi panjang tersebut dan menjalankan mobilnya.
.
.
.
Disekolah, seperti biasa Kai menggoda Kyung Soo saat jam istirahat. Kali ini keduanya tengah duduk bersama disebuah kursi yang berada di paling pojok kantin itu.
Kai sengaja menempati kursi itu, apalagi tujuannya kalau bukan berbuat mesum dengan sang guru? Berhubung tempatnya juga memang agak sedikit tertutup.
"K- Kai... jangan disinihh... uughh..." Kyung Soo tidak bisa konsentrasi memakan burgernya karena Kai tengah mengocok kejantanannya.
Berkali-kali Kyung Soo menyuapkan burger itu, namun hanya secuil yang bisa ia gigit dengan benar. Mulutnya selalu beralih untuk mendesah atau menggigit bibirnya.
"Kai henti- kaannhhh..."
Kai menulikan pendengarannya, ia masih asyik memainkan milik Kyung Soo yang sedang duduk dipangkuannya.
"Ugh.. Kai aku.. hampir.. AAAAHHH"
Sontak gara-gara teriakan halus itu, seluruh pengunjung di kantin menoleh kearahnya. Kyung Soo cepat-cepat menyembunyikan wajahnya dan bertingkah seperti biasa. Sementara Kai hanya tertawa puas melihat Kyung Soo yang setengah mati menahan rasa malunya.
"Benarkan celanaku sekarang juga" titah Kyung Soo dengan suara pelan dan tertahan, namun Kai masih bisa mendengarnya. Namja itu hanya menurut saja membetulkan kembali celana Kyung Soo.
Kyung Soo cepat-cepat menghabiskan burgernya. Hanya butuh enam kali gigitan dan kunyahan, Kyung Soo pun menghabiskan semuanya dan segera pergi meninggalkan Kai.
Kai tidak mengerti, kenapa sonsaengnim itu begitu menarik perhatiannya. Lihat saja tingkah lakunya yang selalu membuat Kai merasa ingin terus menjahilinya. Kai pun bermaksud ingin mengambil gambar Kyung Soo kembali. Tetapi, saat ia meraba saku celananya, tangannya tidak mendapati sebuah benda persegi panjang yang dibutuhkannya sekarang.
"Ck, sial! Pasti tertinggal di rumah" kata Kai yang segera beranjak dari kursinya untuk mencari handphone tersebut di rumahnya.
.
.
"Aku pulang~" ucap Kyung Soo dengan lemas. Pekerjaannya hari ini benar-benar menguras tenaga dan otaknya. Disamping itu, Kai terus membuang tenaganya dengan memaksa agar spermanya keluar.
Saat ia menyimpan beberapa barangnya dikamar, Kyung Soo baru sadar kalau ia tidak mendengar ataupun menemukan tanda-tanda Kai sedang berada dirumahnya. Kyung Soo kembali menghampiri pintu depan, tidak ada sepatu Kai disana.
"Kai?" panggil Kyung Soo, namun yang dipanggil tidak menyahut.
"Kai?" panggilnya yang kedua kali, tetap saja sama. Kai tidak membalas sahutannya.
Kyung Soo jadi ingat saat disekolah tadi, ketika ia baru saja selesai mengajar di kelas 3-B. Seorang murid perempuan dari kelas 3-F membicarakan Kai yang lagi-lagi tidak masuk kelas.
"Aish... padahal tadi istirahat dia masih ada di sekolah, kemana perginya anak itu?" tanya Kyung Soo pada dirinya sendiri.
"Ah... paling dia pergi menemui Miyoon, lagipula bukankah bagus kalau anak itu tidak ada disini?" lanjut Kyung Soo dengan senang, atau lebih tepatnya pura-pura senang.
Kyung Soo mendadak murung, salahnya sendiri kenapa menyebut nama orang yang sudah mengkhianatinya. Hatinya pun terpaksa merasakan nyeri kembali. Apalagi saat mimpi buruknya kembali memutar di dalam memori otaknya.
Tangan Kyung Soo bergerak merogoh saku celananya. Sudah hampir jam 18.00 dan tidak ada yang mengetuk pintu. Kyung Soo resah, ia resah karena Kai tidak pulang hari ini.
Kyung Soo kemudian segera menekan tombol angka di handphonenya, ia harus menelfon anak itu karena Kyung Soo merasa ia bertanggung jawab jika terjadi apa-apa pada Kai.
"Kenapa tidak diangkat Kai?" kata Kyung Soo semakin resah. Berulang kali ia mencoba menelfon Kai namun tidak diangkatnya.
Ditempat lain, Kai frustasi karena ia tak kunjung menemukan handphonenya. Dia sudah mengobrak-abrik seisi rumah, namun tetap tidak ditemukannya.
Kai melirik jam dinding di rumahnya, sudah hampir malam. Kyung Soo pasti khawatir padanya saat ini.
Sesaat kemudian, Kai teringat sesuatu. Tinggal satu tempat lagi yang ia yakini handphonenya tertinggal disana. Rumah Miyoon.
Dengan cepat Kai pun beranjak pergi dari rumahnya menuju rumah Miyoon.
Namun sesampainya disana, Kai mendapati rumah Miyoon yang terkunci rapat. Ia pun tidak bisa mengintip lewat jendela karena gorden yang menutupinya. Kai mendongak keatas, lampunya menyala.
Mungkin Miyoon sedang tidak ada dirumah. Mungkin juga Miyoon tengah mencari laki-laki lain yang mau melayaninya.
Kai masih menatap pintu kayu yang dicat putih itu. Entah mengapa terbesit dalam benaknya bahwa ia tidak boleh meninggalkan tempat itu.
Kai mencoba melangkahkan kakinya pergi, tetapi dirinya seperti ditahan agar tetap berada disana. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Kai memutuskan untuk menunggu Miyoon didepan rumahnya.
Dari dalam rumah itu, sepasang mata tampak mengintai sosok Kai sejak ia datang ke rumahnya. Miyoon mendecak kesal karena Kai malah diam didepan pintu rumahnya.
Wanita cantik itu kembali melangkahkan kakinya menuju ruang kerja. Disana terdapat beberapa lembar kertas foto yang baru saja dicetak. Miyoon menyeringai saat melihat salah satu lembaran foto itu berada ditangannya. Kemudian, ia melirik benda persegi panjang hitam yang berada diatas mejanya.
"Jeongmal kamsahamnida Kai"
.
.
.
.
Pagi harinya, ketika Kyung Soo baru saja membuka matanya. Ia melirik ke bawah ranjangnya, Kai masih tidak ada disana. Dia benar-benar tidak pulang.
"AAARRGGHH!" teriak Kyung Soo frustasi. Kenapa sekarang-sekarang ini dia jadi memikirkan terus sosok murid kurang ajar itu? Bahkan tadi malam, ia sempat susah tidur karena memikirkan bagaimana nanti jika ada yang mengetuk pintu.
Kyung Soo menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang. Guling yang dipeluknya semalam ia pukul-pukul dan digigiti dengan sadis.
"Do Kyung Soo! Tidak ada gunanya memikirkan anak itu! Lagipula dia juga belum tentu memikirkanmu, paling dia hanya pergi ke rumah Miyoon kan? Paling dia tertidur disana habis melakukan... melakukan... mela..kukan... itu..." ucap Kyung Soo melemah.
"Aaarrrrgghh! Micheoga!" Kyung Soo berteriak lagi lalu berlari menuju kamar mandi.
.
.
Kyung Soo berjalan menuju gedung sekolahnya dengan perasaan berkecamuk. Ia hampir gila karena otaknya terus saja mengajaknya untuk memikirkan dimana orang yang bernama Kim JongIn itu.
Beberapa suara tidak jelas terdengar di telinga Kyung Soo saat ia masuk dari pintu gerbang. Kyung Soo membuka matanya. Apa ini hanya perasaannya atau semua orang kini tengah melihatnya dengan tatapan... tidak suka?
Kyung Soo menoleh pada sekerumunan anak perempuan yang sedang menatapnya sambil berbisik satu sama lain. Kerumunan anak itu segera bubar begitu Kyung Soo melihat mereka. Kyung Soo semakin menyerinyitkan dahinya heran. Kenapa dengan murid-murid sekarang? Apa penampilan Kyung Soo terlihat aneh hari ini?
Kyung Soo mengecek penampilannya, ia masih memakai style yang biasa ia gunakan ketika hendak pergi mengajar. Kyung Soo memiringkan kepalanya lalu mencoba berjalan tanpa memedulikan tatapan aneh dari para murid.
Samar-samar, Kyung Soo mendengar sesuatu yang cukup menyinggung perasaannya. Ada kerumunan anak laki-laki yang sepertinya sedang membicarakan dirinya.
"Aku tidak menyangka ternyata sonsaengnim itu seperti ini kelakuannya"
"Aku jadi takut bertemu dengannya"
Begitulah yang Kyung Soo dengar, dan saat Kyung Soo menghampiri mereka...
"Ya! Tidak sopan sekali membicarakan sonsaengnim seperti itu!"
"I- itu Do sonsaengnim, ayo kita kabur sebelum kita di paksa untuk melakukannya juga" ajak salah satu murid itu, mereka pun lari dibuatnya.
Kyung Soo menganga, ia tidak mengerti hari ini. Baru saja menginjakkan kaki di sekolah, beberapa orang menghindarinya dan memberinya tatapan tak mengenakan seperti itu.
"Berita mencengangkan datang dari salah satu sonsaengnim kita! Silahkan kalian mengambilnya di koran sekolah!" teriak seseorang yang Kyung Soo ketahui pasti dari klub jurnalistik.
Kyung Soo segera berlari menghampiri kerumunan besar disana. Dan saat salah satu murid melihat Kyung Soo dibelakangnya, murid itu segera berteriak memerintahkan agar semuanya lari dari tempat itu. Termasuk para anggota klub jurnalistik yang sedang menajajakan korannya.
Tidak ingin dihantui rasa penasaran, Kyung Soo menarik salah satu tangan muridnya hingga koran yang pegangnya pun jatuh. Kyung Soo segera memungut koran itu untuk melihat berita apa hingga membuat semua orang menjauhinya.
Mata Kyung Soo membulat, koran itu jatuh dari tangannya setelah membaca judul dari artikel tersebut.
'Seorang Sonsaengnim Memaksa Muridnya Sendiri Untuk Menjadi Pemuas Nafsunya'
Kyung Soo tidak percaya ini, sebuah berita konyol disertai fotonya ketika sedang berada diatap beberapa hari yang lalu bersama Kai tersebar begitu saja di sekolahnya.
Kyung Soo benar-benar tidak menyangka Kai akan melakukannya, dia mengingkari perjanjiannya sendiri. Rasanya Kyung Soo sakit hati, dan ini bukan sekedar sakit biasa tapi benar-benar sakit. Ia ingin menangis saat itu juga, ia takut jika profesinya terancam dicabut.
"Perhatian, diberitahukan kepada Do sonsaengnim agar segera menemui Kepala Sekolah diruangannya, terima kasih. Sekali lagi, diberitahukan kepada Do sonsaengnim agar segera menemui Kepala Sekolah diruangannya, terima kasih"
Lutut Kyung Soo terasa lemas, ia tumbang saat itu juga. Mimpi buruknya, menjadi kenyataan.
TBC
Annyeong!
Always thanks for everyone who read, fav, and follow this fanfiction
Terima kasih juga udah ngasih saran dan pendapat readers semua tentang fic ini, maafkan jika hasilnya mengecewakan dan masih gini-gini aja^^'
A for Q :
- Ada beberapa tebakan readers yang bener tuh tentang alesan Kai ngejailin Dio xD
- Foto yang ditunjukin Kai ke Dio itu waktu pas mereka habis gituan di atap
- Kalo couple lain mungkin nanti ada tapi cuma ngelewat doang xD
Thanks for review :
Minerva Huang, GotchaCode, ia, KaiSoo Fujoshi SNH, kireimozaku, Thousand Spring, immafujoshi, Fujoshii G, ajib4ff, miszshanty05, lailatul. magfiroh. 16, yoon HyunWoon, dokydo91, Fujoshi203, CheftyClouds, Myeonsoo baby, Fujo-Fujo Sang, needtexotic, Brigitta Bukan Brigittiw, IkaIkaHun11, pandarkn, rossadilla17, baekhyunaa, Insooie baby, Jung Eunhee, yamanaka aya, siscaMinstalove, OhSooYeol, Keepbeef Chiken Chubu, Kim Eun Seob, Jung Rae Ra, mumut03, minchanchan, Xiuxiu Lu, BrightMiracle, flawlessaliens, BLUEFIRE0805, megajewels2313, sanyewook, 12Wolf, love120193, rebeccakiney81, KaiDoSeKris, xiuminnie, alyasasparkyuelfshawol, kaisooism, versaillesmaiden, nana. kaizyra1, yuliafebry, Lean fujoshi hunhan shipper, kaisoo12, junghyema, ryanryu, rannydamayanti, naideel, jennifer. Giselle55
Keep support EXO!
Typo=no edit
3 Januari 2014 [16.36]
Happy new year and happy KaiSoo month!
